cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 171 Documents
Pengalaman Keagamaan Santri Dalam Pembacaan Al-Ma’tsurat Di Pondok Pesantren Al-Kamal Kuwarasan Kebumen (Analisis Teori William James) Taufiq Hidayat, Aditya; Munawir
MAGHZA Vol 9 No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i1.10744

Abstract

This research aims to reveal the religious experiences of students through the Al-Ma'tsurat dhikr activity which is read regularly every day after the morning prayer and before sunset. Classified as field research using a structural phenomenology approach and then observing, interviewing and documenting as a data collection method. The subjects of this research were 6 male students in grades 5 and 6 of ulya at the Al-Kamal Islamic Boarding School. The theory used in this research is William James's theory of religious experience which includes the characteristics of ineffability, transience, noetic quality, passivity as well as emotional expressions in the categories of religious fear, religious joy and religious awe. The results obtained in this research were that after approximately 3 years of regularly reading Al-Ma'tsurat, participants experienced a feeling of being close to God, their parents' sustenance was made easier, they easily understood lessons and achieved what they dreamed of, and they felt protected and kept away from violating acts.
Keistimewaan Rasm al-Mus{h{af (Rasm ‘Uthma>ni>) sebagai Bentuk Penulisan al Qur’an Muzammil, Iffah; al-Hamidy , Abu Dzarrin
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.10859

Abstract

Mushaf ‘Uthma>ni> mendapat perhatian yang sangat luar biasa dari berbagai kalangan, salah satu di antaranya karena ia memiliki pola penulisan yang berbeda dengan model penulisan Arab konvensional. Sacara umum, dalam model penulisan Arab konvensional berlaku kaidah bahwa apa yang tertulis harus menggambarkan secara persis apa yang diucapkan. Jika pengucapannya panjang, maka tertulis panjang, begitu juga sebaliknya. Kaidah ini tidak berlaku dalam rasam ‘uthma>ni> karena dalam beberapa bentuk tulisan ‘uthma>ni> tidak secara persis menggambarkan yang terucap/terbaca sehingga dalam bentuk tertentu tulisannya pendek tapi bacaannya panjang. Pola penulisan al-Qur’an tersebut ditetapkan oleh ‘Uthma>n bersamaan dengan dibukukannya al-Qur’an pada masa pemerintahannya yang disebut sebagai rasm al-mushaf atau rasm ‘uthmany. Model penulisan yang khas itu melahirkan perdebatan panjang di kalangan ulama’, baik menyangkut statusnya, apakah ia tawqi>fi> atau ‘sekedar’ hasil ijtihad para sahabat pada masa itu, maupun menyangkut urgensi/keistimewaannya, dan lain-lain. Penelitian ini akan mengkaji tentang keistimewaan rasm al-mushaf tersebut dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dengan mengacu pada data-data kepustakaan. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa pola penulisan tersebut terkait dengan adanya ragam qira’at dalam al-Qur’an. Beberapa keistimewaan model penulisan ‘uthma>ni adalah, bahwa satu bentuk penulisan dapat menampung lebih dari satu ragam qira’at; dapat menyiratkan makna tertentu; menunjukkan makna yang berbeda; serta mendorong umat Islam untuk belajar kepada guru yang ahli.
Jilbab dan Cadar Perspektif Al-Quran: Studi Tafsir Maqashidi Q.S. Al-ahzab [33]: 59 dan Q.S. An-Nur [24]: 31 Fahri, Fahri Muhaimin Fabrori; Syadidatus Syarifah
MAGHZA Vol 9 No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i1.10929

Abstract

The meaning and practice of wearing the headscarf and veil is a separate problem in the social sphere due to the use of it that is not by the Shari'a and serves as justification for a group. Clothing that aims to protect women from distractions turns into something problematic for the wearer. From this phenomenon, this article aims to describe the essence of the hijab and veil mentioned in the Al-Quran and their restraints. The main argument that discusses the headscarf and veil is Q.S. Al-Ahab [33]: 59 and Q.S. An-Nur [24]: 31 whose mention is listed in these two verses. This study uses the library method, the data is processed using descriptive-analytic techniques to be explored and then refined. The theory used is the Maqasidi interpretation analysis theory initiated by Abdul Mustaqim. This theory reveals the message behind the meaning of the Koran, in this case, examines the maqasid of the verses on the veil and veil in the Indonesian context. The results of this study indicate that maqasid values emerge, namely, hifdz al-din which includes the practice and study of religious texts, hifdz an-nafs protecting oneself by covering the genitals and associating with hijabs, hifdz al-mal protecting the jewelry that used, hifdz an-nasl upholds the dignity of women by implementing Islamic values. Pemaknaan dan praktek dalam memakai jilbab dan cadar menjadi problem tersendiri dalam lingkup sosial akibat pemakaian yang tidak sesuai syariat dan menjadi justifikasi pada suatu kelompok. Pakaian yang bertujuan untuk menjaga perempuan supaya terhindar dari gangguan berubah menjadi suatu benda yang bermasalah bagi pemakainya. Dari fenomena tersebut artikel ini bertujuan untuk menguraikan esensi hijab dan cadar yang disebut dalam Al-Quran beserta penafsirannya. Dalil utama yang membahas tentang jilbab dan cadar adalah Q.S. Al-ahzab [33]: 59 dan Q.S. An-Nur [24]: 31 yang penyebutannya tercantum dalam dua ayat ini. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan, datanya diolah dengan menggunakan teknik deskriptif-analitik untuk dieksplorasi dan kemudian ditafsirkan. Adapun teori yang digunakan adalah teori analisis tafsir maqasidi yang dicetuskan Abdul Mustaqim. Teori ini mengungkapkan pesan di balik makna Al-Quran, dalam hal ini mengkaji maqasid dari ayat jilbab dan cadar dalam konteks Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai-nilai maqasid yang muncul yaitu hifdz al-din memuat adanya pengamalan dan pengkajian teks-teks agama, hifdz an-nafs penjagaan terhadap diri dengan menutup aurat dan bergaul dengan para hijabers, hifdz al-mal adanya penjagaan terhadap perhiasan yang dipakai, hifdz an-nasl menjunjung martabat wanita dengan mengerjakan nilai-nilai ajaran Islam.
Kritik Terjemah YouTubi Buya Syakur Yasin atas Terjemahan Al-Qur’an Kemenag RI menurut Hermeneutika Musrifah, Muhimmatus Sa'adah; Ah. Fawaid
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.11085

Abstract

Al-Qur’an dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Kemenag RI selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran untuk perbaikan terjemahan. Sebuah terjemahan tidak pernah mewakili Al-Qur’an, namun terjemahan dalam hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah masyarakat untuk mengetahui isi Al-Qur’an. Kritik terhadap terjemahan Al-Qur’an muncul dari berbagai pihak, termasuk Buya Syakur yang mengkritik Al-Qur’an dan Terjemahannya edisi 2019 dengan disiarkan melalui kanal YouTube. Ia sebagai pakar linguistik mengkritik terjemahan lafaz basmalah sebagai sampel atas kesalahan terjemahan yang diterbitkan Kemenag. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji konstruksi kritik Buya Syakur pada saat melontarkan kritik terhadap terjemahan Al-Qur’an Kemenag. Penelitian ini mengandalkan tiga video dari kanal YouTube, dengan masing-masing durasi sepanjang 1:36:25, 7:31, dan 5:03. Untuk memahami konstruksi kritik terjemah Buya Syakur, penulis akan menggunakan hermeneutika Schleiermacher sebagai pisau analisis. Dalam hermeneutika Schleiermacher, proses interpretasi dilakukan melalui dua tahap, yaitu interpretasi gramatika dan interpretasi psikologis. Kajian ini mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa Buya Syakur yang sederhana namun kritis tidak terlepas dari karakteristik pemikirannya yang analitis, kritis dan sistematis. Buya Syakur telah memberikan kontribusi terhadap kajian Al-Qur’an dan Terjemahannya edisi penyempurnaan 2019. Meskipun terdapat miskonsepsi antara kritik Buya Syakur dan penerjemahan Al-Qur’an Kemenag edisi 2019.
Dilemmatics of Contemporary Maudhu’i Commentaries in The Middle East Basri, Ahmad Faizal; Hermansah
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.11096

Abstract

Dilematika al-Tafsir al-Mawdu’i dari berbagai pendapat menyebabkan diskursus tersebut menjadi enggan untuk diterima atau sebaliknya. Tentu tidak terlepas dari subjektif masing-masing tokoh yang notabenenya kontemporer. Pada kesempatan ini, peneliti berupaya flashback terhadap pemahaman al-Tafsir al-Mawdu’i, agar jelas batasan-batasan istilah dan aplikasinya dari masing-masing tokoh. Jadi tidak menyisahkan masalah pada skop istilah umumnya. Pendekatan library research dengan analisis induktif-komparatif adalah metode yang dipakai oleh peneliti pada paper ini. Adapun hasil penelitian ini mengungkapkan, ada empat macam yang ditawarkan mereka, yaitu al-Mawdu’i fi al-Qur’an, al-Mawdu’i fi al-Surah al-Qur’aniyyah, al-Mustalah al-Qur’ani dan tatabu’ al-‘Alaqat. Adapun macam pertama para tokoh kontemporer saling bersepakat menerimanya, sedangkan yang kedua dan ketiga ditolak dan ditentang oleh ‘Abd al-Sattar dan al-Farmawi, kecuali Baqir al-Sadar memilih setuju asalkan dengan istilah al-Wahdah al-Mawdu’iyyah li al-Surah al-Qur’aniyyah. Adapun tokoh yang mendukung penuh terhadap kedua macam tersebut adalah Mustafa Muslim. Kemudian macam ketiga adalah al-Mustalah al-Qur’ani yang dipelopori oleh al-Khalidi dan keempat adalah tatabu’ al-‘Alaqat, atau disebut al-Munasabat yang dipelopori oleh Abd al-Hamid Ghanim. Kedua macam yang terakhir ini sangatlah tidak pas apabila disandingkan dengan al-Mawdu’i al-Qur’ani.  
Alquran ANALISIS TERHADAP KISAH SAPI BETINA DALAM SURAH AL-BAQARAH (Studi Tarti>b al-Nuzu>l Perspektif Al-Tafsi>r Al-Hadi>th Karya Izzah Darwazah): Biografi Izzah Darwazah, Seputar kitab al-tafsir al-hadith, karya-karya muhammad izzah darwazah, pandangan intelektual muslim tentang tartib al-nuzul, analisis penafsiran izzah darwazahtehadap surah albaqarah ayat 67-73 Anisa Dinda Soleha, Anisa Dinda Soleha; Ali Mahrus; Isyak
MAGHZA Vol 9 No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i1.11189

Abstract

Pemahaman terhadap Alquran tidaklah selalu urut dengan susunan ayatnya. Terkadang, terdapat beberapa ayat yang pemahamannya harus dimulai dengan ayat setelahnya serta terdapat dalam surah lain. Dalam kitab Al-Tafsi>r Al-Hadi>th karya Izzah Darwazah menyajikan penafsiran Alquran sesuai dengan tarti>b al-nuzu>l surah-surah dalam Alquran. fokus kajian dalam penelitian kali ini yakni analisis terhadap penafsiran ayat-ayat tentang sapi betina dan kisah bani Israil serta permasalahan yang ada di antara mereka yang tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 67-73 dalam kitab Al-Tafsi>r Al-Hadi>th karya Izzah Darwazah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni penelitian library research dan penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dari penelitian ini, di dapatkan hasi: bahwa dalam memahami kisah sapi betina dan bani Israil serta masalah yang terjadi di antara mereka tidak dimulai dengan memahami ayat 67 terlebih dahulu. Akan tetapi, di awali dengan pemahaman ayat ke 72, lalu 67-71, kemudian dilanjut dengan pemahaman ayat 73. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap penafsiran Alquran terutama penafsiran dengan tarti>b al-nuzu>l.
Analisis Habitus dan Kapital Khawārij Perspektif Pierre Bourdieu dalam Strategi Kekuasaan Riza, Riza Muhammad; Imronudin, Imronudin; Fatchiatuzzahro, Fatchiatuzzahro
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.11317

Abstract

Penelitian ini mengkaji subordinasi Khawārij dalam wacana sosial keagamaan menggunakan teori strukturasi Pierre Bourdieu, bahwa tindakan sosial terjadi karena adanya hubungan kompleks antara habitus, kapital, dan arena. Melalui perspektif habitus, kelompok Khawārij dianalisis sebagai hasil pergumulan sosial yang membentuk karakter kolektif mereka. Studi ini menegaskan pentingnya memandang keberadaan Khawārij bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai simbol keterbukaan dan keragaman dalam Islam. Tafsir mencerminkan strategi legitimasi ideologi, alat politik, dan upaya mempertahankan identitas sekte di tengah dinamika sosial-keagamaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-normatif dengan teori Pierre Bourdieu untuk memahami praktik sosial dan kekerasan simbolik dalam konteks subordinasi Khawārij. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa bagaimana tafsir berfungsi sebagai sumber daya (modal) untuk tarik-menarik wacana idelologis dengan kekuasaan politik dominan, sehingga muncul tafsir berperan sebagai strategi legitimasi ideologi, alat politik, dan mempertahankan identitas Khawārij. Mereka terus terpuruk karena antara habitus, kapital, dan arenanya tidak sebanding lurus dengan ideologi mereka.
Flexing Bersedekah di Media Sosial QS. Al-Baqarah: 271 (Prespektif Tafsir Al-Azhar) Ani Amalia; Mabrur, Sofwan
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.12125

Abstract

Kemunculan media sosial diikuti oleh berbagai tren baru di era milenial, salah satunya adalah flexing, yaitu konten yang menunjukkan kemewahan di berbagai platform media social. Fenomena flexing semakin marak seiring dengan bertambahnya jumlah crazy rich yang memamerkan barang 'mewah', bermerek terkenal, atau jarang dimiliki orang lain karena harganya sangat mahal. Saat ini, aktivitas flexing menjadi semakin beragam, mulai dari menampilkan kehidupan sehari-hari hingga kegiatan sosial, ibadah, dan sedekah yang dipamerkan di media sosial. Misalnya, sedekah yang sengaja dipamerkan untuk mendapatkan pujian dan keuntungan dari banyaknya penonton serta pengikut. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggali bagaimana pandangan Al-Qur’an, khusunya interpretasi QS. Al-Baqarah: 271 dengan pendekatan yang dikembangkan Buya Hamka. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana islam memandang praktik flexing dalam bersedekah di era digital ini. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai konten di platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok yang menampilkan flexing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan sedekah secara tertutup kepada orang-orang miskin, fakir, dan terlantar dianggap lebih baik (khair) daripada memberikannya secara terbuka, Dengan bersedekah secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, maka dapat menjaga kehormatan penerima sedekah. Selain itu, dengan bersedekah secara diam-diam, maka dapat terhindar dari sikap sombong atau riya dan terhindar dari timbulnya rasa dengki dari hati orang yang melihatnya. Sedekah untuk kepentingan umum seperti pembangunan institusi agama sebaiknya dilakukan secara terang-terangan, agar dapat menginspirasi dan menggerakan orang lain untuk turut berkontribusi dalam melakukan kebaikan.
Naskah Jalalain Museum Masjid Agung Demak dan Museum Masjid Agung Jawa Tengah: Analisis Komparatif Kodikologis Anasom; Fais, Nor Lutfi
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.12162

Abstract

Artikel ini mengkaji dua naskah tafsir Jalalain yang tersimpan di Museum Masjid Agung Jawa Tengah dan Museum Masjid Agung Demak. Temuan terhadap dua naskah ini diperoleh ketika dilakukan upaya digitalisasi terhadap seluruh naskah kuno koleksi dua museum tersebut. Kajian dalam artikel ini dimaksudkan untuk melakukan perbandingan terhadap aspek kodikologis naskah. Sebagaimana tujuan kajian yang hendak dicapai, kajian dilakukan dengan menggunakan analisis kodikologis yang menjadi bagian dari disiplin ilmu filologi. Di samping itu, kajian juga dilakukan dengan menggunakan analisis parateks yang menyasar pada seluruh aspek naskah termasuk informasi yang didapat dari luar fisik naskah. Tahapan kajian dimulai dari melakukan deskripsi terhadap naskah untuk kemudian melakukan analisis sesuai dengan piranti analisis yang ada. Hasil dari kajian mendapati bahwa dua naskah tersebut berasal tradisi yang hampir sama. Hal ini didapatkan dari karakteristik penggunaan naskah dalam dunia pengkajian, yakni pada pola dan metode pemaknaan, pemberian catatan tambahan, dan fungsi naskah sebagai media menuliskan informasi penting di luar topik naskah. Namun demikian, kepastian masa disalinnya naskah membutuhkan kajian lain yang lebih mendalam dengan melakukan analisis bahasa yang digunakan dalam pemaknaan dalam naskah.
SCIENTIFIC MIRACLE IN THE FIELD OF GEOLOGY (Earth Dynamics in the Verses of the Qur'an) Abdullah, Faisal Abdullah
MAGHZA Vol 9 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v9i2.12450

Abstract

Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad 14 abad yang yang lalu. Meski wujudnya tidak ḥissiyyah (fisik) seperti mukjizat lainnya, namun al-Qur'an mempunyai ciri dan metode tersendiri yang tidak dimiliki mukjizat lainnya. Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad memiliki kekuatan yang luar biasa yang tidak dapat ditandingi oleh manusia untuk membuat seperti al-Qur’an bahkan satu ayat sekalipun. Selain itu, al-Qur’an merupakan kemukjizatan ‘aqliyyah, maka cara mengetahui sisi kemukjizatannya harus diselami dengan istidlāl (dikaji dan dipelajari) sehingga terus up to date hingga akhir zaman. Artikel ini fokus pada kemukjizatan ilmiah di dalam al-Qur’an dalam bidang geologi, meliputi proses penciptaan bumi, hamparan bumi, gunung sebagai pasak, pergerakan gunung dan pergerakan benua, dan gempa bumi. Artikel ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), pendekatan penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis isi kualitatif deskriptif dengan metode pendekatan tafsir tematik (Maudhū’i). Kemukjizatan ilmiah al-Qur’an dan relevansinya dengan ilmu pengetahuan modern telah berhasil membuktikan kebenaran al-Qur’an. Sehingga ayat-ayat di dalamnya dapat memberikan informasi penting tentang kehidupan manusia.