cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
Analysis of Reading Material in English Textbook for Tenth Grader Published by Ministry of Education and Culture Based On 2013 Curriculum  
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analysis of Reading Material in English Textbook for Tenth Grader Published by Ministry of Education and Culture Based On 2013 Curriculum Ayu Amalia English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya amalyaeayu@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah materi membaca dalam buku pelajaran Bahasa Inggris kelas 10 diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan kurikulum 2013. Salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam ajar-mengajar adalah materi membaca karena membaca merupakan aktifitas yang menginspirasi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Oleh karena itu, tabel ceklis (√) digunakan sebagai instrumen untuk menganalisis dan mengumpulkan data. Hasil penelitian menujukkan bahwa seluruh kompetensi dasar dalam buku Bahasa Inggris cocok dengan kompetensi dasar di kurikulum 2013. Akan tetapi, tulisan kompetensi dasar pada daftar isi dan konten map tidak sesuai dan hal tersebut tidak mempengaruhi isi buku. Seluruh indikator sesuai dengan kompetensi dasar. Beberapa ketidak cocokan pada materi membaca dalam buku tersebut yaitu karena ketidak runtutan dengan apa yang ada di kompetensi dasar. Selanjutnya, tidak ada soal dari materi membaca untuk beberapa indikator dibeberapa bab. Maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar dalam buku pelajaran tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 revisi 2016 begitupun indikatornya. Untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan analisis ini sebagai batasan atau petunjuk untuk mengembangkan materi pada buku pelajaran Bahasa Inggris kelas 10 Sekolah Menegah Atas. Kata Kunci : Materi Membaca, Buku Pelajaran Bahasa Inggris, Kurikulum 2013, Analisis Abstract This study aims to know whether the reading material in English Textbook for tenth grade published by Ministry of Education and Culture in line with the 2013 curriculum. Reading material is one of aspects that should be considered in teaching learning process because reading is inspirable activity for the students’ daily lives. Descriptive qualitative research is designed for this study. So that, table of checklist used as the instrument to analyzed and collect the data. The results showed that, all of the basic competences in the textbook for tenth grader conform to the basic competences in the 2013 curriculum. However, the basic competencies included in the content map were not appropriate but the content of the textbook still conform to the basic competence. The indicators were conform to the basic competence. Most of the inconformity of the reading material in the textbook is because they are not in the right sequence as mentioned in the basic competence. Furthermore, there were no tasks of reading material for some indicators in some chapters. In short, the basic competencies are conform to the 2013 curriculum and so are the indicators. For the future research, this analysis can be used as the limitation or guidance to develop material in English textbook for tenth grader of Senior High School. Keyword: Reading Material, English Textbook, Curriculum 2013, Analysis
Empowering Students’ Writing of Report Text Throgh Project-Based Learning
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empowering Students’ Writing of Report Text Throgh Project-Based Learning Asmi Hanifa English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya asmi.hanifa@gmail.com Abstrak Menulis termasuk dalam salah satu keterampilan berbahasa yang penting untuk dipelajari. Namun, pada kenyatannya, ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh siswa untuk menguasai keterampilan menulis yang salah satu penyebabnya adalah dominasi guru didalam kelas. Dengan demikian, kurikulum 2013 (K13) diluncurkan sebagai jawaban atas persoalan tersebut dan sebagai pendukung perubahan siklus pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. K13 muncul dengan berbagai macam model pembelajaran. Salah satunya ialah Project-Based Learning (pembelajaran berbasis proyek). Model pembelajaran ini menjadi yang palig terkenal diantara lainnya karena ia memberi banyak manfaat yang baik, terutama untuk para siswa. Selain itu, teks report dipilih karena ia adalah teks yang paling mudah dan paling teepat sebagai awal pembentukan kebiasaan menulis. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemajuan siswa dalam keterampilan menulisnya juga tanggapan mereka terhadap penerapan model pembelajaran Project-Based Learning yang diadakan di salah satu Sekolah Menengah Atas di Surabaya. Penelitian ini didesain secara kuantitatif untuk menunjukkan secara tepat seberapa besar kemajuan keterampilan yang dimiliki oleh siswa serta menunjukkan jumlah siswa yang memberikan tanggapan positif terhadap penerapan PjBL dengan produk mading untuk menguasai keterampilan menulis teks report. Pre- dan post-test serta kuisioner adalah instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kemudian perangkat lunak SPSS digunakan sebagai teknik untu menganalisa data. Berdasakan dari hasil dan diskusi penelitian, disimpulkan bahwa project-based learning membuat siswa memiliki keterampilan menulis yang lebih baik terutama dalam hal susunan paragraph serta tata bahasamya. PjBL juga mendapatkan tanggapan positif dari siswa yang dibuktikan dari pendapat mereka pada kuisioner menunjukkan bahwa sebagian besar dari siswa lebih suka dan lebih termotivas ketika melakukan pembelajaran berbasis proyek dibandingkan belajar dengan cara konvensional. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Proyek, Majalah Dinding, Keterampilan Menulis, Teks Report, Majalah Dinding Abstract Writing belongs to one of the English skills that need to be learnt. In fact, there are many problems in mastering writing. One of them is the issue of teachers’ domination. Thus, K13 is launched in response to the learning cycle changes from teacher-centered to student-centered. K13 offers some learning models; one of them is called Project Based Learning. This learning model becomes the most popular one among the others because it offers many advantages especially for the students. In addition, report text was chosen as the material since it is the easiest among the other texts and good to build a writing habit. This research aims to investigate the improvements of the students’ writing ability and the students’ responses towards the application of Project-Based Learning at one of senior high school in Surabaya. This research is designed quantitatively to exactly address the detail improvement and the number of students who gave positive responses project based learning with wall magazine as the product. An essay Pre- and post-test also a questionnaire were used to gain the data. Then, they were analyzed using SPSS program. Based on the result and discussion, it can be concluded that Project-Based learning empowers the students’ writing ability especially students organization and grammar. It also obtained positive responses which are verified by the statement of students that they prefer Project-Based Learning than traditional teaching and feel motivated when learning writing of report text through project-based learning. Keywords: Project Based Learning, Writing, Report text
Auditory Authentic Materials in Pronuncing the Words for Kindergarten Students
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Auditory Authentic Materials in Pronuncing the Words for Kindergarten Students Almira Yasmine English Education, Language and Art Faculty, State University of Surabaya e-mail: yasmine.almira42@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penggunaan dari auditory authentic materials untuk taman kanak-kanak sehingga desain penelitiannya adalah kualitatif. Subjek penelitiannya 20 siswa/i taman kanak-kanak di Surabaya Cambridge School. Instrumen penelitian ini menggunakan penangkap suara, catatan, dan wawancara. Selanjutnya, peneliti mengobservasi penggunaan dari auditory authentic materials dan setelah itu menganalisis datanya. Penelitian ini fokus pada linguistic form (berhubungan dengan video) yang menyangkut bagaimana pengucapan baik dan benar dalam bahasa Inggris. Target pelaksanaannya adalah anak usia dini yang mengarah pada bagaimana anak mengembangkan keterampilan belajar yang sama baiknya dengan kemampuan emosi sosial yang menjadi tahap terbaik untuk anak belajar lebih efektif dalam belajar bahasa kedua. Dibuktikan bahwa siswadapat dengan mudah menirukan sama seperti penutur aslinya. Selanjutnya, mereka akan mengingat bagaimana cara menngucapkan kata meski tanpa adanya penggunaan video. Jadi, penggunaan authentic materials sangat penting ketika guru menginginkan siswanya bisa berbicara bahasa Inggris dengan cepat dan baik selancar penutur aslinya yang dimana menambah kesadaran guru. Kata Kunci: bahasa kedua, berbicara, pengucapan, authentic materials, auditory authentic materials. Abstract This study aims to describe the implementation of auditory authentic materials for kindergarten students so that the research design is qualitative research. The subjects of the research are 20 kindergarten’s students in Surabaya Cambridge School. The instruments are recorder, field notes, and interview that be used in this study. Furthermore, the researcher observes the implementation of auditory authentic materials and analyses the field data afterwards. This research focuses on linguistic form (deals with video) that concern on how to pronounce fluently in English. The target of this implementation is early ages because their brain development has a direct on how children develop learning skills as well as social emotion abilities that would be the best stage for children to learn more efficiently in learning second language. This research proved that students can easily imitate as English Native Speaker. Furthermore, they will remember how to pronounce the words even if they do not have the video anymore. Thus, the uses of authentic materials might be crucial if teachers want their student can speak English faster and better as fluently as Native-Like that enhance the teachers’ self-awareness. Keywords: second language, speaking, pronounciation, authetic materials, auditory authentic materials.
English Teacher’s Speaking Performance and Englsih Teacher’s Code-Switching in EFL Classroom
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

English Teacher’s Speaking Performance and Englsih Teacher’s Code-Switching in EFL Classroom YuliIkaMardiana English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya yuli.ika28@gmail.com Dr. OikuremaPurwati, Eng. Grad. Dip, M. Appl English Education Department, Faculty of Language and Art, State University of Surabaya oikuremapurwati@unesa.ac.id Abstrak Guru mendominasi di kelas merupakan sesuatu yang sudah umum terjadi in Indonesia. Dalampelaksanaan proses pembelajaran, guru sering kalimendominasi pembicaraan. Hal yang perlu diprhatikan adalah gayaberbicara yang guru gunakan saat didalam kelas. Mengingat guru mendominasi pembicaraandidalam kelas, gaya bicara guru sudahseharusnyabaik. Olehsebabitu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaiamana gaya berbicara guru dan code-switching guru karena penggunaanbahasaibutidakdapatterpisahkandarikelasbahasaasing. Data akandianalisisberdasarkan lima komponen gaya berbicara oleh Brwon (2004) danakan di nilaiberdasarkantabelOller (1979). Penelitianinitermasukcase study mengingat penelitian ini hanya berfokuspadasatusubjeksajayaitu guru.Subject dari penelitian ini merupakan salah satu guru bahasa Inggris yang ada di SMAN 5 Surabaya.Lalu data diperoleh dari kelas jurusan IPA.Data diperoleh dengan menggunakan catatan lapangan dan table Oller. Penggunaan rekaman suara adalah untuk mendukung proses pengambilan data. Setelah melakukan observasi sebanyak dua kali, hasil yang diperolehadalahgayaberbicara guru yang baik. Hal tersbutditunjukkanolehtabelOller, berdasarkanpenilaiangayaberbicara guru mendapatkannilai 79. Jikanilaitersebutdimasukkankedalam FSI (Foreign Service Institute), gayabericara guru terdapat di level 3+. Lalu berdasarkan analisis lima komponen gaya bahaya oleh Brown (2004), guru melakukan kesalahan di komponen tata bahasa, pengucapan, dan kelancaran. Sedang kan untuk perbendaharaan kata dan penguasaan, guru sangat menguasainya karena dari hasil percakapan siswa dapat mengerti dengan semua ucapan guru. Lalu ada 30 ucapan yang mengandung code-switching. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang sedikit mengingat jumlahdari keseluruhan ucapan ada 451 ucapan. Kata kunci : Guru bahasaInggris, gaya berbicara, code-switching, dan kelas bahasa asing Abstract Teacher’s domination became a common phenomenon in Indonesia. In conducting teaching and learning process, the teacher dominated over all the classroom talk. The thing that should be paid attention was the teacher’s speaking performance. Since the teachers were talking during the class, their speaking performance of the teacher supposed to be good. Therefore, this study was conducted in order to describe the teacher’s speaking performance and the teacher’s code-switching because the used of mother language could not be separated from EFL classroom. The data would be analyzed based on five component of speaking by Brown (2004) and would be scored by weighting table by Oller (1979). The study belonged to case study since the focus of the study was one subject, the teacher. The subject of the study was an English teacher in SMAN 5 Surabaya. Then the data was took place in class science major. The data was gained by using field note and weighting table. Then audio recording was used to support in getting the data. After doing observation twice and analyzing the data, the result showed that the teacher speaking performance was good. The weighting table showed that the teacher’s score was 79. Then, when it converted to the FSI (Foreign Service Institute), the level was 3+. Meanwhile, from the analysis of five speaking components, the teacher did some errors in grammar, pronunciation, and fluency. Then for the vocabulary and comprehension, the teacher was good overall since the students understood with the teacher said. In addition, there were 30 utterances that contained code-switching. It was little amount since there were 451 utterances that were produced during teaching and learning process. Keyword: English teacher, speaking performance, code-switching, English teacher, EFL classroom
Project Based Learning as Learning Model in Teaching Speaking of Narrative Text to Tenth Grade Students of Senior High School
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Project Based Learning as Learning Model in Teaching Speaking of Narrative Text to Tenth Grade Students of Senior High School Ahmad Yusuf Firmansyah English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya yusuffirmansyah887@gmail.com RirinPusparini, S.Pd., M.Pd. English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya ririnpusparini@unesa.ac.id ABSTRAK Pada penelitian ini, terungkap bahwa Project Based Learning diberi label sebagai model pembelajaran dan bukan teknik karena teknik hanya digunakan untuk mencari perbaikan dan fokus pada hasil, sementara model pembelajaran difokuskan pada keduanya. proses penyelesaianproyek dan hasil atau produk dari proyek itu sendiri.Selain itu, penelitian ini dirancang secara kualitatif untuk menangkap semua fenomena yang berkaitan dengan bagaimana guru menjalankan Pembelajaran Berbasis Proyek di kelas. Untuk pertanyaan penelitian pertama, data diperoleh melalui pengamatan non partisipan dimana diperoleh dalam bentuk kata-kata yang menggambarkan keseluruhan pengajaran dan pembelajaran sedangkan data untuk pertanyaan penelitian kedua diperoleh melalui analisis dokumen dimana hal itu didapat dalam bentuk kata-kata dan ungkapan yang disampaikan oleh para siswa yang melakukan drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa fenomena yang terjadi selama pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek. Pada tahap pertama dalam mengimplementasikan PBL, guru memulai kelas PBL dengan melakukan diskusi, bukandengan memberikan pertanyaan penting. Pada tahap ketiga dalam mengimplementasikan PBL terkait dengan proses penjadwalan, timelinebersifat fleksibel. Pada tahap kelima dalam mengimplementasikan PBL terkait dengan proses penilaian, produk dari proyek ini adalah tentang presentasi drama. Selain itu, di antara ketiga kelompok tersebut, kelompok pertama dan kedua menunjukkan perkembangan signifikan terkait kemampuan berbicara mereka yang dinilai dan dibenarkan dengan menggambarkan produk mereka dari proyek presentasi drama. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Proyek, KemampuanBerbicara, Teks Naratif ABSTRACT In this research, it is revealed that Project Based Learning is appropriately labeled as a learning model rather than a technique since technique is only used to seek for an improvement and it focused on the result while learning model is focused on both the process of finishing the project and the result or the product from the project itself.In addition, this research is designed qualitatively to catch all the phenomena related to how the teacher ran Project Based Learning in the class. For the first research question, the data is obtained through non-participant observation in which it is gained in the form of words that describe the whole thing of the teaching and learning while the data for the second research question is obtained through document analysis in which it is gained in the form of words and utterance presented by the students who performed the drama.The result shows that there some phenomena happened during the implementation of Project Based Learning. At the first stage in implementing PBL, the teacher started up the class of PBL by doing discussion instead of giving an essential question. At third stage in implementing PBL related to the process of scheduling, the timeline was flexible. At fifth stage in implementing PBL related to the process of assessing, the product of the project was about drama presentation. Moreover, among those three groups, the first and the second group showed significant development related to their speaking ability in which it was judged and justified by describing their product of the drama presentation project.. Keywords:ProjectBasedLearning, Speaking, Narrativetext
TEACHER TALK FOR INSTRUCTION IN ENGLISH FOREIGN LANGUAGE CLASS
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TEACHER TALK FOR INSTRUCTION IN ENGLISH FOREIGN LANGUAGE CLASS Shela Faza Febiarachmah English Education, Languages and Arts Faculty, State University of Surabaya sheza34@gmail.com Prof. Dr. Susanto, M.Pd. English Education, Languages and Arts Faculty, State University of Surabaya susantoniki@gmail.com Abstrak Bahasa guru adalah bagian penting dari Pengajaran Bahasa Inggris karena bahasa guru tidak hanya menunjukkan seberapa baik guru dalam menjelaskan materi, tetapi juga memastikan seberapa baik siswa belajar dan memahami materi yang telah disampaikan. Salah satu poin penting yang menentukan keberhasilan siswa dalam belajar adalah bagaimana instruksi - instruksi guru tersusun dengan baik. Instruksi adalah proses mengubah pengetahuan guru menjadi representasi dan tindakan pedagogis. Namun, ada beberapa kesulitan yang ditemukan dalam memberikan instruksi secara lisan, yaitu terkait dengan manajemen kelas dan bahasa guru. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara guru memberikan instruksi secara lisan di kelas Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah seorang guru yang baru saja menyelesaikan pendidikannya dan mengajar di salah satu sekolah Islam. Data penelitian diperoleh dari catatan lapangan dan transkripsi rekaman video. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru menerapkan tiga jenis instruksi; memerintahkan, meminta, dan menyarankan (Hughes, 2007) dalam proses belajar mengajar. Setiap instruksi memiliki fungsinya. Memerintah digunakan untuk mengendalikan dan mengatur siswa. Meminta digunakan meminta siswa melakukan sesuatu dan mengajak mereka terlibat dalam proses belajar mengajar. Menyarankan digunakan untuk memotivasi siswa. Selain itu, guru selalu mengulang instruksi selama proses belajar mengajar. Namun, guru cenderung memberikan instruksi dalam bahasa Indonesia dibandingkan dengan pemberian instruksi dalam bahasa Inggris. Kata Kunci: Bahasa guru, Instruksi, Instruksi guru. Abstract Teacher talk is a crucial part of English Language Teaching since the way teacher talks not only decide how well the teacher explains the lectures, but also ensures how well students learn and understand the lectures. One of the important points which determine the successful students in learning is the way instructions are formulated. Instruction is transforming process of teacher’s knowledge into pedagogical representations and actions. However, there are some difficulties found in giving instruction to learners. It occurs since the teacher does not focus on the classroom management and the teacher speech. Thus, the aim of this study is to describe the way teacher gives oral instructions in English Foreign Language classroom. This study applies qualitative study. The subject is a fresh-graduated English teacher. The data are obtained from field note and transcription of video tapping. The result of this study showed that the teacher applied three types of instruction; commanding, requesting, and suggesting (Hughes, 2007) in teaching learning process. Each instruction has its function. Commanding is used to control and organize the students. Requesting is used to ask and request the students to do something and get them involved in teaching learning process. Suggesting is used to motivate students. Moreover, the teacher always repeated the instructions during teaching learning process. However, the teacher tends to give instruction in Bahasa Indonesia rather than in English. Keywords: Teacher talk, Instruction, Teacher Instruction.
THE IMPLEMENTATION OF STORY MAP STRATEGY TO TEACH READING NARRATIVE TEXT OF TENTH GRADERS IN MA MAMBAUL ULUM COROGO 
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

THE IMPLEMENTATION OF STORY MAP STRATEGY TO TEACH READING NARRATIVE TEXT OF TENTH GRADERS IN MA MAMBAUL ULUM COROGO Dewi Farichah English Education, Language and Art Faculty, State University Surabaya Dewifarichah5@gmail.com Abstrak Membaca adalah salah satu kemampuan berbahasa Inggris yang harus dipelajari oleh para siswa. Membaca bertujuan untuk memahami gagasan penulis atau cara penulis mengkomunikasikan gagasan mereka kepada pembaca dengan menggunakan kata tersebut. Oleh karena itu, para siswa diwajibkan untuk memahami isi dan informasi yang disebutkan dalam teks. Namun, terkadang para siswa merasa sulit dalam membaca karena mereka kurang kosakata dan bingung untuk memahami keseluruhan teks, terutama teks fungsional panjang, seperti Narrative Text. Ada banyak strategi yang bisa digunakan oleh guru dalam mengajar membaca. Salah satunya adalah Story Map Strategy. Ini membantu siswa untuk mengidentifikasi unsur teks naratif, seperti karakteristik, plot, setting, konflik cerita. Menurut Idol (l987) Story Map Strategy adalah prosedur yang membantu pemula mengenali kerangka dasar cerita naratif untuk meningkatkan pemahaman teks mereka. Selain itu, Story Map Strategy membantu siswa untuk memahami isi dan informasi utama teks dengan mudah. Jadi, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana penerapan Story Map Strategy dalam pembelajaran membaca teks naratif dan tanggapan siswa terhadap penerapan Story Map Strategy. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek adalah siswa kelas sepuluh MA. Mambaul Ulum Corogo. Instrumen penelitian ini adalah observasi checklist dan wawancara untuk mengumpulkan data. Kemudian data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tiga tahap (pengorganisasian dan pengenalan, pengkodean dan pengurangan, dan interpretasi dan representasi). Hasilnya menunjukkan bahwa guru menerapkan Story Map Strategy dengan menggunakan pendekatan ilmiah, seperti mengamati, mempertanyakan, menjajaki, bergaul, dan berkomunikasi. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa Story Map Strategy merupakan strategi yang tepat dalam mengajarkan teks naratif membaca karena membantu siswa untuk mengidentifikasi dan memahami informasi yang telah disebutkan dalam teks. Kata Kunci: Membaca, Teks Naratif, Peta Cerita. Abstract Reading is one of English skills that should be learned by students. Reading aims to understand the writer’s idea or the way the writer communicate their ideas to the readers by using the word. Therefore, the students are required to understand the content and the information that is mentioned in the text. However, sometimes the students feel that reading is difficult because they are lack of vocabulary and confused to understand the whole text, especially long functional text, such as Narrative Text. There are a lot of strategies which can be used by the teachers in teaching reading. One of them is Story Map Strategy. It helps the students to identify the elements of narrative text, such as characteristic, plot, setting, conflict of the story. According to Idol (l987) story map strategy is a procedure which helps the beginner to recognize the basic framework of narrative stories in order to increase their comprehension of text. Moreover, Story Map Strategy helps the students to comprehend the content and the main information of the text easily. Thus, the goal of this study is to show the implementation of Story Map Strategy in teaching reading narrative text and the students’ respond towards the implementation of Story Map Strategy. This research was action research. The subjects were the students of tenth graders in MA. Mambaul Ulum Corogo. The instruments of this study are observation checklist and interview to collect the data. Then, the data were analyzed descriptively using three stages (organizing and familiarizing, coding and reducing, and interpreting and representing). The results show that the teacher implemented Story Map Strategy by using scientific approach, such as observing, questioning, exploring, associating, and communicating. In addition, the results of the interview showed that Story Map Strategy was appropriate strategy in teaching reading narrative text because it helps the students to identify and to comprehend the information that was mentioned in the text. Keywords: Reading, Narrative Text, Story Map
TEACHER’S TECHNIQUES ON PROVIDING WRITTEN FEEDBACK TO STUDENTS’ WRITING COMPOSITION
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TEACHER’S TECHNIQUES ON PROVIDING WRITTEN FEEDBACK TO STUDENTS’ WRITING COMPOSITION Rismi Wulandari English Department, Faculty of Langauge and Art, State University of Surabaya rismiwulandari@gmail.com Prof. Dr. Susanto, M.Pd. English Department, Faculty of Langauge and Art, State University of Surabaya susantoniki@gmail.com Abstrak Siswa membutuhkan banyak bantuan dan umpan balik dari guru mereka terutama dalam menunjukkan kesalahan yang mereka buat. Dalam hal ini, umpan balik sebagai strategi yang diterapkan oleh guru merupakan strategi memperbaiki kesalahan siswa. Pada dasarnya, preferensi guru untuk umpan balik yang diberikan pada karangan siswa bergantung pada pengalaman dan persepsi guru sendiri. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada banyak kemungkinan bahwa guru yang berbeda menggunakan strategi yang berbeda dalam memberikan umpan balik. Berkenaan dengan masalah tersebut, peneliti mempertimbangkan untuk melakukan penelitian yang dimaksudkan untuk menganalisis jenis umpan balik guru pada karangan siswa. Penelitian ini dirancang berdasarkan penelitian interpretatif dasar. Subjek penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris yang memberikan umpan balik terhadap komposisi siswa di salah satu Sekolah Menengah Atas favorit di Jawa Timur. Dalam penelitian ini, data tersebut merupakan umpan balik tertulis guru dalam komposisi siswa. Peneliti mengumpulkan data dengan mendapatkan dari guru, sehingga peneliti sendiri adalah kunci instrumen penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru menggunakan empat jenis umpan balik korektif tertulis dan komentar tertulis. Sebagian besar umpan balik dari guru merupakan indirect corrective feedback, sementara direct corrective feedback adalah yang paling sedikit. Dalam metalinguistic feedback, guru tersebut memberi petunjuk linguistik untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Namun, faktanya, siswa tersebut tidak merevisi kesalahan seperti yang disarankan guru dalam metalinguistic feedback. Peneliti juga menemukan bahwa guru memusatkan perhatian pada kesalahan spesifik dan mengabaikan kesalahan lainnya. Kemudian, di akhir karangan siswa, guru juga memberi arahan agar siswa lebih memperhatikan kesalahan pada pronoun. Dia telah menulis written commentary tentang pronoun tersebut. Kata Kunci: umpan balik secara tertulis, karangan siswa. Abstract Students need a lot of assistance and feedback from their teachers especially in pointing out the errors that they make. In this case, feedback as strategy applied by the teacher is the important position to improve the students errors. Basically, teachers’ preferences for feedback given to the students’ performances are depend on the teachers’ own experiences and perceptions. From those statements, it can be inferred that there are wide probabilities that different teachers use different strategies on providing feedback as they are influenced by their practices. In regard to the fact that different teachers use different strategies on providing feedback, the researcher considered to conduct a study that is intend to analyze the types of teacher feedback on the students’ essay writing composition. This study was designed based on basic interpretative research. The subject of this study was an English teacher who gave feedback to the students’ composition in one of favorite Senior High School in East Java. In this research, the data were teacher’s written feedback in the students’ composition. The researcher collected the data by obtaining from the teacher, thus the researcher herself was the instrument key of this study. The results of this study showed that the teacher use four kind of written corrective feedback and a written commentary. Most type of feedback that the teacher use was indirect corrective feedback while direct corrective feedback was the least one. The teacher promoted the student to do self-correction by gave indirect corrective feedback. In metalinguistic feedback, the teacher gave linguistic clue to correct the errors. Then, in the end of student’s composition, the teacher also gave a direction to make the student pay more attention to her pronoun errors. She provided written commentary by drew a table of pronoun because most student’s errors occurred on the pronoun. Keywords: written feedback, student’s composition.
THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH MONOLINGUAL AS MEDIUM OF COMMUNICATION IN FACULTY OF ECONOMICS
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH MONOLINGUAL AS MEDIUM OF COMMUNICATION IN FACULTY OF ECONOMICS Badryatul Wulandari English Education Department, Faculty of Languages and Arts, State University of Surabaya iambwd58@gmail.com Abstrak Bahasa Inggris penting untuk dipelajari oleh para pelajar yang berasal dari negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi bahasa yang mendunia yang dibutukan para pelajar sebagai syarat untuk bekerja dan belajar. Salah satu masalah yang dihadapi siswa-siswi dalam belajar bahasa Inggris adalah mereka kesulitan dalam memahaminya. Tujuan dari belajar bahasa Inggris bukan saja untuk memahami bahasa Inggris sendiri akan tetapi agar bisa menyampaikan ide-ide saat pembelajaran. Di Indonesia, yang notabene bukan negara yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utamanya, cukup sulit untuk menerapkan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas-kelas bahasa Inggris. Para mahasiswa akan selalu memerlukan bahasa ibu mereka untuk memahami materi saat kegiatan belajar mengajar. Penggunaan bahasa ibu mahasiswa memudahkan mereka saat pembelajaran. Peneliti melakukan observasi bagaimana penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di kelas bahasa inggris. Desain penelitian ini menggunakan kualitatif yang mengobservasi penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar yang berfokus pada bahasa ibu dosen di kelas bahasa Inggris, Peneliti memperoleh data dari observasi menggunakan catatan lapangan. Subjek dari penelitian ini adalah dosen yang mengajar mahasiswa dan mahasiswi yang bukan dari jurusan bahasa inggris. Jurusan mereka adalah pendidikan administrasi perkantoran angkatan 2016 di Fakultas Ekonomi. Catatan lapangan digunakan untuk mengobservasi kegiatan belajar mengajar. Setelah peneliti mengumpulkan data, peneliti menganalisis data menggunakan pendekatan kualitatif yang dibagi menjadi tiga tahapan; pengaturan dan penyamaan, pengelompokan dan pengurangan, dan interpretasi dan penggambaran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dosen masih menggunakan dan berbicara dengan bahasa ibu saat kegiatan belajar mengajar. Para mahasiswa dan mahasiswi membutuhkan bahasa ibu untuk memudahkan mereka memahami materi lebih baik daripada menggunakan bahasa Inggris saja di kelas bahasa Inggris. Bahasa Indonesia dibutuhkan untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami materi yang diajarkan. Para mahasiswa membutuhkan bahasa ibu dosen untuk memahami kata-kata tertentu dalam bahasa inggris yang tidak dimengerti agar lebih memahami materi. Sebagai tambahan, sangat sulit untuk menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di kelas bahasa inggris. Hal ini dikarenakan inggris adalah bahasa asing di Indonesia. Jadi, para mahasiswa bergantung pada bahasa ibu dosen dalam mempelajari bahasa inggris.. Kata Kunci: Penggunaan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Pengantar, Bahasa Ibu Dosen Abstract English language is necessary to learn for learners who come from non English speaking countries. English language becomes global language that the learners should learn in order to fill the requirements for studying and working. One of problems that learners face while studying is they have difficulties to understand the language itself. The goals of learning English language are not only to understand the language but also to be able to deliver the learners’ ideas. In Indonesia, which is non English speaking country is quite hard to implement English monolingual as medium of communication in English classes. The students will always need their first language (L1) in order to understand the materials during teaching and learning process. The use students’ first language (L1) facilitates teaching and learning process. The researcher observed how the implementation of English as medium of communication was in English class. The study used qualitative research that observed the implementation of English monolingual as medium of communication which focused in lecturer’s first language (L1) in English class. The researcher gaining the data through observation using field notes. The subject of this study was the lecturer who taught non English major students. The students majored in office administration education year 2016 in Faculty of Economics. Field notes are used to observe teaching and learning process. After the researcher collected the data, the researcher analysed the data using qualitative approach which had three stages; organizing and familiarizing, coding and reducing, and interpreting and representing. The results of this study showed that lecturer used and spoke in her first language during teaching and learning process. The students needed their first language to facilitate them to understand the materials better rather than used English only in English class. It was necessary to use Bahasa Indonesia in order to avoid misunderstanding to the materials. The students needed lecturer’s first language to understand certain words in English in order to comprehend the materials. In addition, it was difficult to implement English as medium of communication in English class. It was due to English as foreign language in Indonesia. As a result, the students relied on lecturer’s first language in learning target language. Keywords: English Monolingual as Medium of Communication, Lecturer’s First Language
TEACHER’S PROBING QUESTIONS IN EFL LANGUAGE CLASSROOM IN SENIOR HIGH SCHOOL
RETAIN Vol 5 No 3 (2017): Volume 5 nomor 3 (2017)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TEACHER’S PROBING QUESTIONS IN EFL LANGUAGE CLASSROOM IN SENIOR HIGH SCHOOL CAHYA FEBRIAN English Department, Faculty of Langauge and Art, State University of Surabaya cfebrian16@gmail.com Prof. Dr. Susanto, M.Pd. English Department, Faculty of Langauge and Art, State University of Surabaya susantoniki@gmail.com Abstrak Bahasa kelas adalah bahasa yang digunakan oleh guru dan murid selama proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, guru perlu mengembangkan kegiatan pembelajaran salah satunya dengan menggunakan pertanyaan. Ada beberapa teknik dalam memberikan pertanyaan, yaitu: phrasing, adaptation, sequencing, balance, participation, probing, and wait time (McComas & Abraham, 1995). Penelitian sebelumnya, Moyer dan Milewicz (2002) menunjukkan bahwa menanyakan probing questions membantu guru lebih fokus pada cara berfikir murid, namun belum menunjukkan probing questions apa yang digunakan guru di dalam kelas. Peneliti memilih salah satu guru sebuah SMA Negeri sebagai subyek penelitian. Pertanyaannya: (1) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan klarifikasi (2) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan mengenai sudut pandang yang berbeda (3) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan untuk menggali asumsi siswa (4) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan untuk menggali alasan (5) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan untuk menggali bukti (6) apa probing questions yang digunakan guru dalam pertanyaan untuk menggali maksud dan tujuan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen observasi. Observasi dilakukan di 2 kelas berbeda namun masih pada tingkatan yang sama. Hasilnya ditemukan bahwa guru menggunakan keenam probing questions dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam penggunaan probing questions, ditemukan bahwa guru menggunakan beberapa teknik dalam probing questions, yaitu: basic probe, explanatory probe, focused probe, silent probe, drawing out, giving ideas, and mirroring. Dalam pelaksanaannya di 2 kelas berbeda, guru menggunakan Probing Questions yang sama. Probing questions yang paling sering digunakan guru adalah probing questions dalam pertanyaan klarifikasi dan probing questions dalam pertanyaan untuk menggali asumsi. Teknik yang paling sering digunakan guru dalam probing questions adalah explanatory probe. Kata Kunci: Bahasa kelas, Pertanyaan, Probing questions. Abstract Classroom language is a language which is used by both of teacher and student in the teaching learning process. In the teaching learning process, teachers needs to develop the learning activity, one of the ways is using question. There are several techniques in giving question, those are phrasing, adaptation, sequencing, balance, participation, probing, and wait time (McComas & Abraham, 1995). The previous research, Moyer and Milewicz (2002) showed that asking probing questions helped the teachers to better focus on students’ thinking. Yet, it did not show what probing questions did the teacher use in the classroom. The english teacher of state senior hig h school was the subject of this research. The research questions are (1) What probing questions does the teacher use in questions for clarification (2) What probing questions does the teacher use in questions about different viewpoints (3) What probing questions does the teacher use in questions to probe students’ assumptions (4) What probing questions does the teacher use in questions to probe students’ reason (5) What probing questions does the teacher use in questions to probe evidence (6) What probing questions does the teacher use in questions to probe implications and purposes. This research applied qualitative descriptive. The data gained by observing the subject. the observation had done in two different class but still in the same grade. The results of this research showed that the teacher used all of those six probing questions in the teaching learning process. In applying probing questions, the teacher used several probing techniques, those are basic probe, explanatory probe, focused probe, silent probe, drawing out, giving ideas, and mirroring. In using probing question during teaching learning process in two different class, it showed that the teacher used same probing questions. The teacher was mostly used probing questions for clarrification and probing questions to probe assumptions. Probing technique which mostly used by the teacher was explanatory probe. Keywords: Classroom language, Questions, Probing questions.