cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
KERACUNAN MAKANAN PADA PERTEMUAN KADER PKK DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2018 Siti Hatijah; Erna Yati Renyaan; Citra Indriani; Susilawati Susilawati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1371.414 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39910

Abstract

Latar belakang:  Tanggal 25 April 2018, Puskesmas Danurejan II melaporkan adanya dugaan kejadian luar biasa keracunan makanan yang terjadi pada undangan pertemuan kader PKK di Kecamatan Danurejan sehari sebelumnya. Undangan yang hadir, kemudian dilaporkan mengalami diare, sakit perut, muntah dan lemas. Penyidikan dilakukan oleh puskesmas Danurejan II bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan karyasiswa FETP-UGM untuk mengidentifikasi sumber, cara penularan dan upaya pengendalian. Metode: Deskriptif observasional dengan rancangan studi Cohort retrospektif. Batasan kasus adalah orang yang mengkonsumsi makanan yang disajikan pada pertemuan kader PKK di kantor kecamatan Danurejan tanggal 24 April 2018 dan mengalami  satu atau lebih gejala diare, sakit perut, mual, muntah dan lemas. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur,  disajikan secara deskriptif dan dianalisis dengan analisa statistik. Hasil: Jumlah  yang sakit 20 orang ( AR : 25,9% , n = 77) ,  gejala utama:  diare (90%), sakit perut (85%). Masa inkubasi 2,5 – 11 jam, penularan terjadi secara common source, KLB < 24 jam. Attack rate tertinggi pada usia 11- 20 tahun (AR : 55,5%). Jenis makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan adalah ayam kecap ( RR = 1,488, p = < 0,01, CI 95% 1,249 – 1,773 ). Penyebab keracunan berdasarkan gejala klinis dan masa inkubasi diduga  bakteri Bacillus cereus diagnosa banding Clostridium perfringens. Simpulan: Ayam kecap diduga adalah menu penyebab keracunan yang kemungkinan terkontaminasi bakteri Bacillus cereus atau Clostridium perfringens. Sosialisasi dan pengawasan tentang keamanan pangan pada pelaku usaha jasa boga harus terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang kembali.
Tantangan dalam Implementasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Menggunakan Metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Ika Puspita Asturiningtyas; Trisno Agung Wibowo; Suprio Heriyanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.415 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39932

Abstract

Latar belakang: Kanker serviks merupakan kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Program untuk mengendalikan kanker serviks adalah dengan deteksi dini menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan krioterapi untuk IVA positif. Jumlah WUS yang melakukan tes IVA di Wonogiri sejak 2015 masih di bawah target, tetapi IVA positif yang ditemukan cukup banyak, yaitu 10,29% tahun 2016 dan 6,3% tahun 2017. Studi dilakukan untuk mengetahui tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program skrining kanker serviks dengan metode IVA. Metode: Studi dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif menggunakan pendekatan logic model pada Juli-Agustus 2018.  Responden adalah penanggungjawab Penyakit Tidak Menular (PTM) dan atau bidan di 10 Puskesmas yang memiliki petugas IVA terlatih dan 6 Puskesmas yang tidak memiliki petugas terlatih; kepala seksi PTM dinas kesehatan; serta dokter spesialis obsgyn RSUD. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan wawancara mendalam. Analisis data secara deskriptif. Hasil: Petugas IVA terlatih hanya ada di 10 Puskesmas dari 34 Puskesmas. Dari 24 Puskesmas yang tidak memiliki petugas IVA, hanya tiga Puskesmas yang pernah melaksanakan skrining IVA massal. Empat Puskesmas mengeluhkan tidak adanya dana untuk kegiatan, seperti pembelian bahan, penggandaan form, sosialisasi serta jasa petugas. Hambatan dalam sosialisasi adalah rasa takut dan malu untuk melakukan tes IVA. Puskesmas yang tidak memiliki petugas IVA kesulitan mendorong warga untuk melakukan tes IVA karena pemeriksaan harus dilakukan di Puskesmas lain. Koordinasi dengan RSUD terkait rujukan pasien IVA positif belum berjalan baik. Krioterapi belum dapat dilakukan, karena alat baru tersedia di dua Puskesmas pertengahan tahun 2018 dan belum ada petugas yang mengikuti uji kompetensi. Simpulan: Deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA di Wonogiri masih menemui banyak tantangan. Diperlukan beberapa upaya perbaikan seperti penggunaan dana BOK untuk pelaksanaan tes IVA, proses sosialisasi yang lebih efektif, memperjelas alur rujukan pasien IVA positif, serta penguatan kapasitas petugas IVA agar dapat melakukan krioterapi.
Hubungan Skor metabolic equivalent task (MET) dengan jumlah CD4 pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Kuningan Cecep Heriana
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.424 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40048

Abstract

HIV terus menjadi isu kesehatan masyarakat global yang utama karena masih tinggi data transmisi infeksi, angka kesakitan dan angka kematian terjadi karena penurunan imunitas. Jumlah CD4 digunakan sebagai indikator imunitas pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), dan peningkatan imunitas dipengaruhi berbagai diantaranya aktivitas fisik yang diukur dengan Metabolic Equivalent Task (MET). Peningkatan aktivitas fisik telah direkomendasikan untuk pasien dengan HIV untuk mempertahankan status kesehatan mereka. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan antara MET dengan jumlah CD4 pada ODHA di Kab. Kuningan. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain studi potong lintang dengan sampel sebanyak 85 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi dokumen dan wawancara dengan ODHA, sedangkan analisis yang akan dilakukan yaitu analisis univariat dan bivarat dengan uji korelasi pearson. Hasil analisis univariat menujukan 60% jenis kelamin laki-laki, 50,6% dewasa awal,  45,9% menikah, 34,1% pendidikan SMP dan 28,3% pekerjaan karyawan swasta. Hasil bivariat hubungan skor Metabolik Equivalent Task dengan jumlah CD4 dalam tubuh penderita HIV menunjukan hubungan yang kuat (r=0,435) dan berpola positif positif artinya semakin tinggi skor MET nya, semakin tinggi jumlah CD4. Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan/bermakna antara MET dengan jumlah CD4 pada ODHA engan status imunitas ODHA. Saran bagi ODHA, bahwa perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan imunitas
Kerja sama klinik swasta dalam meningkatkan kapasitas bidan muda yang bertugas di desa Sri Maya Guswahyuni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.49 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40085

Abstract

Salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan AKI yaitu setiap ibu hamil bersalin dan nifas ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, bidan ditempatkan di desa untuk menjangkau pelayanan ini. Dalam pelaksanaannya ditemukan berbagai kendala diantaranya rata-rata bidan desa relatif masih muda, ada bidan yang belum bisa menolong persalinan normal, bidan tidak bermitra dengan paraji sehingga kalah bersaing karena secara pengalaman paraji lebih dipercaya oleh masyarakat desa, hal ini menyebabkan bidan tidak betah tinggal di desa.            Rumah Bersalin “Budi Setia” (RBBS) Kota Sungai Penuh-Jambi menjalin kemitraan dengan bidan desa (kebanyakan bidan muda/baru ditugaskan) dengan konsep setiap bidan desa diizinkan mengikuti magang setelah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan. Lama masa magang maksimal 2 hari. Bidan magang akan bergabung dengan tim jaga RBBS (1 bidan senior, bidan magang dan 2 bidan pembantu) , lingkup tindakan hanya persalinan normal dan kegawatan obstetri.             Mekanisme kerja; setiap pasien yang ditolong bidan magang harus menjelaskan anamnesa, diagnosa kebidanan, rencana tindakan dan potensial masalah yang timbul dengan metode group discussion in real cases. Pada tahap pelaksanaan, bidan senior  menjadi penolong pertama dan bidan penolong kedua. Jika ada pasien yang berasal dari desa tempat bidan bertugas maka bidan magang menjadi penolong pertama dibantu oleh bidan senior. Setelah tindakan selesai, bidan desa langsung dipromosikan kepada pasien dan keluarganya, bahwa mereka adalah bidan yang mampu melayani pasien secara mandiri di desa. Promosi ini akan menguntungkan bidan karena mendapat kepercayaan masyarakat desa dan rasa percaya diri.Setiap awal bulan dilakukan pertemuan rutin untuk membahas kasus-kasus unik dan evalausi tindakan pelayanan.            Jasa pelayanan diurus oleh bidan desa. Pembayaran dilakukan setelah bidan desa melakukan kunjungan nifas lengkap dan menggunakan standar tarif di desa. RBBS mendapatkan fee dari bidan desa.            Pada tahun 2016 capaian persalinan yang ditolong oleh nakes di Kota Sungai Penuh 93,70% dari 1.602 persalinan dan 100% ditolong di fasilitas kesehatan (pemerintah dan swasta).
[PHS4] FAKTOR RISIKO BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) PADA IBU PRIMIPARA REMAJA 15-19 TAHUN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KOTA PONTIANAK Siti Masdah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.536 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40099

Abstract

Objektif: Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3-28% dan sering terjadi di negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Statistik menunjukan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Kehamilan pada remaja memiliki risiko yang cukup tinggi karena organ reproduksi belum cukup matang untuk melakukan fungsinya. Age Spesific fertility Rate (ASFR) Kalimantan Barat 15-19 tahun tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 104 per 1000 kelahiran hidup.Tujuan: mengetahui faktor risiko kejadian BBLR pada ibu primipara remaja. Metode :Penelitian bersifat kuantitatif observasional analitik dengan desain case contol. Populasi  rawat inap Kota Pontianak sebanyak 174 responden. Sampel dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu kasus dan kontrol masing-masing 16 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis statistik menggunakan Chi Square Test. Hasil: penelitian menunjukan bahwa faktor risiko BBLR adalah riwayat frekuensi ANC (p value 0,031; OR=7,222), riwayat anemia (p value 0,034; OR=6,600), riwayat status gizi (p value 0,26; OR=9,000). Variavel yang tidak berhubungan riwayat hyperemesis (p value 0,484; OR=2,143) dan  keterpaparan asap rokok dengan BBLR (p value 0,500; OR=2,143). Kesimpulan: Sosial support group pada remaja yang hamil, pemerintah kota memberikan reward bagi remaja yang hamil tanpa melahirkan BBLR, Gratis uang iuran KUA diluar jam kantor jika pernikahan dilaksanakan di atas 21 tahun bagi wanita dan 25 bagi pria oleh pemerintah kota Pontianak.
Improving Medical Students’ Safety Injection Behavior In Panembahan Senopati Hospital by Leaflet, Movie, and Intensification I Nyoman Roslesmana; Kusbaryanto Kusbaryanto; Merita Arini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.153 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40102

Abstract

Background: In 2006, Yogyakarta contributes 0.8% Hospital Acquired Infection (HAI's) of total HAI's in Indonesia. In 2010 6-16% HAI's occurred in the Teaching Hospital. Sharps injury is one of the causes of HAI's. Center for Disease Control and Prevention (CDC) stated that there was 385,000 sharps injury/year. Sharps injury can cause a pathogen transmission, such as Hepatitis B Virus, Hepatitis C Virus and Human Immunodeficiency Virus and inflict a financial loss up to $71 to $5,000. Data from Colombo, 2012 stated that 95% of 168 medical students experienced sharp injury. In Indonesia from August-October 2008 at Sardjito Hospital  occurred 43.3% sharp injury and some of them was medical students. Panembahan Senopati Bantul Hospital accepts 40 medical students every year. The Revised Injection Safety Assessment Tool (Tool C – Revised) was used to assess how well-behaved the health worker provided injections to enhance sharp safety. Objective : To improve medical student’s safety injection behavior in Panembahan Senopati Hospital. Method: This research is an action research (AR) type. The research is done in two cycles, first, the acting component was leaflets and movie; second was intensification. Students’ safety injection behavior was evaluated by using Revised Injection Safety Assessment Tool (Tool C – Revised), before and after the action.  Results: Before the research, the medical students’ knowledge on sharp safety was 30% until 80% and the action on safety injection was 33,3% until 70%. After the research the knowledge increased is 80% until 100% and the action is 88,9% until 100%. Conclusion: The improvement of sharp safety knowledge in medical students is 10% until 60% and the action of safety injection in medical students is 30% until 66,7%. The result of this study was reported to The Education and Training Committee of Panembahan Senopati Hospital
Dampak pasca penutupan lokalisasi prostitusi pada pekerja seks komersial dalam perspektif rational choice theory Aryo Ginanjar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.695 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40107

Abstract

Objektif: Penutupan lokalisasi di berbagai daerah di Indonesia dianggap sebagai kebijakan strategis yang diambil pemerintah dalam menghapus prostitusi dan memutus mata rantai penularan dan penyebaran HIV-AIDS. Namun upaya ini tidak menyelesaikan masalah dan menimbulkan masalah baru pasca penutupan. Batasan masalah difokuskan kepada Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ternyata tetap menjalankan pekerjaannya sebagai PSK secara tersembunyi dan tersebar sehingga tidak terpantau Metode: Kajian ini merupakan literature review dari berbagai hasil penelitian terkait fenomena penutupan lokalisasi di berbagai daerah di Indonesia, didukung oleh data sekunder, dan dianalisis dengan pendekatan Rational Choice Theory untuk mengungkapkan penyebab masalah yang muncul pasca penutupan lokalisasi. Hasil:. Faktor ekonomi menjadi pemicu utama yang menyebabkan PSK tetap menjalankan pekerjaannya sebagai penjaja seks. Masalah kesehatan yang ditimbulkan yaitu penyebaran HIV-AIDS yang semakin sulit dikontrol menjadi dampak serius yang perlu segera ditanggulangi. Upaya pemerintah dalam melakukan pemberdayaan dan pendampingan terhadap eks-PSK tidak menunjukkan hasil yang efektif karena perencanaan yang kurang matang sehingga kurang menjamin keberlanjutan dari upaya-upaya yang dilakukan. Kesimpulan: Penutupan lokalisasi harus direncanakan secara matang terutama pada upaya mengatasi masalah pasca penutupan. Pendampingan terhadap eks-PSK harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan sampai dengan munculnya kemandirian secara ekonomi tanpa harus menjadi PSK kembali. Sektor swasta perlu dilibatkan dalam penyediaan lapangan kerja. Selain itu pemberian pinjaman modal usaha dan pelatihan keterampilan menjadi alternatif upaya yang dapat dilakukan. Konseling dan bimbingan keagamaan menjadi upaya pendukung bagi para eks-PSK dalam memperbaiki kualitas hidupnya.Kata kunci: Penutupan Lokalisasi, PSK, Rational Choice Theory
Home visiting dan layanan antar jemput ke rumah sakit lapangan untuk korban gempa: usulan dalam pengembangan rumah sakit lapangan Dedy Arisjulyanto; Baiq Tiara Hikmatushaliha
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.977 KB)

Abstract

Tujuan penggasan program RUSALINA ini merupakan salah satu solusi tepat bagi pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak pada daerah bencana, karena Indonesia merupakan salah satu negara rawan bencana, dan dampak bencana menimbulkan kerusakan fasilitas umum, korban jiwa, luka-luka hingga permasalahan gizi dan kesehatan. Lombok merupakan salah satu daerah yang tertimpa becana gempa dan mengalami kerusakan fasilitas kesehatan 1 unit rumah sakit umum, 8 unit puskesmas inti dan 30 unit pustu, dan ada sekitar 4000 jiwa ibu hamil dan 929 orang ibu menyusui yang menjadi korban dampak gempa Lombok. Lumpuhnya fasilitas kesehatan dan susahnya akses pelayanan menyebabkan ibu hamil tidak bisa mendapatkan ANC lengkap. Dalam mengatasi masalah ini maka program RUSALINA berbasis home care, dan layanan antar jemput adalah bentuk program solusi utama, dalam pelaksanaannya yang memberikan layanan RUSALINA adalah Dokter Spesialis Obgin dan Ginekologi, Bidan, Perawat yang ditugaskan secara sift dan voluntary dari daerah sekitar, dan pemilihan Gubernur sebagai Kepala rumah sakit, Kepala Dinas dan Dirjen KIA sebagai manager dan pengawas program, sehingga program ini terstruktur dan efektiv juga efisien dalam pelaksanaannya dan mampu mengatasi masalah kesehatan korban gempa khususnya masalah kesehatan ibu dan anak.
Kesempatan Belajar Dan Melakukan Penelitian Ikut Menentukan Pilihan Lokasi Kerja Lulusan Dokter di Daerah Tertinggal Ika Febianti Buntoro; Rr. Listyawati Nurina; Prisca Deviani Pakan; Nicholas Edwin Handoyo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.63 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40131

Abstract

Objective: Memahami alasan lulusan dokter memilih daerah tertinggal sebagai lokasi kerja. Methods: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Focused group discussion (FGD) dilakukan di Kota Kupang dan 2 pulau tertinggal lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian diikuti oleh 24 orang lulusan dokter yang direkrut secara purposive dan bekerja di enam kabupaten yang berbeda. Transkripsi hasil wawancara dianalisis secara tematik oleh dua orang peneliti dengan dibantu program OpenCode 4.03. Results: Upaya intervensi yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini melalui berbagai program seperti beasiswa dengan ikatan kerja, insentif dan perhitungan beban kerja, peningkatan keamanan, fasilitas, dan aksesibilitas daerah tertinggal, serta promosi daerah tertinggal sebagai lokasi wisata merupakan hal yang terbukti sangat mendukung pemilihan daerah tertinggal sebagai lokasi kerja lulusan dokter. Beberapa hal yang telah dipertimbangkan dalam perekrutan dan penempatan tenaga medis di daerah tertinggal (internship, PTT, maupun Nusantara Sehat) pun terbukti berperan besar, misalnya: rural origin (asal daerah dan adanya keluarga di daerah), adanya rekomendasi otoritas setempat yang menunjukkan adanya teman atau kolega di daerah yang dituju. Hal baru yang ditambahkan oleh penelitian ini adalah lokasi yang menyediakan kesempatan dan pendamping untuk belajar lebih lanjut, termasuk melakukan penelitian, dengan disertai adanya otonomi dan kemandirian dalam bertindak mendapatkan prioritas. Manajemen institusi yang mendukung dan mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, serta budaya dan politik setempat pun ikut memberikan warna dalam pengambilan keputusan pilihan lokasi kerja. Conclusion: Banyak faktor yang berperan dalam pilihan lokasi kerja telah diintervensi dan berhasil menarik minat lulusan dokter untuk masuk dan bekerja di daerah tertinggal. Keputusan lulusan dalam memberikan prioritas pilihan terhadap daerah yang mampu menyediakan pendamping dokter spesialis dan memberikan kesempatan dan otonomi untuk belajar serta melakukan penelitian perlu mendapatkan perhatian dan memberikan arah bagi pengembangan program intervensi pemerataan tenaga medis ke daerah tertinggal selanjutnya.
Pendampingan sebagai alternatif penanganan balita kurang energi protein di masyarakat: pengalaman intervensi gizi Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.745 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40133

Abstract

Sampai saat ini permasalahan Kurang Energi Protein  (KEP) di  DIY masih diambang batas permasalahan gizi masyarakat (cut of point 10%.).  Data Pemantauan Status Gizi Kabupaten Kulonprogo Tahun 2015-2017, sebesar 10, 96 %, 12,14 %, 12,22 %. Sedangkan KEP  di Puskesmas Temon I tahun 2016 - 2017 sebesar 12,26  % dan  13,07 %. Sehingga dalam perencanan di tingkat puskesmas masih menjadi prioritas untuk ditangani. Permasalahan KEP berkaitan dengan asupan makanan dan penyakit, sedangkan faktor yang menyebabkan kedua  tersebut sangat beragam. Sehingga untuk penanganan  dibutuhkan kegiatan yang melibatkan program lain (lintas program) bahkan sektor lain dengan tidak meninggalkan sentuhan dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Selama ini untuk penanganan KEP adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT). PMT diberikan dalam bentuk pemberian makan dan atau bahan makanan tanpa ada pendampingan secara khusus.Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan, sikap dan merubah perilaku serta memberi  tambahan gizi kepada balita KEP.Pada awalnya kegiatan intervensi ini dilakukan pada 10 balita terpilih dengan melibatkan orang tua, kader, dan pemegang program lain di  puskesmas, namun kegiatan berikutnya disesuaikan dengan jumlah kasus KEP yang ada.  Sebelum kegiatan dilaksanakan diawali dengan advokasi dan sosialisasi di masyarakat.  Selanjutnya kegiatan meliputi kegiatan memasak bersama makan bersama, penyuluhan dan konsultasi, cuci tangan, berdoa, evaluasi, pemeriksaan kesehatan, pemberian bahan makanan, pemantaun berat badan, diskusi perencanaan.   Programer yang terlibat antara lain gizi, kia, farmasi, dokter, promkes, surveilan, imunisasi. Kegiatan intervensi ini selanjutnya dinamakan PENDAMPINGAN. Sampai saat ini penulis sudah mengadakan kegiatan PENDAMPINGAN beberapa kali di wilayah Kokap dan Temon, serta konsultan kegiatan di Girimulyo.Hasil yang diperoleh adalah perbaikan status gizi dan perbaikan status pertumbuhan, peningkatan pengetahuan gizi kesehatan , adanya kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Kata Kunci : PMT, KEP, Pendampingan

Page 71 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue