cover
Contact Name
Rinto Hasiholan Hutapea
Contact Email
rintohutapea81@gmail.com
Phone
+6281330296185
Journal Mail Official
danumpambelum21@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya Alamat: Jl. Tampung Penyang No.KM.6, Menteng, Kec. Jekan Raya, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah 73112
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja
ISSN : 27976858     EISSN : 2797684X     DOI : https://doi.org/10.54170/dp.v1i2
Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja adalah jurnal yang diterbitkan oleh Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya. Periode Terbitan Jurnal ini yaitu bulan Mei dan November. Ruang Lingkup kajian jurnal ini di antaranya: Teologi Perjanjian Lama, Teologi Perjanjian Baru, Teologi dan Budaya, Misiologi, Sosiologi Agama, dan Musik Gereja.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 176 Documents
Analisis Kepemimpinan Kristen Berdasarkan Markus 10:43-45 dan Implementasinya Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Di Masa Pandemi Manurung, Rismag Dalena Monica Br Manurung; Sibarani, Jenri Prada; Jaya Supan; Widjaja, Fransiskus Irwan; Talizaro Tafonao
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.84

Abstract

This article aims to provide an overview for Christian leaders or servants of God during a pandemic, so that they become leaders who have credibility or divine character and can be useful in ministry, especially by following the developments of the times during the pandemic. Leaders during a pandemic must work hard and learn to keep up with the times. Especially with the condition where the church must follow the protocol in accordance with government directives in conducting online and offline worship. Descriptive qualitative research is a research method in analyzing Christian leadership based on Mark 10:43-45 and its implementation in the spiritual growth of the congregation during a pandemic. The sources used by the author in reviewing this article are journals, books, and other reliable references to support the author's analysis in this article. The results obtained in this study are leaders serve and are sensitive to existing situations as found in the text of Mark 10:43-45. This kind of leadership is very influential on the growth of the church, both in quality and quantity. Thus, the analysis of Christian leadership offered by Mark 10 becomes an important part and must be applied by every Christian leader in serving so that the congregation's spiritual growth during the current pandemic. Artikel ini bertujuan untuk memberi gambaran bagi pemimpin Kristen atau hamba Tuhan di masa pandemi, agar menjadi pemimpin yang punya kredibilitas atau karakter ilahi serta dapat bermanfaat didalam pelayanan terkhusus dengan mengikuti perkembangan zaman di masa pandemi. Pemimpin di masa pandemi haruslah bekerja keras dan belajar dalam mengikuti perkembangan zaman. Terkhususnya dengan kondisi di mana gereja harus mengikuti protokol sesuai dengan arahan pemerintah dalam melakukan ibadah online dan offline. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menganalisis kepemimpinan Kristen berdasarkan Markus 10:43-45 dan implementasinya dalam pertumbuhan rohani jemaat di masa pandemic. Sumber-sumber yang digunakan oleh penulis dalam mengkaji artikel ini adalah jurnal, buku-buku, serta refrensi lainnya yang terpecaya untuk mendukung analisis penulis dalam artikel ini. Hasil yang didapatkan dalam kajian ini adalah pemimpin melayani dan peka terhadap situasi yang ada sebagaiamana temuan dalam teks Markus 10:43-45. Kepempinan seperti ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan gereja, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian bahwa analisis kepemimpinan Kristen yang ditawarkan Markus 10 menjadi bagian yang penting dan harus diterapkan setiap pemimpin Kristen dalam melayani agar rohani jemaat bertumbuh di masa pandemi saat ini.
Kualifikasi Menjadi Seorang Imam Bagi Pendewasaan Iman Jemaat Ruy, Margareta
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.85

Abstract

Becoming a priest does seem very easy, if you go through it physically. But difficulties will be found when living it spiritually. Being a priest must have a strong spiritual mentality because the priest is the benchmark for the congregation to live. For that, being a priest is not only chosen by the church but also meets the qualifications. This article will describe the qualifications of a person to become a priest for the maturity of the congregation's faith based on the teachings of John Chrysostom in his book Six Books on the Priesthood. The quality of an imam can be seen from his journey to reach Allah's qualifications to be worthy of being an imam. This article will present some specific qualifications concerning body-soul-spirit, among others; a priest must have humility, a priest must be pure in spirit, and a priest must have experience with the Holy Spirit. The specific qualifications above can be used as a benchmark for someone who wants to be worthy before God and also as a support for the maturity of the congregation. Menjadi seorang imam memang tampaknya sangat mudah, jika dilalui secara jasmani. Namun kesulitan akan ditemukan saat menjalaninya secara rohani. Menjadi seorang imam harus mempunyai mental rohani yang kuat karena imam adalah tolak ukur jemaat untuk hidup. Untuk itu, menjadi seorang imam bukan sekedar dipilih oleh gereja tapi juga memenuhi kualifikasi. Artikel ini bertujuan menjelaskan kualifikasi seseorang untuk menjadi imam bagi pendewasaan iman jemaat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode studi pustaka yang meneliti tulisan tentang Kualifikasi Imam yang didasarkan pada pengajaran Yohanes Krisostomus dalam bukunya Six Books on the Priesthood. Dalam artikel ini, peneliti menemukan bahwa kualitas seorang imam dapat dilihat dari perjalanannya mencapai kualifikasi Allah untuk layak menjadi seorang imam kemudian peneliti akan menyuguhkan beberapa kualifikasi spesifik yang menyangkut tubuh-jiwa-roh antara lain; seorang imam harus memiliki kerendahan hati, seorang imam harus murni jiwanya, dan seorang imam harus memiliki pengalaman dengan Roh Kudus. Kualifikasi spesifik di atas dapat menjadi tolak ukur seseorang yang ingin menjadi agar layak di hadapan Allah dan juga sebagai penunjang pendewasaan jemaat. Dengan meneladani Kristus sebagai Iman yang agung, seseorang dapat memenuhi semua kualifikasi tersebut.
Makna Spiritual Aku Hitam dalam Teks Kidung Agung 1:6 Juliawati, Fransiska; Hendi
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 2 (2022): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i2.87

Abstract

The article is a commentary on the Spritual significance in the song of Solomon 1:6 based on Origen view of the song of song commentary and homilies origen and another book by Gregory of nysa as homilies on the song of song. It was a book that blotted out the black spiritual significance of the song of Solomon. Many of god’s servants today have been inspired to convey only the literal meaning of the song of Solomon, and are then complemented by the experience and testimony of that servant of God. With the intent of making the hearts of the congregation rejoice even if the message of the text that is presented is irrelevant to the lives of the congregation the servants of the Lord often underestimate or take for granted the spiritual meaning of the song of Solomon because it is viewed only as a song representing the love of a man and a woman who love each other. There are not few servants of the Lord who view the text of the song of Solomon as relevant only to married congregations or to those in their 17th year of age or older. Because it’s so rare that the song of Solomon is preached because it is considered irrelevant in the modern age because it is just plain. This was the basic for the writer’s conception to discuss the book song of Solomon 1:6. Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang Makna Spritual Dalam Kidung Agung Ps. 1:6 pandangan berdasarkan Origen dengan judul The Song of Songs Commentary and Homilies Origen dan buku lain oleh Gregory of Nysa yaitu Homilies on the Song of Songs. Yaitu sebuah buku yang membahas mengenai makna spiritual hitam dalam kitab kidung agung. Kebanyakan di zaman sekarang ini banyak hamba Tuhan yang hanya menyampaikan makna dari teks Kidung Agung secara literal saja, kemudian di lengkapi dengan pengalaman serta kesaksian hamba Tuhan tersebut. Dengan maksud membuat hati para jemaat menjadi senang meskipun pesan dari teks yang disampaikan tidak relevan dengan kehidupan jemaatnya. Hamba Tuhan seringkali menyepelekan atau tidak serius dalam menyampaikan makna spiritual dari teks Kidung Agung, karena dianggap hanya sebagai suatu nyanyian yang melambangkan antara cinta seorang pria dan wanita yang saling mencintai. Tidak sedikit hamba Tuhan yang berpandangan bahwa teks Kidung Agung ini dianggap relevan hanya bagi jemaat yang sudah berkeluarga atau kepada jemaat yang sudah menginjak usia 17 tahun ke atas. Oleh sebab itu Kidung Agung sangat jarang di khotbahkan karena dianggap tidak relevan di zaman kekinian sebab hanya ditujuhkan kepada kalangan-kalangan tertentu saja. Pandangan ini merupakan pandangan yang dangkal karena salah diartikan. Hal itulah yang mendasari penulis sehingga penulis tertarik untuk membahas kitab kidung agung 1:6.
Persepsi Anggota Paduan Suara Terhadap Metode Latihan Daring dan Paduan Suara Virtual Nugrahhu, Putra Andino
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.90

Abstract

The COVID-19 pandemic that has hit the world has forced governments to make policies, one of which is to reduce activities that gather large numbers of people. This policy includes influencing the art world, in particular the choir. However, new alternatives such as online rehearsals and virtual choirs are emerging which are new to many. Therefore, there is a need for research to determine the perception of choir members towards online practice methods and virtual choirs. Based on the results of the research that has been carried out, it can be concluded that the perception of choir members towards online practice methods and virtual choirs is very diverse. In theory, choir members can understand the concept of online practice methods and virtual choirs. However, in practice, there are many obstacles faced so that online practice methods and virtual choirs are considered less effective than conventional choirs and in-person practice methods. Pandemi covid-19 yang melanda dunia membuat pemerintah membuat berbagai macam kebijakan yang salah satunya adalah mengurangi aktivitas yang bersifat mengumpulkan banyak orang. Kebijakan ini termasuk mempengaruhi dunia seni, secara khusus paduan suara. Namun demikian, muncul alternatif baru seperti latihan daring dan paduan suara virtual yang merupakan hal baru bagi banyak orang. Oleh karena itu perlu adanya penelitian untuk mengetahui persepsi anggota paduan suara terhadap metode latihan daring dan paduan suara virtual. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi anggota paduan suara terhadap metode latihan daring dan paduan suara virtual sangat beragam. Secara teori, anggota paduan suara dapat memahami konsep metode latihan daring dan paduan suara virtual. Namun pada praktiknya, ada banyak kendala yang dihadapi sehingga metode latihan daring dan paduan suara virtual dianggap kurang efektif dibandingkan dengan paduan suara konvensional dan metode latihan yang hadir secara langsung.
Kehadiran dalam Ibadah: Kajian terhadap Doa Pribadi dan Baca Alkitab Generasi Milenial dan Gen Z Berdasarkan Ibrani 10:25 Sompotan, Dale Dompas; Hutagalung, Stimson Bernard
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 1 (2024): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i1.92

Abstract

This study conducts a comprehensive exploration of strategies aimed at elevating participation in worship, with a specific focus on the practices of personal prayer and reflection, especially within the Millennial and Gen Z demographics. The research methodology employs a rigorous exploratory analysis of biblical texts, particularly delving into Hebrews 10:25, and its practical application in the contexts of everyday life. Utilizing qualitative methods and a thorough literature review, this research meticulously gathers data through an in-depth analysis of various literary sources, including the Bible. The unequivocal findings of this research assert that personal prayer practices not only serve as catalysts but also constitute the core of heightened attendance in worship. Personal prayer imparts a deeper and more intimate spiritual dimension, harmonizing with the fundamental values encapsulated in Hebrews 10:25, emphasizing the significance of fellowship and active engagement in communal worship. Moreover, the study delineates the dynamic interplay of cultural and social shifts that shape the perspectives of the Millennial and Gen Z generations regarding spirituality and worship. The theological implications derived from these findings provide profound insights into the needs and challenges encountered by the younger generation in fortifying their spiritual connections in the modern era.
Menelisik Problematika dan Strategi Pelaksanaan Misi Dalam Konteks Indonesia Bombongan Rantesalu, Marsi
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.94

Abstract

The purpose of this research is to identify the challenges faced in the implementation of missions in Indonesia and the appropriate strategies used in the implementation of missions. The method used is descriptive qualitative with reference sources from books and the latest studies on missions through journals. The results showed that the implementation of missions in Indonesia experienced many challenges such as a very strong cultural problem in the lives of recipients, very diverse language problems and responses from adherents of other religions who had negative views on the implementation of Christian missions. In order to keep the mission going, it needs the right strategy and continue to take advantage of every opportunity available and maximize the available facilities. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam rangka pelaksanaan misi di Indonesia dan strategi yang tepat digunakan dalam pelaksanaan misi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber referensi dari buku-buku dan kajian terbaru tentang misi melalui jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan misi di Indonesia memiliki banyak tantangan seperti persoalan budaya yang sangat kuat dalam kehidupan penerima, persoalan bahasa yang sangat beragam dan respon dari pemeluk agama lain yang memiliki pandangan negatif terhadap pelaksanaan misi Kristen. Agar misi tetap berjalan maka dibutuhkan strategi yang tepat dan terus memanfaatkan setiap peluang yang ada dan memaksimalkan fasilitas yang tersedia.
Makna Keselamatan Dalam Hukum Taurat Bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini Budiman, Sabda; Takameha, Kristian Karipi
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.96

Abstract

Soteriology is a very important discussion in the Bible. The discussion of soteriology is a broad discussion. Almost all parts of the book contain the doctrine of salvation. Christians need to understand the meaning of the doctrine of salvation in the Old Testament and draw implications from the meaning of that doctrine of salvation. This study examines the doctrine of salvation in the Old Testament and the meaning of the doctrine of salvation in the Old Testament for the lives of today's believers. This study aims to explain the meaning of the doctrine of salvation in the Old Testament and its efficacy for today's believers. The authors used qualitative research methods with a descriptive approach. The meaning of the doctrine of salvation in the Old Testament for today's believers is to obey God's commandments, have a sincere heart, and live pleasing to God. Soteriologi (doktrin keselamatan) merupakan pembahasan yang sangat penting di dalam Alkitab. Pembahasan tentang soteriologi merupakan pembahasan yang luas. Hampir di dalam seluruh bagian kitab mengandung doktrin tentang keselamatan. Orang Kristen perlu memahami makna ajaran keselamatan dalam Perjanjian Lama dan menarik implikasi dari makna ajaran keselamatan tersebut. Penelitian ini mengkaji ajaran keselamatan di dalam Perjanjian Lama dan makna ajaran keselamatan dalam Perjanjian Lama bagi kehidupan orang percaya masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan makna ajaran tentang keselamatan dalam Perjanjian Lama dan imlikasinya bagi orang percaya masa kini. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan dekriptif. Adapun makna ajaran keselamatan dalam Perjanjian Lama bagi orang percaya masa kini ialah taat kepada perintah Allah, memiliki hati yang tulus, dan hidup berkenan kepada Allah.
Kerukunan Umat Beragama Ditinjau Dari Perspektif Alkitab Dan Implementasinya Bagi Mahasiswa Kristen Di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah Lumbanraja, Daido Tri Sampurna
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i1.97

Abstract

The role of students is no less important than religious leaders and figures in taking a stand against the vulnerability of religious differences that can lead to conflict in Indonesia. As one of the strategic elements of society, students can participate in reducing the incidence of clashes between religious believers. Student identity that is built by self-image as a critical, dynamic, and religious person. From here it reflects religious, intellectual, social, and civic responsibilities as citizens. The dynamic potential and space for movement are very appropriate to enter the realm of religious harmony frames. Religious harmony is very important in the world of higher education, one way that can be done to create religious harmony which increases the quality of students' understanding of the religion they believe in. Tracing the problem of religious harmony in Indonesia, as well as the response that states that religious harmony is an important thing in the scope of higher education, one way to achieve this is to improve the quality of students' understanding of the religion they believe in. The purpose of this research is to see how religious harmony from a biblical perspective and how the implementation of religious harmony from a biblical perspective for Christian students at Palangka Raya, Central Kalimantan. Peran mahasiswa tidak kalah penting dari para pemimpin dan tokoh agama dalam mengambil sikap terhadap rentannya perbedaan agama yang dapat menimbulkan konflik di Indonesia. Mahasiswa dapat berperan secara aktif dalam mereduksi terjadinya benturan antarumat beragama, karena mahasiswa merupakan salah satu elemen masyarakat yang strategis. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan yang kritis, dinamis, dan religious. Potensi dan ruang gerak yang dinamis sangat tepat untuk memasuki ranah bingkai kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama merupakan hal yang sangat penting di dunia perguruan tinggi, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk terciptanya kerukunan umat beragama yaitu meningkatkan kualitas pemahaman mahasiswa terhadap agama yang diyakininya. Merunut persoalan mengenai kerukunan umat beragama di Indonesia, serta merespon pendapat yang menyatakan bahwa kerukunan umat beragama merupakan hal yang penting dalam lingkup perguruan tinggi, sehingga untuk mewujudkan hal itu salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas pemahaman mahasiswa terhadap agama yang diyakininya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kerukunan umat beragama dari perspektif Alkitab dan bagaimana implementasi kerukunan umat beragama dari perspektif Alkitab bagi mahasiswa Kristen di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Asal-Usul Kejahatan dan Penderitaan Menurut Kitab Kejadian 3:1-24 dan Usaha Manusia Melawan Dosa Adon, Mathias
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 2 (2022): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i2.98

Abstract

The story of the fall of man is told dramatically in Genesis 3: 1-24. This story illustrates how humans abuse their freedom as rational beings who are called to love God and others. Human disloyalty to this calling causes humans to be expelled from Eden. The fall into sin not only makes humans lose guarantees and protection but also brings suffering. In this situation, Satan uses the state of sin to tempt people to do evil. Therefore, this research aims to find the origins of evil and human efforts to get out of the shackles of sin. Because the fall of humans into sin is caused by humans listening more to the tempter (satan) than God. This study uses the method of literature study. This research finds that God is not the cause of human suffering but rather the human rejection of God's love. So, to obtain happiness, humans must get out of the shackles of sin by using free will to fight the temptations of the evil one. Kisah kejatuhan manusia dikisahkan secara dramatis dalam Kejadian 3: 1-24. Kisah ini melukiskan bagaimana manusia menyalahgunakan kebebasannya sebagai makhluk yang berakal budi yang dipanggil untuk mencintai Allah dan sesama. Ketidaksetiaan manusia terhadap panggilan ini membuat manusia diusir dari Eden. Kejatuhan dalam dosa tidak hanya membuat manusia kehilangan jaminan dan perlindungan tetapi juga mendatangkan penderitaan. Dalam situasi ini, setan menggunakan keadaan dosa untuk menggoda manusia untuk melakukan kejahatan. Karena itu, penelitian ini bertujuan menemukan asal-usul kejahatan dan upaya manusia untuk keluar dari belenggu dosa. Sebab kejatuhan manusia dalam dosa disebabkan karena manusia lebih mendengarkan si penggoda (setan) dari pada Allah. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa Allah bukanlah penyebab penderitaan manusia melainkan penolakan manusia terhadap kasih Allah. Maka, untuk memperoleh kebahagiaan, manusia harus keluar dari belenggu dosa dengan menggunakan kehendak bebas untuk melawan godaan si jahat.
Pelaksanaan Katekisasi Sidi Masa Pandemi Covid-19 di Jemaat GKE Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kristin, Windi; Merilyn; Rahmelia, Silvia
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 2 (2022): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v2i2.104

Abstract

Catechism is a church formation to educate youth consider maturity in faith. Catechization is usually goes for a long period, however, due to Covid-19 pandemic, catechization’s timing become uncertainty and tends to be shorter. This is also happened at GKE Tangkiling as Evangelical Church in Kalimantan. Due to pandemic, implementation of the catechism for youth was carried out within two months. Through this research, the writer describes the catechization activities, catechization material which is packaged in a more concise manner and the way the teacher delivers its material in limited time. This research uses a qualitative approach with a descriptive method. From the results, it was found that catechism activities were carried out 6-8 times in November to December 2020 with one meeting in one week. Meanwhile, in the second week of December, catechism activities were held four times. Duration of catechism activity was approximately two hours. The material that presented to youth participants was very limited by summarizing the catechism guidelines by GKE. The catechism teacher selects and packs material that is considered very close and relevant to the lives of youth participants, such as good courtship, utilizing one's talents and potential and material about church life. The teacher also chooses sharing method according to the agreement of the catechism participants so that the available time can be used as effectively as possible. Katekisasi merupakan bentuk pembinaan gereja yang bertujuan mendidik remaja kepada kedewasaan iman. Katekisasi biasanya dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama, namun demikian karena pandemi Covid-19 waktu pelaksanaan katekisasi menjadi tidak menentu dan cenderung lebih pendek. Hal ini juga terjadi di GKE Tangkiling, karena pandemi maka pelaksanaan katekisasi sidi dilaksanakan dalam kurun waktu dua bulan. Melalui penelitian ini, penulis mendeskripsikan kegiatan katekisasi, materi katekisasi yang dikemas secara lebih ringkas dan cara pengajar menyampaikan materi katekisasi di tengah keterbatasan waktu di GKE Tangkiling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kegiatan katekisasi dilaksanakan 6-8 kali pertemuan pada bulan November s.d Desember Tahun 2020 dengan mekanisme satu kali pertemuan dalam satu minggu. Sedangkan pada minggu kedua pada Bulan Desember, kegiatan katekisasi dilaksanakan empat kali pertemuan. Durasi kegiatan katekisasi dilaksanakan kurang lebih dua jam. Materi yang disampaikan kepada peserta sangat terbatas dengan merangkum dari pedoman katekisasi GKE. Pengajar katekisasi memilih dan mengemas materi yang dianggap sangat dekat dan relevan dengan kehidupan remaja selaku peserta katekisasi sidi seperti, hubungan pacaran yang baik, memanfaatkan talenta dan potensi diri dan materi tentang kehidupan bergereja. Pengajar katekisasi memilih metode sharing sebagaimana kesepakatan peserta katekisasi sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan seefektif mungkin. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keterbatasan waktu dalam pelaksanaan kegiatan katekisasi sidi sehingga berdampak kurang maksimalnya materi disampaikan kepada peserta katekisasi.

Page 11 of 18 | Total Record : 176