cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Penggunaan Indeks Kesehatan Masyarakat Nusantara Sehat Dalam Mengukur Kinerja Tim Nusantara Sehat Ida Diana Sari; Harimat Hendarwan; Rizqiana Halim
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.749 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40373

Abstract

Faktor geografi Indonesia yang berupa daratan, lautan, pegunungan, dan pulau-pulau yang tersebar menyebabkan distribusi tenaga kesehatan dan akses pelayanan kesehatan yang tidak optimal. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang telah ditetapkan, pemerintah berupaya mendayagunakan secara khusus SDM kesehatan dalam kurun waktu tertentu dengan jumlah dan jenis tertentu, agar meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di wilayah DTPK dan DBK melalui Program Nusantara Sehat (NS). Tahun 2015 telah ditugaskan Tim NS Batch 1 dan 2 pada 120 Puskesmas di DTPK dan DBK selama 2 tahun. Kemudian pada tahun 2017 setelah masa tugas berakhir, diadakan evaluasi program yang bertujuan untuk mengetahui dampak program NS terhadap indeks kesehatan masyarakat dengan menggunakan desain Pre and Post-Test Intervention with Control. Evaluasi dilakukan di 15 provinsi, 27 kabupaten, dan 60 Puskesmas pada bulan Februari - Desember 2017. Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa pada tahun 2017 terjadi perubahan rata-rata indeks kesehatan masyarakat dibandingkan dengan tahun 2015, baik pada Puskesmas intervensi maupun kontrol (p=0,000). Kemudian hasil uji independen t-test terhadap delta perubahan indeks menunjukkan bahwa peningkatan indeks kesehatan masyarakat pada Puskesmas intervensi lebih besar dibandingkan dengan Puskesmas kontrol (p=0,046). Artinya, penugasan Tim NS pada Puskesmas telah membawa perbaikan indeks kesehatan masyarakat yang lebih baik. Diperlukan pengamatan lebih jauh terkait sustainabilitas Program NS dan analisis biaya manfaat (cost benefit analysis) terhadap Program NS.
Modernisasi Implementasi Public Private Mix pada Populasi Berisiko di Daerah Kumuh Perkotaan Wilayah Kerja Puskesmas Riana Dian Anggraini; Eka Putri Rahayu; Wa Ode Siti Orianti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.622 KB)

Abstract

Abstrak PendahuluanInfrastruktur kesehatan yang tidak berkembang didaerah kumuh dan buruknya akses kelayanan kesehatan primer mendorong pemanfaatan penyedia layanan sektor swasta oleh masyarakat miskin. Keberadaaan praktisi swasta melebihi jumlah penyedia layanan publik dan mampu menawarkan kemudahan akses serta lebih menjadi pilihan dibandingkan fasilitas layanan publik.Strategi DOTS mendeteksi kurang dari 30% dari perkiraan kasus TB baru yang ada di masyarakat. Missing case yang mencapai 70% tidak mungkin dapat ditemukan kecuali dengan pendekatan strategi inovasi. Keterlibatan praktisi swasta dilibatkan dalam penerapan DOTS diharapkan dapat meningkatkan jangkauan layanan TB berkualitas pada masyarakat miskin.IsiPelibatan praktisi swasta merupakan strategi  dalam pengendalian TB. Manfaat yang diharapkan dalam kemitraan ini dapat meningkatkan manajemen kasus dan akses layanan TB yang bermutu bagi masyarakat  yang tinggal didaerah kumuh perkotaan. Keberhasilan strategi ini ditandai dengan makin meningkatnya partisipasi praktisi swasta dalam penemuan, pengobatan dan pelaporan kasus TB.Reformasi kesehatan dalam implementasi PPM dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan agar semua praktisi swasta yang terletak pada garis depan bersedia terlibat dalam kolaborasi. Penekanan dilakukan terhadap perubahan bentuk dari PPM generik menjadi PPM modern agar kemitraan berjalan efektif. Hubungan kontak kerja harus mengakomodir kebutuhan dari sektor swasta dan harapan Program TB dalam mencapai target. Modernisasi PPM dikemas dengan pendekatan model bisnis sosial dengan paket intervensi yang disesuaikan dengan layanan sektor swasta. Kontrak kerja dilakukan dengan organisasi perantara dalam melaksanakan fungsi manajemen. Peningkatan dan pemanfaatan kapasitas dengan pendekatan ganda baik dilayanan publik maupun sektor swasta dengan alternative pendanaan dapat bersumber dari swasta.Lesson LearnPublic Privat Mix dalam pengendalian TB dengan melibatkan sektor swasta merupakan perubahan struktur yang terjadi dalam bidang kesehatan. Efektifitas PPM membutuhkan modernisasi dalam implementasinya. Pilihan strategi dengan mengemas program  yang ramah bisnis dan mengontrak organisasi perantara yang tepat untuk melakukan fungsi manajerial baru yang proaktif.Kata Kunci PPM TB, Modernisasi, Kumuh Perkotaan.
STRATEGI PENINGKATAN CAKUPAN ASI EKSKLUSIF DI SULAWESI TENGGARA MELALUI PROGRAM GALAKSI- EKSKLUSIF (GALAKKAN ASI EKSKLUSIF) Fika Daulian; Risdayani Risdayani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.378 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40385

Abstract

Dalam rangka percepatan pencapaian keberhasilan pemberian ASI Eksklusif, sekaligus untuk melindungi dan mendorong ibu agar berhasil memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sampai usia 6 bulan, maka diperlukan strategi yang bertujuan melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI secara eksklusif. Dengan demikian diharapkan setiap ibu dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi memperoleh haknya mendapatkan ASI-Eksklusif. Berdasarkan data WHO (2016), cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya sekitar 36% selama periode 2007-2014 sedangkan angka pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Sulawesi Tenggara cenderung fluktuatif, peningkatan signifikan dilaporkan pada tahun 2015 dengan cakupan 54,15 %, atau naik sebesar 21,25 % dari tahun sebelumnya, namun di tahun 2016 kembali turun menjadi 46,63%. Capaian yang fluktuatif mengindikasikan belum bakunya program peningkatan cakupan ASI Ekslusif yang dilakukan oleh program teknis terkait (Dinkes Sultra, 2017). Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan desain program yang sesuai dan dapat mengatasi masalah ini, maka dibuatlah Match Model program GALAKSI-EKSKLUSIF, yang memuat 3 langkah mendukung keberhasilan menyusui yakni diantaranya adalah edukasi dan penyebaran informasi mengenai manfaat ASI-Eksklusif baik pada ibu hamil dan menyusui maupun masyarakat secara umum, melakukan pendampingan kepada ibu sejak hamil, Menggerakkan masyarakat atau swasta, keluarga, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama serta stakeholder dalam hal dukungan dan perlindungan kepada ibu menyusui sesuai Panduan Kurikulum Intervensi dalam program GALAKSI- EKSKLUSIF.
Well hydrated for better life: kajian program Grab a cup! Fill it up! pada remaja di sekolah Fathati Rizkiyani Migwa
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.704 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40402

Abstract

Objective: Memberikan alternatif program minim biaya berbasis sekolah untuk meningkatkan konsumsi plain water agar status hidrasi siswa menjadi lebih baik. Status hidrasi yang baik merupakan salah satu upaya penanggulangan penyakit tidak menular di kalangan remaja.Content: Program Grab a cup! Fill it up! adalah upaya peningkatan konsumsi plain water di sekolah. Meningkatnya konsumsi plain water diharapkan dapat menurunkan konsumsi minuman manis dengan gula tambahan yang dapat memicu obesitas dan penyakit tidak menular lainnya. Manfaat lainnya adalah meningkatkan status hidrasi siswa yang berdampak positif pada performa kognitifnya. Status hidrasi yang baik merupakan satu kesatuan dengan optimalnya status kesehatan individu. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan tersebut adalah penyediaan sarana-prasarana seperti fasilitas water fountain dan gelas, edukasi melalui media poster yang ditempel di berbagai sudut sekolah dan dukungan kebijakan pemerintah. Program Grab a cup! Fill it up! yang dijalankan di Boston, Massachuset berhasil meningkatkan konsumsi plain water siswa selama di sekolah. Di Indonesia, masih ada sebagian remaja yang konsumsi air minumnya dibawah angka kecukupan harian yang dianjurkan. Dengan sistem pendidikan full day school yang diterapkan menjadikan sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, upaya peningkatan status hidrasi untuk penanggulangan penyakit tidak menular berbasis sekolah sangat relevan untuk diadaptasi. Kegiatan yang dilakukan berupa penyediaan water dispenser di kantin sekolah, penerapan konsep kantin sehat di lingkungan sekolah, sosialisasi kepada orang tua saat pertemuan wali kelas, edukasi melalui media poster maupun ceramah yang disisipkan saat jam pelajaran olahraga, dan kebijakan untuk membawa botol minum. Program dapat dievaluasi dengan mengukur tingkat konsumsi plain water dan status hidrasi menggunakan metode periksa urin sendiri tiap 1-3 bulan.
Kepesertaan yang rendah pada pekerja bukan penerima upah dan tangangan dalam menuju universal health coverage 2019: analisis data IFLS 5 Endra Dwi Mulyanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.466 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40446

Abstract

Latar belakang: Mewujudkan Universal Health Coverage salah satunya seluruh penduduk Indonesia tahun 2019 sekitar 257,5 juta jiwa mendapatkan jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Saat ini baru sekitar 203.3 juta jiwa penduduk yang masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Rendahnya kepesertaan  Jaminan Kesehatan Nasional salah satunya terjadi pada rest polling PBPU , dimana   29.9 juta jiwa kelompok PBPU yang baru terdaftar. Tujuan: Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi  rendahnya tingkat kepesertaan  PBPU dalam asuransi kesehatan untuk mencapai UHC 2019. Metode: Penelitian menggunakan jenis rancangan penelitian kuantitatif, metode observasional diskriptif, dengan desain studi cross-sectional. Data dari  Indonesian Family Life Survey 2014 (IFLS 5) dengan responden individu 11.347 dan  dianalisis dengan logistic regression. Responden merupakan individu berumur 15 tahun atau lebih dan bekerja dengan status lapangan pekerjaan PBPU. Hasil: Analisis menunjukan proporsi kelompok PBPU yang tidak memiliki asuransi kesehatan  berdasarkan status ekonomi mencapai 40%  kategori miskin dan 43% ketegori tidak miskin. Model dikontrol dengan variabel usia, Pendidikan, status pernikahan, wilayah, ADL (activities of daily living), status perkejaan, kondisi kesehatan, dan jenis kelamin. PBPU tidak miskin memiliki hubungan positif signifikan pada semua kategori usia, Pendidikan tinggi, wilayah jawa-bali, dan perkotaan. Sedangkan hasil lainnya ketagori miskin memiliki hubungan positif signifikan untuk  kelompok usia 31-45 tahun, wilayah jawa-bali,  dan perkotaan. Sedangkan koefisien negatif dalam model kelompok PBPU cenderung tidak memiliki asuransi kesehatan ditunjukan pada  lapangan usaha bangunan, gangguan ADL, kondisi sehat, dan jenis kelamin. Simpulan dan Saran: Bukti menunjukan bahwa tingkat partisipasi PBPU dalam jaminan kesehatan sangat dipengaruhi berdasarkan; status ekonomi, usia, pendidikan, wilayah, ADL, jenis lapangan pekerjaan,  dan  kondisi kesehatan. Dalam meningkatkan partisipasi kepesertaan kelompok PBPU (kelompok miskin) dalam jaminan kesehatan di perlukan kebijakan pemuktahiran data , sedangkan kelompok tidak miskin perlu dibuatkan setting program yang memperhatikan kelompok umur, wilayah, dan jenis lapangan pekerjaan.
Perlukah pencegahan bullying masuk dalam kurikulum sekolah dasar? Hafidhotun Nabawiyah; Anggita Purnamasari; Dian Mawarni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.877 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40447

Abstract

Bullying terjadi dimana saja dan sebagian besar terdapat di lingkungan sekolah termasuk sekolah dasar. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan opini penerapan pencegahan bullying dalam kurikulum sekolah. Beragam jenis bullying yang banyak membuat anak-anak pada usia sekolah dasar tidak mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kegiatan bullying khususnya jenis verbal. Sebagian besar anak-anak sekolah dasar menganggap tindakan bullying yang mereka lakukan terhadap teman sebagai bercandaan biasa. Lebih dari setengah korban bullying tidak melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa karena merasa takut. Dampak dari bullying dapat menjadikan korban stress, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal dan bahkan hingga memilih bunuh diri. Antisipasi pencegahan bullying dapat disisipkan secara langsung maupun tidak langsung melalui agenda pendidikan di sekolah. Pendidikan tentang bullying pada tahap sekolah dasar sangat penting diterapkan untuk mencegah bullying yang lebih jauh. Pendidikan ini dapat diterapkan dalam kurikulum belajar seperti pada mata pelajaran agama, muatan lokal, bimbingan konseling, atau menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri. Praktik pencegahan bullying bisa diberikan melalui aktivitas bersama seperti olahraga atau kegiatan berlomba dengan mencampurkan murid antar kelas. Pendidikan ini membawa informasi kepada anak-anak tentang berbagai macam bullying, meningkatkan kepedulian guru terhadap bullying sekecil apapun, serta membangun hubungan sebaya yang positif. Oleh karena itu, kementerian pendidikan dan kebudayaan perlu mempertimbangkan pencegahan bullying pada penyusunan kurikulum pendidikan.
Surveilans Campak : Peran Rumah Sakit dalam Kegiatan Surveilans Aktif Campak di Kota Salatiga Tahun 2017 Rilla Venia Lalu; Citra Indriani; Dyah Woro Widarsih
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.078 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40449

Abstract

Tujuan: Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian dan mengurangi jumlah kasus maupun wilayah endemis campak yakni dengan melakukan imunisasi campak. Diperlukan kegiatan surveilans untuk memantau program pemberantasan kasus campak di Indonesia. Surveilans campak dilakukan dengan pendekatan berbasis individu dan dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia sejak tahun 2011. Sumber data kegiatan surveilans campak yang dilakukan ditingkat kabupaten/kota bersumber dari Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) di wilayah kabupaten/kota. Di kota Salatiga tahun 2017, hanya Puskemas yang aktif melakukan kegiatan surveilans sedangkan RS belum. Tulisan ini bertujuan untuk mereview hambatan pelaksanaan kegiatan surveilans campak aktif di RS dan upaya perbaikan kegiatan surveilans campak di RS. Konten: Pelaksanaan surveilans aktif campak di RS ditentukan oleh ada tidaknya kontak person yang ditunjuk khusus untuk menemukan dan melaporkan adanya kasus yang ditemukan baik di bangsal maupun di poliklinik anak. Kegiatan surveilans aktif RS seharusnya dilakukan setiap minggu dimana kontak person yang sudah ditunjuk melakukan pencarian kasus campak di bangsal dan di poliklinik anak setiap hari kemudian dilaporkan ke petugas surveilans aktif Dinas Kesehatan setiap minggu. Pelaksanaan surveilans aktif RS di Kota Salatiga belum berjalan karena kurangnya koordinasi antara Dinas Kesehatan dan RS. Rumah Sakit tidak tahu jika ada SOP surveilans campak yang perlu dilakukan. Hal ini juga disebabkan oleh kurang aktifnya petugas surveilans Dinas Kesehatan dalam melaksanakan surveilans aktif mingguan ke RS. Selain itu, setiap ada undangan kegiatan surveilans dari Dinkes, pihak RS selalu mengirimkan orang yang berbeda dalam setiap pertemuan sehingga kemungkinan yang terjadi adalah tidak tersampaikannya informasi kepada pimpinan di RS. Upaya perbaikan kegiatan surveilans campak di Kota Salatiga dengan melakukan penguatan terhadap sistem surveilans campak di RS melalui pertemuan koordinasi untuk membahas pentingnya kegiatan surveilans, menunjuk kontak person yang bertanggung jawab terhadap penemuan dan pelaporan kasus campak serta meningkatkan peran aktif petugas surveilans Dinas Kesehatan.
Kegiatan Menulis Surat “Curhat” untuk Deteksi Bullying pada Siswa Sekolah Dasar Dian Mawarni; Anggita Purnamasari; Hafidhotun Nabawiyah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.929 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40451

Abstract

Siswa sekolah dasar yang menjadi korban bullying cenderung takut melapor kepada guru dan orang dewasa. Sementara, guru kurang menyadari adanya kejadian bullying di antara peserta didik. Kasus bullying diharapkan segera terdeteksi agar tidak menekan kondisi mental siswa secara berkepanjangan. Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan surat “curhat” dalam mendorong siswa untuk menyampaikan pengalaman tindakan bullying di sekolah. Paper ini menekankan tiga manfaat penting dari kegiatan menulis surat “curhat” bagi siswa. Pertama, strategi menulis membuat siswa tidak merasa terintimidasi dibandingkan jika melaporkan secara tatap muka. Kedua, ada jaminan kerahasiaan identitas korban dan pelaku bullying sehingga mengurangi kecemasan jika diketahui siswa lainnya di sekolah. Ketiga, siswa lebih fleksibel menceritakan pengalaman bullying karena tidak terikat tempat dan waktu pelaporan. Kegiatan menulis surat “curhat” memberi kemudahan dan keeksklusifan menyampaikan keluhan pada siswa. Guru sebaiknya mempertimbangkan pendekatan secara private agar berhasil menemukan kasus bullying yang dialami siswa.
UPAYA DETEKSI DINI KEKERASAN, PENINDASAN, DAN PELECEHAN FISIK, PSIKOLOGIS SERTA SEKSUAL PADA ANAK DAN REMAJA MELALUI PROGRAM “AYAH IBU dan AKU (AIdA)” Sri Maya Guswahyuni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.433 KB)

Abstract

Koordinator Perlindungan Anak WVI, Emmy Lucy, mengatakan, berdasarkan Global Report 2017 Ending Violence in Childhood, tercatat 73,7% anak di lndonesia berusia 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan di rumah mereka, dan 50% anak berusia 13-15 tahun mengalami perundungan (bullying) di sekolah (Stalker, 2017), sedangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia melaporkan bahwa dari tahun 2011 sampai dengan 2016 anak yang berurusan dengan hukum, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2016 anak yang berurusan dengan hukum berjumlah 7.967 anak yang berkasus (KPAI, 2016). Jika hal ini terjadi terus menerus sepanjang tahun akan menyebabkan permasalahan yang lebih besar diantaranya; anak korban kekerasan cenderung akan melakukan hal yang sama kepada orang lain (Rumble et al., 2015), meningkatkan kehamilan yang tidak diinginkan dengan dampak unsafe miscarriage yang tinggi, dan tidak menutup kemungkinan menjadi Penyakit Menular seksual di kalangan anak dan remaja dan yang paling menyedihkan adalah anak-anak dan remaja berpeluang mendapatkan infeksi HIV hal ini ini akan menyebabkan masa depan anak yang suram dan masalah kesehatan masyarakat yang lebih kompleks (Rumble et al., 2015). Minimnya peran orang tua dalam mendampingi masa kecil anak ternyata membawa pengalaman mengatasi masalah pada masa kritis yang rendah pada masa remaja dan dewasa terhadap krisis masa remaja yang dihadapainya (Armstrong, Cain, Wylie, Muftić, & Bouffard, 2018). Salah satu cara untuk mencegah terjadinya masalah kekerasan adalah bagaimana keluarga menempatkan anak sebagai view of center dalam keluarga. Kemampuan orang tua dalam melindungi dan memberikan hak-hak anak khususnya mencegah serta mencari jalan keluar dari tindakan kekerasan intimidasi serta pelecehan seksual  pada anak perlu dipikirkan cara yang lebih efektif yaitu meningkatkan interaksi orang tua dengan anak secara intens sehingga orang tua mampu dengan cepat melihat, mengenal perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap anak (A.King, 2001). Agar intensitas interaksi antar anggota keluarga dapat memperoleh hasil yang maksimal orang tua dibekali dengan pengetahuan tentang informasi tumbuh kembang anak, informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi selama siklus kehidupan anak, perubahan dan perkembangan emosional dan sosial anak, pengetahuan tentang tanda dan gejala penyimpangan tumbuh kembang, gangguan emosional dan sosial serta gangguan kesehatan reproduksi serta pelecehan seksual pada anak. Orang tua juga diminta untuk mengorbankan waktu, tenaga serta pikirannya lebih banyak untuk dapat melibatkan diri dalam interaksi sosial dalam keluarga, menciptakan kreasi hubungan sosial antara orang tua dan anak sesuai dengan tuntutan zaman, dan kemampuan untuk berubah dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi pada anak, termasuk menyiapkan dana yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga (Taylor, 2001). Melalui program “Kembali Ke Rumah (KKR)”  keluarga diajak menghabiskan waktu diakhir pekan dengan melakukan aktifitas bersama dalam berbagai hal mulai dari berkebun, berolahraga, melakukan aktifitas seni, membaca bahkan bermain bersama, tujuannya agar mencairkan suasana antar anggota kemudian tercipta komunikasi yang efektif dan kedekatan emosional yang kuat sehingga anak dapat meceritakan pengalaman, berkeluh kesah, mencurahkan kebahagiaan pada tahap ini orang tua diharapkan dapat mendengar efektif, mengamati tanda dan gejala adanya gangguan atau kelainan tumbuh kembang dan kemungkinan terdapat kekerasan, intimidasi dan pelecehan seksual yang terjadi pada anak,  jika terdapat gangguan dan masalah yang berat orang tua diharapkan mampu melaksanakan tindakan lanjutan menyelesaikan masalah dengan melibatkan sektor terkait sesuai dengan masalah yang dihadapi anak. Dalam pelaksanaan program ini diperlukan kebijakan yang lebih kuat untuk mengakomodir segala toleransi waktu dan beban keluarga dalam melaksanakan kegiatan misalnya oragnisasi tempat orang tua bekerja memberikan toleransi waktu tidak memberikan pekerjaan tambahan pada akhir pekan, tidak ada panggilan kerja dadakan pada hari libur. Toleransi waktu dan beban pendidikan diminta kepada dinas pendidikan yang bersangkutan untuk menetapkan hari libur sekolah tanpa ada beban kegiatan ekstra kurikuler, tidak ada beban tugas akademik diakhir pekan. Diyakini anak yang sering berinteraksi dengan orang tua dengan durasi yang adekuat akan meningkatkan prestasi, tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan kesempatan bersama orang tua (Wandera et al., 2017). Partisipasi puskesmas, tokoh masyarakat dan kepala desa sebagai fasilitator dalam pelaksanaan program ini. Agar supaya kesinambungan program tetap terjaga dibentuk tim dari sector yang terkait melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dengan indikator-indikator yang jelas dan dapat diukur, upaya lainnya agar semua keluarga mau melaksanakan program ini dilakukan upaya promosi yang dilakukan oleh keluarga lain yang lebih dahulu terlibat dengan menceritakan keuntungan-keuntungan yang diperoleh selama dan setelah mengikuti program baik secara langsung maupun menggunakan media informasi public seperti organisasi sosial masyarakat (kelompok pengajian, kelompok olahraga, kelompok arisan, kelompok hobi dan lain sebagainya), sedangkan secara tidak langsung bisa menggunakan media sosial internet seperti grup di whatsapp, grup dan laman Facebook, Twitter, Instagram maupun blog yang dibuat oleh anggota keluarga. Jika terdapat keluhan atau complain dari peserta program atau masyarakat umum yang belum mengikuti program terkait manfaat, proses pelaksanan program maupun prosedur yang tidak tepat, maka diberikan fasilitas atau media untuk mengajukan keluhan dengan waktu tindak lanjut yang cepat.
Tantangan Dalam Pengelolaan Regulasi Penjaja Makanan di Wilayah Sekitar Lingkungan Sekolah di Kota Samarinda Eka Putri Rahayu; Riana Dian Anggraini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.009 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40457

Abstract

Latar belakang: Makanan dan jajanan sekolah merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya orang tua, pendidik dan pengelola sekolah. Pangan jajanan merupakan jenis makanan yang sangat dikenal terutama di kalangan anak sekolah. Dengan banyaknya makanan dan jajanan sekolah yang mengandung bahan kimia berbahaya di kantin sekolah, wilayah sekitar lingkungan sekolah dan penjaja makanan di sekitar sekolah merupakan agen penting yang bisa mengkonsumsi makanan tidak sehat. Komitmen orang tua dan pendidik diperlukan untuk mengawasi makanan dan jajanan sekolah yang dikonsumsi. Tantangan sesungguhnya terletak pada pengelola sekolah diharapkan dapat membuat kebijakan tertentu terhadap pedagang miskin penjual makanan di wilayah lingkungan sekitar sekolah. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode penelusuran pustaka. Bahan pustaka yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan disintesis untuk membangun suatu alternatif solusi dalam  meningkatkan keamanan pangan jajanan anak sekolah. Hasil: Di beberapa sekolah swasta yang ada di kota Samarinda, memberlakukan kebijakan larangan menjajakan makanan di area sekolah. Namun, untuk di sekolah negeri, kebijakan yang diberlakukan tidak terlalu berdampak. Hal ini dikarenakan penjaja makanan hanya beberapa hari saja meniadakan kegiatan berjualan, kemudian muncul lagi di hari selanjutnya. Peran pemerintah untuk mengawasi penjualan makanan jajanan belum maksimal, yaitu belum memberikan penyuluhan kepada PJAS secara berkala dan rutin, belum juga dilakukan pelatihan penjaja membuat pangan jajanan yang aman, larangan kepada penjaja untuk tidak menjual pangan jajanan yang mengandung bahan tambahan pangan yang berbahaya juga belum secara ketat dilakukan. Simpulan: Perilaku jajan anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena anak sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan bakteri dan virus yang disebarkan melalui makanan atau biasa disebut dengan food borne disease. Pengelola sekolah belum memberlakukan regulasi ketat terkait aturan yang mengatur apa yang boleh dijual dan komposisi bahannya pada penjual makanan di sekitar wilayah lingkungan sekolah.

Page 73 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue