cover
Contact Name
Indri Seta Septadina
Contact Email
jurnalfkunsri@gmail.com
Phone
+6281271637785
Journal Mail Official
jurnalfkunsri@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Jln dr. Mohammad Ali Komplek RSMH km 3,5 Palembang
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : 27467805     DOI : 10.32539
Core Subject : Health, Science,
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya is national conferences of medical sciences includes basic medical sciences (anatomy, physiology, histology, microbiology, biochemistry, pharmacology, and biology of medicine) and clinical medical sciences (internal medicine, obstetric gynecology, surgery, pediatric, ophthalmology, ear nose throat, dermatovenerology, anesthesiology, neurology, radiology, pathology anatomy and pathology clinic), and also public health medicine. Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya has eISSN 2746-7805.
Articles 104 Documents
ACTING EARLY TO PROTECT RENAL: BEYOND GLYCEMIC CONTROL OF SGLT2 INHIBITORS Yulianto Kusnadi
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.95

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is the leading cause of chronic kidney disease (CKD), accounting for almost half of all cases of kidney failure that necessitate replacement therapy. Cardiovascular disease (CVD) is the leading cause of death in patients with T2DM and CKD. To lower blood glucose levels by inhibiting glucose reabsorption in the proximal tubule, sodium/glucose cotransporter 2 inhibitors (SGLT2-i) were developed. Consistent reductions in risks for secondary kidney disease end points (albuminuria and a composite of serum creatinine doubling or 40% estimated glomerular filtration rate decline, kidney failure, or death) were recognized in clinical trials designed to demonstrate the CVD safety of SGLT2i in type 2 diabetes mellitus (T2DM), as well as reductions in CVD events. The DECLARE-TIMI58 (Dapagliflozin Effect on Cardiovascular Events-Thrombolysis in Myocardial Infarction 58, or DECLARE) trial in patients with T2DM, urinary albumin-creatinine ratio >300 mg/g, and estimated glomerular filtration rate of 30 to 90 mL/min/1.73 m2 established the kidney and CVD benefits of dapagliflozin in patients with CKD. SGLT2i boost glomerular hemodynamic function and are figured to augment other local and systemic processes that contribute to the development of CKD and CVD. According to latest Indonesian Society of Endocrinologist’s guideline, patients with T2DM was recommended to use SGLT2i to reduce their risk of CKD and CVD, in accordance with the clinical trial entry criteria. To achieve widespread use of these life-saving medications, effective implementation strategies are required.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI PARU PADA PASIEN COVID-19 Suly Auline Rusminan
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.96

Abstract

COVID-19 adalah penyakit sistemik akibat virus SARS-CoV-2. Penyebab utama kematian pasien COVID-19 adalah jejas paru akibat ARDS. Diffuse alveolar damage (DAD) adalah pola histopatologi utama yang ditemukan pada autopsi organ paru COVID-19. DAD terbagi menjadi 3 fase bergantung pada waktu kapan biopsi dikerjakan selama perjalanan penyakit. Fase akut/eksudatif terjadi selama minggu pertama sejak dimulainya jejas paru yang diikuti fase subakut/organizing dan beberapa kasus DAD masuk ke fase kronis/fibrotik. Gambaran histologi lain yaitu berupa jejas vaskuler paru berupa trombus dan mikrotrombus, inflamasi vaskuler, serta reaksi endotel.
DETEKSI DINI GLAUKOMA DAN TATALAKSANA GLAUKOMA PRIMER STADIUM LANJUT Prima Maya Sari
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.97

Abstract

Glaukoma stadium lanjut yang ditandai dengan adanya glaukomatous optik dan defek saraf optik yang berat memiliki resiko untuk terjadinya kebutaan permanen. Kebutaan permanen yang diawali dari defek lapang pandang berpengaruh terhadap kualitas hidup dan psikososial individu. Deteksi dini sebelum terjadinya glaukoma tahap lanjut dimulai dari skrining, anamnesis, pemeriksaan oftalmologis dan pemeriksaan penunjang diperlukan sehingga dapat menentukan tatalaksana awal yang tepat bagi pasien. Prinsip tatalaksana glaukoma stadium lanjut yaitu menurunkan tekanan intraokular (TIO) secara agresif, mengurangi fluktuasi variasi diurnal profil TIO yang berperan dalam melindungi kerusakan saraf optik dan mempertahankan lapang pandang. Penanganan secara holistik melalui aspek biopsikosospiritual (BPSS) juga dibutuhkan karena selain melibatkan aspek okular namun juga aspek biologis sistemik. Penanganan glaukoma stadium lanjut sangat bergantung pada pendekatan holistik dan personal yang akan melibatkan banyak komponen kesehatan.
THE POTENTIAL FOR AN INCREASE IN CHRONIC PAIN AFTER THE COVID-19 PANDEMIC Aidyl Fitrisyah
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.98

Abstract

Meskipun penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) paling sering bermanifestasi gejala pernapasan akut, satu gejala COVID-19 yang sangat umum adalah rasa nyeri. Karena COVID-19 sering menyebabkan komplikasi neurologis perifer atau pusat, diperkirakan sejumlah komplikasi nyeri kronis COVID-19 akan menjadi neuropatik. Tinjauan ini pertama-tama meneliti infeksi virus paling umum dengan komplikasi neurologis termasuk nyeri neuropatik. Komplikasi neurologis COVID-19 termasuk sindrom Guillain-Barre, mielitis, dan stroke ditinjau sehubungan dengan potensi risiko nyeri neuropatik kronis.
THE POST-PANDEMIC IMMUNITY DEBT IN CHILDREN: WHAT WE NEED TO KNOW Ariesti Karmila
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.99

Abstract

Implementasi protokol kesehatan yang ketat dalam bentuk intervensi non-farmakologis pada masa pandemi COVID-19 diakui telah memberikan dampak positif langsung dalam usaha pengendalian transmisi virus SARS-CoV2.  Selain menekan penularan COVID-19, pelaksanaan protokol kesehatan ternyata juga menurunkan insiden banyak penyakit infeksi lain. Namun, kombinasi dari adanya pembatasan sosial berskala besar di masyarakat yang panjang dan penerapan protokol kesehatan lain telah menurunkan kuantitas paparan fisiologis anak dengan berbagai berbagai mikroba di lingkungan secara bermakna. Padahal paparan inilah yang ikut menstimulasi dan membentuk sistem imunitas anak. Pandemi juga telah menimbulkan disrupsi besar pada angka cakupan imunisasi dasar. Sehingga menurunnya stimulasi imunitas akibat rendahnya sirkulasi mikroba yang diiringi dengan penurunan cakupan imunisasi telah menyebabkan timbulnya suatu fenomena yang dikenal dengan immunity debt. Banyak anak yang tidak mampu membangun imunitas terhadap berbagai mikroba yang pada saat sebelum pandemi sering terpapar secara alami. Saat ini dengan semakin terkendalinya COVID-19, berbagai restriksi telah dilonggarkan. Tetapi hal ini diikuti dengan timbulnya laporan peningkatan kasus berbagai penyakit infeksi selain COVID-19 sehingga timbul kekhawatiran akan terjadinya pandemi-pandemi baru akibat semakin besarnya proporsi anak yang rentan terhadap infeksi. Untuk mencegah hal tersebut, upaya vaksinasi kejar perlu diperkuat dan dipercepat. Monitoring dan surveilans kejadian penyakit infeksi lain di masyarakat harus dilakukan dengan baik. Selain itu, kebijakan pelaksanaan protokol kesehatan perlu diimbangi dengan penggunaan strategi lain yang masih memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk tetap terpapar dengan berbagai mikroba secara wajar sehingga dapat membangun sistem imunitas yang kuat.
SINDROMA NEUROLOGIS LONG-COVID; APA DAN BAGAIMANA MENANGANINYA Andika Okparasta
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.100

Abstract

‘Long-COVID’ merupakan gangguan kesehatan yang sering dialami pasien setelah sembuh dari COVID-19. ‘Long-COVID’ dapat terjadi pada kasus COVID-19 gejala ringan, sedang maupun berat, dan juga pada kasus asimptomatik. Sindrom ‘long-COVID’ dapat terjadi lebih dari 4 minggu. Berbagai sistem dapat terlibat pada ‘long-COVID’, termasuk sistem saraf dengan gejala yang timbul meliputi sistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi. Terdapat beberapa mekanisme yang mendasari patofisiologi terjadinya’long-COVID’, mekanisme tadi diawali oleh proses inflamasi yang terjadi pada awal infeksi. Belum ada panduan tatalaksana sindroma neurologis long-COVID sehingga tatalaksana sindroma neurologis long-COVID tergantung dari gejala yang ada.
NEUROPATI PERIFER SEBAGAI KOMPLIKASI NEUROLOGI PASCA INFEKSI COVID-19 Theresia Christin
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.101

Abstract

Severe acute respiratory syndrome (SARS-CoV-2) disebabkan virus COVID-19 telah menjadi pandemic yang mengancam jiwa dan mempengaruhi organ sistem saraf pusat dan perifer. Neuropati perifer adalah proses patologi mengenai susunan saraf perifer, meliputi kelemahan motorik, gangguan sensorik, otonom, dan melemahnya refleks tenon yang dapat bersifat akut atau kronik, berupa proses demielinisasi atau degenerasi aksonal atau keduanya. Sebanyak 400 Pasien COVID-19 dengan atau tanpa gejala neuromuscular dilakukan pemeriksaan elektrofisiologi prevalensi mencapai 56,3% dari semua pasien COVID 19. Gejala umum yang dilaporkan pada pasien dengan post–acute COVID-19 syndrome (PACS) adalah tanda - tanda keterlibatan sistem saraf perifer baik gejala sensorik (parestesia dan nyeri neuropatik) maupun gejala disautonomik serta sistem otot, seperti mialgia dan kelemahan. Mengingat manifestasi klinis neuropati perifer sangat bervariasi yang disebabkan oleh COVID 19  diperlukan evaluasi sistematis dan menyeluruh meliputi klinis, laboratorium penunjang dan tes elektrodiagnostik, agar dapat direncanakan terapi dengan baik.
HYPERBARIC OXYGEN THERAPY (HBOT) PADA PASIEN COVID-19 DAN POST-COVID-19 Rizal Zainal
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.102

Abstract

Pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh novel severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2), telah menyebabkan peningkatan rawat inap untuk pneumonia yang disertai dengan kegagalan fungsi organ. Sampai Januari 2022, lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia yang telah terinfeksi dengan SARS-CoV-2, mulai dari gejala ringan pada saluran pernapasan atas hingga yang membutuhkan perawatan intensif. Pilihan tatalaksana COVID-19 selain medikamentosa juga mempertimbangkan tatalaksana Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT). Sebelum digunakan pada terapi COVID-19, HBOT telah digunakan dalam berbagai macam indikasi seperti penyembuhan luka, efek terapi radiasi, fasitis nekrotikans, keracunan karbonmonoksida, dan diving decompression illness. Pada penderita COVID-19 dan post-COVID-19 yang ditatalaksana dengan HBOT beberapa penelitian menunjukkan berbagai macam perbaikan dalam resolusi gejala yang ada.
PENGENDALIAN MIOPIA PADA ANAK Ani Ismail
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.103

Abstract

Miopia adalah kelainan refraksi yang paling sering ditemukan dan merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan. Prevalensi miopia pada anak-anak meningkat di seluruh dunia dan paling tinggi ditemukan pada anak-anak keturunan Asia Timur. Di Cina, sebanyak 90% remaja dan dewasa muda mengalami miopia, sedangkan di Seoul, terdapat 96,5% remaja dan dewasa muda mengalami miopia. Miopia derajat tinggi telah dikaitkan dengan berbagai komplikasi, seperti ablatio retina, degenerasi makula, neovaskularisasi koroid, katarak, dan glaukoma. Risiko tersebut meningkat seiring dengan meningkatnya kecepatan progresivitas miopia dan pemanjangan aksial bola mata. Prevalensi yang semakin meningkat, morbiditas yang mungkin terjadi, serta beban biaya yang ditimbulkan, menyebabkan miopia telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, sehingga perlu dilakukan penatalaksaan yang cepat dan tepat terhadap kejadian miopia ini. Ada berbagai macam metode untuk mencegah progresivitas miopia yaitu dengan ortokeratologi (Ortho-K), instrumentasi (spectacle, contact lens), modifikasi lingkungan seperti meningkatkan aktivitas luar rumah dan paparan sinar matahari, atropin dosis rendah, dan terapi red-light tingkat rendah dikaitkan dengan upaya pencegahan progresivitas miopia ini. Atropin dosis rendah merupakan intervensi paling efektif untuk memperlambat perkembangan miopia, namun masih diperlukan studi lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan follow-up jangka panjang terkait progresivitas     miopia.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM TERKAIT KELAINAN HEMOSTASIS PADA POST-ACUTE CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) Phey Liana
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya Vol. 4 No. 1 (2022): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/confmednatalisunsri.v4i1.107

Abstract

Post-acute COVID-19 merupakan suatu kondisi yang merujuk pada gejala menetap pasca onset infeksi oleh SARS-CoV-2. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai kerusakan sistem organ, termasuk kelainan hematologi yang ditandai gangguan hemostasis. Proses tersebut diperantarai oleh kondisi hiperinflamasi yang dapat menyebabkan trombosis, tromboemboli, dan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC). Kelainan koagulopati pada kasus COVID-19 bersifat protrombotik dan menyebabkan gangguan baik pada jantung, vaskular, maupun alat bantu kedokteran (seperti kateter vena sentral dan extracorporeal membrane oxygenation/ECMO). Laboratorium klinis memiliki peranan penting untuk deteksi kelainan terkait koagulopati tersebut. Penanda utama koagulopati adalah D-Dimer. Peningkatan kadar D-dimer dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian. Selain itu, peningkatan sejumlah penanda lain seperti fibrinogen dan aPTT juga dapat dijumpai.

Page 10 of 11 | Total Record : 104