cover
Contact Name
Randi Atma
Contact Email
qaumiyyah@iainpalu.ac.id
Phone
+6282345682297
Journal Mail Official
qaumiyyah@iainpalu.ac.id
Editorial Address
Jalan Diponegoro Nomor 23 Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara
ISSN : 27750299     EISSN : 27750299     DOI : https://doi.org/10.24239/qaumiyyah
Core Subject : Religion, Social,
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara dipublikasikan oleh Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Instutut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Terbit dua kali dalam setahun, jurnal ini mengundang para dosen, peneliti, dan pemerhati dalam bidang hukum tata negara dalam kaitannya dengan isu-isu keislaman untuk berpartisipasi dengan mempublikasikan hasil riset pada jurnal ini
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 55 Documents
THE DYNAMICS OF POLITICIANS' SILATURAHMI TO KIAI BEFORE ELECTIONS IN INDONESIA: AN ANALYTICAL STUDY BASED ON ELITE THEORY AND SIYASAH SYAR’IYYAH Lisa Hertiana; Supriyadi; Arif Sugitanata; Muhammad Hasyied Abdurrasyied
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i1.100

Abstract

The seasonal phenomenon of politicians silaturahmi to Kiai (Islamic scholars) ahead of elections in Indonesia reflects a strategy by politicians to gain support by leveraging the influence of Kiai as respected spiritual leaders with extensive social networks. This study aims to reveal the dynamics, influence, and controversies surrounding this practice and analyze how political elites utilize their relationships with Kiai to secure votes. The research employs a literature review with a qualitative approach and descriptive-analytical nature, referencing the elite theory of Vilfredo Pareto and Gaetano Mosca, as well as the principles of Siyasah Syar’iyyah. The findings indicate that the practice of politicians silaturahmi to Kiai before elections in Indonesia, although rooted in solid cultural traditions and viewed as a form of respect, is often used to gain blessings and moral support from Kiai, which is then leveraged in political campaigns. However, this approach also attracts criticism for potentially blurring the lines between religion and politics and posing the risk of transactional support that can undermine the integrity of Kiai. The analysis based on Vilfredo Pareto and Gaetano Mosca’s elite theory reveals how political elites and Kiai mutually benefit from each other to maintain their power and legitimacy. Meanwhile, from the perspective of Siyasah Syar’iyyah, the study emphasizes the importance of justice, transparency, and balance in Kiai’s political involvement. It highlights the need for political education based on Islamic values to empower the community in a healthy democratic process. Thus, this research highlights the complexity of interactions between religion, culture, and politics in Indonesia, demonstrating how traditional values and the influence of religious figures like Kiai remain significant in shaping the political dynamics of the country. Abstrak Fenomena musiman silaturahmi politisi ke Kiai menjelang pemilu di Indonesia mencerminkan strategi politisi untuk meraih dukungan dengan memanfaatkan pengaruh Kiai sebagai pemimpin spiritual yang dihormati dan memiliki jaringan sosial luas. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika, pengaruh, dan kontroversi yang melingkupi praktik tersebut, serta menganalisis bagaimana elite politik memanfaatkan hubungan dengan Kiai untuk meraih suara. Penelitian ini memanfaatkan studi kepustakaan dengan jenis penelitian kualitatif dan sifat penelitian deskriptif-analitis yang merujuk pada teori elite politik Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca serta Siyasah Syar’iyyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, praktik silaturahmi politisi ke Kiai menjelang pemilu di Indonesia, sering digunakan untuk mendapatkan restu dan dukungan moral dari Kiai, yang kemudian dimanfaatkan dalam kampanye politik. Namun, pendekatan tersebut mengundang kritik karena dapat mengaburkan batas antara agama dan politik serta menimbulkan risiko dukungan transaksional yang merusak integritas Kiai. Analisis teori elite politik Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca mengungkapkan bagaimana elite politisi dan Kiai saling memanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan dan legitimasi mereka. Sementara itu, dalam perspektif Siyasah Syar’iyyah menekankan pentingnya keadilan, transparansi, dan keseimbangan dalam keterlibatan politik Kiai, serta menyoroti kebutuhan akan pendidikan politik yang berbasis nilai-nilai Islam untuk memberdayakan masyarakat dalam proses demokrasi yang sehat.
THE INFLUENCE OF THE HOUSE OF REPRESENTATIVES' RIGHT TO INQUIRY ON THE PROCESS OF ORGANIZING HONEST AND FAIR ELECTIONS Irwansyah; Luthfi Ramadhan
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i1.111

Abstract

The use of the right of inquiry by The House of Representatives (DPR) in the process of holding general elections has become the subject of heated debate in the Indonesian political context. The right to inquiry allows the DPR to carry out inquiries and investigations into the implementation of elections. This research finds that the use of the DPR's right to inquiry can influence the process of holding elections by increasing transparency and accountability. It is conduct more effective inquiries and investigations into fraud that occurred during the election, so that it can prevent and stop dishonest and unfair actions. Apart from that, it can also strengthen the DPR's supervisory function over the government, so that it can ensure that the government behaves in accordance with applicable laws and regulations. This research also explores the impact of the DPR's use of the right to interrogation on the integrity of the election implementation process. Through quantitative and qualitative data analysis, this research investigates how the implementation of the right to inquiry affects honesty and fairness in general elections. The results show that the right to inquiry has a significant influence, with important implications for democracy and good governance. Abstrak Penggunaan hak angket oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam proses penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) telah menjadi subjek perdebatan yang hangat dalam konteks politik Indonesia. Hak angket memungkinkan DPR untuk melakukan penyelidikan dan investigasi terhadap pelaksanaan pemilu yang diduga tidak jujur dan adil. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan hak angket DPR dapat mempengaruhi proses penyelenggaraan pemilu dengan cara meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pemilu. Hak angket memungkinkan DPR untuk melakukan penyelidikan dan investigasi yang lebih efektif terhadap kecurangan yang terjadi selama pemilu, sehingga dapat mencegah dan menghentikan tindakan-tindakan yang tidak jujur dan tidak adil. Selain itu, juga dapat memperkuat fungsi pengawasan DPR terhadap pemerintah, sehingga dapat memastikan bahwa pemerintah berperilaku sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. Penelitian ini juga mengeksplorasi dampak penggunaan hak interogasi (hak angket) oleh DPR terhadap integritas proses penyelenggaraan pemilu. Melalui analisis data kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini menyelidiki bagaimana pelaksanaan hak angket mempengaruhi kejujuran dan keadilan dalam pemilihan umum. Hasil menunjukkan bahwa hak angket memiliki pengaruh signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas pemilu, dengan implikasi penting bagi demokrasi dan good governance.
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN MAQASHID SYARIAH Fajar; Sugirman, Andi
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i1.142

Abstract

This article is a conceptual study aimed at discussing and analyzing women's leadership from the perspective of Human Rights (HAM) and Maqashid Syariah, namely trying to find laws on women's leadership using a human rights approach and mashlahah theory by referring to texts and contexts. The first is referring to texts. The Qur'an and Hadith, while the second refers to the social reality that occurs in society with all the underlying rules. The text path is taken to bring out laws through what is written in the texts of the Qur'an and Hadith. Meanwhile, what is ghoiru nash is achieved by understanding what is not written in the text by looking at social reality or the democratic political tradition that developed in Indonesia, whose validity is tested by human rights law and mashlahah theory based on the objectives of Islamic law (protection of religion, soul, reason, heredity, and property) and the rules of fiqhiyah, which are based on the political culture of society. This study uses a literature review method, namely searching for valid data sources from library texts that are relevant to the problem topic being researched. The results of this study show that classical commentators tend to place leadership rights on the male side for two reasons: first, because men are considered to have absolute advantages over women, such as physical strength and intellectual intelligence. Second, because men (husbands) bear the economic burden or livelihood of their family members. Women's leadership in the public sphere is a matter that is changeable. Apart from the fact that there are no strong arguments indicating that it is prohibited for women to become leaders, there is also support from the political culture of society, especially in the political context in Indonesia, which adheres to a democratic political system that provides equal political rights between men and women. Men and women both have the right to vote and the right to be elected as political leaders, which is based on statutory regulations, both human rights law and election law. Abstrak Artikel ini merupakan kajian konseptual yang ditujukan untuk membahas dan menganalisis kepempinan perempuan dengan perpektif Hak Asasi Manusia (HAM) dan Maqashid Syariah, yakni berupaya menemukan hukum kepemimpinan perempuan dengan menggunakan pendekatan HAM dan teori mashlahah dengan mengacu pada teks dan konteks yang pertama mengacu teks atau nash Al-Qur’an dan Hadis, sedang yang kedua mengacu pada realitas sosial yang terjadi di masyarakat dengan segala aturan yang mendasarinya. Jalan nash ditempuh untuk memunculkan hukum-hukum melalui apa yang tertulis dalam teks Al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan yang ghoiru nash ditempuh dengan cara memahami dari apa yang tidak tertulis dalam nash dengan memandang realitas sosial atau tradisi politik demokrasi yang berkembang di Indonesia yang diuji kesahihannya dengan undang-undang HAM dan teori mashlahah dengan berdasar pada tujuan hukum Islam (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda) dan kaidah-kaidah fiqhiyah yang bertumpu pada budaya politik masyarakat. Kajian ini menggunakan metode kajian kepustakaan, yakni melakukan penelusuran sumber data yang valid dari teks-teks kepustakaan yang relevan dengan topik permasalahan yang sedang diteliti. Hasil kajian ini menunjukan bahwa para mufasir klasik cenderung meletakan hak kepemimpinan dari sisi jenis kelamin laki-laki karena dua hal: pertama, karena laki-laki dianggap memiliki kelebihan atas perempuan yang bersifat mutlak, seperti kekuatan fisik dan kecerdasan akal. Kedua, karena Laki-laki (suami) menanggung beban ekonomi atau nafkah atas anggota keluarganya. Kepemimpinan perempuan dalam ruang publik adalah perkara yang sifatnya mubah, selain karena tidak ada dalil kuat yang mengindikasikan larangan perempuan menjadi pemimpin, juga adanya dukungan budaya politik masyarakat khususnya dalam konteks politik di Indonesia yang menganut sistem politik demokrasi yang memberikan hak politik yang setara antara laki-laki dan perempuan baik hak untuk memilih maupun hak untuk dipilih sebagai pemimpin politik yang dididasarkan pada peraturan perundangan baik undang-undang HAM maupun undang-undang Pemilu.
ROLE OF HOST COUNTRIES: HANDLING OF INDONESIAN ELECTORAL OFFENCES Purnamasari, Andi Intan; Bin Mohd Zahir, Mohd Zamre; Md Said, Muhamad Helmi
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i1.145

Abstract

This paper is based on the author's observations in several countries as places for the implementation of Indonesian elections abroad. as a host country, of course, the foreign country has a fundamental role in the implementation of Indonesian elections in that country. The voting design in the implementation of Indonesian elections abroad has a different mechanism between at home and abroad. The handling of criminal offence that occur in the case of Indonesian elections abroad, of course, also requires relations between foreign countries, namely the country where the Indonesian elections are held. Therefore, the contribution of foreign countries cannot be separated in handling election crimes. This article provides arguments based on normative analysis with a doctrinal approach to the applicable regulations on the role of foreign countries where Indonesian elections are held. The results of the election analyze conceptually, the role of foreign countries in the enforcement of Indonesian elections abroad. The region of the country where the Indonesian General Election is held abroad certainly plays a role in helping the smoothness of the voting process. For example, by adding assistance personnel for security during the implementation of voting. However, what is lacking is the norms or rules governing the role of the country and what assistance can be provided by the country where the implementation of the Indonesian elections abroad is incomplete, so it is necessary to make changes to the regulations on the General Elections of the Republic of Indonesia Abroad including the role of the country where the Indonesian overseas elections are held. Abstrak Tulisan ini didasarkan pada pengamatan penulis di beberapa negara yang menjadi tempat pelaksanaan pemilu Indonesia di luar negeri. Sebagai negara tuan rumah, tentunya negara asing memiliki peran yang fundamental dalam pelaksanaan pemilu Indonesia di negara tersebut. Desain pemungutan suara dalam pelaksanaan pemilu Indonesia di luar negeri memiliki mekanisme yang berbeda antara di dalam dan luar negeri. Penanganan tindak pidana yang terjadi dalam kasus pemilu Indonesia di luar negeri, tentunya juga membutuhkan hubungan antar negara asing, yaitu negara tempat pelaksanaan pemilu Indonesia. Oleh karena itu, peran negara asing tidak dapat dipisahkan dalam penanganan tindak pidana pemilu. Artikel ini memberikan argumentasi berdasarkan analisis normatif dengan pendekatan doktrinal terhadap peraturan yang berlaku mengenai peran negara asing tempat penyelenggaraan pemilu Indonesia. Hasil penelitian menganalisis secara konseptual peran negara asing dalam penegakan pemilu Indonesia di luar negeri. Namun yang menjadi kkekurangan adalah norma atau aturan yang mengatur tentang peran negara tersebut dan bantuan - bantuan apa saja yang dapat diberikan oleh negara tempat pelaksanaan pemilihan Indonesia di Luar negeri belum lengkap, maka memang perlu dilakukan perubahan terhadap peraturan tentang Pemilihan Umum Republik Indoensia di Luar Negeri termasuk juga peran negara tempat dilaksanakan pemilihan umum luar negeri Indonesia.
OPTIMALISASI PROSES SELEKSI HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP INTEGRITAS PUTUSAN BERKEADILAN Taufik, Muh Bambang; Sofyan, Sofyan; Al Haditzy, Ihzurt; Sulfianah; Aulia, Zuriatul
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i1.147

Abstract

In an era of dynamic legal development, this research aims to optimize the selection process of Constitutional Court judges in order to improve the integrity of just decisions. The background of this research is based on the need for a transparent and trustworthy judicial system for the community. This need arises from concerns about fraud and manipulation in the judicial process that can undermine public confidence in the legal system. The accuracy of the use of research approaches and methods plays an important role in this research, so this research uses a quantitative approach with a literature study method, namely by analyzing data from various sources such as relevant books or journals. The results show that the selection process of Constitutional Court judges still needs to be improved to ensure the integrity of the decisions produced. This improvement is important to ensure the sustainability of the Indonesian legal system and the integrity of decisions in accordance with the law and state administration. Clear and standardized selection process reforms and effective oversight are needed to improve the quality of constitutional judges and ensure high decision integrity. In conclusion, there is a need to increase transparency and accountability in the selection process of Constitutional Court judges in order to create more equitable justice that is recognized by the community. The implication of the results of this study is the need for reform in the judge selection system to ensure the upholding of the rule of law and public trust in the judiciary. Abstrak Pada era perkembangan hukum yang dinamis, penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses seleksi hakim Mahkamah Konstitusi guna meningkatkan integritas putusan yang berkeadilan. Latar belakang penelitian ini berdasarkan pada kebutuhan akan sistem peradilan yang transparan dan dapat dipercaya bagi masyarakat. Kebutuhan ini timbul dari kekhawatiran akan kecurangan dan manipulasi dalam proses peradilan yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum. Ketepatan penggunaan pendekatan dan metode penelitian berperan penting dalam penelitian ini, sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi pustaka yakni dengan analisis data dari berbagai sumber seperti buku atau jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses seleksi hakim Mahkamah Konstitusi masih perlu diperbaiki guna memastikan integritas putusan yang dihasilkan. Perbaikan ini penting untuk memastikan keberlangsungan sistem hukum Indonesia dan integritas putusan yang sesuai dengan hukum dan ketatanegaraan. Reformasi proses seleksi yang jelas dan baku serta pengawasan yang efektif diperlukan untuk meningkatkan kualitas hakim konstitusi dan memastikan integritas putusan yang tinggi. Sebagai kesimpulan, perlu adanya peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi hakim Mahkamah Konstitusi agar mampu menciptakan keadilan yang lebih merata dan diakui oleh masyarakat. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah perlunya reformasi dalam sistem seleksi hakim guna memastikan tegaknya supremasi hukum dan kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan.
IMPLEMENTASI KETENTUAN KETERWAKILAN PEREMPUAN 30% DALAM KEANGGOTAAN KPPS PEMILIHAN UMUM 2024 DESA TANJUNG PADANG Nanda Muntazza
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i2.151

Abstract

The main role of democracy and general elections in Indonesia in determining the direction of state policy is very significant. This research focuses on the formation of members of the Voting Organizing Group (KPPS) in accordance with General Election Commission (KPU) Regulation Number 8 of 2022. The research method used is literature study and field observation, with special emphasis on the aspect of women's representation. In the 2024 general election in Tanjung Padang Village, the implementation of these regulations is explored to evaluate the extent to which these policies are reflected in the formation of KPPS and their impact on women's participation at the village level. The research results show that there has been a positive achievement in the level of women's representation in Tanjung Padang Village, even exceeding the minimum provisions that have been set. It is hoped that this success can make a positive contribution in strengthening gender inclusivity and equality in the context of local democracy. In addition, it is associated with a greater impact on the national democratic system. Abstrak Peran utama demokrasi dan pemilihan umum di Indonesia dalam menentukan arah kebijakan negara sangat signifikan. Penelitian ini difokuskan pada pembentukan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 8 Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dan observasi lapangan, dengan penekanan khusus pada aspek keterwakilan perempuan. Pada pemilihan umum 2024 di Desa Tanjung Padang, implementasi peraturan tersebut dieksplorasi untuk mengevaluasi sejauh mana kebijakan tersebut tercermin dalam pembentukan KPPS dan dampaknya terhadap partisipasi perempuan di tingkat desa. Hasil penelitian menunjukkan adanya pencapaian positif dalam tingkat keterwakilan perempuan di Desa Tanjung Padang, bahkan melebihi ketentuan minimum yang telah ditetapkan. Keberhasilan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam memperkuat inklusivitas gender dan kesetaraan dalam konteks demokrasi lokal. Selain itu, dihubungkan dengan dampak yang lebih besar terhadap sistem demokrasi nasional.
PERAN PAKTA INTEGRITAS DALAM MEWUJUDKAN GOOD AND CLEAN GOVERNMENT Afifah, Qoni'; Febry Bayu Listianto
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i2.155

Abstract

The dream of realizing good and clean government is a common narrative among all government administrators. To make these ideals come true so that they are not just a dream, of course, efforts are needed to achieve them. Indonesia, as a rule of law country, certainly has its own path or method in pursuing the ideals of good and clean government. Regulation of the Minister for Empowerment of State Apparatus and Bureaucratic Reform Number 49 of 2011 concerning General Guidelines for Integrity Pacts in Government/Institutional and Regional Government Environments is one of the strategies for realizing good and clean government. Research using this normative method examines the role of the integrity pact contained in the Minister of Administrative Regulations with the ideal of creating good and clean government as codified in Law Number 30 of 2014 and also various literature that is in line with the discussion. The harmony of the content of the text in the Regulation of the Minister for Empowerment of State Apparatus and Bureaucratic Reform Number 49 of 2011 with the principles of good and clean government has led researchers to conclude that this legal product has the potential to realize the ideals of government. That goal, it's just a matter of how to execute it. Abstrak Cita-cita terwujudnya good and clean government merupakan narasi yang sudah umum disemua penyelenggara pemerintahan. Terwujudnya cita-cita tersebut agar tidak hanya menjadi sebuah angan-angan tentu diperlukan adanya upaya dalam menggapainya. Indonesia sebagai negara hukum tentu memiliki jalur atau metodenya sendiri dalam mengupayakan cita-cita pemerintahan yang baik dan bersih tersebut. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 49 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pakta Integritas di lingkungan pemerintahan/lembaga dan pemerintahan daerah menjadi salah satu strategi demi terwujudnya pemerintahan yang baik dan bersih. Penelitian dengan metode normatif ini mengkaji peran pakta integritas yang ada di dalam Permenpan tersebut dengan cita-cita terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government) sebagaimana telah terkodifikasi dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 dan juga berbagai literatur yang sejalur dengan pembahasan ini. Keselarasan isi teks dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 49 Tahun 2011 dengan asas-asas pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government) menjadikan peneliti memiliki kesimpulan bahwa produk hukum yang satu ini berpotensi mewujudkan cita-cita tersebut, tinggal bagaimana eksekusinya.
PERAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PENGUATAN PRINSIP CHECKS AND BALANCES DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA Kurniawati, Dian; Rohmah, Elva Imeldatur
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i2.158

Abstract

The principle of checks and balances is one of the fundamental elements that plays a role in maintaining the balance of power between the branches of government, namely the executive, legislative, and judicial branches. The Constitutional Court has a role in supervising legislative and executive institutions so that the balance of power and the constitution are maintained in Indonesia. The supervisory function of the Constitutional Court is, reviewing laws against the 1945 Constitution, resolving authority disputes between state institutions, and supervising policies from executive institutions. This research is normative legal research, with statutory, case, and conceptual approaches. Some examples of the supervisory role of the Constitutional Court are the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XVIII/2020, which regulates authority disputes between the President and the Regional Representative Council. In this case, the Constitutional Court emphasized that the Regional Representative Council has more substantial rights in providing considerations on laws related to regional autonomy. Apart from that, Constitutional Court Decision Number 36/PUU-XV/2017 shows how Constitutional Court Decisions can influence the running of state institutions, especially in the legislative and executive context. As well as Constitutional Court Decision Number 70/PUU-XXII/2024, which focuses on the age requirements for regional head candidates. Through these decisions, the Constitutional Court not only monitors and balances power between state institutions but also protects the constitutional rights of citizens and ensures that government processes are in accordance with democratic principles and the supremacy of law. Abstrak Prinsip checks and balances merupakan salah satu elemen fundamental yang berperan menjaga keseimbangan kekuasaan antara cabang-cabang pemerintahan, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Mahkamah Konstitusi memiliki peran dalam pengawasan lembaga legislatif dan eksekutif sehingga terjaga keseimbangan kekuasaan dan konstitusi di Indonesia. Fungsi pengawasan dari Mahkamah Konstitusi yaitu, pengujian undang-undang kepada Undang-Undang Dasar 1945, penyelesaian sengketa kewenangan antar lembaga negara, serta menjadi pengawasan kebijakan dari lembaga eksekutif. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Beberapa contoh peran pengawasan Mahkamah Konstitusi adalah hadirnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XVIII/2020 yang mengatur sengketa kewenangan antara Presiden dan Dewan Perwakilan Daerah. Dalam kasus ini, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Dewan Perwakilan Daerah memiliki hak yang lebih substansial dalam memberikan pertimbangan terhadap undang-undang terkait otonomi daerah. Selain itu, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 36/PUU-XV/2017 yang menunjukkan bagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi dapat memengaruhi jalannya kelembagaan negara, terutama dalam konteks legislatif dan eksekutif. Serta Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PUU-XXII/2024, yang berfokus pada syarat usia calon kepala daerah. Melalui putusan-putusan tersebut, MK tidak hanya mengawasi dan menyeimbangkan kekuasaan antar lembaga negara, tetapi juga melindungi hak-hak konstitusional warga negara dan memastikan proses pemerintahan yang sesuai dengan prinsip demokrasi dan supremasi hukum.
ANALISIS KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PENCALONAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PADA SENGKETA HASIL PEMILIHAN UMUM 2024 Adita Haafizhoh; Az Zahra Fariza; Hanny Luthfiywh Afdi
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i2.161

Abstract

The Constitutional Court, as the guardian of democracy, has the authority to resolve disputes regarding election results, including presidential, DPR, DPD, DPRD, and even regional elections. This authority is contained in Article 24C, Paragraph 1, of the 1945 Constitution. However, after decision number 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024, the public believes that the Court has exceeded its authority. This research uses normative legal research methods with secondary data and data sources through literature studies relating to relevant literature relating to General Election Results Disputes (PHPU), Re-Voting, and the role of the Constitutional Court. From the research results, it can be concluded that judges can interpret in order to achieve certainty and justice, one of which is the doctrine of judicial activism, which can make decisions outside the context of statutory regulations. Apart from that, with Decision Number 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024, it is necessary to adjust the provisions regarding the cooling-off period for former convicts who wish to nominate themselves as candidates for Regional Representative Council members in the relevant laws and regulations so that they reflect justice and legal certainty. Abstrak Mahkamah Konstitusi sebagai the guardian of democracy berwenang menyelesaikan perselisihan tentang hasil pemilu, baik pemilu presiden, DPR, DPD, DPRD, bahkan Pilkada. Kewenangan tersebut termaktub dalam Pasal 24C Ayat 1 Undang- Undang Dasar (UUD) 1945. Namun Pasca putusan nomor 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024 masyarakat berpendapat bahwa Mahkamah telah melampaui kewenangannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan data sekunder dan sumber data melalui studi kepustakaan yang berkaitan dengan literatur yang relevan yang berkaitan dengan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU), Pemungutan Suara Ulang, dan peran Mahkamah Konstitusi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bahwa hakim dapat melakukan penafsiran guna mewujudkan kepastian dan keadilan, salah satunya dengan doktirn judicial activism yang mana dapat membuat putusan diluar konteks peraturan perundang-undangan. Selain itu, dengan adanya Putusan Nomor 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024 perlu penyesuaian ketentuan mengenai jangka waktu masa jeda mantan terpidana yang hendak mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah dalam peraturan perundang-undangan terkait sehingga mencerminkan keadilan dan kepastian hukum.
PERAN HUKUM TATA NEGARA ADAT KALILI “TONDA TALUSI” DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA DI LEMBAH PALU Randy Atma R Massi; Mursyid, Besse Tenriabeng
Qaumiyyah: Jurnal Hukum Tata Negara Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qaumiyyah.v5i2.165

Abstract

Palu City is the capital of Central Sulawesi Province. The original inhabitants of Palu City are the Kaili tribe. Most of the population adheres to Islam (86.99%), Christianity (10.65%), Catholicism (0.90%), Hinduism (0.93%), Buddhism (0.50%), and Confucianism (0.001%). The potential for diversity certainly contains both positive and negative values. Conflicts due to ethnic and religious diversity often occur. What is interesting is that the largest tribe in the Palu Valley, which has an open character with differences and diversity, is the character of the Kaili people, so this is interesting to study, especially regarding the abilities of the Kaili tribe with its system called "Tonda." Talusi” can make the City of Palu one of the cities that is able to easily instill the value of religious moderation. This research is qualitative research, a type of library research. The research results show that Tonda Talusi is the philosophy of the Kaili indigenous people, which describes the harmonious relationship between humans and the universe, with fellow humans, and with God. Tonda Talusi means three supports (furnaces) for the lives of the Kaili indigenous people. The principles of togetherness in Tonda Talusi's philosophy include the 3 pillars of life of the Kaili traditional community, which are based on good values, namely: Matuvu Mosipeili means seeing each other, Matuvu Mosiepe means hearing each other, and Matuvu Mosimpotove means loving each other. Abstrak Kota Palu adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, penduduk asli Kota Palu adalah Suku Kaili. Sebagian besar penduduknya memeluk Agama Islam (86,99%), Kristen (10,65 %), Katholik (0,90 %), Hindu (0,93 %), Budha (0,50 %) dan Kong Hu Cu (0,001 %). Potensi keragaman tersebut tentu memuat nilai positif maupun negatif. Konflik akibat faktor keragaman suku dan agama kerap terjadi, hal yang menarik, ketika suku terbesar di lembah Palu yang mempunyai karakter terbuka dengan perbedaan dan keragaman merupakan karakter masyarakat Kaili sehingga hal ini menarik untuk digkaji terutama terkait kemampuan suku Kaili dengan sistemnya yang disebut dengan “Tonda Talusi” dapat menjadikan Kota Palu menjadi salah satu kota yang mampu dengan mudah menanamkan nilai moderasi beragama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, jenis penelitian library research. Hasil penelitian menujukan bahwa Tonda Talusi adalah filosofi masyarakat adat Kaili yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan. Tonda Talusi artinya tiga penyangga (tungku) kehidupan masyarakat adat Kaili. Prinsip-prinsip kebersamaan dalam falsafah Tonda Talusi, meliputi 3 pilar kehidupan masyarakat adat Kaili yang dilandasi nilai-nilai kebaikan, yaitu: Matuvu Mosipeili artinya saling melihat, Matuvu Mosiepe artinya saling mendengar, Matuvu Mosimpotove artinya saling mengasihi.