cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
PERKEMBANGAN ENZIM PENCERNAAN BENIH lKAN GURAME Osphronemus goramy, Lacepede Ridwan Affandi; Ing Mokoginta; Agus Suprayudi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 2 (1994): Desember 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian tentang perkembangan enzim pencernaan benih ikan gurame telah dilaksanakan di laboratorium. Benih ikan gurame yang berumur 10-46 hari dengan ukuran 0,7-2,4 cm dan ikan gurame ukuran 6,59-13,97 cm telah digunakan sebagai bahan untuk analisa aktivitas enzim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas protease, lipase dan amilase meningkat sejalan dengan meningkatnya ukuran benih.Kata-kata kunci : enzim pencernaan, benih, ikan gurame
PENENTUAN JUMLAH ULANGAN DALAM SUATU PERCOBAAN Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 2 (1994): Desember 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Dalam merancang suatu percobaan seorang peneliti seringberhadapan dengan masalah penentuan banyaknya satuan percobaan (ulangan) untuk setiap perlakuan yang akan dicobakannya. Ulangan yang dimaksudkan dalam ulasan ini adalah banyaknya satuan percobaan yang memperoleh suatu perlakuan tertentu. Mengulang atau mencobakan suatu perlakuan sedikitnya dua kali adalah sangat penting, diantaranya: untuk memperoleh dugaan kesalahan percobaan, meningkatkan ketelitian percobaan melalui pengurangan nilai simpangan baku rata-rata perlakuan serta untuk memperluas cakupan inferensia percobaan. Sedangkan banyaknya ulangan diantaranya ditentukan oleh: tingkat ketelitian yang diinginkan, tingkat keragaman satuan percobaan yang akan digunakan, serta saran a dan prasarana termasuk pengamat dan peralatan.
PENGENTASAN KEMISKINAN DI SUB-SEKTOR PERIKANAN Ismudi Muchsin
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 2 (1994): Desember 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Sasaran utama Pembangunan Nasional Jangka Panjang Keduaadalah menciptakan kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia. Sehubungan dengan sasaran tersebut, maka dalam memasuki Pelita VI, kata KEMISKINAN menjadi isu nasional, khususnya dalam menghadapi masalah kemiskinan dari 27 juta penduduk Indonesia, di antaranya dari kelompok nelayan/petani ikan (Pidato Presiden tanggal 14 April 1993 dihadapan Rapat Kabinet Pembangunan VI). Kualitas hidup masyarakat  nelayan/ petani ikan sebagai sumberdaya pembangunan merupakan faktor penting dalam tahapan pembangunan perikanan. Oleh karenanya, kemiskinan masyarakat perikanan tersebut perlu diatasi melalui program-program pembangunan secara menyeluruh. Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) 5/93 kemungkinan merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan dari masyarakat nelayan/petani ikan (Nasution, 1993). Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada, mencari pemecahannya dalam bentuk program-program serta  sasaran dalam upaya pengentasan kemiskinan masyarakat, khususnya nelayan.
Penelusuran Varietas Ikan Gurame, Osphronemus Goramy, Lacepede,Dengan Menggunakan Analisis Komponen utama Kadarwan Soewardi; Rita Rachmawati; Dietriech G Bengen; Ridwan Affandi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya perbedaan populasi ikan gurame berdasarkan karakter morfometrik. Dad S50 contoh ikan yang digunakan, 100 contoh berasal dad Purwokerto, Banyumas (2 kelompok), dan 250 contoh berasal dad Parung, Bogor (5 kelompok). Pengukuran karakter morfometrik dilakukan dengan menggunakan metode morfometrik baku dengan 12 karakter dan metode truss motphometrics (truss morfometrik) dengan 23 karakter. Data yang terdid at as data morfometrik, data nisbah morfometrik dan data truss morfometrik dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama. Hasil Analisis Komponen Utama memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa individu asal Banyumas merupakan satu populasi, dan berbeda dengan populasi yang berasal dad Parung. Di antara grup populasi gurame asal Parung, terdapat dua varietas yaitu gurame bastar dan gurame paris yang memiliki karakter morfometrik berbeda,dibandingkan dengan gurame grup populasi yang lain, yaitu bule, blusafir dan batu.Kata-kata kunci : ikan gurame, vadetas, analisis komponen utama
Habitat dan Makanan Ikan Botia ,Botia Macracanthus Bleeker di Sungai Batanghari , Jambi M F Rahardjo; M Mukhlis Kamal; Djadja S Sjafei
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian telah dilaksanakan pada bulan September dan Oktober 1991 di Sungai Batanghari dan selama penelitian telah tertangkap sebanyak 101 ekor ikan botia dengan kisaran panjang dan berat ikan adalah 56 - 305 mm dan 3,85 - 529,12 gram. Ikan yang tertangkap ini dikelompokkan ke dalam 6 kelompok ukuran panjang: Ikan berukuran besar lebih banyak ditemukan di daerah hulu, sedangkan yang kecil menyebar merata di sepanjang sungai. Terdapat persaingan yang kuat antar kelompok ikan yang berukuran kecil dalam memperebutkan habitat. Makanan ikan botia meliputi Crustacea, Insekta, Nematoda, Moluska dan Algae. Persaingan dalam hal makanan terlihat besar antara kelompok ukuran kecil dengan kelompok ukuran sedang.Kata·kata kunci : botia, luas relung, tumpang tindih relung, habitat, makanan
Distribusi Juvenil Ikan Sidat ,Angguilla spp . di Perairan Segara Anakan , Cilacap, Jawa Tengah Ridwan Affandi; M F Rahardjo; Sulistiono .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui penyebaran juvenil ikan sidat di perairan Laguna Segara Anakan telah dilakukan. Juvenil sidat di tangkap dengan menggunakan alat tangkap "Apong" (trap net) yang ditempatkan di lima stasiun penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Perairan Laguna Segara Anci.kan terdapat dua jenis sidat, yaitu: Anguilla nebulosa nebulosa dan Anguilla bicolor bicolor. A. nebulosa nebulosa lebih dominan daripada A. bicolor bicolor. Kedua jenis ikan sidat ini menyebar hampir merata di kelima stasiun tersebut. Namun puncak kelimpahannya berada dalam bulan yangberbeda.Kata-kata kunci : sidat, distribusi, hubungan panjang berat, faktor kondisi
Pengaruh Salinitas Terhadap Derajat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Sidat (ELVER),Angullia Bicolor bicolor Ridwan Affandi; Etty Riani
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan sidat ( elver) telah dilaksanakan di laboratorium. Benih ikan sidat berukuran 7-10 cm dan berat 125-167 mg dipetihara pada akuariumakuarium yang diisi 10 I air selama 42 hari. Media dengan salinitas 0, 7, 14, dan 21 0/00 digunakan sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas 7 0 / 00 merupakan medium yang terbaik dan memberikan derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang tinggi.Kata-kata kunci : salinitas, benih, derajat kelangsungan hidup.
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN F-2 a P ADA BERBAGAI TEMPAT PENYUNTIKAN TERHADAP OVULASI UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab) AFKIR Etty Riani; H M Sjarif Hitam; H M Eidman
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Induk udang windu yang sudah sekali bertelur, sudah dinyatakan alkir. Udang alkir ini umumnya berovulasi secara parsial. Dengan pemberian prostaglandin dosis 750-1000 ,ug/kg bobot tubuh udang aik.ir ini mampu berovulasi secara sempurna dengan kematangan dan Diameter telur yang normal. Tempat penyuntikan prostaglandin yang paling efektif adalah pada kaki jalan ke tiga. Interaksi antara penyuntikan pada kaki jalan ke tiga dengan dosis 1000 ltg/kg bobot tubuh memberikan hasil terbaik dibanding yang lainnya.Kala-kala kunci : Udang windu afkir ,ovulasi, prostaglandin F-2 a
Penggunaan Data Citra Lansat-TM Hasil Olahan diGital Untuk Pendugaan Sebaran Horizontal Produktivitas Primer di Perairan Kabupaten Subang ,Jawa Barat Setyo Budl Susilo; Inul Adkha; Ario Damar
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang penerapan metode penginderaan jauh dalam menduga sebaran horizontal produktivitas primer. Metode yang dilakukan adalah met ode penggabungan antara data in-situ yang diperoleh dari Survey lapangan dan data citra satelit dari Vmdsat - TM yang didekati secara kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear untuk mengetahui hubungan fungsionalnya. Hasil yang didapat, berupa model hubungan antara konsentrasi klorofil-a dengan produktivitas primer dalam bentuk P=0.006959B (mgC/lt/jam), dimana nilai sebaran horizontal produktivitas primer yang diperoleh pada penelitian ini adalah 0.097-0.124 mgC/lt/jam.Kata-kata kunci : penginderaan jauh, klorofil, produktivitas primer, sebaran horizontal,perairan Pantai
Macrozoobenthos Assemblages In Beds Of The Blue Mussel, Mytilus Edulis L : Effecfs Of Location,Patch Size And Position On Diversity And Abundance Isdradjad Setyobudiandi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Studi keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos pada hamparan Mytilus edulis L. dilakukan di Norsminde dan Kerteminde Fjord, Denmark. Patch dari Mytilus dikategorikan menjadi kelompok keciJ, sedang, dan besar. Tiga posisi ditentukan pada patch yang ben:kuran sedang dan besar, yaitu: tepi, tengah, dan pusat. Tidak ditemukan pengaruh dari posisi terhadap jumJah spesies maupun jumlah spesies maupun jumlah individu mollusca  ustacea, polychaeta, and oligochaeta; akan tetapi pola distnbusi kelompok makrobenthos pada tiap lokasi berbeda berdasarkan ukuran patch.diNorsminde Fjord, jumlah individu kelompok crustacea and oligochaeta berbedaberdasarkan ukuran patch; tetapi kondisi tersebut tidak terdapat di Kerteminde. Mollusca dan polychaeta di Norsminde menunjukkan perbedaan sebaran dalam jumlah spesies,berdasarkan patch, sementara di Kerteminde semua kelompok tidak menunjukkan perbedaan. Secara keseluruhan, total makrobentos menunjukkan perbedaan sesuai dengan ukuran patch. Total bentos yang terdapat pada patch berukuran kecil di Norsminde menunjukkan kelimpahan rendah dlbandingkan terhadap ukuran patch lainnya pada lokasi yang sama. Sedangkan, pada patch kecil di Kerteminde makrobentos terdapat dengan kelimpahan tinggi. Pada kedua lokasi makrobentos pada patch berukuran kecil menunjukkan keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya. Urutan keanekaragaman komunitas (tinggi-rendah) pada tiap ukuran patch di kedua lokasi adalah Patch kecil Patch sedangPatch besar.Kata-kata kunci : makrozoobentos, Mytilus beds, ukuran Patch, keanekaragaman

Page 9 of 19 | Total Record : 183