cover
Contact Name
Robby Irsan
Contact Email
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Phone
+6282149492595
Journal Mail Official
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : -     EISSN : 26222884     DOI : https://doi.org/10.26418/jtllb
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah (ISSN: 2622-2884) is a scientific journal published by Environmental Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia. The journal was purposed as a medium for disseminating research results in the form of full research article, short communication, and review article on aspects of environmental sciences. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah is registered on the ISSN starting from Vol. 6, No. 2, July 2018. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah accepts articles in Bahasa Indonesia or English by covering several topics of environmental studies including clean water supply, wastewater distribution, and treatment, drainage and treatment of liquid waste, solid waste treatment (solid waste), air pollution control, management of industrial and B3 discharges, environmental management (impact analysis), environmental conservation, water and soil pollution control, environmental health and sanitation, occupational safety and health, pollution control in wetlands. Since 2023, The journal periodically publishes four issues in a year in January, April, July, and October.
Articles 486 Documents
EFEKTIVITAS LIMBAH CANGKANG KEPITING SEBAGAI BIOKOAGULAN DALAM PENURUNAN KADAR KEKERUHAN DAN WARNA AIR BAKU SUNGAI KAPUAS Yuda Kurniawan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 10, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v10i1.48540

Abstract

Abstrak Koagulasi-flokulasi merupakan salah satu proses di Instalasi Pengolahan Air yang bertujuan menghilangkan partikel tersuspensi dan koloid. Koagulan yang paling banyak digunakan di instalasi pengolahan air saat ini adalah tawas. Namun, penggunaan tawas dapat menimbulkan efek bagi lingkungan dan kesehatan manusia dikarenakan sifatnya yang tidak mudah terbiodegradasi. Cangkang kepiting mengandung zat yang mampu berfungsi sebagai kitin terdeasetilasi yaitu kitin dan kitosan. Kitosan memiliki kemampuan sebagai koagulan karena memiliki banyak kandungan nitrogen pada gugus aminanya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui efektivitas dari kitosan cangkang kepiting dalam menurunkan kadar kekeruhan dan warna air baku Sungai Kapuas dibandingkan dengan koagulan sintetis yaitu tawas. Adapun tahapan penelitian ini meliputi pembuatan kitosan dan uji karakteristik kitosan cangkang kepiting, penentuan pH dan dosis optimum dengan metode jar test, uji parameter kekeruhan dan warna, dan analisis data. Hasil uji karakteristik kitosan menunjukkan nilai rendemen kitosan cangkang kepiting adalah 17,57%, kadar air kitosan cangkang kepiting yaitu 3,93%, dan derajat deasetilasi sebesar 94,97%. Pada uji jar test, didapatkan dosis optimum kitosan adalah 300 mg/l pada pH optimum 3 untuk penurunan parameter kekeruhan dan warna. Efektivitas penurunan kekeruhan oleh kitosan cangkang kepiting sebesar 61,4% dan penurunan kadar warna sebesar 86,35%.  Kata Kunci: kepiting, kitosan, koagulan, koagulasi
EVALUASI PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA PONTIANAK SRI LESTARI
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.15810

Abstract

ABSTRAK   Pontianak merupakan ibukota daerah Kalimantan Barat yang memiliki jumlah penduduk sekitar 587.169 jiwa (BPS, 2014). Pertambahan jumlah penduduk sangat mempengaruhi terjadinya masalah sampah yaitu perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat yang dapat meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh dinas kebersihan berfokus kepada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Alat pengangkutan sampah yang memadai akan dapat mengangkut seluruh sampah kota. Namun, jumlah alat pengangkutan sampah berupa arm roll yang dimiliki oleh dinas kebersihan saat ini hanya sebanyak 18 unit (Dinas Kebersihan, 2014). Jumlah tersebut belum cukup untuk mengangkut semua sampah yang ada di Kota Pontianak dan menyebabkan banyak sampah yang tertinggal di lokasi TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengangkutan sampah di Kota Pontianak saat ini dan mengetahui manajemen pengangkutan sampah yang berkaitan dengan jumlah alat pengangkutan sampah dan ritasi pengangkutan sampah sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan, serta mengetahui rute alternatif pengambilan sampah per kecamatan yang efektif di Kota Pontianak saat ini. Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan cara observasi, studi literatur, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan di 6 kecamatan yang ada di Kota Pontianak. Pada tiap kecamatan dipilih 2 titik lokasi kontainer berdasarkan jarak terdekat dan terjauh dari lokasi TPA Batu Layang. Jadi, banyaknya titik lokasi kontainer yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini berjumlah 12 titik. Dalam pengambilan sampel menggunakan metode Stratified sampling. Stratified sampling adalah perilaku pemberian tingkatan atau kelas pada data yang dipilih secara acak berdasarkan jarak terdekat dan terjauh dari lokasi TPA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pengangkutan yang digunakan di Kota Pontianak saat ini menggunakan sistem HCS (Hauled Container System) dan manajemen pengangkutan sampah di Kota Pontianak masih belum optimal karena adanya kekurangan jumlah alat penangkutan sampah berupa arm roll sebanyak 13 unit dengan ritasi pengangkutan menjadi 6 ritasi per hari. Penambahan jumlah arm roll sebanyak 13 unit dan peningkatan ritasi pengangkutan menjadi 6 ritasi per hari pada setiap pengangkutan menyebabkan semua sampah di Kota Pontianak dapat terangkut dengan baik dan tidak ada yang tersisa. Kata Kunci: Sampah, Pola Pengangkutan, Alat Pengangkutan
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN PADA REAKTOR ANAEROB DENGAN VARIASI WAKTU TINGGAL Erwin Kurnianto
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.18405

Abstract

ABSTRAK Industri tahu merupakan salah satu industri yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku utamanya. Limbah cair tahu memiliki kandungan BOD, COD, dan TSS yang tinggi, sehingga berpotensi mencemari perairan. Pengolahan limbah cair tahu dapat dilakukan dengan berbagai proses, baik dengan proses biologi, kimia,  maupun secara fisika. Pengolahan limbah secara kimia salah satunya menggunakan kitosan. Kitosan merupakan polielektrolit kationik dan polimer berantai panjang, mempunyai berat molekul besar dan reaktif karena adanya gugus amina, hidroksil yang bertindak sebagai donor elektron dan bersifat biodegradable. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui tentang pengaruh penambahan kitosan berdasarkan variasi waktu tinggal pada pengolahan limbah cair tahu dengan reaktor anaerob, dan mengetahui efektifitas pengolahan terbaik terhadap variasi waktu tinggal pengolahan limbah  cair tahu dengan penambahan kitosan pada reaktor anaerob. Penelitian dilakukan dalam skala Laboratorium yang dilakukan di Workshop Teknik Lingkungan dengan menggunakan 2 buah reaktor pengamatan yaitu reaktor kontrol dan reaktor perlakuan. Kitosan dilarutkan dengan menggunakan asam asetat 1%. 1 gr kitosan dilarutkan dalam 100 ml larutan asam asetat 1%, kemudian kitosan dicampurkan kedalam air limbah dengan dosis 225 mg/l dalam 4 liter air limbah pada reaktor perlakuan. Penambahan kitosan pada reaktor anaerob dilakukan pengamatan pada variasi waktu tinggal 4 hari, 8 hari, 12 hari dan 16 hari. Berdasarkan hasil penelitian, Pengaruh Penambahan kitosan pada reaktor anaerob terlihat pada parameter BOD dan TSS, sedangkan pH tidak terjadi perubahan. Pengaruh penambahan kitosan dilihat dari hasil penurunan parameter BOD pada reaktor kontrol berturut-turut pada hari ke 4, 8, 12, dan 16 yaitu 3%, 10%, 31% dan 48%, sedangkan pada reaktor perlakuan mengalami penurunan berturut-turut sebesar 5%, 36%, 45%, dan 58%. Pengaruh penambahan kitosan terhadap penurunan TSS pada reaktor kontrol berturut-turut pada hari ke 4, 8, 12, dan 16 yaitu  65%, 78%, 85% dan 87%. Penurunan TSS pada reaktor perlakuan berturut-turut yaitu 72%, 81%, 91% dan 93%. Waktu tinggal terbaik pada pengolahan limbah tahu dengan penambahan kitosan pada reaktor anaerob dan tanpa penambahan kitosan terdapat pada hari ke 16. Kata kunci: Kitosan, reaktor anaerob, limbah cair tahu, Total Suspended Solid (TSS), Biological Oxygen Demand (BOD), Ph
PERENCANAAN SALURAN PRIMER SUNGAI JAWI DENGAN KEMAMPUAN SWA PURIFIKASI SALURAN TERHADAP BEBAN PENCEMAR ORGANIK Grisofy Pangaribuan, Winardi Yusuf, Kiki Prio Utomo
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.2106

Abstract

ABSTRAKHasil pemantauan kualitas air Sungai Jawi oleh BLH Kota Pontianak tahun 2011 khususnya BOD berdasarkan PPNo. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk perairan kelas IItelah melebihi baku mutu, mencapai rata-rata 13,7 mg/l. Hal ini menandakan adanya bahan organik yangmasuk ke Sungai Jawi sehingga mengakibatkan penurunan kualitas air akibat berkurangnya kemampuan swapurifikasi. Maka dari itu, dilakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan swa purifikasi Sungai Jawi agarkualitas air tetap terjaga. Upaya untuk meningkatkan kemampuan swa purifikasi diawali dengan melakukan ujikualitas air khususnya parameter DO sebagai data pembanding hasil perencanaan. Hasil uji laboratoriumdiketahui konsentrasi DO Sungai Jawi rata-rata 2,2 mg/l ketika pasang dan 1,7 mg/l ketika surut. Kemudianditetapkan DO target sesuai PP. No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan PengendalianPencemaran Air untuk perairan kelas II sebesar 4 mg/l. Setelah itu dipilih cara untuk meningkatkan lajupenambahan Oksigen (Kr) yaitu dengan merubah dinding saluran menjadi beton atau susunan batu ataupenambahan alat. Penambahan aerator menjadi cara yang dipilih untuk meningkatkan DO Sungai Jawi. Aeratoryang diaplikasikan merupakan aerator permukaan yang diletakkan per 200 meter di sepanjang Sungai Jawisebanyak 30 buah dengan level daya berkisar antara 18,73-180,37 W/m3.Kata kunci: Sungai Jawi Pontianak, swa purifikasi, aerator
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN IKLIM DAN SANITASI LINGKUNGAN TERHADAP PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Fajar Mauladi
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.21201

Abstract

ABSTRAKSektor kesehatan merupakan salah satu sektor yang rentan terhadap pengaruh perubahan iklim, terutama pengaruhnya terhadap penyakit menular vektor seperti demam berdarah. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk juga mempengaruhi penyakit demam berdarah di Kalimantan Barat, khususnya di kota Pontianak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur hubungan antara faktor iklim dan sanitasi lingkungan di kota Pontianak dan pengaruhnya terhadap jumlah penderita demam berdarah. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan survey lapangan dan metode korelasi bivariat untuk melihat terjadi hubungan antara beberapa variabel data. Data yang diperlukan antara lain penjabaran kuesioner di 6 kecamatan kota Pontianak untuk mengetahui kondisi sanitasi lingkungan, data pengaruh iklim yang di dapat dari BMKG stasiun supadio kota Pontianak, dan data penderita demam berdarah yang di dapat dari Dinas Kesehatan kota Pontianak. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan yang kuat antara faktor iklim, yaitu curah hujan dan suhu terhadap penderita demam berdarah pada tahun 2008-2012 dengan nilai korelasi (r) CH 0,070 dan suhu 0,232. Sementara dari hasil kuesioner di dapatkan bahwa hubungan antara pengetahuan dan tindakan masyarakat bernilai lemah (r) 0,022.Kata kunci: Iklim, Sanitasi Lingkungan, Demam Berdarah
PERANCANGAN ALAT PENGOLAHAN AIR GAMBUT SEDERHANA MENJADI AIR MINUM SKALA RUMAH TANGGA ARDI RUBINATA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.5555

Abstract

ABSTRAKAir gambut merupakan salah satu sumber daya air yang masih melimpah untuk itu perlu di rancang alat pengolahan dengan sumber air baku air gambut untuk menjadi air minum skala rumah tangga. Perancangan alat pengolahan air gambut menjadi air minum dengan proses netralisasi, koagulasi, sedimentasi, filtrasi dan disinfeksi. Proses netralisasi dan koagulasi menggunakan kapur tohor juga tawas. Proses sedimentasi menggunakan tangki sedimentasi. Proses filtrasi menggunakan tabung filtrasi dengan media filter kerikil, pasir, zeolit dan karbon aktif. Proses desinfeksi dengan menggunakan tabung ultraviolet. Perancangan alat dibangun di daerah Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Penentuan dosis dengan metode jar test dilakukan dengan penentuan dosis koagulan tawas dan netralisasi kapur tohor yakni 350 mg/l dan 150 mg/l. Kualitas air baku belum memenuhi standar persyaratan kualitas air baku PERMENKES RI NO.416/Menkes/ Per/ IX/ 1990 , yaitu pH 5,5 kekeruhan 28 NTU, tingkat intensitas warna yang sangat tinggi 347 Pt-Co, besi 0,62 mg/l, zat organik 18,4 mg/l dan total coliform 17x102 MPN. Sedangkan parameter lain, yaitu TDS 403 mg/l, kimia logam, kimia non logam, E. coli suhu, bau dan rasa sudah memenuhi baku mutu yang diperbolehkan. Kualitas air hasil pengolahan rata-rata parameter fisik dan kimia air gambut mengalami perbaikan, pH naik menjadi netral (pH 6,8), parameter warna turun 97,12% (10 Pt-Co ), parameter kekeruhan turun 76,21% (6,7), parameter TDS turun sebesar 96,34% (14,8 mg/l), zat organik turun sebesar 85,39 % (12 mg/l), parameter besi turun menjadi 62,09% (0,23 mg/l). Kapasitas pengolahan 3,5 liter/menit atau 210 liter/jam dan kebutuhan biaya produksi untuk 1000 liter yakni Rp. 2.550,-. Biaya yang di perlukan untuk membuat alat pengolahan Rp. 5.120.500,-.Kata Kunci : Air Gambut, Alat Pengolahan, Rumah Tangga
KAJIAN TEKNIK OPERASIONAL PENGEMBANGAN TPST EDELWEISS SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN SAMPAH SKALA KAWASAN Fitra Muthia Khanza; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.28007

Abstract

ABSTRAKTPST adalah tempat dilakukannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendaur ulang, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah. TPST merupakan bagian dari pengelolaan sampah yang dapat mereduksi sampah yang masuk ke TPA. Di Kota Pontianak, sudah terdapat TPST Edelweiss yang berdiri sejak tahun 2015. Namun hingga tahun 2017, TPST Edelweiss hanya mengelola sampah Pasar sehingga diperlukan pengembangan luas TPST yang mengelola sampah skala kawasan. Tujuan penelitian ini, menganalisis timbulan sampah yang terdapat di Pasar Pagi dan kondisi eksisting TPST Edelweiss dari segi aspek teknik operasional, menganalisis pengembangan pengelolaan sampah di TPST Edelweiss skala pasar menjadi skala kawasan. Perhitungan jumlah sampel sampah menggunakan metode proportionate statified random sampling. Teknik pengambilan dan pengukuran sampel sampah mengacu pada SNI 19-3694-1994  dilakukan selama 8 hari. Timbulan sampah organik Pasar Pagi 0,386 m3/unit/hari dan anorganik 0,002 m3/unit/hari. TPST Edelweiss  memiliki area penumpukan dan pemilahan 12 m2, pencacahan dan penimbangan 12 m2, 21 bak pengomposan, pengayakan dan pengemasan kompos 9 m2, dan 1 reaktor biogas fixed dome 10 m3. Pengembangan TPST Edelweiss menjadi skala kawasan membutuhkan area penumpukan 100 m2, area pemilahan 157,44 m2 dengan conveyor belt, area pencacahan 30,176 m2, area pengomposan metode open windrow composting dengan luas area 3421,83 m2, area pengayakan dan pengemasan kompos dengan luas area 16,5 m2, area anorganik dan B3 membutuhkan luas  94,64m2, reaktor biogas tipe fixed dome 10 m3, gudang 80 m2, lahan parkir 34,44 m2, rumah jaga 24 m2. Luas yang dibutuhkan untuk mengelola sampah dalam skala kawasan adalah 4458,143 m2. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah, Pengembangan, TPST ABSTRACTTPST is a place for activities such as collecting, distinguishing, reusing, recycling and processing as the final phase of waste management. TPST is a phase of waste management that possible to reduce the waste that goes to waste disposal. In Pontianak, TPST Edelweiss had established since 2015. Whereas until 2017 TPST Edelweiss only worked with the market’s waste, which is necessary to be developed for waste management in district scale. The purpose of this research are analyzing the waste pile at the Pasar Pagi and condition of how the existing of TPST Edelweiss can be turned from market’ scale into district scale, according to several aspects such as operational technique, analysis on the development of waste management in TPST Edelweiss. The calculation of the amount of waste sampling by using proportionate statified random sampling method. The measurement technique of the waste sampling refers to SNI 19-3694-1994 that have been doing in eight days. Organics waste pile at the Pasar Pagi 45,174 m3/days while anorganics 0,242 m3/days. TPST Edelweiss has 12 m2 area for collecting and distinguishing the waste, devastating and scaling area 12 m2, 21 compost bin, shifting and packaging compost 9 m2, and 1 biogas fixed dome reactor 10 m3. The development of TPST Edelweiss into district scale needs 100 m2 for collecting area. 157.44 m2 for distinguishing area with conveyor belt. 30.176 m2 for devastating area. Compost area with open windrow composting method within 3421.83 m2. 16.5 m2 for compost’s shifting and packaging area. Anorganics and B3 area need 94.64m2. Biogas fixed dome type reactor within10 m3. Storehouse 80 m2. Parking lot 34.44 m2. Maintenance house 24 m2. The space needs for waste management in district scale is 4458,143 m2. Keywords: Waste Management, Development, TPST
PEMEKATAN UNSUR HARA MIKRO YANG TERDAPAT DALAM AIR LINDI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH Faitur Rahmi
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7226

Abstract

ABSTRAK Air lindi yang berasal dari tempat pemrosesan akhir sampah apabila tidak dikelola dengan baik maka akan berpotensi merusak lingkungan sekitar. Sehingga menimbulkan beberapa dampak negatif bagi kesehatan maupun sosial masyarakat. Disisi lain sebagai polutan, air lindi memiliki kandungan senyawa berupa logam-logam yang merupakan kandungan unsur hara mikro pupuk organik antara lain Cu, Fe, Zn, dan Mn. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah air lindi yang berasal dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Batu Layang Kota Pontianak sehingga menghasilkan efluen yang pekat dengan unsur hara mikro. Penelitian ini diawali dengan pengolahan aerasi yang bertujuan untuk mengendapkan unsur hara mikro. Kemudian efluen dari pengolahan aerasi kembali dipekatan dengan penambahan larutan CaO untuk mengubah kelarutan unsur hara mikro, dan dioptimalkan kembali dengan membandingkan efektifitas pemekatan antara penambahan senyawa pengkelat KMnO4 dengan senyawa pengkelat EDTA.Selanjutnya dilakukan proses sentrifugasi untuk memisahkan flok-flok yang terbentuk dari kandungan air. Hasil akhir  dari konsentrasi unsur hara mikro yang didapat setelah dilakukan proses pemekatan dengan penambahan senyawa KMnO4,diperoleh efisiensi pemekatan logam-logam antara lain yaitu tembaga (Cu) = 99.98 %, besi (Fe) = 96,55 %, mangan (Mn) = 99,56 %, dan seng (Zn) = 99,75 %, sedangkan proses pemekatan dengan penambahan senyawa  EDTA diperoleh efisiensi pemekatan logam-logam antara lain yaitu tembaga (Cu) = 99,83 %, besi (Fe) = 99,10 %, mangan (Mn) = 99,86 % dan seng (Zn) = 99,94 %. Berdasarkan nilai konsentrasi akhir yang didapatkan dari proses pemekatan unsur-unsur hara mikro, air lindi TPA Batu Layang berpotensi untuk dijadikan pupuk organik. Sedangkan senyawa kimia KMnO4 merupakan senyawa pengkelat terbaik dalam proses pemekatan unsur-unsur hara mikro dibandingkan dengan senyawa kimia EDTA yang digunakan dalam penelitian ini. Kata kunci:air lindi, EDTA, KMnO4, unsur hara mikro
ANALISIS PERUBAHAN LUAS TUTUPAN LAHAN BERVEGETASI TERHADAP PENYERAPAN GAS CO2 DI KOTA PONTIANAK Habib Abdullah
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7509

Abstract

ABSTRAK Tutupan lahan bervegetasi merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat di wilayah perkotaan, peningkatan jumlah penduduk Kota Pontianak berdampak pada pengalihfungsian lahan bervegetasi menjadi area terbangun sehingga mengurangi luas tutupan lahan bervegetasi  kota. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menginterpretasi perubahan luas tutupan lahan bervegetasi di Kota Pontianak pada tahun 2002, 2007, dan 2012; (2) mengestimasi kemampuan luas tutupan lahan bervegetasi dalam penyerapan emisi karbon dioksida di Kota Pontianak pada tahun 2002, 2007, dan 2012; (3) memprediksi luas tutupan lahan bervegetasi dan kemampuan vegetasi dalam menyerap emisi karbon dioksida pada tahun 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi citra Landsat ETM 7 tahun 2002, 2007, dan 2012. Pengolahan awal meliputi subset image terhadap citra Landsat ETM 7. Pengolahan tahap lanjut adalah melakukan klasifikasi terbimbing terhadap citra Landsat ETM 7 kemudian melakukan recoding terhadap hasil klasifikasi citra. Sedangkan untuk perhitungan emisi CO2 mengacu pada nilai serapan karbon dioksida untuk masing-masing tipe vegetasi yang dikeluarkan oleh Prasetyo tahun 2002. Analisis dilakukan untuk melihat perubahan tutupan lahan Kota Pontianak antara tahun 2002, 2007, dan 2012. Hasil prediksi yang diperoleh selama kurun waktu 15 tahun (tahun 2002-2017) telah terjadi perubahan luas tutupan lahan bervegetasi di wilayah Kota Pontianak dengan penurunan terbesar terdapat pada lahan vegetasi dengan kelas pohon yaitu terjadi penurunan sebesar 1.109,08 ha,  dengan semakin berkurangnya luas tutupan lahan bervegetasi mengakibatkan menurunnya kemampuan ruang hijau dalam menyerap gas CO2 selama kurun waktu 15 tahun sebesar 666.050,91 CO2 ton/tahun yaitu dari 731.662,89 CO2 ton/tahun menjadi 37201,03 CO2 ton/tahun.   Kata Kunci: Karbon dioksida, daya serap gas CO2, tutupan lahan bervegetasi
Pengolahan Air Gambut dengan Media Filter Keramik Berpori (Peat Water Treatment Using Portable Ceramic Filter Media) Yudi Ayunata; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v8i2.43030

Abstract

AbstractAreas characteristic of the soil peaty usually contains brown water, PH (3-5), humus acid, organic substances, and high iron. In this research samples of raw water from the river agreed II which has a pH of 5.67, organic substances 232.17 mg/L, color is 1,346 PT-CO, and Iron Metal (Fe) is 0.96 mg/L. Quality of the parameter is not qualified (PERMESKES No 32 the year 2017) hygiene sanitation and clean water. This study knows the effectiveness of porous ceramic filters with a mixture of eggshells, zeolite, and polyvinyl alcohol (PVA) in sintering at 220 oC for 6 hours. Mixed variation of eggshell, zeolite, and PVA made is type (I) 67.5%: 22.5%: 10%, type (II) 45%: 45%: 10%, and type (II) 22.5%: 67,5%: 10%. Results showed a porous ceramic filter with a mixture of eggshells, zeolite, and PVA for each type filter (I), type (II), and type (III) have the density of 2, 092gr/CM3, 2, 080gr/CM3, 2, 006gr/Cm3. Porosity of 18%, 43%, and 69% as well as flux 1305 L/m2. Jam, 1813 L/m2. Clock, and 2209 L/m2. Jam. The highest color loss effectiveness in type Filter (II) 40% from 1001 TCU to 592.5 TCU.  The type (I) effectiveness increases peat water pH from 5.67 to 6.84 by 17%. The highest efficacy organic substances Parameter type (II) amounted to 77% from 232.17 mg/L to 51.64 mg/L. turbidity of highest efficacy type (III) 48% of 29.6 mg/L to 15.35 mg/L. Iron Parameters Highest efficacy type (III) amounted to 53.12% from 0.96 mg/L to 0.45 mg/L and the highest effectiveness parameters of the type (III) of 78% from 139.44 mg/L to 59.91 mg/L. Keywords: peat water, eggshells, ceramic filters, zeolite Abstrak Daerah karakteristik tanah bergambut biasanya mengandung air berwarna coklat, pH (3-5), berkadar asam humus, zat organik,dan  besi yang tinggi. Dalam penelitian ini sampel air baku dari sungai Sepakat II yang memiliki pH 5,67, zat organik 232,17 mg/L, warna adalah 1.346 pt-co, dan logam besi (Fe) adalah 0,96 mg/L. Kualitas parameter tersebut tidak memenuhi syarat (PERMESKES No 32 Tahun 2017) higiene sanitasi dan air bersih. Penelitian ini mengetahui efektivitas filter keramik berpori dengan campuran media cangkang telur, zeolit, dan Polivinil Alkohol (PVA) yang disintering dengan suhu 220 oC selama 6 jam. Variasi campuran bahan cangkang telur, zeolit, dan PVA yang dibuat adalah Tipe (I)  67,5 % : 22,5 % : 10%, Tipe (II)  45%:45% : 10%, dan Tipe (II) 22,5% : 67,5%:10%. Hasil menunjukan filter keramik berpori dengan campuran cangkang telur, zeolit, dan PVA untuk setiap filter Tipe (I), Tipe (II), dan Tipe (III) yaitu memiliki densitas sebesar 2,092gr/Cm3, 2,080gr/Cm3, 2,006gr/Cm3. Porositas sebesar 18%, 43%, dan 69% serta Fluks 1305 L/m2.jam, 1813 L/m2.jam, dan 2209 L/m2.jam. Penurunan warna efektivitas tertinggi pada filter Tipe (II) 40% dari 1001 TCU menjadi 592,5 TCU.  Tipe (I) efektivitas meningkatkan pH air gambut dari 5,67 menjadi  6,84 sebesar 17%. Parameter zat organik efektivitas tertinggi Tipe (II) sebesar 77% dari 232,17 mg/L menjadi 51,64 mg/L. Kekeruhan efektivitas  tertinggi Tipe (III) 48% dari  29,6 mg/L menjadi 15,35 mg/L. Parameter besi efektivitas tertinggi Tipe (III) sebesar 53,12 % dari 0,96 mg/L menjadi 0,45 mg/L dan parameter kesadahan efektivitas tertinggi Tipe (III) sebesar  78% dari 139,44 mg/L menjadi 59,91 mg/L. Kata Kunci: peat water, eggshells, ceramic filters, zeolite

Page 7 of 49 | Total Record : 486