cover
Contact Name
Prof. Dr. Ir. Widiatmaka, DAA, IPU
Contact Email
jitl@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285217342125
Journal Mail Official
jtl@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Department of Soil and Land Resources, Faculty of Agriculture, IPB University Jl. Meranti Wing 18 Lv 6, Darmaga Campus of IPB, Bogor 16680 Tel. 02518629360; Fax. 02518629358
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
ISSN : 14107333     EISSN : 25492853     DOI : https://doi.org/10.29244/jitl.28.1.1-10
Core Subject : Agriculture, Social,
Focus and Scope Journal of Soil Science and Environment Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan is a media that presents articles on the results of research and studies of the latest developments in the fields of soil and land resources, water and environmental sciences as the main study material.
Articles 306 Documents
Evaluasi Kinerja Daerah Irigasi Cikeusik Berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Gabungan Penilaian Kinerja Irigasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun 2017: Performance Evaluation Cikeusik Irrigation Area Based on Combined Instructions for Assessment of Irrigation Performance of the Ministry of Public and Household Housing (PUPR) in 2017 Kiki Rishki Ananda; Latief Mahir Rachman; Suria Darma Tarigan
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.541 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.1-6

Abstract

Daerah irigasi (D.I.) Cikeusik dibangun pada tahun 1883 dan mulai beroperasi pada tahun 1884, namun saat ini sudah tidak beroperasi secara optimum. D.I. Cikeusik terletak di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sektor pertanian yang terdapat di daerah tersebut memiliki potensi yang sangat baik. Kecamatan Cikeusik mempunyai lahan pertanian seluas 650 ha. Jaringan irigasi di D.I. Cikeusik mencakup jaringan irigasi teknis yang memiliki sembilan buah pintu sadap. Saat ini irigasi Cikeusik mengalami perubahan dalam pemasokan air ke petak tersier, air yang dipasok tidak tercukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja D.I. Cikeusik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan petunjuk pelaksanaan gabungan penilaian kinerja sistem irigasi utama dan tersier kementerian PUPR 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Kinerja Sistem Irigasi (NKSI) sebesar 64.86% termasuk kategori kinerja irigasi masih kurang.
Indeks Produktivitas Tanah Berbasis Soil Taxonomy dan Korelasinya Dengan Produktivitas Kopi pada Beberapa Ordo Tanah: Soil Productivity Index Based on Soil Taxonomy and Its Correlation with Coffee Productivity in Several Soil Orders Rizky Maulidita Pratama Hadi; Tarsicius Sutikto; Cahyoadi Bowo
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.84 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.7-12

Abstract

Productivity Index (PI) assessment based on Soil Taxonomy is one of the simplest and relatively fixed models, so this model promising to be practical importance for regional scale, but up to now field tests concerning the model's accuracy for perennial crops have not been done. The present study aimed to evaluate the accuracy of IP model application based on Soil Taxonomy for coffee plant, which was manifested in the form of goodness of the correlation between productivity index and the productivity of Robusta coffee. The research was carried out in six locations of coffee plantation spread in Jember and Banyuwangi districts, namely Sidomulyo (smallholder farmer), Rayap-1 and Rayap-2, Tretes, Kampung Tengah, and Gumitir (PTPN XII plantation). In each location, a 1 x 1.5 meter of soil profile was established with a depth of 1 m for soil morphological identification and an analysis of the physical and chemical properties of each soil layer. Analysis of soil properties included soil texture, pH (H2O) and pH (KCl), soil organic-C, cation exchange capacity (CEC), and basic saturation. Based on soil physical and chemical properties of the six research sites, four soil subgroup along with their IP values were obtained, namely Typic Udorthents for Sidomulyo (IP = 6); Typic Dystrudepts for Rayap-2 (IP = 7); Typic Hapludalfs for Rayap-1, Kampung Tengah and Tretes (IP = 10); and Typic Eutrudepts for Gumitir (IP = 11). The results of this study indicated that IP had a very strong positive correlation with productivity of Robusta coffee (r = 0.84) in the form of simple linear model,. the higher the index of planting Robusta coffee productivity increases.
Uji Kelarutan Si Tersedia pada Trass Bakar dan Non Bakar: Experiment of Silica Solubility Availabilityon Fuel and Non Fuel Trass Mirawanty Amin; Budi Nugroho; Dyah Tjahyandari Suryaningtyas
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.583 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.13-15

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari kelarutan Si tersedia antara trass bakar dan non bakar dan penentuan formula terbaik untuk dijadikan sebagai pupuk silika. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor. Rancangan Percobaan yang dilakukan adalah split plot dengan petak utama terdiri dari trass bakar dan non bakar, dan anak petak terdiri dari dosis trass yang dikombinasikan dengan CaCO3 yaitu 100% trass, 83.33% trass+16.67 CaCO3, 66.67.% trass +33.33% CaCO3, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga total satuan percobaan ada 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trass bakar menunjukkan hasil kelarutan silika tersedia tertinggi dibandingkan trass non bakar. Kombinasi 83% trass+ 17% CaCO3 menunjukkan Si tersedia tertinggi yaitu 120.02 ppm, 72.67 ppm dan 53.43 ppm berturut-turut dengan pengekstrak ammonium asetat pH 4.8, 0.5 M HCl dan H2O.
Karakterisasi Pelepasan Nitrat pada Andisol di Jawa Barat dan Jawa Tengah: Characterization of Nitrate Release on Andisols in West and Central Java Arief Hartono; Syaiful Anwar; Novianti Ruliana
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.169 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.16-20

Abstract

Andisol tersebar luas di Indonesia dengan luas total mencapai 5.4 juta ha. Tanah-tanah ini digunakan secara luas oleh petani sebagian besar untuk pertanian hortikultura dan perkebunan teh, dan sebagian kecil untuk peternakan. Karakteristik pola pelepasan anion nitrat sangat spesifik lokasi sehingga perlu diteliti lebih jauh sifat-sifat kimia tanah apa saja yang berpengaruh terhadap pola pelepasan nitrat pada Andisol di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah: (i) mengkarakterisasi sifat kimia Andisol, (ii) mengkarakterisasi pola pelepasan nitrat pada Andisol dengan sifat kimia yang berbeda, (iii) mendapatkan hubungan antara sifat-sifat kimia tanah dengan pola pelepasan nitrat pada Andisol di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Percobaan pelepasan nitrat dilakukan dengan metode inkubasi. Jumlah nitrat yang terlepaskan dalam penelitian ini disimulasikan dengan menggunakan persamaan first order kinetic. Berdasarkan hasil analisis, sifat-sifat kimia tanah Andisol di Jawa Barat dan Jawa Tengah bervariasi. Pelepasan nitrat pada Andisol Lembang, Pangalengan, Sukamantri, dan Dieng secara umum semakin menurun dengan meningkatnya kedalaman tanah pada satu profil tanah dan semakin meningkat dengan meningkatnya waktu inkubasi. Hasil uji korelasi sederhana menunjukkan bahwa untuk nitrat maksimum yang dapat dilepaskan (N0) memiliki korelasi yang tidak nyata dengan sifat-sifat kimia tanah yang dianalisis. Hal ini menunjukkan bahwa nitrat sangat mobil di dalam tanah. Walaupun demikian N0 berkorelasi positif dengan C organik, N total, Fe-oksalat (Feo), Al-dithionite dan Fe-dithionite. Sebaliknya N0 berkorelasi negatif dengan Al-oksalat (Alo), dan Alo + ½ Feo. Untuk konstanta kecepatan pelepasan nitrat (k) berkorelasi negatif dengan semua sifat tanah tersebut kecuali dengan dengan Fe-dithionite yang mempunyai korelasi positif. Hasil ini menyimpulkan bahwa pelepasan nitrat pada Andisol punya kemungkinan meningkat dengan meningkatnya kadar C organik dan N total tanah akan tetapi menurun dengan meningkatnya Alo + ½ Feo. Alo + ½ Feo juga mempunyai kemungkinan menurunkan kecepatan pelepasan nitrat pada Andisol.
Keselarasan Penggunaan Lahan dengan Pola Ruang dan Arahan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Bengkulu Selatan: Conformity of Land Use with Spatial Pattern and Direction of Green Open Space Development in South Bengkulu Regency Santun R.P. Sitorus; Engge Mustamei; Setyardi Pratika Mulya
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.277 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.21-29

Abstract

Kabupaten Bengkulu Selatan merupakan wilayah yang terus berkembang, terbukti dengan sedang dilakukannya pengajuan Manna sebagai ibukota Kabupaten menjadi sebuah kota. Pemanfaatan lahan harus selalu dievaluasi dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah (RTRW). Sesuai UU Penataan Ruang No 26 Tahun 2007, salah satunya harus memenuhi kebutuhan minimal ruang terbuka hijau (RTH) (30%) yang terdiri dari RTH publik (20%) dan RTH privat (10%). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penggunaan lahan eksisting Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2018, mengevaluasi keselarasan penggunaan lahan dengan rencana pola ruang RTRW, mengetahui jenis dan luas penyebaran RTH di Kota Manna tahun 2018, dan menyusun arahan rencana pengembangan RTH. Metode yang digunakan adalah analisis sistem informasi geografi, matriks logis keselarasan dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ada 3 penggunaan lahan eksisting terluas adalah hutan seluas 55,861.0 ha (47.91%), perkebunan 43,186.7 ha (37.04), dan sawah 7,257.8 ha (6.23%). Luas penggunaan lahan yang selaras dengan pola ruang RTRW adalah sebesar 84,823.7 ha (73%), transisi sebesar 27,115.0 ha (23%), dan tidak selaras sebesar 4.648.0 ha (4%). Penggunaan lahan yang selaras disarankan untuk dilanjutkan dan yang tidak selaras disarankan pengembangan lebih lanjut untuk dihentikan. Luas RTH publik eksisting Kota Manna masih kurang 23.2 ha berdasarkan luas wilayah, tetapi sudah melebihi kebutuhan berdasarkan jumlah penduduk 2,515.3 ha. Pengembangan ruang hijau publik dapat dilakukan pada lahan prioritas pertama dengan luas 38,6 ha karena cukup untuk kebutuhan RTH publik, arahan untuk pengendalian penggunaan ruang dilakukan dengan empat instrumen, yaitu peraturan zonasi harus segera dibuat untuk menetapkan zona alokasi ruang, perizinan harus lebih diperketat sesuai dengan arah alokasi ruang, melaksanakan kontrol pemberian insentif dan disinsentif dengan membuat pedoman operasional dalam implementasinya, dan menerapkan sanksi kepada setiap pelanggar untuk menyebabkan efek jera.
Aplikasi Model MapDAS untuk Simulasi Karakteristik Hidrologi DAS Mikro yang Didominasi Perkebunan Sawit: Application of MAPDAS Model for Micro-Watersheds Hydrological Characteristics Simulation Dominated by Oil Palm Plantation Faqihna Pidin; Suria Darma Tarigan; Budi Kartiwa
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.917 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.30-36

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dalam ekspansi perkebunan berpotensi menyebabkan degradasi tanah, yang dapat menyebabkan kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Model hidrologi sangat penting untuk mensimulasikan fluktuasi debit dari dampak perubahan penggunaan lahan diperkebunan. Penelitian ini menggunakan Model MAPDAS untuk tujuan simulasinya. Model MAPDAS menggunakan 4 (empat) parameter input utama simulasi, meliputi: koefisien aliran permukaan (Kr), waktu jeda, kecepatan aliran jaringan hidrografi, dan kecepatan aliran lereng. Tujuan dari penelitian adalah untuk, 1) Menguji akurasi hasil hidrograf aliran permukaan pada Model MAPDAS pada metode penentuan hujan efektif; dan 2) melakukan kajian karakteristik hidrologi DAS mikro khususnya aliran permukaan dengan lahan yang didominasi tanaman kelapa sawit menggunakan Model MAPDAS pada 3 skenario penentuan hujan efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Model MAPDAS dengan input curah hujan berdasarkan metode koefisien runoff (Kr), indeks infiltrasi (F) dan SCS-CN didapat nilai Kr berkisar antara 12%-70%. Model MAPDAS mampu mensimulasikan karakteristik hidrologi dengan baik. Dilihat dari nilai hasil uji CE lebih besar dari 0.7, yang menyatakan bahwa model ini memiliki akurasi yang tinggi sampai sangat tinggi.
Keanekaragaman Collembola dan Serangga Permukaan Tanah di Berbagai Umur Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.): Diversity of Collembola and Ground Surface Insects at Different Ages of Oil Palm Plantations (Elaeis guineensis Jacq.) Kartika Putri; Ratna Santi; Sitti Nurul Aini
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.096 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.37-41

Abstract

The presence of Collembola and soil insects at different ages of oil palm plantations indicate the differences of soil qualities and fertility. The aims of this study was to know the diversity of Collembola and soil insects, age of palm oil plantations that have the highest diversity of Collembola and soil insects, and the relationship between diversity of Collembola and soil insects with soil C-organic content in palm oil plantations. The research was conducted in June-July 2018 at the oil palm plantation at Balunijuk Village, Bangka. Soil sample was taken from 3 year olds, 5 year olds and 13 year olds of oil palm plantation area. The identification of Collembola and soil insects was conducted in Microbiology Laboratory of Faculty of Agriculture, Fisheries and Biology, University of Bangka Belitung. This research used correlational descriptive method with survey technique. Sampling technique used was a purposive sampling technique. Collembola and soil surface insects were collected by using pitfall traps. The results showed that Collembola diversity and oil palm plantation insects were included in the moderate category. Plantation area of 3 years old was the area with the highest value (2.098). Positive correlation value between the diversity Collembola and soil insects with soil C-organic content, it means that increasing of diversity growth followed by increasing of C-organic content.
Aplikasi Bakteri Endofit dan Mikoriza Terhadap Kandungan Unsur N, P dan K pada Pembibitan Tanaman Lada: Application of Endophytic Bacteria and Mycorrhizal toward N, P, and K Content of Pepper Seedling Fahrizal Hazra; Gusmaini Gusmaini; Devi Wijayanti
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.01 KB) | DOI: 10.29244/jitl.21.1.42-50

Abstract

Aplikasi formula bakteri endofit dan mikoriza diharapkan mampu memperbaiki kualitas pembibitan pada tanaman lada. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh formula bakteri endofit dan mikoriza terhadap serapan hara N, P, dan K pada tanah Podsolik Jasinga serta pertumbuhan lada pada fase pembibitan. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang dikelompokkan berdasarkan ulangan. Formula bakteri endofit jenis (B2), (B3) dan tanpa bakteri (B0) sebagai faktor pertama. Mikoriza dengan tiga taraf yakni tanpa mikoriza (M0), 10 g tanaman-1 (M1) dan 20 g tanaman-1 (M2) sebagai faktor kedua. Perlakuan yang diuji sebanyak 9 kombinasi dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Setiap ulangan diwakili 5 tanaman, sehingga terdapat 135 tanaman. Secara umum formula bakteri endofit jenis B2 dan mikoriza 10 g tanaman-1 (M1) lebih baik dalam meningkatkan fase vegetatif tanaman lada.
EFEKTIFITAS EMBUNG UNTUK IRIGASI TANAMAN HORTIKULTURA DI CIKAKAK SUKABUMI Suria Darma Tarigan
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.465 KB) | DOI: 10.29244/jitl.10.1.1-6

Abstract

Dryland farming provides a promising opportunity in increasing agricultural production in rural areas. But, the lack of available water during dry season poses a problem in developing dryland farming. An effective water conservation technique should be developed to alleviate this problem. The use of a small farm reservoir (embung) can be considered as one viable option for such conservation techniques. The purpose of this research was to study the effectivity of small farm reservoirs to supply irrigation water for horticulture commodities. Two different types of small farm reservoir (SFR) were constructed in the micro catchment for the research, i.e. a) SFR built with concrete, b) SFR built without concrete. SFR built with concrete had higher water available for irrigation, which is 34% higher compared to SFR without concrete. In addition, the empirical equation that was used in this research was quite reliable in predicting colected water in the SFRs. Using 80% monthly rain probability, on average one small farm reservoir with dimension 8 m x 2m x 2 m was able to supply irrigation water for 100 m2 horticulture plants for the whole growing period. Keywords: Small farm reservoir, dry season, irrigation, dryland farming.
THE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) AS A SYSTEM OF AGRICULTURAL INNOVATION Norman Upboff
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.418 KB) | DOI: 10.29244/jitl.10.1.27-40

Abstract

The System of Rice Intensification (SRI). developed in Madagascar some 25 years ago. is gaining increasing credence and momentum as probably 500.000 farmers in more than 20 countries are now using its methods to raise their rice. production -- while also reducing their use of external inputs and production costs. Rather than focus on the innovation itself, this paper will introduce SRI only briefly, focusing instead on the transnational system for innovation that has emerged in response to this agronomic opportunity that can be particularly beneficial for resource-limited households. Within SRI's conceptual and practical framework. farmers have devised many innovations. These are the focus of a parallel paper written for this workshop. That paper considers how farmers have made the original SRI methodology less labor-intensive (even labor-saving). and how they have extended methods devised for irrigated rice production both to unirrigated (rainfed) areas for growing rice and to other crops beyond rice. This paper is concerned with what can be considered as a de facto 'system of innovation' that surrounds and has accelerated the spread of SRI worldwide. SRI has differed from most other agricultural innovations in the extent to which farmers have voluntarily invested their own time and resources in taking SRI to peers as an impressive example of farmer-to-farmer extension. Also. innovative alliances have formed among diverse persons and organizations to disseminate and adjust the methodology. thereby supporting the spread of this innovation even despite resistance from some established institutions.

Filter by Year

1999 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No 1 (2026): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 27 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 27 No 1 (2025): Journal of Soil Science and Environment Vol 26 No 2 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 26 No 1 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 1 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 2 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 2 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 1 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 1 (2015): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 2 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 2 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 1 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 2 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 2 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 1 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 2 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 2 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 1 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 2 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 1 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 No 1 (2003): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 No 2 (2000): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 2 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 1 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan More Issue