cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 181 Documents
Ghadul Bashar (Menahan Pandangan) sebagai Strategi Preventif Konten Seksual terhadap Perilaku Remaja dalam Perspektif Al-Qur’an hudallah029, 1nur muhammad; Khaer, Abu
MAGHZA Vol 10 No 1 (2025): Januari-Juni 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i1.13629

Abstract

Paparan konten seksual di era digital telah menjadi tantangan serius terhadap psikologi remaja. Di sisi lain dari pesatnya perkembangan teknologi seperti media sosial tidak selalu memberikan dampak positif sepenuhnya, yang mana dapat menimbulkan peluang kejahatan seksual dan perilaku menyimpang di dunia maya berupa memperlihatkan aksi berlebihan guna menarik perhatian para penonton dari kalangan remaja. Namun sebaliknya jika remaja mampu memanfaatkan dengan bijak, maka juga akan berdampak baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Penelitian ini menggunakan metode literature review (kepustakaan). Data dikumpulkan dari berbagai artikel, fenomena di media sosial, dan referensi yang berkaitan dengan problematika yang dibahas penulis. Al-Qur’an menjadi pedoman remaja sebagai nasehat dalam menjaga pandangan dari hal yang diharamkan. Esensi Al-Qur’an surah An-Nur ayat 30-31 ialah kewajiban seorang remaja baik laki-laki maupun perempuan dalam menghindari segala yang menimbulkan syahwat dari konten seksua. Berdasarkan penelitian ini, ghadul bashar (menahan pandangan) akan memberikan solusi tepat bagi remaja dan merupakan kunci utama dalam menghindari suatu hal-hal yang berpotensi dapat menimbulkan nafsu syahwat, memelihara, kemaluan terhadap tindakan keji yakni onani/mastrubasi, berzina, homoseksual, dan juga lesbian serta menutup aurat. Implikasi pendidikan dari ghadul bashar ialah (1) pemahaman mengenai menjaga pandangan (2) memperkuat kesadaran beragama (3) menanamkan pendidikan karakter (4) pendidikan keluarga dan teman sebaya.
Relasi Al-Qur’an dengan Manusia dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan di Pondok Pesantren Tetirah Dzikir Kuton Berbah Sleman Yogyakarta (Analisis Teori Wilfried Cantwell Smith) jumilah; Subaidi , Subaidi
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.12749

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya minat terhadap pendekatan spiritual Islam dalam penyembuhan gangguan kejiwaan, khususnya melalui praktik yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an. Salah satu fenomena menarik terdapat di Pondok Tetirah Dzikir, sebuah lembaga rehabilitasi spiritual di bawah naungan Terkat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang mengintegrasikan ajaran tasawuf dengan terapi kejiwaan. Keunikan pondok ini terletak pada penggunaan metode tazkiyatun nafs proses penyucian jiwa melalui dzikir, shalat, dan amaliyah lainnya—sebagai sarana utama penyembuhan bagi santri yang mengalami gangguan kejiwaan dan kecanduan NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keterkaitan antara Al-Qur’an, manusia, dan proses penyembuhan gangguan kejiwaan melalui praktik tazkiyatun nafs yang berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis serta pendekatan fenomenologis-struktural dan etnografis. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi; dengan subjek penelitian terdiri atas para santri bina dan pengasuh Pondok Tetirah Dzikir. Penelitian ini menggunakan teori kitab suci Wilfried Cantwell Smith, yang menjelaskan hubungan dinamis antara teks kitab suci dan kehadiran manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses penyembuhan gangguan kejiwaan, muncul fenomena dorongan mistik (mystical force) dari Al-Qur’an yang memengaruhi kesadaran para santri. Proses ini berlangsung melalui amaliyah-amaliyah yang dijalankan secara aktif maupun pasif, sehingga Al-Qur’an berperan bukan hanya sebagai teks yang dibaca, tetapi sebagai kekuatan spiritual yang hidup dan bekerja dalam diri manusia.
Konsep Toleransi Sesama Muslim dalam Tinjauan Interpretasi Ma‘nā cum Magzhā (Studi QS. Al-Ḥujurāt [49]:10): Bahasa Indonesia MOH FIRDAUS HN; Wahyudi, Arif
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.13603

Abstract

Toleransi merupakan problem yang sering terjadi, sikap tidak menghargai antara sesama muslim dengan aliran yang berbeda sering dijumpai. Dalam QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10 ditegaskan bahwa orang beriman adalah saudara dan jika terjadi peselisihan maka diharuskan adanya perbaikan hubungan. Kenyataan yang terjadi pada umat Islam sekarang, berbeda jauh dengan nilai moral yang terkandang dalam ayat ini. Berdasar pada problematika tersebut, kajian tentang toleransi menjadi relevan jika diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bukan berfokus pada masalah toleransi antar umat yang berbeda agama, melainkan berfokus pada toleransi antara aliran dalam internal agama Islam, terlebih dalam konteks ke-Indonesiaan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menggunakan teori hermenautika yang digagas Sahiron Syamsuddin, interpretasi ma‘nā cum magzhā sebagai pisau dalam menganalisis QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10. Setelah dilakukan analisis ayat ini menunjukkan adanya pesan utama, yaitu penegasan tentang kesetaraan dan keadilan dalam status sosial yang tidak dibatasi oleh suku, ras, nasab dan jabatan. Berangkat dari maghzā ayat ini, maka konsep toleransi antara sesama muslim bisa dirumuskan sebagaimana berikut: pertama, toleransi berdasar persaudaraan agama. Kedua, kesadaran tentang lebih kuatnya ikatan agama dari pada ikatan nasab. Ketiga, perbedaan adalah keniscayaan dan toleransi adalah keharusan. Keempat, tanggung jawab dalam menjaga persatuan di antara saudara. Jika toleransi sesama muslim dengan empat konsep di atas disadari dan diaplikasikan maka hidup secara harmonis akan didapatkan.
Tafsir Maqāṣidī : Genealogi dan Konsep abdul azis, FAKIH
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.13688

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri genealogi dan konseptualisasi Tafsir maqāṣidī sebagai respons terhadap polarisasi ekstrem dalam penafsiran Al-Qur'an. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dan teori History Of Ideas Arthur O.Lovejoy , penelitian ini menemukan bahwa tafsir maqāṣidī bukan metode baru, melainkan memiliki akar historis yang kuat. Praktiknya telah dimulai sejak masa sahabat, seperti ijtihad Umar bin Khattab dalam menunda hukuman pencurian (hifz al-nafs) dan kebijakan tanah rampasan perang (i'tibar al-maal). Konsep ini kemudian berkembang secara teoritis oleh Imam Syafii, disistematisasi oleh Al-Syatibi, dan dihidupkan kembali di era modern oleh tokoh seperti Ibnu Asyur. Hasil penelitian merumuskan tujuh kaidah utama, meliputi prinsip kemaslahatan sebagai tujuan syariat, keseimbangan antara makna lahiriah dan substansi, serta perbedaan pendekatan antara ibadah yang bersifat tawaqquf dan muamalat yang fleksibel. Studi ini berkontribusi dalam merekonstruksi Tafsir Maqasidi sebagai tradisi keilmuan yang dinamis, adaptif, dan responsif, sekaligus memberikan fondasi teoretis yang kuat bagi pendekatan interpretasi Al-Qur'an yang moderat.
Konsep Kota Suci Mekah dalam Al-Qur’an (Kajian Semantik Lafadz Bakkah dan Makkah) Nur Sendi
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.13726

Abstract

Penelitian mengenai lafadz Bakkah dan Makkah dalam Al-Qur’an merupakan upaya untuk menggali kedalaman dan keindahan bahasa dalam wahyu Allah SWT. Dengan memahami nuansa makna dan penggunaan kedua lafadz tersebut, akan dapat membuka pintu pemahaman baru terhadap pesan-pesan Al-Qur’an dan memperkaya apresiasi terhadap keagungan bahasa dan Al-Qur’an. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan metode kualitatif. Adapun analisis datanya melalui pendekatan semantik Al-Qur’an Toshihiko Izutsu untuk memahami makna dan kaitan kedua lafazh serta pandangan dunianya/weeltanschauung dalam konteks Al-Qur’an. Kajian ini menghasilkan; Pertama, makna dasar kata Bakkah adalah tempat tersembunyi dan makna dasar kata Makkah adalah nama dari kota Mekah itu sendiri. Kedua, makna relasional sintagmatik ditemukan sebagai Rumah/Bangunan dan juga sebagai Pusat Kota. Adapun secara paradigmatik, mempunyai kesamaan makna dengan Umm Al-Quro, Baldatun, Al-Ka’batu serta Al-Masjid Al-Haram dan tidak memiliki makna yang berlawanan. Ketiga, aspek historis masa pra-qur’anik dimaknai sebagai Ka’bah dan kota Mekah. Adapun masa Al-Qur’an turun keduanya sama-sama dimaknai sebagai pusat kota di Mekah. Selanjutnya masa pasca-qur’anik, dimaknai sebagai lahan tempat berdirinya Ka’bah dan kota Mekah secara fisik. Keempat, weltanschauungnya adalah tempat yang suci, mulia dan diberkahi yang dijadikan tempat ibadah bagi seluruh umat manusia sebagai simbol kesatuan sekaligus transformasi spiritual umat manusia untuk mensucikan diri.
Kajian Q.S. An-Nur ayat 27 dalam Tafsir al-Misbah: Relevansinya terhadap Etika Komunikasi Digital Awalia, Dina; Dasuki, Akhmad; Masruroh, Umi; Rusdeana, Rusdeana; Jainah, Jainah; Rahmatunnaimah, Rahmatunnaimah
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.13853

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mengubah pola komunikasi modern dan memunculkan berbagai tantangan etis, terutama terkait privasi dan kesantunan dalam interaksi daring. Dalam perspektif Islam, etika komunikasi tidak hanya terbatas pada interaksi tatap muka, tetapi berakar pada ajaran Al-Qur’an yang menekankan adab serta penghormatan terhadap batasan pribadi. Penelitian ini menganalisis Q.S. An-Nur ayat 27 berdasarkan Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab serta mengeksplorasi relevansinya terhadap etika komunikasi digital. Menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis melalui analisis isi dalam kerangka adabi al-ijtima’i (sastra-sosial). Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai Qur’ani tentang isti’dzān (meminta izin) dan salam (ungkapan penghormatan) merupakan etika sosial universal yang tetap relevan dalam ruang interaksi digital. Nilai-nilai ini mendorong perilaku daring yang santun, empatik, dan menghormati privasi. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada perluasan penerapan tafsir adabi al-ijtima’i ke dalam konteks digital kontemporer. Secara praktis, penelitian ini menawarkan panduan etis berbasis Al-Qur’an untuk membangun komunikasi yang penuh hormat dan harmonis pada platform digital modern.
Penafsiran QS. Al-Isrā: 4-8 tentang Kehancuran Israel (Studi Analitis Geopolitik Modern) Nuryadi, Feri
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.14073

Abstract

Penelitian ini membahas QS. Al-Isrā’ ayat 4-8 melalui pendekatan tafsir tematik dengan menyoroti dinamika kehancuran bangsa Israel dari perspektif sejarah, kebijakan ilahi (sunnatullah), dan relevansinya dalam konteks geopolitik kontemporer. Ayat-ayat tersebut selama ini kerap dipahami secara politis atau apologetik, sehingga kajian ini berupaya memberikan pembacaan ulang yang berbasis etika teologis dan prinsip keadilan Al-Qur’an. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, dengan menganalisis pendapat mufassir klasik (al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr) serta kontemporer (Sayyid Qutb dan Quraish Shihab). Hasil kajian menunjukkan bahwa ayat ini bukan merupakan nubuat statis terhadap entitas tertentu, melainkan menegaskan pola kehancuran kolektif akibat penyimpangan dari nilai ilahi. Kerusakan struktural yang dilakukan oleh Bani Israil dahulu, seperti kezaliman, dominasi, dan pembangkangan terhadap wahyu, merupakan bentuk siklus sejarah yang dapat terulang pada bangsa mana pun, termasuk umat Islam sendiri jika melakukan kesalahan serupa. Dalam konteks Israel modern, ayat ini lebih relevan dibaca sebagai kritik teologis terhadap kekuasaan tanpa moral, bukan sebagai prediksi politik literal. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca ayat secara transhistoris untuk membangun kesadaran kolektif umat terhadap pentingnya keadilan sosial, amanah kekuasaan, dan pertobatan kolektif dalam skala global.
Eksplorasi Makna Gharīb al-Qur’ān: Studi Kritis atas Kontribusi Ibn al-Ḥāʾim dalam al-Tibyān fī Tafsīr Gharīb al-Qur’ān Ridhoul Wahidi
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.14183

Abstract

Studi terhadap gharīb al-Qur’ān—yakni kosakata asing, jarang, atau sulit dipahami dalam Al-Qur’an—merupakan bidang penting dalam tradisi tafsir klasik. Di antara tokoh yang berperan dalam pengembangan bidang ini adalah Ibn al-Ḥāʾim melalui karyanya al-Tibyān fī Tafsīr Gharīb al-Qur’ān. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontribusi dan pendekatan Ibn al-Ḥāʾim   dalam menafsirkan kosa kata gharīb, serta mengevaluasi bagaimana pendekatan interdisipliner yang digunakannya mencerminkan keluasan wawasan keilmuan Islam klasik. Latar belakang kajian ini didasarkan pada pentingnya pemahaman terhadap makna leksikal dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari upaya pemeliharaan makna teks suci dan penguatan metodologi tafsir. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif dan analisis isi (content analysis). Sumber utama yang digunakan adalah teks al-Tibyān, sementara referensi sekundernya mencakup karya-karya tafsir klasik dan literatur filologi Arab. Analisis dilakukan menggunakan teori linguistik klasik dan pendekatan semiotik Al-Qur’an, dengan perhatian khusus pada keterkaitan antara istilah Qur’ani dan berbagai disiplin ilmu seperti fikih, gramatika, morfologi, retorika, logika, dan teologi. Pendekatan Ibn al-Ḥāʾim dalam menafsirkan kosa kata dilakukan melalui kutipan langsung maupun tidak langsung dari para ulama sebelumnya, meskipun metode sitasinya kerap tidak konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Ibn al-Ḥāʾim dalam al-Tibyān mencerminkan tradisi tafsir multidisipliner yang berakar pada kerangka keilmuan Islam klasik. Tafsir terhadap istilah gharīb dilakukan bukan hanya secara leksikal, tetapi juga dikaitkan dengan fungsi semantis dan kontekstual dalam kerangka ilmu-ilmu Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya al-Tibyān sebagai referensi dalam studi tafsir modern, khususnya dalam bidang leksikografi Qur’ani dan pengembangan metodologi tafsir interdisipliner.
Mental Health Para Remaja di Era Society 5.0 dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir Mauḍū‘ī) Muh Hafizul; Haris Renaldi
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.14200

Abstract

Society 5.0 adalah sebuah fase di mana teknologi terintegrasi dengan kehidupan masyarakat. Di era ini ketergatungan terhadap teknologi semakin pesat, termasuk media sosial. Selain dampak positif, fenomena ini juga memberikan dampak negatif. Di antaranya adalah menurunnya kualitas mental health para remaja. Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan banyak solusi untuk permasalahan ini di dalam Al-Qur’an. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini hadir untuk menjawab pertanyaan bagaimana dampak dari penggunaan media sosial terhadap mental health remaja di era Society 5.0, dan bagaimana respon Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan library search dan metode tafsir mauḍū‘ī dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dan peneliti mendapatkan beberapa dampak dari penggunaan media sosial terhadap mental health remaja, yaitu fenomena seperti social comparison, cyberbullying, fear of missing out, kurangnya interaksi sosial, hingga kecanduan konten-konten negatif menyebabkan peningkatan terhadap gangguan mental di kalangan remaja. Lalu ditemukan bahwa Al-Qur’an memberikan solusi dari masalah tersebut berupa penguatan iman, melatih kesabaran, penguatan spiritual seperti dzikir, meresapi makna-makan Al-Qur’an dan salat, meningkatkan sikap tawakal dan ketakwaan, dan menghindari hal-hal yang sia-sia.
The Practice of Religious Environmentalism: a Bourdieuian Study of Qur'anic and Hadith-Based Ecological Ethics at Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci Purwokerto Izza, Farah Nuril; Tarto; Intan, Putri; Hibaurrohman, Imam Labib
MAGHZA Vol 10 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v10i2.15751

Abstract

This study examines the practice of religious environmentalism in an Indonesian Islamic boarding school by applying Pierre Bourdieu’s theory of practice. Focusing on Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci Purwokerto, this article analyses how Qur’anic and hadith-based ecological ethics are practiced in everyday lives of santris. This study employed ethnographic approach. The data were collected through participant observation, in depth interviews, and document analysis. The findings of the study demonstrate that, first,  environmental practices are the result of institutional rules and routines, santris’ religious capital, as well as their habitus. Second, religious knowledge plays as symbolic capital that legitimizes ecological behaviour. However, its translation into embodied practice is strongly supported by prior habitus and structural conditions. Third, santris of this study express compliance, negotiation, and resistance in their practice of religious environmentalism. Fourth, this study argues that the practice of religious environmentalism in pesantren should be understood as the dynamic process shaped by power, disposition, and institutional authority rather than as the direct outcome of normative religious teachings.