cover
Contact Name
Zamrud Whidas Pratama
Contact Email
jurnalmebang@gmail.com
Phone
+6282221778818
Journal Mail Official
jurnalmebang@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Mebang
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 27763919     EISSN : 27762513     DOI : https://doi.org/10.30872/mebang
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is academic, open access, peer-reviewed journal founded and first published in 2021 by the Department of Ethnomusicology, Faculty of Cultural Studies, Mulawarman University. Issues are published two times a year in April and October. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik contains the results of music research, such as ethnomusicology; music performance art; music creation and research; and music education.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022)" : 5 Documents clear
Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Denis Setiaji
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1374.379 KB) | DOI: 10.30872/mebang.v2i1.19

Abstract

Abstract: The following research explained how dongkari is a concept by artists, singers or “penembang”, and practitioners of Tembang Sunda Cianjuran. This research also used phenomenology as an approach, fieldwork activity, and depth interview with “penembang” who exist around Bandung, West Java. Through this paper, the author described dongkari as a musical language interpreted by knowledge and empirical practices in the context of the social living of penembang. Eventually, dongkari, as the aesthetic based construction, was interpreted as a complex concept, containing Sundanese world life context, as a based material style of vocal, then should be operating to indicate the virtuosity of penembang.   Abstrak: Penelitian ini difokuskan untuk melihat bagaimana pemahaman konsep dongkari dalam perspektif seniman Tembang Sunda Cianjuran. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode fenomenologi dengan melakukan studi lapangan ke sejumlah praktisi Tembang Sunda Cianjuran di wilayah Bandung, Jawa Barat. Penulis mencoba melakukan pemaparan pengetahuan dan pemaknaan praktisi terhadap dongkari dalam konteks kehidupan masyarakat Tembang Sunda Cianjuran. Pada akhirnya dongkari dipahami sebagai konsep yang cukup kompleks, memuat konteks kehidupan masyarakat Sunda, sebagai material konstruksi estetik vokal, sebagai pembentuk gaya personal, hingga sebagai indikator virtuositas para praktisi Tembang Sunda.
Mamanda Kutai: Karakteristik Ladon pada Lirik dan Musik Karya Mamanda Panji Berseri Yofi Irvan Vivian; Asril Gunawan; Fikri Yassaar Arrazaq
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1493.376 KB) | DOI: 10.30872/mebang.v2i1.22

Abstract

Abstract: Mamanda Kutai was a traditional theatre which owned by Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Now, Kutai Kartanegara just has one group of Mamanda Kutai, namely Mamanda Panji Berseri. Typically of Mamanda Kutai, there is Ladon (pantun that we humming) first of the show. This research aims to know the characterization text (theme-rheme ) musically from Ladon. The study used a qualitative approach analysis descriptive. This research uses Linguistic Functional Systemic (LFS) approach and musicology. Pantun that made become lyrics, Ladon have Theme and rheme. The Pantun have four-line and every line have four words. Ladon was sung by adding some words to follow the central melody. The structure or arrangement of the word sung (Ladon) is different from the original Pantun. In structure, musical use the musicology approach to variable or characteristic melody.   Abstrak: Mamanda Kutai merupakan teater tradisional yang dimiliki oleh Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Saat ini, Kutai Kartanegara tinggal memiliki satu kelompok Mamanda Kutai, yaitu Mamanda Panji Berseri. Ciri khas Mamanda Kutai, yaitu adanya Ladon (pantun yang disenandungkan) pada awal pertunjukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik teks (tema-rema) dan musikal pada Ladon. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik (LFS) dan Musikologi. Pantun yang dijadikan lirik Ladon memiliki tema dan rema. Pantun tersebut memiliki empat baris dan setiap barisnya memiliki empat kata. Ladon dinyanyikan dengan menambahkan beberapa kata mengikuti melodi utama. Struktur atau urutan kata dinyanyikan (Ladon) berbeda dengan bentuk pantun aslinya. Secara struktur musikal menggunakan pendekatan Musikologi mengenai variabel atau karakteristik nada.
Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah Bayu Arsiadhi Putra; Aris Setyoko
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2568.847 KB) | DOI: 10.30872/mebang.v2i1.21

Abstract

Abstract: The Dayak people of East Kalimantan have long been involved in the world of tourism. There is a cultural village in Samarinda called Pampang, mostly inhabited by the Dayak Kenyah community. In many ways, the government 'takes care of' the development of the Kenyah Pampang community, including its culture and music. It can indicate the government's concern for marginalized groups. However, at the same time, images of 'original', 'exotic' and 'primitive' cultures are being constructed to fit into commodified 'goods'. This view does affect not only the Dayaks themselves but also the government, tourists and private institutions involved in it. This paper aims to discuss how the history of the commodification of Kenyah's musical culture. The research method used is descriptive qualitative with a historical approach. The study results show that the development of the Kenyah Pampang community's musical culture cannot be separated from the commodification brought in by the tourism body. The commodification of Dayak Kenyah's music culture has changed relations among the people, increasing competition and suspicion, both intra and between ethnic groups. Often commodification is carried out with ideology, as in an effort to 'purify tradition'.   Abstrak: Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur telah lama mengambil bagian dalam dunia pariwisata. Terdapat sebuah desa budaya di Samarinda bernama Pampang, yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat Dayak Kenyah. Dalam banyak hal pemerintah ‘mengurus’ pembangunan masyarakat Kenyah Pampang, termasuk budaya dan musiknya. Hal ini dapat menandakan kepedulian pemerintah terhadap kelompok marjinal. Namun saat bersamaan, imaji-imaji  tentang kebudayaan ‘asli’, ‘eksotis’ dan ‘primitif’ sedang didikonstruksi agar layak menjadi ‘barang’ komodifikasi. Pandangan ini tidak hanya mempengaruhi Orang Dayak Sendiri tetapi juga pemerintah, wisatawan dan lembaga swasta yang terlibat di dalamnya. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas bagaimana sejarah komodifikasi budaya musik sampeq Kenyah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan budaya musik masyarakat Kenyah Pampang tidak lepas dari komodifikasi yang dibawa dalam tubuh Pariwisata. Komodifikasi budaya musik Dayak Kenyah telah mengubah relasi di antara masyarakat, meningkatkan persaingan dan kecurigaan, baik intra maupun antar etnis. Seringkali komodifikasi dijalankan dengan ideologi, seperti dalam upaya ‘memurnikan tradisi’.
Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan Hana Permata Heldisari
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.596 KB) | DOI: 10.30872/mebang.v2i1.23

Abstract

Abstract: This study aims to describe Javanese musical learning in mild mentally retarded children in terms of output and outcome. The subjects in this study were 20 mentally retarded children with the category of being able to learn from the Yogyakarta Bina Siwi Orphanage, which was divided into two groups, namely the control group and the experimental group. Research data were collected through performance assessments and questionnaires. The research instruments used were skill tests and product feasibility questionnaires. To see skills as the goal of musical learning and positive behaviour changes, as a result, they were analysed using the Manova test. The analysis prerequisite test used was the normality test using the Mahalanobis distance test and the multivariate homogeneity test using the Box's M test. The study results stated that musical learning in mentally retarded children through personal learning models could improve Javanese Gamelan playing skills and provide tendencies in behaviour including self-confidence, adaptive and cooperative. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran karawitan Jawa pada anak tunagrahita ringan dari segi output dan outcome. Subjek dalam penelitian ini adalah 20 anak tunagrahita dengan kategori mampu didik dari Panti Asuhan Bina Siwi Yogyakarta yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data penelitian dikumpulkan melalui penilaian unjuk kerja dan angket. Instrumen penelitian yang digunakan, yaitu tes keterampilan dan angket kelayakan produk. Untuk melihat keterampilan sebagai tujuan dari pembelajaran karawitan dan perubahan perilaku positif sebagai dampaknya dianalisis menggunakan uji Manova. Adapun uji prasyarat analisis yang digunakan, yaitu uji normalitas menggunakan uji jarak Mahalanobis dan uji homogenitas multivariat menggunakan uji Box’s M. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pembelajaran karawitan pada anak tunagrahita melalui model pembelajaran personal dapat meningkatkan keterampilan bermain gamelan Jawa dan memberikan kecenderungan dalam perilaku di antaranya percaya diri, adaptif dan kerja sama.
Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas Laila Fitriah; Yofi Irvan Vivian
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.424 KB) | DOI: 10.30872/mebang.v2i1.26

Abstract

Abstract: Education is one of the efforts to optimize human potential. One of the educational efforts to optimize students' potential is through music education. This research aims to see if teachers can utilize their culture and art (traditional music) as a form of education. Teachers must understand and apply educational ideology in supporting creativity in art education, especially traditional music. This study uses a qualitative descriptive method with a phenomenological approach. Education as an enculturation channel in the philosophy of education has at least three important roles: education as cultural conservation, education as cultural regression, and education as a cultural transition. Teachers or educators can be creative by correlating their cultural ownership with the three important roles of education. Through the education unit level curriculum (KTSP), the government has begun to provide space for the development of Indonesian arts (culture) education, which has been marginalized from the younger generation's lives.   Abstrak: Pendidikan menjadi salah satu usaha untuk mengoptimalkan potensi manusia. Salah satu upaya pendidikan untuk mengoptimalkan potensi siswa adalah melalui pendidikan seni musik. Tujuan penelitian ini diharapkan guru mampu memaksimalkan kebudayaan dan seni (musik tradisi) yang dimiliki  sebagai sarana pendidikan  Guru harus mampu memahami dan menerapkan ideologi pendidikan dalam menunjang kreativitas pada pendidikan seni, khususnya musik tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi. Pendidikan sebagai saluran enkulturasi dalam filsafat pendidikan setidaknya memiliki tiga peranan penting, yaitu: education as cultural conserveation, education as cultural regression, dan education as cultural transition. Guru atau pendidik bisa berkreasi dengan mengkorelasikan kepemilikan budaya yang dimilikinya dengan ketiga peran penting dari pendidikan. Melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), pemerintah mulai memberikan ruang bagi pengembangan pendidikan seni (kebudayaan) nusantara yang selama ini termarginalkan dari kehidupan generasi muda

Page 1 of 1 | Total Record : 5