Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora was founded in 2001 with the aim of seeking a new scientific ethos in the humanities with an interdisciplinary, political, and textual spirit. It was, and still remains, the aspiration of Retorik to foster humanities research with a scientific ethos capable of responding to the needs of the Indonesian society that continues to strive to become more democratic, just, and pluralistic in the aftermath of long authoritarian rule, under social, economic, and political conditions still characterized by inequality. In its interdisciplinary spirit, Retorik has drawn insights from an array of disciplines, most notably, political economy, language (including semiotics), and psychoanalysis, to that end. As various managerial requirements stifle the passion for academic and intellectual life, while simultaneously in the broader Indonesian society, the ideals of Reformation are frustrated by political and economic oligarchy that continues to exist with impunity, Retorik affirms the need to defend a scientific ethos at present, for the future. In light of its aims, Retorik promotes original research that makes advances in the following areas: 1. Historically-informed studies that engage with the conditions, contexts, and relations of power within which the humanities were born, and with which the humanities are entwined. 2. Dialogues with various disciplines in the humanities and social sciences, including history, sociology, psychology, and anthropology. 3. Interdisciplinary research pertaining to critical pedagogy, religious and cultural studies, art studies, and new social movements. 4. Experimentation with new forms of knowledge that foster the formation of a more democratic, just, and plural society. 5. Studies that are sensitive to the vital role of both technology and art in contemporary society and seek to understand the ways in which art, technology, and economy together contribute to the formation of contemporary cultures and societies.
Articles
112 Documents
Nasionalisme Parsial dalam Film Nawi Ismail
Umi Lestari
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (360.58 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v9i2.3884
Artikel ini membahas isu nasionalisme parsial dalam karya-karya film Nawi Ismail. Penulis memeriksa bagiamana film Nawi Ismail membicarakan identitas kebangsaan dalam kerangka Lacanian. Tujuannya adalah untuk menjabarkan cara Nawi Ismail menunjukkan proses pembentukan identitas bangsa sekaligus menunjukkan batasannya. Ada tujuh film yang dianalisa dalam artikel ini. Pembahasan dalam artikel ini terbatas pada pembentukan tatanan simbolik, penjabaran fantasi, dan penghadiran jouissance. Tujuh film Nawi Ismail yang dibahas dalam artikel ini menyiratkan bahwa fantasi memiliki batasannya sendiri. Identitas bangsa yang total itu mustahil karena tatanan simbolik selalu memiliki lack.
Retorika Visual dan Identitas: Hantu Sebagai Simbol Komunitas Musik "Underground" di Surakarta
Albertus Rusputranto Ponco Anggoro
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (801.926 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.417
Artikel ini menguraikan mengenai fenomena kelompok musik metal yang menghadirkan hantu sebagai retorika visual pembentuk identitas komunitasnya. Citra hantu digunakan terkait dengan sejarah kelompok musik yang tidak terlepaskan dari pengaruh black metal atau yang dikenal dengan musik underground. Komunitas musik black metal menampilkan hantu sebagai ikon kelompok. Meski kelompok musik black metal di Indonesia terpengaruh oleh kelompok di negeri lain, namun mereka memodifikasi simbol atau ikon-ikon hantu yang dipergunakan dengan citra dan citarasa lokal. Seperti kelompok musik Makam atau Bandosa yang terdapat di Surakarta, mereka menciptakan syair, perhiasan yang dipakai dalam atraksi pemanggungan, logo, foto-foto serta artikel-artikel yang diperjual belikan sarat dengan soal dunia roh-roh gentayangan yang dikenal di masyarakat Jawa. Pemakaian ikon dan simbol-simbol yang mengerikan dan menjijikkan dalam penampilan dan pementasan mereka menggugat pemahaman tentang estetika yang secara umum dipandang berlawanan. Namun justru di situlah estetika komunitas underground diciptakan dan dinikmati. Di samping itu, kreatifitas dalam ranah ini sekaligus menyalakan daya hidup tradisionalisme di tengah arus modernitas global, di antara tren kebudayaan populer.
Makna Perjuangan Rakyat Kecil: Studi Foto Revolusi Kemerdekaan dari IPPHOS
Thomas Cahyo Susmawanto
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 9, No 1 (2021): Praktik, Artikulasi, dan Dinamika Budaya Visual
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (442.98 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v9i1.4569
Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, fotografer-fotografer IPPHOS memotret berbagai kegiatan rakyat kecil. Mereka memotret rakyat kecil tentang aktivitas dan kondisi mereka di saat pemerintah kolonial Belanda menekan Indonesia. Tesis ini melihat makna yang hendak disampaikan oleh fotografer-fotografer IPPHOS lewat karya foto mereka tentang rakyat kecil pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Dengan menggunakan konsep Roland Barthes artikel ini bertujuan mencari makna yang disampaikan oleh fotografer-fotografer IPPHOS melalui citra perjuangan rakyat kecil. Tiga kesimpulan yang didapat dalam tesis ini adalah pertama, melalui foto-foto tentang rakyat kecil fotografer-fotografer IPPHOS hendak menyampaikan makna perjuangan, kerja keras, gotong royong dan tekun dalam bekerja. Kedua, citra perjuangan rakyat kecil dalam foto adalah bekerja dengan penampilan yang telanjang dada, pakaian kotor dan sobek-sobek. Ketiga, becak merupakan bagian alat transportasi yang digunakan oleh rakyat kecil dalam mencari penghasilan dimana keberadaannya menurun dan tersingkirkan.
Satu Dekade Jadi Rumpun Terasing : Narasi Identitas dan Kekerasan Jemaat Ahmadiyah di Lombok
Nurhikmah Nurhikmah
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 5, No 1 (2017): Agama dan Praktik Hidup Sehari-hari
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (611.053 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v5i1.1518
Sejak masuk ke Indonesia, Jemaat Ahmadiyah selalu mengalami kontroversi, tak terkecuali di Lombok. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Lombok, telah menjadi sasaran kekerasan sejak 1998-2010 lalu. Akibatnya, bermukimlah mereka di Asrama Transito selama 7 tahun ini sebagai pengungsi. Peristiwa kekerasan menunjukkan adanya aktor yang bermain sebagai kelas hegemonik dalam mempengaruhi wacana tentang kesesatan Ahmadiyah di tengah masyarakat, antara lain Tuan Guru dan tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ahmadiyah, oleh beberapa elemen, dianggap telah merebut jouissance dari umat Islam mainstream. Sebagai sasaran dari tindak kekerasan, JAI bukanlah muncul sebagai korban semata. Bersama dengan pengurus dan pemimpin organisasinya, JAI khususnya di Lombok melawan dengan caranya sendiri. Jihad dengan pena, itulah cara mereka melakukan counter hegemony dalam perlawanannya. Mereka menangkis segala tuduhan dan fitnah yang dianggap telah membentuk identitas JAI di tengah masyarakat, terutama umatIslam di Indonesia. Di satu sisi, sebagian kelompok dan ormas Islam menyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran sesat dan bukanlah bagian dari Islam. Namun, di sisi yang lain, JAI mati-matian menunjukkan identitas mereka sebagai orang Islam. Atas hal tersebut, kajian ini ingin menunjukkan bentuk-bentuk pertarungan hegemoni serta pola-pola yang menentukan identitas JAI di Lombok sebagai subjek atau gerakan sipil keagamaan.
Ki Enthus Susmono: Dhalang Edan Membangun Kebaruan
Hariyanto Hariyanto
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (401.42 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v9i2.3903
Artikel ini menganalisis performativitas Ki Enthus Susmono melalui pengamatan beberapa rekaman pertunjukannya terdahulu dengan menggunakan gagasan performativitas Shoshana Felman dalam bukunya, The Scandal of The Speaking Body: Don Juan with J.L. Austin, or Seduction in Two Languages. Hasilnya, ditemukan adanya kemiripan antara tindakan janji dan rayuan yang dilakukan oleh J.L. Austin, Don Juan dan Ki Enthus Susmono. Tindakan janji melalui rayuan yang berulang kali dilakukan kemudian berulang kali digagalkan, melahirkan performativitas. Ki Enthus Susmono berhasil membangun performativitasnya sebagai dalang edan melalui strategi representasi seni postmodern yang eklektis, parodi, dan ironi. Strategi ini menunjukkan realitas tindakan tubuhnya yang telah diproduksi berulang-kali untuk menghasilkan efek tertentu sehingga menjadi kebiasaan dan kekhasan atau mitos. Melalui performativitasnya tersebut, Ki Enthus Susmono menunjukkan keberhasilannya membangun penanda kebaruan gagrag pedalangan.
Respon Guru Sejarah Sekolah Menengah Atas Yogyakarta Terhadap Wacana Alternatif Tragedi Kemanusiaan 1965
Kartika Pratiwi
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1680.985 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i1.171
Sebelum Reformasi 1998, wacana tentang Tragedi Kemanusiaan 1965 mengikuti versi yang dibuat oleh rezim Orde Baru. Jatuhnya rezim Orde Baru menyulut sebagian dari masyarakat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kebenaran peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Beberapa dari mereka membuat film dokumenter dan buku yang menyediakan sisi lain dari wacana sejarah yang telah ada. Media dan bahan diskusi baru yang bermunculan ini menantang untuk sekolah dan guru sejarah agar lebih terbuka akan penerjemahan sejarah dari sisi lain. Namun, wacana tentang sejarah alternatif tidak selamanya mempunyai dampak. Beberapa dari guru sejarah masih memakai buku sejarah lama yang dibuat di jaman Orde Baru karena dihantui oleh rasa ketakutan pada rezim sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tanggapan dari guru sejarah terhadap wacana sejarah alternatif dengan topik Tragedi Kemanusiaan 1965. Penelitian dilakukan dengan memakai metode pemutaran film dokumenter sejarah yang mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan versi dari rezim Orde Baru. Studi ini juga dipakai untuk melihat sampai sejauh mana guru sejarah mau untuk mempertimbangkan memakai narasi sejarah alternatif dalam metode pengajaran mereka. Penelitian ini diharapkan membantu perkembangan kurikulum sejarah demi pendidikan yang manusiawi dan demokratis di samping menyajikan bentuk metode pendidikan yang baru dengan menggunakan audio visual sebagai media dalam pembelajaran sejarah.