cover
Contact Name
Sisparyadi
Contact Email
sisparyadi@ugm.ac.id
Phone
+6281328694342
Journal Mail Official
Jurnalpswk.pusdi@ugm.ac.id
Editorial Address
Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jln. Trengguli E 11 Yogyakarta Telp. (0274) 583546
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Wanita dan Keluarga
ISSN : -     EISSN : 2746430X     DOI : https://doi.org/10.22146/jwk
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Wanita dan Keluarga (JWK) mempublikasikan karya ilmiah dan hasil penelitian dari dalam dan luar negeri yang fokus pada issu pemberdayaan perempuan dalam perspektif gender melalui pendekatan multidisiplin ilmu dan pemberdayaan keluarga yang difokuskan pada perlindungan dan tumbuh kembang anak sebagai penerus generasi. Ruang lingkup  Gender dan kemiskinan  Gender dan Ketahanan Pangan  Gender dan Kesehatan  Gender dan Pendidikan  Gender dan sanitasi lingkungan  Gender dan Energi  Gender dan ketenagakerjaan  Gender dan infrastruktur  Gender dan Agama  Kekerasan berbasis Gender Tumbuh kembang dan perlindungan anak  Kesejahteraan keluarga
Articles 61 Documents
Subalternitas Perempuan Bali dalam Cerpen Api Sita Karya Oka Rusmini: Kajian Feminisme Pascakolonial Imarafsah Mutianingtyas; Diyah Prilly Upartini; Badri Badri
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 1 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.911 KB) | DOI: 10.22146/jwk.1119

Abstract

Penelitian ini berusaha mengungkapkan subalternitas perempuan Bali pada masa kolonial dalam cerpen Api Sita. Mempelajari subalternitas dalam karya sastra berarti membaca dan menginterpretasikan pandangan seorang pengarang mengenai kondisi yang menjadi identitas kelompok subaltern. Oka Rusmini mengkombinasikan struktur dominasi kultural dan sosial dengan struktur dominasi politik dan militer dalam Api Sita. Sistem pengkastaan dalam masyarakat Bali menentukan struktur dominasi dan pandangan terhadap perempuan. Dominasi berlapis seringkali terjadi di kalangan masyarakat berkasta rendah terutama pada masa kolonial. Kedua hal tersebut digambarkan lewat tokoh perempuan dengan posisi yang subaltern. Secara tidak sadar kerangka berpikir perempuan telah dibentuk oleh sistem patriarki dan hal tersebut berangsur-angsur disadari oleh tokoh perempuan di dalam Api Sita. Tulisan ini menggunakan perspektif Subalternitas dari Gayatri Spivak. Sebagai metode, analisis narasi cerita digunakan dalam koleksi dan analisis data. Temuan dari tulisan ini adalah bahwa Oka Rusmini secara gamblang menghadirkan konflik-konflik tersebut melalui pengalaman perempuan sebagai bagian dari kelompok subaltern yang tidak mampu bersuara, bahkan hanya dalam bentuk pikiran dan harapan.
Kekeliruan Pemahaman Tentang Online Grooming dalam Sistem Hukum di Indonesia Annisa Hafizhah; Lamsumihar Andjelina Panggabean
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.587 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2238

Abstract

Hukum diciptakan manusia untuk melindungi dan menertibkan masyarakat. Sayangnya, hukum yang dibuat manusia memiliki keterbatasan saat berhadapan dengan perubahan zaman. Pola kehidupan masyarakat terus berkembang dan hukum dituntut untuk selalu bisa menyeleraskan diri padahal proses menciptakan hukum tidak mudah. Perlu pemikiran dan waktu yang cukup untuk merumuskan peraturan yang baik sementara masyarakat tidak bisa menunggu hukum terlalu lama untuk menyelesaikan berbagai fenomena yang terjadi, termasuk online grooming. Online grooming adalah kekerasan berbasis gender yang dilakukan secara online untuk memperdaya korban agar menyerahkan foto atau video yang memuat atribut seksualnya. Saat ini belum ada peraturan yang secara khusus mengatur online grooming, namun ada beberapa metode tertentu yang bisa digunakan agar peraturan perundang-undangan yang ada saat ini bisa dipakai untuk menjerat pelaku online grooming. ===== Law was created by humans to protect and order society. Unfortunately, human-made laws have limitations when facing the massive development. The pattern of people's culture continues to develop and the law is expected to always be relevant even though the process of creating laws is not easy. It takes a lot of concern and time to formulate good rules, while society cannot wait too long for the law to resolve various phenomena that occur, including online grooming. Online grooming is an online gender-based violence that is carried out to trick victims into submitting photos or videos that contain their sexual attributes. Currently there are no regulations that specifically regulate online grooming, but there are certain methods that can be used so that the existing laws and regulations can be used to arrest online grooming criminals.
Kekerasan Berbasis Gender dalam Victim-Blaming pada Kasus Pelecehan yang Dipublikasi Media Online Syarifah Nuzulliah Ihsani
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.223 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2239

Abstract

Kekerasan berbasis gender online sering terjadi di media online. Banyak pemberitaan mengenai pelecehan di internet yang menggiring masyarakat untuk menyalahkan korban. Maraknya victim-blaming terhadap korban pelecehan menyebabkan mereka merasa malu, terancam, dan tidak memperoleh haknya sebagai korban. Bahkan, victim-blaming menyebabkan banyaknya korban pelecehan yang lebih memilih bungkam daripada menceritakan permasalahan mereka karena khawatir akan disalahkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penyebab victim-blaming pada kasus pelecehan yang dipublikasikan melalui media online agar dapat memberikan rekomendasi kebijakan untuk perlindungan terhadap korban. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur melalui pencarian inklusif literatur yang telah dipublikasi dan mengidentifikasi studi yang berkaitan dengan victim-blaming pada kasus kekerasan berbasis gender yang dipublikasi melalui media online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran media online terhadap budaya victim-blaming disebabkan karena adanya bias gender pada praktik jurnalistik pada media online. Penggunaan diksi yang bias terhadap korban, menggiring pembaca menerima stereotip yang dikontruksi oleh media online sehingga tindakan victim-blaming sering terjadi. ===== Online gender-based violence often occurs in online media. Many news about harassment on the internet has led people to blame the victim. The victims of harassment often blamed people, which causes them to feel ashamed, threatened, and do not get their rights as victims. Blaming the victim also causes many victims to prefer silence rather than telling the problem for fear of blaming. This study aims to review the causes of victim-blaming of published harassment cases through online media to provide policy recommendations to protect the victims. This research was conducted by studying literature through published literature searches and identifying studies related to victim-blaming in published gender-based violence cases through online media. The results demonstrate that gender bias in journalism practices in online media has a role on online media in victim-blaming. The use of victim-biased diction leads the reader to accept stereotypes constructed by online media motivate victim-blaming occurred.
Perempuan dan Revenge Porn: Konstruksi Sosial Terhadap Perempuan Indonesia dari Preskpektif Viktimologi Okamaisya Sugiyanto
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.513 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2240

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan salah satu Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yaitu revenge porn dengan melihat 3 aspek. Antara lain bagaimana peranan perempuan sebagai korban dalam terjadinya revenge porn, penyebab kriminalisasi korban dan upaya perlindungan terhadap korban. Pandemi Covid-19 memaksa orang-orang untuk tinggal di dunia maya. Peningkatan jumlah penggunaan teknologi internet tersebut selaras dengan peningkatan kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Komnas Perempuan mencatat terdapat 97 kasus kekerasan di dunia maya dimana 33% diantata kategori revenge porn. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi dokumentasi. Peneleti menggunakan teori viktimologi dan konstruksi sosial guna mengkaji permasalan yang ada. Ditinjau dari prespektif viktimologi perempuan dalam kasus revenge porn termasuk dalam latent victim. Selain itu tak jarang perempuan dalam kasus revenge porn kerap terkriminalisasi yang disebabkan oleh budaya patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat. Payung hukum yang ada pun juga tak jarang menyebabkan korban terkriminalisasi sehingga dibutuhkan payung hukum baru yang mampu melindungi korban. ===== This study aims to describe one of the cases of online gender based violence (KBGO), namely revenge porn by looking at 3 aspects. Among other things, how is the role of women as victims in the occurrence of revenge porn, the causes of criminalization of victims and efforts to protect victims. The Covid-19 pandemic is forcing people to live in cyberspace. The increase in the use of internet technology is in line with the increase in cases of Online Gender Based Violence (KBGO). Komnas Perempuan noted that there were 97 cases of violence in cyberspace, of which 33% belonged to the revenge porn category. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques of documentation studies. The researcher uses the theory of victimology and social construction to examine the existing problems. From the perspective of victimization, women in the case of revenge porn are included in the latent victim. In addition, it is not uncommon for women in revenge porn cases to be criminalized due to the patriarchal culture that is deeply rooted in society. The existing legal regulation also often causes victims to be criminalized so that a new legal regulation is needed that is able to protect victims.
Preventing the Wrongful Criminalization of Online Gender-based Violence Victims: A Look into Law No. 44 of 2008 on Pornography Almyra Luna Kamilla
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.895 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2241

Abstract

Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi secara eksplisit melarang keras pembuatan konten yang mengandung pornografi, namun disisi lain, Penjelasan Pasal 4 ayat (1) pada Undang-Undang tersebut secara implisit memberikan hak bagi masyarakat untuk membuat materi pornografi selama ditujukan untuk diri sendiri dan demi kepentingan sendiri. Hal ini membuat adanya perdebatan yang dipengaruhi juga oleh nilai-nilai dasar bangsa Indonesia sebagai negara yang beradab dan beragama. Dalam prakteknya, Pasal 4 ayat (1) UU No. 44 Tahun 2008 tidak jarang disalahgunakan untuk menjadikan korban Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) sebagai tersangka dalam kasus pornografi. Melalui pendekatan feminis dan berorientasi korban, Penelitian ini akan membahas bagaimana UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dimanfaatkan baik sengaja atau tidak sengaja, sebagai senjata dalam reviktimisasi perempuan korban KBGO. Penulis menggunakan pendekatan yuridis-normatif dimana Penelitian ini didasari atas analisa terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia serta studi literatur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pada UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi terdapat perbedaan norma yaitu antara Pasal 4 ayat (1) dengan Penjelasan Pasal 4 ayat (1). Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa perbedaan norma tersebut disertai dengan pendekatan penegak hukum di Indonesia yang cenderung konservatif, memicu fenomena dimana korban KBGO yang seharusnya dilindungi justru dikriminalisasi ===== Law No. 44 of 2008 on Pornography explicitly condemned the creation of pornographic content, on the other hand, the Elucidation of Art. 4 (1) of the Law implicitly grants the right for the people to create pornographic material so long as it is intended for oneself and one’s interest. This issue has caused a debate that is also influenced by the fundamental values of Indonesia as a nation that is civilized and religious. In practice, Art. 4 (1) of Law No. 44 of 2008 on Pornography is often misused to cause victims of Online Gender-based Violence into suspects of cases of pornography. Using the feminist approach and victim-oriented perspective, this Research will discuss how Law No. 44 of 2008 on Pornography is utilized, on purpose or otherwise, as a weapon in revictimizing women who are victims of Online Gender-based Violence. The Author used the juridical-normative method in which the Research is constructed based on the analysis of Indonesian laws and regulations as well as literature studies. The results of this Research found that there are contradicting norms within Law No. 44 of 2008 on Pornography specifically between Art. 4 (1) and its Elucidation. Furthermore, it can be concluded that such contradicting norms complemented with the approach of Indonesian law enforcers which tends to be conservative, precipitated a phenomenon in which victims of Online Gender-based Violence who are supposed to be protected ended up criminalized.
Cyber Child Grooming sebagai Bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online di Era Pandemi Imara Pramesti Normalita Andaru
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.67 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2242

Abstract

Kita ketahui bahwa semakin maju dan berkembangnya teknologi tentu akan memiki dampak positif dan negatifnya juga. Dari segi positif, internet atau media sosial dapat memberikan berbagai informasi dan pengetahuan, demikian juga dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa bertatap muka. Namun dari sisi negatif, kehadiran internet atau media sosial ini dapat menimbulkan berbagai tindak modus kejahatan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Salah satu tindak kejahatan yang meningkat di era pandemi adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dalam bentuk cyber grooming. Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan cyber grooming pada anak semakin meningkat, dikarenakan selama pandemi masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan di rumah, terutama anak-anak banyak menggunakan gadget dan disalahgunakan. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dan jenis penelitian deskriptif analitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cyber grooming pada anak meningkat di era pandemi Covid-19, apa yang menjadi penyebab adanya cyber child grooming dan bagaimana dampaknya. ===== We know that the more advanced and developed technology, of course, will have positive and negative impacts as well. From the positive side, the internet or social media can provide a variety of information and knowledge as well as can communicate with other people without meeting face to face. However, from the negative side, the presence of the internet or social media can lead to various modes of crime by taking advantage of technological advances. One of the increasing crimes in the pandemic era is Online Gender Based Violence (OGBV) specifically here is cyber grooming. The existence of the Covid-19 pandemic has caused cyber grooming in children to increase, because during the pandemic the community did more activities at home, especially children using gadgets a lot and sadly not being used properly. This research will use qualitative methods with data collection techniques and descriptive analytical research type. This study aims to find out how cyber child grooming has increased in the era of the Covid-19 pandemic, and what causes cyber child grooming also how its impact.
Kapitalisme, Patriarki dan Globalisasi: Menuju Langgengnya Kekerasan Berbasis Gender Online Ina Yosia Wijaya; Lidya Putri Loviona
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.398 KB) | DOI: 10.22146/jwk.2243

Abstract

Tulisan ini—dengan merujuk kepada tema besar “Kekerasan Gender Berbasis Online di Era Pandemi”—mencoba memaparkan bagaimana kontribusi sistem kapitalisme, budaya patriarki, dan globalisasi dalam mendukung lestarinya kekerasan gender secara daring yang sedang marak terjadi di tengah pandemi. Temuan pada tulisan menunjukkan bahwa sistem kapitalisme memegang peranan kunci dalam mendorong terciptanya budaya patriarki dan globalisasi, yang pada akhirnya mendorong langgengnya kekerasan berbasis gender. Berangkat dari perspektif marxist-feminism dengan premis utama bahwa sistem kapitalisme melakukan aksi eksploitasi atas kaum proletar dengan melegalkan segala cara termasuk membangun kesadaran palsu—false consciousness, temuan pada tulisan akan dielaborasikan lebih lanjut melalui tiga bahasan utama. Pertama, akan dipaparkan temuan bahwa opresi terhadap kaum wanita di tengah lingkungan yang patriarki merupakan salah satu upaya manifestasi elit kapitalis untuk melanggengkan sistem kapitalisme. Kedua, komodifikasi wanita—seperti isu human trafficking— dipercaya sebagai konsekuensi dari sistem kapitalis yang memberikan kebebasan komodifikasi atas segala sumber daya. Terakhir, akan dipaparkan fenomena globalisasi—sebagai salah satu produk liberalisme-kapital—yang dipercaya telah mendorong masifnya aksi human trafficking berbasis daring. Pada akhirnya, melalui temuan dan bahasan terkait kapitalisme sebagai sistem kunci yang telah melanggengkan kekerasan berbasis gender, diharapkan akan muncul kesadaran publik sehingga muncul aksi emansipasi dalam mendorong runtuhnya sisi eksploitatif sistem kapitalisme secara umum dan kekerasan berbasis gender secara khusus. ===== This paper—referring to the big theme of “Online-Based Gender Violence in the Pandemic Era”—tries to explain the contribution of the capitalist system, patriarchal culture, and globalization in supporting the sustainability of gender-based violence that is currently rife in the midst of a pandemic. The findings in this paper show that the capitalist system plays a key role in encouraging the creation of a patriarchal culture and globalization, which in turn encourages the perpetuation of gender-based violence. Departing from the perspective of marxist-feminism with the main premise that the capitalist system exploits the proletariat by legalizing all means, including building false consciousness, the findings in this paper will be further elaborated through three main topics. First, the findings will be presented that the oppression of women in a patriarchal environment is one of the manifestations of the capitalist elite to perpetuate the capitalist system. Second, the commodification of women—such as the issue of human trafficking—is believed to be a consequence of the capitalist system that provides freedom for the commodification of all resources. Finally, we will describe the phenomenon of globalization—as one of the products of capital-liberalism—which is believed to have encouraged the massive action of online-based human trafficking. In the end, through findings and discussions related to capitalism as a key system that has perpetuated gender-based violence, it is hoped that public awareness will emerge so that emancipation actions emerge in encouraging the collapse of the exploitative side of the capitalist system in general and gender-based violence in particular.
Kerentanan Perempuan dalam Surveillance Capitalism Bergita P. Pricelia Lejo
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.671 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3616

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa kerentanan perempuan terhadap Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) di dalam ruang digital. Studi ini menggunakan konsep kapitalisme pengawasan/surveillance capitalism dan symbolic violence sebagai dasar untuk memahami logika ekonomi dan juga kekerasan yang berlangsung dalam ruang digital. Ruang digital sebagai alat ekonomi tidak hanya menghasilkan “behavioral surplus” sebagai material baru tetapi juga menjadi ruang bagi terbentuknya “dominant habitus” tentang siapa itu perempuan dan bagaimana seharusnya perempuan merepresentasikan dirinya. Dominant habitus yang senantiasa direproduksi mampu menciptakan kebutuhan ekonomi bagi perempuan melalui komodifikasi dan bahkan eksploitasi terhadap tubuh perempuan yang terepresentasi dalam teks gambar, dan video di dalam platform digital. Melalui proses-proses ini, perempuan mengalami kekerasan simbolik yang terus-menerus direproduksi dalam dominant habitus. Dengan demikian, bekerjanya surveillance capitalism dan menguatnya dominant habitus di dalamnya menjadi kondisi yang membuka ruang bagi berlangsungya KGBO terhadap perempuan. Dengan menggunakan perspektif kritis dalam memandang KGBO tulisan ini hendak mendalami proses-proses yang mengkondisikan kerentanan perempuan di dalam ranah digital. Pemahaman akan hal-hal tersebut menjadi basis penting untuk memikirkan secara tepat posisi perempuan di dalam ruang digital yang saat ini secara luas diterima sebagai condition sine qua non yang di dalamnya berbagai bentuk relasi berlangsung. Dengan demikian, tulisan ini memberikan pijakan dasar untuk mendorong dan merumuskan beberapa agenda perubahan. === This paper aims to analyze women's vulnerability to Online-Based Gender Violence (KGBO) in the digital platform. This study uses the concept of surveillance capitalism and symbolic violence as a basis for understanding the economic logic and violence that takes place in today's digital platform. Digital platform as an economic tool not only produces a "behavioral surplus" as a new material, but also becomes a space for the formation of a "dominant habitus"; who is women are and how women should represent themselves. Dominant habitus which is always reproduced is able to create economic needs for women through commodification and even exploitation of women's bodies which are represented in text, images and videos on digital platforms. Throughout these processes, mostly women suffer from symbolic violence which persistently reproduced by the dominant habitus. It obviously reflects the vulnerability of woman as the victim of KGBO. By using a critical perspective in looking at KGBO, this paper intends to explore the process that put women’s vulnerability in the digital arena. Understanding of these matters becomes an important basis for thinking about the exact position of women in the digital space which is currently widely accepted as a condition sine qua non in which various forms of relations take place. Thus, this paper provides a basic basis for encouraging and formulating several agendas for change.
Pengaruh Media Sosial “Instagram” Di Masa Pandemi Covid-19 terhadap Kekerasan Berbasis Gender Online Fitria Cita Dirna
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.948 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3617

Abstract

Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) merupakan salah satu jenis kasus baru dalam Kekerasan Berbasis Gender yang saat ini mulai banyak dilaporkan kepada Komnas Perempuan. Kekerasan ini dapat terjadi karena difasilitasi oleh internet serta teknologi. Instagram merupakan media sosial yang memiliki banyak jumlah pengguna sehingga menjadi salah satu wadah terjadinya kasus KBGO. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial instagram terhadap kasus KBGO di masa pandemi COVID-19 serta menganalisis upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam menangani kasus KBGO. Metodologi yang digunakan dengan pendekatan deskriptif analisis telaah pustaka sebanyak 21 literatur yang berkaitan dengan KBGO, media sosial, instagram, dan masa pandemi COVID-19 di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa instagram berpengaruh terhadap peningkatan kasus KBGO di masa pandemi COVID-19. Adapun upaya yang dilakukan untuk menangani kasus KBGO seperti membuat akun khusus di instagram, sebagai wadah untuk korban KBGO berbagi kisah yang pernah dialaminya, melakukan seminar daring (webinar) di masa pandemi COVID-19, dan membuat kampanye dengan poster di instagram. Secara keseluruhan, Peristiwa pelecehan dengan komentar kasar serta pelanggaran privasi merupakan jenis kasus KBGO yang banyak terjadi di instagram. === Online Gender-Based Violence (KBGO) is a new type of case in Gender-Based Violence, which is currently being reported to Komnas Perempuan. This violence can occur because it is facilitated by the internet and technology. Instagram is a social media that has a large number of users so that it is one of the places for the KBGO case to occur. The purpose of writing this article is to analyze the influence of social media Instagram on KBGO cases during the COVID-19 pandemic and to analyze what efforts can be made in dealing with KBGO cases. The methodology used is a descriptive approach to analyzing literature review as much as 21 literature related to KBGO, social media, instagram, and the COVID-19 pandemic in Indonesia. The results of the analysis show that Instagram has an effect on the increase in KBGO cases during the COVID-19 pandemic. Efforts are being made to handle the KBGO case, such as creating a special account on instagram as a forum for KBGO victims to share stories they have experienced, conducting online seminars (webinars) during the COVID-19 pandemic, and creating campaigns with posters on Instagram. Overall, incidents of harassment with harsh comments and violations of privacy are the most common types of KBGO cases on Instagram.
Melihat Peran Perantara dalam Kasus Penyebaran Video Non-Konsensual dengan Kerangka Contextual Integrity Idha Saraswati
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.352 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3618

Abstract

Jumlah kasus kekerasan berbasis gender online atau KBGO selama masa pandemi dilaporkan meningkat. Penambahan jumlah pengguna internet serta kian masifnya tranformasi digital selama masa pandemi dipandang berkontribusi dalam peningkatan kasus KBGO tersebut. Kekerasan berbasis gender yang selama ini sudah marak terjadi di ranah offline menemukan ruang baru di dunia online sehingga kian mengancam keamanan, kesehatan dan keselamatan perempuan. Dalam kasus KBGO, dua pihak yang paling banyak dibicarakan adalah pelaku dan korban. Namun, pembicaraan tersebut melupakan pihak lain yang juga berpengaruh penting dalam terjadinya kekerasan, yakni platform digital yang menjadi wadah maupun memfasilitasi peristiwa kekerasan. Platform digital seperti media sosial tercatat menjadi salah satu medium terjadinya KBGO. Tulisan ini memaparkan peran platform digital sebagai perantara dalam kasus kekerasan, khususnya KBGO, dengan menerapkan kerangka contextual integrity yang diajukan Nissenbaum (2010) pada kasus penyebaran video intim non-konsensual yang menimpa GA dan GL. Tulisan ini menunjukkan bahwa melalui sistem dan kebijakan layanannya, pihak perantara turut berperan dalam mendorong terjadinya KBGO. === The number of online gender based violence (OGBV) cases in Indonesia are reportedly increasing during the pandemic. The increasing number of internet users and the massive digital transformation during the pandemic has contributed to the escalation in OGBV cases. Gender-based violence has found a new space in the online world, thus threatening women’s security, health, and safety. In the OGBV case, the two parties that has been discussed the most were the perpetrators and the victims. However, the discussion forgot about the other party that also had an important influence, namely the digital platform. Digital platfarm like social media has become the medium for OGBV.This paper describes the role of the digital platform as an intermediary party for communication exchange in the cases of online violence, especially OGBV, by applying the contextual integrity framework proposed by Nissenbaum (2010) in the dissemination of non-consensual intimate videos of GA and GL cases. This paper shows that through its system and policies, digital platforms play significant role in facilitating OGBV.