cover
Contact Name
Oscar Lontoh
Contact Email
oscarlontoh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
oscarlontoh@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27227421     EISSN : 2722662x     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang dilakukan oleh setiap dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia, praktisi Kristen, teolog, yang ingin berkontribusi bagi kemajuan pemikiran Kristen di Indonesia secara khusus. THRONOS diterbitkan oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia. Focus dan Scope penelitian THRONOS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Teologi Kontekstual Teologi Historika Misiologi THRONOS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. THRONOS terbit dua kali dalam setahun, yakni Juni dan Desember.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1: Desember 2021" : 5 Documents clear
Mengembangkan Misi Gereja dalam Bingkai Moderasi Beragama Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.27

Abstract

Religious moderation is a demand for all elements of society to carry it out, including churches and believers. The actualization of religious moderation that has been implemented by the church needs to fulfill the mission principle in accordance with the teachings of the Bible. This research aims to provide a new paradigm about religious moderation in the context of the church's mission and how the church practices it. The research method uses a qualitative descriptive model approach. Data collection was obtained through a study of the relevant literature. The research yields the result that religious moderation in the context of the church's mission is based on the main principle: peace. The church needs to carry out its mission within the framework of religious moderation by fulfilling the peacemaker principle. Its actualization can be applied in four ways. Act as a witness of God who dares to express his identity as a disciple of Christ amid a pluralistic society. Next, the church needs to rise to become a solution or a solution provider in social problems regardless of differences through collaboration. Therefore, the church formed various Christian communities to build a common culture in society. The community can synergize with other communities outside of Christianity. The latter conduct dialogue word between church denominations to create unity of heart in conveying the truth of God.AbstrakModerasi beragama menjadi tuntutan bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjalankannya, termasuk gereja dan umat percaya. Aktualisasi moderasi beragama yang selama ini diterapkan oleh gereja perlu memenuhi prinsip misi yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Riset ini bertujuan memberikan paradigma yang baru mengenai moderasi beragama yang dipandang dari konteks misi gereja dan bagaimana gereja mempraktikannya.  Metode riset mempergunakan pendekatan kualitatif model deskriptif. Pengumpulan data didapatkan melalui studi literatur yang relevan. Riset memberikan hasil yaitu bahwa moderasi beragama dalam konteks misi gereja dilandasi oleh prinsip utama: kedamaian. Gereja perlu menjalankan misi dalam bingkai moderasi beragama dengan memenuhi prinsip pembawa damai. Aktualisasinya dapat diterapkan melalui empat hal. Bertindak sebagai saksi Tuhan yang berani mengekspresikan identitas sebagai murid Kristus di tengah-tengah kemajemukan masyarakat. Selanjutnya gereja perlu bangkit menjadi solusi atau pemberi solusi dalam permasalahan sosial tanpa memandang perbedaan melalui kolaborasi. Oleh karena itu, gereja membentuk pelbagai komunitas Kristen untuk membangun budaya bersama dalam masyarakat. Komunitas dapat bersinergi dengan komunitas lain di luar Kristen. Yang terakhir melakukan dialog antar denominasi gereja agar tercipta kesatuan hati dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
Peran Gereja Sebagai Penjaga Umat dalam menghadapi Bonus Demografi di Indonesia: Refleksi Teologis Yehezkiel 3:16 Sugeng Santoso; Yohana Natassha; Yehuda Indra Gunawan; Esther Natasaputera
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.25

Abstract

The demographic bonus is a phenomenon that will occur in Indonesia in 2030 – 2045 and will have an impact on all people's lives. This phenomenon requires the role of all levels of society including the church. This article aims to provide an understanding of the role of the church as the guardian of the people according to Ezekiel 3:16 in dealing with the demographic bonus in Indonesia. The discussion in this paper uses a qualitative approach with the technique of writing a literature review or literature study. The results of the study show that the church must play a role in dealing with the demographic bonus through the pillars or functions of church services. The church can carry out various concrete actions that are holistic in nature that can be useful in all aspects of the life of the congregation and society. In this case, the church must be the guardian of the people who warn the congregation of all life problems, not only spiritual problems.AbstrakBonus demografi adalah fenomena yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030 – 2045 dan akan berdampak pada seluruh kehidupan masyarakat. Fenomena ini membutuhkan peran seluruh lapiran masyarakat termasuk gereja. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang peran gereja sebagai penjaga umat menurut Yehezkiel 3:16 dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia. Pembahasan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik penulisan literature review atau studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja harus berperan dalam menghadapi bonus demografi melalui pilar atau fungsi pelayanan gereja. Gereja dapat melakukan berbagai aksi nyata yang bersifat holistik yang dapat berguna dalam seluruh aspek kehidupan jemaat dan masyarakat. Dalam hal ini, gereja harus menjadi penjaga umat yang memperingatkan jemaat atas seluruh permasalahan kehidupan tidak hanya masalah rohani. Penelitian ini memiliki kontribusi bagi gereja untuk berperan aktif dalam seluruh kehidupan umat. Gereja tidak hanya berfokus pada pelayanan gerejawi tetapi harus dapat menyentuh seluruh aspek kehidupan jemaat dan masyarakat.
Literasi Alkitab Digital dalam Pemuridan Pemuda: Sebuah Refleksi Kritik Puisi terhadap Mazmur 119:9 Leonardus Rudolf Siby; Priyantoro Widodo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.28

Abstract

Current technological developments indicate a change in direction for literacy habits, from physical literacy to digital literacy. Therefore, it is important to promote Bible literacy for young people who are accustomed to using and accessing digital content. This writing is a biblical study of the text of Psalm 119:9, as a biblical foundation for digital Bible literacy, in the process of discipleship of today's church youth. The data used in this study comes from the results of the APJII survey, while the exegesis method used is poetry criticism and interpretive journey. APJII data shows that (1) internet users in Indonesia have increased very rapidly in the last 10 years (2) there has been a decline in physical literacy. The results of the text study produce (1) the Word of God that is studied has the will to shape human behavior; (2) God's word needs to be creatively communicated in human life situations; (3) The Bible has a unified theme, and it is that theme that is communicated to God's people throughout the ages. These findings lead to recommendations for the formation of digital literacy and Bible study groups, as well as aiding youth in these studies. Literacy and learning need to be arranged in certain varied themes. The church and family also have a role to play in familiarizing young people with Bible literacy, so that their behavior can be educated and formed as early as possible. The use of various digital platforms can be a means of contextual learning and literacy for youth.  AbstrakPerkembangan teknologi saat ini menunjukkan perubahan arah bagi kebiasaan literasi, dari literasi secara fisik kepada literasi secara digital. Karena itu mengupayakan literasi Alkitab kepada para pemuda yang telah terbiasa menggunakan dan mengakses konten digital menjadi sebuah hal yang penting untuk dilakukan. Penulisan ini merupakan kajian biblika terhadap teks Mazmur 119:9, sebagai landasan alkitabiah bagi literasi Alkitab digital, dalam proses pemuridan pemuda gereja masa kini. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil survey APJII, sedangkan untuk metode eksegesis yang digunakan adalah poetry criticism, dan interpretive journey. Data APJII menunjukkan bahwa (1) pengguna internet di Indonesia melonjak dengan sangat pesat dalam 10 tahun terakhir (2) terjadi penurunan dalam literasi secara fisik. Hasil kajian teks menghasilkan (1) Firman Tuhan yang dipelajari memiliki akan membentuk perilaku manusia; (2) firman Tuhan perlu dikomunikasikan secara kreatif dalam situasi hidup manusia; (3) Alkitab memiliki kesatuan tema, dan tema itu juga yang dikomunikasikan kepada umat Allah di sepanjang zaman. Temuan ini mengarah pada rekomendasi untuk pembentukan kelompok-kelompok literasi dan pembelajaran Alkitab secara digital, serta memberikan pendampingan kepada para pemuda dalam pembelajaran tersebut. Literasi dan pembelajaran tersebut perlu disusun dalam tema-tema tertentu yang secara variatif. Gereja dan keluarga juga memiliki peran untuk membiasakan literasi Alkitab bagi para pemuda, sehingga perilaku mereka dapat terdidik dan terbentuk sedini mungkin. Penggunaan berbagai platform digital dapat menjadi sarana pembelajaran dan literasi yang kontekstual bagi para pemuda. 
Penggunaan Media Digital dalam Memberitakan Injil kepada Suku Tionghoa Hakka di Kalimantan Barat Jon Jon; Aji Suseno
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.29

Abstract

The Hakka Chinese in West Kalimantan have absolutely no literature on the Bible and most of them cannot read Hakka writings but can only speak and hear Hakka. By looking at this phenomenon, the researcher uses a qualitative method with a descriptive approach and literature study to be able to answer the problems that occur and find the right strategy or solution in implementing the use of digital media in conveying the gospel. The use of digital media in conveying Bible teachings or gospel news in Hakka to the Chinese is an approach to achieving effectiveness and efficiency. From the analysis, digital media through social media that will be used in preaching the gospel there are through Youtube, WA, and others -other by making videos and audios containing Bible teachings in Hakka so that the Hakka community can hear and understand them. This research was also carried out as a form of concern and fulfillment of the Great Commission of the Lord Jesus to make all nations His disciples in the sense that all people from any tribe and nation hear the Gospel.  AbstrakSuku Tionghoa Hakka di Kalimantan Barat tidak memiliki literatur sama sekali mengenai Injil, dan kebanyakan dari mereka tidak bisa membaca tulisan Hakka tetapi hanya bisa berbahasa dan mendengar bahasa Hakka. Dengan melihat fenomena ini maka peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan studi kepustakaan untuk dapat menjawab permaslahan yang terjadi dan mencari strategi atau jalan keluar yang tepat dalam pengimplementasian penggunaan media digital dalam menyampaikan Injil. Penggunaan media Digital dalam menyampaikan ajaran Alkitab atau berita Injil berbahasa Hakka kepada suku Tionghoa sebagai suatu pendekatan untuk capaian efektivitas dan efisiensinya. Dari hasi analisis, maka media digital melalui media sosial yang akan digunakan dalam pemberitaan Injil di sana adalah melalui Youtube, WA dan lain-lain dengan cara membuat video dan audio yang berisi pengajaran Alkitab dalam bahasa Hakka supaya dapat didengar dan dimengerti oleh komunitas Hakka. Penelitian ini dilakukan juga sebagai salah satu bentuk kepedulian dan penggenapan dari Amanat Agung Tuhan Yesus untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya dalam artian semua orang dari suku dan bangsa manapun mendengar Injil. 
Suksesi Kepemimpinan Musa kepada Yosua sebagai Pola Ideal Suksesi Kepemimpinan Gereja Tri Prasetya; Herman Simarmata
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.30

Abstract

Moses and Joshua were two of the foremost leaders of the Israelites in the different tasks and roles. Moses' reign over Israel began in Egypt and ended at Mount Nebo, and the tasks of capturing and conquering the land of Canaan were passed on to Joshua. This paper aims to explain how the character of Johsua’s leadership as the leader of Israel was shaped by God through his hands during his journey in the desert. The method used in the research is library research. The sources used are textbooks and theological journals that have a correlation with the topic of this research. The main conclusion is that the succession of Moses’ leadership by Johsua has become an ideal pattern for the regeneration of God’s servants today. AbstrakMusa dan Yosua adalah dua orang pemimpin terkemuka bangsa Israel dalam tugas dan peran yang berbeda. Kepemimpinan Musa atas Israel bermula di Mesir dan berakhir di gunung Nebo, dan tugas untuk merebut dan menaklukkan tanah Kanaan diteruskan oleh Yosua. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana karakter kepemimpinan Yosua sebagai pemimpin Israel dibentuk oleh Tuhan melalui tangan Musa selama perjalanan di padang gurun. Metode yang dipakai dalam penelitian ini ialah melalui studi Pustaka. Sumber yang digunakan adalah buku-buku teks dan jurnal teologi yang mempunyai korelasi dengan topik penelitian ini. Kesimpulan utamanya adalah, suksesi kepemimpinan Musa oleh Yosua menjadi pola yang ideal bagi regenerasi hamba Tuhan masa kini.

Page 1 of 1 | Total Record : 5