cover
Contact Name
Robby Irsan
Contact Email
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Phone
+6282149492595
Journal Mail Official
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : -     EISSN : 26222884     DOI : https://doi.org/10.26418/jtllb
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah (ISSN: 2622-2884) is a scientific journal published by Environmental Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia. The journal was purposed as a medium for disseminating research results in the form of full research article, short communication, and review article on aspects of environmental sciences. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah is registered on the ISSN starting from Vol. 6, No. 2, July 2018. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah accepts articles in Bahasa Indonesia or English by covering several topics of environmental studies including clean water supply, wastewater distribution, and treatment, drainage and treatment of liquid waste, solid waste treatment (solid waste), air pollution control, management of industrial and B3 discharges, environmental management (impact analysis), environmental conservation, water and soil pollution control, environmental health and sanitation, occupational safety and health, pollution control in wetlands. Since 2023, The journal periodically publishes four issues in a year in January, April, July, and October.
Articles 486 Documents
IDENTIFIKASI JENIS DAN JUMLAH SAMPAH LAUT DI KABUPATEN BENGKAYANG DAN KOTA SINGKAWANG (Monitoring of Marine Litter in Bengkayang District and Singkawang City) Dian Rahayu Jati; Kiki Prio Utomo
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.247 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v8i1.39900

Abstract

AbstractIndonesia has committed to reducing 70% of marine waste up to 2025. Monitoring of waste in the coastal area is needed to determine the characteristic of waste found on the beach, both medium-sized (meso debris, 0,5 -2,5 cm) and large (macro debris), ( measuring > 2,5 cm) This research was conducted in Batu Payung Beach, Sedau Village, Bengkayang Regency, and Pasir Panjang Beach, Karimunting Village, Singkawang City, West Kalimantan. A sampling of plastic waste is carried out through several stages, namely: determination and making of the transect line, followed by the distribution of transects into 5 lanes measuring 5 m X 5m, at each lane. Waste taken is rubbish that is on the surface of the sand to a depth of 30 cm. The results found that the heaviest amount of waste was plastic waste in Batu Payung Beach, which reached 83,5 % of macros and meso waste, while the highest type of waste was plastic waste, which took the form of food packages, straws, and cigarette butts.Keywords: Amount of garbage, Indonesia, plastic waste, rubbish, the garbage of type. AbstrakIndonesia telah berkomitmen untuk menurunkan 70% sampah laut hingga 2025. Sehingga pemantauan sampah di kawasan pantai diperlukan untuk mengetahui karakteristik sampah yang ditemukan di pantai, baik sampah yang berukuran sedang (meso debris, berukuran 0.5-2.5 cm) maupun yang berukuran besar (makro debris, berukuran >2.5 cm). Penelitian ini dilakukan di Pantai Batu Payung, Desa Sedau,  Kabupaten Bengkayang dan Pantai Pasir Panjang, Desa Karimunting, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Pengambilan sampel sampah plastik dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu : Penentuan dan pembuatan garis Transek, dilanjutkan dengan pembagian transek menjadi 5 lajur yang berukuran 5 m x 5 m, pada setiap lajur. Sampah yang diambil adalah sampah yang berada di atas permukaan pasir hingga kedalaman 30 cm. Hasil penelitian mendapatkan bahwa jumlah sampah terberat adalah sampah plastik di Pantai Batu Payung yang mencapai 83,5 % dari sampah makro dan meso, sedangkan jenis sampah terbanyak adalah sampah plastik, yang berupa bungkus makanan, sedotan, dan puntung rokok. Kata Kunci: Jenis sampah, jumlah sampah,  sampah pantai, sampah plastik, Indonesia.
PERENCANAAN ARTIFICIAL REEF SEBAGAI RESTORASI TERUMBU KARANG DAN PENGAMAN PANTAIDI PULAU LEMUKUTAN KABUPATEN BENGKAYANG Dhiecho Mahar Dhiecha
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.26 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.9081

Abstract

ABSTRACT Damage that occurs around the area Lemukutan Island caused the use of chemicals or cyanide to catch fish and coral reefs by local people, but it is also often made use of bombs surrounding communities to take beautiful corals that will be sold to destroy coral reef ecosystems in the waters .Artificial reef planning methods (Artificial reef ) as the restoration of coral reefs and coastal protection is to conduct a field survey using a measuring instrument GPS topographic, marine water quality data and using secondary data, statistical data, tidal, wave height, bathymetry map, direction of flow and wind direction. Water quality analysis carried out in-situ, parameter test in the brightness of the water, currents, salinity, temperature, pH. Analysis of the function of Artificial reefs for reef restoration and as coastal protection is to use a hollow dome type or reef balls. Appropriate placement location and located at coordinates N 00 45 '33.8 ", E 1080 42' 19.5" up to N 00 45 '29.2 "E 1070 15' 49.0", and the average depth of 3 meters. Results of water quality testing based on parameters salinity, current velocity, pH, turbidity, light intensity and temperature qualify coral life quality standards in Indonesia based on PERMEN LH No. 51 TAHUN 2004. The dimensions of Artificial reef s diameter of 1.80 m, height 1.50 m with a thick layer of 10 cm and a hole located on the sides of the Artificial reef for 34 holes with a diameter of 15 cm. Filler material used is concrete with a volume of 0.916 m3, equivalent to 2,198 tons. Binder or cement used type V, which is resistant to high sulfate levels. The amount of reef balls used is 834 pieces. Keywords: Artificial reef , Seawater Quality, Reef balls and coral reefs,.
ANALISIS BEBAN EMISI CO DAN CH4 DARI KEGIATAN PEMBAKARAN SAMPAH RUMAH TANGGA SECARA TERBUKA (Studi Kasus Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya) Della Octavia Yulisa Fitrianingsih Dian Rahayu Jati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.641 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.12863

Abstract

ABSTRAK Emisi dapat dihasilkan dari proses alam maupun aktivitas manusia. Emisi menjadi kunci utama terjadinya pencemaran lingkungan khususnya pencemaran udara. Salah satu aktivitas yang berpotensi menimbulkan emisi adalah pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka. Berdasarkan hasil observasi lapangan, sistem manajemen pengelolaan dan pengolahan sampah di wilayah Kecamatan Sungai Kakap belum maksimal. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakat mengolah sampah rumah tangga yang dihasilkan dengan cara membakar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui timbulan sampah rumah tangga di Kecamatan Sungai Kakap, mengetahui persentase penduduk membakar sampah dan frekuensi pembakaran, mengetahui perkiraan beban emisi CO dan CH4 dari kegiatan pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka melalui perhitungan berdasarkan faktor emisi U.S. EPA (2001), serta memberikan rekomendasi yang tepat sebagai upaya pengurangan emisi. Pengambilan sampel sampah dilakukan dengan metode stratified random sampling berdasarkan klasifikasi pendapatan masyarakat. Klasifikasi pendapatan masyarakat didasarkan pada UMK (Upah Minimum Kabupaten) Kubu Raya Tahun 2015. Kelompok rumah dibagi menjadi dua golongan yaitu kelompok rumah dengan tingkat pendapatan masyarakat dibawah dan diatas nilai UMK. Sebanyak 46 rumah menjadi objek sampling untuk mendapatkan data timbulan sampah. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin, sebanyak 110 kuesioner disebarkan untuk mendapatkan data persentase penduduk membakar sampah serta data frekuensi pembakaran sampah. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata timbulan sampah untuk Kecamatan Sungai Kakap yaitu sebesar 0,176 kg/orang/hari. Persentase penduduk membakar sampah di Kecamatan Sungai Kakap sebesar 66,4% dengan nilai frekuensi pembakaran sekitar 2 kali/minggu. Hasil perhitungan nilai beban emisi akibat pembakaran sampah di Kecamatan Sungai Kakap untuk gas CO yaitu sebesar 59,294 ton/tahun dan untuk gas CH4 yaitu sebesar 9,059 ton/tahun. Nilai beban emisi tersebut diperkirakan akan semakin tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk apabila tidak ada upaya pengurangan emisi. Rekomendasi yang dapat diberikan dalam upaya pengurangan emisi di Kecamatan Sungai Kakap adalah dengan merubah pola pikir dan paradigma masyarakat melalui pendekatan edukatif, pemberlakuan sanksi kepada masyarakat yang melakukan pembakaran sampah secara terbuka, serta perbaikan sistem manajemen sampah wilayah melalui penyediaan pelayanan persampahan dan penerapan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) secara sederhana dengan melibatkan masyarakat.   Kata Kunci : Pembakaran Sampah Secara Terbuka, Kecamatan Sungai Kakap, Beban Emisi,Emisi CO dan CH4
KONTRIBUSI LIMBAH CAIR PASAR FLAMBOYAN TERHADAP KUALITAS AIR DI PARIT TOKAYA KOTA PONTIANAK Zulfika Yunita
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.002 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.13808

Abstract

ABSTRAK Parit Tokaya merupakan saluran yang digunakan untuk menampung buangan dan sekaligus air hujan. Salah satu aktivitas yang berada di sekitar Parit Tokaya yakni aktivitas di Pasar Flamboyan. Pasar flamboyant sudah memiliki pengolahan limbah di bagian Pasar Sayur dan sebagian Pasar Daging dan Ayam, namun khusus Pasar Ikan belum termasuk bagian pengolahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi atau pengaruh dari Pasar Flamboyan terhadap kualitas air di Parit Tokaya, trend sebaran pencemar domestik dan rata - rata beban pencemaran di Parit Tokaya. Penelitian diawali dengan pengambilan sampel secara grab sample pada saat pasang dan surut, mengukur kecepatan air, luas penampang, debit dan analisis kualitas air. Besarnya kontribusi Pasar Flamboyan dilihat berdasarkan beberapa pendekatan, yakni dari penurunan kualitas air berdasarkan trend sebaran, luas wilayah dan persentase penurunan konsentrasi buangan. Kontribusi Pasar Flamboyan hanya terukur dalam bentuk persentase dan belum memberikan nilai yang sesungguhnya. Hasil analisis menunjukkan bahwat trend sebaran parameter pencemar saat pasang cenderung meningkat dari arah hilir ke hulu dan saat surut terjadi sebaliknya. Kontribusi limbah cair Pasar Flamboyan terbesar untuk setiap parameter yakni sebesar 83,31% pada saat pasang dan 15,62% pada saat surut untuk parameter BOD, untuk parameter amonia sebesar 54,68% saat pasang dan 19,89% saat surut, untuk parameter nitrit sebesar 62,86% saat pasang dan 100% saat surut, untuk parameter nitrat sebesar 60,35% saat pasang dan 33,33% saat surut, sedangkan untuk parameter TSS sebesar 70,9% saat pasang dan 10,32% saat surut. Rata – rata beban pencemar Parit Tokaya pada saat pasang cenderung lebih besar daripada saat terjadinya surut, kecuali parameter BOD dan Amoniak. Rata – rata beban pencemar Parit Tokaya untuk parameter BOD sebesar 35,8 kg/hari (pasang) dan 348,72 kg/hari (surut), parameter TSS sebesar 904,22 kg/hari (pasang) dan 235,10 kg/hari (surut), parameter amonia sebesar 14,67 kg/hari (pasang) dan 166,71 kg/hari (surut), parameter nitrat sebesar 34,70 kg/hari (pasang) dan 2,24 kg/hari (surut), parameter nitrit sebesar 0,16 kg/hari (pasang) dan 0,03 kg/hari (surut).   Kata Kunci : Air Buangan, Pasar Flamboyan, Parit Tokaya, Kontribusi
PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN TERUSAN KECAMATAN MEMPAWAH HILIR KABUPATEN MEMPAWAH Zenia Oktaviani
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2242.377 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.17761

Abstract

ABSTRAK Hutan mangrove mempunyai peran penting dalam melindungi kawasan pesisir pantai. Pemanfaatan mangrove oleh masyarakat pesisir pantai dapat berakibat berkurangnya fungsi lindung mangrove terhadap daerah pantai. Salah satu dampak yang timbul dari berkurangnya fungsi lindung kawasan pesisir pantai adalah terjadinya perubahan garis pantai. Perubahan garis pantai dapat terjadi melalui proses abrasi maupun proses akresi. Perubahan garis pantai yang terjadi pada tahun 1995 akibat berkurangnya fungsi mangrove pada Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Mempawah khususnya pada Dusun Benteng menyebabkan masyarakat merasakan dampak yang ditimbulkan akibat adanya perubahan garis pantai akibat proses abrasi.  Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan garis pantai sebagai akibat hilangnya kawasan hutan mangrove dengan menggunakan time series Citra Satelit Landsat dari tahun 2009 – 2015. Metode penelitian yaitu pengolahan data overlay dengan menggunakan sistem informasi geografis dengan perangkat lunak ArcMap 10.1 dan informasi tentang perubahan garis pantai akibat kerusakan kawasan mangrove diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan pendekatan purposive sampling dan snowball sampling. Hasil analisis peta time series dari Citra Landsat dari tahun 2009 - 2015 telah mengalami penambahan daratan sepanjang 127,9 meter dan laju penambahan pertahunnya adalah 18,27 meter/tahun. Hasil dari tumpang susun (overlay) setiap tahunnya menunjukkan adanya penambahan dan pengurangan daratan, maka didapatkanlah rata-rata abrasi pertahun sebesar 6,74 ha/tahun dan rata-rata akresi pertahun sebesar 42,04 ha/tahun. Untuk meningkatkan upaya perlindungan daerah pesisir pantai selain melakukan upaya penanaman mangrove yang berfungsi sebagai penahan dan pemecah gelombang juga dapat dilakukan pembuatan bangunan sipil pemecah gelombang seperti membangun blok-blok beton, tumpukan batu dan sebagainya pada pesisir Kelurahan Terusan yang rentan akan abrasi. Kata Kunci : Perubahan garis pantai, daerah pesisir, kerusakan hutan mangrove, sistem informasi geografis.
INSIDENSI PENYAKIT DIARE BERDASARKAN KEPADATAN BAKTERI COLIFORM DI SUNGAI JAWI, KOTA PONTIANAK Liza Syafitri; Rahmawati Rahmawati; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.091 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.18538

Abstract

ABSTRAKSungai Jawi menjadi saluran primer yang digunakan oleh masyarakat setempat dan muara saluran sekunder dari kawasan perumahan. Bakteri coliform biasa dijadikan indikator keberadaan bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit water borne disease yaitu diare. Hal tersebut menjadi dasar tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepadatan bakteri coliform di saluran Sungai Jawi dan hubungannya terhadap parameter suhu, pH, DO dan BOD serta insidensi penyakit diare di Sungai Jawi. Titik pengambilan sampel dilakukan di hulu, tengah dan hilir Sungai Jawi saat kondisi pasang-surut Sungai Kapuas pada bulan September 2016 jam 09.40 WIB (saat surut) dan jam 15.40 (saat pasang). Analisis hubungan kepadatan bakteri coliformterhadapparameter suhu, pH, DO dan BOD serta insidensi diare menggunakan uji korelasi Pearson Product Momentsementara analisis hubungan masyarakat yang menggunakan air Sungai Jawi terhadap insidensi diare menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis kualitas air menunjukkan bahwa kepadatan bakteri coliform meningkat dari titik hulu menuju titik hilir dengan nilai 150-1.500 MPN/100 ml saat pasang dan 930-11.000 MPN/100 ml saat surut. Analisis uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan positif (berbanding lurus) parameter pH dan BOD serta hubungan negatif (berbanding terbalik) parameter suhu dan DO terhadap kepadatan bakteri coliform. Hasil uji korelasi juga menunjukkan adanya hubungan antara kepadatan bakteri coliform terhadap insidensi diare, dengan nilai koefisien korelasi -0,649 (pasang) dan -0,695 (saat surut). Sementara hasil analisis uji Chi-Square(df=1;a=5%) menunjukkan adanya hubungan antara masyarakat pengguna air Sungai Jawi dan insidensi diare. Jadi, dapat disimpulkan air Sungai Jawi berpotensi sebagai faktor terjadinya diare di Sungai Jawi. Kata Kunci :Diare, Coliform, Sungai Jawi, Pontianak
EFEKTIVITAS LUBANG RESAPAN BIOPORI TERHADAP LAJU RESAPAN (INFILTRASI) Murti Juliandari
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.312 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.3441

Abstract

Pengelolaan sampah organik yang berada di perkebunan penduduk di Desa Amboyo Inti tidak dilakukan denganbaik, sehingga menjadi salah satu permasalahan bagi pengelolaan sampah. Sampah buah-buahan yangmenumpuk, menimbulkan bau busuk dan mengundang binatang untuk berdatangan. Jenis tanah yang beradadiperkebunan penduduk di Desa Amboyo Inti memiliki jenis tanah lempung-lempung lanau yang memilikipermeabilitas tanah masuk dalam kelas lambat, sehingga pada saat musim penghujan, terjadi run off yangberakibat pada semakin berkurangnya area infiltrasi air hujan. Penelitian ini digunakan untuk mengetahuiperbandingan laju resapan sebelum dan setelah adanya biopori dengan sampah kulit buah, serta mengetahuilaju resapan (infiltrasi) terhadap kinerja biopori paling besar berdasarkan variasi umur sampah. Penelitian ini dilakukan dengan mengebor tanah pada kedalaman 50 cm menggunakan Hand Bor berdiameter 7 cm. Jarak antar lubang adalah 5 meter, dengan 4 titik sampel penelitian. Kemudian dimasukkan sampah kulitbuah, dan pengukuran laju infiltrasi dilakukan setelah sampah terdekomposisi selama 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan28 hari. Pengukuran infiltrasi menggunakan pipa paralon dengan cara mengamati penurunan muka air didalamparalon setiap interval waktu 5 menit. Penggunaaan pipa berlubang dan pipa tidak berlubang dilakukan untukmengetahui efektivitas laju infiltrasi penggunaan biopori tanpa pipa berlubang dan efektivitas laju infiltrasi padapipa berlubang.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan laju infiltrasi rata-rata sebelum adanya biopori adalah 1,69 mm/menit.Sedangkan pada lubang biopori 1 dan 2 tanpa menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi padaminggu ke-2 sebesar 2,02 mm/menit dan 2,12 mm/menit dengan umur sampah yang optimal dalam penelitianbiopori ini untuk meresapkan air adalah minggu ke-2 dan efektivitas penurunan laju infiltrasi rata-rata sebesar1,03 mm/menit atau 39% dan 1,33 mm/menit atau 21,30%. Sedangkan pada lubang biopori 3 dan 4menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi pada minggu ke-2 dan minggu ke-4 sebesar 4,90 mm/menit dan 6,40 mm/menit, dan efektivitas kenaikan laju infiltrasi rata-rata sebesar 2,25 mm/menitatau 33,14% dan 2,68 mm/menit atau 58,58 %. Kinerja biopori pada penelitian ini dipengaruhi oleh lamanyawaktu pengomposan dan hari hujan.Kata kunci : Laju infiltrasi, sampah kulit buah, biopori
PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA SEBAGAI KOAGULAN UNTUK MENURUNKAN KADAR BOD DAN TSS LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN Ida Lafiyah
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.632 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.23888

Abstract

ABSTRAKLimbah cair yang dihasilkan oleh aktivitas rumah makan mengandung senyawa organik berupa karbohidrat, protein, lemak dan minyak yang apabila masuk ke badan air dapat menyebabkan pencemaran. Pengolahan koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan kimia masih menghasilkan endapan mengandung unsure kimia, maka dari itu pemanfaatan koagulan alami seperti biji asam jawa digunakan untuk pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efisiensi penggunaan biji asam jawa sebagai koagulan untuk menurunkan kadar BOD dan TSS pada limbah cair rumah makan. Berdasarkan hasil uji pendahuluan, konsentrasi BOD sebesar 2234 mg/L dan TSS sebesar 1430 mg/L. Nilai tersebut masih berada diatas standar baku mutu berdasarkan Permen LH No 5 Tahun 2014 yaitu konsentrasi BOD sebesar 100 mg/L dan TSS sebesar 100 mg/L. Variabel penelitian yang digunakan adalah pemberian dosis koagulan biji asam jawa dengan variasi dosis 3 gram/L, 4 gram/L, 5 gram/L, 6 gram/L dan 7 gram/L, dengan kecepatan pengadukan lambat sebesar 100 rpm selama 1 menit dan kecepatan pengadukan lambat sebesar 40 rpm selama 3 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara dosis koagulan dan kecepatan pengadukan terhadap efisiensi penurunan parameter BOD sebesar 90,97 % dari 2.234 mg/L menjadi 201,8 mg/L dan parameter TSS sebesar 95,18 % dari 1430 mg/L menjadi 68,88 mg/L. Efektivitas pengolahan belum sesuai yang diharapkan karena hasil yang diperoleh masih melewati baku mutu, untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan penambahan pengolahan lain yang dapat mendukung penurunan pararameter BOD dan TSS agar hasil yang di dapat melewati baku mutu Permen LH No 5 Tahun 2014. Kata kunci : Koagulan, biji asam jawa (Tamarindus indica), koagulasi-flokulasi
PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN WISATA BUKIT KELAM KABUPATEN SINTANG Merlin Naltaru
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.402 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.6623

Abstract

ABSTRAK Bukit Kelam sebagai salah satu tempat wisata yang diminati masyarakat, baik dalam daerah Kabupaten Sintang maupun dari luar Kabupaten, yang diperkirakan semakin tahun semakin meningkat pengunjungnya.Peningkatan ini tentu saja dapat meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan dari setiap aktivitas pengunjung dan pedagang yang ada di kawasan wisata Bukit Kelam. Penanganan sampah di kawasan wisata Bukit Kelam untuk saat ini masih menggunakan cara lama yaitu sampah dikumpulkan ke tempat pengumpulan sementara (semacam TPS) kemudian dibakar. Tujuan perencanaan ini yaitu untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah yang dihasilkan oleh aktivitas di kawasan wisata Bukit Kelam dan untuk merencanakan sistem pengelolaan sampah terpadu di kawasan wisata Bukit Kelam.Metode penelitian untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah dilakukan pada saat jumlah pengunjung tertinggi tanggal 25 Desember 2013 dan 1 Januari 2014. Titik pengambilan sampel terdiri dari 8 titik yaitu warung (3 buah), gedung serbaguna (1 buah) , taman bermain (1 buah), dan air terjun (3buah). Perencanaan sistem pengelolaan sampah di kawasan wisata Bukit Kelam meliputi aspek teknis operasional, aspek pembiayaan dan aspek peran serta masyarakat. Aspek teknis operasional yaitu perencanaan perwadahan, pengumpulan dan pengangkutan.Total jumlah timbulan sampah organik dan sampah anorganik rata-rata di kawasan wisata Bukit Kelam yaitu 0,25 m3/hari dengan komposisi sampah organik 0,12 m3/hari (48,13%), plastik bekas 0,24 m3/hari (10,16%), botol minuman 0,96 m3/hari (41,18%) dan botol kaca 1,14 m3/hari (48,66%). Perwadahan komunal yang disediakan sebanyak 19 buah yang tersebar di beberapa tempat, pengumpulan yang dilakukan yaitu menggunakan pola pengumpulan tidak langsung dimana sampah yang berasal dari wadah individual dikumpulkan di wadah komunal oleh pedagang dan pengunjung, pengangkutan yang dilakukan menggunakan keranjang gendong dengan kapasitas 0,25 m3 sebanyak 2 buah keranjang gendong. Perencanaan TPST terdiri 3 bangunan yaitu pos jaga dengan luas lahan 4 m2 dan jumlah karyawan 1 orang; rumah kompos (tempat pemilahan, pencacahan, pengayakan, area pematangan, gudang) dengan luas 103,66 m2 dengan jumlah karyawan 4 orang; dan ruang administrasi dengan luas lahan 9 m2 dan jumlah karyawan 2 orang. Biaya investasi pembangunan TPST yaitu Rp.627.833.000,- sedangkan biaya hasil penjualan pengolahan sampah dan retribusi pengunjung, pedagang dan APBD yaitu Rp.451.200.000,- perbulan dan biaya operasional dan pemeliharaan sebesar Rp.24.912.000,- perbulan. Katakunci :sistem pengelolaan sampah, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), prinsip 3R
Pemanfaatan Arang Aktif Ampas Kopi Sebagai Adsorben Kadmium Pada Air Sumur (The Usage of Coffee Waste Actived Charcoal as Adsorbent of Cadmium in Well Water) Anita Dewi Moelyaningrum
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 7, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.812 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v7i1.31115

Abstract

Logam berat masih banyak ditemukan mencemari lingkungan. Cadmium adalah logam berat yang bisa ditemukan didalam air disekitar tempat pembuangan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis arang aktif ampas kopi dalam menurunkan kadar Cd dalam air. Metode penelitian ini adalah true eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap. Tahap pertama adalah pembuatan arang kemudian diaktivasi dengan HCl. Hasil Uji kualitas arang aktif ampas kopi meliputi rendemen (98,5%), kadar air (7%), kadar abu (4%) dan daya serap idoin (687,96 mg/g). Terdapat empat kelompok yaitu tanpa perlakuan 0 gr/l (P0), perlakuan dengan 5 gr/ l (P1), 8 gr/l (P2) dan 10g/l (P3),  dimana masing-masing kelompok terdiri dari 6 replikasi. Kelompok yang diberi perlakuan dikontakkan dengan arang aktif ampas kopi selama 2 jam. Selanjutnya dilakukan analisa kadar Cd dalam air dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom. Hasil penelitian dilakukan uji normalitas kemudian dilakukan uji one way anova menggunakan SPSS. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan secara signifikan sebesar 0,000 dengan interval kepercayaan 95% antara kelompok kontrol dan perlakuan. Arang aktif ampas kopi  secara significant dapat mengikat kadar cadmium dalam air. Heavy metal cadmium (Cd) is still polluted the environment. It can be found in the wells around the landfill. This study aimed to analyze the active charcoal coffee ground to adsorb the cadmium in the water. This research method is the true experimental design with Completely Randomized Design. The first stage is making charcoal and then activated with HCl. There are four groups 0 gram/littre (P0), perlakuan dengan 5 gram/littre (P1), 8 gram/littre (P2) dan 10 gram/littre (P3) with each group consisting of 6 replication. Treatement group contacted with active charcoal coffee around 2 hours. Results of research normality test later conducted ANOVA test. The test results informed that there is 0,000 difference significanly with 95% confidence intervals. The active charcoal coffee had significant to adsorb cadmium in the water.

Page 2 of 49 | Total Record : 486