cover
Contact Name
Prof. Dr. Ir. Widiatmaka, DAA, IPU
Contact Email
jitl@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285217342125
Journal Mail Official
jtl@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Department of Soil and Land Resources, Faculty of Agriculture, IPB University Jl. Meranti Wing 18 Lv 6, Darmaga Campus of IPB, Bogor 16680 Tel. 02518629360; Fax. 02518629358
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
ISSN : 14107333     EISSN : 25492853     DOI : https://doi.org/10.29244/jitl.28.1.1-10
Core Subject : Agriculture, Social,
Focus and Scope Journal of Soil Science and Environment Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan is a media that presents articles on the results of research and studies of the latest developments in the fields of soil and land resources, water and environmental sciences as the main study material.
Articles 306 Documents
Karakteristik Kimia dan Fisika Tanah di Area Pertanaman Nanas dengan Perbedaan Tingkat Produksi: Soil Chemical and Physical Characteristics in Pineapple Plantation with Different Rate of Yield Rina Natalia; Syaiful Anwar; Atang Sutandi; Budi Nugroho; Priyo Cahyono
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.335 KB) | DOI: 10.29244/jitl.20.1.13-18

Abstract

Differences in productivity were observed in various land units on pineapple plantation in Central Lampung even with the same land and fertilization management. The nature of soil chemical and physical variability were thought to be the cause of these differences. The study was aimed to compare chemical and physical soil properties in land units with different pineapple productivity. Soil samples were taken from 6 units of land with low and 3 units of land with high productivity. The soil chemical properties measured include available P and K, potential P and K, total N, pH, organic C, exchangeable cations, and available micro nutrients. The soil physical properties determined include bulk density, soil texture, and penetration resistance. The data was analyzed using T-test and correlation. The T-test revealed that the high productivity soils were significantly lower in available P, potential P, total N, and available Zn compared to the productivity soils. Furthermore, the high productivity soils were significantly lower in bulk density and penetration resistances both vertically and horizontally. There were significantly negative correlations between pineapple yields with potential P, available Zn, bulk density, and penetration resistance both vertically and horizontally. Overall analyses indicating that the physical properties were more as productivity determinant, particularly bulk density and penetration resistance, compared to the chemical properties. The chemical properties were more as residual conditions after nutrient absorption process to support pineapple productivity. In order to increase the productivity, it is necessary to manage the soil to lower bulk density and penetration resistance.
Pencucian Karbon Organik pada Mikro DAS Lahan Perkebunan Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara VI Jambi: Leaching of Organic Carbon in Micro Catchment Oil Palm Plantation Area PT Perkebunan Nusantara VI Jambi Ginanjar Ika Septiawan; Eni Dwi Wahjunie; Kukuh Murtilaksono; Yiyi Sulaeman
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.16-21

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dapat mempengaruhi ekosistem serta hidrologi kawasan. Dapat meningkatkan erosi dan limpasan permukaan tanah, terutama bila tidak sesuai dengan prinnsip konservasi tanah dan air. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi proses pencucian karbon dan nutrisi dari lahan pertanian ke badan sungai. Proses pencucian karbon organik dan nutrisi di sungai perlu diteliti, sehingga dapat memprediksi konsentrasi karbon organik dan nutrisi di sungai, serta bisa menjadi indikator terjadinya degradasi lahan. Penelitian ini menggunakan eksperimen lapangan yang menggunakan metode survei dengan deskriptif eksploratif untuk sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pencucian karbon organik dalam bentuk DOC dan unsur hara nitrat, Al3+, dan Mn2+ adalah titik C. Curah hujan tidak berpengaruh dalam meningkatkan debit sungai. Tidak ditemukan korelasi yang tinggi antara debit sungai dengan konsentrasi ion terlarut di outlet dalam bentuk DOC, NO3-, PO43-, Fe2+, dan Al3+. Konsentrasi DOC di air sungai memiliki hubungan korelasi yang tinggi terhadap Fe2+ (0.94) dan Al3+ (0.96). Model multi regresi stepwise menghasilkan DOC = 2.48 + 0.90 Al3+ + 3.17 Fe2+ dengan nilai R2 Adj. yang cukup tinggi (0.94). Menunjukkan bahwa Al3+ dan Fe2+ memiliki pengaruh terhadap DOC sebesar 94%.
Potensi Limbah Tahu untuk Menghasilkan Listrik pada Tiga Model Sistem Microbial Fuel Cell (MFC): Tofu Wastewater Potency for Generating Electricity Using Three Models of Microbial Fuel Cell (MFC) Amanda Kusuma Dewi; Gunawan Djajakirana; Dwi Andreas Santosa
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.29-34

Abstract

Sampah organik dari industri tahu pada umumnya hanya dibuang ke aliran sungai di sekitarnya dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Limbah cair tahu mengandung banyak protein, sehingga dalam proses dekomposisi menghasilkan amonia yang menyebabkan bau. Kurangnya peneliti yang memahami bahwa limbah tahu juga dapat digunakan sebagai substrat dalam Sel Bahan Bakar Mikro (MFC). MFC adalah sistem atau perangkat yang menggunakan bakteri sebagai katalis untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik. Elektron diproduksi oleh bakteri dari substrat yang ditransfer ke anoda (kutub negatif) dan dialirkan ke katoda (kutub positif), kemudian dihubungkan oleh perangkat konduktivitas termasuk resistor atau dioperasikan di bawah muatan untuk menghasilkan listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan limbah tahu sebagai substrat dalam anoda terhadap arus listrik di MFC juga mengetahui pemodelan MFC paling efektif dan menyediakan listrik dengan arus tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan MFC yang dianggap paling efektif dan menghasilkan tegangan tertinggi adalah sistem dual chamber dengan Nafion. Ruang ganda MFC dengan isolat Nafion Staphylococcus saprophyticus mampu menghasilkan nilai tegangan 3,74x105 mV dan nilai kerapatan daya 2,87x104 mW m-2.
Kajian Faktor Pembatas dan Rekomendasi Perbaikan Lahan untuk Budidaya Jagung di Lahan Rawa Pasang Surut Tipologi C: Study of Limiting Factors and Land Rehabilitation Recommendations for Corn Cultivation in Tidal Swamp Land of Tipology C Momon Sodik Imanudin; Abdul Madjid; Edi Armanto; Miftahul
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.2.46-55

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji beberapa faktor pembatas lingkungan lahan yang selanjutnya disusun rekomendasi perbaikan, agar tanaman bisa tumbuh sesuai standar produksi. Metode penelitian adalah survai lapangan, monitoring dan pengkajian. Hasil penelitian menunjukan faktor pembatas utama sangat tergantung kepada tingkat kedalaman lapisan firit, dan fluktuasi muka air tanah harian. Selama petani bisa mengendalikan muka air tanah mendekati zona akar maka fakor pembatas lainnya bisa diperbaiki. Beberapa faktor pembatas yang bisa diperbaiki adalah pH tanah masam, hara makro rendah (nitrogen,phospor dan kalium), dan ketersediaan air karena sistem tata air yang buruk. Kajian budidaya tanaman pada kondisi iklim normal ( basah) diama curah hujan dengan bulan kering hanya 2-3 bulan tidak ditemukan pembatas utama yang permanen. Perbaikan tata air dan kesuburan tanah telah mampu menciptakan produksi optimal tanaman jagung 7 ton/ha. Namun pada kondisi iklim kering dimana masa kemarau selama 4-5 bulan maka akan muncuk faktor pembatas utama permanen yang disebabkan oleh oksidasi lapiran firit. Hal ini terjadi karena muka air tanah turun tajam >90 cm. Pada kondisi ini produksi jagung menurun lebih dari 50% area tanam gagal panen karena kekeringan, dan keracunan. Petani yang berhasil adalah yang melakukan penanaman lebih awal yaitu bulan Mei. Sementara yang tanam Juli semua gagal panen. Selain karena curah hujan yang kering juga karena petani tidak melakukan konservasi air. Pintu air tidak dioperasikan untuk menahan air di saluran tersier sehingga kehilangan air lebih cepat. Dampaknya air tanah pada bulan September turun dibawah 90 cm dan terjadilah oksidasi firit. Oleh karea itu operasi pintu sebaiknya dibuka pada saat pasang dan ditutup pada saat surut operasi ini berlansung sampai belum masuk air asin (Agustus). Dan memasuki bulan September dimana telah terjadi intrusi air asin, maka pintu air ditutup permanen. Dari kondisi diatas maka pada kondisi kemarau lebih dari 4 bulan, rekomendasi utama adalah percepatan waktu tanam, pemberian bahan pembenah tanah dan operasi pintu air dengan sistem fullretention.
Substitusi Sebagian Pupuk Kimia dengan Pupuk Organik Hayati pada Jagung (Zea mays): Partly Substitution of Chemical Fertilizer with Bio-organic Fertilizer on Maize (Zea mays) Syah Deva Ammurabi; Iswandi Anas; Budi Nugroho
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.10-15

Abstract

Penggunaan pupuk kimia dengan takaran tinggi terus-menerus menyebabkan kerusakan tanah dan pencemaran lingkungan. Aplikasi pupuk organik hayati (POH) atau dikenal dengan bio-organic fetilizer, dapat meningkatkan ketersediaan hara, memperbaiki sifat-sifat tanah, memacu pertumbuhan dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sebagian takaran pupuk kimia dengan POH terhadap pertumbuhan, serapan N, P, dan K, serta efisiensi agronomi pupuk jagung. Percobaan pot dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Rancangan Acak Kelompok dengan faktor tunggal digunakan dalam percobaan ini. Perlakuan percobaan terdiri dari Kontrol, POH, POH + 50% (NPK), POH + 100% (NPK), 50% (NPK), dan 100% (NPK). Jagung varietas Bisma digunakan sebagai tanaman indikator. Setelah lima minggu setelah tanam, biomassa dipanen untuk penimbangan bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Jaringan tajuk dianalisis untuk menetapkan serapan N, P, dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik hayati mampu mengurangi 50% kebutuhan pupuk kimia dan meningkatkan serapan N, P, dan K. Kombinasi POH dengan 50% (NPK) menghasilkan efisiensi agronomi tertinggi. POH mampu mensubstitusi 50% kebutuhan NPK jagung.
Analisis Bahaya Alami (Natural Hazards) Di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung Jawa Barat: Natural Hazards Analysis in Baleendah District, Bandung Regency, West Java Mazlan; Boedi Tjahjono; Baba Barus
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.1-9

Abstract

Bencana banjir di Kabupaten Baleendah (Kabupaten Bandung) yang terjadi setiap tahun seringkali menyebabkan ratusan hektar sawah gagal panen. Sementara itu, perubahan penggunaan lahan yang cepat terjadi di daerah dataran di daerah ini telah menyebabkan banyak sawah berubah menjadi pemukiman, sementara di daerah perbukitan banyak lereng telah berubah menjadi lahan terbuka yang disebabkan oleh kegiatan penambangan batu. Kegiatan semacam ini dapat mengurangi stabilitas lereng dan memudahkan terjadinya longsor di masa depan. Mempelajari bahaya alami untuk wilayah ini menjadi penting untuk kebutuhan mitigasi bencana di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan penggunaan lahan dan menilai bahaya banjir dan tanah longsor di Kabupaten Baleendah. Metode penelitian meliputi interpretasi visual penggunaan lahan dari citra Quickbird, analisis Pairwise Comparison untuk mendapatkan bobot dan skor parameter bahaya banjir dan tanah longsor, dan analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) untuk menilai bahaya alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi citra Quickbird menghasilkan 12 jenis penggunaan lahan yang didominasi oleh jenis pemukiman (31,17%) dan sawah (30,90%). Dari analisis Pairwise Comparison, ditemukan bahwa urutan bobot parameter bahaya banjir adalah durasi genangan (0,50), frekuensi genangan (0,33), dan kedalaman genangan (0,17), sedangkan untuk bahaya tanah longsor adalah kemiringan lereng (0,50), penggunaan lahan (0.33), dan bentuk lereng (0.17). Berdasarkan pemetaan rawan banjir partisipatif, ditemukan bahwa wilayah rawan banjir hanya tersebar di satu desa, yaitu Desa Andir, sedangkan untuk daerah rawan longsor tersebar di 5 desa. Hasil analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) menunjukkan bahwa bahaya banjir kelas tinggi dan menengah masing-masing meliputi 128,99 ha dan 34,76 ha, sedangkan bahaya longsor kelas menengah, tinggi dan rendah masing-masing mencakup 281,62 ha, 940,84 ha, dan 124,69 ha. Mengontrol perubahan penggunaan lahan adalah pilihan yang baik untuk dilakukan di wilayah ini untuk mengurangi bahaya alami di masa depan.
Distribusi Sifat Kimia Gambut di Perkebunan Sawit dan Hubungannya dengan Kedalaman Lapisan Gambut dan Jarak dari Tanah Mineral Berbahan Induk Batuan Ultrabasa: Selected Chemical Peat Properties Distribution in Palm Oil Plantation and Its Relationship with Depth Layer and Distance from Mineral Soil Derived From Ultrabasic Rocks Heru Bagus Pulunggono; Moh. Zulfajrin; Arief Hartono
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.22-28

Abstract

Lahan gambut di lokasi penelitian yang digunakan untuk perkebunan sawit berdampingan dengan tanah mineral berbahan induk ultrabasa berkadar Mg tinggi. Tanah berkadar Mg tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan gangguan serapan hara. Penelitian ini bertujuan mempelajari distribusi beberapa sifat kimia tanah seperti pH; kandungan unsur kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na) dapat ditukar; besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn) total dan terekstrak DTPA dalam gambut dan hubungannya dengan kedalaman lapisan gambut dan jarak terhadap tanah mineral berbahan induk batuan ultrabasa. Contoh gambut sekitar 1,0 kg diambil secara komposit dari setiap kedalaman gambut 0 – 30, 30 – 60 dan 60 – 90 cm pada transek toposekuen dari setiap jarak 100, 200, 300, 400, 500 dan 600 m dari perbatasan tanah mineral ultrabasa. Analisis contoh gambut dilakukan untuk menetapkan (i) kapasitas tukar kation (KTK) dan pH H2O 1:5; (ii) kandungan hara makro K, Ca, Mg dan benefisial Na menggunakan amonium asetat 1 N pH 7; dan (iii) kandungan total unsur mikro Fe, Cu, Zn, Mn serta kandungan unsur-unsur tersebut dengan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan nilai pH gambut menurun sangat nyata berdasarkan kedalaman lapisan gambut dan cenderung menurun dengan semakin jauh dari tanah mineral. Nilai KTK berfluktuasi dan cenderung meningkat sesuai peningkatan kedalaman lapisan gambut dan jarak dari tanah mineral. Berdasarkan hasil pengukuran Mg dan Fe, hara yang berasal dari tanah mineral mempengaruhi gambut hingga jarak 600 m dari batas gambut. Tanah gambut mengandung Mg, Na, Fe, Mn, dan Zn tersedia dalam kadar tinggi dan K and Ca tersedia dalam kadar rendah. Hara Cu tersedia tergolong cukup pada semua kedalaman dan jarak kecuali kedalaman 60 – 90 cm dan jarak 600 meter. Kandungan hara benefisial Na menunjukkan korelasi positif dengan kedalaman lapisan gambut yang mengindikasikan pengaruh marin pada tanah mineral bawah gambut. Disparitas yang besar antara Mg dengan kation lain dapat mengganggu penyerapan hara oleh akar tanaman dan memungkinkan pencucian K dan Ca keluar dari solum.
Effectiveness of MZ2000 Mycorrhizal Biofertilizer on The Growth of Sengon Seedlings Fahrizal Hazra; Rifqi Puja Novtiar
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.1.35-39

Abstract

Mycorrhizal biofertilizers contain fungi that are capable of entering and symbiotic mutualism into plant roots and increasing the ability of plants to absorb nutrients. Fertilizer effectiveness testing is needed to protect consumers from the adverse effects of using biofertilizers. This study aims to determine the effectiveness of MZ2000 mycorrhizal biofertilizers and to know mycorrhizal root infections in sengon seedlings in nurseries. The combination treatment of 30 g MZ2000 mycorrhizal biofertilizer with 5 g NPK fertilizer gave the best sengon growth results although it was not significantly different in several parameters compared to the combination treatment of MZ2000 fertilizer dosage and other NPK fertilizers, with the value of agronomic relativity (Relative Agronomic Effectiveness / RAE) 580.80% for high growth and 288.72% for growth in stem diameter and incremental benefit cost ratio (IBCR) analysis of farming by 2.48. So that the dosage of the combination treatment of mycorrhizal biofertilizers and NPK fertilizer is most agronomically and economically effective. With the effectiveness of the fertilizer, the MZ2000 mycorrhizal biofertilizer can be declared to have passed the field effectiveness test.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Akibat Paparan Nitrit dan Kadmium dari Air Sumur di Kelurahan Tarus: Environmental Health Risk Analysis Due to Exposure Nitrit and Cadmium from Well Water on Tarus Village Charly Mutiara; Wilhelmus I. I. Mella; Suwari
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.2.40-45

Abstract

Air sumur di Kelurahan Tarus diduga telah terkontaminasi nitrit dan kadmium yang berasal dari pemakaian secara berlebihan pupuk SP-36 dan Urea. Oleh karena itu, penelitian ini telah dilaksanakan untuk membandingkan konsentrasi kontaminan nitrit dan kadmium dalam air sumur di daerah persawahan dan pemukiman dengan ambang baku mutu air baku air minum dan memprediksi besarnya risiko dari kontaminan terhadap kesehatan manusia. Penelitian deskriptif eksperimental ini menggunakan maing-masing 10 sampel air sumur dari daerah persawahan dan pemukiman. Kadar nitrit dan kadmium dianalisis dengan metode spektrofotometri dan spektrofotometri serapan atom. Baku mutu air minum dan air baku air minum berdasarkan PP 82 tahun 2001 dan PerMenKes 492 tahun 2010. Prediksi risiko terhadap kesehatan manusia dilakukan berdasarkan metode analisis risiko Public Health Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah persawahan dan permukiman berturut-turut terdapat tiga dan lima sumur yang mengandung nitrit namun kandungan tersebut masih berada di bawah nilai baku mutu air baku air minum. Sedangkan untuk kadmium, terdapat berturut-turut delapan dan tujuh sumur di daerah persawahan dan permukiman kandungannya berada di atas nilai baku mutu air baku air minum. Analisis risiko menunjukkan bahwa nitrit di persawahan dan pemukiman tidak berisiko terhadap kesehatan, sedangkan kadmium persawahan dan pemukiman yang berisiko sebanyak 14 sampel untuk durasi waktu 30 tahun, 12 sampel untuk 20 tahun, 10 sampel untuk 10 tahun dan tiga sampel untuk lima tahun. Karena itu diharapkan adanya pengurangan volume konsumsi air sumur yang berisiko, dan penanganan air tanah yang tercemar serta pengurangan pemakaian pupuk anorganik.
Validasi Status Hara Model Plus One Test pada Latosol dengan Indikator Jagung Manis: Validating Nutrient Status Using Plus One Test Model on Latosol by Maize Budi Nugroho; Desi Nadalia; Dewi Hanifah
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.22.2.74-79

Abstract

The nutrient status evaluation model plus one test is carried out to determine which nutrients are the limiting factor. This model needs to be validated both statistically and agronomically of plant growth and production, so the results can be interpreted appropriately. This study aimed to statistically validate the nutrient status of the model plus one test, evaluate the effect of fertilizer treatment on the growth and production of maize, and the correlation of available soil nutrients with plant nutrients. The experiment was conducted at the Cikabayan Farm, Dramaga Bogor. The experiment used a plus one test treatment design which included: (1) Control, (2) N, (3) N + P, (4) N + P + K, (5) N + P + K + Ca, (6) N + P + K + Ca + Mg, and (7) N + P + K + Ca + Mg + S. Fertilizers used are Urea (N), SP-36 (P), KCl (K), agricultural lime (Ca) ), MgO (Mg), and ZA (S). The environmental design used a randomized block design of 2 replications to obtain 14 experimental units. The results showed that the nutrient of the limiting factor was Ca. This is evident from the results of the variance which showed that the addition of Ca nutrient treatment significantly affected the growth and production of maize. Correlation of exchangeable Ca with crop Ca nutrient content was higher than other nutrients (correlation coefficient / r = 0.75), and classified as very significant. In leaf color reflectant was found that red and green color reflectant was influenced by K nutrient treatment, blue color reflectant by P and Ca nutrients, green and blue color reflectant by Mg nutrient treatment, while blue and red color reflectant by N and S. Nutrient treatment results from nutrient status is used for further fertilization actions.

Filter by Year

1999 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No 1 (2026): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 27 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 27 No 1 (2025): Journal of Soil Science and Environment Vol 26 No 2 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 26 No 1 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 1 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 2 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 2 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 1 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 1 (2015): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 2 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 2 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 1 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 2 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 2 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 1 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 2 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 2 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 1 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 2 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 1 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 No 1 (2003): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 No 2 (2000): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 2 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 1 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan More Issue