cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
deskripsi.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Department of Languages and Literatures, Building R. Soegondo, second Floor, Sosiohumaniora Street No. 1, Bulaksumur, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Deskripsi Bahasa
ISSN : 26157349     EISSN : 26866110     DOI : https://doi.org/10.22146
Deskripsi Bahasa [DB] merupakan jurnal untuk menyebarluaskan hasil penelitian atau pemikiran bahasa yang diterbitkan sebanyak 2 nomor dalam setahun yaitu pada bulan Maret dan Oktober oleh Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UGM bekerja sama dengan Forum Linguistik. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ini difokuskan pada bidang linguistik deskriptif, linguistik sosial, dan penerjemahan. Dosen, mahasiswa, dan peneliti bahasa diharapkan dapat memanfaatkan jurnal ini untuk berbagi pengetahuan hasil penelitian atau pemikirannya. DB mencakup naskah luaran kegiatan penelitian dengan kajian khusus linguistik.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2" : 6 Documents clear
The Jakarta Post’s Portrayal of the Police’s Perspective on the Murder Case by FS: A Critical Discourse Analysis Abidah, Amelia Nur; Sutrisno, Adi
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.6616

Abstract

Representation is defined as a method of investigating a specific thing seen through language, action, or voice, which has different ways of representing something. People can see how certain issues are represented in the way they are delivered or reported in various media, whether in written or spoken language. To discover goals and messages in mass media, a researcher employed the analysis of certain discourse through the consideration in the use of words, phrases, and clauses that are arranged within media. This present research investigated how Indonesian police is represented through The Jakarta Post regarding the murder case of one police agent which offers new explanation regarding the way a news media elaborates on the Indonesian police through the language reflection used by the media through the three-dimension model of Fairclough. A qualitative research methodology is employed together with the application of a three-dimensional level of Norman Fairclough CDA. The results indicated that The Jakarta Post is neutral, with no bias toward either party, the public society, or the policies. It depicts how the Indonesian police handled the case. However, it still indicates public mistrust in the action or irregularities in the investigation and autopsy results, as evidenced by the responses of specific organizations in it. === Representasi didefinisikan sebagai metode untuk menyelidiki satu hal tertentu yang dapat dilihat melalui bahasa, tindakan, atau suara, yang masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam merepresentasikan sesuatu. Masyarakat dapat melihat bagaimana isu tertentu direpresentasikan dalam cara penyampaian atau pemberitaannya di berbagai media, baik tertulis maupun lisan melalui bahasa. Untuk menemukan tujuan dan pesan dalam media massa, penelitian dapat menggunakan analisis wacana tertentu melalui pertimbangan penggunaan kata, frase, dan klausa yang disusun dalam media. Penelitian ini menyelidiki bagaimana polisi Indonesia direpresentasikan melalui The Jakarta Post terkait kasus pembunuhan salah satu agen polisi, dimana akan menawarkan penjelasan baru mengenai cara media berita mengelaborasi polisi Indonesia melalui refleksi bahasa yang digunakan media melalui model tiga dimensi dari Fairclough. Metode deskriptif kualitatif digunakan bersama dengan penerapan level tiga dimensi AWK Norman Fairclough. Hasilnya menunjukkan bahwa The Jakarta Post netral, tidak memihak salah satu pihak, masyarakat umum, atau pihak polisi. Ini menggambarkan bagaimana polisi Indonesia menangani kasus tersebut. Namun, hal itu tetap menunjukkan ketidakpercayaan publik terhadap tindakan atau kejanggalan dalam penyelidikan dan hasil otopsi, terbukti dari tanggapan organisasi tertentu di dalamnya.
Register Perawatan Wajah di Komunitas Media Sosial Facebook Nashiroh, Tsalits Syafa’atun
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.7103

Abstract

Every member of the community on Facebook can freely discuss something of mutual interest. However, the members usually use particular lexicons that can only be understood by the members and people with the same interest. This study aims to describe the forms of registers, semantic changes, and the function of registers used by the members of the Facebook community. Wardhaugh's perspective on registers is used in this study to restrict the concept of register. Meanwhile, Keraf and Biber's theory were applied to identify the meanings and the functions of the registers. This research applied descriptive qualitative method. The data of the registers used by Facebook community members in November 2022-Januari 2023 were collected by applying reading and note-taking techniques. Registers were analyzed based on the form, meaning, and function. The study found that the form of register used by skincare enthusiasts consisted of words, phrases, and abbreviations. The registers also changed in meaning in the type of narrowing, broadening, shifting, and metaphor. The use of registers predominantly meet the heuristic and representational functions. The forms and semantic changes in the use of registers can be caused by the situational characteristics of the community, such as users’ social characteristics, relation between users, communicative purposes, channel, and the topic. === Setiap anggota komunitas dalam Facebook dapat bebas berdiskusi mengenai sesuatu yang diminati bersama. Namun tidak jarang anggota menggunakan leksikon tertentu yang hanya dapat dipahami oleh anggota dan orang-orang dengan minat yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk-bentuk register, memaparkan perubahan-perubahan makna, dan fungsi penggunaan register oleh anggota komunitas Facebook. Perspektif Wardhaugh mengenai register digunakan penelitian untuk membatasi pengertian register. Sementara itu, teori Keraf dan Biber diaplikasikan untuk mengidentifikasi makna-makna dan fungsi register. Penelitian ini merupakan peneltian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu menyimak dan mencatat register-register yang digunakan anggota komunitas Facebook pada bulan November 2922— Januari 2023. Register dianalisis berdasarkan bentuk, makna, dan fungsinya. Penelitian menemukan bahwa bentuk register penggemar perawatan wajah berupa kata, frasa, dan abreviasi. Register juga mengalami perubahan makna berupa penyempitan makna, perluasan makna, pergeseran makna, dan metafora. Penggunaan register lebih banyak memenuhi fungsi heuristik dan representasi. Bentuk dan perubahan yang terjadi pada penggunaan register tersebut dipengaruhi oleh karakteristik situasional, seperti karakteristik sosial pengguna, relasi antar pengguna, tujuan komunikatif, medium penyampaian, serta topik.
Identity Creation and Retention of UGM as an Iconic Brand Viklous, Belinda Ekharisti; Radjalewa, Cosmas Reynold; Sulistyowati
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.8768

Abstract

This article aims to investigate how the iconicity of UGM is constructed, the underlying notion of UGM as an icon, and the reason behind the iconicity of UGM. The multiple interpretations of UGM as an icon are analyzed using Peirce's semiotic framework to show the relationship between the representamen, interpretant, and object. Blumer’s concept of symbolic interaction is also applied to display the interaction mechanism between the representamen and the interpretant on the formation of the iconic sign. And mixed methods are used as an approach to explain the data. As a result, this article has collected 168 tokens of interpretations of UGM with 5 dominant tokens explained, namely Berkualitas (Qualified), Jogja (Yogyakarta), Terbaik (The Best), Pintar (Smart), and Keren (Cool). The representamen and the interpretant are interrelated through bidirectional interpretations. UGM is projected as an iconic brand to serve identity creation and retention. Identity creation and retention might potentially promote social class and disparity as a result of power relations and distribution regarding UGM as an iconic brand. Further study needs to be conducted to address the issues. === Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana ikonisitas UGM dikonstruksi, apa yang melatarbelakangi gagasan UGM sebagai ikon, dan alasan dibalik ikonisitas UGM. Multitafsir tentang UGM sebagai ikon dianalisis menggunakan kerangka semiotik Peirce untuk menunjukkan hubungan antara representamen, interpretant, dan objek. Konsep interaksi simbolik Blumer juga diterapkan untuk menampilkan mekanisme interaksi antara representamen dan interpretan pada pembentukan tanda ikonik. Dan metode campuran digunakan sebagai pendekatan untuk menjelaskan data. Hasilnya, artikel ini telah mengumpulkan 168 token interpretasi UGM dengan menjelaskan 5 token dominan, yaitu Berkualitas, Jogja, Terbaik, Pintar, dan Keren. Representamen dan interpretan saling terkait melalui interpretasi dua arah. UGM diproyeksikan sebagai merek ikonik untuk melayani penciptaan dan retensi identitas. Penciptaan dan retensi identitas berpotensi mengangkat kelas sosial dan disparitas akibat relasi kuasa dan distribusi yang menganggap UGM sebagai merek ikonik. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Jenis, Sebab, dan Dampak Multilingualisme Masyarakat Balikpapan Annisa, Luthf
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.9392

Abstract

This research aims to determine the type of multilingualism in Balikpapan society along with its causes and impacts. This research is qualitative. obtaining the data from 27 participants and interviews with 3 informants. Data collection was carried out through questionnaires. Data analysis was carried out by analyzing questionnaire results and analysis results in the form of componential analysis and cultural themes. The results of the research show that the multilingualism abilities possessed by the community are dominant and passive responsive multilingualism, meaning that the community is more proficient in one language than another and has the ability to understand various languages but is less able to speak these languages. The three main causes of multilingualism in Balikpapan society are the community environment, independent learning, and transmission from parents. From the multilingualism of Balikpapan society, the phenomenon of code mixing emerged. The people of Balikpapan mix one language with another. === Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis multilingualisme masyarakat di Balikpapan beserta sebab dan dampaknya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari 27 partisipan dan wawancara dengan 3 informan Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner. Analisis data dilakukan dengan menganalisa hasil angket dan hasil wawancara dalam bentuk analisis komponensial dan analisis tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemampuan multilingualisme yang dimiliki masyarakat adalah multilingualisme dominan dan pasif responsif artinya masyarakat lebih menguasai satu bahasa daripada bahasa lain dan memiliki kemampuan dalam memahami berbagai bahasa namun kurang dalam berbicara bahasa-bahasa tersebut. Adapun tiga penyebab utama kemampuan multilingualisme di masyarakat Balikpapan adalah lingkungan masyarakat, pembelajaran mandiri, dan transmisi dari orang tua. Dari multilingualisme masyarakat Balikpapan ini muncul fenomena campur kode. Masyarakat Balikpapan mencampurkan bahasa satu dengan bahasa lain.
Produksi Fillers dalam Ujian Berbicara Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum IGCSE: Tinjauan Psikolinguistik Nugraha, Edy; Tarmini, Wini
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.9760

Abstract

Speaking skill is the most important skill in learning a language as it reflects students' proficiency. Speaking differs from writing because speaking is a spontaneous activity and it involves the use of more fillers. This research explores the use of fillers in the bahasa Indonesia speaking test for Grade 10 students in the Cambridge IGCSE curriculum. A descriptive quantitative research method was applied with psycholinguistic and note-taking approaches. The research involves nine respondents from one international school who took the IGCSE exam. The findings revealed that non-lexical fillers constituted the highest percentage of sound fillers used at 67%, followed by word fillers at 27%, and phrase fillers at 6%. The most frequently used filler was ‘eee’ appearing 133 times, followed by ‘hmm’ 13 times. The most used filler words were 'apa' at 11 times and 'seperti' at nine times. The most common filler phrase was ‘menurut saya,’ appearing nine times. Regarding the filler function, the two most frequently used functions were hesitation (66%) and emphasis (22%). The high occurrence of hesitation fillers such as 'eee,' 'hmm,' and 'apa' implies that students experience anxiety during the speaking test. In addition, three functions of fillers imply disfluency and two functions imply the marker of discourse or communicative strategies. === Keterampilan berbicara menjadi keterampilan yang sangat penting karena merupakan tanda keutuhan murid dalam mempelajari bahasa. Bahasa lisan berbeda dengan bahasa tulis karena bahasa lisan lebih sulit diatur dengan sifat spontan dan lebih banyak penggunaan filler. Penelitian ini membahas bagaimana produksi filler dalam ujian berbicara bahasa Indonesia Kelas 10 kurikulum Cambridge IGCSE. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan psikolinguistik. Responden adalah 9 murid dari sekolah SA yang mengikuti ujian IGCSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filler nonleksikal menempati filler yang paling sering muncul mencapai 67%, pengisi kata 27%, dan filler frasa 6%. Filler yang paling banyak muncul adalah ‘eee’ mencapai 133 dan kedua adalah ‘hmm’ mencapai 13. Filler kata yang paling banyak muncul adalah ‘apa’ 11 kali dan ‘seperti’ 9 kali. Filler leksikal frasa yang muncul paling banyak adalah ‘menurut saya’ sebanyak 9 kali. Kemudian dari fungsi filler, kedua fungsi yang paling banyak diproduksi peserta didik adalah fungsi alat keraguan/ jeda dan fungsi empati. Fungsi keraguan mencapai 66% sementara fungsi empati mencapai 22%. Tingginya kemunculan filler ‘eee’, ‘ehm’, ‘apa’ mengimplikasikan murid mengalami kecemasan ketika ujian berbicara. Tambahan pula, 3 fungsi filler yang muncul menandakan ketidaklancaran dan 2 fungsi filler menandakan komunikasi strategis atau penanda wacana.
Verba Berafiks Me(N)— dan Ber— dalam Bahasa Indonesia: Perbedaan Perilaku Sintaksis dan Derivasinya Laksanti, I Desak Ketut Titis Ary
Deskripsi Bahasa Vol 6 No 2 (2023): 2023 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/db.v6i2.9903

Abstract

This research deals with differences syntactic character and its derivation between me(N)— and ber— verbs affixed in Indonesian language since many problems often appear when teaching Indonesian language grammar to foreigners. The data in this research was generated from the researcher's intuition as a native Indonesian speaker using a reflective-introspective method. Such method and technique are used to ease the data collection and their grammatical testing. The data are analyzed using distributional method and followed by substitution and paraphrase technique. These technique and method are used because their implementation exploiting internal linguistic elements. The research results show that me(N)— affixed verbs can form transitive and intransitive verbs. These intransitive verbs can be changed to transitive if combined with the suffix –kan, suffix –i, per-kan, and per-i. Meanwhile, ber— affixed verbs in Indonesian can form intransitive verbs. The derivations resulting from me(N)— affixed verbs are concrete nouns with the affix pe(N)— and abstract nouns with the affix pe(N)—an, while those derived from ber— affixed verbs are concrete nouns with the affix pe— and abstract nouns with the affix pe —an. Apart from nouns, ber— affixed verbs also derives from verbs. However, there are other problems that often do not comply with these formation rules. === Penelitian ini membahas perbedaan perilaku sintaksis dan derivasi antara verba berafiks me(N)— dan ber— dalam bahasa Indonesia karena kerap muncul ketika mengajarkan materi tata bahasa bahasa Indonesia kepada orang asing. Data-data dalam penelitian ini dibangkitkan dari intuisi peneliti sebagai penutur asli bahasa Indonesia menggunakan metode reflektif-introspektif. Pemerolehan data yang demikian dilakukan untuk memudahkan pencarian dan pengujian data. Data-data itu dianalisis dengan metode agih atau distribusional yang selanjutnya dilakukan dengan teknik substitusi dan teknik parafrasa. Metode dan teknik itu digunakan karena pelaksanaannya melibatkan unsur-unsur dalam bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba berafiks me(N)— dalam bahasa Indonesia dapat membentuk verba transitif dan intransitif. Verba intransitif tersebut dapat diubah menjadi transitf jika dikombinasikan dengan sufiks –kan, sufiks –i, memper—kan, dan memper—i. Verba berafiks ber— dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembentuk verba intransitif. Derivasi yang dihasilkan dari verba berafiks me(N)— adalah nomina konkret berafiks pe(N)— dan nomina abstrak berafiks pe(N)—an, sedangkan yang diturunkan oleh verba berafiks ber— adalah nomina konkret berafiks pe— dan nomina abstrak berafiks pe—an. Selain nomina, afiks ber— juga menderivasikan verba. Akan tetapi, terdapat persoalan-persoalan lain yang kerap kali tidak sesuai dengan kaidah pembentukan tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 6