Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Memaknai Metafora Kerajaan Allah dalam Kehidupan Gereja: Antara Utopia atau Existensi Simanjuntak, Fredy; Siagian, Fereddy
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/magnum.v2i2.93

Abstract

The presupposition of God's Kingdom was initially eschatological in relation to the Kingdom of Israel. In the Gospels Jesus often uses the Metaphor of God's Kingdom in conveying His teachings. Jesus often reinterpreted the concept of the kingdom of God formed in the wrong Jewish tradition with hope for its geographical nature. On the contrary in the Church itself, especially the Pentecostal/charismatic school. Interpretations of this topic are often taught partially in certain parts and not as a whole. Not a few seminars are held that discuss the condition of the age to come which is only centered on the second coming of Christ but the discussion of the present is ignored. The emphasis tends to be more eschatological in the future but less responsible for daily life. Jesus' emphasis on the concept of the kingdom of God never replaced the present with a state of being far away in the future. In essence, the picture of the Kingdom of God taught by the Lord Jesus recorded by the Gospel is full of spiritual values and not talking about the visible. This study is a text analysis of Gospel texts to interpret what is said in the Gospel texts regarding the Kingdom of God.
Pastoral Strategies for the Loneliness Epidemic of the Digital Generation Gultom, Joni Manumpak Parulian; Simanjuntak, Fredy
Jurnal Jaffray Vol 20, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v20i1.640

Abstract

In the frenzy of technological advances and the massive capabilities of social media, it turns out that there is a dangerous space that this generation often doesn't realize, namely loneliness. Since the discovery of internet technology, lonely sufferers have experienced a spike among digital people. They often feel lonely and seemingly asymptomatic. If pastoral stewardship does not address this problem, the digital generation is bound to feel lonely and depressed, which can lead to suicide. They experience a decreased quality of life despite being in the church and parental care. The question is, what are the causes and effects of this problem of loneliness? What practical steps can shepherds take? And what kind of pastoral strategy is there to tackle the loneliness epidemic ravaging the digital generation? The purpose of this study is [1] to describe the causes and adverse effects of loneliness problems. [2] Describe simply practical steps a shepherd can take in dealing with loneliness. [3] Describe her pastoral and stewardship strategies that a solution to the problem of loneliness among this digital generation. The method used in this research is Systematic Literature Review (SLR) for journal papers published in 2016-2021. Contribution of this research ; [1] For spiritual practitioners and educators who are directly related to recovery from the loneliness of the digital generation, [2] as a reference for pastoral teams and pastoral candidates in local church stewardship, [3] practical steps for parents in overcoming loneliness problems digital child they experienced.
Menuju Prinsip Teologi Keseimbangan Di Era Digital: Refleksi Gereja dalam Transisi Pandemi Covid-19 Fredy Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Irfan Feriando Simanjuntak; Sabar Manahan Hutagalung; Mangiring Tua Togatorop
Integritas: Jurnal Teologi Vol 3 No 2 (2021): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v3i2.70

Abstract

Pandemi Covid-19 telah menantang gereja untuk bermigrasi ke ruang virtual. Hal ini tentu mempengaruhi spiritualitas gereja dalam ruang ganda. Melalui artikel ini akan dikaji 1) Bagaimana gereja dapat menghubungkan spiritualitas dengan teknologi tanpa tersesat dalam pusaran kehampaan teknologi modern itu sendiri, 2) Bagaimana gereja dapat menavigasi lanskap baru ini tanpa kehilangan fokus pada misi yang diberikan Tuhan? Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tulisan ini bertujuan untuk membingkai paradigma baru bagi gereja menuju prinsip keseimbangan antara kehidupan material dan spiritualitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem teologi dalam agama Kristen merupakan kerangka konseptual transformasional yang selalu segar, fleksibel dan seimbang dari berbagai dimensi kehidupan dan konteks. Situasi yang berubah membutuhkan perspektif dan praktik transformatif agar gereja tidak kehilangan spiritualitas dan misi Tuhan dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Amanat Penggembalaan dalam Ruang Virtual Fredy Simanjuntak; Dewi Lidya Sidabutar; Yudhy Sanjaya
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.782 KB) | DOI: 10.55884/thron.v1i2.6

Abstract

The outbreak of the covid-19 outbreak made religious affiliation and the practice of church organizations transition to present stewardship and herding ministry virtually. The enactment of Social and Psychological distancing as well as the temporary closure of houses of worship have opened new patterns in online interaction. This has become a phenomenon in the process of church communication on online media called the internet. It is undeniable that humans with any religious background are still sociological creatures. This is consistent with Martin Heidegger's term that humans as Dasein, where Dasein's behavior is active involvement with everyday objects. Like relationships with other people, objects, and with himself (reflective). The purpose of this paper is to find out the relevance of the Pastoral mandate in the current pandemic and is it effective in the future? This study is a critical analysis to try to understand the meaning of a situation or event from a holistic perspective.Abstrak: Merebaknya wabah covid-19 membuat afiliasi agama dan praktik organisasi gereja bertransisi untuk menyajikan penatalayanan serta pelayanan penggembalaan secara virtual. Pemberlakuan Social dan pshyscal distancing serta penutupan sementara rumah ibadah secara public telah membuka pola baru dalam interaksi secara daring. Hal ini telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi gereja pada media online yang disebut internet. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dengan latar belakang agama apapun masih menjadi makluk sosiologis. Hal ini sesuai dengan sebutan Martin Heidegger bahwa manusia sebagai Dasein, dimana perilaku Dasein adalah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian. Seperti hubungan dengan orang lain, benda, maupun dengan dirinya sendiri (reflektif). Tujuan dari paper ini adalah untuk menemukan relevansi amanat penggembalaan pada masa pandemic sekarang dan efektifkah secara berkelanjutan untuk waktu yang akan datang? Penelitian ini bersifat Analisis kritis untuk mencoba memahami pemaknaan situasi atau peristiwa dari sudut pandang yang utuh. 
Merengkuh Spiritualitas Persahabatan Ekumenis: Sebuah Refleksi Paradigma Misi Gereja Posmodern Fredy Simanjuntak; Jammes Juneidy Takaliuang; Budin Nurung
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.101

Abstract

The narrative about God's Mission always manifests in the space of friendship with the world even after the fall until today's Postmodern era. In today's world, the world is largely globalized and urbanized. The church no longer lives in a closed community with limited interaction. Cultural Networks are interconnected into a system. Yet most churches still grapple with theologically and dogmatically fragmented paradigms. The church needs a friendly spiritual restoration as the body of Christ to meet God's mission with ecumenical energy. This study aims to adapt the relevant mission paradigm through the spirituality of ecumenical friendship in postmodern reality. This study uses a descriptive method with critical and socio-theological discourse analysis. It is hoped that through this research the Church can make more serious observations and position itself as an integralist to become a bridge of friendship in carrying out God's mission in a relevant way. AbstrakNarasi mengenai Misi Allah senantiasa mewujud dalam ruang persahabatan dengan dunia sekalipun pasca kejatuhan hingga di masa Postmodern sekarang ini. Di masa kini dunia sebagian besar terglobalisasi dan terurbanisasi. Gereja tidak lagi hidup dalam komunitas tertutup dengan interaksi terbatas. Jaringan Budaya saling berhubungan ke dalam suatu system. Namun sebagian besar gereja-gereja masih bergulat dalam paradigma yang terfragmentasi secara teologis dan dogmatis. Gereja memerlukan restorasi spiritual yang bersahabat sebagai tubuh Kristus untuk menyongsong misi Allah dengan energi ekumenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasikan paradigma misi yang relevan melalui spiritualitas persahabatan ekumenis dalam realitas postmodern.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis wacana kritis dan sosio-teologis. Diharapkan melalui penelitian ini Gereja dapat melakukan pengamatan yang lebih serius serta menempatkan dirinya sebagai integralis untuk menjadi jembatan persahabatan dalam mengemban misi Allah secara relevan.
Mengajarkan Pendidikan Karakter Melalui Matius 5:6-12 Noh Ibrahim Boiliu; Aeron Frior Sihombing; Christina M. Samosir; Fredy Simanjuntak
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.128

Abstract

The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today's youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All of this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in a happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use an asynchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5:6-12. Abstrak Latar belakang dari masalah dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pada generasi saat ini karena media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan pemuda saat ini, disertai dengan pendidikan yang cenderung didasarkan pada pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan meng-akibatkan manusia tidak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter yang diajarkan Yesus melalui khotbah ucapan bahagia di bukit merupakan pengajaran berbasis karakter yang berpusat pada meniru Kristus, yang mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan siswa Kristen Indonesia. Kerangka pemikiran atau pandangan dunia ini adalah apa yang pendidikan karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan metode asynchronous yaitu untuk penafsir apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:6-12.
PELAYANAN DAN BAKTI SOSIAL PASCA BANJIR DI KOTA TANJUNGPINANG: SEBAGAI WUJUD RASA KEMANUSIAAN Fransiskus Irwan Widjaja; Talizaro Tafonao; Benteng Martua Mahuraja Purba; Sabar Manahan Hutagalung; Candra Gunawan Marisi; Fredy Simanjuntak; Selvyen Sophia; Efvi Noyita
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v2i1.198

Abstract

Tujuan dari pengabdian ini adalah memberi dorongan secara moral dan psikologi lewat pelayanan dan bakti sosial kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah. Pelayanan dan bakti sosial yang dilakukan oleh tim didasarkan pada rasa kepedulian terhadap masalah yang dialami oleh masyarakat/mitra. Situasi masyarakat saat itu masih dalam kondisi bingung dan takut karena situasi yang masih mencekam. Tetapi dengan hadirnya para tim pengabdian di lapangan/lokasi sangat membawa pengaruh positif kepada masyarakat melalui aktifitas yang dilakukan. Artinya bahwa masyarakat yang sedang mengalami musibah sangat perlu ditolong dan diperhatikan sebagaimana ulasan dalam artikel ini. Bentuk dan metode kegiatan yang dilakukan adalah pelayanan dan bakti sosial dengan pendekatan sosiologis secara humanis. Hasil dari kegiatan ini dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar 85%. Hal ini nampak pada aktifitas yang telah dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat serta apresiasi dari seluruh masyarakat dan pemerintah berdasarkan penjelasan dan uraian dalam tulisan ini.
Dari Spiritualitas Kepada Moralitas: Pelajaran Kepemimpinan Dari Kehidupan Yusuf Fredy Simanjuntak; Irfan Feriando Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Yudhy Sanjaya; Johannes Tarigan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 2, No 2 (2021): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v2i2.79

Abstract

In the History of Ancient leadership, the Old Testament is a collection of books containing narratives with the largest collection of leadership case studies ever written. The author observes the significance of biblical leadership found throughout scripture because it is rooted in the way God chose to work with mankind. However, the role of leadership is undeniably determining the welfare and glory of those they lead. In this study, the author tries to specifically examine Yusuf's leadership. A leadership pattern that is widely discussed because it is full of spiritual and moral dimensions. The purpose of this study is to provide a historical analysis of (1) Spirituality and morality in Yusuf's leadership. (2) Application of Joseph's Leadership Experience to the Church Today? The method used is descriptive analysis in the book of Genesis 37-50. The result of this research is that Yusuf's leadership can be a model as a good lesson not only for individuals in leadership positions but for all those who want to improve their character.AbstrakDalam Sejarah kepemimpinan Kuno, kitab Perjanjian Lama merupakan kumpulan kitab yang berisi narasi dengan berbagai kumpulan studi kasus kepemimpinan terbesar yang pernah ditulis. Penulis mengamati signifikansi kepemimpinan alkitabiah ditemukan di seluruh kitab suci karena berakar pada cara Allah memilih untuk bekerja dengan umat manusia. Bagaimanapun peranan kepemimpinan tidak terbantahkan menentukan perihal kesejahteraan maupun kejayaan mereka yang dipimpin. Dalam Penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji secara khusus kepemimpinan Yusuf. Suatu pola kepemimpinan yang banyak dibicarakan karena sarat akan dimensi spiritual dan moralnya. Tujuan penelitian ini untuk memberikan analisis historis mengenai (1) Spiritualitas dan moralitas dalam kepemimpinan Yusuf. (2) Aplikasi dari Pengalaman Kepemimpinan Yusuf Bagi Gereja Di Masa Kini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif pada kitab Kejadian 37-50. Hasil penelitian ini adalah kepemimpinan Yusuf menjadi model berharga sebagai pelajaran yang baik bukan hanya bagi individu dalam posisi kepemimpinan tetapi semua orang yang ingin meningkatkan karakter mereka.
Tinjauan Etis Teologis Tentang Peneguhan Nikah Pasangan Hamil di Luar Nikah Di Gereja Penyebaran Injil Aprianus Simanungkalit; Fredy Simanjuntak; David Martinus Gulo; Juan Ananta Tan
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 2 No. 2 (2023): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.805 KB) | DOI: 10.55076/rerum.v2i2.16

Abstract

This research is based on differences in understanding of pastoral care in the context of the Gereja Penyebaran Injil (GPI). The issue that is often disputed is the distinction between blessing and confirmation of marriage. In fact, certain churches have the opinion that the marriage blessing intended for them is considered sacred, in the sense that the bride and groom in the observation of the pastor and the congregation have not had sexual intercourse. While the term confirmation of marriage is intended for those whose two brides have had sex outside of marriage so that they become pregnant. For the church/person who distinguishes between the blessing and confirmation of marriage, the place is also different. If the blessing is done in the church, while the confirmation is done outside the church building, for example houses, public buildings and so on. The purpose of the research in this scientific work is to explain the ethical review of the Church under the auspices of the Evangelical Spreading Church on the blessing of pregnant couples out of wedlock. The research method is through library research, interviews, and several people who are participants in this research. The results of this study are the church is God's partner to bless not to impose sanctions, GPI needs to reformulate the concept of marriage blessing by considering ethical theological decisions in pastoral care for pregnant couples out of wedlock.   Penelitian ini didasari oleh perbedaan pemahaman pelayanan pastoral dalam konteks Gereja Penyebaran Injil (GPI). Isu yang sering dipermasalahkan adalah pembedaan pemberkatan dan peneguhan nikah. Faktanya, beberapa gereja tertentu mempunyai pendapat bahwa pemberkatan nikah diperuntukan bagi mereka dianggap suci, dalam pengertian kedua pengantin dalam pengamatan pendeta dan jemaat belum melakukan hubungan seksual. Sementara istilah peneguhan nikah diperuntukan bagi mereka yang kedua pengantin telah berhubungan seks di luar nikah sehingga hamil. Bagi gereja/orang yang membedakan antara pemberkatan dan peneguhan nikah, tempat pun juga dibedakan. Jika pemberkatan dilakukan di gereja, sedangkan peneguhan dilakukan di luar gedung gereja, misalnya rumah, gedung umum dan lain sebagainya. Tujuan penelitian dalam karya ilmiah ini ialah Menjelaskan tinjauan etis Gereja di Bawah naungan Gereja Penyebaran Injil terhadap pemberkatan pasangan hamil di luar nikah. Metode penelitian melalui studi kepustakaan, wawancara, dan beberapa orang yang menjadi partisipan dalam penelitian ini.  Hasil penelitian ini adalah gereja merupakan mitra Allah untuk memberkati bukan untuk menjatuhkan sanksi, GPI perlu menformulasikan kembali konsep pemberkatan nikah dengan mempertimbangkan keputusan yang etis teologis dalam pelayanan pastoral pasangan hamil di luar nikah.
Dari padang gurun hingga ke belantara posmodernisme: Refleksi perjalanan spiritualitas gereja Simanjuntak, Fredy; Baito, Linus; Marpaung, Welko Henro
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.481

Abstract

In the Old Testament, the metaphor of the "desert" is quite central in the spiritual image of God's people. In the ancient world, the reality of the wilderness was a pivotal point in Israel's encounter with God. Associated with the life of the church today, the reality of postmodernism becomes a new challenge that causes distortion and fragmentation between orthodoxy, orthopathy, and orthopraxy in church life. This essay aims to examine how desert spirituality can be integrated into the contemporary Christian life. This study uses a qualitative approach with socio-theological analysis. The results of this study are expected to develop a critical awareness of the church about the complex social meaning of desert spirituality practices that can be integrated into postmodern social reality as a transformational practice of personal life, service, and society. AbstrakDalam Perjanjian Lama metafora “padang Gurun” cukup sentral dalam imajinasi spiritualitas umat Allah. Di dunia kuno realitas padang gurun merupakan titik penting perjumpaan Israel dengan Allah. Dikaitkan dengan kehidupan gereja di masa kini, realitas postmodernisme menjadi tantangan baru yang menimbulkan distorsi dan fragmentasi antara ortodoksi, ortopati dan ortopraksis dalam kehidupan menggereja. Esai ini bertujuan mengkaji bagaimana spiritualitas padang gurun dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan kekristenan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis sosio-teologis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan kesadaran kritis gereja tentang makna sosial yang kompleks dari praktik spiritualitas padang gurun yang dapat diintegrasikan dalam realitas sosial postmodern sebagai praktik transformasional kehidupan pribadi, pelayanan dan masyarakat.
Co-Authors Adenia Hotmayesi Sinaga Adis Klara Yunita Agustinus Sihombing Alfons R. Tampenawas Alfredo Manurung Aprianus Simanungkalit Baito, Linus Benteng M. M. Purba Budin Nurung Ceria Ceria Ceria Ceria Christina M. Samosir Clarins Claristha H.D. Simatupang1 David Martinus Gulo David Martinus Gulo Debora Agustina Ratu Delfi Delfi Dewi Lidya S Dian Kristina Sijabat Ditakristi, Agiana Her Visnhu Eko Prasetyo Elda Br. Situmorang Eliyscha Janetta Lumbansiantar Erwin B. Joya Ester Debora Br Siburian Ester Erlita Silaban Ester Novia Padidi Evimalinda, Rita Fereddy Siagian Ferry, Yusak Hentrias Foera-era ndruru Francois P Tomasoa George Samaran Gultom, Joni Manumpak Parulian Harefa, Desetina Harefa, Otieli Herman Herman Herman Hutagalung, Sabar Manahan Jabes Pasaribu Johannes Tarigan Josanti Josanti Juan Ananta Tan Lahagu, Ardianto Lidya Dewi S Marisi, Candra Gunawan Messy Causa Primay Noh Ibrahim Boiliu Noyita, Efvi Oferianus Bulolo Papay, Alexander Djuang Purba, Benteng Martua Mahuraja Rame Ima Irda Rini Sumanti Sapalakkai Rita Evimalinda Roy Martin Simanjuntak Sanjaya, Yudhy Saragi, Lydia Caesera Selvi Agustina Sianipar, Ronald Sihombing, Aeron Frior Silaen, Upa Simanjuntak, Irfan Feriando Situmorang, Ester Lina Sophia, Selvyen Soraya Sara Kawai Stefanus Meo Nekin Susanto, Susilo Tafonao, Talizaro Takaliuang, Jammes Juneidy Tamaulina Br Sembiring Togatorop, T. Mangiring Tua Waruwu, Septerianus Widjaja, Fransiskus Irwan Ya aman Gulo Ya aman Gulo2 Yefta Arisma Yoeli Zai Yosepin Koreanti Hutabarat Yusak Hentrias Ferry Zakaria Lumban Gaol