cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
The Implementation of Project Based Learning Using English Illustration Video to Teach Speaking of Recount Text for Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDikarenakan berbicara adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa, Project Based Learning dapat menjadi alternatif model pembelajaran untuk mengajarkan kemampuan berbiara pada level sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan dari Project Based Learning yang dilakukan di kelas 10 SMAN 1 Cerme. Penelitian ini pun berfokus tidak hanya pada deskripsi hasil atau produk dari para siswa, namun juga fokus pada beberapa hal yang terjadi di setiap proses tahapan dalam penerapan Project Based Learning. Penelitian ini didesain secara kualitatif dalam mengamati 36 siswa kelas 10 dan seorang guru bahasa Inggris SMA di kota Gresik. Peneliti mendapatkan data melalui lembar observasi dan field note. Rubrik yang telah diadaptasi juga digunakan untuk mendeskripsikan produk siswa. Hasil dari evaluasi guru menunjukkan bahwa guru sudah mengimplementasikan model pembelajaran Project Based Learning dengan tahapan yang tepat. Disamping itu, dari ke enam grup yang terbentuk, merekamemiliki hasil yang berbeda satu sama lain. Hanya dua dari enam grup yang memiliki hasil di bawah rata-rata. Hal ini dapat dinilai dari deskripsi produk video mereka.Kata Kunci: Project Based Learning, Kemampuan berbicara, Teks Recount AbstractSince speaking is one of the skills which needs to be mastered by the students, Project Based Learning can be an alternative learning model to teach speaking in Senior High School. This study aims to explore the implementation of Project Based Learning conducted at the first grade class of SMAN 1 Cerme. Moreover, this research also concerns on describing about the result or the outcome of the project. This study was designed qualitatively in observing 36 tenth graders and an English teacher of a senior high school in Gresik. The researcher gained the data through observation checklist and field note. The adapted rubric was also used to get the final score to justify the students’ product. The result from teachers’ evaluation showed the teacher already implemented PBL in an appropriate stage. Moreover, among six groups of the students, their projects have different result one another. Only two among six groups that have the result project below the average. It was judged and justified by describing their product of the Illustration video project.Keywords: Speaking Skill, Tourism Department, Project Based Learning, Narrative Text
Improving Speaking Skill of Tourism Vocational High School Students Through Project Based Learning
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPeneliti melakukan penelitian eksperimental kuasi yang melibatkan 64 siswa SMK Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Ada 32 siswa untuk setiap kelompok eksperimen dan kontrol. Pembelajaran berbasis proyek diimplementasikan untuk pengajaran bahasa Inggris dalam kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol diajarkan menggunakan metode konvensional. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah pre-test dan post-test dan proyek adalah video monolog. Skor rata-rata kelompok eksperimen dalam pre-test adalah 66.7188 (SD = 8.19219) dan kelompok kontrol adalah 67.1875 (SD = 9.15260). Nilai Sig.(2-tailed) untuk pre-test adalah 0,830 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test kemampuan berbicara kedua kelompok. Dalam post-test, skor rata-rata dari kelompok eksperimen adalah 75.7813 (SD = 9.84635) dan kelompok kontrol adalah 67.6563 (SD = 11.70776) yang menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mendapat skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Nilai Sig.(2-tailed) untuk post-test 0,004 menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan berbicara siswa yang signifikan dari kedua post-test kedua kelompok.Skor rata-rata dari kelompok eksperimen dalam pre-test adalah 66.7188 (SD = 8.19219) sementara dalam post-test adalah 75.7813 (SD = 9.84635) dan Sig. (2-tailed) dari kedua test adalah .000. Dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis proyek efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa wisata.Kata Kunci: Kemampuan Berbicara, Jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Pembelajaran Berbasis Proyek, Teks Naratif AbstractA quasi experimental research was conducted in this research involving 64 tourism students. There were 32 students for each experimental and control groups. Project based learning was implemented for English teaching in experimental group, while the control group was taught using conventional method. The research instrument of this study was speaking pre-test and post-test and the project was monologue video.The mean score of experimental group in pre-test was 66.7188 (SD = 8.19219) and the control group was 67.1875 (SD = 9.15260). The Sig. (2-tailed) value of pre-test was 0.830 meaning that there is no significant difference between students’ speaking skill in both groups. In post-test, the mean score of experimental group was 75.7813 (SD = 9.84635) and control group was 67.6563 (SD = 11.70776) showing that experimental group scored higher than the control group. The Sig. (2-tailed) value is .004 showing that there is a significant difference of both groups’ post-test. The mean score of experimental group in pre-test was 66.7188 (SD = 8.19219) while in post-test was 75.7813 (SD = 9.84635) and the Sig. (2-tailed) value was .000. In conclusion, implementing project based learning to teach speaking is effective to improve tourism students’ speaking proficiency.Keywords: Speaking Skill, Tourism Department, Project Based Learning, Narrative Text
The Influence of Friendship Bias Toward Peer Assessment in Efl Classroom
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penilaian adalah bagian penting dalam proses belajar mengajar. Salah satu jenis penilaian yang digunakan di kelas adalah penilaian sejawat yang memiliki banyak manfaat. Terlepas dari banyaknya manfaat yang dimiliki, masalah subjektivitas dalam pelaksanaannya meningkat. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui apakah persahabatan antara siswa di kelas dapat memengaruhi bias dalam implementasi penilaian sejawat. Untuk tujuan ini, 59 siswa berpartisipasi dalam proses penilaian sejawat. Mereka dibedakan menjadi kelompok teman dan non-teman berdasarkan hasil sosiogram. Mereka diminta untuk membuat karya tulis dan melakukan penilaian teman sebaya setelah dijelaskan bagaimana cara melakukannya. Kuesioner juga diberikan setelah pelaksanaan penilaian sejawat. Setelah itu, skor karya tulis mereka dibandingkan. Data dianalisis menggunakan t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Hasil kuesioner sesuai dengan hasil ini dimana siswa memiliki kecenderungan bias dalam menilai pekerjaan teman yang dipengaruhi oleh tingkat kedekatan diantara mereka.Kata Kunci: penilaian sejawat, teman, bias antar teman AbstractAssessment is crucial part in the teaching and learning process. One kind of assessment used in the classroom is peer assessment which has many benefits. Despite of its benefits, the issue of subjectivity in the implementation is raised. This study tries to find out whether friendship between students in the classroom may influence bias in peer assessment. To this aim, 59 students were participated in the peer assessment process. They were differentiated into friends and non-friends group based on the sociogram result. They were asked to make a written work and do peer assessments after being explain how to do it. The questionnaire was also given after the implementation of peer assessment. After that, the score of their written work were compared. The data is analyzed using t-test. The result shows that there is a significant difference between both groups. The result of the questionnaire does in line with this result which students have a tendency of being bias in assessing friends’ work which is influenced by their level of intimacy. Keywords: peer assessment, friends, friendship bias.
English Department Students’ Learning Strategies to Overcome Speaking Anxiety
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam mempelajari Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing, siswa harus menguasai 4 keterampilan yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Berbicara dianggap sebagai keterampilan paling penting. Namun, dalam belajar berbicara, siswa dilaporkan memiliki kecemasan dalam bahasa (Tanveer. 2007). Dengan demikian, siswa dilaporkan memiliki strategi belajar untuk mengatasi kecemasan mereka. Penelitian ini menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan berbicara siswa dan strategi belajar mereka untuk mengatasi kecemasan berbicara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam proses pengumpulan data dan menjawab pertanyaan penelitian. Studi ini menemukan bahwa ada beberapa situasi yang mengarah pada kecemasan berbicara siswa seperti prosedur kelas, keyakinan siswa, keyakinan guru, persepsi diri, lingkungan sosial, kesalahan di lingkungan sosial, pemahaman topik, dan perbedaan budaya. Temuan lain dari penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang diterapkan oleh siswa seperti strategi memori, strategi kognitif, strategi kompensasi, strategi metakognitif, strategi afektif, dan strategi sosial.Kata Kunci: Kecemasan Berbicara, Strategi Belajar.AbstractAs learning English as Foreign Language, students have to master 4 skills which are listening, reading, speaking, and writing. Speaking considered being the most important skill among other skills. However, in learning speaking students are reported to have language anxiety. Thus, students are reported to have learning strategies to overcome their anxiety (Marwan , 2007). This study investigates the factors that provoke students’ speaking anxiety and their learning strategies to overcome speaking anxiety. This study used qualitative methods in the process of collecting data and answering research questions. This study found that there are some situations that lead to students’ speaking anxiety such as classroom procedure, student’s beliefs, teacher’s beliefs, self-perceptions, social environment, errors in society, topic understanding, and cultural differences. Another finding of this study is learning strategies applied by students such as memory strategies, cognitive.Keywords: Speaking Anxiety, Learning Strategies.
Improving Vocational High School Students’ Critical Thinking through Graphic Organizer
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemikiran kritis membantu siswa dan mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan serta hasil belajar siswa kelas 10 di SMK Giki 1 Surabaya dalam penggunaan graphic organizer untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam materi teks recount peristiwa bersejarah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi-eksperimental. Data penelitian diperoleh melalui hasil pre-test dan post-test pada pembelajaran teks recount peristiwa bersejarah dengan menggunakan graphic organizer. Sampel penelitian ini diperoleh di kelas X-AK 2. Subjek terdiri dari tiga puluh enam siswa. Analisis instrumen menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Sementara itu, teknik analisis data penelitian menggunakan paired sample t-test, uji hipotesis, dan perhitungan eta-kuadrat. Berdasarkan data pre-test dan post-test, nilai P adalah .000 dan kurang dari .05. itu menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ukuran efek dari penelitian ini adalah .59 yang mengindikasikan efek besar. Berdasarkan data ini, dapat disimpulkan bahwa penyelenggara grafik dalam materi penghitungan sejarah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar terutama dalam pemikiran kritis siswa kelas 10 di SMK Giki 1 Surabaya.Kata Kunci: Pemikiran Kritis, Graphic Organizer, Teks Recount Peristiwa Bersejarah AbstractHaving critical thinking helps in conceptualizing, applying, analyzing, synthesizing, and evaluating information that accumulated from observing, reflecting, and communicating to conduct to further action. This study aims to find out implementation graphic organizer to improve students’ critical thinking in historical recount material. This study focuses toward student learning’s result of 10th graders at SMK Giki 1 Surabaya. This research uses quasi-experimental research design. The research data gained through pre-test and post-test’s result on historical recount learning by using graphic organizer. The sample of this research was obtained at X-AK 2 class. It consist of thirty six students. The instrument analysis used validity and reliability test. Meanwhile, the technique of data analysis research using paired sample t-test, hypothesis test, and eta-squared calculation. Based on pre-test and post-test data, the P value was .000 and less than .05. it showed as a significant difference. The effect size of this research is .59 which indicated large effect. Based on these data, it can be concluded that the graphic organizer in historical recount material have a significant effect on the learning outcomes especially in students’ critical thinking of 10th graders at SMK Giki 1 Surabaya.Keywords: Critical Thinking, Graphic Organizer, Historical Recount Text.
Teacher’s Questioning Strategies and Students’ Responses in Classroom Interaction
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMempertanyakan sejauh ini merupakan bentuk komunikasi yang paling umum digunakan dalam pengajaran di kelas. Guru menggunakan strategi tanya jawab untuk meninjau, memeriksa pembelajaran, dan menantang siswa untuk berpikir secara kritis. Beberapa peneliti telah menghabiskan bertahun-tahun dalam penelitian mereka untuk mengkategorikan pertanyaan guru sesuai dengan tipenya. Bagaimanapun juga, penelitian ini menggunakan jenis pertanyaan berdasarkan kategorisasi oleh Blosser (1975) dan Cunningham (1987) sebagai model. Mengetahui pentingnya pertanyaan guru di dalam kelas, ini membuat banyak peneliti tertarik untuk mengambil penelitian yang lebih dalam untuk mengungkap rahasia pertanyaan guru. Namun, melihat dari banyak penelitian yang telah dilakukan, sangat sedikit dari mereka yang membahas tentang tanggapan yang diberikan siswa terhadap pertanyaan guru. Padahal tanggapan siswa juga merupakan aspek penting dalam membuat pertanyaan yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap rahasia pertanyaan guru dan tanggapan siswa. Selanjutnya, subjek penelitian ini adalah guru Bahasa Inggris dan siswa sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dimana data diperoleh dengan mengobservasi dan mewawancarai subjek. Observasi dilakukan dalam dua kelas yang berbeda tetapi masih di tingkat yang sama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru menggunakan semua jenis pertanyaan berdasarkan model Blosser (1975) dan Cunningham (1987) dalam proses belajar mengajar di dua kelas yang berbeda. Meski begitu, guru kebanyakan menggunakan structuring question dan factual recall question.Kata Kunci: Strategi bertanya, Tanggapan siswa.AbstractQuestioning is by far the most common form of communication used in classroom teaching. Teachers use question and answer strategies to review, examine learning, and challenge students to think critically. Some researchers have already spent years in their research to categorize teacher questions according to their type. However, this study used the types of questions based on the categorization by Blosser (1975) and Cunningham (1987) as the model. Knowing the importance of teacher questions in classes, this makes many researchers interested in taking deeper research to uncover the secrets of teacher questions. However, seeing from the many studies that have been done, very few of them are discussing about the responses that students give to the teachers questions. Even though student responses are also important aspect in making good question. Hence, this research was done to uncover the secrets of teacher’s questions and student’s responses. Furthermore, the subject of this research were the English teacher and the students of senior high school. This research applied qualitative design in which the datas were gained by observing and interviewing the subject. The observation had done in two different classes but still in the same grade. The results of this research showed that the teacher used all types of questions based on Blosser (1975) and Cunningham’s (1987) model in the teaching learning process in two different classes. Even so, the teacher mostly used structuring question and factual recall question.Keywords: Questioning strategies, Students’ responses.
English Supplementary Materials Oriented to Higher Order Thinking for Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBerdasarkan kurikulum 2013, keterampilan berfikir tingkat tinggi adalah salah satu poin penting yang perlu dimasukkan dalam proses pembelajaran serta dalam rencana pengajaran dan materi. Materi bahasa Inggris yang ada untuk kelas sepuluh sekolah menengah mengandung sedikit rendah dari keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang materi yang tepat untuk sekolah menengah atas yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian dan studi dengan 72 siswa kelas sepuluh SMA di Surabaya dan dua guru bahasa Inggris sebagai sumber informasi tambahan dan resensi sebagai peserta. Data diperoleh melalui analisis buku teks, kuesioner, dan wawancara untuk mendapatkan analisis kebutuhan. Selain itu, rubrik evaluasi materi digunakan untuk mendapatkan skor akhir dari reviewer terhadap materi yang dikembangkan. Hasil evaluasi dari guru menunjukkan bahwa materi yang dikembangkan dapat dikategorikan sangat bagus. Para guru memberikan respon positif dan setuju terhadap pengembangan materi tambahan untuk sekolah menengah atas yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Di masa depan, peneliti berharap bahwa materi tambahan dapat diimplementasikan di kelas bahasa Inggris di sekolah menengah atas dan dikembangkan dengan fokus yang berbeda.Kata Kunci: Materi Tambahan Bahasa Inggris, Kemampuan Berfikir Tingkat TinggiAbstractBased on the 2013 curriculum, high order thinking is one of the important points that need to be included in the learning process as well as in the teaching plan and material. The existing English materials for tenth grade of senior high school contain lower more than higher order thinking skill. This study aims to design the appropriate materials for senior high school oriented to higher order thinking skill. This study was a research and design study with 72 tenth graders of a senior high school in Surabaya and two of the English teachers as the source of supplementary information and reviewer as the participants. The data were gained through textbook analysis, questionnaire, and interview to get the need analysis. Besides, the materials evaluation rubric used to get the final score from the reviewers towards the developed materials. The result from teachers’ evaluation showed that the developed materials were categorized as very good. The teachers responded positively and agreed towards the development of the supplementary materials for senior high school orienting to higher order thinking skill. In the future, the researcher hopes that the supplementary materials can be implemented in English class in senior high school and developed with different focus. Keywords: English Supplementary Materials, Higher Order Thinking Skill
Investigating the Teaching of Plural Ending Sounds Pronunciation in Rural Junior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelafalan, sub-keterampilan dalam bahasa Inggris, merupakan persyaratan dasar bagi peserta didik yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi fungsional mereka dalam bahasa Inggris. Sub-keterampilan ini kurang mendapat perhatian dari guru bahasa Inggris karena tidak banyak dari mereka memiliki panduan yang jelas untuk memungkinkan siswa berbicara bahasa Inggris dengan baik menggunakan pengucapan yang baik. Untuk meningkatkan pelafalan siswa terutama dalam mengajar Plural Ending Sounds, para guru perlu memiliki berbagai pengajaran mengajar. Teknik yang digunakan para guru adalah; melatih, mengulangi, membaca dengan suara keras, dll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik pengajaran pengucapan yang digunakan guru dalam mengajar siswa pedesaan dan untuk mendapat hasil yang diperoleh para siswa setelah mendapat pengajarannya. Peneliti menggambarkan penelitian dalam bentuk penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan beberapa observasi di kelas secara langsung, meminta siswauntuk membaca teks yang diberikan secara nyaring, dan mewawancarai guru dan siswa. Dapat disimpulkan dari penelitian bahwa belajar Plural Ending Sounds sulit untuk beberapa alasan. Baik guru dan siswa memiliki masalah masing masing dengan pelafalan bahasa Inggris. Ini dapat dibuktikan dari hasil siswa dalam membaca bacaan dengan keras yang menunjukkan beberapa skor rendah dan respons negatif mengenai pelafalan dari hasil wawancara.Kata Kunci: Teknik Pengajaran Pelafalan, Suara Akhir Jamak AbstractPronunciation, an English sub-skill, is a basic requirement for learners who want to improve their functional communicability in English. This sub-skill has less attention from English teachers since not many of them have clear guidelines to enable the students to speak English well using good pronunciation. In order to improve the students’ pronunciation especially in teaching Plural Ending Sounds, teachers need to have various teaching techniques. The techniques that the teachers use are; drilling, repeating, reading aloud and etc. The objective of the study is to find out the pronunciation teaching technique that the teacher use in teaching rural students and the result. The researcher describes the study in qualitative research. In collecting the data, the research do some observations in classroom directly, get the students result in pronunciation reading aloud task, and interview both the teacher and the students. It is concluded from the research that learning Plural Ending Sounds is difficult for some reasons. Both the teacher and the students have problem dealing with pronunciation. It proves from the students’ result in reading aloud task that shows some low score and negative responds regarding pronunciation from the interview result.Keywords: Pronunciation Teaching Technique, Plural Ending Sounds.
Investigating the Effectiveness of English Speaking Community (ESC) in Reducing Students’ Speaking Anxiety
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecemasan dalam berbicara masih saja menjadi salah satu masalah besar bagi mereka yang mempelajari bahasa, terutama bahasa inggris. Kecemasan berbicara ini tidak hanya terjadi di lingkungan murid sekolah, tetapi juga terjadi di lingkungan jurusan Bahasa Inggris yang khususnya mereka terbiasa dengan lingkungan/suasana dalam menggunakan bahasa inggris. Untuk membantu para mahasiswa membiasakan diri berbicara bahasa inggris, pihak Jurusan Bahasa Inggris mendirikansebuah program yang diberi nama English Speaking Community (ESC). Program ini bertujuan agar mahasiswa bisa memberikan pendapat mereka dengan menggunakan bahasa inggris secara lisan. Program ini hanya tersedia di UNESA, maka dari itu peneliti fokus meneliti program ini dengan kaitannya bersama kecemasan dalam berbicara. Tujuan dari program ini adalah untuk mencari tahu apakah ESC mengurangi kecemasan dalam berbicaranya siswa dan cara/teknis ESC dalam mengurangi kecemasan dalam berbicara. Subjek dari penelitian ini adalah 100 mahasiswa dari Pendidikan Bahasa Inggris tahun angkatan 2014-2017 untuk mengisi kuisioner dan 9 mahasiswa terpilih dari kuisioner untuk menjadi partisipan di FGD. Menurut hasil data, ditemukan bahwa ESC mengurangi kecemasan mahasiswa dalam berbicara karena hanya ada teman sesama mahasiswanya dan tidak ada dosen. Lalu, peneliti menemukan empat fenomena dari FGD. Fenomena itu adalah ditemukannya empat karakteristik mahasiswa dalam sebuah forum seperti ESC dalam usaha mengurangi kecemasan dalam berbicara yang mereka alami. Kata Kunci: berbicara, ESC, kecemasan Abstract Speaking anxiety is still becoming a complex problem for language learners, especially in learning English. The speaking anxiety does not only happen in scholar’s situation, but also in English Department students that get the English environment every day in the college. To assist English major students in the university, a program called English Speaking Community (ESC) is launched. The program demands the students to give opinion by using English orally. Because this program only exist in UNESA, therefore the researcher led it becoming the focus for this study. The objective of this study is for finding out whether ESC reduces students’ speaking anxiety or not and the way ESC reduces students’ speaking anxiety. The researcher took 100 English Education program students from the year 2014-2017 to become the respondents for the questionnaire. Moreover, the researcher chose nine who had fulfilled the questionnaire to become the FGD participants. According to the results, it is found that ESC reduces students speaking anxiety because in ESC, there are only students without any lecturers. Also, there are four phenomenon revealed from FGD. It is found that there are four characteristic about how students reduce their speaking anxiety while doing a discussion or ESC meetings. Keywords: speaking, ESC, anxiety
A Case Study of The Pronunciation Practice in A Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPengucapan atau pelafalan telah menerima kurang atensi dalam Pengajaran Bahasa Inggris. Saat ini, jarang ditemukan seorang guru bahasa Inggris yang masih memberikan latihan pengucapan terutama di tingkat sekolah menengah atas. Meskipun kurikulum 2013 menyatakan bahwa komponen bahasa Inggris harus diintegrasikan dengan keterampilan bahasa Inggris lainnya, komponen kecil ini tidak boleh diabaikan karena jika peserta didik tidak dapat bersuara atau berbicara bahasa Inggris dengan jelas dan benar, hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau komunikasi tidak akan pernah terjadi. Studi pendahuluan telah dilakukan di sebuah sekolah menengah atas di Mojokerto. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya satu guru bahasa Inggris yang memberikan latihan pelafalan kepada muridnya. Dengan demikian, sebuah studi kasus dilakukan untuk menyelidiki guru bahasa Inggris yang memberikan praktik pelafalan siswa-siswanya dalam hal jenis latihan apa yang diberikan, kapan latihan itu diberikan, dan bagaimana latihan itu disampaikan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dimana data diperoleh melalui pengamatan langsung dari enam kelas. Juga, pengamatan dilakukan pada tiga materi (Pengumuman, Narasi, dan Penghargaan Lagu) dalam enam minggu. Temuan menunjukkan bahwa guru menerapkan metode yang sama di semua kelas. Latihan pengucapan yang diberikan oleh guru adalah latihan kata-kata yang dilakukan di hampir semua pertemuan. Namun, latihan itu tidak dilakukan pada akhir pelajaran. Selain itu, teknik yang digunakan adalah teknik pengulangan yang mengikuti prosedur dan menggunakan media untuk mendukung aktivitas latihan pengucapan.Kata Kunci: pengucapan, praktik pengucapan, latihan pengucapan. AbstractPronunciation has received less attention in English Language Teaching. Nowadays, it was rare to find an English teacher who still provided pronunciation practice especially in senior high school level. Although 2013 curriculum stated that English components should be integrated with other English skills, this tiny component should not be neglected because if learners could not sound or speak English clearly and correctly, either this can lead to a misunderstanding or communication would never happen. A preliminary study has been conducted in a senior high school in Mojokerto. The result showed that only one English teacher provided pronunciation practice to his student. Thus, a case study was conducted to investigate the English teacher who provided his students pronunciation practice in terms of the kind of the practice, when the practice was given, and how it was delivered. The methods used was qualitative method in which the data was obtained through direct observation from six classes. Also, the observation was done at three materials (Announcement, Narrative, and Song Appreciation) in six weeks. The findings showed that the teacher applied the same method in all classes. The pronunciation practice given by the teacher was words practice which was done in almost all meetings. However, the practice was not done at the end of the lesson. Besides, the technique used was drilling technique that following the procedures and using media to support the pronunciation practice activity.Keywords: pronunciation, pronunciation teaching, pronunciation practice