cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
Bila Sulit DiLawan , Jadikanlah Kawan Pong Soewignyo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Keong mas sejak kedatangannya di Indonesia sekitar tahun 1984 (Departemen Pertanian, 1989), keberadaanya kini telah meluas ke berbagai perairan tawar di Indonesia. Selain di Jawa dan Sumatera, penulis mendengar mengenai keberadaan keong mas ini di Kalimantan Tengah. Bahkan di Prafi, Manokwar~ Irian Jaya, dalam kunjungan ke daerah transmigran, penulis menjumpai keong mas ini di perairan kolam-kolam budidaya ikan penduduk setempat. Alasan utama dari penyebaran keong mas ke berbagai daerah adalah untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai bah an pangan atau pakan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan dan pengembangbiakan keong mas yang cepat serta sangat mudah dibudidayakan.
Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara Abdul Harim; Rokhmin Dahuri; Dietriech G Bengen; Budi Hascaryo Iskandar
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponden
PERKEMBANGAN A W AL DAN PEMELIHARAAN LARVAKERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis Resmayeti Purba; Waspada .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian tentang perkembangan awal dan perneliharaan larva ikan kerapu bebek telah dilaksanakan dilaboratorium. Larva ikan kerapu bebek yang baru menetas (0hari) sampai 65 hari telah digunakan sebagai hewan uji untuk mengamati perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan sirip perut. Perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan perut dibandingkan dengan jenis kerapu lainnya.Kata-kata kunci: larva, pemeliharaan, duri panjang sirip punggung dan perut, kerapu bebek
PENELUSURAN V ARIETAS IKAN GURAME, Osphrollemus goramy, Lacepede, BERDASARKAN PENAMPILAN KARAKTER LUAR (FENOTIP) Kadarwan Soewardi; Rita Rachmawati; Ridwan Affandi; Dietriech G Bengen
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi keberadaan varietas-varietas ikan gurame yang ada berdasarkan karakter luar (fenotip). Pada penelitian ini, 250 contoh ikan gurame yang berasal dari Parung (Bogor), telah digunakan sebagai hewan uji. Hasilpenelitian telab berhasil diidentifikasi keberadaan lima varietas ikan gurame (bule,blusafir, paris, bastar dan batu) berdasarkan karakter fenotip berupa warna, bentuk kepala, bentuk tubuh dan pola sisik.Kata-kata kunci: identifikasi, varietas, ikan gurame
Karakterisasi Populasi Ikan Gurame, Osphronemus Goramy, Lacepede, dengan Metode Biokimia Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.667 KB)

Abstract

Suatu penelitian untuk melakukan inventarisasi genetik populasi ikan gurame dengan menggunakan metode elektroforesis protein telah dilakukan di laboratorium BIOTROP, Bogor. Contoh ikan diarnbil dari Purwokerto (Banyumas) dan Parung (Bogor) sebanyak 140 ekor. Pengamatan karakter genetik menggunakan metode elektroforesis protein dengan contoh protein berasal dari daging dan hati. Sebagai media digunakan gel pati(starch gel). Enzim yang diuji sebanyak 7 jenis antara lain: Isocitrate Dehydrogenase (Idh); Esterase (Est); Glucose 6 phosphate Dehydrogenase (Gpd); PhosphogIuco Isomerase (Pgi); Phophogluco mutase (Pgm); Malate Dehydrogenase (Mdh); dan Sorbitol Dehydrogenase (Sod).Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 3 lokus polimorf dari 9 lokus yang diuji. Tingkat heterosigositas dari populasi asal Banyumas sekitar 0,05-0,06, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan populasi asal Parung yaitu 0,10-0,13. Dari segi jarak genetik,populasi asal Banyumas dan Parung nampaknya tidak jauh berbeda, kecuali dua populasi asal Parung yakni Batu dan Bastar yang nampak cukup berbeda dari populasi lainnya.Kata-kata kunci: ikan gurame, genetik, elektroforesis protein
Kebutuhan Asam Lemak Esensial Untuk Perkembangan Induk Ikan Lele , Clarias Batrachus Linn. I Mokoginta; D S Moeljohardjo; T Takeuchi; K Sumawidjaja; D Fardiaz
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Induk ikan lele (Clarios batraclllls Linn.) diberi makanan percobaan selama sembilan bulan. Ada lima macam makanan percobaan dengan kadar asam lemak 0)6 dan w3 yang berbeda. Induk yang sudah matang gonad dipijahkan dan telumya ditetaskan. Perbandingan bobot telurlbobot badan dan ukuran telur sarna antar perJakuan (P>0,05). Namun, induk yang mendapatkan makanan berkadar asam lemak 0)6 dan 0)3yang rendah dalam makanannya menghasilkan telur dengan derajat tetas telur yang rendah (49,3%). Derajat tetas telur meningkat apabila kadar asam lemak OJ6 dan 0)3 dinaikkan (perlakuan D 82,3%; E 80,7%; P<0,05). Derajat tetas telur menurun kembali apabila penambahan asam lemak 0)6 dan OJ3 dalam makanan induk terlalu tinggi (perlakuan B 74,0%; C 74,4%; P<0,05). Persentase larva abnormal yang dihasilkan oleh induk yang defisiensi akan asam lemak esensial juga lebih tinggi dari induk yang mendapatkan makanan yang mengandung asam lemak esensial yang cukup. Konversi makanan, dan persentase telur yang dibuahi oleh spermatozoa ikan jan tan antara perJakuan adalah sarna (P>0,05).Kata-kata kunci: ikan lele (Clarias batrachus Linn.), asam lemak esensial, reproduksi.
Abnormal Shape And Size Of Scenedesmus Armatus AS AN Indicator Of Copper And Cadmium Pollution Hefni Effendi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Penelitian( mengenai pengaruh Copper dan Cadmium terhadap Scenedesmus armatus dilakukan pada botol flask. Penelitian ini mengacu pad a standar ISO (1989), pada kadar nutrien (nitrat dan fosfat) tinggi dan temperatur inkubasi rendah. Pertumbuhan S. armatus terhambat oleh keberadaan Cu dan Cd yang melebihi kadar yang dibutuhkan. Tanda-tanda terpengaruhnya terlihat melalui: penurunan kepadatan sel, penurunan nilai absorbansi, penurunan pertumbuhan rata-rata, penurunan kecepatan fotosintesa, pembengkakan sel, sel menjadi cacat dan ketidakteraturan organella. Lebar S. armatus meningkat dengan nyata akibat perlakuan Cu dan Cd. Pada temperatur inkubasi lSoC ukuran sel S. armatus juga meningkat secara nyata. Pada kadar nitrat dan fosfat tinggi, S. armatus tumbuh lebih cepat daripada pada kondisi stan dar dan pengaruh toksikan menjadi berkurang. Pada temperatur inkubasi rendah S. annatus memperlihatkan pertumbuhan yang lebih larnbat dan dalam beberapahal toksisitas Cd berkurang.Kata-kata kunci: Scenedesmus armatus, copper, cadmium, coenobium, morfologi.
Pengaruh Dosis dan Waktu Penyuntikan Prostaglandin F-2a Terhadap Ovulasi Udang Windu , Penaeus Monodon Fab, Afkir Etty Riani; H M Sjarif Hitam; H M Eidman
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Induk udang windu yang sudah sekali bertelur, sudab dinyatakan afk.ir. Udang afkir ini umumnya berovulasi secara parsial. Dengan pemberian prostaglandin dosis 750-1000 !lg/kg bobot tubuh pada malam hari, udang afkir ini mampu berovulasi secara sempurna dengan kematangan dan diameter telur yang normal. Untuk udang afkir yang telab sekali memijah, interaksi antara waktu penyuntikan pukul 20.00 WIB dengan dosis 1000 ug/kg bobot tubuh memberikan hasil yang lebih baik dibanding yang lainnya.Kata-kata kunci: udang afkir, prostaglandin, pukul 20.00 WIB, ovulasi
Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Agro-Estate Tambak Udang Enang Harris S
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Budidaya udang windu (Penaeus monodon) telah ditetapkanDepartemen Transmigrasi sebagai salah satu Pola Usaha Tani Tambak. Sampai sekarang (Juli 1995) sedikitnya te lah ada dua Tambak Inti Rakyat Transmigrasi yang sudah berjalan; TIR-Trans Jawai di Kalimantan Barat dan TIR-Trans Waworada di Nusa Tenggara Barat. Jauh sebelum kedua TIR-Trans te rsebut ada, hud idaya udang sesungguhnya telah banyak dikembangkan di Indones ia, diawali di daerah-daerah pertambakan ikan bandeng di pantai Utara Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh yang terusberkembang ke daerah-daerah lainnya. Kegiatan tersebut telahberJangsung kurang lebih satu setengah dekade. Pemilihan komoditas udang sesungguhnya merupakan pilihan yang tepat untuk komoditas akuakultur masa sekarang dan yang akan datIng karena sedikitnya 3 hal. Pertama, Indonesia sebagai negara kepulauan yang beriklim tropik basah dengan garis pantai yang sangat panjang, jelas memiliki potensi yang amat besar untuk pengembangan budidaya pantai termasuk budidaya udang windu. Kedua, budidaya udang windu memiliki karakteristik yang sarna dengan ciri-ciri yang diprediksi FAO (1989) sebagai akuakultur masa datang. Ciri tersebut adalah nilai komoditasnya relatif mahal; teknologi budidayanya akan rna kin hemat lahan dan air, serta memperhatikan dampak limbahnya terhadap lingkungan, bahkan estetika; produknya akan bersaing dengan bahan makanan relatif lux lainnya; bahan baku pakannya (khususnya tepung ikan) akan mengalami persaingan yang ketat dengan aktivitas lain. Ketiga, daya serap pasar dunia akan udang windu cenderung terus naik dengan harga yang relatif stabil bahkan cenderung naik. Import udang oleh Jepang dan Amerika (dua negara pengimpor terbesar dunia) dari tahun 1989 sid 1993 berturut-turut 490,27; 509,46; 541,49 dan 572,10 ribu ton (Asian Shrimp news No.9 Tahun 1994). Harga eksport udang Indonesia 1988 US$ 8,81 kg dan menurun pada tingkat terendah tahun 1989 US$ 7,2/kg, tapi tahun 1993 kembali jadi US$ 8,9/kg (Ditjen Perikanan 1994).
An Evaluation Of Marine Shrimp Resource Policy In Indonesia:The Case Of The Trawler Ban Tridoyo Kusumastanto
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

As the largest archipelagic nation in the world, Indonesia has a huge marine resources that is contained in 3.1 million kilometer square (km) territorial waters and 2.5 milliom km2 of 200-mile Exclusive Economic Zone (EEZ).Indonesia also has the world's longest coastline (81,000 km) lying in 13,667 islands straddling the equator. Those resources are veryimportant for the development of marine capture and mariculture fisheries(see Appendix 1).In more recent years, marine resource has become increasi ngly significant as a source of national wealth.The exploitation of petroleum resources in Indonesia waters, combined with land-based operati ons, has made a significant contribution to the Indonesian and has permitted large investments in national and rural development.The fisheries sector also have contributed to Indonesia's export earning, totalling US$ 475.5 million in 1987, shrimp accounted for US$ 352.4 (74.1 %), tuna (including skipjack) US$ 30.9 million (6.5%) and others US$ 92.2 million (19.4%) (DGF, 1990).Within the fisheries, the marine c.1pture sector continues to dominate, accounting for 76% of tonnage (2.029 million ton), and inland water fisheries 24 % of tonnage (.641 million ton) in 1987 .Aquaculture is expanding rapidly especially after "Trawler Ban" in 1980 ) which decreased 21.6 % shrimp exported in 1981. Brackish water aquaculture contributed 28.5 % of shrimp production in 1987 which increased almost I 7.4% per yearsince 1983 but marine shrimp production still constitute the majority of shrimp supplies both domestic consumption and export (64%) .

Page 10 of 19 | Total Record : 183