cover
Contact Name
Vivi Ariyanti
Contact Email
viviariyanti@uinsaizu.ac.id
Phone
+6285727422004
Journal Mail Official
yinyang@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak
ISSN : 19072791     EISSN : 25485385     DOI : https://doi.org/10.24090/yinyang
Core Subject : Religion, Social,
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak is published by Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Islamic State University (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. This journal is published twice a year every June and December. We accept articles with the theme of education and gender, religion and gender, Islam and feminism, domestic violence and children, and children rights
Articles 289 Documents
MENINJAU KONTRIBUSI WANITA DALAM RAIHAN PENGHARGAAN NOBEL Fajar Hardoyono; Kikin Windhani
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.173 KB)

Abstract

Abstrak: Para wanita dikenal dengan urusan domestik seperti melahirkan, merawat anak-anak dan keluarga, dan menyediakan layanan seksual pada pasangannya. Namun, peran luar biasa dan kontribusi perempuan telah terekam oleh sejarah. Namun mayoritas penerima anugerah Nobel adalah laki-laki, perempuan luar biasa telah dianugerahi Nobel. Empat puluh tujuh dari 862 perempuan di berikan pemenang Hadiah Nobel atas kontribusi yang banyak terhadap manusia dan kemanusiaan dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, sastra dan perdamaian. Meskipun kontribusi dalam kompetisi pemenang Nobel itu hanya 5%, itu menunjukkan bahwa peran dan kontribusi perempuan tidak hanya dalam urusan dalam rumah tangga, tetapi juga potensi pengembangan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, dan sastra. Prestasi pendidikan yang lebih tinggi adalah aktor utama bagi perempuan untuk meningkatkan peran dan kontribusi mereka kepada dunia. Abstract: The women are famous with the domestic affairs such as giving birth, taking care children and family, and to provide sexual services to couples. However, extra ordinary role and contribution of women has been recorder by the history. The Nobel laureates recipients, however the majority of them were men, the extra ordinary women has been awarded the Nobel laureates. Forty seven of 862 women were awarded Nobel laureates due to due to more contribution to the human and humanity in physics, chemistry, medicine, literature and peace. Although the contribution in the Nobel laureate’s competition was only 5%, it shows that the role and contribution of women is not only in domestic affair, but also is potential for development of economy, culture, science and technology, politics, and literature. The higher education achievement is the main actor for women to increase their role and contribution to the world. Kata Kunci: Perempuan, Peran, Kontribusi, dan Peraih Nobel.
GENDER DAN TRADISI TRANSMISI HADIS (MENELUSURI PERIWAYAT PEREMPUAN DALAM SAHIH AL-BUKHARI) Farah Nuril Izza
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.982 KB)

Abstract

Abstrak: Dalam sejarah transmisi hadis, para periwayat hadis cenderung didominasi oleh periwayat laki-laki. Sekalipun ada beberapa periwayat perempuan, tetapi jumlah tersebut tidak signifikan jika dibanding dengan jumlah periwayat laki-laki. Apakah perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan (terpercaya) untuk melakukan transmisi hadis, ataukah ada hubungan antara perempuan dengan kriteria keadilan dan kedhabitan periwayat? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh artikel ini. Melalui penelusuran terhadap para periwayat hadis perempuan yang ada dalam Kitab Sahih al-Bukhari -sebuah kitab hadis yang memiliki kedudukan tertinggi dibanding kitab-kitab hadis lainnya- ditemukan jawaban bahwa periwayat perempuan memiliki kemampuan dan kedudukan yang sama dengan periwayat laki-laki. Dalam Sahih al-Bukhari, tidak ada kriteria kelelakian (z|uku>rah) untuk menentukan sahih/tidaknya seseorang melakukan transmisi hadis. Kriteria yang dirumuskan adalah liqa>’ (pertemuan antara periwayat dengan yang diriwayati) dan mu’a>s}a>rah (sezaman antara periwayat dengan yang diriwayati). Dengan demikian, sedikitnya jumlah perempuan sebagai periwayat hadis, bukan karena jenis kelaminnya, tetapi karena setting sosial budaya saat itu yang menyebabkan keterbatasan mereka untuk berkiprah secara massif dalam aktivitas transmisi hadis. Abstract: In the history of the transmission of hadits, the narrators of hadits tend to be dominated by men. Although there are several womennarrators, but the number was not significant when compared with the number of male narrators. Whether women are considered not to have the ability (reliable) for the transmission of hadits, or is there a relationship between women with criteria of justice and the weak narrators? These are the questions that will be answered by this article. Through the search for the woman haditsnarratorsin the Book of Sahih al-Bukhari, a book that has top notch compared to the other hadits Books narrators, it is found answers that women have the equal ability and level with the male narrators. In Sahih al-Bukhari, no criteria for maleness (z|uku>rah) to determine the valid/absence of a person to transmit hadits. The criteria are formulated as Liqa>' (a meeting between the narrator/transmitters with the listener) and mu'a>s}a>rah (contemporaries between the transmitters with the listener). Thus, the small number of women as narrators/transmitters of hadits isnot because of the gender, but because of the socio-cultural setting that causes their limitations to take part massively in the hadits transmission activity. Kata Kunci: Gender, Periwayat Perempuan, dan Transmisi Hadis.
GENDER DAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA Maria Ulpa
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.454 KB)

Abstract

Abstrak: Selain faktor fisiologis, faktor gender yang dikonstruk dari situasi social dan budaya adalah penyebab adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam prestasi akademik matematika. Faktor-faktor tersebut meliputi antara lain familiaritas dan persepsi terhadap pelajaran matematika, serta perlakuan guru. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika, gender merupakan faktor yang berpengaruh dalam proses konseptualisasi ilmu pengetahuan dan berpengaruh pada penggunaan intuisi dalam memahami konsep-konsep matematika. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran matematika seorang pendidik harus memperhatikan fungsi dan kerja otak antara laki-laki dan perempuan termasuk perbedaan-perbedaan di dalamnya sehingga pencapaian tujuan pembelajaran bisa lebih maksimal. Faktor sosial, budaya, psikologis dan lingkungan juga perlu diperhatikan agar dapat memaksimalkan perkembangan kemampuan matematis serta mencari bentuk pembelajaran matematika yang lebih baik. Abstract: In addition to physiological factors, gender which constructed from social and cultural situation is another factors that causes of the differences in men and women in the academic achievement of mathematics. These factors include, among others, familiarity and perceptions of math, as well as the treatment of teachers. Some research indicates that gender factors influence the way to gain knowledge of mathematics, gender is an influential factor in the process of conceptualization of science and the effect on the use of intuition in understanding mathematical concepts. Therefore, in the process of learning mathematics, educators should pay attention to the functions and workings of the brain between men and women, including differences in them so that the achievement of learning objectives can be maximized. Social, cultural, psychological and environment factors are also needed to be considered in order to maximize the development of mathematical abilities and to find forms of learning mathematics better. Kata Kunci: Gender, Pembelajaran, dan Matematika.
HOMOSEKSUAL DALAM TINJAUAN SOSIAL KEAGAMAAN Ida Novianti
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.598 KB)

Abstract

Abstrak: Artikel ini menguraikan tentang fenomena perilaku homoseksual yang saat ini semakin marak dalam masyarakat. Untuk memahami homoseksual maka dipaparkan pengertian tentang homoseksual, teori-teori dari para ahli dan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya homoseksual. Secara garis besar terdapat dua teori yaitu homoseksual diturunkan secara genetika dan teori bahwa homoseksual terbentuk melalui lingkungan. Ajaran agama manapun melarang perilaku homoseksual, dan menempatkan pelaku-pelakunya sebagai orang-orang pendosa. Dalam kehidupan sosial masyarakat mereka disisihkan dan dikucilkan. Akibatnya mereka membentuk komunitas sendiri dan tidak membaur dalam masyarakat. Islam tidak melarang seksualitas, bahkan menempatkan seksualitas sebagai sesuatu yang sakral dan terhormat. Oleh karena itu Islam mengatur seksualitas secara detail, karena seksualitas merupakan gerbang kesinambungan generasi manusia. Seksualitas yang sah yaitu yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan di dalam perkawinan. Islam melarang praktek homoseksual.yang melakukan hubungan seksual sejenis. Dalam konsep Islam, keadaan setiap manusia merupakan ujian dan cobaan, termasuk kondisi seorang homoseks. Dalam keadaan terkena cobaan maka seharusnya orang-orang di sekitarnya membantu untuk bisa keluar dari persoalan yang menimpanya. Untuk itu peran seorang ulama/agamawan diperlukan untuk mendampingi seorang pelaku homoseks, sehingga mereka tidak semakin jauh melakukan perbuatannya. Abstract: This article describes the phenomenon of homosexual behavior that is now increasing in the community. To understand the homosexual,it will be presented the notion of homosexuality, the theories of experts and the factors that led to the emergence of homosexuals. Broadly speaking there are two theories that homosexual genetically inherited and the theory that homosexuals is formed through the environment. All religious teachings forbid homosexual behavior, and put the perpetrators as those sinners. In the communitysocial life, they are ostracized aside. As a result, they form their own community and separate from society. Islam does not prohibit sexuality, even places sexuality as sacred and honorable thing. Therefore, Islam set sexuality in detail, because sexuality is a sustainability gateway of human generations. Legal sexuality is one that performed by men and women in marriage. Islam forbids homosexual practices that do sexual intercourse with the same sex. In the Islamic concept, the state of each human being is a test and trials, including a homosexual condition. In these circumstances, the people around him/hershould help to get out of the problems that happen to such people. Therefore, the role of a scholar / religionist is required to accompany a homosexual offenders, so that they are not getting much do actions. Kata Kunci: Seksualitas, Homoseksual, dan Islam.
KONSEP IDDAH DAN IHDAD BAGI WANITA KARIER YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA (TINJAUAN MA’ANIL HADIS) Waliko Waliko
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.267 KB)

Abstract

Abstrak: Diskursus perempuan dikaitkan dengan wacana keagamaan menarik untuk dikaji mengingat adanya asumsi bahwa pemahaman agama -dalam hal ini teks-teks hadis- dianggap telah menjadi pemicu berbagai ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karenanya mengkaji bagaimana Nabi memosisikan perempuan dalam hadis-hadis adalah sangat penting, mengingat hadis sebagai sumber rujukan kedua dalam memahami ajaran Islam. Di antara tuntunan Nabi yang membutuhkan keseriusan guna menemukan esensi pemaknaannya adalah hadis tentang berkabungnya isteri yang ditinggal mati oleh suaminya. Dengan pendekatan historis, sosiologis, dan psikologis, artikel ini menyajikan bahasan tentang cara Nabi memosisikan perempuan lewat rekaman hadis tentang berkabungnya seorang isteri. Dalam hal ini, ada dua hal yang harus dijalankan seorang muslimah ketika ditinggal mati suaminya yaitu ber-iddah dan ber-ihdad yang batasannya adalah empat bulan sepuluh hari bagi yang tidak hamil dan setelah melahirkan bagi yang mengandung. Ada kebebasan menjalankan aktivitas bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya meskipun mendapatkan wasiat dari suami untuk menjalankan masa iddah di rumah suami dengan selalu mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut masyarakat dimana ia berada. Abstract: It is always interesting to discuss about the discourse of women if it is associated with religious discourse considering that the understanding of religion -in this case the texts of hadist- is considered to have triggered the injustices against women. Therefore examining how the Prophet places women in the traditions is very important, considering the tradition as a source of reference both in understanding the teachings of Islam. Among the Prophet’s guidance of which required serious thought in order to find the essence of the meaning is the hadits about of the mourning wives after her husband died. With the historical, sociological, and psychological approach, this article presents a discussion on how Prophet places women through hadith about a mourning wife. In this case, there are two things that must be executed when a Muslim woman left by her dead husband, those are iddah and ihdad that the limit is four months and ten days for those who are not pregnant and after giving birth for the pregnant. There is freedom to perform activities for women who is left by her dead husband despite getting a will of her husband to live at husband’s home and always consider the values ​​adopted by the community in which she lives. Kata Kunci: Hadis, Kritik Hadis, ‘Iddah, dan Ihdad.
ETOS KERJA ISLAMI KAUM IBU SEBAGAI PENDIDIK KELOMPOK BERMAIN (KB) Novan Ardy Wiyani
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.112 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini ditujukan untuk mengkaji etos kerja Islami kaum ibu sebagai pendidik KB. Sebagian besar pendidik KB yang didirikan oleh organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan berasal dari kaum ibu. Etos kerja yang ditampilkan oleh kaum ibu sebagai pendidik KB sangat sesuai dengan ajaran Islam. Setidaknya ada enam perilaku sebagai wujud dari aktualisasi etos kerja Islami pendidik KB. Pertama, rela berkorban dalam bekerja. Kedua, suka bekerjasama dalam bekerja. Ketiga, ceria dalam bekerja. Keempat, ulet dan sabar dalam bekerja. Kelima,optimis dalam bekerja. Keenam, tawakkal dalam bekerja. This paper seeks to examine the Islamic work ethic of mothers as educators KB. Most of the population KB founded by community organizations and religious organizations comes from the mother.Work ethic displayed by the mother as educator KB is in accordance with the teachings of Islam. At least six of behavior as a form of actualization of Islamic work ethic educators KB. First, self-sacrificing work. Secondly, like making cooperating working. Third, cheerful in working. Fourth, tenacious and patient in working. Fifth, optimistic in working. Sixth, trust in the work. Kata Kunci: Etos Kerja, Islam, dan Pendidik KB.
PEREMPUAN DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM Siti Muna Hayati
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.003 KB)

Abstract

Abstrak. Tulisan ini akan menjawab pertanyaan: Apakah perempuan adalah kelompok kelas kedua dalam Islam? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa dalam kenyataannya Islam pada awal kemunculannya telah mengangkat status perempuan dengan melarang pembunuhan bayi perempuan, menghapus status perempuan sebagai harta benda, menetapkan kecakapan hukumnya, memberikan hak untuk menerima mahar, merubah perkawinan dari hubungan hak milik menjadi sebuah hubungan perjanjian, dan membolehkan perempuan menguasai harta benda miliknya serta menggunakan nama gadisnya setelah menikah. Al-Quran juga memberikan hak kepada perempuan untuk mengelola kekayaannya sendiri serta mengatur kebebasan hak suami dalam menceraikan isterinya. Abstract: This paper answers the question: Are women second-class citizens in Islam? The answer for the question is that the revelation of Islam raised the status of women by prohibiting female infanticide, abolishing women’s status as property, establishing women’s legal capacity, granting women the right to receive their own dowry, changing marriage from a proprietary to a contractual relationship, and allowing women to retain control over their property and to use their maiden name after marriage. Al Quran also grants women financial maintenance from their husbands and controlled the husband’s free ability to divorce her wife. Kata Kunci: Isu-isu Perempuan, Gender, Kesetaraan, dan Ajaran Islam.
GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PEREMPUAN DI SEKOLAH DASAR Johar Alimuddin
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini membahas tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah perempuan di Sekolah Dasar. Jumlah guru Sekolah Dasar perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah guru laki-laki, berakibat jabatan kepala Sekolah Dasar banyak dijabat oleh perempuan. Kepemimpinan perempuan dan laki-laki secara umum tidak berbeda, namun ada gaya kepemimpinan yang khas dimiliki oleh pemimpin perempuan. Gaya kepemimpinan kepala Sekolah Dasar perempuan yaitu bersifat kepengasuhan/keibuan, demokratis, dan berorientasi pada hubungan. Gaya tersebut tidak berpengaruh secara signifkan terhadap hasil atau kinerja kepemimpinan sebab hasil atau keinerja kepemimpinan lebih ditentukan oleh kepribadian pemimpin tersebut. Abstract: This paper discusses the principal leadership style of women in primary school. The number of female elementary school teachers is higher than the number of male teachers, resulting in many primary schools the principal are held by women.In general, theres is no different about the leadership of women and men, but there is a distinctive leadership style possessed by women leaders. The women primary school principal leadership style are caring / mothering, democratic, and relationship-oriented .The style does not influence significantly to the results or performance of the leadership because the results or performance is determined more by the personality of the leader . Keywords : Leadership Style , Principal , Women Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Kepala Sekolah, Perempuan
EKSISTENSI WANITA JAWA DALAM PERGULATAN GENDER DAN BUDAYA Faiz Adittian
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Wanita dalam bahasa Jawa ‘wanito’ adalah sebuah kata yang berarti ‘wani ditoto’. Arti semacam ini mencerminkan bahwa seorang wanita adalah sosok yang mau diatur dan mau dipimpin oleh laki-laki. Di samping itu, ada istilah lain yang juga menggambarkan peran seorang wanita dalam masyarakat Jawa, yaitu ‘konco wingking’. Istilah ini lagi-lagi mencerminkan peran seorang perempuan adalah sebagai pihak nomer dua setelah laki-laki. Lalu bagaimankah pergulatan wanita Jawa dalam memperjuangkan kesetaraannya dengan laki-laki? Inilah yang menjadi objek bahasan artikel ini. Melalui kajian terhadap filosofi di balik symbol-simbol budaya Jawa, ditemukan bahwa justru wanita Jawa adalah sosok yang mengatur atau memimpin laki-laki. Misalnya, ‘konco wingking’ adalah wanita berperan sebagai pihak yang mamangku laki-laki, sebagaimana dalam aksara Jawa sebuah aksara akan mati kalau dipangku, dengan demikian laki-laki memang seakan berposisi sebagai pihak yang di depan, tetapi hakikatnya ia adalah orang yang atur/dimanag oleh pihak yang berada di belakangnya, yaitu wanita. Abstract: The word women in the Java language is 'Wanito' that means 'wani ditoto' (dare to be arranged / ordered). The meaning reflects that a woman is a figure that would be regulated and willing to be led by man. In addition, there are other terms that also describe the role of a woman in the Java community, namely 'konco wingking' (mate in the back). This term, again reflecting the role of a woman is as the number two after men. Then how Javanese women struggle in the fight for equality with men? This is the object of discussion of this article. Through the study of the philosophy behind the symbols of Javanese culture, it was found that it is a Javanese woman figure who set or lead the male. For example, 'konco wingking' is the female role to hold men, as in Javanese letters, a character will die if it is hold, thus the man is in front position, but the fact he is the one who is set / managed by woman. Kata Kunci: Wanita Jawa, Gender, dan Budaya
PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DAN DAMPAKNYA BAGI PELAKU (STUDI KASUS DI DESA BANJARSARI KECAMATAN BANTARKAWUNG KABUPATEN BREBES) Eka Mardianingsih
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 10 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Perkawinan dini atau di bawah umur ternyata masih marak terjadi dalam masyarakat, salah satunya di Desa Banjarsari Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perkawinan di wilayah tersebut yakni faktor pola kekeluargaan yang cenderung menjodohkan anaknya, faktor untuk menghindari fitnah bagi pasangan yang berpacaran. Kebanyakan dari mereka menikah karena faktor dijodohkan kedua orang tuanya dan karena pacaran yang sudah lama yang dari mulai SD atau SMP dan sering bareng sehingga pihak orang tua harus lebih memperhatikan pergaulan anaknya sejak masuk sekolah dasar. Perkawinan dibawah umur di Desa Banjarsari Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes menimbulkan dampak negatif dan positif diantaranya adanya dampak negatif yaitu: Kurangnya pemenuhan kebutuhan tanggung jawab peran suami istri, Istri takut kepada suami jika tidak menjalankan kewajibannya, Kesehatan ibu dan anak, Kurangnya kesiapan menjadi ibu, Istri melayani hubungan seksual karena terpaksa menikah, Istri tertekan dengan sikap suami yang keras selalu mengatur dan sering memukul, sehingga perkawinannya berakhir dengan perceraian, menyesal putus sekolah. Sedangkan dampak positifnya bagi pelaku yang menikah di bawah umur yaitu meringankan beban ekonomi orang tua, menghindari perbuatan zina. Abstract: Early marriages are still rife in the community, for example, it happened in The Village of Banjarsari, The District of Bantarkawung, Brebes Regency. There are several factors that led to the kind of marriage in that region such as familial pattern that tend to match their children and factor to avoid trial for the couple who are dating. Most of them are married because of the arranged marriage of his parents and because of the long courtship that start from primary or junior high school and they often be together so that the parents should pay more attention to child’s association since entering elementary school. Marriage of minors in the village of Banjarsari, District of Bantarkawung, Brebes Regency generate negative and positive impacts. The negative impacts are: Husband and wife give less fulfillment of responsibility of their role, the wife fear her husband if she does not perform her obligations, maternal and child health, the lack of readiness being a mother, wife serves intercourse as forced marriage, wife is depressed by the husband harsh attitude who always set and often beat, so the marriage ended in divorce, regret dropping out of school. While its positive impact on offenders who married underage namely lighten the economic burden of the elderly, to avoid fornication. Kata Kunci: Pernikahan, Bawah Umur, dan Desa Banjarsari