cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 250 Documents
Search results for , issue "Proceedings of the 20th FAVA " : 250 Documents clear
MP-15 Characterization of Infectious Bursal Disease Isolate with Propagation in Chicken Embryonated Eggs and Molecular Biology . Syamsidar; Arini Nurhandayani; Steffi Ong; Aprilia Kusumastuti; Ardi Budi Prakoso; Gusti Ayu Yunanti Kencana
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.848 KB)

Abstract

Infectious Bursal Disease (IBD), also known as Gumboro disease is one that has an adverse economic effect. This disease is a threat to the poultry industry (Mueller, 2003). Deaths in chickens caused by IBD can even reach 100%. Outbreaks remain widespread despite vaccination programmes (Soedoedono, 2001). In Indonesia, the IBD disease is the cause of high death rates in poultry from the very virulent IBD (vvIBD) throughout the year 2014. Prevention of the disease can be done through vaccination. However, a tight vaccination programme so not ensure the safety of poultry from IBD. Therefore, there is a need for a vaccine strain to be suitable with those in the field. This can be accomplished with collecting virus isolates from the field and identifying the suitable vaccine strain. The purpose of this research is to characterize virus IBD isolates through propagation in embryonated chicken eggs. In addition, molecular methods will be used from PCR to identification with sequencing.
MP-16 Characterization of Avibacterium paragallinarum Caused Infectious coryza/Snot: Satellite Colony Phenomenon Agnesia Endang Tri hastuti Wahyuni; Charles Rangga Tabbu; Sidna Artanto; Tati Aryani; Vinsa Cantya Prakasita
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.497 KB)

Abstract

Infectious coryza (IC) is an acute upper respiratory disease of poultry that can appear in all ages. Some of clinical signs that are commonly seen in IC are rhinitis, facial swelling or edema, lacrimation, anorexia, and retarded growth in young poultry [1.2.3]. The disease can be found worldwide, especially in tropical countries [4]. Infectious coryza is very important in the chicken farm industry in developed and developing countries, including Indonesia [5]. The large economic losses due to IC such as increased number of culling, decreased egg production (10-40%), decreased body weight, stunting growth, and some mortality (2-10%) [4].Avibacterium paragallinarum which was previously classified as Haemophilus paragallinarum is a causative agent of infectious coryza in laying and broiler chickens, quail, pearl chicken, turkey, and peacocks [4,6,7,8]. The bacteria is commensal in the mucous membrane of the upper respiratory system, is sensitive to preservation and does not last long outside the host body [8]. Factors X and V are needed for the growth of several types of A. paragallinarum. According to in vitro growth requirements, A. paragallinarum can be either nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) independent or NAD-dependent. The reduced form of NAD (NADH; 1.56-25 µg/ml) and the oxidized form (20-100 µg/ml) is required for in vitro growth in most isolates A. paragallinarum that show satellitic colony on a medium [9]. The description of the need for V factor of field isolates A. paragalinarum has been few reported. The aim of this research is to find out the phenomenon of satellite colonies from a variety of poultry isolates.
MP-17 Avian Influenza Virus-H5N1 Is Circulating Among Backyard Chicken in Marga District, Tabanan Regency, Bali Gusti Ayu Yunianti Kencana; I Nyoman Suartha; I Made Kardena
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.409 KB)

Abstract

Avian Influenza or bird flu is ani nfectious pandemic disease (Horimoto and Kawaoka, 2001). AI viruses can cause high mortality in poultry and infect humans in Indonesia (Daniels et al., 2013). Pet and backyard animals can be infected with the HPAI-H5N1 virus (Mahardika et al., 2018).  Monitoring of the virus needs to be done so that the Avian Influenza outbreak casesare not occurred. Isolation of AI virus can be done on 9-day-old hatched chicken eggs injected through the allantois’ space. The virus can be tested by hemagglutination (HA/HI) and Reverse Transcriptase Polymerase Chain Rection (RT-PCR) tests (FAO, 2014).
MP-18 The use of Antibiotics in Small-Scale Duck Farm at Mojokerto District, East Java Nurul Hidayah; Heru Tristiono; Tutik Surjaningdyah; Agus Hardjito; Erry Setyawan; Alfred Kompudu; Ady Harja Sukarno; Erianto Nugroho
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.273 KB)

Abstract

Duck is a type of commercial poultry, farmed traditionally by herding transiently or intensive farming by the community. In general, the herding duck looks for food at the surface of rice field and from rice stem. The problem often occurred on these herded ducks were feed poisoning because the extensive use of pesticide in rice field, therefore the traditional   farming had become riskier. The careless use of drugs in handling health problems in duck, such as the administration of antibiotics to all livestock within one group. The objective of this study is to identify the use of antibiotic in duck farm.
AEVI-1 Investigasi Outbreak Penyakit Antraks di Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2016 Isnaniah Beganda; Wiwik Dariani; Dini Wahyu Yudianingtyas
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.816 KB)

Abstract

Investigasi wabah terhadap dugaan penyakit hewan infeksius (antraks) dilaksanakan sebagai tindak lanjut adanya kematian mendadak pada sejumlah ternak sapi dan kambing di Kecamatan Campalagian dan Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar. Antraks merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis yang bersifat zoonosis. Bacillus anthracis merupakan kelompok bakteri yang memiliki arti penting dalam aspek ekonomi, lingkungan, medis maupun kemanan biologis (Pilo dan Frey, 2011).Tujuan penyidikan adalah untuk melakukan identifikasi agen penyebab dalam rangka peneguhan diagnosis; identifikasi faktor risiko dan sumber penularan; serta merumuskan rekomendasi dan melaksanakan tindakan pengendalian di wilayah wabah.
AEVI-2 Investigasi Outbreak Bovine Bruselosis di Pulau Bengkalis Tahun 2018 Nur Azzahrawani; Eno Martalina; S Herman; Almuja Adillah
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.106 KB)

Abstract

Brucellosis adalah penyakit yang menular dari hewan ke manusia terutama melalui kontak langsung dari hewan terinfeksi, minum susu dari hewan terinfeksi dan menghirup udara yang tercemar oleh bakteri penyebab Brucellosis yaitu Brucella sp. Brucellosis memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat di hampir seluruh negara (Noor, 2006).Indonesia memiliki 33 propinsi, namun hanya 10 propinsi yang dinyatakan bebas dari Brucellosis pada hewan, yaitu Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan seluruh pulau Kalimantan.Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh brucellosis sangat besar, walaupun mortalitasnya kecil. Pada ternak kerugian dapat berupa kluron, anak ternak yang dilahirkan lemah, kemudian mati, terjadi gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran yang permanen. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi ataupun secara tidak langsung dengan lingkungan yang tercemar. Tingginya populasi serta sanitasi dan higiene kandang yang kurang memadai memudahkan penularan penyakit melalui kontak langsung Beberapa faktor- faktor yang berhubungan dengan infeksi brucellosis pada ternak yakni faktor populasi ternak, tipe managemen pemeliharaan, dan biologi dari penyakit brucellosis.Tujuan kegiatan adalah a. Untuk mengetahui sumber penularan penyakit, b. Untuk mengetahui faktor - faktor resiko terjadinya penyakit, c. Untuk melakukan konfirmasi dan verifikasi diagnosa penyakit d. untuk melakukan pengendalian terhadap penyakit
AEVI-3 Investigasi Outbreak Rabies di Kabupaten Donggala Tahun 2018 . Alfinus
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.271 KB)

Abstract

Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (bersifat zoonosis). Rabies disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan terinfeksi dan ditularkan melalui luka gigitan atau jilatan. Rabies sangat penting artinya bagi kesehatan masyarakat, karena apabila penyakit tersebut menyerang manusia (zoonosis).Bulan Februari 2018 Balai Besar Veteriner Maros menerima informasi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Sulawesi Tengah bahwa terdapat kasus gigitan manusia oleh Hewan Penular Rabies (anjing) di kabupaten Donggala sehingga Balai Besar Veteriner Maros menurunkan tim investigasi (tanggal 13-15 Februari 2018) yang terdiri dari Drh Alfinus dan Sukri dengan Nomor Surat Perintah Tugas No: 0578/TU.320/F5.G/02.18 untuk melakukan penyidikan penyebab anjing mengigit manusia.Tujuan investigasi ini adalah untuk melakukan konfirmasi dan verifikasi kasus penyakit, mengidentifikasi sumber penularan kasus, mengetahui kronologis kejadian kasus dan factor resikonya serta memberikan saran dalam pengendalian
AEVI-4 Investigasi Outbreak Orf di Kabupaten Bulungan Tahun 2018 Arif Supriyadi; . Mariyana; Elfa Zuraida; . Fakhrurriyadi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.29 KB)

Abstract

Beternak kambing banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan untuk meningkatkan pendapatan dan sumber bahan makanan protein hewani. Problem utama yang sering dialami oleh peternak adalah adanya wabah penyakit menular yang menimbulkan kerugian dan kepanikan.  Salah satu penyakit viral yang biasa menginfeksi kambing adalah Orf.Orf atau Ektima Kontagiosa adalah sejenis penyakit kulit sangat menular yang disebabkan oleh virus dari genus virus parapox dari keluarga virus Poxviridae (Fauquet dan Mayo, 1991) menginfeksi kambing dan domba. Gejala klinis orf adalah terjadi lesi - lesi pada kulit di sekitar bibir/mulut, terutama di sudut bibir. Penularan orf melaui kontak langsung antara hewan terinfeksi dengan hewan peka dan tidak langsung melalui bahan/alat atau lingkungan yang tercemar virus orf. Cara virus penyakit orf masuk ke dalam tubuh hewan yaitu melalui luka-luka kecil seperti goresan-goresan yang terjadi pada kulit akibat rumput yang tajam/duri atau luka karena proses mekanik lainnya (McKeever dkk ., 1988). Tanggal 28 Mei 2018 dilaporkan adanya  kematian 3 ekor kambing Bulungan Kalimantan Utara dengan gejala klinis erosi pada mulut meliputi  bibir, gusi, pipi, rongga mulut  dan  kuku,  Balai Veteriner melakukan investigasi  kasus penyakit tersebut untuk adalah untuk mengetahui sumber atau penyebab penyakit, faktor resiko, gejala klinis  dan saran pengendalian  melalui pengumpulan data epidemiologis dan pengambilan sampel di lokasi kejadian.
AEVI-5 Investigasi Outbreak Kematian Babi Diduga CSF dari Laporan Prioritas ISIKHNAS ID Kasus 18369843 di Provinsi Jawa Tengah pada Bulan Mei 2018 Basuki R Suryanto; Ari Dewi; P Bagoes; Nur Cahyo; . Sutopo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.612 KB)

Abstract

Agen penyebab hog cholera adalah virus single stranded Ribonucleic Acid (ss-RNA) dari genus Pestivirus termasuk famili Flaviviridae. Virus HC berada dalam genus yang sama dengan virus bovine viral diarrhea (BVD). Virus berbentuk bulat helikal atau tidak teratur dan berukuran antara 40-50 nm dengan nukleokapsid berukuran 29 nm. Penyakit HC ini menyerang di segala umur, bersifat akut, sub akut, kronis ataupun subklinis. Kasus penyakit HC memiliki tingkat morbiditas dan mortaliltas yang tinggi. Masa inkubasinya berkisar antara 2-6 hari, dengan gejala klinis berupa demam tinggi 41-42oC, hilangnya nafsu makan, radang selaput lendir mata, disertai leleran air mata dan leleran air hidung, diare berwarna kekuningan, timbul bercak-bercak keunguan di daerah abdomen dan telinga, dan kematian biasanya terjadi antara 10-20 hari, tetapi apabila hewan bertahan lebih dari 30 hari maka jalan penyakitnya akan menjadi kronik (Musser, 2006).Tujuan penyidikan adalah untuk menentukan definisi kasus, mengumpulkan data dan informasi, melakukan pengambilan dan pengujian sampel,mengidentifikasi kemungkinan sumber/ rute infeksi, faktor risiko, analisis data serta pemberian saran tindakan pengendalian. Penyidikan dilakukan terhadap kasus kematian pada Babi di desa X, kecamatan Z, Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan laporan kasus Penyakit Prioritas ( P ) Isikhnas dengan id kasus 18369843.
AEVI-6 Investigasi Outbreak Bovine Bruselosis pada Peternakan PT. X di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Siak Tahun 2018 Dewi Anggreini; Helmi Khrisstiani; . Guswandi; Ely Susanti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.905 KB)

Abstract

Bruselosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder menyerang berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal pula sebagai penyakit keluron menular atau penyakit Bang (Bang disease) (Anonimus, 2014). Provinsi Riau dinyatakan bebas bruselosis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 2541/Kpts/PD.610/6/2009 Tentang Pernyataan Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau Bebas dari Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada Sapi dan Kerbau.PT. X adalah sebuah perusahaan sawit yang berada di dua lokasi yaitu di Desa Bina Baru Kabupaten Kampar dan Desa Libo Jaya Kabupaten Siak. Di kedua lokasi perusahaan tersebut terdapat peternakan sapi yang dikelola oleh 1 orang manajer peternakan dan 1 orang petugas kesehatan hewan yang bertanggung jawab untuk kedua peternakan, dibantu oleh pekerja kendang pada setiap peternakan. Pada akhir Maret 2018 telah dilakukan uji RBT terhadap sampel dari peternakan PT. X Desa Bina Baru yang diperoleh hasil positif.Tujuan kegiatan adalah melakukan (1) penelusuran terhadap hasil pengujian positif (+) RBT sampel yang diuji di laboratorium UPT Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, (2) mencari sumber penularan dan faktor risiko masuknya bruselosis ke Kabupaten Kampar, (3) untuk mengidentifikasi pola penyebaran bruselosis di Kabupaten Kampar, (4) memberikan rekomendasi pengendalian outbreak.

Page 3 of 25 | Total Record : 250