cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6285729637030
Journal Mail Official
dewidanendra3@gmail.com
Editorial Address
STHD Klaten Jawa Tengah Morangan, Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah Tlpn (085729637370)
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Jawa Dwipa
ISSN : -     EISSN : 27233731     DOI : https://doi.org/10.54714/jd.v2i2
Core Subject : Education, Social,
Jawa Dwipa : Jurnal Penelitian dan Penjaminan Mutu merupakan Jurnal Online Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah terbit setiap bulan Juni dan Desember yang menerbitkan artikel hasil penelitian mahasiswa, tenaga kependidikan maupun dosen dan artikel yang berkaitan dengan penjaminan mutu
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2021)" : 6 Documents clear
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DI MASA PANDEMI COVID-19 DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Ni Made Erlina Sari; I Nyoman Santiawan
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.624 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.40

Abstract

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, penyebaran Covid-19 pertama kali ditemukan seorang anak kecil mengalami sesak nafas dan dinyatakan positif pada tanggal 15 Maret 2020 sampai sekarang. Kehidupan beragama masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengalami perubahan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Dalam masa pandemic Covid-19 tentu banyak sekali tantangan dalam menjalankan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagai mana Implementasi Ajaran Tri Hita Karana di Masa Pandemi Covid-19 Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian merupakan jenis penelitian deskripsif kualitatif yang menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi untuk dapat menghasilkan penelitian yang akurat dan kredibel. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam Implementasi Ajaran Tri Hita Karana, umat Hindu melaksanakanya dengan cara: Di masa pandemi covid-19, umat Hindu dalam menjaga hubungan dengan Ida Sang Hyang Widi (Parahayangan) dilakukan dengan cara sembahyang di rumah, sembahyang secara virtual dan sembahyang di Pura dengan Prokes yang ketat. Pawongan menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama manusia di masa pandemi Covid- 19 dilakukan dengan cara selalu berkomunikasi dengan handphone melalui media social, saling mendoakan, saling menyemangati dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Palemahan hubungan yang harmonis dengan lingkungan dan alam semesta di masa pandemic Covid-19 dilakukan dengan cara merawat lingkungan, membersihkan lingkungan, menanam pohon serta menerapkan protocol kesehatan 5 M.
IMPLEMENTASI DHARMA SADHANA PADA PERSEMBAHYANGAN PURNAMA DAN TILEM DI PURA JAGADNATHA BANGUNTAPAN BANGUNTAPAN YOGYAKARTA Putu Adi Rama Deta; Widhi Astuti
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.436 KB)

Abstract

Praktik keagamaan (Dharma Sadhana) merupakan suatu kewajiban bagi umat beragama terkhusus umat Hindu. Banyak sekali praktek yang bisa dilaksanakan oleh umat, tidak hanya yang berkaitan dengan etika, tetapi juga yang berkaitan dengan upacara/ ritual. Pelaksanaan dharma sadhana pada ritual, tentu memiliki arti yang lebih. Di samping sebagai bentuk bhakti, bisa juga sebagai implementasi ajaran agama. Di Yogyakarta, umat Hindu sangat beragam. Sehingga dengan adanya keberagaman ini, dalam melaksanakan ritual akan tampak berbeda pula. Persembahyangan di Pura Jagadnatha dilaksanakan setiap hari Purnama dan tilem dan hari suci lainnya. Dalam persembahyangan tersebut, banyak praktek keagamaan yang bisa diterapkan. Dalam persembahyangan Purnama dan Tilem di Pura Jagadantha Banguntapan dapat disimpulkan bahwa setiap persembahyangan memakai banten yang sudah diatas standar dan model Bali, kecuali pada saat Tilem ada tambahan banten yang turun menurun selalu disertakan sebagai banten pelengkap dalam setiap persembahyangan Tilem. Banten yang digunakan adalah banten model bali dan tambahan sesaji yang secara turun menurun dilaksanakan.Proses persembahyangan Purnama dan Tilem sangat tertata, mulai dari mempersiapkan banten, mempersiapkan tempat sembahyang dan juga susunan acara yang sangat terarah. Praktik keagamaan di dalam proses persembahyangan Purnama dan Tilem sangat baik dan tidak hanya seorang datang cuma sembahyang saja, tetapi juga mendapat pengetahuan-pengetahuan keagamaan. Karena praktek keagamaan yang terlihat banyak, seperti mejejaitan, kidung, pembacaan weda wakya/sloka, dharma wacana dan dana punia.
IMPLEMENTASI AJARAN CATUR PARAMITA DI LINGKUNGAN STHD KLATEN JAWA TENGAH Chandra Agung Oka Mahendra; Setyaningsih
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.937 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.42

Abstract

Dampak perkembangan di era globalisasi dalam kehidupan sangat maju dan berkembang yang sangat signifikan di segala aspek kehidupan yang menjadi sumber masalah yang dihasilkan dari dampak kemajuan tersebut, seperti perang konflik, penindasan, dan sebagainya. Dalam ajaran Agama Hindu terdapat ajaran dasar etika/susila yang perlu diterapkan dikehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu ajaran Catur Paramita. Catur Paramita terdiri dari maitri (persahabatan), Karuna (cinta kasih), Mudita (simpati), dan Upeksa (toleransi). Ajaran ini nampaknya cocok diterapkan oleh mahasiswa, karena kurangnya toleransi sesama mahasiswa seperti berpura-pura menerima solusi permasalahan pada saat rapat BEM tetapi sebenarnya tidak menerima solusi tersebut dan membicarakan hal tersebut tidak pada tempatnya, tumbuhnya jiwa individualisme seperti tidak bisa menerima orang lain dan hanya berteman dengan mahasiswa yang itu-itu saja dan lebih berkesan berkelompok, penyimpangan ajaran Catur Paramita oleh mahasiswa seperti tidak setiakawan dan lebih memilih egonya sendiri, berfikiran buruk tentang seseorang tanpa ada bukti yang valid, dan lebih banyak mengatkan hal yang tidak perlu terhadap orang lain. Penulis mengambil judul “Implementasi Ajaran Catur paramita Di Lingkungan STHD Klaten Jawa Tengah”. Adapun permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:1) Bagaimana implementasi mahasiswa dalam ajaran Catur Paramita dilingkungan STHD Klaten Jawa Tengah. 2) Bagaimana dampak dari implementasi ajaran Catur Paramita bagi STHD Klaten Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang berupa teks yang sumber datanya yang berupa teks atau buku-buku. Metode pengumpulan data menunjuk suatu cara melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori etika nilai, teori sikap, dan teori perubahan tingkah laku.
IMPLEMENTASI AJARAN TRI KAYA PARISUDHA PADA SISYA DI PRATAMA WIDYA PASRAMAN KUMARA SIDDHI NGAWEN GUNUNG KIDUL Niluh Ayu Laksmi; Trida Purwa Maduria
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.592 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.43

Abstract

Pendidikan di usia dini merupakan Pendidikan sangat penting. Dalam memberikan ajaran agama Hindu dimulai sejak usia dini sehingga sisya dapat mengenal dan mencintai Hindu. PratamaWidya Pasraman Kumara Siddhi merupakan satu-satunya sekolah formal Hindu yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan memberikan ajaran-ajaran dasar Agama Hindu maka akan memberikan stimulus bagi sisya didik untuk mengenal lebih banyak tentang Hindu. Sehingga sisya pasraman mampu menjadi sisya suputra seperti harapan orang tua dan pendidik. Mengenal Ajaran dasar Agama Hindu yang salah satunya adalah Tri Kaya Parisudha merupakan sebagai dasar sisya berperilaku dalam kesehariaannya. Karena dengan memahami dasar dari ajaran Tri Kaya Parisudha sisya akan mampu untuk membedakan mana yang baik, mana yang boleh dan mana yang bisa dilakukan. Melatih sisya dengan pengenalan doa-doa sehari-hari maka sisya akan mampu lebih dekat dengan sang Pencipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penggalian data dilakukan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan demikian penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa membiasakan untuk implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha di Pratama Widya Pasraman Kumara Siddhi Ngawen Gunungkidul, sebagai salah satu upaya untuk dapat membantu meningkatkan sraddha dan bakti serta menjadi harapan semua orang tua agar anaknya bisa berprestasi dengan di dasari ajaran agama Hindu.
FUNGSI TAPA PEPE DALAM TRADISI HINDU JAWA Arya Pradhana; Dewi Ayu Wisnu Wardani; Agus Riyadi
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.778 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.44

Abstract

Tapa Pepe merupakan sebuah metode penyatuan antara Atman dengan Brahman melalui metode meditasi dengan memusatkan kepada sumber matahari. Tapa Pepe memfokuskan konsentrasinya pada “Sapta Cakra” yang ada dalam tubuh manusia. Untuk mengaktifkan cakra-cakra tersebut dengan tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan. Ketika cakra-cakra dalam tubuh manusia terbuka, maka manusia akan banyak mendapatkan manfaat baik secara medis dan non medis, sekala dan niskala. Tapa Pepe merupakan tradisi Hindu yang telah dilaksanakan para leluhur pendahulu kita di tanah Jawa sebagai cara mendekatkan diri dalam proses menyatu dengan alam yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri sesuai dengan tujuan agama Hindu yaitu “mokshartam jagadhita ya ca iti dharma” dimana proses penyatuan diri seseorang melalui laku tertentu ibarat seperti seseorang melaksanakan laku upawasa (puasa) yang juga secara otomatis juga menyucikan dirinya sebagai jalan kepada Tuhan. Ritual Tapa Pepe yang dilakukan oleh Umat Hindu Jawa di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta tidak jauh berbeda dengan ritual tapa pepe dibeberapa tempat. Perbedaanya adalah tempat pelaksanaannya dimana pada umumnya dilakukan di tempat terbuka, halaman rumah dan lain-lain. Berbeda dengan Tapa Pepe yang berada di Pura Mandira Seta dilakukan di dalam areal pura, dimana laku tapa pepe ini dilakukan di pelataran mandala tengah pura atau madya mandala, tepatnya di pelataran Arca Bhatari Dhurga Mahisasura Mardini. Tujuan dari Tapa Pepe di Pura Mandira Seta yaitu menyatukan Atman dengan Brahman yang berada dalam diri melalui metode menatap matahari sebagai sarana konsentrasinya. Konsentrasi pada Tapa Pepe atau Yoga Matahari berpusat pada cakra-cakra yang ada dalam tubuh. Tujuh cakra itu yaitu : Cakra Sahasrara (Cakra Mahkota), Ajna Cakra (Cakra Mata Ketiga/kening), Wisudha Cakra (Cakra Tenggorokan), Anahata Cakra (Cakra Jantung), Manipura Cakra (Cakra Pusar), Swadistana Cakra (Cakra Kelamin), Muladara Cakra (Cakra Tulang Ekor). Ketika cakra-cakra itu aktif, maka seseorang yang melakukan Tapa Pepe akan mendapatkan banyak manfaat seperti tidak mudah sakit karena menyerap energi matahari terbukti sekarang dilakukan banyak orang dimasa pendemi covid 19 ini.
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM MENINGKATKAN KARAKTER MAHASISWA DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI HINDU DHARMA KLATEN Yogi Saputro; Ni Luh Putu Wiardani Astuti
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.493 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.45

Abstract

Perkembangan zaman dan globalisasi mampu menunjukkan perubahan yang sangat signifikan di segala aspek kehidupan khususnya pada aspek kehidupan bermasyarakat dan beragama terutama di kalangan anak muda. Anak muda yang menjadi generasi penerus dalam perubahan dan pembangunan bangsa sangat memerlukan pedoman dasar dalam mengatasi pengaruh negatif di zaman era globalisasi ini. Oleh sebab itu diperlukan pembinaan ajaran agama yang baik sebagai pedoman prilaku dalam upaya membangun moralitas dan karakter melalui ajaran Tri Hita Karana. Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” berarti penyebab. Tri Hita Karana menurut pandangan Agama Hindu adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Adapun bagian-bagiannya ajaran Tri Hita Karana yaitu a. Parhyangan Hubungan Manusia dengan Tuhan, b. Pawongan Hubungan Manusia dangan Manusia, c. Palemahan Hubungan Manusia dengan Alam Semesta. Adapun tujuan dalam penulisan jurnal ini yaitu : Bertujuan untuk mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana dalam meningkatkan karakter mahasiswa di lingkungan Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten supaya dalam kehidupan yang semakin maju ini mahasiswa mampu memiliki karakter atau kepribadian yang baik. Implementasi konsep Tri Hita Karana dalam peningkatan karakter mahasiswa dapat kita lihat dari perilaku dan pergaulannya setiap hari di lingkungan kampus. Mengingat pergaulan di lingkungan kampus tersebut beragam, maka baik langsung maupun tidak langsung setiap aktivitas yang dilakukan antara mahasiswa satu dengan yang lain sangat dipengaruhi oleh karakter dari setiap mahasiswa itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya kepada mahasiswa, namun orang-orang di lingkungan kampus juga terkena dampak positif dari konsep penerapan ajaran Tri Hita Karana.

Page 1 of 1 | Total Record : 6