cover
Contact Name
Bangkit Ary Pratama
Contact Email
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Phone
+6285326333050
Journal Mail Official
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Editorial Address
Kompleks Perkantoran Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia Jalan Raya Solo-Sukoharjo Km.09 Dukuh Ngepeng, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 57527
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS)
ISSN : -     EISSN : 26230038     DOI : https://doi.org/10.55181/ijms
Core Subject : Health, Engineering,
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS) (https://doi.org/10.55181/ijms) terbit pertama Vol. 1 No.1 Januari 2014. Setiap edisi terdiri dari kurang lebih 100 halaman, yang artikelnya disajikan dalam bahasa Indonesia, kecuali judul dan abstrak disertai dengan bahasa inggris. Mekanisme peer-reviewer dilakukan dengan cara setiap artikel yang diajukan harus direview oleh dua reviewer yang ditunjuk oleh editor. Fokus dan Lingkup : IJMS adalah jurnal terbitan berkala nasional yang memuat artikel penelitian (research article) dibidang kesehatan. IJMS : Jurnal kesehatan diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovas ilmiah dibidang kesehatan kepada para praktisi dan akademisi di bidang kesehatan. IJMS merupakan jurnal peer reveiwer dan open acces journal yang berfokus pada kesehatan. Fokus ini meliputi daerah dan ruang lingkup yang terkait Keperawatan Kebidanan Fisioterapi Farmasi Gizi Masyarakat Kesehatan Masyarakat
Articles 319 Documents
Pola Peresepan Pada Pasien Hepatitis B Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2019 Fredika Ayu Syahputri; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.622 KB)

Abstract

Abstract : Hepatitis B attacks all ages and races throughout the world. Hepatitis B can attack with or without hepatitis symptoms. The high rate of hepatitis B infection and the death rate due to cirrhosis and hepatocellular carcinoma can be attributed to the low success rate of therapy for hepatitis B patients. This study aims to determine the characteristics and prescribing patterns in hepatitis B patients in RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten by looking at medical record data. This research is a non-experimental descriptive study using retrospective data collection techniques. Data was collected in January-December 2019. The results of the study were described descriptively and presented in tabular / percentage form. The most cases are patients aged 46-55 years as much as 28.26%, the most sex is male as much as 60.87% where the most accompanying disease is liver cirrhosis. The highest number of sucralfate gastrointestinal drugs use is 12.65%, the most central nervous system drugs are ondansetron as much as 7.35%, the most analgesic drugs are paracetamol as much as 6.12%, the most hepatoprotector drugs are curcuma as much as 22.45%, the most antiviral drugs are tenovofir 10.61%.Keyword : Hepatitis B, prescribing patterns, antiviral Abstrak : Hepatitis B menyerang semua umur dan ras di seluruh dunia. Hepatitis B dapat menyerang dengan atau tanpa gejala hepatitis. Tingginya angka infeksi hepatitis B serta angka kematian dikarenakan sirosis dan hepatoselular karsinoma dapat dikaitkan dengan rendahnya angka keberhasilan terapi pasien hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pola peresepan pada pasien hepatitis B di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan melihat data rekam medik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental menggunakan teknik pengumpulan data secata retrospektif. Pengambilan data dilakukan bulan Januari-Desember 2019. Hasil penelitian digambarkan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel/persentase. Kasus terbanyak adalah pasien berusia 46-55 tahun sebanyak 28,26%, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 60,87% di mana penyakit penyerta terbanyak yaitu sirosis hati. Penggunaan Obat saluran cerna terbanyak sucralfat sebanyak 12,65% ,obat sistem syaraf pusat terbanyak ondansetron sebanyak 7,35%, obat analgesik yang terbanyak paracetamol sebanyak 6,12%, Obat hepatoprotektor terbanyak adalah curcuma sebanyak 22,45%, obat antivirus terbanyak tenovofir 10,61%.Kata Kunci : Hepatitis B, pola peresepan, antivirus
Pola Penggunaan Obat Pada Pasien Hepatitis B Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Sarila Husada Sragen Tahun 2019 Heni Widihastuti; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.449 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B is a liver infection disease caused by the hepatitis B virus where this virus can cause acute and chronic diseases. This study aims to determine the description of drug use in hepatitis B patients hospitalized at Sarila Husada Sragen General Hospital in 2019. This study is a non-experimental study conducted retrospectively and analyzed descriptively. Study population 95 sheets of medical records 75 study samples were taken using non propability sampling techniques. The sample of this study included: hepatitis B patients who had complete medical record data containing at least the age, sex, type of health care guarantee, diagnosis, there were positive HBsAg laboratory results. The results showed the characteristics of patients by age the most age 56-65 years 31%, the characteristics of patients by sex the most males 57.33%, the characteristics of patients based on the type of health care insurance the most BPJS 53, 33%, the characteristics of patients based on the diagnosis of hepatitis B with or without other diseases most are with other diseases 100%, the percentage based on the most widely used drugs are Curcumin 13.56%, ondansentron 13.27%, ranitidine 8.67%, Echinaceae 4.88%, paracetamol and metamizole respectively 4.61%, spironolactone 3.52%, liver aminophyte 1.63%, lamivudine 0.54%.Keywords: Hepatitis B, Pattern of use medicine, Sarila Husada HospitalAbstrak: Hepatitis B adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B di mana virus ini dapat menyebabkan penyakit akut dan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat pada pasien hepatitis B rawat inap di RSU Sarila Husada Sragen tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Populasi penelitian 95 lembar rekam  medis jumlah sampel penelitian 75 yang diambil dengan menggunakan teknik non propability sampling. Sampel penelitian ini meliputi: pasien hepatitis B yang memiliki data rekam medik lengkap minimal memuat data umur, jenis kelamin, jenis jaminan pelayanan kesehatan, diagnosis, ada hasil laboratorium HbsAg positif. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pasien berdasarkan umur yang paling banyak adalah umur 56-65 tahun 31%, karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak adalah laki-laki 57,33%, karakteristik pasien berdasarkan jenis jaminan pelayanan kesehatan yang paling banyak adalah BPJS 53,33%, karakteristik pasien berdasarkan diagnosis hepatitis B dengan atau tanpa penyakit lainya yang paling banyak adalah dengan penyakit lainya 100%, persentase berdasarkan obat yang paling banyak digunakan adalah Curcumin 13,56%, ondansentron 13,27%, ranitidin 8,67%, Echinaceae 4,88%, parasetamol dan metamizole masing-masing 4,61%, spironolacton 3,52%, aminofusin hepar 1,63%, lamivudin 0,54%.Kata Kunci: Hepatitis B, Pola Penggunaan Obat, RS Sarila Husada
Pola Pengobatan Hepatitis B Pada Pasien Rawat Inap di RS Brayat Minulya Surakarta Tahun 2019 Hartini Hartini; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.496 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B is a major global health problem. This can cause chronic infections and put people at high risk of death from cirrhosis and liver cancer. This study aims to determine the characteristics and patterns of hepatitis B treatment in inpatients at Brayat Minulya Hospital Surakarta. This research is a non-experimental research conducted retrospectively and analyzed descriptively. This study was conducted on 44 medical records of patients diagnosed with hepatitis B. The results showed that the age group of 46-55 years had the highest percentage of hepatitis B infected as many as 12 patients (27.27%), based on the gender of hepatitis B disease, more suffered by male patients. 23 patients (52.27%). Based on the diagnosis of patients (with or without other diseases) more dominated by hepatitis B patients with other diseases tumors or lumps as many as 8 patients (18.18%). Percentage based on the use of drugs that are widely used are hepatoprotector drugs (curcumin) as many as 19 patients (13.87%), gastrointestinal drugs anti-ulcer groups (ranitidine) as many as 18 patients (13.14%), central nervous system drugs of nausea and vertigo (ondancetron) as many as 31 patients (22.63%), and analgesic drugs (paracetamol) as many as 15 patients (10.94%).Keywords: Hepatitis B, Treatment Pattern, Brayat Minulya Hospital Abstrak: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan global utama. Ini dapat menyebabkan infeksi kronis dan menempatkan orang pada risiko tinggi kematian akibat sirosis dan kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pola pengobatan hepatitis B pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini dilakukan terhadap 44 catatan rekam medik pasien yang didiagnosis hepatitis B. Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia 46-55 tahun memiliki persentase tertinggi terinfeksi hepatitis B sebanyak 12 penderita (27,27%), berdasarkan jenis kelamin penyakit hepatitis B lebih banyak diderita pasien laki-laki sebanyak 23 penderita (52,27%). Berdasarkan diagnosis pasien (dengan atau tanpa penyakit lain) lebih didominasi oleh pasien hepatitis B dengan penyakit lain tumor atau benjolan sebanyak 8 pasien (18,18%). Persentase berdasarkan penggunaan obat yang banyak  digunakan yaitu obat hepatoprotektor (curcumin) sebanyak 19 pasien (13,87%), obat saluran cerna golongan anti tukak (ranitidin) sebanyak 18 pasien (13,14%), obat sistem saraf pusat golongan mual dan vertigo (ondancetron) sebanyak 31 pasien (22,63%), dan obat analgesik (paracetamol) sebanyak 15 pasien (10,94%).Kata kunci : Hepatitis B, Pola Pengobatan, RS Brayat Minulya
Gambaran Pengetahuan Pasien Tentang Hepatitis Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Henni Tri Hayati; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.016 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis is a process of liver disease that affects the lung parenchyma, buffer cells, bile ducts and blood vessels. Hepatitis B virus (HBV) has infected a total of 2 billion people in the world and around 240 million are people with chronic hepatitis B virus, Hepatitis C sufferers in the world are estimated at 170 million people and around 1,500,000. In Wonogiri District in 2019 there were 1,142 people diagnosed with hepatitis.Hepatitis health education at RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri aims to better the knowledge and attitude of hepatitis patients so that they can anticipate the transmission of hepatitis. This research was conducted using descriptive methods with data collection in December 2019-January 2020. This research was conducted at the Internal Medicine Polyclinic of dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Hospital. This study obtained as many as 53 patients with the characteristics of patients dominated by male sex (58.5%), ages 46-55 years (45.3%), high school education (49.1%) and private / entrepreneurial work (54.7%). The analysis showed that the knowledge of patients about hepatitis in dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Hospital was the most sufficient category of 47.2%.Keywords: knowledge, hepatitis, patient Abstrak: Hepatitis merupakan proses penyakit hepar yang mengenai parenkim paru, sel-sel kuffer, duktus empedu dan pembuluh darah. Virus Hepatitis B (VHB) telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang di dunia dan sekitar 240 juta merupakan pengidap virus Hepatitis B kronis, penderita Hepatitis C di dunia diperkirakan 170 juta orang dan sekitar 1.500.000. Kabupaten Wonogiri pada Tahun 2019 terdapat 1.142 orang yang terdiagnosis hepatitis. Pendidikan kesehatan hepatitis di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri bertujuan agar pengetahuan dan sikap pasien hepatitis lebih baik sehingga mampu mengantisipasi penularan penyakit hepatitis. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data bulan Desember 2019-Januari 2020. Penelitian ini dilakukan di Poliklinik penyakit dalam RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Penelitian ini diperoleh sebanyak 53 pasien dengan karakteristik pasien didominasi berjenis kelamin laki-laki (58,5%), usia 46-55 tahun (45,3%), pendidikan sedang tingkat SMA (49,1%) dan pekerjaan swasta/wiraswasta (54,7%). Hasil analisa menunjukkan pengetahuan pasien tentang penyakit hepatitis di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri paling banyak yaitu kategori cukup sebesar 47,2%.Kata kunci: pengetahuan, hepatitis, pasien
Pengaruh Kepatuhan Terhadap Efektivitas Terapi Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Rs. Dr Oen Solo Baru Truly Dian Anggraini; Cahya Kusuma Dewi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.152 KB)

Abstract

Abstract : Diabetes Mellitus is a chronic disease that does not cause death directly, but fatal if notmanaged appropriately. Control of DM disease process is largely determined by the high treatment compliance to prevent any complications. This research is an analytic with cross sectional study done prospectively to population of 266 patients with type II diabetes mellitus in Internist policlinicDr. Oen Solo Baru hospital in November 2018 - January 2019 with a sampling technique is pusposive sampling. This study was conducted to determine the percentage of patients' adherence to treatment of type II diabetes mellitus provided and determine whether there is a correlation between the level of compliance therapy on the effectiveness of the therapy. From the research that has been done shows a high level of compliance (32.3%), moderate (50.4%) and low (17.3%). Characteristics of patients with type II DM obtained is aged 56-65 (45.9%), women (62.8%), basic education (65.4%), did not work (62.0%), experienced obese 1 (32 , 3%), disease duration 1-5 years (53.0%), with no family history of diabetes (69.9%), got support (74.1%), did not exercise (62.8%), using BPJS health (93.6%), got a combination of two drugs (48.9%), metformin + glimepiride (34.5%) had comorbidities (74.8%), one of comorbidities (34.2%), is hypertension (28.1%), From the research it can be concluded there is a correlation between the level of compliance therapy on the effectiveness of the therapy (p Value = 0.000).   Keywords : Diabetes mellitus type II, adherence to therapy, the effectiveness of the therapy Abstrak : Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tapi berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat. Proses kontrol terhadap penyakit DM sangat ditentukan oleh kepatuhan berobat yang tinggi untuk mencegah segala komplikasi. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan cross sectional yang dikerjakan secara prospektif tehadap populasi sebanyak 266 pasien DMtipe II di PoliklinikDalam RS. Dr Oen Solo Baru bulan Nopember 2018 - Januari 2019 dengan tehnik pengambilan sampel pusposive sampling. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persentase tingkat kepatuhan pasien DM tipe II terhadap terapi yang diberikan serta mengetahui ada tidaknya korelasi antara tingkat kepatuhan terapi terhadap efektivitas terapi. Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil tingkat kepatuhan tinggi (32,3%), sedang (50,4%) dan rendah (17,3%). Karakteristik pasien DM tipe II yang diperoleh yaitu berusia 56-65 (45,9%), perempuan (62,8%), pendidikan dasar (65,4%), tidak bekerja (62,0%), mengalami obes 1 (32,3%), lama sakit 1-5 th (53,0%), tanpa riwayat DM keluarga (69,9%), mendapat dukungan (74,1%), tidak olah raga (62,8%), menggunakan BPJS kesehatan (93,6%), mendapat kombinasi 2 obat (48,9%), terapi metformin + glimepiride (34,5%), memiliki penyakit penyerta (74,8%), satu penyakit penyerta (34,2%) yaitu hipertensi (28,1%). Dari penelitian dapat disimpulkan terdapat korelasi antara tingkat kepatuhan terapi terhadap efektivitas terapi (P value =0,000).Kata kunci: Diabetes mellitus tipe II, kapatuhan terapi, efektivitas terapi
Upaya Menurunkan Tingkat Kecemasan Melalui Aromaterapi Orange Pada Asuhan Keperawatan Pre Operasi Apendiktomi Vera Lusyana; Siti Sarifah; Ika Kusuma Wardani - Prodi DIII Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.091 KB)

Abstract

Abstract: In 2013 the number of people with appendicitis in Indonesia reached 591.819 people and increased in 2014 by 596.132 people. Management of appendicitis is an appendectomy (surgical therapy).  Anxiety in patients must be overcome because it can cause physiological changes that will hinder the handling of surgery. One of the best anxiety can be reduced by aromatherapy orange relaxation techniques. Objective : Identify the benefits of orange aromatherapy in reducing anxiety in patients pre appendectomy. The paper uses case study design. Located in RSUD Pandan Arang Boyolali, from January 20 to February 29, 2019. Methods of data collection using the method of observation, measurement, and documentation methods. Case study instrument uses format of medical surgical nursing care, nursing kit, Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SARS), orange aromatherapy relaxation technique SOP. Obtained a decrease in the scale of anxiety after being given orange aromatherapy. The first patient’s scale of anxiety from 51 to 42, experienced a 9 point decrease. The second patient’s scale of anxiety from 48 to 43, experienced a 5 digit decline. Patients from the three anxiety scale from 45 to 41, experienced a decrease in 4 numbers. From the research conducted, the results of aromatherapy orange relaxation techniques can reduce the level of anxiety in patients pre appendectomy. Orange aromatherapy can be used as an alternative in reducing the anxiety level of patients in preoperative appendectomy.Key words : Appendectomy, Anxiety, Orange Aromatherapy Abstrak: Tahun 2013 jumlah penderita apendisitis di Indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2014 sebesar 596.132 orang. Penatalaksanaan dari apendisitis adalah apendiktomi (terapi bedah). Pasien yang akan mengalami pembedahan umumnya disertai ansietas. Kecemasan pada pasien harus diatasi karena dapat menimbulkan perubahan-perubahan fisiologis yang akan menghambat dilakukannya tindakan operasi. Kecemasan dapat berkurang salah satunya dengan teknik relaksasi aromaterapi orange. Tujuan : Mengidentifikasi manfaat aromaterapi orange dalam menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Penelitian diskriptif ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan. Tempat studi kasus di RSUD Pandan Arang Boyolali, pada 20 Januari sampai dengan 29 Februari 2019. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, pengukuran, dan dokumentasi. Instrumen studi kasus ini menggunakan format asuhan keperawatan medikal bedah, nursing kit, lembar pengukuran Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SARS), SOP teknik relaksasi aromaterapi orange. Hasil : Didapatkan hasil adanya penurunan skala kecemasan setelah diberikan aromaterapi orange. Pasien pertama skala kecemasan dari 51 menjadi 42, mengalami penurunan 9 angka. Pasien kedua skala kecemasan dari 48 menjadi 43, mengalami penurunan 5 angka. Pasien ketiga skala kecemasan dari 45 menjadi 41, mengalami penurunan 4 angka Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil teknik relaksasi aromaterapi orange dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Aromaterapi orange bermanfaat dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi. Kata kunci: appendiktomi, aromaterapi orange, kecemasan
Efektifitas Pemberian Aromaterapi Peppermint Dengan Masalah Mual Dan Muntah Pada Ibu Hamil Trimester I Di Kelurahan Sukoharjo Tutik Rahayuningsih - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.409 KB)

Abstract

Abstract: Pregnancy is a physiological condition that can be followed by a pathological process that threatens the condition of both the mother and the fetus. During pregnancy, there can be problems that are not desired by a mother. Complaints in pregnant women, especially in trimester I that appear include nausea and vomiting, hypersalivation, dizziness, fatigue, heartburn, increased urination frequency, constipation and psychological complaints. Nausea and vomiting occur in 60-80% of first pregnant women (primigravida) and 40-60% in multigravida mothers. Excessive nausea and vomiting will affect the weight loss of pregnant women causing nutritional imbalances. One of the management of nausea and vomiting for pregnant women in the first trimester can be given non-pharmacological emetics, namely by giving peppermint aromatherapy. This study will describe the effect of peppermint aromatherapy on the incidence of nausea and vomiting in trimester I pregnant women. Methods: The research design was descriptive qualitative using the nursing process approach. The sampling technique was non-probability sampling with purposive sampling approach. The study population was 5 trimester I pregnant women with the inclusion criteria of first trimester pregnant women who experience nausea and vomiting with an intensity of ≥ 3 times a day, do not take medication from a doctor and do not have comorbidities. Results: the final implementation of peppermind aromatherapy to the 5 subjects experienced a decrease in the frequency of nausea and vomiting 3 - 6 times from before administration with a frequency of nausea and vomiting 5 - 9 times. The frequency of nausea and vomiting is 2-3 times after giving peppermind aromatherapy. There are no signs of malnutrition, increased appetite, mucous membranes are moist and not pale. Conclusion: Peppermint aromatherapy is effective for treating nausea and vomiting in trimester I pregnant women.Key words: peppermint aromatherapy, nutritional imbalance, nausea and vomiting, trimester I. Abstrak: Kehamilan adalah kondisi fisiologis yang dapat diikuti proses patologis yang akan mengancam keadaan ibu maupun janinnya. Masa kehamilan dapat terjadi masalah-masalah yang tidak diinginkan oleh seorang ibu. Keluhan pada ibu hamil terutama Trimester I yang muncul meliputi mual dan muntah, hipersalivasi, pusing, mudah lelah, dada terasa terbakar (heartburn), peningkatan frekuensi berkemih, konstipasi dan keluhan psikologis.  Mual dan muntah terjadi pada 60-80% ibu hamil pertama (primigravida) dan 40-60% pada ibu multigravida. Mual dan muntah yang berlebihan akan mempengaruhi penurunan berat badan ibu hamil yang menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi. Salah satu penatalaksanaan mual muntah untuk ibu hamil trimester I dapat diberikan emetik non - farmakologi yaitu dengan pemberian aromaterapi peppermint. Penelitian ini akan mendeskrepsikan pengaruh aromaterapi peppermint terhadap kejadian mual dan muntah pada ibu hamil trimester I Metode : Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan nursing process. Teknik pengambilan sampel non-probalility sampling pendekatan Purposive Sampling. Populasi penelitian adalah ibu hamil trimester I sebanyak 5 subjek dengan kriteria inklusi ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah dengan intensitas ≥ 3x dalam sehari, tidak mengkonsumsi obat dari dokter dan tidak mempunyai penyakit penyerta. Hasil : implementasi akhir dari pemberian aromaterapi peppermind ke - 5 subjek mengalami penurunan frekuensi mual dan muntah sebanyak 3 - 6 kali dari sebelum dilakukan pemberian dengan frekuensi mual dan muntah 5 - 9 kali. Frekuensi mual dan muntah menjadi 2 - 3 kali setelah dilakukan pemberian aromaterapi peppermind. Tidak ada tanda - tanda malnutrisi, nafsu makan meningkat, membran mukosa lembab dan tidak pucat. Kesimpulan: Pemberian aromaterapi peppermint efektif untuk mengatasi masalah mual muntah pada ibu hamil trimester I.Kata kunci: aromaterapi peppermint, ketidakseimbangan nutrisi, mual muntah, trimester I.
Penatalaksanaan Secara Konstruktif Dengan Crossword Puzzle Pasien Risiko Perilaku Kekerasan di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta Deden Dermawan - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.731 KB)

Abstract

Abstract: The risk of violent behavior is a condition in which a person takes action that can physically harm himself, others, and the environment. Symptoms of the risk of violent behavior are red face, tension, bulging eyes, clenched fists, clenched jaw, stiff body posture, loud talk, cursing with dirty words, throwing objects / other people attacking others and injuring themselves / people. The purpose of this study was to determine the crossword puzzle filling nursing management in controlling violent behavior in patients at risk of violent behavior. A qualitative descriptive research design with a nursing process approach. Population is patients at risk of violent behavior. The sampling technique was non-probability sampling with a purposive sampling approach with 4 research subjects with inclusion criteria of patients with a risk of violent behavior, and cooperative. The research instrument used interview guides, observation sheets, recorders, books and stationery. The analysis technique used interview transcripts and source triangulations. Data collection techniques by means of interviews, observation, and documentation study. The development of the 4 subjects after filling in the crosword puzzle for 2 weeks were as follows: 4 subjects wanted to fill in the easy question model and after being given the difficult question model the patient did not want to fill in and vent their emotions. Crossword puzzle is not effective for the risk of violent behavior.Keywords: crossword puzzle, risk of violent behavior Abstrak: Resiko perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Tanda gejala dari risiko perilaku kekerasan adalah muka merah, tegang, mata melotot, tangan mengepal, rahang mengatup, postur tubuh kaku, bicara keras, mengumpat dengan kata-kata kotor, melempar benda/orang lain menyerang orang lain melukai diri sendiri/orang. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui penatalaksanaan keperawatan pengisian crossword puzzle dalam mengendalikan perilaku kekerasan pada pasien resiko perilaku kekrasan. Desain penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan proses keperawatan. Populasi adalah pasien resiko perilaku kekerasan. Teknik pengambilan sampel non probalility sampling pendekatan purposive sampling dengan 4 subjek penelitian dengan kriteria inklusi pasien dengan resiko perillaku kekerasan, dan kooperatif. Instrumen penelitian menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi, perekam, buku dan alat tulis. Teknik Analisa menggunakan transkrip wawancara dan Trianggulasi Sumber. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Perkembangan 4 subjek setelah dilakukan pengisian crosword puzzle selama 2 minggu sebagai berikut:  4 subjek mau mengisi model soal mudah serta setelah diberikan model soal sulit pasien tidak mau mengisi serta meluapkan emosinya. Crossword puzzle tidak efektif untuk risiko perilaku kekerasan.Kata kunci: crossword puzzle, risiko perilaku kekerasan
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Makanan Jajanan terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku dalam Pemilihan Makanan Jajanan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Madegondo Grogol Novi Indah Aderita - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.303 KB)

Abstract

Abstract: Snack food is closely related to school-age children. Research result from the Indonesian Consumers Foundation (YLKI) stated that 98.7% of elementary school children enjoy consuming snacks at school. However, problems often arise from the use of hazardous substances in food, the behavior of children consuming unsafe snacks and the lack of parental supervision of childrens snack behavior. So a strategy is needed to determine the selection of healthy snacks, one of which is by providing health education. This study aims to analyze the effect of health education on increasing knowledge, attitude, and behavioral changes in the selection of snack foods in elementary school 01 Madegondo Grogol. The research design used a pre-post experiment with a pre-test and post-test design approach. The research was conducted in September-November 2019 at elementary school 01 Madegondo Grogol. The number of research subjects with a fixed exposure sampling subject technique. The technique of collecting data with a questionnaire. Data analysis using t-test. The result of this study are: based on the t-test carried out on the knowledge variable, the value of p = 0.000 is obtained, the value of the attitude variable is p=0.033, and the value for the behavior variable is p = 0.000. The results show that there is an effect of health education on increasing knowledge, attitude and behavior changes in the selection of healthy snack food which are proven to be statistically significant. Cooperation between the school and parent is needed to encourage children to behave in healthy lives.Keyword: Health Education, Knowledge, Attitude, Behaviour, Food Snack. Abstrak: Makanan jajanan erat kaitannya dengan anak usia sekolah.  Hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebutkan bahwa 98,7% anak Sekolah Dasar (SD) senang mengkonsumsi jajanan di sekolah. Namun seringkali timbul masalah penggunaan zat-zat berbahaya dalam makanan, perilaku anak mengkonsumsi jajanan yang tidak aman dan kurangnya pengawasan orang tua terhadap perilaku jajan anak. Sehingga diperlukan strategi untuk mengetahui pemilihan jajanan yang sehat, salah satunya dengan upaya memberikan pendidikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perubahan perilaku dalam pemilihan makanan jajanan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Madegondo Grogol. Desain penelitian menggunakan pre-post eksperimen dengan pendekatan pre test-post test desain. Penelitian dilaksanakan pada September – November 2019 di SDN 01 Madegondo. Jumlah subjek penelitian yang digunakan sejumlah 50 subjek dengan teknik pengambilan subjek fixed exposure sampling. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner. Analisis data menggunakan t test. Hasil penelitian ini adalah: berdasarkan uji t yang dilakukan pada variable pengetahuan didapatkan nilai p = 0.000, pada variabel sikap didapatkan nilai p = 0.033, dan pada variabel perilaku didapatkan nilai p = 0.000. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan perubahan perilaku dalam pemilihan makanan jajanan sehat yang terbukti secara statistic signifikan. Kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua diperlukan untuk mendorong anak berperilaku hidup sehat. Kata Kunci:  Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Makanan Jajanan
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian Tentang Hepatitis B Di Kabupaten Sragen Truly Dian Anggraini; Susilowati Susilowati; Risna Intan Melati-Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional
Indonesian Journal on Medical Science Vol 8 No 1 (2021): IJMS 2021
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.083 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B was a disease caused by hepatitis B virus infection and caused liver inflammation, and it can also resulted in chronic hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. The resulted of Riskesdas in 2013 showed that hepatitis prevalence in Indonesia in 2013 by 1,2% increased twice compared to Riskesdas in 2007, which amount to 0,6%. The most common type of hepatitis that infected the population of Indonesia is hepatitis B by 21,8%. According to research conducted by Ogundele et al. (2017), the precautioned of any disease was proportional to knowledge, behavior, and practiced, hence oversight that resulted in the transmission of disease can be reduced by having good knowledge. Pharmaceutical Technical Personnel was one part of the health labor that had a role in pharmaceutical services. The purpose of this study was to established the level of knowledge of Pharmaceutical Technical Personnel about hepatitis B in Sragen Regency. This researched was classified of non-experimental researched by divided questionnaires and then analyzed descriptively about each respondent's characteristics and analyzed for the predictor factors. A total of Pharmaceutical Technical Workers is 123, there are 103 people (83.74%) who had a good knowledge categorized, and as many as 20 people (16.26%) had a poor knowledge categorized about hepatitis B, and the respondent's labor was the most significant predictorns.Keywords : Knowledge, Hepatitis B, Pharmaceutical Technical Personnel, Predictor Factors  Abstrak: Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi virus hepatitis B dan menyebabkan inflamasi pada hati, dapat juga berakibat hepatitis kronis, sirosis, dan karsinoma hepatoselular. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,2% meningkat dua kali dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yang sebesar 0,6%. Jenis hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B sebesar 21,8%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ogundele, dkk (2017), pencegahan penyakit apapun adalah sebanding dengan pengetahuan, sikap, dan praktik dan karenanya kelalaian yang mengakibatkan tertularnya penyakit dapat berkurang dengan pengetahuan yang baik. Tenaga Teknis Kefarmasian merupakan salah satu bagian dari tenaga kesehatan yang mempunyai peran dalam pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian tentang hepatitis B di kabupaten Sragen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik tipe cohort, dengan menyebar kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif mengenai masing-masing karakteristik responden dan di analisa untuk faktor prediktornya. Sejumlah 123 Tenaga Teknis Kefarmasian, terdapat 103 orang (83,74%) yang memiliki kategori pengetahuan baik dan sebanyak 20 orang (16,26%) memiliki kategori pengetahuan kurang baik tentang hepatitis B, dan tempat bekerja responden merupakan faktor prediktor yang paling signifikan.Kata kunci : Pengetahuan, Hepatitis B, Tenaga Teknis Kefarmasian, Faktor Prediktor