cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BENDRAT TERHADAP KUAT TEKAN, PERMEABILITAS DAN PENETRASI PADA BETON RINGAN STYROFOAM Slamet Prayitno; Sunarmasto Sunarmasto; Ayu Setiyaningrum
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.386 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36956

Abstract

Struktur beton ringan merupakan salah satu struktur yang memiliki berat jenis (density) lebih ringan daripada beton pada umumnya. Beton ringan banyak dimanfaatkan pada pembangunan saat ini. Selain harganya lebih terjangkau beton ringan dapat digunakan sebagai bahan bangunan aman terhadap gempa. Beton ringan biasanya memiliki berat jenis antara 1400-1800 kg/m³ dan kuat tekannya > 17,24 MPa. Dari penelitian sebelumnya diperoleh hasil bahwa dengan penambahan Styrofoam pada beton membuat campuran adukan beton memiliki kemudahan pengerjaan (workability) yang tinggi, lebih kedap air serta berat jenis beton lebih ringan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dilaksanakan di laboratorium Bahan UNS. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan, 7,5 cm x 15 cm untuk pengujian permeabilitas dan penetrasi.Persentase serat yang digunakan adalah 0%; 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%. Pengujian menggunakan alat CTM (Compression Testing Machine). Hitungan yang digunakan adalah analisis statistik dengan regresi linear pada batas elastis beton menggunakan program Microsoft Excel. Hasil penelitian nilai kuat tekan beton ringan mencapai nilai optimum pada penambahan serat bendrat 1,12% mengalami kenaikan sebesar 25,19%, permeabilitas pada penambahan serat bendrat 1,0% mengalami kenaikan sebesar 20,24%, penetrasi pada penambahan serat bendrat 4,22% mengalami kenaikan sebesar 15,35% dibandingkan dengan penambahan serat bendrat 0%.
PENGARUH POLA SUSUNAN KOLOM PASIR SEBAGAI DRAINASE VERTIKAL DUA ARAH TERHADAP KECEPATAN PENURUNAN TANAH LUNAK Priambodo, Danang; Setiawan, Bambang; Surjandari, Niken Silmi
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.336 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i1.36529

Abstract

Tanah lunak merupakan jenis tanah bermasalah yang mempunyai karakteristik daya dukung rendah, tingkat kompresibilitas tinggi dan waktu konsolidasinya yang sangat lama. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui pengaruh penambahan dan bentuk pola susunan kolom pasir yang difungsikan sebagai drainase vertikal dua arah pada tanah lunak. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban seberat 40 kg yang diletakkan di atas pelat selama 21 hari yang dilanjutkan dengan proses unloading selama 7 hari pada model tanpa kolom pasir dan model dengan kolom pasir pola bujur sangkar serta segitiga. Selama kurun waktu tersebut diperhatikan parameter nilai Cc dan Cv, elevasi permukaan harian serta kadar air pasir dan tanah lunak tiga harian dari setiap model. Hasil uji konsolidasi menunjukkan bahwa model dengan kolom pasir pola segitiga memiliki nilai Ccdan Cv setelah pembebanan paling besar dibandingkan model lainnya dengan 0,852 dan 0,041 cm2/detik. Berdasarkan hasil pengukuran besar elevasi permukaan harian, model dengan kolom pasir pola segitiga juga memiliki penurunan permukaan tercepat, hal ini ditunjukkan dengan gradien grafiknya yang paling curam dibandingkan dengan model lainnya. Penurunan permukaan yang terjadi diiringi dengan meningkatnya kadar air pasir dan turunnya kadar air tanah lunak yang nilainya berbanding lurus dengan besarnya penurunan yang dialami.
EVALUASI KINERJA GAYA GEMPA PADA STRUKTUR GEDUNGBERTINGKAT DENGAN ANALISIS PUSHOVER BERDASAR PADA DRIFT DANDISPLACEMENT MENGGUNAKAN SOFTWARE ETABS( STUDI KASUS : HOTEL DI WILAYAH KARANGANYAR) Nurhadi, Muhamad; Setiya Budi, Agus; Supardi, Supardi
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.887 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v2i2.37445

Abstract

Indonesia as an archipelagho the State and state wich are included in the ring of fire lanes because the path of it was meeting the Australian plate ,the Eurasian plate and the plates pasifik.Have high enaugh percentage, resulting in vulnerable regions of Indonesia earthquake shocksBased on this background,Performance Evaluation study conducted seismic forces in buildings with Pushover analysis.This study aimed todetermine the performance of the building based on the mechanism of formation of plastic hinge in the beam and column so the relationship with thebase shear displacement on the pushover curve and seismic demand curve The method used is a nonlinear static pushover analysis using ETABSprogram.Performance evaluation can be done with a nonlinear static pushover analysis which refers to the ATC - 40Based ratio value on the drift x 0,00327 and ratio values on the drift y 0,00341. So it can be safely concluded ultimit limit of performanceevaluation requirements in according with SNI SNI 03-1726 -2002.The review of velue maximum ratio of in- elastic Drift is 0,00318 and themaximum value of in- elastic ratio is 0,00332 Drift y illustrate the behavior of structures ranging from elastic conditions , in- elastic then have acondition on the verge of collapse is indicated by a decrease in the curve of the building , including the level of performance of the ImmediateOccupancy ( IO ) Based on Drift values for x and y directions is less than 0,01 then the performance of the building is included in the ImmediateOccupancy whereas in elastic drift values for x and y directions are smaller or equal with 0,005 then according to ATC - 40 level value ofperformance , including the Immediate occupancy of the results of the analysis graph building structure behaves linear pushover . The concept of strong column weak beam design is not met it is indicated the the beginning of the plastic hinge element column. When it reaches the majority of theperformance point-shaped column plastic hinge elements but the building is safe.
PENGARUH SERBUK KACA TERHADAP KUAT TEKAN, PERMEABILITAS AIR, DAN PENETRASI AIR BETON MUTU TINGGI BERSERAT GALVANIS Slamet Prayitno; Sunarmasto Sunarmasto; Doddy Setyadi
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.02 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37080

Abstract

Beton merupakan unsur yang sangat penting dan paling dominan sebagai material pada struktur bangunan. Banyak usaha dilakukan untuk mendapatkan beton dengan kualitas yang lebih tinggi dari beton konvensional biasa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan seperti membuat beton berserat dan memberi bahan tambah pada campuran beton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serbuk kaca terhadap kuat tekan, permeabilitas air, dan penetrasi air beton mutu tinggi berserat galvanis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Komposisi campuran menggunakan perbandingan berat 1:1,77:2,37, dengan fas sebesar 0,3 dan ukuran agregat maksimum 1,25 cm. Variasi persentase penggantian semen dengan serbuk kaca sebanyak 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8% serta 1% serat galvanis terhadap berat campuran. Benda uji berbentuk silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan, silinder berdiameter 7,5 cm dan tinggi 15 cm untuk pengujian permeabilitas dan penetrasi. Pengujian dilakukan pada umur benda uji 28 hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kuat tekan beton mencapai nilai maksimum pada penambahan serbuk kaca 4,39% dengan kenaikan sebesar 14,36%, permeabilitas beton mencapai nilai minimum pada penambahan serbuk kaca 4,29% dengan penurunan sebesar 18,31%, penetrasi beton mencapai nilai minimum pada penambahan serbuk kaca 4,22% dengan penurunan sebesar 10,64% dibandingakan dengan penambahan serbuk kaca 0%.
PENGGUNAAN SOIL CEMENT MIXING SKALA LABORATORIUM UNTUK STABILISASI TANAH LEMPUNG PLASTISITAS TINGGI PADA INDEKS LIKUIDITAS 0 DAN 0.25 Masanggun Velentina; Yusep Muslih Purwana; Niken Silmi Surjandari
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.633 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36967

Abstract

Stabilisasi tanah merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan stabilitas dan kapasitas daya dukung tanah. Tanah lempung plastisitas tinggi berpotensi menjadi tanah yang bermasalah karena mempunyai kekuatan rendah dan penurunan yang tinggi. Salah satu metode untuk meningkatkan daya dukung adalah stabilisasi tanah lempung menggunakan semen. Penelitian ini menggunakan tanah lempung plastisitas tinggi dari daerah rawa-rawa di Grogol, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang dikondisikan kadar airnya pada Indeks Likuiditas (LI) 0 dan 0.25. Stabilisasi tanah ini berfokus pada peningkatan daya dukung tanah dengan variasi semen:tanah (15%, 20% dan 25% terhadap berat kering tanah) dan variasi Faktor Air Semen/FAS (35%, 45%, 55% dan 65% terhadap berat semen kering yang dibutuhkan) dengan pencampuran bahan stabilisasi menggunakan alat soil cement mixing skala laboratorium. Pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS) dilakukan pada 7 hari saat kondisi tak-terendam dan terendam. Hasil penelitian menunjukkan pada hubungan tegangan dan regangan pada LI = 0 dan LI = 0.25 pada sampel tanah yang telah direndam selama 1 hari, pada indeks likuiditas 0 memiliki kekakuan tanah paling besar pada campuran semen 25% dan setiap sampel tanah mengalami penurunan kuat tekan tanah setelah direndam. Penambahan jumlah proporsi semen akan menyebabkan peningkatan kekakuan tanah. Perbandingan dengan penelitian sebelumnya menunjukkan kuat tekan tertinggi pada LI = 0 oleh karena itu kandungan kadar air sangat mempengaruhi dan sampel pada keadaan tak-terendam, kuat tekan yang dihasilkan lebih tinggi dari pada sampel pada keadaan terendam
ANALISIS DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN PADA DAERAH SUDETAN WONOSARI SUNGAI BENGAWAN SOLO Zulhusni, Atsari Fildzah; Ikhsan, Cahyono; Suyanto, Suyanto
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.33 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i2.36845

Abstract

Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah dan di beberapa negara tertentu juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Setiap perencanaan bangunan air membutuhkan data debit aliran, dari data debit tersebut didapatkan data kecepatan aliran dalam waktu tertentu. Perkiraan kecepatan arus pada suatu aliran dilakukan dengan pengukuran di tempat yang mudah dijangkau pada penampang yang ditinjau bahkan dilakukan secara acak, sehingga hasil yang diperoleh sering tidak dapat mewakili kondisi yang sebenarnya secara tepat. Terjadinya kesalahan dalam pengukuran akan berdampak pada perkiraan jumlah debit aliran yang terjadi sehingga akan berpengaruh terhadap perencanaan bangunan secara keseluruhan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui distribusi kecepatan aliran dari cross section atau potongan melintang di lapangan dengan menggunakan metode Point Intregated Sampling (PIS) di Sudetan Wonosari Sungai Bengawan Solo, perbandingan kecepatan aliran sungai di hulu, sudetan dan hilir, jenis aliran yang terjadi pada aliran lur us maupun tikungan dari pengaruh kecepatan aliran sungai. Kemudian hasil debit yang diperoleh diplot dengan menggunakan program HEC-RAS 4.0 untuk mencari tinggi muka air. Data dari lapangan diolah dan dianalisis. Jenis aliran ditentukan dengan menggunakan Bilangan Froude dan Bilangan Reynolds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan aliran dari hulu ke sudetan turun sebesar 0,07%, sudetan ke hilir naik sebesar 3,27%, debit dari hulu ke sudetan turun sebesar 2,38%, sudetan ke hilir turun sebesar 15,69%. Aliran yang didapat yaitu aliran turbulen dan subkritis.
ANALISIS SUNGAI WAY KANDIS KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK LAMPUNG TIMUR Wibowo, Andre; Sobriyah, Sobriyah; Wahyudi, Agus Hari
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i1.37575

Abstract

Sungai Way Kandis terletak di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.Padamusim hujan debit yang mengalir cukup tinggi dan sering melimpas melalui tebing sungai yang rendah dan tanggul yang rusak atau jebol. Kondisi tersebut diindikasikan sebagai penyebab gagalnya panen akibat genangan air banjir yang berlangsung relatif cukup lama. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui debit banjir sungai Way Kandis, (2) Mengetahui tinggi muka air banjir Sungai Way Kandis, (3) Menormalisasi Sungai Way Kandis agar tidak lagi menimbulkan banjir yang mengakibatkan gagal panen.Metode penelitian yang dilaksanakan melalui tahapan-tahapan yang dimulai dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan yaitu data hujan harian maksimum, data tata guna lahan Daerah Aliran Sungai (DAS), data profil sungai Way Kandis. Selanjutnya data hujan harian maksimum di uji kepanggahan, dipadukan dengan data tata guna lahan DAS untuk diolah menjadi debit rancangan (Q desain). Debit banjir rancangan yang diperoleh kemudian dimasukan ke program HEC-RAS 4.0.1, Data profil sungai dimodelkan ke dalam program tersebut sehingga dapat disimulasikan kondisi penampang sungai berikut debit yang mengalir. Hasil yang diperoleh berupa ketinggian muka air sehingga dapat diketahui pada lokasi-lokasi mana saja yang terjadi luapan.Hasil penelitian menunjukan bahwa debit banjir rancangan dengan memakai metode time-area diketahui Q 2tahun = 328,54 m3/dtk, Q 5tahun = 493,96 m3/dtk, Q 10 tahun = 662,11 m3/dtk, Q 20tahun = 905,92 m3/dtk, Q 25tahun = 964,54 m3/dtk dan Q 50 tahun = 1275,88 m3/dtk, dan tinggi muka air maksimum yang terjadi limpasan pada debit rancangan 2 tahun antara ruas Sta 33-75, Sta 20-21 dan Sta 15-17 dan limpasan terbesar ada pada Sta 55.dan dengan normalisasi bisa menanggulangi banjir dengan kala ulang tersebut.
ANALISIS TINGKAT PENERAPAN PROGRAM K3 BERDASARKAN BUILDING SAFETY INDEX (STUDI KASUS ASET GEDUNG BALE WIWITAN) Monik Karlina; Adelia Risnanda Sari; Nabila Ayu Khairunisa; Nurlaila Fadjarwati
Matriks Teknik Sipil Vol 9, No 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.278 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v9i1.46173

Abstract

ABSTRAKStudi kasus Gedung Bale Wiwitan, Tasikmalaya. Bale Wiwitan adalah aset gedung kantor pemerintahan yang ditempati oleh beberapa Kantor Dinas Tasikmalaya yang diperkirakan memiliki luas tanah 1,7 Ha dan luas bangunan 2.089 m2. Bangunan gedung merupakan suatu fasilitas untuk menunjang berbagai aktifitas kegiatan pegawai perkantoran, dan setiap aset bangunan harus memenuhi standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk meminimalisir risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan program K3 berdasarkan Building Safety Index (BSI) pada aset gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan teknik observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat penerapan program K3 berdasarkan BSI memperoleh rata-rata sebesar 3,35 dan dapat dikatakan baik, dibuktikan juga dengan kondisi bangunan gedung yang laik dan berfungsi sesuai dengan indikator BSI yaitu arsitektur, building service, dan external environment.Kata kunci: K3, BSI, gedung kantor1.        PENDAHULUANBangunan gedung merupakan aset yang perlu dikelola dengan baik agar dapat digunakan dan dimanfaatkan secara optimal melalui penerapan manajemen aset untuk meningkatkan layanannya. Manajemen aset adalah istilah yang umum digunakan dalam bidang keuangan, real estate, gedung & perkantoran, bidang alokasi sumber daya serta berbagai bidang lainnya (Mitchell, 2006). Pemahaman manajemen aset dapat dipelajari dari tahapan siklus aset yang dimulai dari planning, aquisition, operation and maintenance dan disposal. Pengelolaan aset bangunan gedung seperti pengelolaan aset infrastuktur dimana kinerja aset dengan  siklus pada tahap operasi dan pemeliharaan yang baik akan menghasilkan peningkatan efisiensi biaya dan memberikan efektivitas yang lebih lama dalam operasi, yang berarti keuntungan biaya pengadaan baru dapat ditangguhkan dan aset dapat digunakan lebih lama (Priyatiningsih dan Mei, 2019).Gedung kantor adalah suatu fasilitas untuk menunjang berbagai aktifitas kegiatan pegawai perkantoran. Umumnya ruang kerja gedung perkantoran tidak berpindah-pindah karena telah dilengkapi ruang-ruang fasilitas penunjang seperti untuk ruang mesin, ruang arsip, kantin dan aktivitas penunjang lainnya. Sehingga keamanan dan kenyamanan perlu diperhatikan. Dapat disadari atau tidak bahwa bekerja di dalam bangunan gedung  juga merupakan sumber atau mengandung potensi bahaya karena menjadi tempat untuk melakukan banyak aktivitas. Disaat sedang melakukan pekerjaan atau aktivitas tersebut, tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat fatal. Bahwa perkantoran sebagai salah satu tempat kerja, tidak terlepas dari berbagai potensi bahaya lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan para karyawan di dalamnya.Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  (K3) merupakan  satu  upaya  perlindungan  yang diajukan  kepada  semua potensi  yang  dapat menimbulkan  bahaya (Putera & Harini, 2017).  Bahaya yang dapat timbul dari bangunan gedung diantaranya bahaya listrik, pencahayaan, tata letak, dan lain sebagainya. Program K3 dapat mewujudkan rasa aman dan nyaman dalam bekerja, selain itu juga dapat meningkatkan kinerja aset bangunan seperti kondisi fisik, fungsional, utilitas dan keuangan. Penerapan K3 sangat penting terutama pada aset bangunan gedung, karena akan menekan risiko yang timbul dari rusaknya aset bangunan. Hal ini akan mempengaruhi kinerja aset bangunan, jika aset bangunan dalam kondisi rusak maka aset tidak dapat difungsikan dan dapat berpengaruh pada operasional bangunan gedung. Setiap bangunan tentunya memiliki tingkat risiko dan bahayanya masing-masing tidak terkecuali bangunan gedung kantor seperti objek bangunan Bale Wiwitan. Diharapkan dengan mengetahui tingkat penerapan program K3 berdasarkan Building Safety Index pada aset bangunan gedung maka akan menekan risiko dan dampaknya adalah efisiensi biaya.2.        TUJUANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan program K3 berdasarkan Building Safety Index pada aset gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya.3.        METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di Bale Wiwitan yang berada di Jalan Noenoeng Tisnasaputra No.5, Kahuripan, Kec. Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115 dengan koordinat 7°21'13"LS dan 108°13'43"BT. Penelitian ini dimulai dari Bulan April sampai Bulan Agustus 2020. Penelitian ini termasuk penelitian yang menerapkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dengan metode deskriptif (Sugiama, 2008). Penelitian ini menggunakan populasi dengan total pengelola sebanyak 11 (sebelas) orang. Sampel adalah bagian kuantitas dan karakteristik yang terdapat pada populasi (Sugiyono, 2017). Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh karena semua populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari itu peneliti memilih teknik sampling jenuh karena jumlah populasi yang relatif kecil. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka.Observasi.Observasi merupakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung di lapangan untuk memperoleh gambaran mengenai program K3 pada gedung Bale Wiwitan.Wawancara. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi dengan mengadakan tanya jawab langsung terhadap pengelola Bale Wiwitan. Dalam kondisi pandemik ini kami melakukan wawancara dengan melakukan penyesuaian dan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan.Kuesioner.Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan sengan memberikan seperangkat pertanyaan mengenai program K3 kepada responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang akurat yaitu dengan menggunakan skala Likert yang disajikan dalam google formulir. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi penerapan K3 berdasarkan Building Safety Index (BSI).Studi PustakaStudi pustaka adalah teknik pengumpulan data yang berhubungan dengan penerapan program K3 aset bangunan, khususnya gedung kantor. Aspek kinerja keselamatan dan kesehatan bangunan harus diperhatikan selama siklus hidupnya untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Indikator-indikator tersebut dibahas dalam BSI (Rajali, 2016) yaitu arsitektur, building service, dan external environment.Untuk mengetahui tingkat penerapan program K3 berdasarkan BSI, maka dibuatlah suatu bagan alir proses penelitian mulai dari awal hingga akhir penelitian dan diperoleh suatu kesimpulan. Untuk lebih jelasnya tentang diagram alir pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada bagan alir pada gambar 1 berikut.           Gambar 1. Diagram Pelaksanaan Penelitian4.        HASIL DAN PEMBAHASAN    Aset Gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya dibangun sekitar tahun 1996/1997 yang memiliki luas tanah ± 1,7 Ha dan luas bangunan 2.089 m2. Gedung kantor ini dibangun melalui proses Ruislaag Kantor Kota Administratif (Kotif) lama yang berada di Jalan Oto Iskandar Dinata Tasikmalaya, dengan pihak H. Amas Mupreni. Kantor Kotif ini di peruntukan  untuk Kantor Walikota. Setelah Kantor Walikota Tasikmalaya dipindahkan ke Jalan Letnan Harun No. 1 Tasikmalaya, bangunan gedung ini berubah nama menjadi Bale Wiwitan. Gedung Bale Wiwitan ini sekarang menjadi tempat kantor dinas yaitu Dinas Pekerjaan Umum dan Penetaan Ruang (DPUPR) dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP). Masih dalam satu area dengan gedung Bale Wiwitan terdapat Dinas Lingkungan Hidup. Aset gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya awalnya merupakan aset milik Kotif. Setelah terbentuk Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya pada tahun 2001, aset gedung Bale Wiwitan menjadi milik Pemkot Tasikmalaya. Kepemilikan aset bangunan Bale Wiwitan ini tercatat di KIB DPUPR. Pada tahun 2017 dilakukan rehabilitasi pada gedung Bale Wiwitan, sehingga tampak depan gedung Bale Wiwitan dapat dilihat pada gambar 2 berikut. Gambar 2. Tampak Depan Gedung Bale WiwitanAset bangunan gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya termasuk dalam klasifikasi aset Real Estate and Facilities, hal ini merujuk pada teori yang dikemukan oleh Campbell (2011). Pembangunan Gedung Bale Wiwitan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan menyediakan layanan pendukungnya agar dapat beroperasi secara efektif yang sesuai dengan tujuan manajemen aset menurut Hastings (2010). Dalam pengoperasian aset bangunan Bale Wiwitan pasti dihadapkan dengan kejadian tidak terduga yang dapat menimbulkan risiko, sehingga program K3 perlu diterapkan pada aset bangunan ini.Tingkat Penerapan Program K3 pada aset bangunan kantor Bale Wiwitan diukur melalui hasil kuesioner yang telah dibagikan. Dari hasil kuesioner terdapat 11 responden pengelola gedung, dimana kuesioner ini mengandung butir-butir pernyataan berdasarkan teori Building Safety Index (BSI). Berikut ini merupakan pengukuran dari setiap dimensi Building Safety Index (BSI).ArsitekturArsitektur mengacu pada konfigurasi tata letak dan disposisi bangunan, yang ditambahkan untuk memberikan lingkungan yang lebih besar serta detail desain terbaik jalur evakuasi, titik akses, struktur, tahan api, konstruksi, bahan bangunan, fungsi ruangan. Fokus arsitektur tidak hanya pada aspek estetika, tetapi harus dikombinasikan dengan solusi atau gaya struktural yang harus melekat pada ruang di mana kegiatan tertentu dapat terjadi, aman, nyaman dan efisien. Hasil kuesioner dari setiap indikator dapat dilihat pada tabel 1.Tabel 1. Dimensi ArsitekturPernyataan/Pertanyaan12345 Rata-rataKantor Bale Wiwitan memiliki aksesibilitas yang mudah dijangkau00182             4,09Kantor Bale Wiwitan memiliki sistem struktur bangunan yang baik02441             3,36Kantor Bale Wiwitan memiliki kontruksi bangunan yang tahan api 02630             3,09Kantor Bale Wiwitan memiliki ruangan-ruangan yang digunakan sesuai dengan fungsinya03701             2,91Kantor Bale Wiwitan memiliki bahan bangunan yang baik01721             3,27Rata-rata dimensi arsitektur             3,35 Untuk mengetahui keterangan dan hasil pengukuran menggunakan skala likert dapat dilihat pada tabel 2. berikut.Tabel 2. Skala LikertSkala likert0-1,00Sangat buruk 1,1-2,00Buruk 2,1-3Cukup 3,1-4Baik 4,1-5sangat baik Dari hasil pengukuran diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata dimensi arsitektur adalah 3,35 dan menurut skala likert dapat dikatakan baik. Building ServiceBuilding service, terdiri dari indikator instalasi listrik, penerangan, ventilasi udara, pendingin ruangan, layanan pipa & sanitasi, dan jalur penghubung (tangga). Hasil kuesioner dari setiap indicator dapat dilihat pada tabel 3.Tabel 3. Dimensi Building servicePernyataan/Pertanyaan12345Rata-rataKantor Bale Wiwitan memiliki jalur evakuasi sebagai antipasi terhadap bencana118102,82Kantor Bale Wiwitan memiliki instalasi listrik yang baik026303,09Kantor Bale Wiwitan memiliki lampu penerangan yang baik di seluruh ruangan017213,27Kantor Bale Wiwitan memiliki ventilasi udara yang baik 007313,45Kantor Bale Wiwitan memiliki sanitasi yang baik026213,18Kantor Bale Wiwitan memiliki pendingin ruangan di setiap ruangan yang baik015503,36Kantor Bale Wiwitan memiliki jalur penghubung (tangga)006413,55Kantor Bale Wiwitan memiliki pelayanan panggilan darurat di sekitar lokasi 127102,73Kantor Bale Wiwitan memiliki risiko bahaya rawan pencurian dan bencana alam007313,45Rata-rata dimensi building service             3,21 Dari hasil pengukuran diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata dimensi building service adalah 3,21 dan menurut skala likert dapat dikatakan baik. External EnvirontmentExternal environment, indikator yang diukur adalah layanan darurat, bahaya eksternal, kepadatan, lokasi, dan kualitas udara segar. Hasil kuesioner dari setiap indikator dapat dilihat pada tabel 4.Tabel 4. Dimensi External EnvirontmentPernyataan/Pertanyaan12345Rata-rataKantor Bale wiwitan memiliki alat komunikasi internal di dalam bangunan seperti public addess, telepon kebakaran015503,36Kantor Bale wiwitan terletak di lingkungan yang bebas banjir, tanah longsor, degrasi lingkungan dan polusi udara.004523,82Kantor Bale Wiwitan terletak di lingkungan yang padat penduduk017303,18Kantor Bale Wiwitan terletak di lokasi yang strategi015413,45Kantor Bale Wiwitan terletak di lokasi dengan kualitas udara yang segar005513,64Rata-rata dimensi external environment3,49 Dari hasil pengukuran diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata dimensi external environment adalah 3,49 dan menurut skala likert dapat dikatakan baik. Hasil pegukuran kuesioner berdasarkan teori Building Safety Index (BSI) dapat menghitung tingkat penerapan K3 pada bangunan Bale Wiwitan. Tingkat penerapan tersebut dapat dihitung dari rata-rata setiap dimensi pada BSI, dapat dilihat pada tabel 8. berikut.Tabel 8. Tingkat Penerapan K3DimensiSkala LikertArsitektur3,35Building service3,21External environment3,49Rata-rata3,35 Dari hasil pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat penerapan K3 berdasarkan BSI pada bangunan gedung kantor Bale Wiwitan mendapatkan nilai rata-rata sebesar 3,35 dan dikategorikan baik.Persentase yang tertinggi dari penelitian ini adalah pendekatan external environment dengan skor rata-rata 3,49. External environment sangat penting, hal ini berkaitan dengan situasi yang memungkinkan arus informasi yang membantu organisasi untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhan secara akurat sebagai bentuk memastikan keselamatan dan kesehatan penghuninya. Hal ini sebagai dasar untuk efisiensi sumber daya sehingga dapat menunjukan pada kinerja bangunan yang lebih baik. Sedangkan arsitektur memberikan kontribusi yang sedikit lebih kecil dibandingkan pendekatan external environment dengan rata-rata skor 3,35. Persentase ini menunjukan bahwa arsitektur merupakan bagian untuk mencapai kesuksesan suatu konstruksi karena berkaitan dengan arsitektur jangka panjang. Fokus arsitektur bangunan yang aman perlu menyertakan desain yang lebih baik, detail, serta estetika. Presentase terendah adalah pendekatan building service dengan skor rata-rata 3,21. Hasil ini menyatakan bahwa pelayanan bangunan ini harus diperhatikan, karena semakin baiknya pelayanan bagunan gedung maka akan semakin meningkatkan keamanan dan kesehatan.Berdasarkan analisis tingkat penerapan program K3 berdasarkan BSI, rancangan program K3 yang dapat diterapkan pada aset Gedung Bale Wiwitan Tasikmalaya berdasarkan setiap dimensi BSI sebagai berikut.ArsitekturArsitektur berhubungan dengan tata letak dan disposisi sebuah bangunan untuk memberikan lingkungan yang lebih besar serta detail desain terbaik untuk meningkatkan estetika. Dimensi arsitektur ini berkaitan dengan jalur evakuasi, titik akses, struktur, tahan api, konstruksi, bahan bangunan, fungsi ruangan. Aset Gedung Bale Wiwitan memiliki struktur rangka kaku (riggid frame) dengan pondasi telapak, kolom dan balok beton bertulang, rangka atap baja ringan, dan penutup atap dengan genting. Pada dimensi arsitektur yang dapat diterapkan yaitu membuat sarana untuk keperluan keluar masuk yang aman, membagi ruangan sesuai dengan kebutuhan, menjaga kebersihan dan kerapihan tempat kerja dari barang-barang atau peralatan kantor, dan membuat jalur evakuasi atau perencanaan evakuasi untuk mengantisipasi jika terjadi bencana. Dalam pembagian ruangan yang digunakan harus sesuai dengan fungsinya, sehingga aset gedung dapat menciptakan rasa aman, nyaman, serta dapat meningkatkan kinerja aset gedung. Selain itu penyediaan sistem deteksi dan alarm kebakaran, serta penyediaan sistem pemadam kebakaran terdiri dari sistem hydrant kebakaran, sistem sprinkler kebakaran, sistem pengendalian asap, pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah dan pusat pengendali kebakaran.Building serviceLayanan bangunan yang aman, nyaman dan ramah lingkungan dalam pengoperasian gedung mengacu pada instalasi listrik, penerangan, ventilasi udara, pendingin ruangan, layanan pipa & sanitasi, dan jalur penghubung (tangga). Penerangan aset gedung berasal dari lampu antifisial pada malam hari, sedangkan siang hari berasal dari sinar matahari. Dalam hal instalasi listrik, listrik disediakan oleh PLN dengan rangkaian listrik yang menggunakan alat pelindung yang dapat melindungi peralatan listrik agar tidak mudah rusak dan konslet jika terkena air. Dimensi building service yang dapat diterapkan yaitu membangun pelayanan panggilan darurat dan membuat jalur evakuasi sebagai antisipasi terhadap bencana. Hal ini dapat dilengkapi dengan rambu dan simbol yang dapat menginformasikan kepada pekerja tentang bahaya yang akan timbul. Penyediaan tanda (signage) dan sarana/jalur evakuasi dalam bangunan yang tidak terhalang dan terjaga kondisinya, sehingga dalam keadaan darurat evakuasi menuju tempat berhimpun (assembly point) dapat dilakukan dengan selamat dan tanpa hambatan. Hal tersebut, dapat mengantisipasi bahaya dan meminimalisir risiko yang dapat terjadi di Gedung Bale Wiwitan. Selain itu, mesin pendingin ruangan (AC) yang dipasang di ruang kerja perlu perbaikan agar ruangan terasa nyaman untuk mendukung kegiatan operasinya.External environmentLangkah-langkah keselamatan dan kesehatan harus mencakup perlindungan terhadap tambahan bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan eksternal. Dimensi external environtment meliputi layanan darurat, bahaya eksternal, kepadatan, lokasi, dan kualitas udara segar. Aset Gedung Bale Wiwitan berada di lokasi yang cukup strategis dengan kualitas udara yang segar, lingkungan yang bebas banjir, tanah longsor dan polusi. Pada dimensi ini yang dapat diterapkan yaitu menciptakan lingkungan yang asri dengan kualitas udara yang segar. Sehingga dapat terhindar dari polusi udara meskipun berada pada lingkungan dengan kepadatan penduduk yang padat. Selain itu, alat komunikasi internal di dalam bangunan seperti public address, dan telepon kebakaran perlu disiapkan untuk mengkomunikasikan kebutuhan secara akurat dan memastikan kesehatan dan keselamatan penghuninya.5.        KESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa:Tingkat penerapan program K3 berdasarkan Building Safety Index (BSI) di gedung Bale Wiwitan terdiri dari arsitektur, building service, dan external environment. Tingkat penerapan K3 berdasarkan BSI menghasilkan skor rata-rata 3,35 menurut skala likert dapat dikategorikan dalam kelompok baik.Pada dimensi arsitektur Gedung Bale Wiwitan yang dapat diterapkan yaitu  pembagian ruangan yang digunakan harus sesuai dengan fungsinya, menjaga kebersihan dan kerapihan tempat kerja dari barang-barang atau peralatan kantor, membuat jalur evakuasi atau perencanaan evakuasi untuk mengantisipasi jika terjadi bencana, menyediakan sistem deteksi kebakaran, serta penyediaan sistem pemadam kebakaran.Pada dimensi building service yang dapat diterapkan yaitu membangun pelayanan panggilan darurat, membuat jalur evakuasi sebagai antisipasi terhadap bencana, dan perbaikan pendingin ruangan di tempat kerja. Hal ini dapat meningkatkan kenyamanan, meminimalisir bahaya dan risiko.Sedangkan pada dimensi external environtment yang dapat diterapkan pada aset Gedung Bale Wiwitan yaitu menciptakan lingkungan yang asri dengan kualitas udara yang segar. Sehingga dapat terhindar dari polusi udara meskipun berada pada lingkungan dengan kepadatan penduduk yang padat. Selain itu, alat komunikasi internal di dalam bangunan seperti public address, dan telepon kebakaran perlu disiapkan untuk mengkomunikasikan kebutuhan secara akurat dan memastikan kesehatan dan keselamatan penghuninya.
KAJIAN KUAT LENTUR DAN KUAT LEKAT BALOK BETON BERTULANGAN BAMBU PETUNG POLOS Arjiantoro, Feri; Budi, Agus Setiya; Supardi, Supardi
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.18 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37301

Abstract

Beton bertulang baja merupakan komponen yang sering digunakan pada struktur bangunan. Namun semakin banyaknya peningkatan kebutuhan tulangan baja dalam setiap pembangunan akan menimbulkan kendala yaitu harga yang semakin tinggi dan merupakan produk hasil tambang yang tidak dapat diperbaharui dan suatu saat akan habis. Untuk mengatasi kendala tersebut, sebagai alternatif pengganti tulangan baja, maka dimamfaatkanlah bambu, dimana bambu merupakan produk alam yang renewable, diperoleh dengan mudah, murah, dan memiliki kuat tarik yang tinngi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik leleh bambu petung yang digunakan untuk perhitungan secara analisis, kapasitas lentur dan kuat lekat balok bertulangan bambu petung, dengan membuat balok benda uji sebanyak 9 buah balok dengan ukuran 11 cm x 15 cm x 170 cm dan 9 silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm. Tiga balok benda uji pertama ditanam tulangan bambu petung polos, selanjutnya tiga balok ditanam tulangan baja baja ø 8 mm dan tiga balok tanpa tulangan. Enam benda uji silinder ditanam tulangan bambu petung nodia dan tanpa nodia sedalam 15 cm dengan ukuran 60 cm x 2 cm x 0,52 cm. Tiga silinder ditanam tulangan baja ø 8 mm. Pengujian dilakukan di Laboratorium Struktur, FT UNS, pada umur beton 28 hari dengan memberikan dua titik beban terpusat pada jarak 1/3 bentang balok dari tumpuan, untuk uji lekat menggunakan alat Universal Testing Machine ( UTM ).Berdasarkan analisis dan hasil pengujian di dapat kuat tarik leleh bambu petung diambil sebesar 223,893 N/mm2 atau kuat tarik pada nodia. Momen nominal analisis tulangan bambu petung nodia didapat sebesar 0,507 tonm dan hasil pengujian didapat rerata sebesar 0,532 tonm, untuk baja pengujian rerata sebesar 0,516 tonm dan analisis 0,506 tonm. Nilai kuat lekat beton dengan tulangan bambu petung polos tanpa nodia sebesar 0,1929 Mpa dan tulangan bambu petung polos nodia sebesar 0,0535 Mpa sedangkan kuat lekat beton dengan tulangan baja polos ø 8 mm sebesar 0,2592 Mpa
PENGARUH POLA PADA DRAINASE VERTIKAL SATU ARAH MENGGUNAKAN KOLOM PASIR PADA TANAH LUNAK Kurniawan, Elang Fajar; Setiawan, Bambang; Dananjaya, Raden Harya
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 4 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.958 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i4.36545

Abstract

Tanah lunak merupakan tanah yang memiliki daya dukung yang rendah, indeks plastisitas tanah yang tinggi, dan proses penurunan tanah yang cukup lama. Penurunan yang terjadi sering kali tidak merata, tergantung dari beban yang diterima oleh tanah tersebut. Ada beberapa metode yang sudah dikembangkan untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah metode drainase vertikal. Drainase vertikal berfungsi untuk mempercepat proses dari keluarnya air yang ada di dalam tanah lunak. Metode pemasangan drainase vertikal di lapangan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan pola segitiga dan pola segiempat. Penelitian ditujukan untuk melihat perbedaan perilaku pemasangan drainase vertikal dengan pola segitiga dan pola segiempat pada tanah lunak yang dilihat selama 4 minggu atau 28 hari. Pengujian diantaranya konsolidasi dan penurunan. Hasil terbesar terjadi pada model uji pola segitiga + beban dengan nilai Cc dan Cv sebesar 0,810 dan 0,071 cm2/detik. Penurunan yang terjadi pada model uji pola segitiga + beban paling cepat yaitu lebih besar 14,82 % dan 6,90 % dari model uji tanpa drainase vertikal + beban + beban dan model uji pola segiempat + beban.Â