cover
Contact Name
Randi Atma
Contact Email
qaumiyyah@iainpalu.ac.id
Phone
+6282345682297
Journal Mail Official
qaumiyyah@iainpalu.ac.id
Editorial Address
Jalan Diponegoro Nomor 23 Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara
ISSN : 27750299     EISSN : 27750299     DOI : https://doi.org/10.24239/qaumiyyah
Core Subject : Religion, Social,
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara dipublikasikan oleh Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Instutut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Terbit dua kali dalam setahun, jurnal ini mengundang para dosen, peneliti, dan pemerhati dalam bidang hukum tata negara dalam kaitannya dengan isu-isu keislaman untuk berpartisipasi dengan mempublikasikan hasil riset pada jurnal ini
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 65 Documents
ANALYSIS CONFLICT OF NORMS BETWEEN SEMA NUMBER 2 OF 2023 AND THE PRINCIPLES ON CIVIL REGISTRATION OF ADMINISTRATION LAW Arina Nur Fazila; Zakaria Nuriman Wanda; Elviana Risqa Nur Fadila; Avany Mahmudah
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v7i1.238

Abstract

Interfaith marriage has long been a social phenomenon within Indonesia’s multicultural society, yet it continues to present complex and ongoing legal and social challenges. The issuance of the Supreme Court Circular Letter (SEMA) Number 2 of 2023, which restricts the registration of interfaith marriages, has resulted in normative disharmony with the provisions of Law Number 23 of 2006 concerning civil registration. This study employed a normative juridical method with an analysis of legislation, legal doctrine, and judicial decisions to examine the normative disharmony between SEMA and the Civil registration Law, as well as its legal implications on the principles of legal certainty, human rights protection, and social justice. The findings revealed that the restrictions on interfaith marriage registration stipulated in SEMA potentially cause legal uncertainty, multiple interpretations in law enforcement, and violations of citizens’ constitutional rights to obtained valid and legally recognized civil documentation. Furthermore, such policy may exacerbate religion-based discrimination and limit interfaith couples’ access to essential legal protection and administrative services. In conclusion, regulatory harmonization between SEMA and the Civil registration Law is imperative to ensure legal certainty, safeguard human rights, and respect prevailing religious norms and social diversity within society. This study recommends revising SEMA and formulating inclusive policies as efforts to realize legal justice and constitutional rights protection for all citizens without discrimination. Abstrak Perkawinan beda agama telah lama menjadi fenomena sosial dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, namun masih menimbulkan berbagai persoalan hukum dan sosial yang kompleks. Terbitnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 2023 yang membatasi pencatatan perkawinan beda agama menimbulkan disharmoni normatif dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, dan putusan pengadilan untuk menganalisis disharmoni normatif antara SEMA dan Undang-Undang Administrasi Kependudukan serta implikasi hukumnya terhadap prinsip kepastian hukum, perlindungan hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan pencatatan perkawinan beda agama sebagaimana diatur dalam SEMA berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum, perbedaan penafsiran dalam penegakan hukum, serta pelanggaran terhadap hak konstitusional warga negara untuk memperoleh dokumen administrasi kependudukan yang sah dan diakui secara hukum. Selain itu, kebijakan tersebut berpotensi memperkuat diskriminasi berbasis agama dan membatasi akses pasangan beda agama terhadap perlindungan hukum serta layanan administrasi yang esensial. Oleh karena itu, harmonisasi regulasi antara SEMA dan Undang-Undang Administrasi Kependudukan diperlukan untuk menjamin kepastian hukum, melindungi hak asasi manusia, serta menghormati norma keagamaan dan keberagaman sosial yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan revisi terhadap SEMA dan perumusan kebijakan yang lebih inklusif sebagai upaya mewujudkan keadilan hukum dan perlindungan hak konstitusional bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
ISSUES ON KPPS MEMBER RECRUITMENT AN ADMINISTRATIVE LAW AND CITIZENS’ PARTICIPATION RIGHTS PERSPECTIVE Isroun Annas Ma'ruf; Erman I. Rahim; Abdul Hamid Tome
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v7i1.274

Abstract

The recruitment of Voting Organizing Groups (KPPS) is a crucial stage in the implementation of the General Election, determining the quality of voting and vote counting at Polling Stations (TPS). Although regulated by General Elections Commission Regulation Number 8 of 2022, its implementation in the West Kota District of Gorontalo City still faces various administrative, technical, and participatory obstacles. This study aimed to analyze the problems of KPPS recruitment from an administrative law perspective and its implications for the protection of citizens' rights to participate. The study used an empirical juridical method with a statutory and sociological approach. The results showed that the main obstacles to KPPS recruitment include the use of prospective registrants' names in the Political Party Information System (SIPOL), obstacles in fulfilling health certificate requirements, and low public interest in becoming KPPS members. These problems indicate the suboptimal implementation of the principles of legal certainty, proportionality, openness, and good service in the recruitment process. Furthermore, these various obstacles impede citizens' rights to obtain equal opportunities to participate in governance. Therefore, strengthening administrative mechanisms, expanding access to public services, and improving KPPS recruitment governance are essential to ensuring democratic, professional, and integrity based elections. Abstrak Rekrutmen Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) merupakan tahapan penting dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum yang menentukan kualitas pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Meskipun telah diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 8 Tahun 2022, pelaksanaannya di Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo masih menghadapi berbagai kendala administratif, teknis, dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis problematika rekrutmen KPPS dalam perspektif hukum administrasi serta implikasinya terhadap perlindungan hak partisipasi warga negara. Penelitian menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama rekrutmen KPPS meliputi pencatutan nama calon pendaftar dalam Sistem Informasi Partai Politik (SIPOL), kendala pemenuhan persyaratan surat keterangan kesehatan, serta rendahnya minat masyarakat untuk menjadi anggota KPPS. Permasalahan tersebut menunjukkan belum optimalnya penerapan asas kepastian hukum, proporsionalitas, keterbukaan, dan pelayanan yang baik dalam proses rekrutmen. Selain itu, berbagai hambatan tersebut berimplikasi pada terhambatnya hak warga negara untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam berpartisipasi pada penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan mekanisme administrasi, peningkatan akses layanan publik, dan perbaikan tata kelola rekrutmen KPPS guna menjamin efektivitas penyelenggaraan pemilu yang demokratis, profesional, dan berintegritas.
REPOSITIONING DIGITAL SOVEREIGNTY AS A CONSTITUTIONAL RIGHT: A CRITIQUE OF THE LIMITATIONS OF PERSONAL DATA PROTECTION IN THE ERA OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE M. Ferdiansyah Kholil
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v7i1.290

Abstract

The advancement of Artificial Intelligence has transformed the landscape of personal data protection due to the ability of algorithms to generate inferred data and conduct profiling that extends beyond the original purpose of data collection. This situation challenges the effectiveness of data protection regimes that still rely on "notice and consent" mechanisms, as stipulated in Law Number 27 of 2022 concerning Personal Data Protection. Although various studies have addressed personal data protection and Artificial Intelligence governance, research framing digital sovereignty as a constitutional right in response to the limitations of the Personal Data Protection Law remains relatively limited. This study aims to analyze the limitations of personal data protection under the Personal Data Protection Law in the era of Artificial Intelligence and to reposition the concept of digital sovereignty as part of citizens' constitutional rights. The study employed a normative legal research method, utilizing both statutory and conceptual approaches. The results indicated that consent-based data protection mechanisms are currently unable to address the processing of inferential data generated by Artificial Intelligence systems, particularly those operating via "black box" algorithmic models. The findings offered a conceptual contribution by repositioning digital sovereignty as a constitutional right rooted in the protection of personal privacy and human dignity, as guaranteed under Article 28G paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Consequently, personal data protection in the Artificial Intelligence era must be understood not merely as an administrative issue of data management, but also as an integral part of protecting citizens' constitutional rights within the digital space. Abstrak Perkembangan Artificial Intelligence telah mengubah lanskap perlindungan data pribadi melalui kemampuan algoritma untuk menghasilkan data turunan (inferred data) dan melakukan profilasi yang melampaui tujuan awal pengumpulan data. Kondisi ini menimbulkan tantangan terhadap efektivitas rezim perlindungan data yang masih bertumpu pada mekanisme persetujuan pengguna (notice and consent), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Meskipun berbagai penelitian telah membahas perlindungan data pribadi dan tata kelola Artificial Intelligence, kajian yang menempatkan kedaulatan digital sebagai hak konstitusional dalam merespons keterbatasan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan perlindungan data pribadi dalam ndang-Undang Perlindungan Data Pribadi di era Artificial Intelligence serta mereposisi konsep kedaulatan digital sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme perlindungan data yang berbasis persetujuan belum mampu menjangkau pemrosesan data inferensial yang dihasilkan oleh sistem Artificial Intelligence, terutama yang beroperasi melalui model algoritmik Black Box. Temuan penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual berupa reposisi kedaulatan digital sebagai hak konstitusional yang berakar pada perlindungan diri pribadi dan martabat manusia sebagaimana dijamin dalam Pasal 28G ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, perlindungan data pribadi di era Artificial Intelligence perlu dipahami tidak hanya sebagai isu administratif dalam pengelolaan data, tetapi juga sebagai bagian dari perlindungan hak konstitusional warga negara di ruang digital.
ELECTORAL IMMUNITY AND VOTE BUYING: REASSESSING ELECTION LAW ENFORCEMENT THROUGH THE PERSPECTIVE OF MASLAHAH MURSALAH Vivi Rohmana; Siti Fatimah; Muhammad Adib Alfarisi
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v7i1.325

Abstract

Election law enforcement in Indonesia still faces a serious gap between the ideals of legal norms and the realities of practice on the ground. This gap is caused not only by a procedural and positivistic law enforcement paradigm, but also by the lack of synchronization between Law Number 7 of 2017 concerning General Elections and the technical provisions in the General Elections Commission Regulation (PKPU), as well as the weak implementation of election criminal norms in practice. Furthermore, the practice of money politics, dawn raids, and other transactional violations continues to recur and tends to end without effective criminal sanctions, thus perpetuating a culture of impunity and undermining electoral justice. This study aims to critically analyze the normative, structural, and philosophical factors that cause weak election law enforcement, as well as to reconstruct an election law enforcement model oriented towards substantive justice through the principle of maslahah mursalah. The research method used was normative juridical with a qualitative-philosophical approach through a review of primary legal materials, particularly Law Number 7 of 2017, as well as secondary legal materials and Islamic legal doctrine. The research findings indicated that the application of Articles 280 and 523 of the Election Law remains trapped in formalistic proof, thus failing to assess the socio-political impact of election violations. The principle of maslahah mursalah has proven philosophically and normatively relevant for interpreting and enforcing election law teleologically, emphasizing the protection of public interest and the prevention of democratic damage. Reconstructing election law enforcement based on maslahah mursalah has the potential to close the gap in impunity, strengthen legal legitimacy, and contribute to sustainable national stability. Abstrak Penegakan hukum pemilu di Indonesia masih menghadapi kesenjangan serius antara idealitas norma hukum dan realitas praktik di lapangan. Kesenjangan tersebut tidak hanya disebabkan oleh paradigma penegakan hukum yang prosedural dan positivistik, tetapi juga oleh ketidaksinkronan antara Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan pengaturan teknis dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), serta lemahnya implementasi norma pidana pemilu dalam praktik. Selain itu, praktik politik uang, serangan fajar, dan pelanggaran transaksional lainnya terus berulang dan cenderung berakhir tanpa sanksi pidana yang efektif, sehingga melanggengkan budaya imunitas dan merusak keadilan elektoral. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis faktor normatif, struktural, dan filosofis yang menyebabkan lemahnya penegakan hukum pemilu, serta merekonstruksi model penegakan hukum pemilu yang berorientasi pada keadilan substantif melalui prinsip maslahah mursalah. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kualitatif-filosofis melalui telaah terhadap bahan hukum primer, khususnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, serta bahan hukum sekunder dan doktrin hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pasal 280 dan Pasal 523 Undang-Undang Pemilu masih terjebak pada pembuktian formalistik, sehingga gagal menilai dampak sosial-politik pelanggaran pemilu. Prinsip maslahah mursalah terbukti relevan secara filosofis dan normatif untuk menafsirkan dan menegakkan hukum pemilu secara teleologis, dengan menekankan perlindungan kemaslahatan publik dan pencegahan kerusakan demokrasi. Rekonstruksi penegakan hukum pemilu berbasis maslahah mursalah berpotensi menutup celah imunitas, memperkuat legitimasi hukum, dan berkontribusi pada stabilitas nasional yang berkelanjutan.
HUMAN RIGHTS VIOLATIONS AGAINST SEVERELY ILL VOTERS IN GENERAL ELECTIONS: A SIYASAH DUSTURIYAH PERSPECTIVE Abd. Razak; Wahyuni; Mohamad Oktafian
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v7i1.344

Abstract

Voting rights in general elections constitute a fundamental human right guaranteed by the constitution and serve as an essential element in realizing an inclusive democracy. However, in practice, several issues remain, particularly concerning the fulfillment of voting rights for vulnerable groups, including voters who are in severe medical conditions. Critcally ill voters are considered vulnerable because the exercise of their political rights may conflict with their rights to health, safety, freedom of will, and respect for human dignity. This study aimed to examine the potential human rights violations in the implementation of voting rights for severely ill voters in the 2024 General Election in Tomini Utara Village, Parigi Moutong Regency, and to analyze the issue from the perspective of Siyasah Dusturiyah. This research employed an empirical juridical method using statutory and case approaches. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the implementation of the 2024 General Election in Tomini Utara Village still has the potential to create human rights violations against severely ill voters, particularly when voters who are medically unable to express their political will freely are still directed to exercise their voting rights. Such conditions potentially violate the principles of direct, free, and secret voting while also neglecting the rights to health and human dignity. From the perspective of Siyasah Dusturiyah, this situation demonstrates the need to strengthen policies and technical guidelines that are more oriented toward humanitarian values. Abstrak Pelaksanaan hak pilih oleh pemilih sakit berat dalam Pemilihan Umum berpotensi menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia, khususnya terhadap hak kesehatan, kebebasan berkehendak dan martabat kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pelanggaran hak asasi manusia dalam pelaksanaan hak pilih oleh pemilih sakit berat pada Pemilihan Umum Tahun 2024 di Desa Tomini Utara Kabupaten Parigi Moutong serta menelaahnya dari perspektif Siyasah Dusturiyah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Pemilihan Umum Tahun 2024 di Desa Tomini Utara berpotensi menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia terhadap dua pemilih sakit berat yang dimana secara medis tidak mampu menyatakan kehendak politik secara bebas namun tetap diarahkan untuk menggunakan hak pilihnya. Pelaksanaan hak pilih oleh pemilih sakit berat dalam Pemilihan Umum dapat menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia apabila dilakukan dalam kondisi yang memperburuk kondisi kesehatan pemilih akibat tidak didasarkan pada kesadaran penuh atau mengabaikan kehendak bebas pemilih. Ketidakmampuan Dalam perspektif Siyasah Dusturiyah, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kebijakan dan pedoman teknis yang lebih berorientasi pada nilai kemanusiaan khususnya kategori bagi pemilih sakit berat.