cover
Contact Name
Rahmiyati
Contact Email
hutantropisunlam@gmail.com
Phone
+6281348623216
Journal Mail Official
hutantropisunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL HUTAN TROPIS
ISSN : 23377771     EISSN : 23377992     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jht.v10i2
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah blind peer-reviewed yang mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan mencakup kajian manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan.
Articles 589 Documents
KAJIAN NILAI GIZI TEPUNG BUAH NIPAH (Nypa fruticans WURMB) SEBAGAI TEPUNG SUBSTITUSI Rosidah R. Radam; Noor Mirad Sari; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i3.7583

Abstract

Buah Nipah merupakan hasil hutan yang berlimpah dan bersifat musiman. Buah Nipah pada tingkat kematangan tua dapat diolah  menjadi tepung buah untuk digunakan dalam pembuatan roti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nilai gizi apa saja yang terkandung tepung buah nipah yang tumbuh pada 3 (tempat yang berbeda tiga). Pengujian nilai gizi  tepung buah nipah dilakukan di Balai Laboratorium Standarisasi Industri Banjarbaru dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan Kalimantan Selatan. Rata-rata nilai gizi tepung nipah dari hasil penelitian adalah rata rata kadar air  5,57%, kadar abu 2,35%, protein 4,23, karbohidrat 52,14%, serat kasar 24,14%, lemak 1,06% , nilai kalori 226,29 kal / 100 gr, seng 17,13 mg / kg dan besi 405,32 mg / kg. Parameter uji Nilai gizi tepung nipah yang memenuhi standar SNI 3751: 2009 adalah kadar air, dan Zat Besi, dar air, Rata-rata kadar besi dan  kadar protein tidak memenuhi standar,   sedangkan karbohidrat, lemak dan serat tidak dipersyaratkan Parameter Seng dan protein tidak memenuhi standar karena nilainya di bawah . Nilai gizi tepung nipah Dibandingkan dengan tepung segitiga biru,  rata-rata kadar protein dan karbohidrat tepung buah nipah lebih rendah, Tepung buah nipah mengandung karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi, kadar lemak rendah, kadar serat kasar  dan kadar besi yang sangat  tinggi. Oleh karena itulah maka  tepung buah nipah ini dapat dijadikan sebagai tepung substitusi tepung terigu
ANALISIS PENGERINGAN TIGA JENIS KAYU TERHADAP PENYUSUTAN VOLUMETRIS SORTIMEN BOARD Henni Aryati
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i32.1586

Abstract

ABSTRACT. Volumetric shrinkage sortimen boards and squares to ramin's smallest obtained at harike 5 i.e. the drying time of 9.49% and day 7 of 12.95% whereas squares day 5 of 6,29% and day 7 sebasar 11,65%.  Likewise , for keruing time pengeringan5 the smallest and the biggest b7 penyusutannya.penyusutan meranti merah everythinglooks smaller than meranti and keruing . Drying of timber day to six of each type of wood are among the time of day and drying 5 to 7. The time of drying 5 days of shrinkage kayu has stabilized means kayu 's been in field of shrinkage the outside to the inside of wood , so the longer time drying used the percentage of shrinkage tending to be high . Shrinkage volumetris the largest for that is kind of wood boards sortimen keruing , as for sortimens squares on kinds of wood with long ramin drying 7 daysKeywords: Drying, Volumetric, Depreciation, ABSTRAK.  Penyusutan volumetrik sortimen boards dan squares untuk ramin yang terkecil diperoleh pada waktu pengeringan  harike 5  yaitu sebesar 9,49 % dan hari ke 7 sebesar 12,95 % sedangkan squares hari ke 5 sebesar 6,29 % dan hari ke 7 sebasar 11,65 %. Demikian  juga untuk keruing, waktu pengeringan5 terkecil dan hari ke 7 terbesar penyusutannya.Penyusutan meranti merah terlihat lebih kecil dibandingkan meranti dan keruing. Pengeringan kayu hari ke 6 dari masing-masing jenis kayu berada diantara waktu pengeringan hari ke 5 dan ke 7Waktu pengeringan 5 hari penyusutan kayu sudah stabil artinya kayu sudah mengalami penyusutan yang merata bagian luar sampai bagian dalam kayu, sehingga semakin lama waktu pengeringan yang digunakan persentase penyusutan cenderung semakin besar. Penyusutan volumetris yang terbesar untuk sortimen boards yaitu jenis kayu keruing, sedangkan untuk sortimens squares pada jenis kayu ramin dengan lama pengeringan 7 hari.Kata Kunci:Pengeringan, Volumetris, Penyusutan
TINGKAT BAHAYA EROSI DALAM RANGKA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI SUB-SUB DAS RIAM KIWA KABUPATEN BANJAR Agung Hananto; Muhammad Ruslan; Syarifuddin Kadir
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i2.14119

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis variasi Tingkat Bahaya Erosi  yang diduga terjadi, dan merumuskan upaya rehabilitasi hutan dan  lahan berdasarkan variasi Tingkat Bahaya Erosi di Sub-Sub DAS Riam Kiwa Kabupaten Banjar.  Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan cara observasi, pengamatan lapangan terhadap data biofisik, serpeti vegetasi, lahan dan data iklim.  Data dianalisis menggunakan model USLE, Tabulasi dan Content Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TBE relatif bervariasi, dari TBE I-R (Ringan), II-S (Sedang), III-B (Berat) dan IV-SB (Sangat Berat). Luas TBE tergolong I-R (Ringan), II-S (Sedang) penutup lahan HLKS dan TBE II-S (Sedang) penutup lahan PLK UL-06 sebesar  2.798,81 ha (26,42%).  Luas TBE tergolong III-B (Berat), IV-SB (Sangat Berat) penutup lahan PLK (kecuali UL-06), SBK, LTB  sebesar 7.796,5 ha (73,58%). Arahan rehabilitasi hutan dan lahan yang direkomendasikan terdapat 4 (empat) kelompok: a) Penutup lahan HLKS UL-01, UL-02 tetap dipertahankan sebagai HLKS dengan pemeliharaan (tindakan silvikulture) 238,75 ha, b) PLK UL-06 tetap dipertahankan sebagai PLK dengan pemeliharaan (penanaman menurut garis kuntor dan menggunakan teras guludan) 2.560,24 Ha, c) Penutup lahan  SBK UL-03, UL-04 1.063,47 ha dan PLK UL-07, UL-08 5.449,21 ha dikonversi menjadi Agroforestry dan d) Penutup lahan  SBK UL-05 400,70 ha, penutup lahan PLK UL-09 423,66 ha dan LTB UL-10, UL-11, UL-12  883,27 ha dikonversi menjadi Hutan Tanaman dengan kegiatan Reboisasi. Agroforestry dan Reboisasi diikuti dengan metode mekanik, seperti  pembuatan teras guludan dan  penanaman menurut garis kontur
KOMPOSISI GUILD KOMUNITAS BURUNG DI AREA PANAS BUMI CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAMKAMOJANG JAWA BARAT INDONESIA Diyah Kartikasari; Satyawan Pudyatmoko; Novianto Bambang Wawandono; Pri Utami
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i2.5400

Abstract

This study aims to investigate the response of Bird Communities Guild Composition in Geothermal Area Kamojang Nature Reserve and Kamojang Nature Park West Java Indonesia. We compared the number of species, the number of individuals and the composition of bird guilds of directly affected (DL) and not affected (TL) in Kamojang geothermal working area, Kamojang nature reserve and Kamojang nature park in Bandung regency of West Java Province. The directly affected sites were surrounding production wells or geothermal power plants (30 samples) whereas indirectly affected sites were with distance of 3,000 m to 9,000 m from those facilities (42 samples). The data collection was carried out during two seasons; dry and rainy season in (2015-2016). We collected bird community data with the point count method which was placed systematically on each site. We found 124 bird species in CA / TWA Kamojang and 90 species (1560 individuals) of birds at the sample point. The number of species and the number of individual in TL locations is greater than the DL (DL locations = 65 species, 525 individuals; TL sites = 72 species, 1035 individuals). There is a difference of responses between bird communities in the DL and TL sites which is indicated by differences in the mean number of species and number of individuals in each point count.The mean number of species and the number of individual birds per point count in the TL location is greater than DL.The CA / TWA area of Kamojang has seven bird guilds: insectivores, frugivores, granivores, nectarivores, carnivores, piscivores and omnivores. The results of the significance test on the number of species and the number of individuals per guild showed no significant differences between the DL and TL sites, but the birds in DL were commonly found (generalists) and birds found in TL sites were mostly specialist. This proves that the TL location has better environmental conditions or relatively undisturbed.Penelitian ini bertujuan untuk menguji komposisi guild komunitas burung di Area Panas Bumi Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kamojang. Penulis membandingkan jumlah jenis, jumlah individu dan komposisi guild burung pada lokasi yang terdampak langsung (DL) dan tidak terdampak langsung (TL) di Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang, Cagar Alam Kamojang dan Taman Wisata Alam Kamojang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Lokasi yang terkena dampak langsung berada di sekitar sumur produksi atau pembangkit listrik tenaga panas bumi (30 sampel) sedangkan lokasi yang tidak terdampak langsung adalah dengan jarak 3.000 m sampai 9.000 m dari fasilitas tersebut (42 sampel). Pengumpulan data dilakukan selama dua musim; musim kemarau dan penghujan (2015-2016). Kami mengumpulkan data komunitas burung dengan metode point count yang ditempatkan secara sistematis di setiap lokasi. Kami menemukan 124 jenis burung di CA/TWA Kamojang dan 90 jenis (1560 individu) burung pada titik contoh. Jumlah jenis dan jumlah individu burung di lokasi TL lebih besar dibanding lokasi DL. (lokasi DL (65 jenis; 525 individu) dan lokasi TL (72 jenis; 1035 individu). Terdapat perbedaan respon antara komunitas burung di lokasi DL dan TL yang ditunjukkan dengan perbedaan rata-rata jumlah jenis dan jumlah individu tiap titik contoh. Rata-rata jumlah jenis dan jumlah individu burung tiap titik contoh pada lokasi TL lebih besar dibandingkan lokasi DL. Kawasan CA/TWA Kamojang mempunyai dari 7 macam guild burung yaitu : insektivora, frugivora, granivora, nektarivora, karnivora, piscivora dan omnivora.Hasil uji signifikansi terhadap jumlah jenis dan jumlah individu setiap guild menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata antara lokasi DL dan TL, namun pada lokasi DL burung-burung yang ditemukan merupakan burung yang umum ditemukan (generalis) dan burung yang ditemukan di lokasi TL sebagian besar merupakan burung spesialis. Hal ini membuktikan bahwa lokasi TL memiliki kondisi lingkungan yang lebih baik atau relatif tidak terganggu.
IMPLEMENTASI KEMITRAAN KEHUTANAN DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI WAY TERUSAN Yuni Ayu Wandira; Hari Kaskoyo; Indra Gumay Febryano; Slamet Budi Yuwono
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v8i3.9622

Abstract

One of the government policies to increase community participation in forest management is Forestry Partnership.  The purpose of this study was to determines the process of forestry partnership implementation in KPHP Way Terusan.  Data collection used in this research was interviews and then the data is analyzed descriptively. The results showed that the implementation process of forestry partnership was long enough and have a lot of challenges.  The supporting factors in forestry partnership were the existence of high support done by the community towards forestry partnership programs, communities high trust to KPHP Way Terusan and high support by other related parties (stakeholders).  Inhibit factors in forestry partnership were low capabilities of human resources, the problems within farmer groups organization, maintainless communications between government and farmer groups and low community participation.
PENGGUNAAN ALAT BANTU GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PENGANGKUTAN KAYU PADA JALAN LICIN Yuniawati Yuniawati; Dulsalam Dulsalam
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i3.2247

Abstract

Kegiatan pengangkutan kayu memiliki tujuan utama yaitu mengeluarkan kayu dari dalam hutan menuju industri atau langsung ke konsumen. Karena tujuan tersebut, maka kegiatan pengangkutan kayu diharapkan dapat mendistribusikan kayunya dengan cepat dan lancar. Tetapi kenyataan di lapangan, kegiatan pengangkutan kayu akan mengalami kendala terjadinya selip terutama pada jalan yang licin. Selain jalan yang licin, kondisi jalan yang memiliki kelerengan tertentu merupakan kendala tersendiri bagi supir truk untuk mengendalikan laju truknya. Akibat selip tersebut dapat menyebabkan turunnya produktivitas pengangkutan kayu dan tingginya biaya produksi pengangkutan kayu. Oleh karena itu dibutuhkan alat bantu yang dapat mengurangi selip. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas dan biaya produksi pengangkutan kayu dengan menggunakan alat bantu untuk mengurangi terjadinya selip pada ban truk. Metode penelitian yaitu pengukuran selip yang terjadi, pengukuran volume kayu yang diangkut, jarak tempuh, dan waktu pengangkutan. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2013, di KPH Sukabumi Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata slip yang terjadi pada kelerengan 18% lebih tinggi daripada kelerengan 8% dan 12%. Dengan slip yang tinggi, maka rata-rata produktivitas pada kelerengan 18% menjadi  lebih rendah daripada kelerengan 8% dan 12% yaitu 24,638 m3km/jam. Rendahnya rata-rata produktivitas pengangkutan kayu pada kelerengan 18% diikuti oleh tingginya rata-rata biaya produksi pengangkutan kayu yaitu Rp 9.578,43/m3.km.Hauling have purpose issued wood from the forest to the industry or directly to consumers. Because of these purpose, the activities of hauling is expected to distribute the wood quickly and smoothly. But the reality on the field, hauling will be constrained the slip, especially on slippery roads. In addition to slippery roads, road conditions have a certain slope is a distinct problem for truck drivers to control the pace of his truck. As a result of the slip could cause a decline in the productivity of timber transportation and the high cost of production of timber transport. Therefore, auxiliary  tools are needed to reduce slippage. This paper aims to determine the productivity and cost of production of timber transport by using a auxiliary tool to reduce the occurrence of slip on truck tires. The research method is the measurement of slip that occurs, the measurement of the volume of timber transported, mileage, and transportation times. The experiment was conducted in 2013, in KPH Sukabumi Perhutani Unit III West Java and Banten. The results showed that the average slip that occurred on slopes 18% higher than the slope of 8% and 12%. With high slip, then the average productivity of the slope 18% lower than the slope of 8% and 12%  is 24.638 m3km/jam. The low average productivity of hauling on slope 18% followed by a higher average cost of production hauling is Rp 9.578,43/m3.km.
PENGARUH ELEVASI TERHADAP PRODUKSI BUAH KETAPANG (Terminalia catappa LINN.) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIODIESEL Elevation effect to tropical almond (Terminalia catappa Linn.) Fruits production as raw materials of biodiesel Marjenah Marjenah; Putri N. P.
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v5i3.4791

Abstract

Biodiesel terbuat dari minyak nabati yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Bahan baku yang berpotensi dalam pembuatan biodiesel antara lain kelapa sawit, biji-bijian dari wijen, kapas, kedelai, jarak pagar, karet, alpukat, nyamplung, dan sebagainya. Biji ketapang salah satu yang dapat dibuat biodiesel. Ketinggian tempat di atas permukaan laut (dpl) mudah berubah dari satu tempat ke tempat lain, ini berpengaruh terhadap suhu udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada elevasi berapa produksi buah terbanyak dan jumlah biodiesel yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di daerah sekitar Kalimantan Timur yang memiliki elevasi yang berbeda. Lokasi pengambilan sampel adalah Samarinda, Balikpapan, dan Kabupaten Kutai Kartanegara), sebanyak 118 batang pohon ketapang dijadikan sampel uji. Produksi buah per pohon harus diketahui untuk menentukan produksi biodiesel yang akan dihasilkan oleh tegakan ketapang per ha. Hubungan antara elevasi dan produksi buah akan diketahui dengan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan ukuran biji bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dari elevasi yang rendah ke elevasi yang lebih tinggi. Jumlah biji antara 22 – 69 biji/kg atau rata-rata 40 ± 11 biji/kg. Hasil sementara yang diperoleh pada seluruh elevasi adalah100 g bubuk biji ketapangmenghasilkan 49 - 65 mlminyak ketapang dan 58 – 80% crude biodiesel.Katakunci: Elevasi; produksi buah; Terminalia catappa; biodieselBiodiesel made from vegetable oilderived from renewable natural resources.Some potential raw material for making biodiesel that is palm oil, grains of sesame, cotton, soybean, jatropha, rubber, avocado, callophyllum etc. Tropical almond seed is one of the materials that can be made biodiesel. Elevation change from one place to another, ,this factor affects to the air temperature. The purpose of this study isto find out on the elevation of the largest fruits productionand the best biodiesel production. This research was conducted in East Kalimantan (Samarinda, Balikpapan, and Kutai Kartanegara regency). As much as 118 trees of tropical almond used as test samples.Production of fruits per tree should be knownto determine the production of biodiesel produced by stands per ha.The relationship between elevation and fruits production will be known by multiple regression.Research.result  obtained that seed size variously from place to place and from low to higher elevation. Number of seeds between 22 - 69 seeds / kg (40 ± 11 seeds / kg). Temporary resultfor biodiesel production 100 g of tropical almond seed powderproduce 49 – 65 ml of tropical almond oil and 58 – 80% yield crude biodiesel
ANALISIS VEGETASI DAN VISUALISASI STRUKTUR VEGETASI HUTAN KOTA BARUGA, KOTA KENDARI Vegetation Analysis and Visualization of vegetation Structure Baruga Urban Forest, Kendari City Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i2.1512

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, struktur dan tingkat keragaman vegetasi di Hutan Kota Baruga, Kota Kendari. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus. Data dianalisis untuk memperoleh Indeks Nilai Penting (INP) dan Index Keanekaragaman Shannon-Wiener (H'). Software Sexi-FS digunakan untuk mendapatkan visualisasi distribusi vegetasi dan stratifikasi lapisan tajuk yang menyerupai kondisi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi vegetasi disusun oleh 76 spesies yang terkelompok dalam 29 famili dengan jumlah total 8.296 individu untuk semua spesies. Alstonia macrophylla, Gironniera subaequalis dan Nephelium lappaceum adalah spesies yang mendominasi komunitas vegetasi. Distribusi vegetasi menunjukkan pola distribusi mengelompok, dengan stratifikasi terdiri 4 lapisan tajuk, yang menunjukkan bahwa lokasi-studi disusun oleh lapisan tajuk yang relatif lengkap. Indeks keragaman tergolong tinggi, dengan nilai lebih dari 3 pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang dan pancang, kecuali pada tingkat semai dengan H'= 2,89. Hasil ini menunjukkan bahwa ketahanan ekosistem hutan cukup baik.Kata Kunci : Komposisi vegetasi, Keanekaragaman, Struktur vegetasi, Hutan Kota.
ESTIMASI BIOMASSA TEGAKAN HUTAN HUJAN TROPIS DI BUKIT MANDIANGIN MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI SPASIAL Mufidah Asy’ari; Syam’ani Syam’ani; Trisnu Satriadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i3.14975

Abstract

.  Biomassa atau cadangan karbon merupakan salah satu indikator kelestarian tegakan hutan. Kuantitas biomassa yang stabil dan proporsional mengindikasikan kelestarian hutan berada dalam kondisi yang baik. Dalam rangka menjaga kelestarian hutan, pihak-pihak terkait dituntut untuk selalu aktif di dalam pemantauan hutan, salah satunya adalah kondisi biomassa tegakan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sejumlah metode interpolasi spasial untuk mengestimasi distribusi biomassa tegakan hutan hujan tropis di Bukit Mandiangin, Kalimantan Selatan. Interpolasi spasial bertujuan untuk mengatasi keterbatasan data sampel di lapangan pada wilayah hutan yang luas. Beberapa metode interpolasi spasial diimplementasikan didalam penelitian ini, yaitu IDW, GPI, RBF, LPI, dan Kriging. Sebanyak 50 plot sampel dibuat di lapangan untuk mengukur biomassa tegakan hutan. Meskipun ketika dianalisis semivariogram, hanya 40 titik sampel diantaranya yang dapat diikutsertakan didalam analisis, sebanyak 30 titik dijadikan sebagai training samples untuk input interpolasi spasial dan 10 titik dijadikan sebagai testing samples untuk validasi hasil interpolasi. Validasi hasil interpolasi spasial dilakukan menggunakan MAPE dan RMSE. Hasil riset menunjukkan bahwa IDW dengan nilai power 2 merupakan metode interpolasi spasial yang paling optimal untuk estimasi biomassa tegakan hutan. Disamping memiliki MAPE dan RMSE yang cukup kecil, IDW juga lebih praktis dibandingkan dengan metode-metode interpolas spasial lainnya. Metode lainnya yang dapat dijadikan sebagai alternatif selain IDW untuk biomassa tegakan hutan adalah RBF dengan fungsi inti Completely Regularized Spline dan Empirical Bayesian Kriging dengan fungsi inti Linear. Lebih jauh, untuk mendapatkan hasil interpolasi spasial yang lebih akurat, titik-titik sampel harus dibuat lebih banyak dan tersebar lebih merata di dalam wilayah yang akan diestimasi.
IDENTIFIKASI KESEHATAN POHON HUTAN KOTA DAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KABUPATEN BANGGAI Bahidin Laode Mpapa; Rahmandani Lasamadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i3.14962

Abstract

Hutan kota dan ruang terbuka hijau di Kabupaten Banggai ditumbuhi berbagai jenis pohon yang memiliki fungsi konservasi dan fungsi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan pohon yang meliputi tipe kerusakan, lokasi kerusakan pohon dan kelas keparahan pohon. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus – Oktober tahun 2021 di hutan kota Desa Boyou Kecamatan Luwuk Utara dan Ruang Terbuka Hijau Teluk Lalong Kecamatan Luwuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dan metode Forest Health Monitory (FHM). Metode survei dilakukan guna mengetahui kondisi fisik pohon atau keadaan visual keseluruhan pohon. Metode FHM dilakukan untuk mengetahui kesehatan pohon. Data yang diperoleh dari penilaian kerusakan dihitung nilai indeks kerusakannya (NIK) dengan kode dan bobot NIK. Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK (Kelas sehat, kelas ringan, kelas sedang dan kelas berat). Berdasarkan hasil pengamatan di hutan kota, ditemukan 5 lokasi kerusakan, 8 tipe kerusakan, kelas keparahan berkode 1 sampai 5 serta nilai indeks keparahan berkategori rusak ringan, sedang dan sehat. Sedangkan di ruang terbuka hijau ditemukan 2 lokasi kerusakan, 4 tipe kerusakan, kelas keparahan berkode 1 sampai 2 serta nilai indeks keparahan berkategori rusak ringan  dan sehat.Hutan kota dan ruang terbuka hijau di Kabupaten Banggai ditumbuhi berbagai jenispohonyangmemiliki fungsikonservasidanfungsilainnya.Penelitianinibertujuanuntukmengetahui kesehatan pohon yang meliputi tipe kerusakan, lokasi kerusakan pohon dan kelaskeparahan pohon. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus–Oktober tahun 2021 di hutankota Desa Boyou Kecamatan Luwuk Utara dan Ruang Terbuka Hijau Teluk Lalong KecamatanLuwuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dan metodeForestHealth Monitory (FHM). Metode survei dilakukan guna mengetahui kondisi fisik pohon ataukeadaanvisualkeseluruhanpohon.MetodeFHM dilakukanuntuk mengetahuikesehatanpohon.Data yang diperoleh dari penilaian kerusakan dihitung nilai indekskerusakannya (NIK)dengan kode dan bobot NIK. Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK (Kelas sehat, kelasringan, kelas sedang dan kelas berat).Berdasarkan hasilpengamatan dihutan kota,ditemukan5 lokasi kerusakan, 8 tipe kerusakan,kelas keparahanberkode 1 sampai 5 serta nilai indekskeparahan berkategori rusak ringan, sedangdan sehat. Sedangkan di ruang terbuka hijauditemukan 2 lokasi kerusakan, 4 tipe kerusakan,kelas keparahan berkode 1 sampai 2 serta nilaiindeks keparahan berkategori rusakringandan sehat.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 4 Edisi Desember 2025 Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 4 Edisi Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 2 Edisi Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023 Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022 Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022 Vol 10, No 1 (2022): JURNAL HUTAN TROPIS VOL 10 NO 1 EDISI MARET 2022 Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021 Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021 Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021 Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020 Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020 Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020 Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019 Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019 Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018 Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018 Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018 Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017 Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 2 Edisi Juli 2017 Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017 Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016 Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016 Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016 Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015 Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015 Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015 Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014 Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014 Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 2 Edisi Juli 2013 Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 1 Edisi Maret 2013 Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012 Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012 Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011 Vol 12, No 31 (2011): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 12 Nomer 31 Tahun 2011 More Issue