cover
Contact Name
Marwati
Contact Email
mar.ambodalle@gmail.com
Phone
+628124118351
Journal Mail Official
jurnal.timpalaja@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gowa, South Sulawesi, Indonesia Phone : +6281-241-183-51, +6285-299-959-452, Post Office: 92113
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
TIMPALAJA: Architecture Student Journal
ISSN : -     EISSN : 27458490     DOI : https://doi.org/10.24252/timpalaja
Core Subject : Art, Engineering,
TIMPALAJA: Architecture Student Journal (E-ISSN: 2745-8490) is a scientific publication for student collaborative research and lecturers of a widespread topic in architectural design studies. The papers received by this journal will be reviewed by the editorial team. TIMPALAJA publishes articles that include textual studies and field studies in a variety of architectural design perspectives including: Islamic architecture Mosque architecture Local Wisdom Historic architecture Interior Architectural theories and criticism Environmental architecture City Design Landscape Building Science and technology Structure and construction of buildings And much more related to architectural design
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2019): December" : 7 Documents clear
Semiotika Arsitektur pada Fasad Bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar Nurjannah, Andi; Fatimah, Andi Nurauliah; Marwati, Marwati
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a3

Abstract

Abstrak_ Masjid merupakan tempat ibadah sekaligus pusat peradaban umat Islam. Adapun pusat peradaban islam di Indonesia bagian Timur yaitu Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al Markaz Al Islami juga menjadi pusat pengembangan dan penelitian, sosial budaya, pendidikan hingga ekonomi. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:  (1) Mengidentifikasi bentuk dan ornamen yang terdapat pada fasade bangunan masjid Al-Markaz Al-Islami, (2) Menganalisis makna simbol yang ada pada fasade bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan melalui kajian semiotika untuk menemukan arti/ pesan dan makna melalui tanda-tanda atau simbol-simbol yang ada pada arsitektur bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Hasil penelitian ini kemudian memberikan informasi tentang (1) Bentuk dan ornamen pada fasade Masjid Al-Markaz Al-Islami  diadopsi dari Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah, bentuk rumah masyarakat bugis-makassar serta Masjid Katangka di Kabupaten Gowa, (2) Penciptaan unsur arsitektur bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami merupakan simbol yang memiliki makna.Kata kunci: Semiotika; Bentuk; Ornamen dan Makna Simbol.  Abstrak_ The mosque is a place of worship as well as the center of Muslim civilization. The center of Islamic civilization in Eastern Indonesia is the Al-Markaz Al-Islami Mosque in Makassar. Aside from being a place of worship, Al Markaz Al Islami Mosque is also a center for development and research, socio-cultural, educational to economic. Specifically, this study aims to: (1)  Identify the shapes and ornaments found on the facade of the Al-Markaz Al-Islami mosque building, (2) Analyzing the meaning of symbols that are on the facade of the Al-Markaz Al-Islami Mosque in Makassar. The results of this study then provide information about: (1)  Shapes and ornaments on the facade of Al-Markaz Al-Islami Mosque adopted from the Grand Mosque in Makkah, Nabawi Mosque in Medina Al Munawwarah, a form of Bugis-Makassar community house and Katangka Mosque in Gowa Regency, (2) The creation of architectural elements of the Al-Markaz Al-Islami Mosque building is a symbol that has meaning.Keywords: Semiotics; Shape; Ornaments and meanings of symbols.
Penerapan Pembauran Ornamen Islam dan Tionghoa Dalam Arsitektur Masjid Muhammad Cheng Hoo Adininggar, Melati Indira; Kurnia, Elvira Dewi; Alfiah, Alfiah
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a6

Abstract

Abstrak_ Masyarakat Indonesia pada abad ke 7 Masehi melakukan perdagangan dengan negeri Islam. Interaksi tersebut  berpengaruh pada bentuk arsitektur bangunan masjid yang dibangun. Masjid di Indonesia pada umumnya  mengadopsi masjid dari Timur Tengah dan ditambah dengan budaya lokal setempat. Tetapi masyarakat  keturunan Cina yang beragama islam membangun masjid Muhammad Cheng Ho dengan arsitektur khas Cina.  Selain itu, masjid Muhammad Cheng Ho Makassar memiliki bentuk yang unik dan menarik yang berdiri di tengah tengah muslim Makassar yang secara umum memiliki budaya yang berbeda dengan muslim Cina. Sehingga,  keberadaan masjid ini sebagai wujud atau simbol dari toleransi antar etnis dan budaya. Konsep arsitektur pada  masjid ini merupakan perpaduan antara Islam-Tiongkok dan keunikannya berada pada ragam hias dari masjid  yang memiliki makna serta nilai.Kata kunci: Pembauran; Budaya; Masjid. Abstract_Indonesian society in the 7th century AD traded with the Islamic state. These interactions have an effect on the  architectural form of the mosque building that was built. Mosques in Indonesia generally adopt mosques from the  Middle East and are incorporated with local culture. But the Chinese descendants of Islam who built the Muhammad Cheng  Ho mosque with Chinese architecture. In addition, the Muhammad Cheng Ho Mosque in Makassar has a unique and  interesting place that stands in the midst of Makassar Muslims who generally have a different culture with Chinese  Muslims. So, the existence of this mosque as a form or symbol of tolerance between ethnicity and culture. The  architectural concept in this mosque is a blend of Islam-China and its uniqueness is in the decoration of the mosque  which has meaning and value.Keywords : Integration; Culture; Mosque.
Kajian Ikonologis Arsitektur dan Interior Masjid Al-Fatih Al-Anshar Makassar Reskiya, Rahmi; Ananda, Nadilah Tri; Nursyam, Nursyam
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a1

Abstract

Abstrak_Masjid Al Fatih Al Anshar adalah masjid yang terletak di Jalan Paccinang Raya, Kelurahan Tello, Kecamatan Panakkukang , Kota Makassar. Masjid ini memiliki desain arsitektur yang unik dan menarik. Bentuk fasadnya memliki salah satu sudut yang menyerupai bentuk Ka’bah lengkap dengan Hajar Aswad. Hasil dari penilitian dari tahap deskripsi pra ikonografi diperoleh makna primer yang menunjukkan bahwa arsitektur dan interior masjid Al fatih al anshar memiliki ciri-ciri kegiatan ibadah dalam agama Islam. Tahap analisa ikonografi diperoleh makna sekunder yang menunjukkan bahwa konsep yang digunakan adalah alam semesta yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Tahap interprestasi ikonologis diperoleh makna secara simbolis yaitu bentuk Ka’bah yang merupakan kiblat umat muslim.Kata kunci: Ikonologis; Arsitektur; Interior; Masjid. Abstract_Al Fatih Al Anshar Mosque is a mosque located on Jalan Paccinang Raya, Tello Village, Panakkukang District, Makassar City. This mosque has a unique and attractive architectural design. The shape of the facade has one corner that resembles the shape of the Ka'bah complete with Hajar Aswad. The results of the research from the pre-iconographic description stage obtained primary meanings which showed that the architecture and interior of the Al Fatih al-Masjid Mosque had the characteristics of worship activities in the Islamic religion. The iconographic analysis stage obtained secondary meanings which showed that the concept used was a universe that showed the greatness of Allah SWT. The stage of iconological interpretation obtained symbolically meaning is the form of Ka'bah which is the direction of Muslims.Keywords: Iconologis; Architecture; interior; Mosque.
Seni Hias Bangunan Bersejarah Masjid Lompoe Urwatul Wudska Maros Alfirah, Nunung Dewi; Rasyid, Fadilah Aliyah; Wasilah, Wasilah
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a2

Abstract

Abstrak_ Berbagai situs bersejarah bangunan masjid peninggalan perkembangan awal budaya Islam di Maros mengindikasikan adanya seni hias. Salah satu peninggalan tersebut adalah Masjid Lompoe Urwatul Wudska. Penelitian ini membahas perwujudan estetis keragaman seni hias (ornamen) masjid bersejarah tersebut melalui pendekatan ikonografi untuk mengetahui makna dari perwujudan estetis keragaman seni hias (ornamen) masjid Lompoe Urwatul Wudska. Hasil dari penelitian ini, seni hias(ornamen) yang terdapat pada Masjid Lompoe Urwatul Wudska berada pada bagian pintu, mimbar, bedug, dan kolom. Dimana setiap seni hias (ornamen) ini menyimpan nilai-nilai budaya dan berbagai makna yang membedakannya dengan masjid yang lain. Adapun makna ornamen tersebut sebagai berikut: (1) pintu yang memiliki ornament kaligrafi 20 doa suci yang dimaknakan sebagai simbol doa untuk masuk ke pintu ka`bah yang berada di tanah suci, (2) mimbar yang memiliki nenas yang dimaknakan sebagai filosofi kehidupan dan keagamaan, (3) bedug yang memiliki ornamen dibagian penopang bedug diartikan bahwa bedug ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan ciri khas ukiran ornamen suku bugis-makassar, (4) kolom yang dimaknakan sebagai jumlah sahabat nabi yaitu empat, (5) railing pembatas teras masjid yang menggunakan ornamen klasik yang banyak terdapat di rumah tradisional di Indonesia.Kata kunci: Seni Hias; Ornamen; Masjid Lompoe Urwatul Wudska; Ikonografi   
Pola Sirkulasi Ruang Masjid di Makassar Studi Kasus: Masjid Babul Khaer Marua, Irwansyah Usman; Ahsyam, M. Ramadhan; Oktawati, Andi Eka
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a5

Abstract

Abstrak_ Masjid berperan penting keberadaannya bagi umat muslim seluruh dunia baik untuk mengabdi/beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala maupun kegiatan agama lainnya. Selain untuk tempat beribadah, masjid sudah menjadi tempat berkumpul, pusat  dakwah , bertukar pengalaman, , menuntut ilmu dan lain sebagainya. Ada dua hal  yang menjadi dasar pertimbangan dalam mendirikan sebuah masjid yaitu fungsi penting dari sebuah masjid untuk tempat beribadah, dan yang kedua adalah aspek arsitektur sebuah masjid yang dapat menjadi tempat bersosialisasi dan bersilaturahmi dan dapat meningkatkan kenyamanan jamaah bukan cuman pada saat beribadah tetapi ketika berada di lingkungan masjid. Namun pada saat ini masih banyak masjid yang tidak mengakomodir kebutuhan jamaah seperti aksesibilitas tempat wudhu’  yang jauh dari area shalat, area parkir yang sangat minim, tata ruang dan jalur sirkulasi yang kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna masjid. Maka dari itu penulis membuat penelitian ini dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah yang timbul karena terkait tata ruang dan jalur sirkulasi pada masjid dan menemukan cara yang sesuai bagi masalah tersebut. Penelitian ini dilakukan di masjid babul khaer dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu melakukan pengamatan perilaku meruang Arsitektur. Berdasarkan survey penulis pada masjid yang dijadikan sebagai objek penelitian, ternyata masih banyak didapat kekurangan pada desain tata ruang masjid dan pola sirkulasi yang acak antara jamaah laki-laki dan perempuan sehingga membuat jamaah maupun pengurus masjid menjadi tidak nyaman. Oleh karena itu diperlukan penataan kembali ruang masjid dan jalur sirkulasi pada masjid Babul Khaer. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi untuk berbagai pihak seperti jamaah maupun pengurus masjid.Kata kunci: Tata Ruang; Pola Sirkulasi Masjid Babul Khaer.               Abstract_ Mosques play an important role for Muslims throughout the world both to worship / worship Allah Subhanahu Wata'ala and other religious activities. In addition to the place of worship, the mosque has become a gathering place, center for da'wah, exchanging experiences, studying and so forth. There are two things that are the basis for consideration in setting up a mosque, namely the important function of a mosque for a place of worship, and the second is the architectural aspect of a mosque that can be a place to socialize and stay in touch. mosque environment. But at this time there are still many mosques that do not accommodate the needs of pilgrims such as the accessibility of ablution places that are far from the prayer area, the parking area is very minimal, spatial layout and circulation channels that are not appropriate so as to cause inconvenience to mosque users. Therefore the authors make this research with the aim of identifying problems that arise because of the related spatial layout and circulation paths in mosques and find ways that are appropriate for those problems. This research was carried out at the Babul Khaer Mosque using qualitative methods, namely observing the behavior of architectural spaces. Based on the author's survey on the mosque which was used as the object of research, there were still many shortcomings in the design of the mosque layout and random circulation patterns between male and female worshipers, making the worshipers and administrators uncomfortable. Therefore, it is necessary to re-arrange the mosque space and the circulation path at the Babul Khaer mosque. It is hoped that this research can contribute to various parties such as worshipers and mosque administrators.Keywords : Spatial Planning; Circulation Pattern Of The Babul Khaer Mosque.
Pencahayaan Alami pada Masjid Amirul Mukminin Makassar Ulfirah, Rahmayanti; Saha, Riska; Rahayu, Irma
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a4

Abstract

Abstrak_ Masjid merupakan pusat peradaban umat islam sebagai sarana ibadah umat muslim yang dapat menampung jumlah jamaah dalam jumlah lumayan banyak, namun seiring berjalannya waktu bangunan ini memiliki fungsi lain yang tidak hanya digunakan sebagai tempat beribadah. Masjid Amirul Mukminin sebagai sentra kegiatan islam maupun kajian ilmu yang berlangsung hampir setiap hari mulai dari waktu subuh hingga pukul 22:00. Bangunan masjid amirul mukminin berpotensi menggunakan pencahayaan alami pada siang hari karena lokasinya yang mendapatkan pencahayaan matahari setiap harinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif sebagai metode umum. Pembahasan memiliki alur deduktif yaitu menjelaskan bahasan umum terlebih dahulu lalu menjelaskan bahasan khusus. Dan menggunakan Metode observasi ,dokumentasi,wawancara,dan pengukuran alat berupa luxmeter. Penelitian difokuskan untuk mengetahui kinerja pencahayaan alamipada masjid amirul mukminin, mengetahui kualitas cahaya dibeberapa titik yang dipetakan dengan pembagian area berdasarkan tingkat cahaya pada ruangan. Dan Hasil menunjukkan  kondisi pencahayaan alami pada lantai 1, lantai 2 dan lantai 3 terjadi pada pukul  08:00- 10:00 WITA melebihi standar pecahayaan alami pada SNI. Hal ini dikarenakan pada titik tersebut tidak ada penghalang sinar matahri.                                                                                                                                          Kata Kunci : Amirul mukminin, ibadah, Makassar, Masjid, pencahayaan alami, Abstrak_ Mosque is the center of Islamic civilization as a place of worship for Muslims which can accommodate a large number of worshipers, but over time this building has other functions that are not only used as places of worship. The Amirul Mukminin Mosque as a center of Islamic activities and the study of science which takes place almost every day from dawn until 22:00. The amirul mukminin mosque building has the potential to use natural lighting during the day because of its location which gets sunlight every day. This study uses quantitative methods as a general method. Discussion has a deductive plot, namely explaining general discussion first and then explaining specific topics. And using the method of observation, documentation, interviews, and measurement tools in the form of luxmeter. The study focused on knowing the natural lighting performance of the mosque of the Believers, knowing the quality of light in some points mapped by dividing the area based on the level of light in the room. And the results show the condition of natural lighting on the 1st floor of the 2nd and 3rd floor occurs at 08: 00-10: 00 WITA This is because at that point there is no sun beam barrier.Keywords: Amir al-mu'minin, worship, Makassar, mosque, natural lighting,  
Evaluasi Pencahayaan Alami pada Masjid Raya Baruga Arianda, Andi Rahmat; Rahma, Citra Sti
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 1 No. 2 (2019): December
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v1i2a7

Abstract

 Abstrak Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan ruang. Kebutuhan pencahayaan suatu ruangan tergantung pada jenis kegiatan yang dilakukan di ruangan tersebut. Sistem pencahayaan dalam suatu ruangan dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu sistem pencahayaan alami yang bersumber dari alam dan sistem pencahayaan buatan yang dibuat oleh manusia. Standar minimal sistem pencahayaan buatan dalam suatu bangunan harus memenuhi syarat kesehatan, kenyamanan, keamanan dan memenuhi ketentuan yang berlaku untuk bangunan gedung. Tingkat pencahayaan rata-rata suatu ruangan bergantung pada luas area, fluks total semua lampu, koefisien penggunaan, serta koefisien depresiasi. Tingkat pencahayaan ratarata suatu ruangan dapat diukur menggunakan luxmeter. Proses pengukurannya meliputi penentuan luas ruangan, type ruangan, penentuan titik penerangan, serta pengambilan data pengukuran. Hasil dari pengukuran tersebut dibandingkan dengan standar SNI pencahayaan. Kata kunci : pencahayaan, pengaruh, masjid  Abstrack Lighting is one of the important factors in designing space. The lighting needs of a room depend on the type of activity carried out in the room. Lighting systems in a room can be divided into two main parts, namely natural lighting systems sourced from nature and artificial lighting systems made by humans. The minimum standard of artificial lighting systems in a building must meet health, comfort, safety requirements and meet the requirements that apply to buildings. The average lighting level of a room depends on the area, the total flux of all lights, the coefficient of use, and the depreciation coefficient. The average lighting level of a room can be measured using luxmeter. The measurement process includes determining the area of the room, type of room, determining the lighting point, and taking measurement data. The results of these measurements are compared to SNI lighting standards. Keywords: lighting, influence, mosque  

Page 1 of 1 | Total Record : 7