cover
Contact Name
Citra Artifiani
Contact Email
citrarti@gmail.com
Phone
+6287825450502
Journal Mail Official
geoplanart.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknik, Perencanaan dan Arsitektur Universitas Winaya Mukti Jl. Pahlawan no.69 Kota Bandung
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Geoplanart
ISSN : 25799193     EISSN : 27755282     DOI : http://dx.doi.org/10.35138/gp.v3i2
GEOPLANART: Wahana Informasi Penelitian Teknik adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik, Perencanaan dan Arsitektur, Universitas Winaya Mukti. Fokus jurnal ini adalah teknik dengan lingkup : 1. Teknik Arsitektur 2. Teknik Lingkungan 3. Teknik Perencanaan Wilayah Kota 4. Teknik Geodesi 5. Teknik Sipil
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017): Edisi November" : 6 Documents clear
Fasilitas Taman Tematik yang Memenuhi Kebutuhan Pengunjung (Studi Kasus: Taman Tematik di SWK Cibeunying Kota Bandung) Citra Artifiani Havianto
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.025 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.126

Abstract

Ruang publik berupa taman memiliki peranan yang sangat penting bagi lingkungan perkotaan. Meskipun taman di Kota Bandung mengalami peningkatan kunjungan, tapi tidak semua kalangan masyarakat bisa  menikmati taman dengan aman dan nyaman. Sebagian besar taman di Kota Bandung kurang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung berbagai aktivitas penggunanya. Berbagai permasalahan  sering ditemui di taman, sehingga masyarakat cenderung enggan untuk melakukan berbagai aktivitas di taman. Penelitian ini mempertanyakan mengenai fasilitas apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pengunjung taman-taman di Kota Bandung khususnya taman tematik di SWK Cibeunying yaitu Taman Lansia, Taman Teras Cikapundung dan Taman Balai Kota.  Variabel yang digunakan adalah karakteristik sosial ekonomi  sebagai variabel bebas. Karakteristik sosial ekonomi yang digunakan adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pendapatan. Lalu variabel terikat berupa fasilitas taman yang terdiiri dari 20 macam fasilitas. Analisis yang digunakan ada penelitian ini adalah analisis tabulasi silang, pembobotan dengan skala likert dan analisis Crosstabulation  Chi-  Square. Dari hasil analisis ditemukan fasilitas yang paling banyak dibutuhkan oleh pengunjung diantaranya adalah toilet. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan karakteristik sosial ekonomi pengunjung terhadap pemilihan fasilitas. Karakteristik pekerjaan merupakan variabel yang paling mempengaruhi pemilihan fasilitas di seluruh taman taman. Output dari studi ini berupa arahan pengembangan ketiga taman  dari segi fasilitas yang paling dibutuhkan oleh pengunjung taman
Pemanfaatan Perangkat Lunak Expert Choice dalam Pengambilan keputusan Penentuan Jalur Kereta Api (Studi Kasus Kereta Api Propinsi Aceh) Dodon Turgana Tarmidi
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.987 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.127

Abstract

Propinsi Aceh dengan potensi sumberdaya alam dan ekonomi serta didukung bentang alam yang relatif datar sangat memungkinkan untuk dikembangkan jalur kereta api. Di Propinsi Aceh  tersebut, terdapat dua pelabuhan barang dan manusia yang aktif. Pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Malahayati dan Pelabukan Lhokseumawe/Kreung Geugeuh. Ada lima jalur potensial yang bisa dikembangkan. Yaitu dua jalur di Malahayati dan tiga di Lhokseumawe. Permasalahan yang dihadapi adalah terbatasnya sumber daya finansial yang bisa mewujudkan pengembangan jalur yang bisa mengalirkan barang dan manusia dikedua pelabuhan tersebut. Untuk itu perlu dibuat prioritas penentuan jalur yang paling feasible. Dalam penentuan prioritas bisa dilakukan secara “manual” yaitu dengan perhitungan matematis terhadap kriteria kriteria jalur atau dengan bantuan perangkat lunak khusus pengambilan keputusan. Dalam hal ini Expert choice. Dengan metoda expert choice, penentuan jalur dapat dipercepat dan dipermudah. Adapun hasil pemakaian expert choice dengan kriteria dilapangan dan normatif  tersebut dapat ditentukan jalur prioritas. Pelabuhan Lhokseumawe/Krueng Geukeuh - Stasiun Payabeunteut dan Pelabuhan Malayati-Lamreh yang mempunyai prospek dikembangan segera.
Evaluasi Kondisi Permukaan Jalan Dengan Metode Road Condition Index (RCI) An an Anisarida
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.747 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.139

Abstract

Ketersediaan jalan sebagai prasarana transportasi dapat menumbuhkan konektivitas antar lokasi dan daerah yang membentuk suatu jaringan transportasi. Konektivitas antara daerah yang satu dengan daerah lain dapat terbentuk dengan adanya berbagai jaringan transportasi antara daerah dapat memungkinkan bagi pemindahan barang dan jasa atau orang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kondisi jalan yang baik dan berdaya guna merupakan tujuan dari setiap perencanaan dan pembangunan prasarana transportasi. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menambahkan kondisi jalan yang menurun seiring dengan penurunan kemampuan jalan menurut umur rencana. Kemampuan jalan dalam pemenuhan pelayanan pengguna jalan yang memburuk dapat menyebabkan konektivitas jaringan jalan dalam kota terganggu. Hal ini dapat membuat dampak yang tidak diinginkan baik ketidaknyamanan maupun terjadinya kecelakaan. Sementara itu kebutuhan masyarakat akan value pelayanan dan kenyamanan menjadikan acuan berbagai pihak dalam perwujudan jalan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan pada penelitian ini menggunakan metode Road Condition Index (RCI). RCI adalah salah satu system penilaian yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan  dalam usaha pemeliharaan jalan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode sederhana, yaitu mencatat kondisi perkerasan yang ada setiap 50 meter yang dicatat dan mengisikannya dalam formulir. Berdasarkan hasil survey dan analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut terdapat perbedaan panjang ruas jalan purwakarta yang didapat dari dinas adalah 1867m sedangkan hasil survey adalah 1405 m, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan titik sta awal dan sta akhir. Secara pengamatan visual, ruas jalan purwakarta mempunyai nilai rata  rata yang baik dengan nilai SDI adalah 0
Penataan Kawasan Kumuh Pulosari di Kelurahan Tamasari Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung Adhi Hermawan
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.489 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.124

Abstract

Pada saat ini, permukiman merupakan salah satu masalah yang semakin membebani dunia. Pada tahun 2016 diperkirakan 1/6 dari jumlah total penduduk dunia (sekitar 1 milyar) tinggal di rumah tidak layak dan seratus juta di antaranya tinggal di daerah kumuh. Laju pertumbuhan penduduk tidak diiringi pemenuhan kebutuhan dan keterbatasan sumberdaya.  Hal tersebut dapat dilihat dari data Susenas bahwa pada tahun 2010, diperkirakan diantara 260 juta orang penduduk Indonesia masih terdapat 4.338.862 rumah tangga yang belum memiliki rumah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan kurang lebih 800.000 unit rumah baru setiap tahunnya agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Di samping kebutuhan masyarakat akan penyediaan fasilitas perumahan, sekitar 13 juta unit rumah memerlukan peningkatan kualitas rumah agar menjadi layak huni seriap tahunnya (Data Susenas, 2010). Di perkotaan, masalah permukiman menjadi jauh lebih kompleks yang disebabkan oleh migrasi penduduk ke perkotaan yang semakin tinggi. Tahun 1995 jumlah penduduk perkotaan menjadi sekitar 71.88 juta (36,91% jumlah nasional). Sensus penduduk tahun 2000 mencatat total jumlah penduduk adalah 206.264.595 jiwa dengan tingkat migrasi penduduk ke kawasan perkotaan mencapai 40%  dan diperkirakan akan menjadi 60% pada tahun 2025, yaitu sekitar 160 juta orang (www.bps.go.id). Penelitian yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan laju pertumbuhan penduduk perkotaan pada kurun waktu 1990-2010 tercatat setinggi 4,4% pertahun, sementara pertumbuhan penduduk keseluruhan hanya 1,6% pertahun (World Bank, 2013). Peningkatan jumlah penduduk perkotaan tersebut akan berdampak besar terhadap permintaan akan fasilitas perumahan dan permukiman, karena pada dasarnya merupakan salah satu kebutuhan dasar penduduk
Penerapan Value Engineering Terhadap Sistem Struktur Pelat Lantai Beton Gedung Bertingkat Banyak Syapril Janizar
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.07 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.129

Abstract

Ketatnya kompetisi yang terjadi dalam dunia konstruksi memaksa beberapa pelaku konstruksi melakukan inovasi terhadap beberapa konponen struktur, salah satunya adalah melakukan pemilihan sistem struktur pelat yang tepat nantinya berpengaruh terhadap efisiensi biaya, mutu dan waktu pelaksanaan proyek gedung bertingkat banyak karena pelat biasanya merupakan komponen struktur yang sangat signifikan dalam volume suatu bangunan dalam hal ini proyek rumah susun dan apartemen. Untuk itu penerapan Value Engineering atau Rekayasa Nilai merupakan pilihan yang paling tepat. Penerapan Rekayasa Nilai pada tahap perencanaan, desain dan pelaksanaan konstruksi akan diperoleh keseimbangan fungsional antara biaya, kehandalan dan performa dari suatu proyek atau produk. Oleh karena itu, penerapan Rekayasa Nilai pada Sistem Struktur Pelat Lantai Beton merupakan sesuatu yang cukup efektif dalam menentukan sistem pelat lantai yang akan dipakai, karena dengan membandingkan beberapa sistem struktur pelat lantai beton yang sering digunakan pada proyek gedung berlantai banyak maka akan didapat biaya pelat yang paling efisien dalam proyek tersebut. Pada proyek gedung bertingkat banyak Greenpark Residence yang merupakan proyek rusunami di Jakarta dalam penerapan rekayasa nilai dilakukan untuk konstruksi pelat lantai beton bertulang sehingga didapatkan pemilihan konstruksi pelat lantai beton yang tepat dan efisien sehingga dapat menekan biaya konstruksi pembangunan sesuai dengan harapan owner selaku pemilik proyek dan penggagas dari penerapan rekayasa nilai di proyek ini. Melakukan percepatan lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapat
DESAIN RUANG KOMUNITAS YANG BERKELANJUTAN PADA ARENA KONTES TERNAK Husna Izzati
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.211 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.140

Abstract

Sektor peternakan merupakan salah satu potensi wisata Kabupaten Bandung yang patut diperhitungkan keberadaannya dan memerlukan upaya optimal pemerintah dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitasnya. Seiring dengan meningkatnya populasi, berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas ternak. Penelitian untuk menghasilkan bibit-bibit unggul dari ternakpun terus ditingkatkan. Sejalan dengan hal tersebut, animo masyarakat terhadap bidang peternakan makin berkembang. Kegiatan beternak saat ini tidak hanya sebatas urusan mencari nafkah atau penyaluran hobi, tetapi berkembang menjadi kebutuhan akan apresiasi seni dan budaya. Berbagai kontes ternak dilakukan dengan tujuan untuk menemukan bibit unggul, meningkatkan daya saing secara positif antar peternak, berbagi pengalaman sesama peternak, menghibur masyarakat, hingga upaya untuk mengangkat dan mempertahankan budaya dan kesenian daerah. Kegiatan kontes ini biasanya dilakukan di lapangan-lapangan terbuka di area pemukiman dan beberapa area insidental yang dikenal sebagai arena kontes. Masih sangat jarang terdapat area yang secara infrastruktur diperuntukkan sebagai arena kontes ternak. Metodologi dari kajian desain arena kontes ternak menggunakan kualitatif deskriptif dengan tujuan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada melalui survey dan studi kasus, analisis dokumen, dan analisis kegiatan. Desain arena kontes ternak diharapkan menjadi infrastruktur milik pemerintah yang bisa mewadahi aktivitas dan kegiatan masyarakat terutama komunitas peternak. Sebagai wadah berkegiatan, desain terdiri dari dua zonasi area yaitu fasilitas utama (Tribun dan lapangan, dan area tambatan ternak) dan fasilitas penunjang (bangunan tiket dan pengelola, bangunan area istirahat untuk VIP , toilet dan mushola).

Page 1 of 1 | Total Record : 6