cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 250 Documents
Search results for , issue "Proceedings of the 20th FAVA " : 250 Documents clear
KIVFA-7 Karakteristik Penyakit Pada Sapi Pesisir Sumatera Barat di BPTUHPT Padang Mengatas Bahagia Sari; Salmon Efendi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.917 KB)

Abstract

Sapi Pesisir merupakan plasma nutfah Sumatera Barat yang menjadi perhatian pemerintah Republik Indonesia khususnya Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk dapat dilestarikan dan dikembangkan dimasyarakat.  Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 2908/Kpts/OT.140/6/2011 menyatakan bahwa sapi Pesisir memiliki karakteristik  khusus dibandingkan sapi lokal lainnya antara lain bentuk kepala yang memanjang, bertanduk kecil, memiliki garis belut dibagian punggung, warnanya coklat sampai merah bata serta kuku hitam dengan sifat kuantitatif (dewasa) bahwa ukuran permukaan tubuh antara lain betina memiliki tinggi pundak 99,2 ± 3,3 cm, panjang badan 109,4 ± 6,7 cm, lingkar dada 125,5 ± 6,3 cm, bobot badan 149,1 ±18,2 cm, ukuran pada jantan tinggi 99,9 ± 4,9 cm, panjang 112,2 ± 9,8 cm, lingkar dada 124,2 ±6,9 cm, bobot badan 162,2 ±25,4.  Persentase kesuburan induk sapi Pesisir 65-70% dengan angka kelahiran 70%, memiliki siklus berahi antara 18-24 hari dengan lama bunting selama 9 bulan, serta sifat produksi dengan daya adaptasi baik dan memiliki kemampuan hidup 85%.Berdasarkan potensi yang dimiliki sapi Pesisir Sumatera Barat, maka pentingnya mengetahui penyakit-penyakit apa saja yang dapat menyerang sapi ini, hal ini untuk mengantisipasi menjaga kesehatan sapi lokal ini sehingga dapat mencegah penyakit yang berbahaya menjangkiti sapi tersebut. Berdasarkan Landasan hukum UU RI No.18 Tahun 2009 dan UU RI No.41 Tahun 2014 tentang Perubahan  UU RI No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Keswan pasal 1 ayat 26 menyatakan bahwa veteriner adalah segala urusan yang berkaitan dengan hewan dan penyakit hewan dan pasal 1 ayat 34 menyatakan penyakit hewan adalah gangguan kesehatan pada hewan yang antara lain, disebabkan oleh cacat genetik, proses degeneratife, gangguan metabolisme, trauma, keracunan, infestasi parasit, dan infeksi mikroorganisme pathogen seperti virus, bakteri, cendawan, dan riketsia.Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis penyakit apa saja yang menyerang pada sapi Pesisir dan bermanfaat  memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyakit yang dapat menyerang pada sapi Pesisir.
KIVFA-8 Studi Kasus: Profil Mineral Makro Pada Sapi Perah Yang Mengalami Retensi Plasenta di Kunak Kabupaten Bogor Retno Wulansari; Anita Esfandiari; Sus Derthi Widhyarti; Chusnul Choliq; Arief Purwo Mihardi; Leni Maylina; . Suryono
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.494 KB)

Abstract

Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya susu sebagai salah satu sumber gizi yang penting berefek terhadap kebutuhan susu nasional terus meningkat pula. Namun kebutuhan yang tinggi ini belum diimbangi dengan produksi susu nasional yang baru mencapai 3.29% per tahun, sehingga kekurangan akan kebutuhan susu ini masih harus diimport dari negara lain. Rata-rata produksi susu di Indonesia dari setiap sapi masih relatif rendah, sekitar 10-12 liter/ekor/hari (Deny 2014). Keterbatasan produksi susu dari dalam negeri ini disebabkan oleh masih belum maksimalnya produksi susu dari setiap sapi perah yang dimiliki oleh peternak di Indonesia.Manajemen pemeliharaan yang baik dalam usaha peternakan sapi perah sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan produksi susu, salah satunya antara lain manajemen pakan. Pakan harus memenuhi unsur-unsur penting diantaranya mineral makro dan mikro dalam jumlah yang secukupnya.Masalah kesehatan yang sering ditemui pada sapi perah awal laktasi umumnya berupa gangguan metabolik, seperti milk fever dan ketosis (Divers & Peek 2008). Hipokalsemia adalah kelainan metabolik dimana mekanisme homeostasis gagal untuk mempertahankan konsentrasi Ca darah normal saat awal laktasi (Chamberlain et al. 2013). Kejadian ini sering didahului dengan kondisi hipokalsemia subklinis pada saat bunting dan kering kandang, tetapi tidak teramati oleh peternak (Goff 2008). Retensi Plasenta merupakan salah satu manifestasi dari gangguan metabolik akibat tidak cukupnya konsentrasi mineral pada hewan post partus. Sapi secara normal akan melepaskan plasenta dalam waktu 3 -6 jam post partus. Retensi atau tertahannya plasenta lebih dari 8 – 12 jam pada induk post partus dapat dipertimbangkan sebagai suatu kondisi yang abnormal (Diver & Peek 2008. Salah satu predisposisi adalah tidak adanya program manajemen pakan atau pemberian suplemen mineral yang tidak tepat, sebagaimana disajikan pada studi kasus berikut.
PF-21 Burkholderia cepacia Infection in Python reticulatus Steven Dwi Purbantoro; Erika Erika; Puveanthan Nagappan Govendan; Yedija Putra Kusuma Wardana Rumbay; Aida Louise Tenden Rompis
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.772 KB)

Abstract

Boids kept as exotic pets nowadays has increased in recent decades [1]. Its popularity has increased in Indonesia. Without proper husbandry, snakes have higher risk for infection, such as respiratory infection. Respiratory infections are common in captive snakes that could cause severe illness leading to death [2]. Many etiologies say respiratory infection in snakes, are mainly caused by bacteria. Microbiology test is one of the diagnostic method which could be performed to diagnose for a better treatment to identification the cause of the infection. API 20NE kit is a choice. Burkholderia cepacia is a bacterial infection which could occur in pythons. This case reports Burkholderia cepacia finding in a Python reticulatus that had respiratory infection.Burkholderia cepacia Infection in Python reticulatus
PF-22 Reproductive Disorder in Cows: Data Analisys of UPSUS SIWAB in Lima Puluh Kota District, 2017 Eka Oktarianti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.589 KB)

Abstract

The Ministry of Agriculture has declared Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) to optimizing the potential of breeding cows and increase population (Ministry of Agriculture 2016). The success of Upsus Siwab program depends on a number of areas, namely land availability, decreased reproductive disorder, availability of frozen semen, availability of liquid N2, competent inseminator, and rescue of productive females (Ministry of Agriculture 2016). Animal health plays an important role in supporting the success of population increase [1], so that reproduction disorder activities are among the activities that contribute to the success of the Upsus Siwab program.                The implementation of reproductive disorder in Upsus Siwab is reported through the Integrated National Animal Health Information System (ISIKHNAS). The data can be a source of information to assess the performance results of animal health officers and to know the proportion of cured and pregnant cows after reproductive disorders are handled.                This paper aims to study the incidence of reproductive disorders on cows in Lima Puluh Kota District in 2017. The results of these studies are expected to serve as a basis for policy making for subsequent activities.
KIVMP-1 Prediksi Epitop OMP 36 kDa Brucella abortus Isolat Lokal terhadap Respon Imun Seluler Wiwiek Tyaningsih; Fedik A Rantam
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.989 KB)

Abstract

Brucellosis pada hewan disebut Bang’s Disease atau Penyakit Keluron Menular disebabkan oleh bakteri yang tergolong genus Brucella, bersifat fakultatif  intraselular sehingga pengobatan pada hewan yang terserang Brucellosis tidak efektif (Quinn et al., 2002).  Brucellosis bersifat zoonosis dan pada sapi disebabkan oleh Brucella abortus.  Brucellosis merupakan salah satu penyakit penting pada dunia peternakan, karena Brucellosis dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar berupa abortus (keguguran) pada hewan yang sedang bunting (gravid), penurunan produksi susu, bahkan dapat mengakibatkan gangguan reproduksi baik yang besifat temporer maupun permanen (Noor, 2006). Menurut Hidayat (2010) Brucellosis menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 385 miliar per tahun karena adanya keguguran, kematian pedet, sterilitas, infertilitas dan penurunan produksi susu.Kejadian Brucellosis di Indonesia cenderung semakin meningkat baik dari segi jumlah (tingkat prevalensi) maupun dalam penyebarannya (distribusi). Hal ini terjadi karena adanya perpindahan ternak dari satu daerah ke daerah lainnya, sehingga pada akhirnya dapat menjadi ancaman yang merugikan bagi perkembangan dibidang peternakan khususnya sapi perah.Penggunaan vaksin Brucella  abortus S19 selama ini belum mencapai hasil yang optimal dalam upaya penanggulangan kasus Brucellosis pada sapi perah (Noor, 2006),  diduga tingkat proteksi vaksin yang digunakan masih jauh dari harapan yaitu hanya sekitar 65 – 70%.  Hal tersebut berdasarkan dari hasil evaluasi di lapangan, menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan adanya kasus Brucellosis yang sangat tinggi pada peternakan sapi perah di Indonesia.OMP merupakan antigen potensial yang secara langsung dapat menginduksi respon imun humoral sehingga lebih cepat dapat memacu terbentuknya antibodi (Forestier et. al. 2005). OMP Brucella abortus yang terdiri dari kompleks asam amino merupakan peptida yang dapat bersifat sebagai epitop atau antigenic determinant, sehingga dapat dikembangkan sebagai kandidat vaksin untuk pemberantasan penyakit Brucellosis (Macedo et. al., 2011).Cloeckaert et al.,(2002) dan Salehi et al., (2003) melaporkan bahwa gen yang menyandi OMP 36 sampai 38 kDa adalah Omp2.).  OMP pada bakteri Gram negatif bersifat imunogenik karena mampu menginduksi respon imun sehingga dapat digunakan sebagai komponen pengembangan vaksin subunit (Shomshekhar et. al., 2014).Penggunaan bakteri Brucella abortus yang berasal dari isolat lokal baik untuk seed vaksin maupun bahan diagnostik saat ini sedang dikembangkan karena selain untuk mengurangi ketergantungan impor juga sama dengan penyebab penyakit di lapangan. OMP 36 kDa Brucella abortus isolat lokal mempunyai sifat sebagai bahan yang imunogenik dan protektif seperti yang dilaporkan oleh Handijatno dan Tyasningsih (2014)  bahwa OMP Brucella abortus isolat lokal yang mempunyai reaktivitas tinggi adalah OMP dengan berat molekul 36 kDa. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui prediksi epitop yang merupakan faktor virulensi pada OMP 36 kDa Brucella abortus isolat lokal.
PF-23 Canine Pancytopenia with Normocytic-Normochromic Anemia: Case Reports in Three Dogs [2016-2017] L Maylina; D Sajuthi; S Widodo; A Esfandiari; S D Widhyari; R Wulansari; R P A Lelana; A Wijaya; C Choliq; A P Mihardi; S Komariah; R C Saleh; J Dumayanti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.607 KB)

Abstract

Canine pancytopenia is a disease that occurs in dogs caused by a decrease in the number of erythrocytes, leukocytes and thrombocytes/platelets in the blood. Canine pancytopenia often attacks dogs that live in the tropic climates. The diseases can be caused by an agent infection, excessive cell proliferation and through an immune intermediary. A decreasing in the number of erythrocytes followed by a decreasing of hemoglobin and hematocrit causes anemic condition. Non-regenerative anemia that often occurs when pancytopenia is normocytic-normochromic anemia [1].
PF-24 Ringworm on Sapi Bali at Baumata Timur Village Yohanes TRMR Simarmata; Max Urias Ebenhaizer Sanam; Lucyan Maria Azi Owa Milo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.479 KB)

Abstract

Skin is the largest organ in the body, represent 12-14% of the body. Viruses, fungi, algae and parasites are the common cause of skin disorders. The conditions that affect skin are characterized by alopecia, pruritic, dermatitis, and the presence of nodules, crusty lesions or scabs. The main cause of dermatosis or inflammation of the skin in human and many of animal species is dermatophytes, and the infection is called dermatophytosis. The distribution of ringworm is worldwide but the incidence reported frequently in tropical and subtropical countries (Pal, 2017).  Ringworm is a keratinophylic fungal disease, highly contagious to humans and caused significant economic consequence to the farmers (Karabulut and Canpolat, 2016). Generally speaking, there are three groups of dermatophytes based on their habitat and host preferences (Akbarmehr, 2011). 
PF-25 Cub Scout Leader Gathering for Zoonoses Awareness: A model for Community Participatory Program for Zoonotic Diseases Control in Indonesia Fadjar Satrija; Sri Murtini
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.523 KB)

Abstract

Outbreaks of zoonotic diseases such as avian influenza and rabies during the last decade have caused fatalities and fear among people in Indonesia. The Government of Indonesia, the World Health Organization (WHO), the Food and Agriculture Organization (FAO), as well as other international and domestic NGOs have been working together to control those diseases and prevent human pandemic. However, the zoonotic disease control programs will not succeed without active participation of local communities including young people.Indonesia Scout Movement (Gerakan Pramuka) is a non-formal educational organization having more than 20 million members that serve educational process outside the school and outside the family using basic principles and methods of scouting (GOI 2010). Members of Gerakan Pramuka consist young people of different age categories namely  Cub Scouts/Siaga (ages 7 to 10 y.o), Scouts/ Penggalang (ages 11 to 15 y.o), Rover Scouts/ Penegak  (ages 16 to 20 y.o), Pandega (ages 21 to 25 y.o), and Adult members/Pembina  (ages > 25 y.o, or married person).Nowadays, Gerakan Pramuka has more than 20 millions members distributed in all districts in Indonesia, and thus may become a potential media to enhance young people awareness on zoonotic diseases control programs. Dissemination of information on the diseases and its prevention can be done through scout regular events such as Pesta Siaga  (Cub Scout Gathering), Jamboree (Scout Gathering), Raimuna (Rover Scout Gathering), and Karang Pamitran (Adult Scout member Gathering).Faculty of Veterinary Medicine, IPB, in collaboration with IPB Student Scouting Activity Unit, has developed a model for the community participatory program for zoonotic diseases control in Indonesia through scouting activities. Cub Scout Leader Gathering for Avian Influenza Awareness is a scout event that designed as a method for dissemination of information regarding prevention of avian influenza transmission to school age children and their relatives.
PF-26 The Use of Endemic Sulawesi Medaka Fish (Oryzias celebensis) as an animal model candidate Dwi Kesuma Sari; Irma Andriani; Khusnul Yakin; Magfira Satya
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.095 KB)

Abstract

        Medaka fish (Oryzias sp) or also known as "rice fish" are non-consumption fish or ornamental fish that are in great demand by humans. Medaka fish is an animal model that is very well known and has been widely used by researchers in the world for studies in various fields of science, especially biology and medicine, as well as Zebras which have been developed as model animals. Medaka fish also used as animal models for testing Parkinson's disease caused by environmental pollution and genetic factors. Several types of mutant medaka fish have also been made for screening diabetes, cancer and other degenerative diseases.                    From the exploration results, the researchers showed that Sulawesi has a high endemism especially for the family Adrianichthyidae. The high endemism is not only supported by zoogeographic boundaries as islands located on the Weber line and Wellacea lines, but also because of this fish that are traded so that the chance of migrating this fish is small. These facts underlie the statements of several researchers that fish medaka can reveal the mystery of the evolution of aquatic fauna in Sulawesi.                    As an effort to develop Sulawesi Medaka fish (Oryzias celebensis) as a model animal, studies have been conducted with various histology studies with various staining methods in Sulawesi medaka fish so that Hasanuddin University is expected to be a gateway for researchers to obtain information about Medaka fish in the Sulawesi islands and as a center for learning fish medaka.
KIVMP-2 Analisis Patotipe Virus H5N1 Clade 2.3.2.1c yang Bersirkulasi di Provinsi Lampung Tahun 2016-2017 Arif Setiani Wahyuning Tyas; Hastary Wuryastity; Raden Wasito
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.046 KB)

Abstract

Avian influenza (AI) merupakan penyakit infeksius disebabkan oleh virus influenza tipe A dari famili Orthomyxoviridae (Boyce et al., 2009) yang berpotensi menyebabkan kerugian bagi dunia perunggasan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Virus AI memiliki 8 segmen gen yang berbeda yang mengkode 10 jenis protein virus yang berbeda. Struktur protein dalam virion dewasa dapat dibagi menjadi protein permukaan dan protein internal. Termasuk ke dalam protein permukaan adalah hemaglutinin (HA), neuraminidase (NA), dan membran kanal ion (M2), sedangkan protein-protein internal meliputi nukleoprotein (NP), protein matriks (M1), dan kompleks polimerase yang tersusun dari polimerase basa 1 (PB1), polimerase basa 2 (PB2), dan polimerase asam (PA). Dua protein tambahan lainnya adalah protein nonstruktural 1 (NS1) dan nonstruktural 2 (NS2) (Lee dan Saif, 2009).Virus influenza A dikelompokkan berdasarkan dua antigen permukaan virus, yaitu protein hemaglutinin (HA) dan protein neuraminidase (NA), yang sampai saat ini telah ditemukan 18 HA (H1-H18) dan 11 NA (N1-N11)  (Tong et al., 2013; Heider, 2015). Hemaglutinin (HA) memiliki fungsi utama untuk menginisiasi infeksi, berinteraksi dengan reseptor asam sialat sel hospes (Edinger et al., 2014) serta menentukan patogenisitas virus AI H5N1 (Li et al., 2011).Wabah highly pathogenic avian influenza (HPAI) subtipe H5N1 pertama kali dilaporkan pada unggas di Indonesia pada tahun 2003. Kejadian wabah penyakit antara periode 2003-2004, virus-virus H5N1 di Indonesia masih merupakan clade 2.1. Dua tahun kemudian setelah kejadian wabah pertama, clade 2.1 berkembang menjadi tiga sublineage virus, yaitu clade 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3 (Anonim, 2008). Sub-clade 2.1.2 terdiri dari virus-virus yang menginfeksi unggas dan manusia. Sub-clade 2.1.3 berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari kasus fatal pertama H5N1 di manusia di Indonesia pada tahun 2005 (Parry, 2005). Sejak tahun 2008, virus-virus clade 2.1.1 dan 2.1.2 tidak lagi dijumpai baik pada unggas dan manusia, sedangkan virus-virus dari clade 2.1.3 terus berkembang menjadi tiga kelompok virus baru, hasil evolusi dari sub-clade 2.1.3 membentuk sub-clade baru yang masih termasuk dalam sub clade 2.1.3 (Takano et al., 2009) yaitu sub-sub-clade 2.1.3.1,  2.1.3.2  dan  2.1.3.3 (Wibawa et al., 2014). Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis clade dan patotipe pada virus AI clade 2.3.2.1c yang bersirkulasi di Lampung pada tahun 2016-2017.