cover
Contact Name
Muhammad Rizki
Contact Email
m.rizki8787@gmail.com
Phone
+6285219941987
Journal Mail Official
admin@jurnal-tmit.com
Editorial Address
Jalan Padang Bolak, No. 1B, Labuh Baru Timur, Pekanbaru-Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
ISSN : 28290232     EISSN : 28290038     DOI : -
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) adalah journal blind peer-review yang bersifat open access yang memungkinkan artikel tersedia secara online tanpa berlangganan apapun. JTMIT didedikasikan untuk publikasi hasil penelitian, artikel teknis, konseptual dan laporan studi kasus dalam bidang Teknologi dan Manajemen secara umum, namun tidak terbatas secara implisit. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) dikelola secara professional dan diterbitkan oleh Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual dalam membantu para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk menyebarkan hasil penelitiannya
Arjuna Subject : -
Articles 581 Documents
Optimalisasi Kinerja Operasional Gudang Menggunakan Theory Of Constraints (TOC) Dan Discrete Event Simulation (DES) : (Studi Kasus: PT PLN (Persero) Up3 Madura) Ike Jihan Nabila; Rr. Rochmoeljati
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1436

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja operasional gudang PT PLN (Persero) UP3 Madura dengan mengidentifikasi dan mengurangi bottleneck pada alur proses menggunakan metode Theory of Constraints (TOC) dan Discrete Event Simulation (DES). Metode TOC digunakan untuk menemukan aktivitas yang menjadi kendala utama dalam sistem, sedangkan simulasi DES dengan perangkat lunak ProModel digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem serta menguji beberapa skenario perbaikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas pemuatan material pada Stasiun Kerja 2 (Outbound) merupakan bottleneck utama dengan waktu baku 15,83 menit dan tingkat utilisasi sumber daya mencapai 90%. Model simulasi yang telah tervalidasi digunakan untuk menguji tiga skenario perbaikan. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa Skenario 3, yaitu perbaikan tata letak gudang (re-layout) dengan pengurangan jarak antar area sebesar 25%, menghasilkan peningkatan throughput sebesar 15,4% dan penurunan waktu siklus sebesar 23,6%. Dengan demikian, integrasi metode TOC dan DES terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi aliran material dan kinerja operasional gudang secara keseluruhan.
Analisis Metode HIRARC untuk Menunjang Implementasi Budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Dan Rajin) Pada Area Kerja Fabrikasi: (Studi Kasus: PT Ravana Jaya) Muhammad Ibnu Khizmi; Akhmad Wasiur Rizqi
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1437

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di area fabrikasi PT Ravana Jaya menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC), serta menyusun rekomendasi pengendalian berbasis budaya kerja 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) yang terintegrasi dengan tingkat risiko. Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Penilaian risiko mengacu pada standar AS/NZS 4360:1999 dengan mempertimbangkan parameter likelihood dan severity. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari sembilan aktivitas kerja yang diidentifikasi, terdapat tujuh aktivitas dengan tingkat risiko tinggi, yaitu proses cutting gas, drilling (magnetic bor dan punching), assembly, serta pengelasan MIG dan las stik portable. Risiko tinggi dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya teknis mesin, listrik, dan panas, tetapi juga oleh faktor housekeeping yang kurang baik, rendahnya kepatuhan terhadap SOP dan penggunaan alat pelindung diri, serta perawatan peralatan yang belum optimal. Integrasi HIRARC dan 5R memberikan pendekatan pengendalian risiko yang lebih komprehensif, di mana HIRARC berfungsi sebagai alat prioritisasi risiko, sedangkan 5R berperan sebagai pengendalian berbasis perilaku dan lingkungan kerja. Pendekatan ini menghasilkan rekomendasi perbaikan yang aplikatif dan berpotensi menurunkan risiko kecelakaan kerja secara berkelanjutan.
The Effect Of Digital System Implementation On Taxpayer Compliance With Digital Culture As A Moderating Variable Rika Lidyah; Wati Rosmawati; Yeni Indraningtyas; Endang; Nuraini
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 3 No. 3 (2024): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i3.1441

Abstract

In an effort to increase state revenue and administrative efficiency, many global tax authorities, including Indonesia, have invested significant resources in implementing Digital Tax Systems (e.g., e-filing, e-billing, e-invoice, and core tax systems). The implementation of these systems aims to simplify the reporting process, reduce compliance costs, and minimize human interactions that are prone to corruption, thereby ultimately improving Taxpayer Compliance. However, the effectiveness of these digital systems is not universal and is predicted to depend heavily on the user's context. This study aims to examine the role of taxpayer Digital Culture, defined as a combination of digital literacy, trust in technology, and acceptance of process automation, as a moderating variable in the relationship between Digital System Implementation and Taxpayer Compliance. Using a quantitative approach with a hierarchical regression model (Moderated Regression Analysis) or PLS-SEM, this study tests the hypothesis that the positive impact of digital system implementation on compliance will be significantly more substantial among taxpayers with a high Digital Culture and, conversely, weaker among those with a low Digital Culture. These findings are expected to provide strategic implications for the Directorate General of Taxes (DGT) in designing targeted education and outreach programs to ensure that technology implementation reaches its maximum potential in driving compliance.
Penerapan Metode Fmea Dan Fta Dalam Analisis Penyebab Produk Cacat Air Minum Pada Kemasan 240ml : (Studi Kasus: PT. Swabina Gatra) Marindra Ahmad Nurdiansyah; Said Salim Dahda
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1444

Abstract

Penelitian ini berfokus dalam menganalisis masalah yang menjadi faktor esensial serta urutan risiko yang berhubungan Dengan kecacatan produk yang terjadi dalam produksi pembuatan air minum dalam kemasan 240 ml di PT Swabina Gatra. Teknik yang diterapkan adalah kombinasi antara Analisis Mode dan Efek Kegagalan (FMEA) serta Analisis Pohon Kesalahan (FTA) untuk menemukan dan mengidentifikasi sumber mendasar dari jenis kegagalan yang telah diamati. Data untuk penelitian ini diperoleh dengan cara pengamatan langsung pada lokasi produksi serta melalui pengamatan dibagian produksi serta wawancara dengan pimpinan produksi, departemen Kontrol Kualitas. Analisis berhasil mengindikasikan bahwa cacat dengan RPN tertinggi terjadi pada jenis cacat lid cup miring, dengan nilai 216. kegagalan ini diakibatkan dari masalah mesin penutup atau segel tidak presisi dan suhu pemanas yang kurang konsisten atau berubah ubah. (FTA) digunakan untuk mengetahui penyebab mendasar dalam cacatnya produk. Rekomendasi untuk perbaikan meliputi perawatan dan pengecekan rutin pada mesin penyegelan, penyaringan air, pengisian air, serta melakukan program pelatihan dan bimbingan operator mengenai pentingnya SOP, serta perawatan rutin terhadap standar peralatan produksi. Penelitian selama kerja praktek diharapkan bisa membantu perusahaan dalam memperkecil tingkat kecacatan produk serta mengembangkan kinerja dalam langkah-langkah pengendalian kualitas.
The Urgency Of Transparency In State Officials' Spending To Reduce Corruption Rates In Indonesia Desyi Erawati; Raihan Hanasi; Rizal Bakti; Muhammad Aiman; Apriani Riyanti
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 2 No. 3 (2023): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i3.1447

Abstract

Corruption remains a structural and endemic challenge that hampers economic development, undermines democratic institutions, and erodes public trust in Indonesia. Despite various legal and institutional reforms, the level of corruption, as measured by indices such as Transparency International's Corruption Perceptions Index (CPI), has not shown significant, sustained improvement. This study argues that one critical gap in the public accountability system is the lack of adequate, specific transparency in reporting the operational and discretionary expenditures of state officials, particularly at the executive and legislative levels. The purpose of this study is to analyze the theoretical and empirical urgency of implementing a comprehensive transparency regime for official expenditures (e.g., official travel, representation costs, and the use of tactical/operational funds) to prevent and detect corrupt practices early. Drawing on the Theory of Public Accountability and international experience (e.g., Freedom of Information Acts), this study uses a normative-empirical approach to identify a negative correlation between expenditure data disclosure and corruption incidents. The central hypothesis is that spending transparency creates a deterrent effect through heightened public scrutiny, thereby significantly reducing opportunities for misappropriation and strengthening officials' ethical commitment. This finding is crucial for formulating evidence-based anti-corruption policies in Indonesia, particularly regarding revisions to the Public Information Disclosure Law (KIP) and regulations on State Officials' Wealth Reports (LHKPN).
Analisis Kualitas Layanan dan Kepuasan Wisatawan pada Pengelolaan Desa Wisata Berkelanjutan di Desa Wisata Bansari Salma Fatimatu Zahra; Sri Gunani Partiwi
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1449

Abstract

Desa Wisata Bansari di Kabupaten Temanggung merupakan destinasi wisata berbasis alam dan pertanian yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Namun, kinerja layanan berbasis keberlanjutan yang dirasakan wisatawan belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan wisatawan terhadap kualitas layanan berbasis dimensi keberlanjutan serta merumuskan strategi pengembangan desa wisata berkelanjutan di Desa Wisata Bansari menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance Performance Analysis (IPA). Data dikumpulkan dari 67 responden wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CSI sebesar 74,11% yang termasuk dalam kategori puas, namun masih memerlukan peningkatan. Analisis IPA mengidentifikasi empat atribut prioritas perbaikan pada kuadran A, yaitu pengelolaan sampah (L4), manajemen pengelolaan desa wisata (S5), partisipasi masyarakat (S3), dan promosi desa wisata (E4). Berdasarkan hasil tersebut, rekomendasi strategi pengembangan berkelanjutan meliputi peningkatan pengelolaan sampah, penguatan kapasitas SDM dan partisipasi masyarakat melalui pendekatan Community-Based Tourism (CBT), serta optimalisasi promosi digital. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi pengelola dan pemangku kepentingan dalam pengembangan Desa Wisata Bansari yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Optimasi Rantai Pasok Tandan Buah Segar Dan Pelepah (Limbah) Kelapa Sawit Pada Hulu Rantai Pasok Industri Kelapa Sawit Martua Philipus Patia Raja; Nurhadi Siswanto
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1450

Abstract

Industri kelapa sawit menghadapi tantangan utama berupa tingginya production loss, biaya logistik yang besar, serta belum optimalnya pemanfaatan limbah perkebunan, khususnya pelepah kelapa sawit. Penelitian ini mengembangkan model transshipment problem berbasis Mixed Integer Linear Programming (MILP) untuk mengoptimalkan sistem transshipment multi-komoditi yang mengintegrasikan distribusi tandan buah segar (TBS) dan limbah pelepah. Model dirumuskan dengan tiga fungsi tujuan, yaitu minimasi kerugian produksi (Z1), minimasi total biaya operasional (Z2), dan maksimasi keuntungan sosial–ekonomi (Z3) yang kemudian digabung menjadi 1 fungsi tujuan utama dengan satuan ekonomi. Studi kasus dilakukan di Kalimantan Timur dengan mempertimbangkan aliran TBS dari kebun ke pengepul dan pabrik kelapa sawit (PKS), serta aliran pelepah ke fasilitas pengolahan. Hasil optimasi baseline menunjukkan solusi optimal dengan nilai Z1 sebesar Rp3,13 miliar, Z2 sebesar Rp28,15 miliar, dan Z3 sebesar Rp470,18 miliar, sehingga menghasilkan nilai objektif total sebesar Rp438,89 miliar. Hasil ini menunjukkan bahwa model mampu menekan kerugian produksi, mengendalikan biaya operasional, serta menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa faktor cuaca dan kapasitas pengolahan pelepah merupakan parameter paling berpengaruh terhadap kinerja sistem, menegaskan pentingnya perencanaan kapasitas dan mitigasi risiko dalam mendukung keberlanjutan rantai pasok kelapa sawit.
Identifikasi Bahaya Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) Di Industri Rotan Desa Trangsan Menggunakan Job Safety Analysis (JSA) Susanti Alfitri Anissa; Salsabila Purnamasari
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1459

Abstract

Industri rotan di Desa Trangsan, Sukoharjo, yang sebagian besar berada di sektor informal, memiliki potensi tinggi terhadap kecelakaan kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) akibat paparan debu, bahan kimia berbahaya, serta postur kerja yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai tingkat risiko menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) sesuai standar AS/NZS 4360:2004. Pendekatan deskriptif semi-kuantitatif dengan rancangan cross-sectional diterapkan pada 13 unit usaha rotan dengan melibatkan 170 pekerja. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada tujuh tahapan produksi, yaitu penerimaan bahan, pembongkaran, pemberian obat rayap, penggerindaan dan penganyaman, pengamplasan, finishing, serta packing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 23 jenis bahaya dengan distribusi risiko rendah (21,74%), sedang (52,17%), dan tinggi (26,09%). Risiko tertinggi ditemukan pada proses penggerindaan, pengamplasan, dan packing, yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, luka serius, serta cedera muskuloskeletal. Upaya pengendalian dilakukan melalui hierarki pengendalian, meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran pekerja terhadap budaya K3 di sektor informal.
Collaboration Between The Regional Government, Local Msmes, And Local Influencers In Maximizing Jambi's Economic Potential Heppi Syofya; Novic Diwi Pernanda
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 2 No. 3 (2023): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i3.1461

Abstract

Jambi Province has significant economic potential, particularly in agribusiness, cultural and nature-based tourism, and the unique products of local Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). However, this potential is often not optimally utilized due to classic challenges in terms of market penetration, weak digital branding, and coordination between stakeholders. This study analyzes the urgency and effectiveness of the Collaborative Triple Helix model involving the Regional Government (Regulator and Facilitator), Local MSMEs (Producers), and Local Influencers (Digital Marketing Catalysts) in creating a synergistic and sustainable economic ecosystem in Jambi. The main objectives of this study are to identify the most effective collaboration mechanisms to (1) increase the exposure of Jambi products and destinations through social media, (2) strengthen the branding capabilities of MSMEs, and (3) increase sales volume and tourist visits. Using a qualitative-descriptive approach involving in-depth interviews with representatives of the three parties, this study proposes a digital platform-based collaboration model. Initial findings indicate that local influencers play a crucial role as a bridge of trust between MSME products and millennial/Gen Z audiences. In contrast, local governments must shift from mere regulation to a digital incubator and cross-sectoral coordinator. The conclusion emphasizes that intensifying this collaboration is key to accelerating Jambi's digital economy.
Peningkatan Manajemen Risiko K3 Di Industri Kimia: Pendekatan Terpadu HIRARC Dan HAZOP Pada Produksi STPP Septian Dwi Ardiansyah; Yanuar Pandu Negoro; Deny Andesta
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1463

Abstract

Penelitian ini bertujuan menerapkan integrasi dua metodologi analisis risiko – HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) dan HAZOP (Hazard and Operability Study) – pada lini produksi Sodium Tripolyphosphate (STPP) di PT XYZ. Dalam skema tersebut, HIRARC menilai bahaya dan risiko pada setiap aktivitas kerja (macro risk) melalui parameter Likelihood dan Severity, sedangkan HAZOP menelaah deviasi proses dan akar penyebabnya (micro risk) di node proses utama (unit pencampuran, rotary kiln, unit pendingin, dan penyimpanan). Hasil integrasi HIRARC–HAZOP menunjukkan profil risiko yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan tunggal. Dari 12 aktivitas kerja yang dianalisis, 4 di antaranya tergolong risiko tinggi, 5 sedang, dan 3 rendah. Analisis HAZOP mengidentifikasi 9 deviasi kritis (contohnya: suhu operasi melebihi set point, ventilasi lokal tidak memadai, personel tak berwenang di jalur forklift, serta indikasi korsleting listrik). Rekomendasi praktis mencakup penerapan interlock ventilasi–agitator di unit pencampuran, penambahan alarm suhu SIL2 pada rotary kiln, segregasi jalur forklift–pejalan kaki dengan kontrol akses, peningkatan program permit-to-work dan LOTO, serta peningkatan housekeeping dan penandaan visual area operasi. Dengan demikian, integrasi HIRARC–HAZOP menghasilkan pemetaan risiko K3 yang lebih holistik serta pengendalian yang lebih presisi untuk menurunkan probabilitas dan dampak insiden produksi STPP.