cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
SELF-DETERMINATION OF GATSBY’S CHARACTER IN F.S FITZGERALD’S THE GREAT GATSBY INES INDIRA PRAMESWARI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9034

Abstract

Abstrak Studi ini mengacu pada penggambaran penentuan nasib sendiri yang dilakukan oleh karakter utama dan bagaimana tekadnya memberikan tingkatan dalam keberadaannya. Penentuan diri digunakan sebagai cara yg muncul dari rasa ketiadaan dalam menerima kenyataan esensi untuk menjadi sesuatu dan ada dalam kehidupan. Masalah pertama tentang bagaimana Jay Gatsby menentukan nasibnya dirinya menjadi ada. Yang kedua memaparkan bagaimana keberadaan Gatsby di dalam masyarakat. Untuk menjawab permasalahan, penelitian ini menggunakan teori eksistensialisme oleh Jean Paul Satre, terutama dalam bukunya yang berjudul Being And Nothingness, dan Humanism, dan penulis buku The Great Gatsby, Francis Scott Fitzgerald, yang mengacu pada keberadaan laki-laki dalam masyarakatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan nasib sendiri digambarkan ketika Gatsby bersikeras untuk mempertahankan pemikirannya, perasaan dan perilaku merupakan tindak dari motivasi bawah sadar. Dia menentukan dirinya untuk menjadi seorang penulis untuk dirinya sendiri. Kemudian, berdasarkan Sartre tentang konsep kesadaran, kesepian Gatsby telah membawa dia ke dalam kondisi penderitaan, kesedihan, dan keputus asaan. Kondisi tersebut membuat kekayaan dan cinta menjadi keputusan dalam penentuan nasib di kehidupan Gatsby. Tapi, orang-orang di sekitar Gatsby berpikir bahwa dia tidak mungkin memiliki nasib yang sama, kepekaan, dan rasa seperti kekayaan yang mereka miliki. Kesimpulan di atas menyetujui bahwa konsep Sartre eksistensialisme dalam penentuan nasib sendiri sangat mendukung bahwa karakter memiliki keinginan yang kuat untuk bebas untuk menentukan cara hidupnya dimanapun dan kapanpun dia berada. Kata kunci: Penentuan diri, ekistensialisme, Sartre, The Great Gatsby Abstract This study focuses on depicting self-determination performed by main character’s act and how his self-determination gives raise to his existence. The self determination is used as the way of his nothingness in accepting the truth of his essence to be something and exist in life. The first problem talks about how Jay Gatsby determines himself to be exist. The second reveals the what society’s opinion on Gatsby’s existence. To answer the problems, this study uses the theory of existentialism by Jean Paul Satre, especially in his book entitled Being And Nothingness, and Humanism. And supported by Francis Scott Fitzgerald, which focus on men’s existence in his society. The result of the study shows that self determination is depicted when Gatsby insists on determining his self to maintain his thought, feeling and behavior entirely by unconscious motivations. He determines himself to be an author for himself. Then, based on Sartre term of consciousness, Gatsby’s loneliness brings him to the condition of anguish, forlornness, and despair. Those conditions make the wealth and love become decision in Gatsby life. But, people around Gatsby think that he cannot possibly have the same refinement, sensibility, and taste like wealth they have. The above conclusion approves that Sartre’s concept of existentialism of determination strongly supports that character possesses a strong desire to be free to determine the way of his life wherever and whenever he will be. Key words: Self-determination, existentialism, Sartre, the great Gatsby.
SNAPE’S AMBIGUOUS BEHAVIORS IN HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS ERIK TRICAHYO SYAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9035

Abstract

Abstrak Snape sebagai salah satu minor karakter di dalam karya fiksi dari penulis J.K Rowling, Harry Potter And The Deathly Hallows, digambarkan sebagai salah satu karakter protagonist dan antagonis dalam satu cerita. Selama dalam perkembangan cerita, Snape mencerminkan sikap loyalitas ke kedua belah, Dumbledore dan Voldemort. Kedua belah pihak tersebut sangat meyakini jika Snape sangat loyal kepada mereka, sehingga memungkinkan Snape sebagai Double Agent. Meskipun Snape berpihak kepada Dombledore dan Voldemort, Snape sebenarnya tidak memilih untuk berpihak kepada pihak tertentu. Snape satu-satunya karakter yang dapat dikatakan sebagai Hero dan Anti-Hero. Sikap inilah dalam kajian behaviorisme disebut ambiguous behavior. Factor-faktor yang mempengaruhi perilaku Snape tersebut tidak terlepas dari pengalaman masa lalu. Dari sudut pandang behaviorisme, kasus Snape tersebut disebabkan oleh factor personal dan factor lingkungan. Dari factor personal, Snape memiliki sikap jahat terutama kepada yang menyakitinya. Ini disebabkan karena masa kecilnya dimana Snape selalu menjadi korban kejahatan dari temannya. Kata Kunci: Anti-Hero, perilaku, sikap, lingkungan, personal, hero, perngalaman masa lalu. Abstract Snape as one minor character in the work Harry Potter And The Deathly Hallows from author J.K Rowling showing up both as good and evil role. Snape's actions throughout the series have shown service to each of the opposing sides. Both Dumbledore and Voldemort believe Snape is only loyal to them, allowing him to work as a double agent. Not only is it unknown until very near the end of the final book which side he is really on, but there is no concrete evidence until then that he has actually chosen one. He has made strong claims, which Dumbledore trusts, to oppose Lord Voldemort's cruelty, but hatred exists between himself and many Order of the Phoenix members. Snape exhibits both good and evil qualities, making him the series' only anti-hero. This kind of behavior is called ambiguous behaviors in behaviorism scope. The factors behind this phenomenon may vary depends on his or her experience. But in Snape case, personal and environmental factors are the reason behind Snape’s ambiguous behaviors. Snape possesses a nasty demeanour, and is especially retaliatory to those who hurt him. However, Snape's seeming cruelty may have resulted from a terrible childhood and early youth. When Harry delved into Snape's early memories, there was nothing good to be seen, only an abusive father, a victimized mother, derisive classmates, and a cruel James Potter and Sirius Black. While the series does little to emphasize Snape's good qualities, it is implied, at least until the end of Harry Potter and the Half-Blood Prince, that he would protect Order of the Phoenix members with his life. He has saved Harry's life on more than one occasion, though it might take a particularly observant reader to see that. Though he treats students badly and is seemingly indifferent to their feelings or situations, he wants them to learn valuable lessons. Keywords:Attitude, anti-hero, behavior, environment, hero, past-experience, and personality
SYMBOLISM IN JALAL AL-DIN RUMI'S THE BOOK OF LOVE, CHAPTER NINE: ABSENCE MUHAMMAD FARID A
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9192

Abstract

Abstrak Simbol-simbol religius dalam puisi yang ditulis oleh seorang penyair dengan latar belakang yang religius dapat menimbulkan banyak penafsiran dengan didasarkan pada setiap sudut pandang dan pemahaman para pembaca. Puisi religius mampu memberikan inspirasi dan motivasi terhadap para pembacanya melalui pesan makna puisi yang direpresentasikan oleh simbol religius dalam puisi tersebut. Simbolisme bisa membantu para pembaca untuk memahami makana dan pesan dibalik simbol-simbol dalam puisi dengan pemahaman yang lebih mendalam melalui metode tertentu dan pembelajaran yang komprehensif untuk menganalisis simbol. Teori religiusitas akan mendukung simbolisme sebagai teori utama dengan mengelompokkan serta mengkonfirmasi aspek religius dari simbol-simbol yang berhubungan dengan pesan religius mengenai ajaran kepercayaan religious sebagai nasehat atau pengingat, motivasi dan inspirasi religius bagi para pembaca. Dengan adanya topik tertentu dalam puisi religious, simbolisme akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep yang diangkat dalam puisi-puisi religious yang direpresentasikan dengan simbol-simbolnya. Jalal al-Din Rumi yang dikenal sebagai seorang penyair yang dapat menginspirasi banyak orang dari kalangannya sebagai Sufi baik kalangan di luar Sufi seperti Muslim pada umumnya, non-Muslim serta kalangan orang awam melalui puisi-puisi religiusnya termasuk lima puisi religious dalam skripsi ini yang diambil dari kumpulan puisinya yang berjudul The Book of Love, Chapter Nine dengan topik Absence. Dan metode-metode diatas akan digunakan dalam skripsi ini untuk menjawab dua rumusan masalah yakni teori simbolisme dan religiusitas untuk mengungkapkan makna puisi-puisi di atas melalui simbol-simbolnya dengan menghubungkan topic dengan puisi-puisi di dalamnya. Analisis dalam skripsi ini paling banyak didukung oleh teori simbolisme dari seorang filsuf Amerika bernama Charles Sanders Pierce dalam teorinya mengenai Typology of Signs di mana salah satunya adalah simbolisme berkenaan dengan Symbolic signs. Dan teori religiusitas sebagai pendukung diambil dari dimensi religiusitas dengan empat inti dimensi dari pembelajaran konvensional dan dimensi religiusitas berdasarkan bentuk perkembangan dalam Islam oleh Dr. Muhammad Syukri Saleh. Kemudian, hasil dan simpulan dari analisis skripsi ini menggambarkan bahwa pesan makna dalam puisi-puisi di atas direpresentasikan oleh simbol-simbolnya dapat diperoleh melalui simbolisme, religiusitas dan hubungan dengan topic. Kata Kunci: Absen, Puisi, Religiusitas, Simbol, Simbolisme. Abstract Religious symbols in poem of a poet with a religious background can provide various interpretations in different points of view to the readers according to their understanding. Religious poems may give inspiration and motivation toward the readers with the message represented by the symbols. Symbolism can help the readers to understand the significance of the symbols representing the messages of the poem with further understanding by certain methodology and comprehensive study to analyze the symbols. Religiosity study will support the symbolism to classify and confirm the religious aspects of the symbols which related to the message about religious belief as reminder, motivation and inspiration for the readers. With a particular topic, the symbolism will have better understanding about the concept brought in the poems represented by the religious symbols. Jalal al-Din Rumi who known as a poet has inspired many people from his Sufi community, others Muslim and non-Muslim until common people through his religious poems include the five poems in this study which taken from The Book of Love, Chapter Nine: Absence. And these methods will be used in the study to answer the two statements of the problems regarding the symbolism and religiosity used to reveal the meaning of the poem through the symbols and the relation between the topic and the poems by connecting the symbols. The analysis of the study mostly supported by the symbolism of Charles Sanders Peirce in his theory about typology of sign which one them is the theory of symbolism regarding symbolic signs. And the support of the religiosity study is taken from the dimensions of religiosity in conventional study with four core or main things and the dimensions of religiosity based on Islamic development form which proposed Dr. Muhammad Syukri Saleh. Then, the result and the conclusion of this study describe that the messages regarding the meaning of the poems represented by the symbols are obtained through the symbolism, religiosity and the relation with the topic. Key Words: Absence, Poem, Religiosity, Symbol, Symbolism.
ERIKA’S AMBIVALENCE IN ELFRIEDE JELINEK’S THE PIANO TEACHER BIMA AGUSTINA R
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9217

Abstract

Abstrak Studi ini membahas salah satu novel yang ditulis oleh Eflriede Jelinek yang karenanya dianugrahi Nobel sastra pada tahun 2004, The Piano Teacher. Studi kami pada novel ini akan membidik Ambivalensi pada subjek yang mengalami Ambivalensi yang muncul dalam teks, secara khusus, Erika. Study ini berupaya untuk memahami terbentuknya ambivalensi pada Erika dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan Erika, seorang tokoh utama dalam The Piano Teacher. Ambivalensi yang datang dalam Erika disebabkan oleh dorongan alami dan lingkugan sosialnya saling bertabrakan. Ikatan Erika dengan ibunya, pengalamannya atas penolakan, dan dorongan lahiriah Erika yang bertemu dengan larangan eksternal, adalah prediktor terjadinya ambivalensi pada Erika. Ambivalensi dapat menuntun pada bentuk parah dari penyakit syaraf, itu membuat Erika mengembangkan perilaku kasar dan perilaku penyimpangan seksual atau paraphilia seperti sadomasokisme dan fetisisme. Hal ini juga berpengaruh pada hubungan romantis Erika. Ambivalensi membuat Erika tidak memiliki kemampuan untuk mencintai dan dicintai. Ambivalensi Erika membuatnya memiliki tingkat kepuasan yang rendah dalam hubungannya, membuat dia kehilangan dirinya dan memicu terjadinya upaya bunuh diri Erika. Kata Kunci: Ambivalensi, seksualitas, psykoanalisis, paraphilia. Abstract This study discusses one of novels written by Eflriede Jelinek by which enthroned her Nobel Prize in literature in 2004, The Piano Teacher. Our study of the novel will take particular interest in Ambivalence in the subject who experiences Ambivalence that appears in the text, to be specific, Erika. This attempts to understand the production of Erika’s Ambivalence and how it affects Erika’s, the main character in The Piano Teacher, life. Ambivalence that comes within Erika is caused by the drive inside her conflicts with the society. The relationship she has with her mother, her experience of rejection, and her desires that meets with external prohibition, are the predictors of her ambivalence occurrence. Ambivalence may lead to severe form of neurotic illness, it makes Erika develops abusive behaviour and abnormal sexual behaviour or paraphilia such as sadomasochism and fetishism. It also affects Erika’s romantic relationship. Ambivalence makes Erika lack ability to love and to be loved. Erika’s ambivalence makes her has low relationship satisfaction, makes her lost herself and triggers her to get suicidal attempt. Keywords: Ambivalence, sexuality, psychoanalysis, paraphilia.
MEANING OF LIFE IN SAMUEL BECKETT’S WAITING FOR GODOT ZAENAL MAKHFUDDIN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9263

Abstract

Abstrak Karya ini berpusat untuk menganalisa arti hidup para pemeran-pemeran utama pada drama Waiting for Godotkarya Samuel Beckett. Dimana permasalahan-permasalahan yang didiskusikan dalam karya ini berhubungan dengan kehidupan Vladimir dan Estragon selaku pemeran utama dalam drama tersebut serta apa saja pengaruh dari kehampaan terhadap kehidupan mereka. Untuk menganalisa hal tersebut karya ini menerapkan teori absurditas yang digagas oleh Albert Camus dalam tulisanya yang berjudul The Myth of Sisyphus. Drama tersebut memerankan kehidupan Vladimir dan Estragon yang mana mereka tidak mempunyai tujuan dalam menjalani kehidupan, mereka hanya menjalani tingkah laku yang sama setiap harinya sehingga membuat hidup mereka tidak berharga. Gambaran ketidak berartian hidup Vladimir dan Estragon ditandai dengan aktifitas-aktifitas pandir dan lucu mereka seperti: Bersusah paya dalam melepas sepatu kemudian mengintip kedalamya, menggoyang-goyangkanya berhrap ada sesuatu yang yang keluar dari dalam sepatu tersebut. Melepas topi mengetuk-ketuk bagian atasnya seperti dalam sebuah sirkus, dn juga ditandai oleh percakapan-percakapan mereka yang menunjukan ketidak berartian dalam kehidupan mereka. Sementara itu kehampaan dan ketidak berartian tersebut mempengaruhi kehidupan mereka, mereka menjadi frustasi dalam menjalani hidup, menderita bahkan mencoba untuk mengahiri hidup, dan juga membawa perpecahan diantara mereka. Kata Kunci: absurditas, kehampaan, ketidak berartian hidup. Abstract This study focuses on analyzing the meaning of life of the main characters in Samuel Becket’s Witing for Godot. The problems discussed in this study are related to the life of Vladimir and Estragon as the main characters and also the impacts of nothingness to their life. To analyze it, this study applies the theory of Absurdity that taken from Albert Camus’ The Myth of Sisyphus. This play portrays Vladimir and Estragon’s life that they have no purpose in leading their life, they just lead their same behavior everyday that make their life worth living. The depiction of Vladimir and Estragon’s maningless life is indicated by their silly activities like; taking off the shoes then looking inside, shake it hoping that something will come out. Taking off the hat and knocking the top like a circus, and also indicated by their communication that showing the meaninglessness of their life. Meanwhile, the nothingness and meaninglessness influences them to frustration in leading their life, sufferance even trying to hang themselves, which brings disunity in their relationship. Keywords: absurdity, nothingness, meaninglessness life.
THE INFLUENCE OF SYMBOLISM OF ANIMALS TO A PERSON IN ALICE IN WONDERLAND NOVEL PHILOSA KASYUTIANTARA D
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2014): Vol.2 No.2 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v2i2.9507

Abstract

Abstrak Simbolisme yang dibahas di Alice in wonderland adalah tentang pengaruh karakteristik hewan pada seseorang. Jenis penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan karakteristik seorang gadis kecil yang dipengaruhi oleh karakter hewan dengan berbaur selama beberapa waktu. Penelitian ini menggunakan teori simbolisme. Pada akhir penelitian itu ditemukan bahwa Alice peran utama cerita dipengaruhi oleh lingkungannya. Cara untuk merespon stimulus dipengaruhi oleh pikiran hewan dengan dua cara positif dan negatif. Kata Kunci: Simbolisme, Karakteristik Abstract Symbolism was discussed in Alice in wonderland was about the influence of the animals’ characteristic on a person. This kind of research was to find out the development of a little girl’s characteristic influenced by the animals’ characteristic by mingling for some time. This research was using the theory of symbolism. In the end of the research was found that Alice the main role of the story was influenced by her environment. Her way to respond the stimulus was influenced by the animals’ thought in two manners positive and negative. Keywords: Symbolism, characteristic
HANDMAID AS THE OBJECT OF SEXISM IN GILEAD SOCIETY: A FEMINIST ANALYSIS IN MARGARET ATWOOD’S THE HANDMAID’S TALE ANDRA SEPTIAWATI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2014): Vol. 2 No.3 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.9839

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tindakan seksisme dalam novel Margaret Atwood The Handmaid’s Tale melalui karakter budak perempuan. Fokus tujuannya adalah untuk menemukan bagaimana budak-budak perempuan telah menjadi objek dari seksisme dalam masyarakat Gilead. Untuk menganalisis, penelitian ini menggunakan teori Kate Millet tentang politik seksual. Analisis ini menyatakan bahwa ada tiga cara Gilead menindas budak-budak perempuan. Pertama dengan mengambil alih kekayaan, uang dan pekerjaan mereka. Yang kedua setelah mereka kehilangan kekuasaan mereka, Gilead mengambil kendali atas tubuh mereka serta mengeksploitasinya, dan akhirnya membatasi aktivitas mereka sehingga mereka hanya dapat berperan dalam lingkungan domestiknya sebagai perempuan. Cara ini diimplementasikan pada sistem, dengan menggunakan pendekatan agama, sosiologis dan psikologis dan ekonomi sebagai alatnya. Setiap karakter budak perempuan menunjukkan perlawanan atas penindasan. Singkatnya, seksisme mampu menindas perempuan dalam banyak hal ideologi dan dapat diinternalisasikan serta dilembagakan melalui berbagai aspek kehidupan dan ditetapkan sebagai sistem yang mengatur kehidupan perempuan secara umum. Kata Kunci: sexism, sexual politics, feminism, women oppression, dan gender. Abstract This study aims to analyze the operation of sexism in Margaret Atwood’s novel The Handmaid’s Tale through the handmaid’s characters. The focus of the objective is to find how handmaid has become the object of sexism in Gilead society. In order to analyze the text, this study uses Kate Millet’s theory on sexual politics. The analysis finds out that there are three ways Gilead oppressed the handmaids. Firstly by taking over their properties, money and occupations, and secondly after they lose their power, Gilead takes control over their bodies and exploiting it, and finally is limiting their activities so they can be kept on domestic roles. These ways are implemented on system, by using religion, sociological and psychological approach and economic as the vehicle. Every handmaid character shows resistance upon the oppression. To sum up, sexism is able to oppress women in many ways the ideology can be internalized and institutionalized through many aspects of life and set as a system that governs women’s life a general. Keywords: sexism, sexual politics, feminism, women oppression, and gender.
THE INFLUENCE OF SYMBOLISM OF ANIMALS TO A PERSON IN ALICE IN WONDERLAND NOVEL PHILOSA KASYUTIANTARA D
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2014): Vol. 2 No.3 2014
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.9840

Abstract

Abstrak Simbolisme yang dibahas di Alice in wonderland adalah tentang pengaruh karakteristik hewan pada seseorang. Jenis penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan karakteristik seorang gadis kecil yang dipengaruhi oleh karakter hewan dengan berbaur selama beberapa waktu. Penelitian ini menggunakan teori simbolisme. Pada akhir penelitian itu ditemukan bahwa Alice peran utama cerita dipengaruhi oleh lingkungannya. Cara untuk merespon stimulus dipengaruhi oleh pikiran hewan dengan dua cara positif dan negatif. Kata Kunci: Simbolisme, Karakteristik Abstract Symbolism was discussed in Alice in wonderland was about the influence of the animals’ characteristic on a person. This kind of research was to find out the development of a little girl’s characteristic influenced by the animals’ characteristic by mingling for some time. This research was using the theory of symbolism. In the end of the research was found that Alice the main role of the story was influenced by her environment. Her way to respond the stimulus was influenced by the animals’ thought in two manners positive and negative. Keywords: Symbolism, characteristic
WOMEN AND POLITICS IN MICHELLE MORAN’S CLEOPATRA’S DAUGHTER RAHMANIA ISWIN CINDYTHYA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10243

Abstract

Abstrak Skripsi ini fokus terhadap peran wanita dalam politik di Mesir dan Romawi kuno yang di tampilkan oleh tiga karakter dalam novel. Setiap karakter memiliki persamaan dan perbedaan peran dalam berpolitik. Persamaan antara Selene dan Kleopatra VII ialah sukses mencapai peran strategis dalam politik sebagai pemimpin di kerajaan mereka masing-masing. Meskipun demikian, perbedaan masyarakat dimana mereka hidup mempengaruhi kesuksesan mereka dalam mencapai tahta. Sebaliknya, peran Julia adalah gambaran sebagai wanita pada umumnya yang hidup pada era tersebut. Oleh karena itu, dalam studi ini analisis didasarkan pada dua rumusan masalah: (1) Bagaimana Cleopatra menjalani dua fungsinya sekaligus sebagai seorang pemimpin di negerinya dan sebagai seorang istri untuk keluarganya ? (2) apa saja perbedaan antara Cleopatra VII dan Cleopatra Selene dalam berpolitik terkait dengan perbedaan kehidupan masyarakatnya? Analisis dilakukan dengan menggunakan teori Liberal Feminism yang menganalisi peran wanita dalam politik dan hak- hak dasar lainnya. Selain itu, pendekatan Feminism juga digunakan untuk mendukung dan menganalisis kondisi wanita di dalam masyarakat. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa wanita mampu untuk menjadi adil menjalankan kedua fungsinya sekaligus. Ini dibuktikan oleh Kleopatra yang mampu memimpin negerinya menuju kejayaan, dan disaat yang sama dia mampu mengatur kelurganya dengan baik. Pada analysis ini juga membuktikan bahwa Kleopatra lebih leluasa dalam berpolitik daripada putrinya, Selene. Hal ini terjadi karena masyarakat dimana Kleopatra hidup, masyarakat Mesir adalah masyarakat yang menghormati wanita dan memperlakukan mereka sejajar. Sebaliknya, lingkungan dimana Selene hidup adalah masyarakat Roma yang memperlakukan wanita sebagai individu yang lebih rendah dan sama sekali tidak dihormati sehingga wanita tidak memiliki kesempatan untuk berpolitik. Kata kunci: Liberal Feminism, peran wanita dalam politik, Mesir dan Roma kuno Abstract Key words: Liberal Feminism, Women’s role in politics, ancient Egypt and Rome. This thesis is focused on the women’s role in politics in ancient Egypt and Rome that are performed by three characters in the novel. Each character has similarity and different experiences roles in politics. The similarity between Selene and Cleopatra VII is succeeds to reach the important role in politics as the ruler in each kingdom. Nevertheless, different societies where both live influence their success in reaching the throne. In contrary, Julia portrays the common roles of women in that era. Based on these conditions, the analysis of this thesis is grounded on these two main questions: (1) how does Cleopatra cover her function both as the leader in her country and as a housewife for her family? And (2) what are the differences between Cleopatra VII and Cleopatra Selene in their political roles within different society? The analysis is done using Liberal Feminism theory which analyzes the women’s role in politics and other fundamental rights. Besides, the feminism approach supports to analyze the women condition in society. The result of the analysis shows that women are able to be equal in both lives. It is proved by Cleopatra who is able to lead the country into the victory, and at the same time she is able to manage the family well. The analysis also reveals whether Cleopatra has more freedom to play her role in politics rather than her daughter Selene. This happens because the society where Cleopatra lives, Egypt is a society that tends to put respect more on women and treat them equally. On the contrary, the society where Selene lives is Rome society, that treats women as an inferior and respectless so women have limit access in politics.
TOTALITARIANISM IN MO YAN’S BIG BREASTS AND WIDE HIPS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10294

Abstract

Abstrak Totalitarianisme adalah suatu konsep yang digunakan untuk menggambarkan sistem politik negara yang mengatur hampir di setiap aspek kehidupan publik dan pribadi. Di novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan, negara menggunakan kekuasaan politik totaliter untuk mengatur masyarakatnya. Sesuatu yang dipertunjukkan, setiap individu di negara itu mendapatkan kontrol total dari pemerintah atau rezim di sana. Mereka tidak bisa melakukan apapun dengan bebas dan menghindar dari sistem. Dari fakta-fakta tersebut, permasalahan itu menghasilkan dua pertanyaan utama yaitu : Bagaimana totalitarianisme digambarkan dalam novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan ? dan Bagaimana keluarga Shangguan Lu dan masyarakat Gaomi Timur Laut melawan totalitarianisme di novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan ? Bentuk totalitarianisme diperoleh untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik totalitarianisme. Untuk menjawab permasalahan pertama, penelitian ini menggunakan teori totalitarianisme menurut Carl Joachim Friedrich dan Zbigniew K Bzezinski. Masalah kedua dijawab dengan menggunakan konsep dari Amartya Sen tentang bagaimana mendapatkan kebebasan politik dari sistem totalitarianisme. Data ini menyajikan gambaran negara totaliter yang memiliki kontrol total dari pemerintah China atau rezim dan bagaimana masyarakatnya dan tokoh-tokoh dalam novel ini melawan terjadinya totaliter. Analisis ini menggambarkan sistem politik totalitarianisme di Cina di era Mao Zedong dan cara untuk melawan totalitarianisme itu. Bentuk-bentuk totalitarianisme digunakan untuk menggambarkan karakteristik totalitarianisme yang terjadi di masyarakat Gaomi Timur Laut. Selain itu, pengalaman ideologi totaliter membawa tindakan untuk melawannya dalam kehidupan mereka. Keluarga Shangguan Lu dan masyarakat memperlihatkan kecemasan dan ketakutan, lalu dari perlawanan terhadap totalitarianisme, mereka mencapai kebebasan politik. Akibat-akibat dan perlawanan itu muncul karena pengalaman kontrol total mereka. Kata kunci: totalitarianisme, kecemasan, ketakutan, kebebasan politik Abstract Totalitarianism is a concept used to describe political systems to a state regulates nearly every aspect of public and private life. In Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips, the state uses totalitarian political rule to manage the societies. Something that is presented, every individual in the state get total control from the government or regime in there. They cannot do anything free and run from the system. From the facts, the problem delivered into two main questions of How is totalitarianism depicted in Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips ? and How do Shangguan Lu’s family and Northeast Gaomi society resist against totalitarianism in Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips ? Features of totalitarianism occur to give better understanding about characteristics of totalitarianism. To answer the first problem, this study uses the theory of totalitarianism by Carl Joachim Friedrich and Zbigniew K Bzezinski. The second problem is answered by using the concept from Amartya Sen about how to get the political freedom from totalitarianism system. The data presents the image of totalitarian country which has total control from the government of China or the regime and how do their societies and the characters in the novel resist against totalitarian experiences. The analysis depicts political system of totalitarianism in China in the Mao Zedong era and the way to resist againts the totalitarianism. The features of totalitarianism are used to depict the characteristics of totalitarianism that happens in Northeast Gaomi society. Furthermore, the totalitarian ideology experience brings action to resist againts it in their life. Shangguan Lu’s family and societies appearance anxiety and fear, then from the resist againts totalitarianism, they achieve political freedom. Those effects and resist arise because of their total control experience. Key words: totalitarianism, anxiety, fear, political freedom