cover
Contact Name
Fatimah Nur Hidayah
Contact Email
fatimahnur.h@sttw.ac.id
Phone
+6285652004006
Journal Mail Official
fatimahnur.h@sttw.ac.id
Editorial Address
Kantor Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta Jl. Raya Solo Baki Km.2 Kwarasan, Solo Baru, Sukoharjo.
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Teknika
ISSN : 16936329     EISSN : 23373148     DOI : https://doi.org/10.52561/teknika
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknika merupakan jurnal ilmiah yang menyajikan artikel orisinal tentang pengetahuan dan informasi riset atau aplikasi riset dan pengembangan terkini dalam bidang teknologi. Ruang lingkup Jurnal Teknika meliputi Teknik Mesin, Teknik Elektro, Sistem Informasi, Teknik Industri dan Kimia Tekstil. Design Manufacture Konversi Energi Material Data analysis Artificial Intelligence Virtual Reality Information System Data mining Dessision Support System Instrumentation and Control Electrical (Power) Electronics Engineering Industrial Engineering Optimasi Sistem Produksi Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Penjadwalan dan Manajemen Operasi/Proyek Computer-Integrated Manufacturing System Sustainable Product Design and Manufacturing Penelitian Operasional dan Decision-Making Model Manajemen Teknologi Pengukuran Kerja, Faktor-Faktor Manusia dan Ergonomi Rekayasa dan Pengendalian Kualitas Sistem Logistik dan Supply Chain Management Perancangan dan Pengembangan Produk Concurrent Engineering Analisis Ekonomi Teknik Pemodelan Sistem dan Analisis Simulasi Perancangan Layout Fasilitas Reliability and Maintenance Engineering Sistem dan Teknologi Informasi Rekayasa Pelayanan (Service Engineering) Technopreneurship dan Inovasi Aplikasi Model Stokastik dalam Teknik Industri Aplikasi Metode Metaheuristik dalam Teknik Industri Jurnal ini merupakan sarana publikasi dan ajang berbagi karya riset dan pengembangannya di bidang teknologi. Pemuatan artikel di jurnal ini dialamatkan ke kantor editor. Informasi lengkap untuk pemuatan artikel dan petunjuk penulisan artikel tersedia di dalam setiap terbitan. Artikel yang masuk akan melalui proses seleksi mitra bestari dan/atau editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun (April dan Oktober).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 3 (2020): March 2020" : 8 Documents clear
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI MORDAN DAN WAKTU FIKSASI PADA PENCAPAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA ALAM KAYU TEGER (Cudrania javanensis) Oktavia Dewi Astuti; Subiyati Subiyati
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.45 KB)

Abstract

Ekstrak kayu teger terdapat senyawa pigmen tanin yang dapat memberikan warna kuning hingga coklat cerah. Pencapan dengan menggunakan zat warna alam belum banyak dilakukan di kalangan industri tekstil. Pemanfaatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan tekstil memiliki keunggulan diantaranya warna yang dihasilkan natural dan memiliki nilai jual tinggi. Kelemahan zat warna alam adalah ketuaan warna rendah, ketahanan luntur warna terhadap pencucian maupun gosokan rendah, dengan demikian perlu adanya proses mordan yang berfungsi sebagai jembatan antara zat warna alam dan serat supaya dapat berikatan dengan baik, sehingga meningkatkan ketuaan warna dan sifat tahan luntur warnanya. Proses fiksasi merupakan proses ikatan antara zat warna dengan serat, waktu fiksasi sangat mempengaruhi kekuatan ikatan zat warna dengan serat, dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi tawas dalam proses mordan dan waktu fiksasi pada nilai ketuaan warna, ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Pada proses mordan digunakan variasi konsentrasi 10, 20 dan30 gr/l dengan waktu fiksasi 10, 20 dan 30 menit. Hasil dari pengujian ketuaan warna didapatkan nilai ketuaan warna yang paling baik pada penggunaan mordan 20 gr/l dan waktu fiksasi 30 menit dengan arah warna kuning dan merah, dapat dikatakan bahwa warna yang dihasilkan kuning kecoklatan. Nilai uji perubahan warna terhadap pencucian paling baik pada penggunaan konsentrasi mordan 20 gr/l dan waktu fiksasi 30 menit dengan nilai 4-5 (Baik), penodaan warna terhadap pencucian rata-rata didapatkan nilai 5 (Sangat baik), uji penodaan warna pada gosok kering didapatkan nilai rata-rata 5 (Sangat baik) dan gosok basah 4-5 (Baik). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi mordan berpengaruh terhadap nilai ketuaan warna dan perubahan bahan terhadap pencucian dan tidak berpengaruh pada nilai uji penodaan warna terhadap pencucian dan uji gosok kering maupun basah. ABSTRACT Tense wood extract contains tannin pigment compounds that can give a yellow to bright brown color. Labeling using natural dyes has not been done much in the textile industry. Utilization of natural dyes for coloring textile materials has advantages including natural color produced and has a high selling value. Weaknesses of natural dyes are low color aging, color fastness to washing and low rubbing, thus the need for a mordan process that functions as a bridge between natural dyes and fibers in order to bind well, thereby increasing color aging and color fastness. The fixation process is a bonding process between dyes and fibers, fixation time greatly affects the strength of the dye bond with fibers, thus this study aims to determine the effect of variations in alum concentration in the mordan process and fixation time on the value of color aging, color fastness to washing and rubbing. In the mordan process variations of 10, 20 and 30 gr / l are used with fixation times of 10, 20 and 30 minutes. The results of the color aging test showed that the best color aging value was the use of mordan 20 gr / l and the fixation time of 30 minutes in the direction of the yellow and red colors, it can be said that the resulting color was brownish yellow. The color change test for washing is best for the use of mordan concentration of 20 gr / l and a fixation time of 30 minutes with a value of 4-5 (Good), the color staining of washing on average is obtained a value of 5 (Very good), color staining test on rubbing dry values ??obtained an average of 5 (Very good) and wet rub 4-5 (Good).This study can be concluded that the use of variations of mordan concentration affects the value of color aging and changes in the material on washing and does not affect the value of color staining test for washing and dry or wet scrub test.
STUDI EKSPERIMEN PENGARUH JUMLAH LUBANG NOSEL INJEKTOR TERHADAP PERFORMA MESIN SEPEDA MOTOR Muhammad Vendy Hermawan; Angga Eka Winarta
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.613 KB)

Abstract

Penggunaan teknologi injeksi bahan bakar pada mesin sepeda motor sudah banyak diaplikasikan oleh perusahaan otomotif untuk meningkatkan efisiensi kendaraan. Teknologi injeksi bahan bakar (Full injection System) merupakan teknologi yang digunakan untuk mencampur bahan bakar dengan udara sebelum masuk ke ruang bakar dan selanjutnya menyemprotkannya dengan tekanan tertentu. Sistem ini menggunakan beberapa sensor untuk menakar jumlah bahan bakar dan mengatur waktu penyemprotan yang tepat. Sehingga lebih meningkatkan tenaga mesin jika dibandingkan dengan mekanisme karburator. Komponen penting dalam sistem injeksi bahan bakar adalah Injektor. Injektor berfungsi untuk menyemprotkan dan membuat bahan bakar tercampur secara homogen sehingga dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi serta memberikan tenaga yang lebih besar. Performa sepeda motor yang tangguh dapat dilihat dari seberapa besar dan efisiensi tenaga dan torsi kendaraan. Untuk meningkatkan performa sepeda motor salah satu caranya adalah dengan memperbaiki proses injeksi bahan bakar dalam proses pembakaran sehingga terjadi pembakaran yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah lubang pada nosel injektor terhadap nilai tenaga dan torsi pada sepeda motor berdasarkan putaran mesin. Objek penelitian adalah sepeda motor 4 langkah dengan sistem injeksi bahan bakar, bahan bakar menggunakan pertalite Ron 90. Variasi penelitian adalah perbedaan jumlah lubang pada nosel injektor meliputi nozel 6 lubang (original bawaan pabrik), 4 lubang dan 8 lubang. Pengujian dilakukan menggunakan dynotest. Data yang diperoleh berupa grafik yang memuat nilai tenaga dan torsi masing-masing nosel injektor pada setiap putaran mesin.. Hasilnya, penggunan nosel injektor 8 lubang menghasilkan daya maksimum sebesar 5,00 hp pada putran 5500 rpm dan torsi maksimum sebesar 4,84 ft-lbs pada putaran 5000 rpm. Untuk injector 6 lubang menghasilkan daya maksimum sebesar 7,42 hp pada putran 6500 RPM dan torsi maksimum sebesar 5,89 ft-lbs pada putaran mesin 6500 RPM. Nosel injektor 4 lubang memiliki daya maksimum 6,3 Hp pada putaran 6500 rpm dan torsi maksimum 5,8 ft-lbs pada putaran 6000 rpm. ABSTRACT The application of fuel injection technology in motorcycle engines has been widely applied by automotive companies to improve vehicle efficiency. Fuel injection technology (Full injection System) is a technology used to mix fuel with air before entering the combustion chamber and then spray it with a certain pressure. This system uses several sensors to measure the amount of fuel and set the correct spraying time. So as to increase engine power when compared with the carburetor mechanism. An important component in a fuel injection system is the injector. The injector sprays and makes the fuel mixed homogeneously so as to increase fuel efficiency, reduce pollution and provide more power. Robust motorcycle performance can be seen from how big of the power and torque efficiency of the vehicle. One way to improve motorcycle performance is to improve the fuel injection process in the combustion process so that good combustion occurs. This study aims to determine the effect of the number of holes on the injector nozzle on the value of power and torque on a motorcycle based on engine rotation speed. The object of research is a 4-step motorcycle with a fuel injection system, fuel using the Ron 90 pertalite. Variation of the study is the difference of the holes number in the injector nozzle including 6-hole nozzles (factory default), 4 holes and 8 holes. Testing is done using dynotest. The data obtained in the form of a graph that contains the value of power and torque of each injector nozzle at each engine speed. As a result, the use of an 8 holes injector nozzle produces a maximum power of 5.00 hp at 5,500 rpmand a maximum torque of 4, 84 ft-lbs at 5,000 rpm. For 6-holes injector produces a maximum power of 7.42 hp at 6500 rpm and maximum torque of 5.89 ft-lbs at 6,500 rpm. The 4-holes injector produces a maximum power of 6,3 hp at 6500 rpm and maximum torque of 5.8 ft-lbs at 6,000 rpm.
PREDIKSI TEGANGAN DAN DISPLACEMENT PADA DESAIN ULANG POINT RIPPER DOZER D85E-SS-2 OLEH BEBAN VERTIKAL DENGAN SIMULASI METODE ELEMEN HINGGA Agung Supriyanto; Muhammad Vendy Hermawan
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.267 KB)

Abstract

Dozer memiliki komponen point ripper yang berfungsi untuk menembus ke dalam tanah berupa cakar yang dipasang di belakang unit. Penggarukan merupakan metode pembongkaran massa batuan secara mekanis. Prinsip kerjanya adalah menembus ripper ke dalam massa batuan. Kondisi kekerasan tanah dan batuan ini menyebabkan point riper mengalami gesekan, gaya tekan dan beban kejut yang menyebabkan kerusakan berupa keausan. Penggunaan metode Computer Aided Engineering (CAE) dapat menganalisis perilaku mekanik model desain untuk memahami dan menguji kemampuan kinerja dari desain yang dibuat. CAE dapat menggambarkan distribusi tegangan dan perpindahan baik secara grafis maupun numerik. Tegangan von miss maksimum yang bekerja pada model untuk sudut 160o adalah 1,73.107 N / m2, sudut 165o adalah 1,72.107 N / m2, dan sudut 170o adalah 1,73.107 N / m2. Perpindahan maksimum yang bekerja pada model untuk sudut 160o adalah 2,14 mm, sudut 165o adalah 2,12 mm, dan sudut 170o adalah 0,00704 mm. Distribusi tegangan terkecil disepanjang titik pengamatan adalah desain dengan sudut 160o sebesar 2,38.103 N / m2 dan tegangan terbesar adalah desain dengan sudut 170o sebesar 2,83.103 N / m2. Distribusi displasemen terkecil sepanjang titik pengamatan adalah desain dengan sudut 170o sebesar 1, 82.10-6 mm dan tegangan terbesar adalah desain dengan sudut 165o sebesar 4.61.10-4 mm. ABSTRACT Dozers have a point ripper component that serves to penetrate into the ground in the form of claws that are attached behind the unit. Scratching is a method of dismantling rock mass mechanically. the principle works is to penetrate the ripper into the rock mass. This hardness of soil and rock conditions causes the point riper to experience friction, compressive force and shock loads which cause damage in the form of wear and tear. The use of Computer Aided Engineering (CAE) methods can analyze the mechanical behavior of a design model to understand and test the performance capabilities of the designs created. CAE can describe the distribution of stresses and displacments both graphically and numerically. Maximum von misses stress acting on the model for 160o angle is 1,73.107 N / m2, 165o angle is 1,72.107 N / m2, and 170o angle is 1,73.107 N / m2. The maximum displacement acting on the model for 160o angle is 2,14 mm, 165o angle is 2,12 mm, and 170o angle is 0,00704 mm. The smallest stress distribution along the observation point is a design with an angle of 160o of 2,38.103 N / m2 and the largest stress is a design with an angle of 170o of 2,83.103 N / m2. The smallest displacement distribution along the observation point is a design with an angle of 170o of 1, 82.10-6 mm and the biggest stress is the design with an angle of 165o of 4.61.10-4 mm.
PENINGKATAN KUALITAS IMPERFECTION INDICATOR (IPI) BENANG P/C Ne1 45 PADA MESIN RING SPINNING TOYODA MODEL RY DENGAN SETTING VARIASI DIAMETER RING FLANGE DAN NOMOR TRAVELLER Tulus Basuki Wijaya; Sulistyadi Sulistyadi
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.623 KB)

Abstract

Industri tekstil dan Produk tekstil berkembang cukup pesat sehingga persaingan juga semakin ketat, tidak terkecuali di industri pemintalan benang. Masalah mutu sering menjadi momok bagi perusahaan dalam memasarkan produknya yaitu berupa benang tenun atau benang rajut. Peningkatan kualitas merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan untuk mengangkat nilai produk melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi dengan tujuan untuk mengurangi variabilitas suatu proses dengan mengurangi produksi yang cacat . Mutu benang terdiri dari banyak aspek, salah satunya nilai IPI (Imperfection Indicator) yang meliputi Thin, Thick dan Neps. Jika IPI suatu benang nilainya rendah, maka semakin baik mutu benang tersebut dan sebaliknya. Salah satu cara agar memperoleh mutu benang yang baik bisa dilakukan dengan menvariasikan diameter Flange Ring dan nomor Traveler pada mesin Ring Spinning. Dari hasil eksperimen dengan cara memvariasikan flange ring dan traveler maka diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap IPI pada benang P/C Ne1 45 di mesin Ring Spinning Toyoda adalah diameter flange ring dan nomor traveller yang digunakan. Diameter Flange Ring yang lebar akan membuat jarak tempuh traveler yang berputar diatas flange ring menjadi lebih jauh atau panjang, hal ini menyebabkan perlakuan terhadap material yang diteruskan akan menjadi berlebihan. Disinilah akan didapatkan transisi penebalan dan penipisan penampang benang maupun neps. Demikian juga dengan pemilihan nomor traveller yang tepat berpengaruh terhadap kualitas benang yang dihasilkan. Pengurangan dan penambahan nomor traveller mengakibatkan tension benang berubah, tidak jarang juga menyebabkan terjadinya putus pada material yang diteruskan. Variasi setting antara flange ring dan traveller yang sesuai untuk proses benang P/C Ne1 45 yaitu diameter flange ring 42 mm dengan traveller nomor 5/0 type em udr. ABSTRACT The textile industry and textile products are growing quite rapidly so that competition is also getting tougher, including in the yarn spinning industry. Quality problems are often a scourge for companies in marketing their products in the form of weaving or knitting yarns. Quality improvement is an action that must be taken to increase product value through increasing effectiveness and efficiency with the aim of reducing the variability of a process by reducing defective production. Yarn quality consists of many aspects, one of which is the IPI (Imperfection Indicator) value which includes Thin, Thick and Neps. If the IPI of a yarn is low, the better the quality of the yarn and vice versa. One way to get good yarn quality can be done by varying the Ring Flange diameter and the Traveler number on the Ring Spinning machine. From the experimental results by varying the ring flange and traveler, it is known that the factors that affect the IPI on the P / C Ne1 45 yarn in the Toyoda Ring Spinning machine are the diameter of the flange ring and the number of the traveler used. The wide diameter of the Flange Ring will make the travel distance of the traveler who rotates on the flange ring to be further or longer, this causes the treatment of the material being carried on to be excessive. This is where the thickening and thinning transitions of the thread and neps sections will be obtained. Likewise, choosing the right traveler number affects the quality of the yarn produced. The reduction and increase in the number of the traveler causes the thread tension to change, often causing breaks in the material being carried. Variation in setting between flange ring and traveler suitable for P / C thread Ne1 45, namely ring flange diameter 42 mm with traveler number 5/0 type em udr.
DESAIN BENDING DETECTOR PADA MATERIAL KOMPOSIT DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR SERAT OPTIK Fatimah Nur Hidayah; Totok Wartiono; Kusnanto Mukti Wibowo; Petrus Heru Sudargo
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.13 KB)

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pengembangan material baru untuk memperkuat struktur material yang sudah rusak telah meningkat dengan cepat. Banyak negara berkembang mengajukan permintaan untuk meningkatkan struktur material komposit yang ada. Pengembangan material smart concrete dalam hal infrastruktur sangat penting agar pembangunan negara tetap berjalan. Pada penelitian ini akan digunakan material komposit sebagai spesimen uji tegangan maksimum dan minimum. Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sistem detektor lentur pada material komposit dengan menggunakan sensor serat optik. Dalam hal ini didapatkan karakteristik cahaya serat optik pada material komposit. Material komposit terdiri dari Aluminium (Al) dan Baja Karbon - SS 400. Ukuran benda uji adalah 290 mm x 72 mm x 12 mm. Perlakuan pada penelitian ini menggunakan pembengkokan makro dan pembebanan pembengkokan maksimal 5 x 105 N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat nilai pembebanan mencapai 40 x 105 N nilai atenuasi sensor serat optik mendekati 2,5 dB. Namun bila beban tekukan melebihi nilai tersebut maka atenuasi serat optik semakin meningkat. Dapat dirincikan bahwa beban tekuk 39,91 x 105 N dan 40,14 x 105 N dengan atenuasi 2,95 dB dan 3,08 dB merupakan nilai sensitivitas. Dari hasil perhitungan nilai sensitivitas sensor adalah 0,54 dB / N. ABSTRACT In recent years, the demand for developing new materials to reinforce the structure of damaged materials has increased rapidly. Many developing countries have made requests to improve the existing composite material structures. The development of smart concrete materials in terms of infrastructure is very important so that the country's development continues. In this study, composite materials will be used as the maximum and minimum stress test specimens. The purpose of this research is to build a flexible detector system on a composite material using a fiber optic sensor. In this case, the fiber optic light characteristics are obtained in the composite material. Composite materials consist of Aluminum (Al) and Carbon Steel - SS 400. The size of the specimen is 290 mm x 72 mm x 12 mm. The treatment in this study used macro bending and a maximum bending loading of 5 x 105 N. The results showed that when the loading value reached 40 x 105 N the attenuation value of the optical fiber sensor was close to 2.5 dB. However, if the bending load exceeds this value, the optical fiber attenuation increases. It can be specified that the bending loads of 39.91 x 105 N and 40.14 x 105 N with an attenuation of 2.95 dB and 3.08 dB are the sensitivity values. From the calculation of the sensor sensitivity value is 0.54 dB / N.
KEMAMPUAN KERJA RELAI ARUS LEBIH TERHADAP BEBAN LEBIH PADA SISTEM KETENAGALISTRIKAN PADA GARDU INDUK KABUPTEN KARANGANYAR Maju Binoto; Pius Sriwinarno; Fariyono Fariyono
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.644 KB)

Abstract

Kualitas listrik yang jelek menjadi masalah yang sangat penting sekali di berbagai bidang antara lain :industri, perhoelaan, perkantoran dn lain-lain. Oleh karena listrik bisa dikatakan sebagai salah satu kebutuhan utama bagi penunjang dan pemenuhan kebutuhan hidup para pelangan listrik. Penyediaan energi yang handal dan berkualitas bagus tidak lepas dari adanya kualitas suatu sistem tenaga listrik. Adanya gangguan yang terjadi pada transformator dapat menghambat proses penyaluran energi listrik ke konsumen.Oleh karena itu, sistem proteksi yang handal sangat dibutuhkan untuk melindungi transformator dari gangguan. Relai arus lebih SPAJ 140C merupakan salah satu relai proteksi cadangan yang digunakan oleh pihak PLN untuk menjaga transformator 150/20 kV (30 MVA) yangada di gardu induk Palur Kabupaten Karanganyar dari gangguan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kerja relai arus lebih SPAJ 140C sebagai relai cadangan dalam melindungi transformator.Penelitian ini memberikan hasil bahwa dengan besar gangguan beban lebih 41 MW dan arus lebih yang mengalir pada transformator sebesar 175.593 A, rely SPAJ 140C dapat bekerja dalam waktu 21,11 detik. Nilai arus gangguan yang mengalir pada transformator tersebut merupakan nilai yang sangat kecil, maka relay SPAJ 140C pun bekerja dalam waktu yang lama. ABSTRACT The poor quality of electricity is a very important problem in various fields, including: industry, hospitality, offices and others. Therefore, electricity can be said to be one of the main needs for supporting and fulfilling the needs of electricity customers. The supply of reliable and good quality energy cannot be separated from the quality of an electric power system. Any disturbance that occurs in the transformer can hinder the process of distributing electrical energy to consumers. Therefore, a reliable protection system is needed to protect the transformer from interference. The SPAJ 140C overcurrent relay is one of the backup protection relays used by PLN to protect the 150/20 kV (30 MVA) transformer at the Palur substation in Karanganyar Regency from interference. The purpose of this study was to determine the working ability of the SPAJ overcurrent relay. 140C as a backup relay in protecting the transformer. This research gives the result that with a large disturbance of 41 MW overload and 175,593 A overcurrent flowing in the transformer, Rely SPAJ 140C can work in 21.11 seconds. The value of the fault current flowing in the transformer is a very small value, so the SPAJ 140C relay also works for a long time.
ANALISA UJI TARIK LAS SMAW TERHADAP SAMBUNGAN SQUARE BUTT JOINT DENGAN VARIASI KETEBALAN PLAT ST 37 Edy Suryono; Bambang Teguh Baroto; Peter Setiawan
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.23 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa sambungan las square butt joint terhadap beberapa variasi ketebalan plat dengan uji tarik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dan dilaksanakan di laboratorium pengujian bahan Akademi Teknologi Warga Surakarta, menggunakan material St 37 dengan las SMAW dan elektroda yang digunakan AWS E6013 diameter elektroda 2,6 mm dan tegangan arus sebesar 85 Ampare. Hasil pengujian uji tarik yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa spesimen 3 mm yang di las menggunakan sambungan las square butt joint, patahan terjadi di daerah gage length karena hasil pengelasan tertutup penuh dan tegangan minimum yang diperoleh 396,82 N/mm2. Pada spesimen 5 mm yang di las menggunakan sambungan las square butt joint, tegangan maksimum yang diperoleh sebesar 594,40 N/mm2, sedangkan pada spesimen 7 mm tegangan mengalami penurunan sebesar 6,48 % dan dari hasil uji tarik oleh spesimen 5 mm dan 7 mm, patahan terjadi pada sambungan las. Pada sambungan las spesimen 7 mm terlihat dari hasil pengelasan ada rongga atau celah. Hal ini menunjukkan bahwa lasan tidak penuh. ABSTRACT This study was conducted to analyze the square butt joint of several variations in plate thickness with a tensile test. The method used in this research is an experimental method and is carried out in the laboratory for testing the materials of the Surakarta Citizens' Academy of Technology, using the St 37 material with SMAW welding and the electrode used is AWS E6013 electrode diameter of 2.6 mm and a current voltage of 85 Ampare. The results of the tensile test that have been carried out can be seen that the 3 mm specimen that was welded using a square butt joint, the fracture occurred in the gage length area because the welding results were fully closed and the minimum stress obtained was 396.82 N / mm2. In 5 mm specimens that were welded using a square butt joint, the maximum stress obtained was 594.40 N / mm2, while in 7 mm specimens the stress decreased by 6.48% and from the tensile test results by 5 mm and 7 specimens. mm, the fracture occurs at the weld joint. At the 7 mm specimen weld joint, it can be seen from the welding results that there is a cavity or gap. This indicates that the weld is not full.
WIRELESS POWER TRANSFER SYSTEM MENGGUNAKAN MAGNETIC RESONANT COUPLING Roedy Kristiyono; Bambang Supriyanto
Teknika Vol 6 No 3 (2020): March 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.897 KB)

Abstract

Saat ini listrik adalah kebutuhan utama manusia, tetapi kemudian muncul masalah untuk memenuhi energi listrik dengan sejumlah kabel yang digunakan untuk mentransfer energi listrik dari sumber ke beban. Kelemahan lainnya adalah pemasangan kabel yang tidak rapi dan kehilangan daya listrik pada transmisinya. Transfer energi listrik secara nirkabel memiliki beberapa kelebihan yang dapat meminimalkan beberapa masalah dalam penggunaan kabel. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mengirimkan energi listrik tanpa kabel dengan cara medan elektromagnetik resonansi induktif. Ada dua buah gulungan tembaga yang digunakan untuk menghasilkan resonansi induktif bersama. Transfer daya nirkabel terdiri dari dua sirkuit utama. Satu sebagai sirkuit pemancar dan yang lainnya sebagai sirkuit penerima. Sirkuit pemancar terdiri dari transformator stepdown, penyearah, amplifier dan koil pemancar. Sirkuit penerima terdiri dari dari koil penerima dan penyearah serta beban dc. Realisasi penelitian menyatakan bahwa tegangan dalam bentuk Vdc dan arus yang dikirm berada dalam kisaran mA dengan frekuensi yang beragam dengan menghasilkan jarak daya yang terkirim berbeda beda antara 0 cm – 30 cm.

Page 1 of 1 | Total Record : 8