cover
Contact Name
Oscar Lontoh
Contact Email
oscarlontoh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
oscarlontoh@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27227421     EISSN : 2722662x     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang dilakukan oleh setiap dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia, praktisi Kristen, teolog, yang ingin berkontribusi bagi kemajuan pemikiran Kristen di Indonesia secara khusus. THRONOS diterbitkan oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia. Focus dan Scope penelitian THRONOS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Teologi Kontekstual Teologi Historika Misiologi THRONOS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. THRONOS terbit dua kali dalam setahun, yakni Juni dan Desember.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2: Juni 2022" : 11 Documents clear
Agama dan Teologi Kristen di Era Post-Truth dan Disrupsi: Sebuah Kritik Sosiologis Jefrie Walean
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.31

Abstract

This paper wants to see the function of social criticism of religion, especially Christianity. This sociological criticism concerns the inconsistent terminology between the natural and the divine. The academic critique of the critics distinguishes between the uncorrelated nature of human naturalism and the universe. This study uses a qualitative-descriptive method that aims to describe social criticism of religions, especially Christianity. The function of criticism and sociological ideas in the post truth and disruptive era aims to place religion in a spiritual and divine position because the clash of religion with sociology creates social phenomena. Sociological criticism of religions, especially Christianity, concludes that religion and Christian theology are a necessity so that the role and function of religion are to maintain and build the integrity of relations in society. So, religion must be on the relevant doctrinal rails. Christianity must display the uniqueness of the post-ruth and disruption era.  AbstrakTulisan ini hendak melihat fungsi kritik sosial terhadap agama khususnya agama kristen. Kritik sosiologis ini menyangkut terminiologi yang tidak singkron antara hal natural dengan aspek ilahi. Kritik akademis dari para kritikus membedakan sifat naturalisme manusia dan alam semesta yang tidak bisa dikorelasikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan kritik sosial kepada agama-agama khususnya agama kristen. Fungsi kritik dan ide-ide sosiologis diera postruth dan disrupsi bertujuan agar agama menempatkan pada posisi spiritual dan ilahi karena benturan agama dengan sosiologis menimbulkan fenomena sosial. Kritik sosiologis kepada agama-agama khususnya kristen menyimpulkan bahwa agama dan teologi kristen merupakan keniscayaan sehingga peran dan fungsi agama untuk menjaga dan membangun keutuhan relasi-relasi dalam masyarakat. Jadi agama harus berada pada rel doktrin yang relevan. Khususnya agama kristen harus menampilkan keunikan diera post-truth dan disrupsi. 
Resiliensi Iman Kristen dalam Refleksi Kehidupan Habakuk Andreas Fernando; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.36

Abstract

The ministry and life of the prophet Habakkuk occurred in difficult times, but these conditions shaped the solidity of his faith in God. The prophet Habakkuk's response to the current situation can be a reflection and an example for God's people who live in today's era. This study aims to describe Habakkuk's experience of faith and provide his reflection on God's people so that they can have faith resilience when facing difficult situations and injustices in life. Qualitative methods are used in this study with a literature study approach and narrative excavation in the book of Habakkuk. The study yielded an understanding that all the problems, crushes, and burdens of life's questions actually led the prophet Habakkuk to seek and find God so that he obtained answers to questions, strength, guidance, and strength of faith from Him. This pattern can be applied in the lives of believers when faced with difficult situations and injustice through five steps of strengthening faith. First, open communication with God through the expression of the heart. Second, diligently waiting for God's answer by transforming the perspective from a human perspective to God's perspective. Third, to be His witness so that through the life experiences they go through, they can bring themselves and others to know God better. Fourth, patiently waiting for God's time for His help and acts of justice through prayer and thanksgiving. Fifth. Faith resilience will be formed when believers depend on God - rely on Him completely and make Him a source of strength.  AbstrakPelayanan dan kehidupan nabi Habakuk terjadi dalam masa yang sulit, namun justru kondisi itu membentuk kekokohan imannya di dalam Tuhan. Respons nabi Habakuk atas keadaan yang terjadi dapat menjadi refleksi dan teladan bagi umat Tuhan yang hidup di zaman ini. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman iman Habakuk dan memberikan refleksinya bagi umat Tuhan agar dapat memiliki resiliensi iman ketika menghadapi situasi sulit dan ketidakadilan dalam hidup ini. Metode kualitatif dipergunakan dalam kajian ini dengan pendekatan studi pustaka dan penggalian narasi pada kitab Habakuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segala persoalan, himpitan dan beban pertanyaan kehidupan justru membawa nabi Habakuk mencari dan menemukan Tuhan sehingga diperolehnya jawaban pertanyaan, kekuatan, tuntunan dan kekuatan iman dariNya. Pola ini dapat diterapkan dalam kehidupan orang percaya ketika menghadapi situasi sulit dan ketidakadilan melalui lima langkah penguatan iman. Pertama, membuka komunikasi dengan Tuhan melalui ungkapan hati. Kedua, transformasi cara pandang dari perspektif manusia kepada perspektif Tuhan. Ketiga, menjadi saksiNya agar melalui pengalaman kehidupan yang dilalui dapat membawa diri dan orang lain lebih mengenal Tuhan. Keempat, bersabar menantikan waktu Tuhan atas pertolongan dan tindakan keadilanNya melalui doa dan ucapan syukur. Kelima, resiliensi iman akan terbentuk tatkala umat percaya bergantung kepada Tuhan-mengandalkanNya secara penuh dan menjadikanNya sumber kekuatan. 
Peran Ayah dalam Mengajarkan Anak Mencintai Firman Tuhan Kosma Manurung
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.37

Abstract

The life of a believer cannot be separated from the truth of God's word and one of the best environments to learn God's word and love it is family. Because children spend most of their lives in the family, the role of a father is encouraged to the maximum in teaching children to love God's word. Loving God's word is important for children because God's word is a compass that directs children's lives in God's will and purpose. This article intends to explain the role that a father can play to maximally teach his child to love God's word. Through the method of description and scientific support from literature review, the researcher seeks to describe the picture of the Bible loving God's word, the importance of loving the word for children, and the maximum contribution of fathers in teaching children to love the word. It is concluded that fathers will contribute maximally if they form an environment that loves the word, teaches children from childhood, guides with love, becomes an example of love for the word. Kehidupan orang percaya tidak bisa dilepaskan dari kebenaran firman Tuhan dan salah satu lingkungan yang paling baik untuk belajar firman Tuhan dan mencintainya adalah keluarga. Karena anak-anak paling banyak menghabiskan hidup mereka di tengah keluarga untuk itu peran seorang ayah didorong maksimal dalam mengajarkan anak mencintai firman Tuhan. Mencintai firman Tuhan penting bagi anak karena firman Tuhan adalah kompas yang mengarahkan kehidupan anak dalam kehendak dan tujuan Tuhan selain itu firman Tuhan bisa memberikan inspirasi, motivasi, dan sebagai bekal hidup anak baik masa kini maupun nanti. Artikel ini bermaksud ingin menjelaskan peran yang seorang ayah bisa lakukan untuk maksimal mengajarkan anaknya cinta pada firman Tuhan. Melalui metode deskripsi dan dukungan ilmiah dari kajian literatur, peneliti berupaya menjabarkan gambaran Alkitab mencintai firman Tuhan, arti penting mencintai firman bagi anak, dan kontribusi maksimal ayah dalam mengajarkan anak cinta firman. Disimpulkan bahwa ayah akan berkontribusi maksimal jika membentuk lingkungan yang cinta firman, mengajari anak sejak kecil, membimbing dengan kasih, menjadi teladan cinta firman.  
Edukasi Teologis tentang Pernikahan Dini dalam Gereja Marta Regina; Martina Novalina
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.39

Abstract

RI Law Number 16 of 2019 Article 7 paragraph 1 explains that marriage is allowed if the male and female parties have reached the age of 19 years. If the marriage is carried out below the minimum age stated in the law, then the marriage is classified as early marriage. There are so many problems that can arise due to early marriage, such as reproductive health problems, psychological problems and even early marriage can affect self-concept in adolescents. In developing this paper, the author uses qualitative research methods with a literature study approach to further review the phenomenon of early marriage in adolescents. That way, the church as a representation of God has responsibility for the reality that is happening. The church, especially the youth pastor, must make young people aware of the importance of finding a life partner according to God's will. As believers, Christian youth not only have to struggle with their soulmate before God but also have to struggle with whether God wants them to get married or not. Because the principle of truly Christian life is to marry for the glory of God.  AbstrakUU RI Nomor 16 Tahun 2019 pasal 7 ayat 1 menerangkan bahwa perkawinan diperkenankan jika pihak laki-laki dan perempuan sudah menginjak usia 19 tahun. Jika perkawinan dilakukan di bawah usia minimum yang tertera pada hukum, maka perkawinan tersebut tergolong ke dalam perkawinan dini. Terdapat begitu banyak masalah yang dapat timbul akibat perkawinan dini, seperti: masalah kesehatan reproduksi, masalah psikologis, bahkan perkawinan dini dapat memengaruhi konsep diri pada remaja. Dalam mengembangkan tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan untuk meninjau lebih jauh fenomena perkawinan dini pada remaja. Dengan begitu, gereja sebagai representasi Tuhan memiliki tanggung jawab terhadap realitas yang terjadi. Gereja, terkhusus pembina remaja, harus menyadarkan para remaja akan pentingnya menemukan pasangan hidup sesuai kehendak Tuhan. Sebagai orang percaya, remaja Kristen bukan saja harus menggumuli jodohnya di hadapan Tuhan, tetapi harus menggumuli apakah Tuhan menghendakinya untuk menikah atau tidak. Sebab, prinsip hidup orang Kristen yang benar adalah menikah untuk meninggikan Tuhan. 
Cultivating Spiritual Intelligence as an Effort to Build Student Leadership Spirituality in Theological College Yusak Tanasyah; Bobby Kurnia Putrawan
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.40

Abstract

The purpose of this study is to seek the growth of spiritual intelligence in Christian universities which is shown by the spirituality of student leadership. Students are future leaders in organizations, both in church, community, and other public fields. During the four years, students spend pursuing undergraduate programs at Christian higher education institutions, students learn and experience many types of leadership either through their capacity as leaders or as team members. Qualitative research observing the growth of students in Christian universities in the fields of theology and Christian religious education found that spiritual intelligence through student group activities both in coursework and extracurricular activities students can develop spiritual intelligence in growing their leadership spirituality. Therefore, the role of educators in pursuing student leadership spirituality in guiding and fostering student leadership is very necessary.
Teologi Kontestasi Politik: Studi Komparasi Tradisi Kelompok Advent di Amerika dan Reformasi di Belanda Gideon Agustinus Pongoh; Milton Pardosi; Alvyn Cesarianto Hendriks
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.54

Abstract

The church's participation in political contestation has received much debate. The confluence of church and politics is a necessity. A conversation about the relationship between church and politics is not forced but something that cannot be avoided. The correlation and relationship between church and politics is a significant polemic, especially in the context of Christianity in Indonesia. The perspectives of Abraham Kuyper, the reformed church tradition in the Netherlands, and Ellen White, from an Adventist background, contribute constructive ideas to church and political fluctuations in Indonesia. Using the qualitative-descriptive method, this research describes church and politics and their correlation between two Christian traditions. Eventually, White shows a less politically friendly resonance when compared to Kuyper. White encourages good governance without forcing the church to be directly involved, while Kuyper is more open and considers politics part of God's sovereignty.   AbstrakPartisipasi gereja pada kontestasi politik menerima banyak perdebatan. Persentuhan gereja dan politik adalah sebuah keniscayaan. Percakapan tentang hubungan gereja dan politik bukanlah sesuatu hal yang di paksakan namun merupakan sesuatu yang tidak dapat terhindarkan. Korelasi dan hubungan antara gereja dan politik menjadi polemik utama, lebih khusus dalam konteks Kekristenan di Indonesia. Perspektif Abraham Kuyper, tradisi gereja reformasi di Belanda dan Ellen White dari latar belakang gereja Advent mengkontribusikan gagasan yang konstruktif bagi fluktuasi gereja dan politik di Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan gereja dan politik serta korelasinya dari dua tradisi Kristen yang berbeda. Pada akhirnya, White menunjukan resonansi yang kurang ramah terhadap politik jika di bandingkan dengan Kuyper. White mendorong pemerintahan yang baik tanpa harus memaksa gereja terlibat secara langsung, sedangkan Kuyper lebih terbuka dan menganggap politik adalah bagian dari kedaulatan Allah.  
Mengidentifikasi Tuhan dalam Mazmur 23 melalui Lensa Praksis Samardi Aruan; Rudolf W Sagala; Bartelomeus Diaz Nainggolan
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.53

Abstract

Psalm 23 received significant attention from various groups. Thoughts or interpre-tations related to the western world do not touch on a particular context, especially Indonesia. Minahasa, as an indigenous person in Indonesia, has a different background from the setting and context of Psalm 23. For example, the term shepherd, the main focus of some of the author's interpretations, has nothing to do with the Minahasa context. Therefore, it is essential to formulate and display texts in a local frame by presenting God as the center of study. However, the term 'God' is a joint global discussion and is considered 'opo empung' in Minahasa. This article attempts to present God in Psalm 23 appropriately in the Minahasa context using a qualitative method. As one of the formulations of contextual theology by Stephen Bevans, the praxis model directs the analysis and description of God in Psalm 23, which can be practiced in Minahasa society. In the first part, Minahasa emic traditions and knowledge about God will be shared descriptively. Second, the knowledge of God in Psalm 23 will be presented and practiced in the Minahasa context. This article uses books, journals, interviews, and other academic sources as primary references. In the end, the religious values in the background of Psalm 23 contain much knowledge that can be practiced in the Minahasa 'opo empung' context.   AbstrakMazmur 23 mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Pemikiran atau interpretasi dunia barat terkait tidak menyentuh konteks tertentu, khususnya Indonesia. Minahasa, sebagai suku asli di Indonesia, memiliki latar belakang yang berbeda dengan latar dan konteks Mazmur 23. Misalnya, istilah gembala sebagai fokus utama dari beberapa interpretasi penulis tidak ada hubungannya dengan konteks Minahasa. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan dan menampilkan teks dalam bingkai lokal dengan menghadirkan Tuhan sebagai pusat kajian. Istilah 'Tuhan', bagaimanapun, adalah diskusi umum untuk konteks global, dan dianggap sebagai 'opo empung' di Minahasa. Artikel ini mencoba menghadirkan Tuhan dalam Mazmur 23 secara tepat dalam konteks Minahasa dengan menggunakan metode kualitatif. Model praxis, sebagai salah satu rumusan teologi kontekstual karya Stephen Bevans, mengarahkan analisis dan deskripsi Tuhan dalam Mazmur 23 yang bisa dipraktikkan di masyarakat Minahasa. Di bagian pertama, tradisi dan pengetahuan emik Minahasa tentang Tuhan akan dibagikan secara deskriptif. Kedua, pengetahuan tentang Tuhan dalam Mazmur 23 akan disajikan dan dipraktikkan dalam konteks Minahasa. Artikel ini menggunakan buku, jurnal, wawancara, dan sumber akademik terkait lainnya sebagai referensi utama. Pada akhirnya, nilai-nilai ketuhanan dalam latar belakang Mazmur 23 mengandung banyak pengetahuan yang dapat dipraktikkan dalam konteks 'opo empung' Minahasa.  
Perjamuan Kudus dan Dinamika Hidup Orang Percaya Eddy Tjondro; Suhadi Suhadi
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.56

Abstract

The Holy Communion teaching is based on Jesus' command on the night before He was arrested to be crucified. Holy Communion is based on the death of Jesus and His resurrection, where His work has resulted in salvation for those who believe in Him. Holy Communion must also be interpreted with the proper understanding. A wrong interpretation of the Holy Communion will result in unfair practices and even lead to quarrels or debates between fellow bodies of Christ. The method used in this research is descriptive qualitative with elaboration from the Bible and other literature sources to formulate the meaning of the Holy Communion for believers today. From the results of this study, it was found that there are four meanings of the Holy Communion for believers today: the meaning of fellowship, the meaning of commemoration, the meaning of preaching, and the meaning of changing life.  AbstrakPengajaran tentang perjamuan kudus didasarkan atas perintah Yesus sendiri pada malam sebelum Ia ditangkap untuk disalibkan. Perjamuan kudus benar-benar mendasarkan diri kepada kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, di mana karya-Nya itu telah menghasilkan keselamatan bagi yang mempercayai-Nya. Perjamuan kudus juga harus dimaknai dengan pemahaman yang benar. Pemahaman yang keliru terhadap perjamuan kudus akan menghasilkan pemaknaan serta praktik yang keliru, dan bahkan dapat pula menimbulkan pertengkaran atau perdebatan antar sesama tubuh Kristus. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan elaborasi dari Alkitab dan sumber pustaka lain untuk merumuskan makna perjamuan kudus bagi orang percaya masa kini. Dari hasil penelitian ini didapatkan empat makna perjamuan kudus bagi orang percaya di masa kini, yaitu: makna persekutuan, makna peringatan, makna pemberitaan, dan makna perubahan hidup.  
Penanaman Nilai-Nilai Iman Kristen Berbasis Pendidikan Agama Multikultural Sugijanti Supit
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.19

Abstract

This study aims to obtain a practical strategic approach to instilling Christian values based on multicultural education for early childhood. This study's purpose was obtained using a descriptive qualitative method with a literature study approach that observes, analyzes, and manages various existing literature sources. To produce relevant educational development in early childhood education that integrates Christian values with an appreciation of pluralism. Viewed as a positive contribution to developing fundamental concepts and practices in early childhood related to Christian values, intelligence, and social skills to live in a multicultural society. Therefore Christian religious education must package an education that is creative and intelligent cognitively, affectively, and psychometrically according to the needs of early childhood to produce a transformation in the lives of early childhood who fear God and are virtuous. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suatu pendekatan strategi yang efektif terkait penanaman nilai-nilai kristiani berbasis pendidikan multikultural untuk anak usia dini. Tujuan penelitian ini didapat dengan menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan pendekatan studi literatur yang mengamati, menganalisa dan mengelolah berbagai sumber kepustakaan yang ada. Sehingga menghasilkan pengembangan pendidikan yang relevan dalam konteks pendidikan anak usia dini yang mengintegrasikan nilai-nilai kristiani dengan apresiasi terhadap kemajemukan. Dipandang sebagai suatu kontribusi positif bagi pembangunan konsep dan praktek nyata anak-anak usia dini terkait nilai-nilai kristiani  dan kecerdasan keterampilan sosial untuk hidup ditengah masyarakat yang berwarna muktikuktural.  
Gereja dan Kemandirian Finansial dalam Refleksi Teologis Matius 19:16-26 Soewieto Djajadi
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.42

Abstract

The Covid-19 pandemic, which is endemic throughout the world, including Indonesia, has caused changes in people's lives. Restrictions on the movement of community activities, also known as PSBB, also have an impact on several sectors, such as the economy, tourism, and religion is no exception. With a decrease in the offerings received by the church, but are required to continue carrying out its activities such as teaching, discipleship, and celebrating Christian religious holidays such as Christmas, Church birthdays, and so on, these costs become the burden of the Church leaders and workers. This problem would not be a problem if the church had wealthy people who could help fund the church. Therefore, this research aims to find steps that must be taken so that the church can become independent regarding funds without depending on the rich. Meanwhile, a good principle is to become an entrepreneurial church that can educate its congregation and workers to become entrepreneurs to earn better income. AbstrakPandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah menyebabkan perubahan di dalam kehidupan masyarakatnya. Pembatasan pergerakan kegiatan masyarakat yang dikenal juga dengan PSBB menimbulkan dampak pula pada beberapa sektor seperti ekonomi, pariwisata dan tak terkecuali agama. Dengan menurunnya persembahan yang diterima oleh gereja, namun dituntut untuk tetap melakukan kegiatan- kegiatannya seperti pengajaran, pemuridan, merayakan hari- hari besar Agama Kristen seperti Natal, Ulang tahun Gereja dan lain sebagainya, maka biaya tersebut menjadi beban dari pemimpin dan pengerja Gereja. Persoalan ini tidak akan menjadi masalah jika gereja mempunyai orang- orang kaya yang dapat membantu dana gereja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mencari langkah- Langkah yang harus dilakukan agar gereja dapat menjadi gereja yang mandiri dalam hal dana tanpa bergantung kepada orang kaya. Sedangkan prinsip yang baik adalah menjadi gereja intrepreneur yang dapat mendidik para jemaat dan para pengerjanya menjadi wirausaha untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.    

Page 1 of 2 | Total Record : 11