cover
Contact Name
Robby Irsan
Contact Email
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Phone
+6282149492595
Journal Mail Official
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : -     EISSN : 26222884     DOI : https://doi.org/10.26418/jtllb
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah (ISSN: 2622-2884) is a scientific journal published by Environmental Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia. The journal was purposed as a medium for disseminating research results in the form of full research article, short communication, and review article on aspects of environmental sciences. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah is registered on the ISSN starting from Vol. 6, No. 2, July 2018. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah accepts articles in Bahasa Indonesia or English by covering several topics of environmental studies including clean water supply, wastewater distribution, and treatment, drainage and treatment of liquid waste, solid waste treatment (solid waste), air pollution control, management of industrial and B3 discharges, environmental management (impact analysis), environmental conservation, water and soil pollution control, environmental health and sanitation, occupational safety and health, pollution control in wetlands. Since 2023, The journal periodically publishes four issues in a year in January, April, July, and October.
Articles 486 Documents
DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN LEACHATE (IPL) DI TPA ENTIKONG KABUPATEN SANGGAU YENDI FRIADI
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.10367

Abstract

ABSTRAK Leachate dapat didefinisikan sebagai cairan yang menginfiltrasi melalui tumpukan sampah dan telah mengekstraksi material terlarut maupun tersuspensi. Sistem instalasi pengolahan leachate bergantung pada debit dan karaktersitik leachate itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah memperkirakan debit leachate yang dihasilkan oleh TPA Entikong sebagai acuan dasar perancangan/desain instalasi pengolahan leachate, merencanakan sistem instalasi pengolahan  leachate di TPA Entikong Kabupaten Sanggau serta mengetahui anggaran biaya yang diperlukan dalam perancangan IPL berdasarkan sistem pengolahan yang digunakan.Tahapan untuk mengolah dan menghitung data meliputi perhitungan debit leachate dan mendesain/merancang IPL. Debit leachate dihitung dari rata-rata hujan maksimum bulanan, dari data beberapa tahun atau dengan menggunakan metode neraca air yaitu metode pendekatan Thornhtwaite. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kuantitas leachate dalam metode neraca air ini adalah presipitasi, evapotransipitasi, surface run-off dan soil moisture storage. Proses desain IPL terdiri dari penentuan letak IPL, penentuan jenis pengolahan, penentuan sistem pengolahan yang ada di Indonesia, pemilihan desain IPL, melakukan perhitungan hidroulik terhadap desain sistem IPL terpilih, menentukan layout bangunan IPL, membuat gambar rancangan, perhitungan anggaran biaya serta membuat spesifikasi teknis pembuatan IPL.Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Thornthwaite didapat perkolasi tertinggi sebesar 185,43 mm dan diketahui luas area timbunan sampah TPA Entikong sebesar 1,06 Ha maka diperoleh nilai debit leachate sebesar 65,52 m3/hari. Kandungan organik (BOD) yang terdapat dalam leachate mempunyai nilai BOD sebesar 10.000 mg/L, sehingga metode pengolahan biologi sangat tepat digunakan untuk mengolah leachate di TPA Entikong. Sistem pengolahan yang digunakan adalah pengolahan secara biologi. Unit-unit pengolahan leachate TPA Entikong yang direncanakan adalah bak ekualisasi,  kolam anaerobik, kolam fakultatif, kolam maturasi dan constructed wetland. Besarnya total biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 1.375.000.000,00 Kata-kata kunci : BOD, Leachate, Thornthwaite
Pengaruh Aktivitas Manusia terhadap Beban Pencemaran Sub DAS Sungai Rengas, Kalimantan Barat (The Influence of Human Activities on Pollution Load on The Rengas River Sub Water, West Kalimantan) Lusiyana Lusiyana; Aji Ali Akbar; Herda Desmaiani
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 9, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v9i2.48110

Abstract

Abstract This study aims to knowing the potential pollutant loads entering and to know how water quality Rengas River according to water quality standard Class II Per-Men No. 82, 2001. Water quality analysis was carried out by testing and comparing parameters of temperature, pH, DO, BOD, TSS and phosphate at high tide and low tide conditions. The determination of the status of water quality using the Pollution Index method. The results of the pollution index show that the condition of the Rengas River is categorized as lightly polluted and concentration of TSS and BOD exceeded the class II quality standard at low tide During high tide conditions, the highest IP value is at point 1 of 1.29 in the upstream part of the river, while the lowest IP value is at point 4 of 0.71. During low tide, the largest IP value is at point 1 of 1.5 which is located upstream of the river, while the lowest IP value is at point 5 of 1.08 where there is tofu processing. Based on the identification and inventory of the sources of pollution affecting the water quality of Sungai Rengas from the agricultural sector, the domestic sector and small-scale industrial sector. The pollutant load that enters the Rengas River is TSS of 21 . 666.49 kg / day , BOD of 15053.68 kg / day , and phosphates of 85.56 kg / day . The largest BOD and TSS pollutant loads come from segment 3, which in this segment includes high density residential land uses and commercial land uses. Keywords: Rengas River, Pollutants Load, Water Quality Status Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi beban pencemar yang masuk dan kualitas air Sungai Rengas menurut baku mutu kualitas air Kelas II Per-Men No. 82 Tahun 2001. Analisis kualitas air dilakukan dengan menguji dan membandingkan parameter suhu, pH, DO, BOD, TSS dan fosfat pada kondisi pasang dan surut. Penentuan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran. Nilai indeks pencemaran menunjukkan  bahwa kondisi Sungai Rengas masuk ke dalam kategori tercemar ringan dan konsentrasi TSS dan BOD melebihi baku mutu kelas II saat surut. Saat kondisi pasang nilai IP tertinggi ada pada titik 1 sebesar 1,29 di bagian hulu sungai, sedangkan nilai IP terendah ada pada titik 4 sebesar 0,71. Saat kondisi surut nilai IP terbesar ada pada titik 1 sebesar 1,5 yang terletak pada hulu sungai, sedangkan nilai IP terendah ada pada titik 5 sebesar 1,08 dimana terdapat pengolahan tahu. Berdasarkan identifikasi dan inventarisasi sumber pencemar yang mempengaruhi kualitas air Sungai Rengas berasal sektor pertanian, sektor domestik dan sektor industri skala kecil. Beban pencemar yang masuk ke Sungai Rengas yaitu TSS sebesar 21.666,49 kg/hari, BOD sebesar 15.053,68 kg/hari,  dan Fosfat sebesar 85,56 kg/hari. Beban pencemar BOD dan TSS terbesar berasal dari segmen 3 (termasuk dalam guna lahan pemukiman dengan kepadatan tinggi dan guna lahan perdagangan). Kata Kunci: Beban Pencemar, Status Mutu Air, Sungai Rengas
PEMANFAATAN LIMBAH TOMAT SEBAGAI AGEN DEKOMPOSER PEMBUATAN KOMPOS SAMPAH ORGANIK Evi Dwi Ani
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.13555

Abstract

Abstrak   Kurangnya pengetahuan terhadap tomat menyebabkan masyarakat memandangnya hanya sebagai buah atau sayur dan dijual begitu saja tanpa ada produk turunan. Sehingga limbah tomat yang busuk hanya dibuang begitu saja tanpa ada proses pengolahan. Oleh karena itu, diperlukan metode pengolahan sampah yang efisien dan ramah lingkungan seperti pengomposan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan kulit pisang dan limbah tomat sebagai agen dekomposer untuk dijadikan kompos yang lebih bermanfaat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kematangan kompos secara fisik (warna, bau, tekstur dan suhu) dan kimia (pH, N, P, K dan C/N rasio) berdasarkan SNI: 19-7030-2004. Penelitian ini diawali dengan pembuatan ekstrak limbah tomat. Pengomposaan dimulai dengan komposisi P1 (kulit pisang 1 kg), P2 (kulit pisang 1 kg + limbah tomat 100g) dan P3 (kulit pisang + kotoran sapi), dimana penelitan dilakukan 2 kali pengulangan. Proses pengomposan dilakukan selama 8 minggu. Pengecekan pH, suhu, warna, bau dan tekstur dilakukan setiap hari. Selanjutnya dilakukan uji kualitas kompos dengan parameter Nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K) dan C/N rasio dilakukan pada minggu ke-6 dan minggu ke-8. Hasil pengomposan secara fisik menunjukkan warna kehitaman, tidak berbau, tekstur terurai seperti tanah dan suhu mendekati suhu tanah (P1:27,71oC, P2:28,43oC dan P3:28,36oC). Sedangkan untuk parameter kimia secara berturut-turut yaitu pH (P1:10,2, P2:10,1 dan P3:10,2), N (P1:2,28%, P2:2,45% dan P3:2,22%), P(P1:0,38%, P2:0,36% dan P3:0,39%), K(P1:16,24%, P2:15,20% dan P3:12,72%) dan C/N rasio(P1:17,06%, P2:16,73% dan P3:18,88). Berdasarkan SNI: 19-7030-2004, kadar minimum N yaitu 0,4%, P 0,1%, K 0,2% dan C/N rasio 10-20, sehingga kompos yang terbuat dari kulit pisang telah memenuhi standar kompos yang baik kecuali pH.   Kata Kunci : limbah tomat, kompos, kulit pisang
Pemanfataan Cangkang Keong Susuh Kura (Sulcospira Testudinaria) Sebagai Adsorben Untuk Menyerap Logam Besi (Fe) di Perairan dengan Kajian Variasi Suhu Kalsinasi Adsorben Wivina Diah Ivontianti; Syahrul Khairi; Ria Devitasari; Yusup Yusup
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 10, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v10i1.51649

Abstract

This research is the use of snail susuh kura (Sulcospira testiudinaria) as an adsorbent to absorb ferrous metal (Fe2+) by studying the variation calcination temperatures of the adsorbent. The purpose of this study was to determine the characteristics of the adsorbent based on XRD, FTIR and GSA analysis. In this experiment also carried out temperature variations of calcination in 110 ℃ (without calcination), 500 ℃ and 900 ℃ The fixed variables in this study were the adsorbate volume of 100 mL with a concentration of 100 mg / L, stirring speed of 250 rpm and adsorption time of 30 minutes. Based on the XRD, FTIR and GSA analysis tests, after calcination at a temperature of 500 ℃, the adsorbent of tortoise snail shells showed the best adsorbent in the form of CaCO3 calcite, having O-C-O and –OH functional groups that can play a role in metal absorption in the adsorption process, and have a surface area of 28.832 m2 / g, pore volume of 0.021 cc / g, and a pore radius of 11.6 Å. Then the metal ion adsorption process was carried out with variations in calcination temperature and the best absorption of adsorbent occurs at a temperature of 500 ℃ with an efficiency value obtained of 80%. AsbtrakPenelitian ini memanfaatkan keong susuh kura (Sulcospira testiudinaria) sebagai adsorben untuk menyisihkan logam besi (Fe2+) dengan kajian variasi temperature kalsinasi adsorben. Penelitian ini untuk mengetahui karakteristik adsorben berdasarkan analisis XRD, FTIR dan GSA. Pada percobaan ini dikaji variasi temperature kalsinasi 5000C, 9000C dan tanpa kalsinasi (1100C). Penelitian ini menggunakan  volume adsorbat 100 mL dengan konsentrasi 100 mg/L, kecepatan pengadukan 250 rpm dan waktu adsorpsi 30 menit sebagai variable tetap. Berdasarkan uji analisis XRD, FTIR dan GSA, adsorben cangkang keong susuh kura setelah kalsinasi pada temperatur 500  menunjukan adsorben terbaik yang berbentuk CaCO3 kalsit, memiliki gugus fungsi O-C-O dan –OH yang dapat berperan dalam penyerapan logam pada proses adsorpsi, dan memiliki luas permukaan sebesar 28,832 m2/g, volume pori 0,021 cc/g, dan radius pori 11,6 Å. kemudian dilakukan proses adsorpsi ion logam Fe dengan variasi temperatur kalsinasi dan penyerapan terbaik adsorben terjadi pada suhu 500  dengan nilai efisiensi yang diperoleh sebesar 80%. 
HUBUNGAN FAKTOR METEOROLOGI TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO) DI JALAN KOTAPONTIANAK Andri Sutiawan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.14540

Abstract

ABSTRAK Gas karbon monoksida (CO) merupakan salah satu jenis polutan pencemar terbesar yang dihasilkan dari proses pembakaran pada kendaraan bermotor . Jalan Imam Bonjol dan jalan Adisucipto merupakan contoh dari jalan – jalan di kota Pontianak yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai konsentrasi karbon monoksida di masing – masing titik pengambilan sampel dan mengetahui hubungan antara konsentrasi karbon monoksida terhadap jumlah kendaraan bermotor dan faktor meteorologi (suhu, arah dan kecepatan angin).Penelitian dilakukan di lima titik sampel di sepanjang ruas jalan Imam Bonjol dan jalan Adisucipto pada hari Senin yang mewakili hari kerja, dimulai pada pukul 06.00 – 21.00. Data yang diambil pada masing – masing titik tersebut antara lain berupa konsentrasi karbon monoksida, jumlah kendaraan bermotor, suhu, arah dan kecepatan angin. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi karbon monoksida tertinggi diperoleh pada titik 1 yang berada di simpang jalan Pahlawan dan jalan Imam Bonjol dengan nilai konsentrasi sebesar 18.323,11 µg/Nm3 dengan jumlah kendaraan bermotor saat pengukuran sebesar 7.346 unit kendaraan, kecepatan angin  sebesar 0,2 m/s dan suhu 34,2˚C. Jika dibandingkan dengan baku mutu udara dari PERMENLH No. 12 Tahun 2010 sebesar 30.000 µg/Nm3, nilai tersebut masih tergolong aman. Nilai korelasi dicari menggunakan program SPSS 16 yang berguna untuk mengetahui korelasi yang terjadi antara konsentrasi karbon monoksida terhadap parameter lainnya. Nilai korelasi antara konsentrasi karbon monoksida dan jumlah kendaraan yang didapat yaitu sebesar 0,821, sedangkan nilai korelasi konsentrasi karbon monoksida terhadap kecepatan angin sebesar -0,483 dan nilai korelasi konsentrasi karbon monoksida terhadap suhu sebesar 0,344. Selain itu juga diperoleh nilai probabilitas dari semua variabel sebesar 0,01. Jika nilai probabilitas > 0,01 maka tidak terdapat korelasi yang signifikan, sebaliknya jika nilai probabilitas < 0,01 maka terdapat korelasi yang signifikan diantara variabel tersebut. Nilai probabilitas konsentrasi karbon monoksida dengan jumlah kendaraan bermotor adalah  0,000. Nilai yang sama juga didapatkan antara konsentrasi karbon monoksida dengan kecepatan angin yaitu 0,000. Nilai probabilitas antara konsentrasi karbon monoksida dengan suhu yaitu 0,003. Nilai – nilai tersebut < 0,01 sehingga memiliki nilai korelasi yang juga signifikan. Kata Kunci : Karbon Monoksida, Suhu, Kecepatan Angin, Kendaraan Bermotor
PENGGUNAAN ANALISIS SPASIAL KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN PONTIANAK KOTA Dolly Liberdo
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.18351

Abstract

ABSTRAK Penyakit DBD di Kalbar menduduki posisi terbanyak kedua di Indonesia setelah Bali pada tahun 2014. Terkait dengan penyakit DBD di Kalbar, Kecamatan Pontianak Kota merupakan salah satu kecamatan di Kota Pontianak yang memiliki jumlah penderita DBD terbanyak tahun 2009-2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola persebaran kasus DBD di wilayah Kecamatan Pontianak Kota tahun 2012-2015 dengan menggunakan metode analisis spasial.Penelitian ini menggunakan tabel observasi, GPS dan softwareArcGIS10,2, kemudian dianalisis dengan memakai metode analisis spasialNearest Neighbor Index (NNI). HasilNearest Neighbour Index (NNI) menunjukkan bahwa nilai NNI berbeda setiap tahun. NNI tahun 2012 adalah 0,84 dengan pola sebaran berkelompok (clustered). NNI tahun 2013 adalah 0,78 dengan pola sebaran berkelompok (clustered). NNI tahun 2014 adalah 0,85 dengan pola sebaran berkelompok (clustered). Pola sebaran yang berkelompok memiliki arti setiap titik berdekatan satu sama lain dengan jarak tertentu. Dan NNI tahun 2015 adalah 1,05 dengan pola sebaran menyebar (dispersed). Pola sebaran yang menyebar memiliki arti setiap titik berjauhan satu sama lain dengan jarak tidak tertentu.Rekomendasi yang dapat diberikan adalah memberikan perhatian khusus kepada RT/RW yang sering terdapat kasus DBD berupa pemberdayaan masyarakat (edukasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan) atau melakukan pengendalian sarang nyamuk dan dapat menerapkan hasil pemetaan kasus DBD dalam bentuk analisis spasial berdasarkan wilayah kerja puskesmas di Kecamatan Pontianak Kota sehingga dapat memfokuskan program kerja dalam mengendalikan DBD sedangkan saran yang dapat diberikan adalah untuk penelitian berikutnya dapat digunakan variabel yang lebih lengkap selain jumlah kasus seperti faktor iklim dan lingkungan masyarakat.   Kata Kunci: DBD, ArcGIS10,2, Analisis Spasial, Nearest Neighbour Index (NNI)
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Fitri Purnama Sari .
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.1970

Abstract

Semakin meningkat pertumbuhan suatu penduduk setiap tahunnya dapat menyebabkan permasalahankompleks yang berdampak pada lingkungan. Salah satunya adalah masalah pencemaran lingkungan disebabkanoleh sampah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya volume sampah yang dihasilkan TPS PasarKemuning, mengetahui sistem pengelolaan sampah seperti rute pengangkutan sampah dari TPS PasarKemuning menuju TPA Batu Layang, serta memperoleh alternatif rute pengangkutan dengan menggunakanSistem Informasi Geografis (SIG).Aspek yang menyangkut sistem pengelolaan sampah yaitu sumber penghasil sampah, pengumpulansampah sementara (TPS), pengangkutan sampah dan pembuangan akhir sampah. Penelitian ini, dilakukananalisa untuk memberikan penilaian terhadap rute yang ada dengan menggunakan metodepembobotan/perangkingan. Untuk mendapatkaan rute terbaik dari parameter yang digunakan yaitu parameterberdasarkan jarak jalan dan parameter berdasarkan waktu tempuh didapatkan dari volume lalu lintas, lebarjalan, kondisi jalan, serta waktu.Untuk mengoperasikan SIG pada skripsi ini digunakan alat bantu berupa software ArcGis agar dapatmemberikan suatu rute terbaik dari alternatif pemilihan rute. Dari hasil analisa didapatkan volume timbulansampah TPS Pasar Kemuning per harinya adalah 58,339 m3/hari dan jumlah armada kendaraan pengangkutansampah TPS Pasar Kemuning 2 (dua) buah Container dengan ritasi 3 (tiga) rit /hari, dan 2 (dua) buah DumpTruck dengan ritasi 4 (empat) rit /hari. Hasil analisa penilaian rute alternatif dengan menggunakan SIGdiperoleh rute terbaik yang dapat dilihat berdasarkan total bobot terbesar yaitu pada rute 2 (dua) dengan jaraktempuh 24 Km dari TPS Pasar Kemuning menuju TPA Batu Layang.Kata kunci: Pengelolaan Sampah, TPS, SIG
Studi Parameter Penghalang Lempung (Clay Barrier) Sebagai Penghambat Sebaran Zat Organik dan Timbal (Pb) dalam Air Lindi (Leacheate) Wahyu Indra
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.19652

Abstract

Pemrosesan sampah di Tempat Pembuangan Akhir menghasilkan air lindi (leacheate) yang merupakan hasil buangan yang perlu penanganan yang serius. Melihat kondisi tanah di TPA Batu Layang yang sebagian besar berjenis gambut yang menyebabkan mudahnya penyebaran polutan dari air lindi sehingga dibutuhkan lapisan kedap. Perlu dilakukannya upaya untuk mengatasi sebaran air lindi tersebut. Satu diantaranya adalah dengan pemasangan penghalang lempung (clay barrier), sebagai lapisan kedap penahan kontaminasi polutan agar tidak mencemari air tanah dan tanah berdasarkan sifat konduktivitas hidrolik. Nilai konduktivitas hidrolik (k) penghalang lempung (clay barrier) yang optimal sebagai lapisan yang mampu menahan sebaran polutan dalam air lindi (leacheate) di suatu TPA diperoleh dengan melakukan uji permeabilitas. Dari uji permeabilitas nilai k tanah asli TPA Batu Layang 1,87 x 10-3 m/det. Dari hasil pengukuran nilai k dari kelima sampel tanah modifikasi untuk lapisan clay barrier, sampel campuran tanah + 2 lapisan bentonite memiliki nilai k paling kecil yaitu 1,81 x 10-10 m/s. nilai tersebut disebabkan sifat bentonit yang mengembang yang dapat mengabsorbsi air dengan kapasitas yang besar, yang masuk dalam syarat maksimum untuk lapisan kedap dasar TPA yaitu 1 x 10-8 m/detik. Kata Kunci : TPA Batu Layang, leacheate, lapisan kedap, clay barrier, konduktivitas hidrolik.  
Perancangan Anaerob Baffled Reaktor (ABR) Untuk Pengolahan Limbah Cair Pedagang Kaki Lima di Kawasan Jalan H. Agus Salim Kota Pontianak RANDY SEPTRIMANALU
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.4381

Abstract

Pedagang makanan kaki lima di Jalan H. Agus Salim menghasilkan debit air limbah total sebesar 0,605 m3/hari dan tidak memiliki pengolahan limbah sehingga air limbahnya dibuang langsung ke parit besar yang berada di Jalan H. Agus Salim. Hal ini yang mendorong diperlukannya perencanaan unit pengolahan limbah yang bersifat biologis karena limbah yang dihasilkan pedagang kaki lima tersebut mengandung bahan organik. Pengolahan biologis adalah ABR (Anaerob Baffled Reactor). Perencanaan ABR dirancang dengan memperhitungkan debit air limbah, karakteristik air limbah, desain ABR, dan rencana anggaran biaya. Limbah yang dihasilkan pedagang makanan kaki lima atau rumah makan berkarakteristik organik, dengan konsentrasi limbah sebelum masuk pengolahan 4,51-7 untuk pH, 160-480 mg/l untuk TSS, 195-930 mg/l untuk BOD, dan 290-4290 mg/l untuk COD. Dimensi dari unit-unit pengolahan adalah sebagai berikut, bak penampung dengan dimensi panjang = 2,42 m, lebar = 0,5 m, dan tinggi = 0,75 m sehingga volume = 0,9075 m3, ruang lumpur dengan dimensi panjang = 2,42 m, lebar = 0,5 m, dan kedalaman = 0,15 m sehingga volume = 0,1815 m3, dengan waktu detensi selama 1hari = 86400 detik dan diameter pipa outlet = 3 inch dan bak ABR dengan dimensi panjang = 3,46 m, lebar = 0,7 m, dan tinggi = 1 m sehingga volume = 2,42 m3, kompartemen dengan dimensi panjang = 1 m, lebar = 0,2 m, dan tinggi = 1m sehingga volume = 0,2 m3, dengan waktu detensi selama 2 hari = 172800 detik dan diameter pipa outlet = 3 inch. Pada bak penampung efisiensi penurunan parameter TSS sebesar 60% dan BOD, COD sebesar 40 % yang menghasilkan kadar TSS = 80 mg/l BOD = 390 mg/l COD = 1320 mg/l. Pada ABR efisiensi penurunan parameter TSS sebesar 80% dan BOD, COD sebesar 95% yang menghasilkan kadar TSS = 16 mg/l BOD = 19,5 mg/l COD = 66 mg/l. Perencanaan ini membutuhkan biaya sebesar Rp 371.250,00 untuk membangun bak penampung dan membutuhkan biaya sebesar Rp 742.500,00 untuk membangun ABR maka biaya keseluruhan yang diperlukan untuk perencanaan ini adalah Rp 1.113.750,00. Kata kunci: Pedagang kaki lima, Karakteristik air limbah, ABR (Anaerob Baffled Reaktor)
ANALISIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM MENJAGA SUMBER DAYA AIR Guido Dwi Admojo Kartini Dian Rahayu Jati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.25700

Abstract

ABSTRAKKearifan lokal ikut berperan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungannya. Namun demikian kearifan lokal juga tidak lepas dari berbagai tantangan seperti: bertambahnya terus jumlah penduduk, teknologi modern dan budaya, modal besar serta kemiskinan dan kesenjangan. Layaknya masyarakat Desa Pisak memberlakukan larangan-larangan yang diterapkan oleh masyarakat Desa untuk menjaga kelestarian DAS (Daerah Aliran Sungai) Sungai agar tidak menciptakan kerusakan yang berdampak buruk bagi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya air, serta menganalisa implementasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya air dilihat dari perbandingan peta selama 2 tahun. Penelitian menggunakan metode tringulasi yaitu kombinasi dari teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara mendalam, pengamatan berperanserta terbatas dan penelusuan (analisis) data sekunder, serta menghitung jumlah penggunaan lahan selama 2 tahun. Dari hasil penelitian di dapat masyarakat Desa Pisak masih menerapkan aturan-aturan atau larangan seperti dilarang menebang pohon secara sembarangan, dilarang memasuki hutan secara sembarangan selain itu juga masyarakat masih memegang teguh adatistiadat yang berasal dari leluhur mereka dengan masih melaksanakan ritual adat. Untuk jumlah penggunaan lahan DAS sungai Tanggi memiliki luasan 14,069 ha. Luasan penggunaan lahan Desa Pisak pada tahun 2016 sebesar 405,301 ha, sedangkan untuk tahun 2105 sebesar 395,379 ha pengurangannya selama 2 tahun sebesar 9,922 ha. Pengurangan tersebut disebabkan kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015, lahan yang terbakar diambil alih oleh pemerintan untuk dilakukan proses pemulihan lahan.Kata kunci:Kearifan Lokal, Sumber Daya Air,  Penggunaan Lahan

Page 8 of 49 | Total Record : 486