cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 185 Documents
Iqra' as Knowledge Paradigm: Islamic Epistemology Reconstruction from QS Al-Alaq 1-5 Hartono, Hartono; Ismail
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v11i1.16050

Abstract

This study reconstructs Islamic epistemology by positioning the Qur'anic command "Iqra'" (recite/read) in QS Al-Alaq 1-5 as a central paradigm of knowledge. Employing hermeneutic analysis integrated with philosophical inquiry, this research demonstrates that "Iqra'" extends beyond textual literacy to encompass recognition of divine signs through revelation, intellect, and empirical experience. Three dimensions emerge: (1) revelation (naql) as the primary epistemological source; (2) an integrative knowledge process synthesizing revelation, reason, and observation of natural phenomena (ayat kauniyyah); and (3) transcendental knowledge aims directed toward ma'rifah—intimate recognition of the Divine—and alignment with Islamic ethical values. This holistic epistemology offers a robust alternative to Western reductionist paradigms by integrating material, intellectual, and spiritual dimensions of knowledge production. The paradigm demonstrates particular relevance for contemporary Islamic education reform, ethical frameworks in science and technology, and substantive intercultural dialogue on epistemological foundations. The study contributes an original framework through systematic integration of classical tafsir scholarship with contemporary epistemological analysis, positioning "Iqra'" not merely as a historical narrative but as a foundational epistemic principle for twenty-first-century knowledge systems. The implications extend across educational policy, scientific ethics, and global intellectual exchange.
Implementasi Konsep Nāsikh Mansukh dalam Peradilan Pelaku Zina di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam muhhamad zainal abidin; Shonifah Al-Atqiya', Vina; Nursanggita, Mega; Thohir, Muhammad; Muwaffiqillah, Moch.
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nāsikh dan Mansukh  merupakan salah satu konsep dalam studi Al-Qur’an yang memiliki peranan penting dalam perubahan hukum dari masa ke masa. Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam konteks negara Indonesia adalah usaha penerapan  hukuman rajam bagi pelaku zina di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah provinsi yang menerapkan hukuman pidana Islam di Indonesia. Salah satu hukum yang dijalankan adalah peradilan bagi pelaku zina dengan cara dicambuk. Dikursus mengenai kemungkinan penerapan hukuman rajam di Aceh atau peradilan bagi pelaku zina yang telah dijalankan di Aceh menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi. Artikel ini bertujuan untuk menelaah konsep Nāsikh dan Mansukh dalam sistem peradilan bagi pelaku zina serta mengevaluasi legitimasi hukuman tersebut dalam kerangka hukum Islam di Aceh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tematik (maudu’i), yang melibatkan penelusuran terhadap sumber-sumber hukum Islam seperti Al-Qur’an, hadis, jurnal-jurnal Ilmiyah serta pandangan ulama klasik dan kontemporer. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa konsep Nāsikh dan Mansukh memainkan peran penting dalam memahami dinamika perubahan hukum dalam Islam, termasuk dalam perdebatan mengenai keabsahan dan kemungkinan penerapan hukum rajam di Aceh. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai posisi hukum rajam dalam hukum Islam serta relevansinya dengan sistem hukum yang berlaku di Indonesia.
AL-DAKHIL FI AL-TAFSIR (Kajian Kritik atas Penafsiran Ustadz Syaiful Karim terhadap QS. Al-Qori’ah) Early Ferlyta Dian Anggraini; Auliya Hijriyati
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v11i1.14265

Abstract

Penafsiran Al-Qur’an di era kontemporer kerap diwarnai oleh berbagai pendekatan, termasuk penggunaan unsur-unsur asing (al-dakhil) yang dapat memengaruhi keotentikan tafsir. Penelitian ini mengkaji secara kritis penafsiran Ustadz Syaiful Karim terhadap Surah Al-Qari’ah, dengan fokus pada identifikasi potensi al-dakhil dalam penafsirannya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis konten terhadap ceramah Ustadz Syaiful Karim di platform YouTube, serta pembandingan dengan kitab-kitab tafsir klasik seperti Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Qur'an karya Imam al-Thabari, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim karya Ibnu Katsir, hingga Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ustadz Syaiful Karim terhadap Surah Al-Qari’ah didominasi oleh tafsir bi al-ra’yi (tafsir berdasarkan nalar). Beberapa indikasi al-dakhil yang teridentifikasi meliputi: Penggunaan riwayat lemah, Penafsiran isyari (simbolik) berlebihan tanpa dasar yang kuat serta Subjektivitas dalam analogi yang cenderung retoris dan emosional. Penelitian ini merekomendasikan agar penafsiran Al-Qur’an tetap berpegang pada kaidah tafsir yang mu’tabar serta lebih memperhatikan keseimbangan antara kontekstualisasi dan otentisitas.  
Motif Sosio-Politik Az-Zamakhsyari Pada Penafsiran Al-Kasyaf:: Kritik atas Tafsir Sektarian Mohammad Maulana Khoirur Rifki
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v11i1.14815

Abstract

Pelabelan al-Kashshaf karya al-Zamakhsyari sebagai tafsir sektarian (Mu‘tazilah) selama ini didominasi oleh klasifikasi teologis-dogmatis Ignaz Goldziher yang cenderung mengabaikan konteks sosial-politik di mana karya tersebut diproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap motif sosial-politik di balik penafsiran al-Zamakhsyari serta meninjau ulang validitas label sektarian tersebut. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menggunakan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) dari Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi: analisis teks (fitur linguistik, pilihan kata, dan struktur argumentasi), praktik diskursif (produksi, distribusi, dan konsumsi teks), serta praktik sosial (hegemoni, relasi kuasa, dan ideologi di Khwarezm abad ke-12). Hasil analisis menunjukkan bahwa penafsiran al-Zamakhsyari bukan sekadar artikulasi dogmatis teologi Mu‘tazilah, melainkan respons strategis terhadap kondisi sosial-politik yang fluktuatif di bawah Dinasti Seljuk dan Khwarazmshah. Melalui pilihan leksikal yang cermat (misalnya tab‘īḍ, umarā’ al-jawr), format tanya-jawab, serta kutipan intertekstual dari otoritas salaf, al-Zamakhsyari membangun wacana yang mengkritik penguasa zalim, mempersyaratkan ketaatan kepada kepemimpinan yang sah, serta mendorong meritokrasi berbasis ilmu dan keadilan. Dengan demikian, label sektarian terbukti reduksionis karena al-Kashshaf berfungsi sebagai bentuk perlawanan intelektual dan kritik sosial-politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengakuan terhadap motif sosial-politik di balik tafsir klasik sangat penting untuk melampaui kategorisasi sektarian yang simplistis.
Tafsir Tematik Al-Qur'an tentang Pelestarian Warisan Intelektual Islam melalui Digitalisasi Teks Keagamaan Muhammad Farrel Azka Suwito; Ida Novianti; Rismaya Ainul Masthuro; Robiah Sumayya; Muhammad Ali Mustofa Kamal
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v11i1.14830

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi besar dalam pelestarian dan transmisi warisan intelektual Islam. Namun, kajian tentang digitalisasi teks keagamaan masih jarang dikaitkan dengan konsep jihad dalam perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan menganalisis digitalisasi teks keagamaan Islam sebagai bentuk kontemporer jihad al-‘ilm (jihad intelektual) berdasarkan pendekatan tafsir tematik Al-Qur’an. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan tafsīr maudhū‘ī serta teori transformasi digital keilmuan Islam untuk membaca relasi antara wahyu, transmisi ilmu, dan teknologi digital. Data diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an, kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur mengenai digitalisasi manuskrip Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep jihad dalam Al-Qur’an tidak terbatas pada makna militeristik, tetapi juga mencakup perjuangan intelektual, dakwah, dan pelestarian ilmu. Ayat-ayat seperti QS Al-Furqan [25]:52, QS Al-‘Ankabut [29]:69, dan QS At-Taubah [9]:122 memberikan legitimasi teologis terhadap jihad berbasis pengetahuan. Penelitian ini menemukan bahwa digitalisasi manuskrip dan teks keagamaan Islam merupakan bentuk baru jihad non-militer yang berfungsi menjaga keberlanjutan transmisi ilmu, memperluas akses pengetahuan Islam, dan membangun ekosistem dakwah digital yang partisipatif. Kebaruan penelitian ini terletak pada formulasi konsep “jihad digital berbasis Qur’ani” sebagai paradigma etis dalam pelestarian warisan intelektual Islam di era transformasi digital. Dari hal tersebut, digitalisasi teks keagamaan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas teknis, tetapi juga sebagai tanggung jawab epistemologis dan spiritual umat Islam.