cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
An Analysis of Writing Material in English Textbook “When English Rings the Bell” For Eighth Grade
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Buku teks merupakan referensi penting yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini didukung oleh Hutchinson dan Torres (1994: 315) yang menyatakan bahwa buku teks telah menjadi elemen universal ELT, yang tanpanya proses pembelajarannya tidak lengkap. Menimbang situasi seperti itu, evaluasi terhadap bahan yang ada diperlukan untuk mengungkapkan kelemahan buku teks dan meningkatkan kekuatannya Cunningsworth (1995). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyajian materi tulis dalam buku teks. Analisis difokuskan dua aspek utama dari materi penulisan: presentasi materi, dan elemen linguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis isi. Daftar periksa untuk evaluasi dikembangkan berdasarkan kriteria yang diajukan oleh BNSP dan Cunningsworth (1995). Temuan menunjukkan bahwa dalam hal penyajian materi tulis, semua tugas penulisan berupa tulisan terbimbing, dimana siswa diminta untuk menulis tanggapan, dalam batasan panjang, sesuai petunjuk yang diberikan. Dalam hal elemen linguistik, mereka diperlakukan secara terpadu dalam buku teks. Studi ini menunjukkan bahwa tugas menulis di buku teks telah tercakup secara proporsional. Temuan menunjukkan bahwa referensi independen untuk kosa kata dan item tata bahasa diperlukan untuk belajar mandiri. Topik nya harus lebih beragam dan juga memberikesempatan kepada siswa untuk mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mendapatkan konteks yang berbeda. Kata kunci: Analisis buku teks, bahan tulis, sekolah menengah pertama Abstract Textbook is an important reference employed by teachers and students in the learning process. It is supported by Hutchinson and Torres (1994: 315) stating that textbook has become a universal element of ELT, without which the learning process seems incomplete. Considering such situations, an evaluation of existing materials is necessary to reveal the weaknesses of the textbook and improve its strength Cunningsworth (1995). This study aims to analyse the presentation of writing material in textbook. The analysis is focused two key aspects of the writing material: material presentation, and linguistic elements. This study is descriptive qualitative employing a content analysis. A checklist for evaluation was developed based on criteria proposed by BNSP and Cunningsworth (1995). The findings showed that in terms of writing material presentation, all of the writing tasks are in the form of guided writing, in which students are asked to write responses, in restricted length, to the given prompts. In terms of linguistic elements, they are treated in integrated manner in the textbook. This study indicates that writing tasks in the textbook have been proportionally covered. The findings suggest that independent references for vocabulary and grammar items are necessary for self-study. The topics should be more various as well to provide students with wider chances to get exposed to different contexts. Keywords: Textbook analysis, writing material, junior high school
ANALYSIS ON THE USE OF GUIDELINE ON STUDENTS’ ESC MEETING
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa lisan, tidak seperti tulis, sangat kompleks. Bahasa lisan melibatkan banyak fitur seperti intonasi, ekspresi wajah, gerak tubuh, kenyaringan dll. Untuk mahasiswa jurusan bahasa Inggris, berbicara dengan lancer dan akurat adalah kemampuan yang harus dikuasai. Untuk membantu mengembangkan kemampuan berbicara mahasiswa, sebuah program bertajuk English Speaking Community (ESC) diluncurkan. Panduan diberikan kepada siswa untuk menjalankan program ini, namun apakah panduan tersebut digunakan atau tidak masih belum jelas. Untuk itu studi analisa untuk mencari tahu apakah panduan digunakan atau tidak dalam pertemuan rutin siswa diadakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah panduan ESC digunakan saat pertemuan siswa atau tidak melalui penelitian kualitatif. Peneliti mengobservasi pertemuan murid dari tiap level ESC dan mengadakan diskusi kelompok terfokus untuk mencari jawabannya. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan bahasa Inggris grup ESC tingkat satu sampai tujuh.Menurut hasil ditemukan hanya satu kelompok menggunakan panduan secara menyeluruh. Tiga group lain hanya menggunakan sebagian dari panduan dan tiga grup sisanya tidak menggunakan panduan sama sekali untuk pertemuan mereka. Kata Kunci: Berbicara, ESC, panduan. Abstract Spoken language, unlike written, is very complex. Spoken language involves lots of features such as intonation, facial expression, body gestures, loudness etc. For English department students, being able to speak fluently and accurately is a skill that all of the students must have. To help in developing students’ speaking skill, a program called English Speaking Community (ESC) is launched. The program gives guideline to the students for their activity, but whether the guideline is really being used or not is undetermined. That is why the researcher conducts a research about the use of ESC’s guideline on students’ meeting. The objective of the study is to find out whether students use the ESC’s guideline or not. The researcher finds out the result of the research in qualitative research. The researcher observes the students’ meeting for each level and conduct a focus group discussion (FGD) to find out the answer. The subjects of this research are students’ of ESC group from level one to seven of State University of Surabaya. According to the result there is only one group that used the guideline fully, while the other six groups are not. In conclusion, the ESC’s guideline is not completely used by the students in their ESC meeting. Keywords: Speaking, ESC, Guideline.
The Use of Reader-Response Theory to Teach Reading Narrrative Text for Tenth Graders of Senior High School
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research was aimed to describe the use of reader-response theory to teach reading narrative text and to describe the students’ responses toward the text. This research was conducted qualitatively. This research used some instruments, which are observation checklist, field notes, transcription, and document. The observation checklist and the field notes were used to know how the reader-response theory was used to teach reading narrative text in the classroom, which was conducted in three meetings. In addition, to know the type of the students responses toward the text during the reading process based on the reader-response theory, the researcher used the transcription and the document of the students’ works. From this research, it could be said that the reader-response theory was used in the form of spoken and written activities. The teacher also had applied the Engaging, Describing, Conceiving, Explaining, Connecting, Interpreting, and Judging strategies during the teaching and lerning process. Furthermore, the students made Interpretive, Affective, Reflective, Associative, and Queries response toward the text when they were involved in the RRT-based reading process. Keywords: Reading, Narrative Text, Reader-Response Theory. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan reader-response theory untuk membaca teks naratif dan untuk mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap teks tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, seperti daftar kriteria pengamatan, catatan lapangan, transkripsi, dan dokumen. Daftar kriteria pengamatan dan catatan lapangan digunakan untuk mengetahui bagaimana reader-response theory digunakan dalam pembelajaran membaca teks naratif di kelas, yang dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Sebagai tambahan, untuk mengetahui jenis tanggapan siswa terhadap teks selama proses membaca yang berdasar pada reader-response theory dilaksanakan, peneliti menggunakan transkripsi dan dokumen dari lembar kerja siswa. Dari penelitian ini, dapat dikatakan bahwa reader-response theory diterapkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas oral dan tulis. Guru juga telah mengaplikasikan strategi Menarik, Menggambarkan, Memahami, Menjelaskan, Menghubungkan, Menginterpretasikan, dan Menilai selama proses belajar-mengajar. Selain itu, para siswa memberi tanggapan Interpretatif, Afektif, Reflektif, Asosiatif, dan tanggapan yang berupa pertanyaan terhadap teks ketika mereka terlibat dalam proses membaca yang berdasar pada reader-response theory. Kata kunci: Membaca, Teks Naratif, Reader-Response Theory.
A Study of Teachers Perception on English Curriculum for Vocational High School in Surabaya
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru bahasa Inggris SMK di Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan persepsi guru bahasa Inggris terhadap K13, termasuk hambatan yang dihadapi ketika mengimplementasikannya di kelas. Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan guru bahasa Inggris SMK sebagai peserta penelitian. Data didapatkan dengan cara membagikan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K13 bagus dalam mengembangkan aspek afektif, pengetahuan dan kemampuan siswa, sayangnya, ada beberapa hal yang di keluhkan oleh guru. Pertama, kompetensi dan materi pembelajaran terlalu umum, pembelajaran di SMK membutuhkan pembelajaran yang memasukkan bahasa Inggris spesifik yang sesuai dengan jurusan. Kedua, penilaian K13 terlalu rumit. Ketiga, guru menyatakan pengajaran membutuhkan waktu lebih dari sekedar dua jam tatap muka per minggu, dari yang awalnya empat jam per minggu. Kata Kunci: Kurikulum, SMK, Persepsi Abstract This study investigates the perception of English teachers in Surabaya towards the implementation of K13 in vocational high school. The objective of this study is to describe the perception of SMK English teachers towards K13 curriculum, including the obstacles they face when they implement it in the classroom language teaching. This study is a descriptive qualitative study, with SMK English teachers as the participants. The data were obtained by administering questionnaire. The findings showed that K13 is good to develop students affective competence, however, there are things which are complained by teachers. First, learning material and competencies are too general, it needs to include specific English related to the major of study. Second, the assessment is too complicated. Third, they demand more learning hours, since learning hour is decreased from four learning hours per week into two learning hours per week. Keywords: Curriculum, SMK, Perception
Problem-Based Learning in Teaching Writing Hortatory Exposition Text to Eleventh Graders
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMenulis adalah keahlian utama untuk sukses mempelajari bahasa asing. tapi pada kenyataanya, banyak pelajar menemukan kesulitan dalam proses menulis. Berdasarkan kurilukum 2013, yang menekankan pembelajaran kolaboratif dimana siswa dapat berpikir kreatif dan mengembangkan pengetahuan dengan dirinya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan instrumen penelitian catatan lapangan dan hasil menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana guru mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran menulis hortatori eksposisi dan bagaimana hasil kerja siswa terhadap implementasi pembelajaran berbasis masalah dalam pengajaran menulis hortatori eksposisi. Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan adalah guru bahasa inggris dan siswa kelas sebelas di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Hasil penelitian ini menunjukan model pembelajaran berbasis masalah dapat membuat siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Tapi sayangnya, guru sebagai pembimbing tidak berhasil memunculkan permasalahan dalam hasil kerja siswa. Untuk hasil kerja tidak ada grup yang dikelompokkan ke dalam poor dan very poor. Model pembelajaran berbasis masalah dapat diimplementasikan dalam pengajaran menulis hortatori eksposisi. Model pembelajaran berbasis masalah sebagai model pembelajaran mampu memotivasi siswa bergabung dalam proses pembelajaran di kelas dan mampu mengajak minat siswa untuk menulis.Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampuan Menulis, Teks hortatori exposition AbstractWriting is the primary skill to successfully learn a second language. But on the fact, many students find difficulty in the process of writing. Based on curriculum 2013 that emphasize collaborative learning where the students able to creative thinking and develop their knowledge. This study used descriptive qualitative research method with research instruments field note and student’s writing result. This result is purposed to describe: The implementation of problem-based learning in teaching writing hortatory exposition text and the student writing hortatory exposition text toward the implementation of problem-based learning method. The subject that used are the English teacher and the student eleventh graders in SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. The result of the study shows problem-based learning can makes the student actively involved in the learning activity. But unfortunately, the teacher as guide did not succeed in raising problems in the in-student’s work. In student writing result there were no group calcsilicates in the poor and very poor. Problem-based learning models can be implemented in teaching hortatory exposition writing. Problem-Based Learning as a learning model could motivate the students involved in the learning process and could encourage and engage the students’ to write.Keywords: Problem-Based Learning, writing skill, hortatory exposition text
The Implementation of Teaching LOTS and HOTS in English Teaching-Learning Process in Senior High School
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dirancang secara kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan keterampilan berpikir tingkat rendah dan keterampilan berpikir tinggi diterapkan dengan benar atau tidak. Penting juga untuk mengetahui bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam tingkat mengingat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk tingkat pemahaman di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk level penerapan di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menganalisa tingkat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menilai tingkat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menciptakan tingkat di SMA kelas XI. Subjek penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Penjelasan dan deskripsi akan disajikan melalui obvervasi menggunakan catatan lapangan dalam beberapa pertemuan. Hasilnya adalah guru mengajarkan keterampilan mengingat, keterampilan memahami, menerapkan keterampilan, menganalisis keterampilan, dan menciptakan keterampilan. Sayangnya, guru tidak mengajarkan keterampilan mengevaluasi. Kata Kunci: keterampilan berpikir tingkat rendah, keterampilan berpikir tingkat tinggi, guru bahasa Inggris. Abstract This study is qualitative-designed. This study is aimed to describe whether the implementation of lower-order thinking skills and higher-thinking skills are applied properly or not. It is also important to describe how English teacher implement activities that belong to remembering level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to understanding level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to applying level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to analyzing level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to evaluating level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to creating level in senior high school grade XI. The subject of this study was an english teacher in senior high school. The explanation and description would be presented through obvervation using fieldnotes in several meetings. The result was the teacher teached remembering skills, understtanding skills, applying skills, analyzing skills, and creating skills. Unforttunaely, the teacher did not teach evaluating skills. Keywords: lower-order thinking skills, higher-order thinking skills, english teacher.
The Use of Cognitive and Metacognitive Strategies Across Proficiency and Task Complexity
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSiswa-siswa memiliki pendekatan dan strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi tugas komprehensi membaca. Penelitian ini menginvestigasi strategi kognitif dan metakognitif yang digunakan siswa dengan tingkat kemampuan berbeda dalam tingkat kompleksitas tugas berbeda pula pada siswa-siswa SMA di Surabaya, Indonesia. Think-aloud protocol digunakan dalam mendapatkan data yang direkam, di transkripsi, dan dikode menggunakan kode yang telah ditentukan sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa para siswa menggunakan hampir semua strategi kognitif dan metakognitif, kecuali Comprehension Monitoring, Predicting, Visualizing, Adopting an Alignment, dan Analysing the Author’s Craft. bahkan, siswa dengan kemampuan tinggi menggunakan lebih banyak strategi daripada siswa dengan kemampuan rendah, terutama dalam proses Evaluating dan Monitoring. Selain itu, tingkat kompleksitas tugas mempengaruhi penggunaan strategi pada kedua grup; tugas yang lebih rumit membuat strategi Monitoring dan Evaluating lebih banyak digunakan.Kata Kunci: strategi membaca, strategi kognitif, strategi metakognitif, tingkat kompleksitas tugasAbstractStudents have different approaches and strategies in coping with reading comprehension task. this study investigated the cognitive and metacognitive strategies used by students across proficiency and task complexity of high school students in Surabaya, Indonesia. Think-aloud protocol was used in collecting the data, which were recorded, transcribed, and coded using predetermined codes. The results showed that students employed almost all of the cognitive and metacognitive strategies, excluding Comprehension Monitoring, Predicting, Visualizing, Adopting an Alignment, and Analysing the Author’s Craft. Moreover, High proficiency students were found using more strategies than the low proficiency ones, especially in Evaluating and Monitoring processes. Furthermore, task complexity affects the strategies used by both group; harder task made Monitoring and Evaluating strategies used more. Keywords: reading strategy, cognitive strategy, metacognitive strategy, task complexity
Teachers’ Teaching Preparation Towards Their Real Teaching Practice in EFL Classroom
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus menyiapkan RPP dan materi yang akan diajarkan kepada siswanya. RPP yang disiapkan akan bermanfaat untuk guru ketika dia melakukan kegiatan mengajar di dalam kelas. RPP harus jelas dan detail karena di dalamnya berii tentang kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi yang diajarkan hingga pedoman penilaian yang akan digunakan gu4ru. Dalam hal ini, RPP menjadi pedoman bagi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini membedah kesesuaian isi dari RPP guru serta implementasinya dalam kegiatan mengajar guru di kelas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam proses mengumpulkan data dan menjawab rumusan masalah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah RPP yang digunakan guru kurang update dan kurang detail. Sedangkan implementasinya berbeda dengan apa yang mereka buat di RPP dan beberapa guru harus mengubah keseluruhan strategi mengajar dan keseluruhan kegiatan pembelajaran di kelas meskipun kegiatan pembelajaran berlangsung aktif an kondusif.Kata Kunci : RPP, kegiatan mengajarAbstractIn teaching and learning activities, a teacher must prepare lesson plan and materials to be taught to his students. The lesson plan will be useful for teachers when they do real teaching practice in the classroom. The lesson plan should be clear and detailed because it contains basic competence, indicator of competence achievement, learning objectives, material to be taught and assessment guidelines. In this case, the lesson plan becomes a guide for teachers in conducting classroom learning activities. This study dissects the content of the teachers lesson plan as well as its implementation in real teaching practice in the classroom. This study used qualitative methods in the process of collecting data and answering the research questions. The conclusion of this research is lesson plans used by teachers were less updated and less detailed. While the implementation of the lesson plan in the classroom was different from what they designed in the lesson plan and some teachers have to change the overall teaching strategy and learning activities in the classroom even though the learning activities are active and conducive..Keywords: lesson plan, real teaching practice.
A Study of Teacher’s Meaningful Learning Activities in The Teaching Process of Intermediate Grammar Learning Course
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menurut Hsu (2013) grammar adalah struktur bahasa, dalam konteks ini, dari bahasa Inggris. Maka penting bagi guru untuk memberikan pengajaran grammar yang efektif kepada siswa. Salah satu cara adalah melalui Meaningful Learning, prinsip mengajar bahasa yang diusulkan oleh Brown. Untuk mencapai Meaningful Learning, aspek retention (retensi) and transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) harus dipromosikan dan dilibatkan dengan siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kegiatan Meaningful Learning retention (retensi) dan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh seorang guru yang mengajar kelas intermediate grammar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Meaningful Learning dari Brown dan teori proses kognitif dari Meyer (2002). Teori milik Mayer menyajikan 18 proses kognitif yang digunakan untuk menganalisis kegiatan Meaningful Learning di kelas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik metode kualitatif. Sumber data untuk penelitian ini adalah tindakan guru, baik lisan (dalam bentuk ucapan guru, kalimat) dan non-verbal (dalam bentuk kegiatan mengajar). Berdasarkan analisis data yang diperoleh, ditemukan bahwa guru telah mempromosikan aspek retention (retensi) dan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) Meaningful Learning dalam kegiatan mengajar grammar. Proses kognitif yang dilakukan dengan siswa untuk retensi adalah kegiatan mengingat, menjelaskan, mencontohkan, mengklasifikasikan, membandingkan, dan meringkas, sementara pada transfer ilmu pengetahuan adalah kegiatan membedakan, mengatur, menghubungkan, melaksanakan, dan menciptakan.Kata Kunci : Grammar, Prinsip mengajar, Meaningful learning, Proses kognitifAbstractAccording to Hsu (2013) grammar is the structure of the language, which in this case, English language. Thus, it is important for teachers to provide an effective grammar teaching to the students. One way to achieve this is through Meaningful Learning, a language teaching principle by Brown. In order to achieve Meaningful Learning, retention and transfer of knowledge aspect should be promoted are to be engaged with the students. Therefore, this study aims to describe and analyze the meaningful learning activities of retention and transfer of knowledge done by a teacher of an intermediate grammar class in their teaching process. The main theories used in this study are Brown’s Meaningful Learning and Meyer’s (2002) cognitive processes of meaningful learning. The latter theory provides 18 cognitive processes which was used to analyze the meaningful learning activities in the classroom. This study is a descriptive research that used qualitative method technique. The source of data for this study is the teacher’s actions, both verbal (in form of teacher’s utterance, sentences) and non-verbal (in form of teaching activities). Based on the analysis of the obtained data, it was found that the teacher has promoted both meaningful learning retention and transfer of knowledge aspects in her grammar teaching activities. The cognitive processes engaged with the students for retention were recalling, explaining, exemplifying, classifying, comparing, and summarizing activities, meanwhile for transfer of knowledge were differentiating, organizing, attributing, execute, and generating activities.Keywords: Grammar, Teaching principles, Meaningful learning, Cognitive process
Peer and Self Error Correction Process of Speaking Performance in English Speaking Community at University
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakEnglish Speaking Community adalah salah satu cara terbaik untuk mengaktifkan keterampilan berbicara siswa di luar kelas. Kegiatan ini memungkinkan siswa untuk belajar melalui peer learning di mana guru tidak terlibat langsung di dalamnya. Namun, dalam kemampuan berbicara, siswa diharapkan untuk memperbaiki kesalahan dan belajar dari kesalahan yang mereka buat. Oleh karena itu, penelitian ini menguji proses mengoreksi kesalahan teman dan diri mereka sendiri kemampuan berbicara siswa saat melakukan kegiatan di English Speaking Community. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dimana observasi dan wawancara digunakan sebagai metode pengumpulan data. Dua kelompok diamati dalam penelitian ini. Observasi direkam menggunakan rekaman audio dan ditranskripsikan ke dalam transkripsi pengamatan data. Field-notes juga digunakan untuk memudahkan analisis data. Hasil menunjukkan bahwa siswa biasanya melakukan kesalahan dalam pengucapan, aturan tata bahasa, pilihan kosakata, dan kesalahan berbasis strategi komunikasi. Proses koreksi juga menunjukkan bahwa siswa melakukan koreksi diri dalam dua cara; koreksi diri langsung dan koreksi diri yang tertunda. Sementara dalam mengoreksi teman, siswa melakukan mengoeksi secara langsung, mengoeksi secara tertunda, dan mengoeksi secara diskusi. Namun, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar siswa tidak mengoreksi kesalahan. Dengan demikian, wawancara terhadap tiga siswa dilakukan untuk mengetahui alasan mengapa mereka cenderung tidak memperbaiki kesalahan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mengenali kesalahan, mereka lebih fokus pada kegiatan berbicara daripada kesalahan yang dibuat, merasa tidak enak jika mereka memperbaiki kesalahan, dan mereka ingin untuk memotong waktu.Kata Kunci: pengoreksian diri sendiri, pengoreksian teman, produksi kesalahan, kemampuan berbicara. AbstractEnglish Speaking Community is one of the best ways to activate students’ speaking skill outside the classroom. This activity allows students to learn through peer learning in which lecturers are not directly involved in it. However, in speaking performance students are expected to correct errors in order to learn from the mistakes they make. Thus, this study examines the process if peer and self error correction in students’ speaking performance in English Speaking Community. This study used qualitative descriptive research in which observation and interview were conducted as the data collection method. Two groups were observed in this study. The observation was recorded into audio recording and transcribed into observation transcription. Filed notes were also used to ease the data analysis. The result showed that students usually commit errors in their pronunciation, grammar rule, vocabulary choice, and communication strategy-based error. The process of correction also showed that students conducted self-correction in two ways; they are direct self-correction and delayed self-correction. While in peer correction, students conducted direct peer correction, delayed peer correction, and discussion peer correction. However, this study found that students were mostly not to correct error. Thus, interview towards three students were conducted to know the reason why they tended not to correct error. Here, the result showed that students mostly didn’t recognize the errors, they preferred to focus on the speaking rather than the errors, felt bad if they corrected errors, and they intended to cut out the time. Keywords: self-correction, peer correction, error production, speaking performance.