cover
Contact Name
Robby Irsan
Contact Email
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Phone
+6282149492595
Journal Mail Official
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : -     EISSN : 26222884     DOI : https://doi.org/10.26418/jtllb
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah (ISSN: 2622-2884) is a scientific journal published by Environmental Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia. The journal was purposed as a medium for disseminating research results in the form of full research article, short communication, and review article on aspects of environmental sciences. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah is registered on the ISSN starting from Vol. 6, No. 2, July 2018. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah accepts articles in Bahasa Indonesia or English by covering several topics of environmental studies including clean water supply, wastewater distribution, and treatment, drainage and treatment of liquid waste, solid waste treatment (solid waste), air pollution control, management of industrial and B3 discharges, environmental management (impact analysis), environmental conservation, water and soil pollution control, environmental health and sanitation, occupational safety and health, pollution control in wetlands. Since 2023, The journal periodically publishes four issues in a year in January, April, July, and October.
Articles 486 Documents
EVALUASI DAN OPTIMALISASI KINERJA IPA I PDAM KOTA PONTIANAK RANI NOVITASARI
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.4379

Abstract

Perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Pontianak merupakan salah satu perusahaan daerah yang bertanggungjawab dalam penyediaan air bersih di kota Pontianak. IPA I Imam Bonjol merupakan IPA yang paling tua di PDAM Kota Pontianak mempunyai kapasitas pengolahan sekitar 150 liter/detik yang mulai dioperasikan pada tahun 1962. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas air baku dan air hasil produksi IPA I apakah sudah sesuai standar baku mutu menurut peraturan yang ada dan mengetahui efisiensi penyisihan di tiap unit pengolahan IPA I serta memberikan rekomendasi perbaikan. Metodologi yang digunakan adalah mengevaluasi kinerja IPA I berdasarkan kriteria desain dan menganalisa kualitas air baku dan air hasil produksi dengan standar baku mutu yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian bahwa air baku sungai Kapuas sudah memenuhi standar baku mutu air baku kelas I menurut PP.No. 82 Tahun 2001, tetapi untuk kekeruhan dan warna di atas baku mutu yaitu 39 NTU melebihi standar baku mutu 25 NTU dan warna 248 Pt.Co melebihi standar baku mutu 50 Pt.Co. Unit pengolahan IPA I terdiri dari koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Pada unit koagulasi mempunyai efisiensi penyisihan kekeruhan 71,79% dan warna 72,89%. Unit flokulasi efisiensi penyisihan kekeruhan 82,05% dan warna 87,90%. Unit Sedimentasi efisiensi penyisihan kekeruhan 82,05%, warna 91,13% dan besi 95,55%. Unit filtrasi efisiensi penyisihan kekeruhan 79,49%, warna 91,53 %, dan besi 95,55%. Air hasil produksi IPA I belum memenuhi standar baku mutu air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/1V/2010. Parameter yang belum sesuai standar baku mutu air minum adalah parameter warna, kekeruhan, aluminium. Parameter warna mempunyai konsentrasi 41,20 Pt.Co di atas standar baku mutu 15 Pt.Co, kekeruhan 7 NTU di atas standar baku mutu 5 NTU, aluminium 4 mg/L di atas standar baku mutu 0,2 mg/L. Parameter yang berada di bawah standar baku mutu adalah TDS, sulfat, dan besi. TDS mempunyai konsentrasi 110 mg/L di bawah standar baku mutu 1000 mg/L, sulfat mempunyai konsentrasi 25 mg/L di bawah standar baku mutu 250 mg/L, besi mempunyai konsentrasi 0,03 mg/L di bawah standar baku mutu 0,3 mg/L. Secara keseluruhan kinerja unit pengolahan IPA I masih baik, tetapi pada unit flokulasi perlu adanya perbaikan untuk mengoptimalkan kinerja unit tersebut, yaitu dengan menambahkan baffle channel pada unit pengolahan sehingga kinerja di unit flokulasi dapat menjadi lebih baik. Kata kunci : IPA , Air Baku, Efisiensi
PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KOMUNIKASI PEKERJA PABRIK PT. X, KECAMATAN MANIS MATA, KABUPATEN KETAPANG Vilda Rahmawati Yulisa Fitrianingsih Suci Pramadita
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.25534

Abstract

ABSTRAKPT. X merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang. Proses produksi minyak kelapa sawit menggunakan mesin berkapasitas tinggi dan pengoperasian cukup panjang. Dimana kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja salah satunya gangguan komunikasi. Sementara itu, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 tahun 2011 telah menetapkan bahwa nilai ambang batas kebisingan sebesar 85 dB. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi sumber mesin produksi yang berpotensi menghasilkan kebisingan melebihi nilai ambang batas dan mengidentifikasi pengaruh tingkat kebisingan terhadap komunikasi pekerja yang terpapar kebisingan melebihi nilai ambang batas. Berdasarkan hasil pengukuran, sumber stasiun produksi yang berpotensi menghasilkan tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas tertinggi tanpa dipengaruhi aktivitas stasiun produksi lainnya terjadi pada stasiun power house dengan nilai sebesar 96,2 dB dan tingkat kebisingan terendah terjadi pada stasiun loading ramp dengan nilai sebesar 66,8 dB. Sedangkan tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas tertinggi dengan dipengaruhi aktivitas stasiun produksi lainnya terjadi pada stasiun kernel dengan nilai sebesar 97 dB dan tingkat kebisingan terendah terdapat pada stasiun loading ramp dengan nilai sebesar 69,3 dB. Hasil statistik menggunakan SPSS versi 18.0 dengan uji regresi sederhana didapatkan dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengaruh tingkat kebisingan terhadap komunikasi pekerja yang terpapar kebisingan melebihi nilai ambang batas sebesar 21% yang termasuk dalam tingkatan “rendah”. Dimana nilai tersebut menyatakan bahwa kebisingan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komunikasi pekerja, yang dapat dilihat pada hasil tes audiometri. Berdasarkan hasil uji audiometri dari 32 responden, 59% diantaranya mengalami penurunan daya dengar dengan kategori tingkat pengaruh “gradasi berat”.Kata Kunci : Tingkat Kebisingan, Sumber Bunyi, Komunikasi Pekerja
PENGARUH TINGKAT EKONOMI TERHADAP JUMLAH PEMAKAIAN AIR BERSIH DOMESTIK DI KOTA PONTIANAK Wiji Napitupulu
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.6895

Abstract

ABSTRAKAir bersih merupakan masalah yang vital bagi kehidupan manusia. Setiap hari kita membutuhkan airbersih untuk keperluan sehari – hari. Oleh sebab itu, penyediaan air bersih menjadi hal yang sangat pentinguntuk dikaji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah pemakaian rata - rata per orang perhari di Kota Pontianak; mengetahui pengaruh tingkat ekonomi terhadap jumlah pemakaian air bersih domestikdi Kota Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi metode penelitian asosiatif(korelasional) dan metode penelitian survei. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan metoderegresi berganda dan regresi logistik dengan bantuan program Excel dan SPSS (Statistical Package for SocialScience) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pemakaian rata – rata air bersih Kota Pontianak ialah157 liter/orang/hari sementara standar kebutuhan air yang digunakan PDAM ialah 150 liter/orang/hari.Penelitian ini juga menunjukkan secara simultan/serempak bahwa jumlah pendapatan rata – rata keluarga,jumlah pengeluaran rata – rata keluarga tanpa pengeluaran air dan tingkat harga PDAM, luas tanah rumah,penghuni rumah, tingkat pendidikan KK dan pelayanan PDAM berpengaruh secara signifikan terhadap jumlahpemakaian air bersih PDAM. Secara parsial yang mempengaruhi jumlah pemakaian air PDAM secara signifikanialah jumlah penghuni rumah dan jumlah pendapatan rata – rata. Semakin besar jumlah penghuni rumah danjumlah pendapatan keluarga, semakin besar pula jumlah pemakaian air bersih PDAM di Kota Pontianak.Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat ekonomi mempengaruhi jumlah pemakaianair bersih PDAM di Kota Pontianak. Semakin tinggi tingkat ekonomi keluarga semakin besar pula jumlahpemakaian air bersih PDAM Kota Pontianak. Penelitian ini merekomendasikan agar PDAM Kota Pontianakdapat meningkatkan kualitas pelayanannya baik dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas sertapendistribusian air PDAM juga hendaknya disesuaikan dengan kepadatan penduduk.Kata Kunci : Air Bersih, Tingkat Ekonomi, Pemakaian Air
Pengaruh Konsentrasi NaOH pada Deasetilasi Kitin dari Cangkang Udang Putih (Litopenaeus vannamei) dan Aktivitasnya pada Air Gambut Syahrul Khairi; Pradika Wibowo; Raden Bayu Trisno Wijoyo; Sri Rezeki
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 7, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v7i1.37374

Abstract

Abstract The potential of shrimp shells as a source of chitosan for the processing of West Kalimantan peat water has been studied. Chitin as a precursor of chitosan was extracted from the shrimp shells by means of deproteination and demineralization processes. Deproteination was performed by suspending the shrimp shells to 3,5% NaOH at 65oC for 4 hours. The demineralization process was done by using 1.5M HCl at the same temperature and time. Difference concentration of NaOH (30 – 70%) was applied in deacetylation of chitin to chitosan in order to obtain informations on the effect of base on chitosan deacetylation degree. The results obtained showed that the higher the concentration of NaOH, the higher the chitosan deacetylation degree. The highest deacetylation degree was obtained when chitin was deacetylation using 70% NaOH with the value of 87.5%. Performance of the chitosan was examined in the peat water treatment process. Some test parameters showed that chitosan added to peat water causes coagulation and flocculation with peat water components. This was indicated by the decreasing in color parameter value of 337 PtCo, the decreasing of organic substances in peat water of 10 mg/L and the increasing of pH value to 7.9. Keywords: chitin, chitosan, coagulation, flocculation, peat water Abstrak Potensi cangkang udang putih sebagai sumber kitosan untuk proses pengolahan air gambut Kalimantan Barat telah dipelajari. Kitin sebagai prekursor dari kitosan diekstrak dari kulit udang putih melalui dua tahap yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Deproteinasi dilakukan dengan menggunakan NaOH 3,5% pada suhu 65oC selama 4 jam dan dilanjutkan dengan proses demineralisasi menggunakan HCl 1,5M dengan suhu dan waktu yang sama. Variasi konsentrasi basa NaOH sebesar 30 – 70 % dilakukan pada proses deasetilasi kitin menjadi kitosan guna mendapatkan informasi pengaruh konsentrasi basa terhadap derajat deasetilasi kitosan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi basa NaOH yang digunakan maka semakin tinggi pula derajat deasetilasi kitosan yang diperoleh. Konversi tertinggi diperoleh ketika kitin dideasetilasi menggunakan NaOH 70% dengan nilai derajat deasetilasi sebesar 87,5%. Performa kitosan hasil deasetilasi terbaik diuji pada proses pengolahan air gambut. Beberapa parameter uji menunjukkan bahwa kitosan yang ditambahkan pada air gambut menyebabkan terjadinya koagulasi dan flokulasi dengan komponen air gambut. Hal ini ditandai dengan menurunnya nilai parameter warna sebesar 337 PtCo kandungan zat organik di dalam air gambut sebesar 10 mg/L dan nilai pH yang meningkat menjadi 7,9.  Kata kunci: kitin, kitosan, koagulasi, flokulasi, air gambut
PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU DI KAWASAN PASAR FLAMBOYAN KOTA PONTIANAK Nur Azmiyah
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7292

Abstract

ABSTRAK Sampah merupakan konsekuensi kehidupan yang sering menimbulkan masalah, dan jumlahnya akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan beragam aktivitasnya.Pasar Flamboyan adalah pasar terbesar di Kalimantan Barat.Pasar ini memiliki ± 1700 pedagang dan dibuka setiap hari.Disana terdapat ruko dengan jumlah 53 unit, kios sebanyak 203 unit dan los sebanyak 1498 unit.Saat ini Pasar Flamboyan belum mempunyai sistem pengelolaan sampah terpadu. Hal tersebut akan mengakibatkan banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan dari setiap kegiatan. Sampah yang dihasilkan dari berbagai macam penjualan akan menghasilkan sampah yang beragam pula. Penanganan sampah setiap harinya di Pasar Flamboyan untuk saat ini masih menggunakan cara lama yaitu sampah dikumpulkan ke suatu tempat pembuangan sampah sementara lalu pada sore harinya sampah diangkut oleh pihak dari dinas kebersihan untuk dibawa ke TPA. Tujuan dari perencanaan ini yaitu untuk mengetahui total timbulan sampah dan komposisi sampah yang dihasilkan di kawasan Pasar Flamboyan serta untuk merencanakan sistem pengelolaan sampah terpadu di Kawasan Pasar Flamboyan. Perencanaan pengelolaan sampah di Kawasan meliputi perencanaan dari seluruh aspek operasional pengelolaan sampah yaitu perencanaan pewadahan sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah serta pengolahan sampah di Kawasan Pasar Flamboyan. Pengambilan data primer dilakukan dengan cara sampling timbulan dan komposisi sampah. Sampling dilakukan dengan menggunakan metode SNI 19-3694-1994 yaitu pengukuran sampah dengan menggunakan sampling box selama delapan hari berturut-turut yang kemudian akan menghasilkan data volume, berat jenis dan komposisi sampah. Digunakan juga kuisioner untuk mengumpulkan data dari pedagang yang berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.Sampel sampah yang diambil masing-masing 3 sampel untuk setiap jenis los, kios dan ruko.Pengambilan sampel dilakukan setiap hari pada pukul 10.00 WIB selama delapan hari berturut-turut ke setiap sumber sampah yang telah ditentukan. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa total timbulan sampah di Kawasan Pasar Flamboyan adalah sebanyak 9,0370 m3/hari sampah organik dan sebanyak 1,0503 m3/hari sampah anorganik. Jumlah pewadahan di tiap sumber sampah ditentukan dari perhitungan rata-rata volume sampah perhari dibagi dengan ukuran tong sampah yang akan digunakan pada sumber tersebut. Jumlah pewadahan yang dibutuhkan untuk tiap sumber sampah Pasar Flamboyan untuk kios dan ruko yaitu sebanyak 79 buah tong sampah ukuran 10 liter dan 95 buah tong sampah ukuran 20 liter. Jumlah alat angkut sampah yang dibutuhkan untuk Pasar Flamboyan yaitu sebanyak 3 buah gerobak.TPST di Kawasan Pasar Flamboyan direncanakan akan berlokasi di bagian belakang Pasar Flamboyan. Jumlah lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan TPST Pasar Flamboyan adalah seluas 207,27 m2. Rencana anggaran biaya untuk biaya investasi yaitu sebesar Rp 960.642.206,00. Laba yang diperoleh dari hasil pengolahan sampah yaitu Rp 39.600.000,00/tahun. Biaya hasil retribusi kebersihan dari pedagang yaitu Rp 505.152.000,00/tahun. Dana yang akan dikeluarkan Pasar Flamboyan untuk operasional dan pemeliharaan yaitu Rp 254.760.000,00/tahun. Kata kunci: Pengelolaan sampah, sampah pasar, TPST.
MINI DIGESTER UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK MENJADI BIOGAS DAN DAMPAK TERHADAP PENGURANGAN EMISI (MINI DIGESTION TO PRODUCE BIOGAS FROM ORGANIC WASTE AND IMPACT ON REDUCING EMISSIONS) Rinjani Rakasiwi; Wivina Ivontianti; Eva Sitanggang
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v8i1.39970

Abstract

Abstract Organic waste is material that has no value but can be used as raw material to produce biogas. It is easier to handle by anaerobic processing. The advantages of biogas by using anaerobic digestion process are minimizes the effects of environmental pollutions, reduce emissions and increase the value of the benefits of waste. The purposes of this research are to design a digester for processing organic waste into biogas and find out the impact of biogas production on emissions reduction. Biogas production was analyzed using gas Chromatography (GC) and emission reductions were calculated using the AP-42 (Compilation of Air Pollutant Emissions Factors) equation. The digester used is a CSTR which is suitable for liquid phase and for organic chemical reactions with large conversions. Parameters that affect the performance of the reactor are the residence time on the flow of substances in the reactor, Hydraulic Retention Time (HRT). HRT can affect the growth of fermentative bacteria corelation with the production of biogas. The optimum volume of biogas of 16.52 Liters / Day with the acquisition of CH4 of 75,893.36 ppm was on the 13th day in a variation of HRT 20. Every 20 kg of organic waste that has been processed in the digester, it will be reducing 76.5 g / day of CO emissions. Keywords: anaerobic digestion, CSTR (Continuous Stirred Tank Reactor), HRT (Hydraulic Retention Time), trashAbstrakSampah organik merupakan bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga tetapi dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biogas, karena lebih mudah untuk ditangani dan dapat dilakukan dengan proses anaerobik. Kelebihan dari biogas dengan menggunakan proses anaerobic digestion akan meminimalkan efek dari pencemaran lingkungan, mengurangi emisi dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah. Tujuan penelitian ini adalah merancang digester untuk pengolahan sampah organik menjadi biogas dan mengetahui dampak produksi biogas yang dihasilkan terhadap pengurangan emisi. Produksi biogas dianalisa menggunakan Chromatografi gas (GC) dan pengurangan emisi dihitung menggunakna persamaan AP-42 (Compilation of Air Polutant Emissions Factors). Digester yang digunakan merupakan reaktor tipe alir tangki berpengaduk/CSTR untuk reaksi fase cair dan juga digunakan untuk reaksi kimia organik dengan konversi yang besar. Parameter yang mempengaruhi kinerja reaktor yaitu waktu tinggal pada zat alir di dalam reaktor atau disebut dengan Hydraulic Retention Time (HRT). HRT dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri fermentatif yang terkait dengan hasil produksi biogas. Hasil volume biogas optimum sebesar 16,52 Liter/Hari dengan perolehan CH4 sebesar 75.893,36 ppm berada di hari ke- 13 pada variasi HRT 20. Sampah organik sebanyak 20 kg diolah di digester mengurangi 76,5 g/hari emisi CO. Kata kunci: anaerobic digestion, CSTR (Continuous Stirred Tank Reactor), HRT (Hydraulic Retetion Time), sampah.
ARAHAN PERENCANAAN INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN DI KAWASAN WISATA JUNGKAT BEACH, DESA JUNGKAT, KECAMATAN SIANTAN, KABUPATEN PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT RAHMANTO WIBOWO
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.9102

Abstract

ABSTRAK   Jungkat Beach adalah salah satu jenis wisata pantai yang terletak di Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak yang telah beroperasi dari tahun 2007 hingga sekarang. Pada kawasan wisata Jungkat Beach terdapat berbagai masalah yang timbul akibat infrastruktur lingkungan yang kurang baik yang dapat mengganggu keberlangsungan kegiatan wisata dan lingkungan, sehingga diperlukannya perencanaan infrastruktur lingkungan di kawasan wisata Jungkat Beach. Penelitian ini menggabungkan konsep perencanaan berkelanjutan untuk empat infrastruktur lingkungan yang diaplikasikan dalam kawasan komersil yaitu kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat arahan perencanaan infrastruktur lingkungan di kawasan wisata Jungkat Beach, yang meliputi (a) Infrastruktur Air Bersih, (b) Infrastruktur Air Limbah, (c) Infrastruktur Persampahan, (d) Infrastruktur Drainase.   Penelitian ini menggunakan metode analisa yang umum digunakan dalam merencanakan infrastruktur di suatu kawasan. Luaran yang dihasilkan berupa data perhitungan dan gambar desain. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu AutoCAD 2010, EPANET ver 2.0, dan GPS. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu: (a) Air bersih bersumber dari air permukaan yaitu kolam. Kebutuhan air bersih kawasan adalah 69.941 liter/hari. Dialirkan menggunakan bantuan pompa dengan head 9 meter dan debit 100 l/m untuk mengaliri air ke semua fasilitas. Pipa yang digunakan untuk mendistribusikan air ke fasilitas penginapan adalah PVC 1,5 inch, fasilitas restoran adalah PVC 2 inch, dan fasilitas kantin adalah PVC 1 inch. Diameter pipa transmisi adalah pipa PVC 2,5 inch. (b) Air limbah yang disalurkan berasal dari kegiatan domestik. Debit rencana air limbah adalah 60.162 liter/hari. Air limbah dialirkan menggunakan sistem gravitasi. Jenis pipa yang digunakan adalah pipa PVC 1,5 inch untuk jaringan S1, pipa PVC 2 inch untuk jaringan S2, pipa PVC 1 inch untuk jaringan S3, pipa PVC 2,5 inch untuk jaringan S4, pipa PVC 3 inch untuk jaringan S5. (c) Timbulan sampah pada tahun 2023 adalah 1,23 m3/hari. Bahan yang digunakan untuk wadah komunal dan TPS adalah HDPE. Jumlah wadah komunal di sekitar lokasi wisata 12 unit ukuran 60 liter, kantin 8 unit ukuran 50 liter, restoran 6 unit ukuran 60 liter dan hotel 4 unit ukuran 25 liter. Jumlah wadah pada TPS sebanyak 2 unit ukuran 700 liter. Sampah organik yang dihasilkan dibuat pupuk kompos dan sampah anorganik dijual ke pengumpul atau pengrajin barang bekas. (d) Infrastruktur drainase yang direncanakan menggunakan saluran terbuka berbentuk segiempat di alirkan secara gravitasi. Pada bagian atas saluran diberi Gratting Stell. Dimensi saluran pada daerah I (tersier) memiliki h = 0,40 m dan b = 0,64 m, daerah II (tersier) memiliki h = 0,34 m dan b = 0,54 m, daerah III (sekunder) memiliki h = 0,55 m dan b = 0,88 m, sedangkan daerah IV (primer) memiliki h = 0,62 m dan b = 0,99 m.   Kata Kunci: Infrastruktur Lingkungan, Infrastruktur Wisata, Wisata Pantai.
Pembuatan Pupuk Kompos Cair dari Air Buangan Industri Tahu Indah Rakhmayani; Nabila Shafa Aulia; Noviyanti Noviyanti; Dian Rahayu Jati; Isna Apriani
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v8i2.44182

Abstract

Abstract Cleaner production is an environmental processing strategy that is implemented on an ongoing basis to increase eco-efficiency in order to reduce risks to human health and the environment. The tofu industry in its production process produces waste, both solid and water. Disposal of waste directly to water bodies will damage the environment by creating unpleasant odors and the hot temperature of waste water which can affect the growth of aquatic biota. Tofu production produces 150 L of liquid waste from the soaking and filtering process. Meanwhile, 50 kg of solid waste is produced from milling soybeans. Solid waste will be used as animal feed and liquid waste will be processed into liquid compost. Keywords: Tofu Production, Cleaner Production, Liquid Compos, Waste Minimization, Mass Balance. Abstrak Produksi bersih merupakan strategi pengolahan lingkingan yang diterapkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ekofisiensi agar dapat mengurangi resiko terhadapat kesehatan manusia dan lingkungan. Industri tahu dalam proses produksinya menghasilkan limbah, baik padat maupun air. Pembuangan limbah langsung ke badan air akan merusak lingkungan dengan timbulnya bau tidak sedap dan suhu air limbah yang panas dapat mempengaruhi pertumbuhan biota air. Produksi tahu menghasilkan limbah cair sebanyak 150 L dari proses perendaman, dan penyaringan. Sedangkan limbah padat yang dihasilkan sebanyak 50 kg yang berasal dari penggilingan kacang kedelai. Limbah padat akan dijadikan pakan ternak dan limbah cair akan diolah menjadi pupuk kompos cair. Kata Kunci : Industri Tahu, Produksi Bersih, Pupuk Kompos, Minimasi Limbah, Neraca Massa.
UJI TOKSISITAS AKUT LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN TERHADAP IKAN MAS (Cyprinus Carpio L.) Yonky Dwi Putra; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.12865

Abstract

ABSTRAKKeadaan air sungai di Kota Pontianak saat ini semakin mengkhawatirkan, dimana semakin banyak industri dan tempat usaha yang bermunculan. Salah satunya usaha rumah makan yang membuang limbahnya ke badan air tanpa pengolahan. Hal ini menjadi salah satu sumber pencemar perairan yang menyebabkan kematian biota air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50, mengetahui karakteristik limbah cair rumah makan di Kota Pontianak dan memberikan rekomendasi bagi pemerintah. Sampel limbah cair diambil dari sisa pencucian bahan makanan dari pagi hingga siang hari. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 24 jam menggunakan hewan uji ikan mas (Cyprinus carpio L) setelah itu dibuat variasi konsentrasi untuk menentukan nilai konsentrasi yang menyebabkan kematian hewan 50% dengan uji pendahuluan dan uji lanjut. Hasil uji Parameter BOD, TSS, minyak lemak, pH dan suhu limbah cair rumah makan masing-masing sebesar 692,48 mg/l; 1700 mg/l; 46 mg/l; 6,59 dan 25,8 0C. Nilai parameter limbah rumah makan tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik. Nilai LC50 rata-rata didapatkan 0,614% dan rekomendasi yang bisa diberikan kepada pemerintah yaitu penegasan tentang adanya IPAL di setiap rumah makan seperti yang tercantum di dalam PERDA/WALIKOTA/03/2004.Kata kunci : toksisitas akut, limbah cair rumah makan, ikan mas (Cyprinus carpio L.)
EFEKTIVITAS TANAMAN GENJER DALAM MENURUNKAN BOD DAN COD LIMBAH CAIR TAHU HASIL PROSES ANAEROB Muhammad Irvan Nurliansyah
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.13919

Abstract

ABSTRAK Limbah cair tahu merupakan limbah cair yang berasal dari proses pembuatan tahu. Limbah cair tahu mengandung senyawa organik yang tinggi. Pembuangan limbah cair tahu secara langsung ke badan air tanpa dilakukan pengolahan dapat mempengaruhi dan mencemari lingkungan. Suatu cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah melakukan pengolahan limbah cair tahu. Salah satu alternatif pengolahan limbah cair tahu yang dapat digunakan adalah fitoremediasi menggunakan tanaman genjer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi pengolahan dan efektivitas waktu tinggal pengolahan limbah cair tahu menggunakan tanaman genjer dalam menurunkan BOD dan COD effluen hasil proses pengolahan anaerob limbah cair tahu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoremediasi menggunakan tanaman genjer pada sistem lahan basah buatan Free Water Surface flow dengan waktu tinggal 3 hari, 5 hari dan 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi pengolahan secara fitoremediasi pada hari ke 3 untuk BOD dan COD berturut-turut sebesar 21,28% dan 16,13%. Pada hari ke 5 efisiensi pengolahan yang diperoleh untuk BOD dan COD berturut-turut sebesar 52,60% dan 45,93% sedangkan efisiensi pengolahan pada hari ke 7 untuk BOD dan COD berturut-turut sebesar 76,42% dan 70,74%. Waktu tinggal efektif yang diperoleh pada penelitian ini adalah  7 hari dengan nilai BOD dan COD telah berada dibawah baku mutu yaitu berturut-turut sebesar 72,72 mg/l dan 213,33 mg/l.   Kata kunci : limbah cair tahu, fitoremediasi, tanaman genjer, efisiensi pengolahan, waktu tinggal

Page 5 of 49 | Total Record : 486