Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 40 No 1 (2022): Februari"
:
9 Documents
clear
Syok Sepsis Pada Fasitis Nekrotikans Regio Colli Pasca Servikotomi Debridemen Disertai Gangren Radik Multipel Pasca Ekstraksi Gigi Multipel: Laporan Kasus
Lila Irawati Tjahjo Widuri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (669.437 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.224
Fasiitis nekrotikans, sering disebut bakteri pemakan daging, adalah nekrosis progresif pada lemak subkutan dan fasia. Fasiitis nekrotikans tipe II yang disebabkan oleh Acinetobacter baumannii jarang ditemukan tetapi menimbulkan infeksi yang serius. Infeksi ini terjadi melalui luka yang menyebar sangat cepat, serta melepaskan zat berbahaya yang menghancurkan jaringan di sekitarnya dan masuk ke aliran darah sehingga menimbulkan syok sepsis. Faktor risiko pada penyakit dapat terjadi pada golongan lanjut usia atau geriatri, kondisi immunocompromised, sakit kronis, trauma, dan alkoholisme. Laki-laki, 61 tahun, dengan fasiitis nekrotikans yang menjalani tindakan servikotomi, debridemen, pemberian antibiotik, serta perawatan luka dengan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT).
Pemakaian Toculizumab Anti IL-6 pada Tatalaksana COVID-19: Sebuah Serial Kasus
Hutagalung, Albert Frido;
Debora, Fania
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (550.623 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.232
Pendahuluan: Angka kematian pada pasien Corona Virus Disease (COVID-19) masih tinggi di Indonesia, tetapi belum ada terapi baku emas yang bisa digunakan untuk mengobati pasien COVID-19. Salah satu pilihan terapi yang dapat digunakan adalah Anti IL-6 Tocilizumab (TCZ). Ilustrasi Kasus: Pada laporan kasus ini, dilakukan pengamatan sejak Mei hingga Juli 2020 terhadap tujuh pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan onset sakit bervariasi, yang baru dirawat setelah 3-7 hari dari timbulnya gejala. Terapi yang diberikan adalah terapi standar COVID-19 sesuai pedoman gugus tugas COVID-19 ditambah dengan anti-IL-6 Tocilizumab 80 mg intravena, dengan waktu mulai pemberian bervariasi antara hari ke 1-9 hari perawatan di rumah sakit. Fase perjalanan penyakit COVID-19 sebelum diterapi mulai dari fase II sampai fase III, dengan jumlah pasien meninggal 3 orang dan selamat 4 orang. Simpulan: TCZ memberikan hasil perubahan klinis dan laboratorium penurunan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada beberapa pasien tetapi angka luaran untuk selamat masih perlu ditingkatkan lagi dan juga dipengaruhi oleh waktu yang tepat untuk pemberian TCZ, dukungan organ seperti oksigenasi, bantuan ventilator, dan terapi standar COVID-19 lainnya.
Rotasi Kepala dan Posisi Tubuh Mengubah Tekanan Balon Pipa Endotrakeal
Soenarto, Ratna Farida;
Harijanto, Eddy;
Pramodana, Bintang;
Prima, Kustenti
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (314.904 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.236
Latar Belakang : Intubasi endotrakeal merupakan salah satu upaya dalam menjaga patensi jalan napas disertai dengan pengendalian oksigenasi dan ventilasi. Intubasi endotrakeal menggunakan sebuah pipa endotrakeal yang dilengkapi dengan balon yang berfungsi sebagai alat fiksasi dan mencegah terjadinya aspirasi jalan napas. Balon pipa endotrakeal dikembangkan umumnya berkisar 20-30 cmH2O sesuai rekomendasi. Tekanan ini dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti diameter balon, daya regang, edema pada mukosa trakea, serta perubahan posisi kepala pasien. Perubahan tekanan endotrakeal ini dapat menyebabkan komplikasi mulai dari ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perbedaan perubahan tekanan bola pipa endotrakeal pada beberapa posisi sehingga dapat meminimalisasi komplikasi. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis dilakukan di RSCM dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2018 pada total 36 subjek yang menjalani anestesia umum dan diintubasi. Tekanan balon pipa endotrakeal ditentukan sebesar 25 cmH2O, pada posisi supinasi dan kepala lurus. Dilakukan perubahan posisi dari supinasi ke lateral dekubitus serta rotasi kepala 15°, 45° dan 60° dari garis tengah. Kemudian dilakukan pengukuran kembali tekanan balon pipa endotrakeal setelah perubahan posisi kepala dan tubuh pasien. Analisis dilakukan dengan melakukan uji komparatif Friedman dan hasil dianggap bermakna jika nilai p 0,05. Hasil : Terdapat perbedaan bermakna tekanan bola pipa endotrakeal antara posisi supinasi dengan rotasi kepala 15°, 45°, 60° dan lateral dekubitus kanan secara statistik. (p<0,001) Namun secara klinis, didapatkan bahwa hanya posisi lateral dekubitus kanan yang memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai perbedaan tekanan 7 (2 - 25) mmH2O. Simpulan: Perubahan posisi supinasi dengan rotasi kepala 15°, 45°, 60° dan posisi lateral dekubitus kanan menyebabkan perubahan tekanan bola pipa endotrakeal. Posisi lateral dekubitus kanan memiliki perbedaan tekanan bola pipa endotrakeal yang bermakna secara klinis.
Blok Subarahnoid Dosis Rendah dan Epidural pada Pasien Hamil dengan Gagal Jantung dan Komorbid Lain yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus
Soenarto, Ratna Farida;
Alexandra, Arky Kurniati;
Ramlan, Andi Ade Wijaya;
Alatas, Anas
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (634.716 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.238
Latar Belakang: Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab signifikan pada mortalitas ibu di negara-negara berkembang. Komorbid yang mempengaruhi ini mencakupi obesitas, hipertensi dan kehamilan tua yang memperberat kinerja jantung sehingga dapat mengakibatkan gagal jantung. Ini menjadi tantangan untuk tatalaksana anestesi dengan tujuan utama mencegah luaran buruk kepada ibu dan neonatusnya. Ilustrasi Kasus: Pada kasus ini kami melaporkan wanita, 28 tahun, G4P3A1 hamil 28 minggu, ASA 3 dengan gagal jantung kongestif, superimposed pereklampsia, serta obesitas morbid. Pasien direncanakan untuk seksio sesarea dengan kombinasi anestesi menggunakan penggunaan blok subarahnoid dosis rendah dan epidural (Combined Spinal Epidural Anesthesia/CSE), serta pertimbangan tatalaksana anestesi pada ibu hamil dengan gagal jantung atau komorbid lainnya. Simpulan: Anestesi dengan blok subarakhnoid dosis rendah memiliki efek yang minimal terhadap hemodinamik, dan dapat digunakan pada selektif pasien yang mengalami gagal jantung dan komorbid lainnya.
Pengaruh Kapasitas Vital Paksa, Hipertensi Pulmonal, Jumlah Perdarahan, Jumlah Cairan Intraoperasi, Transfusi Darah dan Lokasi Segmen Vertebra yang Terlibat Terhadap Lama Ventilasi Mekanik Pascaoperasi Koreksi Skoliosis Pendekatan Posterior
Sedono, Rudyanto;
Nugroho, Alfan Mahdi;
Putranto, Qudsiddik Unggul
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (417.784 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.240
Latar Belakang : Pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pascaoperasi di RSCM mendapatkan lama ventilasi mekanik pascaoperasi yang beragam. Pemakaian ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis memengaruhi biaya perawatan dan waktu kontak pasien dengan keluarga. Identifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi lama ventilasi mekanik diharapkan dapat memprediksi lama ventilasi mekanik pascaoperasi sehingga lebih efektif dalam penggunaan ventilasi mekanik. Penelitian ini dilakukan dengan harapan mengetahui faktor risiko lama ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior di RSCM. Tujuan : Mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi lama penggunaan ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kohort retrospektif menggunakan data dari rekam medis. Lima puluh dua pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pendekatan posterior antara januari 2011 hingga Juni 2016 dianalisis secara retrospektif. Dicatat lama pemakaian ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior. Faktor preoperasi dan intraoperasi yang dianalisis merupakan data yang biasa dicatat dalam rekam medis antara lain nilai kapasitas vital paksa preoperasi, hipertensi pulmonal, jumlah perdarahan, jumlah cairan intraoperasi, transfusi darah dan lokasi segmen vertebra. Data akan diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan uji korelasi dan analisis multivariat regresi linier. Hasil : Mayoritas sampel adalah wanita (86,5%). Analisis korelasi didapatkan jumlah perdarahan (r=0,431; p<0,05) memiliki hubungan sedang dengan lama ventilasi mekanik, jumlah cairan intraoperasi (r=0,347; p<0,05) memiliki hubungan lemah dengan lama ventilasi mekanik. Dari analisis multivariat regresi linier didapatkan tidak ada variabel yang menjadi faktor risiko (p>0,05; R square=0,073). Kesimpulan : Dari variabel yang diteliti tidak ada yang merupakan faktor risiko lama ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior di RSCM.
Perbedaan Tatalaksana Mual Muntah Pasca Operasi pada Konsensus Terbaru: Tinjauan Literatur
Firdaus, Riyadh;
Setiani, Dea Britta Hilda
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.734 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.243
Mual dan muntah merupakan dua efek samping pasca operasi yang paling sering ditemui. Mual muntah pasca operasi atau Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) juga erat kaitannya dengan lama rawat pasien di ruang pemulihan, perawatan yang sebelumnya tidak direncanakan, serta meningkatnya biaya perawatan. Tatalaksana PONV yang optimal merupakan serangkaian proses yang kompleks. International Anesthesia Research Society (IARS) mengeluarkan pedoman keempat untuk tatalaksana PONV pada Agustus 2020 lalu. Sebelumnya IARS telah mempublikasikan tiga pedoman terdahulu yaitu pada tahun 2003, 2009, dan 2014. Pedoman konsensus terbaru PONV memberikan lebih banyak evidence-based untuk tatalaksana PONV yang komprehensif baik pada orang dewasa maupun anak. Profilaksis multimodal PONV meliputi kombinasi antiemetik dari golongan yang berbeda, menggunakan dosis efektif minimum, minim penggunaan opioid, dan anestesi inhalasi. Prinsip – prinsip tatalaksana PONV pada pedoman saat ini juga diaplikasikan untuk tatalaksana PONV pada Enhanced Recovery Pathways.
Skor Kelelahan pada Peserta Didik Anestesiologi dan Terapi Intensif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Heriwardito, Aldy;
Sugiarto, Adhrie;
Setiadi, Bakti;
Dwiputra, Anggara Gilang;
Hafidz, Noor;
Ramlan, Andi Ade Wijaya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (618.993 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.252
Latar Belakang: Prevalensi kelelahan secara global bervariasi antara 2,36-75,7%. Kelelahan merupakan konsekuensi yang dapat dialami oleh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitasi Indonesia (FKUI) selama menjalami proses pendidikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kelelahan pada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM setelah bertugas selama 24 jam di RSCM dengan menggunakan penilaian FAS, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Metode penelitian adalah studi potong lintang dan acak. Analisis dilakukan terhadap 36 subjek peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tahap paripurna, mandiri dan magang selama periode penelitian. Subjek diberikan kuesioner berisi pertanyaan mengenai faktor yang dapat memengaruhi tingkat kelelahan. Kelelahan secara subjektif diukur dengan Fatigue Assessment Scale (FAS) setelah peserta PPDS bekerja di Rumah Sakit dr.Cipto Mangunkussumo (RSCM) selama ≥ 24 jam. Hasil: Sebanyak 55,6% peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan seetelah bekerja di RSCM selama > 24 jam, dengan rerata skor kelelahan berdasarkan FAS adalah 23,6±4,2 yang berada diatas titik potong skor kelelahan dari FAS yaitu > 22. Kelelahan fisik memiliki rerata nilai yang lebih besar (15,19±2,7) dibandingkan dengan kelelahan mental (10,61±2,2) dengan perbedaaan yang bermakna (p<0.01). Kelelahan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI tidak dipengaruhi oleh karakteristik, gaya hidup dan karakteristik pekerjaan. Kesimpulan: PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif mengalami kelelahan fisik pasca bekerja selama >24 jam di RSCM. Kelelahan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan pola kerja.
Perubahan Posisi dan Tekanan Balon Pipa Endotrakeal
Arief Cahyadi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (394.878 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.255
Intubasi endotrakeal merupakan prosedur yang dilakukan untuk menjaga jalan nafas dan memberikan ventilasi. Pipa endotrakeal juga berfungsi melindungi paru-paru dan mencegah aspirasi aspirasi cairan lambung dan sekret orofaring agar tidak masuk ke paru-paru. Terdapat sebuah balon pada pipa endotrakeal yang dikembangkan pada bagian distal pipa untuk menutupi permukaan dalam trakea. Intubasi endotrakeal di samping memiliki manfaat juga memiliki potensi komplikasi. Prosedur pemasangan intubasi dapat menyebabkan trauma pada trakea dan laring, kemudian balon pipa endotrakeal juga dapat menekan dinding trakea, menyebabkan cedera mukosa. Tekanan balon pipa endotrakeal yang direkomendasikan berada pada rentang 20–30 cmH2O. Tekanan udara yang tidak adekuat akan mengakibatkan kebocoran udara saat ventilasi tekanan positif dan memungkinkan mikroaspirasi ke dalam trakea. Sebaliknya, tekanan yang berlebihan pada balon pipa endotrakeal akan menyebabkan penekanan, menurunkan perfusi mukosa trakea serta dapat berlanjut pada kerusakan ireversibel, misalnya ruptur trakea atau nekrosis mukosa trakea. Tekanan balon pipa endotrakeal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu volume udara dalam balon, bahan dasar balon pipa endotrakeal, proporsi ukuran balon pipa endotrakeal terhadap diameter trakea, komplians trakea dan bentuk balon pipa endotrakeal serta tekanan intratorakal. Saat ini belum ada penjelasan ilmiah yang pasti mengenai mekanisme terjadinya peningkatan tekanan balon pipa endotrakeal meskipun beberapa penelitian telah dilakukan pada populasi di luar negeri. Dapat diduga perubahan posisi ini menyebabkan pipa tidak tepat berada di tengah lumen trakea dan sebagian permukaan balon pipa mengalami penekanan. Kemungkinan ini sesuai dengan fakta seringnya terjadi cedera jalan napas pada pasien kritis yang lama terintubasi. Perubahan posisi kepala dapat berpengaruh selain terhadap tekanan balon juga posisi pipa endotrakeal relatif terhadap karina, dan perlu mendapatkan perhatian karena dapat memberikan morbiditas terhadap pasien seperti ventilasi satu paru atau keluarnya pipa dari trakea. Pemeriksaan berkala terhadap pipa endotrakeal menjadi suatu hal yang wajib dilakukan dokter anestesi selama pasien masih terintubasi agar dapat menhindarkan pasien dari komplikasi yang tidak diharapkan.
Efek Akupresur (Sea-Band®) terhadap Penurunan Insiden Mual Muntah Pascaoperatif pada Pasien yang Dilakukan Anestesia Umum Inhalasi: Randomized Controlled Trial
Amir Sjarifuddin Madjid;
Riyadh Firdaus;
Muhammad Arief Fadli
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (546.315 KB)
|
DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.258
Latar belakang: PONV dapat terjadi pada 20-30% pasien, bahkan pada pasien-pasien yang berisiko tinggi bisa mencapai sekitar 70%. PONV menyebabkan peningkatan morbiditas, menurunnya kepuasan pasien dan meningkatnya biaya yang dikeluarkan pasien. Salah satu cara nonfarmakologi yang dapat dilakukan untuk menurunkan mual muntah pascaoperasi adalah dengan pemakaian akupresur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemakaian akupresur Sea-Band® untuk menurunkan angka kejadian mual muntah pascaoperasi pada pasien yang menjalani anestesia umum inhalasi. Metode: Dilakukan pembiusan umum pada 88 pasien ASA 1-2 yang menjalani pembedahan risiko tinggi PONV. Tujuh pasien dikeluarkan, akupresur 41 sampel dan kontrol 40 sampel. Pada kelompok perlakukan diberikan lakukan pemasangan akupresur Sea-Band® 30-60 menit sebelum dilakukan pembiusan. Seluruh sampel diberikan antiemetik. Dilakukan pencatatan angka kejadian mual muntah selama 0-2 jam pascaoperasi di ruang pulih dan 2-24 jam di ruang rawat inap. Tidak didapatkan terjadinya efek samping pada kedua kelompok. Hasil: Didapatkan hasil yang tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok dalam insidens mual dan muntah di ruang pemulihan (0-2 jam). Insidens mual dalam 0-2 jam antara akupresur vs plasebo adalah 9,75 % vs 25 % (p > 0,05) dan insidens muntah dalam 0-2 jam antara akupresur vs plasebo adalah 4,87 % vs 17,5 % (p> 0,05). Insidens mual dalam 2-24 jam antara akupresur vs plasebo adalah 2,43 % vs 20 % (p < 0,05). Insidens muntah dalam 2-24 jam antara akupresur vs plasebo adalah 0 % vs 7,5 % (p > 0,05). Tidak didapatkan terjadinya efek samping pada kedua kelompok. Tercatat bahwa 90,2% mengatakan puas dengan manfaat penggunaan akupresur dan pemberian ondansetron, bahkan pada kelompok yang sama sebanyak 4,9% menyatakan sangat puas. Kesimpulan: Penggunaan akupresur Sea-Band® dengan Ondansetron terbukti dapat menurunkan angka kejadian mual pada rentang waktu 2-24 jam setelah operasi dengan anestesia umum inhalasi.