cover
Contact Name
Rustina N
Contact Email
rustinanurdin@gmail.com
Phone
+628124014799
Journal Mail Official
jurnalstudiislam@iainambon.ac.id
Editorial Address
Gedung Pascasarjana IAIN Ambon Jl. Dr. Tarmizi Taher RT 002 RW 17 Batu Merah, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2302853X     EISSN : 28092740     DOI : http://dx.doi.org/10.3347/jsi.v10i2.2323
Quran Hadits Pemikiran Islam Hukum Islam Pendidikan Islam Tasawuf Sejarah kebudayaan Islam Adat dan Budaya Islam
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2021): Desember" : 5 Documents clear
PERBANDINGAN DUA KITAB SYARAH ṢAḤĪḤ AL-BUKHĀRĪ: FATḤ AL-BĀRĪ DAN ‘UMDAT AL-QĀRĪ Rustina N Rustina N
Jurnal Studi Islam Vol 10, No 2 (2021): Desember
Publisher : Pascasarjana IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.534 KB) | DOI: 10.3347/jsi.v10i2.2374

Abstract

This paper aims to describe the method adopted by Ibn Hajar al-Asqalani and Badr al-Din al-Aini in explaining the meaning and content of the traditions of the Prophet. in his two syarah books, respectively, Fath al-Bari Syarah Sahih al-Bukhari and the book Umdat al-Qari syarah Sahih al-Bukhari. Furthermore, a comparison is made to find the similarities and differences of the two books so that the advantages and privileges of each can be known. In this study, a qualitative descriptive method was used. Is a type of library research whose data comes from literature in the form of books Data analysis was carried out using content analysis techniques. The results of this study; The similarities are found in the two books using the tahliliy and muqaran methods, which explain the meaning of the content of hadith from various aspects the strongest; put forward the asbab al-wurud hadith and relate it to the appropriate verse. These two books also state differences in the pronunciation of hadith in other narrations, and compare the opinions of the scholars in each discussion. The difference is, Fath al-Bari covers a lot of scientific discussion, including contextual analysis by looking at the asbab wurud hadith or doing grammatical analysis, and the socio-cultural conditions of society when a hadith appears. The approach used in Syar Fatḥ al-Bārī uses a linguistic, multi-disciplinary, and historical approach. Meanwhile, Umdat al-Qari is more dominated by linguistic aspects, both grammatical aspects and i'rab, sharfi, bayan and ma'aniy aspects, so this book can be said to use a linguistic approach or style (linguistics). In terms of writing techniques in Fath al-Bari found repeated explanations (mukarrar) in several places without any additional explanation. Al-Aini to be more consistent in the application of systematics. In various places to clarify his syarah, al-Aini applies the question and answer method so that it is called a characteristic of this book.Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan metode yang ditempuh oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Badr al-Din al-Aini dalam menjelaskan makna hadis-hadis Nabi saw. dalam dua kitab syarahnya masing-masing,  Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari dan kitab Umdat al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari. Selanjutnya dilakukan perbandingan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dua kitab tersebut sehingga dapat diketahui keunggulan dan keistimewaan masing-masing. Dalam kajian ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Merupakan jenis penelitian pustaka yang data-datanya bersumber dari literatur berupa buku atau kitab. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini; Persamaannya ditemukan kedua kitab menggunakan metode tahliliy dan muqaran, yakni menjelaskan makna kandungan hadis dari berbagai aspek mengemukakan asbab al-wurud hadis serta mengaitkan dengan ayat yang sesuai. Kedua kitab ini juga mengemukakan perbedaan lafaz hadis pada riwayat lain, dan membandingkan pendapat para ulam. Perbedaan yaitu, Fath al-Bari banyak mencakup pembahasan ilmiah, meliputi analisis kontekstual dengan melihat asbab wurud atau melalukan analisis gramatika, dan kondisi sosial budaya masyarakat ketika munculnya suatu hadis. Pendekatan yang digunakan  Fatḥ al-Bār model pendekatan linguistik, multi disipliner, dan pendekatan historis.  Sedangkan Umdat al-Qari lebih didominasi pada pensyarahan aspek kebahasaan, baik aspek gramatika maupun i’rab, sharfi, aspek bayan dan ma’aniy,  sehingga disebut bercorak kebahasaan (linguistik). Dari segi teknik penulisan dalam Fath al-Bari ditemukan penjelasan yang berulang (mukarrar) tanpa ada penjelasan tambahan. Al-Aini cenderung lebih konsisten dalam penerapan sistematika Kasus seperti ini tidak ditemukan dalam Umdat al-Qari. Dalam berbagai tempat untuk memperjelas syarahannya al-Aini menerapkan metode tanya jawab sehingga disebut sebagai ciri khas kitab ini.
TRADISI LAWA SAFAR DI NEGERI MORELLA, KECAMATAN LEIHITU KABUPATEN MALUKU TENGAH Muhammad Saiful Manilet; H. Rajab Rajab
Jurnal Studi Islam Vol 10, No 2 (2021): Desember
Publisher : Pascasarjana IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.51 KB) | DOI: 10.3347/jsi.v10i2.2323

Abstract

Abstract : This research is about the Lawa Safar tradition, a term used by the Morella people to refer to the bath routine on the last Wednesday of Safar month in the Islamic calendar every year. Its aim is to find out its historical roots, analyze it from the aspects of Islamic law, and see the prospects for its development. This descriptive qualitative research relies on literature sources which are strengthened by interviews of ritual actors. From the analysis carried out, it is not certain when Lawa Safar began to be carried out, but as in other places that carry out a similar tradition, the Lawa Safar ritual is influenced by the assumption that Safar is the month of disaster. Lawa Safar is carried out as an effort to repel reinforcements', a prayer to save people from danger and disaster. There is nothing contrary to the teachings of Islam in the series of Lawa Safar rituals, therefore, this tradition can be maintained as one of the syiars of Islam. Moreover, with the status of Morella today as one of the main tourist destinations in Maluku, it is very possible for the Lawa Safar tradition to be developed into one of the annual religious tourism events.Abstrak : Penelitian ini tentang tradisi Lawa Safar,  istilah yang digunakan oleh orang Morella untuk menyebut ritual mandi di Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Islam setiap tahun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui akar sejarahnya, menganalisisnya dari aspek hukum Islam, dan melihat prospek pengembangannya. Tipe penelitian deskriptif kualitatif, data data diperoleh dari  literatur pustaka dan hasil wawancara dari pelaku ritual. Dari analisis yang dilakukan, tidak diketahui dengan pasti kapan Lawa Safar mulai dilaksanakan, tapi seperti halnya di tempat-tempat lain yang melakukan tradisi serupa, ritual Lawa Safar dipengaruhi anggapan bahwa Safar adalah bulan datangnya bencana. Lawa Safar dilakukan sebagai upaya tolak bala’, doa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya dan bencana. Tak ada hal yang bertentangan dengan ajaran Islam dalam rangkaian ritual Lawa Safar, karena itu, tradisi ini dapat dipertahankan sebagai salah satu syiar Islam. Status negeri Morella sekarang sebagai salah satu tujuan utama wisatawan di Maluku, maka tradisi Lawa Safar sangat mungkin dikembangkan menjadi salah satu event wisata religi tahunan. 
RESPON TOKOH MUSLIM TERHADAP DEMOKRASI Basman Basman
Jurnal Studi Islam Vol 10, No 2 (2021): Desember
Publisher : Pascasarjana IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.998 KB) | DOI: 10.3347/jsi.v10i2.2321

Abstract

Abstract: Democracy is seen as a political system and the best way of regulating life for every society that calls itself modern. Governments everywhere, including totalitarian regimes, try to convince the world community that they have a democratic political system. The discourse of democracy for most people, has become the dominant political discourse. That is why even the most authoritarian dictators must speak the language of democracy. Most Europeans think that the concept of Islamic democracy is such an antitheme that it is impossible to understand the appeal and power of Islamic movements. Because democracy is a concept that is still being debated, it is important to study how the perception of democracy among Islamic leaders in the recent era of the Islamic revival movement is. This type of research is library research, namely research in which the primary data source and secondary data source are literature. Data collection techniques were carried out by direct and indirect citations. The data analysis is carried out by content analysis, which is an effort to describe and analyze in depth the contents of a written or printed information objectively and systematically to reveal the message contained in it.This paper aims to describe the concept of democracy, the ways, attitudes and responses of Muslims to it. Can democracy be implemented and how far is the role of Islamic leaders in efforts to uphold democracy, or on the contrary, Islamic leaders hinder the democratization process.Abstrak: Demokrasi dipandang sebagai sistem politik dan cara pengaturan kehidupan terbaik bagi setiap masyarakat yang menyebut diri modern. Pemerintah di manapun, termasuk rejim-rejim totaliter, berusaha meyakinkan masyarakat dunia bahwa mereka menganut sistem politik demokratis. Wacana demokrasi bagi sebagian besar kalangan masyarakat, telah menjadi wacana politik yang dominan. Karena itulah para diktator yang paling otoriter sekalipun mesti berbicara dengan bahasa demokrasi. Kebanyakan orang Eropa menganggap bahwa konsep demokrasi Islam merupakan suatu antithema sehingga memustahilkan untuk memahami daya tarik dan kekuatan gerakan-gerakan Islam. Karena demokrasi merupakan konsep yang masih diperdebatkan, penting untuk dikaji bagaimana persepsi tentang demokrasi di kalangan tokoh-tokoh  Islam pada era gerakan kebangkitan Islam belakangan ini.Tipe penelitian ini adalah library research (penelitian pustaka), yaitu penelitian yang sumber data primernya dan sumber data sekundernya berupa literatur kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengutipan lansung dan tidak lansung. Adapun analisis data ditempuh analisis isi, yaitu usaha menguraikan dan menganalisis secara mendalam isi suatu informasi tertulis atau tercetak secara obyektif dan sistematis untuk mengungkapkan pesan yang terkandung di dalamnya.Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep demokrasi, cara, sikap dan respon umat Islam terhadapnya. Apakah demokrasi dapat diterapkan dan seberapa jauh peran para tokoh Islam dalam upaya menegakkan demokrasi, atau sebaliknya para tokoh Islam menghambat proses demokratisasi. 
PRESTASI ULAMA PADA ERA STAGNASI PEMIKIRAN FIQHI Rustina N Rustina N
Jurnal Studi Islam Vol 10, No 2 (2021): Desember
Publisher : Pascasarjana IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.816 KB) | DOI: 10.3347/jsi.v10i2.2338

Abstract

This study aims to describe the condition of Islamic law when it arrived at the era and period of Islamic jurisprudence. stagnant, starting in the middle of the 4th century H until the XII century H. and analyzing the factors that caused the taqlid attitude and how the role of the fiqhi scholars in this era. Types of qualitative descriptive research, including library research, namely research in which all data, both primary and secondary data, are obtained from the literature, in the form of books or books related to the research subject. The data analysis was carried out through content analysis techniques, namely the effort to describe and analyze in depth the contents of a written or printed information objectively and systematically to reveal the message contained in it. The results of this study are the causes of taqlid attitudes are the students' strong fanaticism towards teachers, school fanaticism, court institutions that are suppressed based on certain schools of thought, and the publication of fiqhi codification works of priests, moral decadence that occurs widely so that the door to ijtihad is closed. The activities of the ulama as scientific achievements have brought a fragrance and raised their degrees, namely mentakhrij illat-illat law which has been assigned by the priests of the schools so that the basics of thought (ushul fiqh) of their schools become clear, conduct tarjih of various differences of opinion, conduct discussions and debates. which gave birth to writings on the ethics of debating, as well as codifying in the form of al-masanid, al-mustadrak, mukhtasar, hawasy, takmilat, fiqhi, ushul fiqh, and fatawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi hukum Islam ketika sampai pada era dan periode stagnan,  dimulai  pertengahan abad ke-4 H sampai abad XII H. dan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya sikap taqlid tersebut dan bagaimana peran para ulama fiqhi pada era ini.  Tipe Penelitian deskriptif kualitatif, termasuk penelitian pustaka yakni penelitian yang seluruh datanya, baik data primer maupun data sekunder diperoleh dari literatur kepustakaan, berupa buku-buku atau kitab yang berkaitan dengan subyek penelitian. Adapun analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi, yaitu usaha menguraikan dan menganalisis secara mendalam isi suatu informasi tertulis atau tercetak secara obyektif dan sistematis untuk mengungkapkan pesan yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian   ini adalah penyebab sikap taqlid adalah sikap fanatisme yang kuat murid-murid kepada guru, fanatisme mazhab, lembaga pengadilan yang ditekan berpedoman pada mazhab tertentu, dan terbitnya karya kodifikasi fiqhi para imam, dekadensi akhlaq yang terjadi secara luas sehingga pintu ijtihad pun ditutup. Aktifitas ulama sebagai prestasi ilmiah yang telah membawa harum serta mengangkat derajat mereka, yaitu mentakhrij illat-illat hukum yang telah diistimbathkan para imam mazhab sehingga dasar-dasar pemikiran (ushul fiqh) mazhab mereka menjadi jelas, melakukan tarjih berbagai perbedaan pendapat, melakukan diskusi dan debat yang melahirkan karya tulis tentang etika berdebat, serta melakukan kodifikasi dalam bentuk al-masanid, al-mustadrak, mukhtasar, hawasy, takmilat, fiqhi, ushul fiqh, dan fatawaa.   
EVERYDAY RELIGION: TAWARAN METODE PENELITIAN SOSIAL BAGI PENGEMBANGAN STUDI ISLAM Karman Karman
Jurnal Studi Islam Vol 10, No 2 (2021): Desember
Publisher : Pascasarjana IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.294 KB) | DOI: 10.3347/jsi.v10i2.2345

Abstract

Religion in contemporary sociological studies does not only talk about official discourse, but also everyday lived. This paper describes "everyday lived" or "live religion". Through qualitative approaches and descriptive methods can be explained, religion and spirituality based on everyday lived can be analyzed through ordinary people in their daily religious practices. Everyday religion displays a different dynamic, which is freer from political construction. Everyday religion views agency as important, without neglecting structure. Structure refers to the ability of institutions to produce (and enforce) a pattern of meaning and action; agency refers to the individual or collective ability to improvise and bring alternatives to life. The study of "lived religion" can be an inspiration for the development of Islamic studies in various Islamic universities, especially the studies of the Qur'an and Hadith.Agama dalam kajian sosiologi kontemporer tidak semata-mata membicarakan official discourse, melainkan everyday lived. Tulisan ini mendeskripsikan "everyday lived" atau "live religion". Melalui pendekatan kualitatif dan metode deskriptif dapat dijelaskan, agama dan sipiritualitas berdasarkan everyday lived dapat dianalisis melalui orang-orang biasa dalam praktik keagamaan sehari-hari. Everyday religion menampilkan dinamika yang berbeda, yang lebih bebas dari konstruksi politik. Everyday religion memandang penting agensi, tanpa mengabaikan struktur. Struktur mengacu pada kemampuan lembaga untuk memproduksi (dan memaksakan) suatu pola pemaknaan dan tindakan; agensi mengacu pada kemampuan individu atau kolektif untuk melakukan improvisasi dan menghidupkan alternatif-alternatif. Studi "lived religion" dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan studi Islam di berbagai perguru-an tinggi Islam, terutama kajian-kajian Al-Qur'an dan Hadis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5