cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
The prevalence of anti HBs among healthy reproductive-age female in Indonesia : National Health Survey 2007 Vivi Setiawaty
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.004 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40148

Abstract

Introduction:Hepatitis B virus  during  pregnancy  has  a  high vertical  transmission  rate,  causing  fetal  and  neonatal hepatitis  and  maternal  mortality.  Neonatal hepatitis  can lead  to chronic  virus  carriage,  which in turn  may  lead  to  liver  cirrhosis  and  hepatocellular carcinoma in young adults. Acute Hepatitis B carries a particular risk, not only for the mother, but also for the newborn. Therefore identifying female in reproductive-age for anti HBs is a useful indicator for the immunity of the disease. Objectives: The aim of this study is was to determine the prevalence of anti HBs in healthy reproductive-age female during the national health survey in 2007. Methods:The data used was secondary data obtain from National Health Survey in healthy respondent in Indonesia in 2007. In this study, we analysed biomedical data that can be linked to the demographic data from public health questionaire. The samples were reproductive-age female aged 15 to 49 years. The Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) kit (Murrex-Abbot Laboratories) was used for serodetection of anti HBs according to manufacturer instruction.  The number of respondents of reproductive-age female who were sampled in this analysis were 1302 respondents Results:The samples collections were obtained from urban area in 272 districts/municipalities in 33 provinces. The survey collected 7520 sera from all respondents. The 1302 of 7520 sera tested for anti HBs were reproductive-age female. Most of respondents were at 25 to 34 age group (481/1302,39.4%). Among 1302 sera, we found that 330 (25.4%) had positive anti HBs. A 117 of 1302 (8.9%) samples were pregnant women. A 32 of 117 (27.4%) pregnant women had positive anti HBs. A 81 of 1302 (6.2%) samples were delivered women. A 18 of 81 (22.2%) delivered-women had positive anti HBs.  Conclusions:The high seroprevalence of anti HBs among healthy reproductive-age females are a public health concern. Further comprehensive studies are required to provide epidemiological information for public health awareness in the community 
[PHS4] Intervensi Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi dalam Mencegah Niat dan Perilaku Seksual pada Remaja Fahrurrajib Fahrurrajib
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.417 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40152

Abstract

Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja di Indonesia masih menjadi perdebatan sampai saat ini. Adanya stigma dikalangan masyarakat, yang menganggap bahwa pendidikan tersebut dapat mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual. Padahal bukti ilmiah menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi justru dapat mengurangi perilaku seksual beresiko pada mereka. Stigma menjadi penghambat dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja. Beberapa penelitian membuktikan efek dari pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam membantu remaja untuk mengurangi timbulnya aktivitas seksual, mengurangi frekuensi seks yang tidak aman, meningkatkan penggunaan kondom untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual. Tinjauan literatur ini mengintegrasikan temuan dari beberapa penelitian untuk melihat pengaruh intervensi kesehatan seksual dan reproduksi dalam mencegah niat dan perilaku seksual pada remaja. Meskipun terdapat variabilitas dalam metodologi di seluruh studi yang ditinjau, temuan menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi terbukti dapat mencegah timbulnya niat dan perilaku seksual pada remaja.
Gambaran Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Puskesmas Temon I Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.523 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40224

Abstract

Program Indonesia Sehat merupakan salah sati\u program dari agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Sasaran dari program ini adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta pelaksanaan kegiatan ini di mulai tahun 2017 dengan sasaran pada 30 puskesmas lokasi khusus.  Puskesmas Temon I merupakan salah satu dari 30 puskesmas tersebut dan 3 dari puskesmas yang ada di Kulon Progo yang dijadikan lokasi khusus. Sebagai program yang baru tentu saja perlu disosialisasikan baik internal maupun eksternal.  Puskesmas merupakan pelaksana dalam program diharapkan mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi  dan memanfaatkan serta mengimplentasikannya. Tujuan penulisan ini adalah  memberikan gambaran tentang pelaksanaan dan perkembangan Program Indonesia Sehat melalaui Pendekatan Keluarga di wilayah Puskesmas Temon I. Metode penulisan ini adalah paparan/eksplorasi tentang PIS-PK di Puskesmas Temon I yang  bersumber pada data primer.dan sekunder. Data primer meliputi input, proses, keluaran, dan dampak PIS-PK, sedangkan data sekunder untuk melengkapi data primer  diperoleh dari wawancara kepala puskesmas, karyawan, dan masyarakat. Hasil : Berdasarkan data primer dan  wawancara dengan kepala puskesmas diperoleh informasi bahwa Puskesmas Temon I telah melaksanakan kegiatan PIS-PK sejak tahun 2017, dimulai dengan pembentukan tim,  dan berlanjut sampai saat ini. Pencapaian hasil kunjungan rumah sudah mencapai 100 %, artinya semua rumah/kepala keluarga sudah terkunjungi sampai dengan tahun 2018. Capaian Indeks Keluarga Sehat (IKS) sampai dengan 2018 awal sebesar 0.173. Data IKS sudah dimanfaatkan untuk data dasar pelaksanaan program perkesmas dan program lain.
Serosurvei IgG rabies pada responden pasca gigitan hewan pembawa rabies di Kabupaten Badung, Provinsi Bali Zahrotunnisa Zahrotunnisa; Didik Purwanto; Wahyu Arif Wasito
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.40254

Abstract

Tujuan :Gambaran status immunologi pada populasi penduduk di daerah endemis Rabies  penting untuk diketahui sebagai data dasar upaya pencegahan penularan Rabies. Kajian ini dilakukan di  Kabupaten Badung yang merupakan salah satu daerah endemis Rabies pada tanggal 31 Juli – 2 Agustus 2018 yang bertujuan untuk mengetahui status Immunologi responden pasca vaksinasi VAR atau SAR. Metoda :Kajian dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan teknik imuno-enzimatik melalui metoda ELISA indirect untuk mendeteksi anti rabies anti glikoprotein antibodi. Pemeriksaan dilakukan pada 20 responden yang merupakan kasus post Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR) yang memperoleh SAR dan/atau VAR pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing 10 orang. Hasil :Pada periode post VAR 1 tahun status imunitas responden dalam kondisi masih optimal. Imunitas Sufficient (S) sebanyak 60% dan High Sufficient (HS) sebanyak 30%, yang menunjukkan bahwa antibody dalam tubuh responden masih dapat melindungi secara optimal. Jika dibandingkan dengan periode post VAR 2  tahun prosentase Sufficient (S) antibody pada post VAR 1 tahun masih lebih tinggi sedangkan High Sufficient Antibody memiliki prosentase yang sama pada post VAR 1 tahun dan post VAR 2 tahun.Respon pembentukan antibody dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah usia. Usia yang memiliki respon antibody yang lemah ditemukan pada bayi dan lanjut usia (Lansia). Pada kajian ini status imunitas yang baik ada pada usia anak dan dewasa, sedangkan pada lansia jumlah responden status High Sufficient Antibody dan Sufficient Antibody lebih sedikit dibandingkan pada usia anak-anak dan dewasa. Jumlah virus yang masuk kedalam tubuh bisa berasal dari vaksin juga dari hewan pembawa yang sudah dinyatakan positif Rabies. Dalam kajian ini ditemukan adanya perbedaan respon antibody pada responden yang digigit oleh HPR positif. Responden GHPR dengan HPR positif ditemukan status imunitas terbanyak High Sufficient dan Sufficient sedangkan pada HPR yang negative prosentase status immunitas Suffucient, Insufficient dan Undetectable memiliki jumlah yang sama. Kesimpulan :Kasus GHPR tertinggi ada di wilayah Puskesmas Kuta Selatan diikuti oleh Puskesmas Abiansemal 1. Luas wilayah dan kepadatan penduduk sangat berpengaruh terhadap populasi HPR, terutama anjing di wilayah Kabupaten Badung. Kasus HPR positif Rabies pada populasi anjing di kabupaten Badung kurun waktu 2008-2017 mengalami penurunan. Jumlah terbanyak di wilayah Badung Selatan yang meliputi Kuta Selatan, Kuta dan Kuta Utara. Jumlah kasus sedikit ada pada wilayah Badung Utara meliputi kecamatan Petang.Status imunitas responden yang masih dapat memberikan perlindungan secara optimal pada post VAR 1 tahun sebanyak 90% sedangkan pada post VAR 2 tahun sebanyak 70%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian VAR dalam kurun waktu 1 tahun masih berfungsi dengan baik dan tidak perlu diberikan vaksin ulangan/booster jika terjadi gigitan HPR berulang.Faktor risiko penyakit Rabies yang ada di kabupaten Badung antara lain disebabkan oleh mobilisasi HPR (anjing) yang cukup tinggi terutama di kawasan Badung Selatan yang merupakan wilayah pariwisata. Hal ini membuat pelaksanaan vaksinasi missal terhadap HPR yang terdata tidak maksimal sehingga proses penularan Rabies pada HPR masih tetap berlangsung.
[PHS4] GERMAS DI PUSKESMAS SRI BHAWONO LAMPUNG TIMUR TAHUN 2017 Sigit Wahyu Kurniawan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2928.965 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40261

Abstract

Tujuan: Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni masalah kesehatan triple burden, karena masih adanya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Puskesmas Sri Bhawono terletak di wilayah Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah penduduk 49.909 jiwa yang tersebar di 7 desa yang sebagian merupakan eks hutan lindung register 38. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian. Isi: Pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Sri Bhawono dilakukan dimulai dengan seremoni kegiatan GERMAS tingkat Kecamatan Bandar Sribhawono yang dilakukan di Lapangan Desa Bandar Agung yang dibuka oleh Bupati Lampung Timur dan diikuti oleh lebih kurang 3.000 warga masyarakat, dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin. Kegiatan GERMAS  di Puskesmas Sri Bhawono diintegrasikan dengan kegiatan Jumat Bersih dan Jumat Sehat di masyarakat. Senam sekarang merupakan kegiatan yang lumrah dilakukan oleh masyarakat terutama kelompok-kelompok usila dan kelompok-kelompok ibu-ibu muda. Promosi GERMAS dilakukan hampir disetiap kesempatan pertemuan dengan masyarakat seperti di posyandu, posbindu, dan tempat-tempat umum lainnya. Sebagian kegiatan GERMAS sebenarnya merupakan kebiasaan masyarakat pedesaan sejak jaman dahulu seperti berkebun, berjalan atau bersepeda, bergotong royong, banyak makan sayur dan buah lokal, dan lain-lain. Hanya saja akhir-akhir ini mulai dilupakan oleh masyarakat dan sekarang perlu kita galakkan lagi.
Pendekatan politik untuk public health dengan usulan memasangkan jumlah kampung ODF di website pemerintah daerah Betty Siahaan
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.818 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40266

Abstract

Latar belakang: tingginya kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) di Indonesia menunjukkan bahwa sanitasi belum baik. Melalui program Open defecation Free (ODF)  kebiasaan BABS dapat dihilangkan dengan cara meningkatkan kualitas sanitasi. Akan tetapi puskesmas tidak mampu mengelola program tersebut karena keterbatasan sumber daya manusia. Tujuan: mengeksplorasi strategi dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan dengan melibatkan stakeholders politik di bidang public health. Argumentasi: 1) kemiskinan merupakan faktor determinan sosial kesehatan sehingga masyarakat tidak mampu memenuhi sarana sanitasi dasar. 2) tingginya angka kesakitan karena BABS disebabkan oleh sistem perumahan yang tidak sehat. Oleh karena itu pemerintah daerah dapat membuat program bedah rumah dengan memanfaatkan CSR perusahaan yang ada di daerah. 3) kebutuhan dasar masyarakat miskin dapat dipenuhi pemerintah daerah seperti menyediakan toilet tiap rumah tangga dengan menggunakan dana desa dan anggaran dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 4) membuat jamban komunal melalui dana desa yang pengerjaannya melibatkan masyarakat. 5) penggalangan komitmen antara dinas kesehatan dengan Bappeda, Dinas Pendapatan dan Keuangan Daerah serta DPRD terkait dukungan dalam keberhasilan program ODF 6) komitmen politik pemerintah daerah dengan membuat kebijakan 100% kampung ODF dalam masa jabatannya dan memasangkan jumlah kampung ODF sebagai program prioritas di website pemerintah daerah. Sanksi sosial akan diterima oleh politisi dan akan menimbulkan rasa malu bila program tersebut tidak tercapai.
Status gizi pada balita komunitas adat terpencil di suatu wilayah kecamatan di Jambi Asparian Asparian; Willia Novita Eka Rini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.004 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40353

Abstract

Determinants of nutrition in toddlers of Remote Indigenous Communities (KAT) in Batang Hari RegencyPriority program of RPJMN 2014-2019 are empowerment programs, basic needs, accessibility and social service for citizens of indigenous people. Basic needs are food, clothing, housing, health, education, employment, and/or social service. The health problems of KAT are helminthiasis disease, skin disease, ISPA, diarrhea and low nutritional status in the group of children. This research is quantitative research with observational design through Cross Sectional approach to measure all variables at the same time. The population of all infant ages 24 – 59 months at the location of KAT village Sungai Terap subdistrict Batin XXIV District Batang hari. amples are total populations with inclusion criteria and exclusion criteria. Independent variables are family head income (KK), food availability, consumption patterns and public nutritional services. While the dependent variable is the nutritional status (TB/U). Primary data is obtained through interviews and observations using questionnaires and check-lists, secondary data is derived from the study of documents and interviews. Analysis of Univariate, bivariate and multivariate data using Chi Square test. The results found a significant between the KK income with stunting ρ = 0,000 OR = 22.7 and consumption patterns with stunting ρ = 0,002. The consumption of family rice is still very small, averaging 500 grams/hr. Highest consumption rate occurs when getting big game results, once in three weeks. There is no link between food availability and nutritional services with stunting. Multivariate test found the most significant determinant of stunting in toddlers aged 24 – 59 months at KAT Sungai Terap is KK income with OR = 14,0 value, income obtained only from the rubber plantation area of 0.8 Ha/KK and animal sales Category.
"Super Youth": program inovasi penyuluhan kesehatan reproduksi berbasis komunitas remaja Joice Deby Nafi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.855 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40358

Abstract

Tantangan Membangun Kemitraan dengan Penyedia Layanan Kesehatan Sektor Swasta dalam Program Pengendalian TB Riana Dian Anggraini; Eka Putri Rahayu; Wa Ode Siti Orianti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.384 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40360

Abstract

PendahuluanDokter praktek mandiri, apotek dan laboratorium swasta maupun pekerja informal kesehatan dikenal sebagai penyedia layanan sektor swasta, selama ini diyakini memiliki dimensi kualitas layanan kesehatan yang lebih baik. Hal itu menjadi alasan utama untuk memasukkan keterlibatan mereka dalam pemberian layanan DOTS. Penerapan PPM (Public Private Mix) yang dilaksanakan lebih dari 15 tahun masih menghadapi tantangan bersifat persisten, dimana sebagian besar sektor swasta tidak terlibat dalam kolaborasi kemitraan ini.IsiImplementasi PPM belum berjalan menyeluruh secara nasional dan fragmentasi disektor swasta menyulitkan untuk membentuk komitmen secara merata. Program TB bersifat vertikal dan public sedangkan sektor swasta berorientasikan bisnis jasa menuntut keuntungan dari  layanan yang diberikan. Terjadi perbedaan ideologi serta visi yang belum jelas dalam kolaborasi ini.Sektor swasta memiliki kapasitas lemah dalam melakukan tugas “case holding” yang mampu menjangkau kepatuhan pengobatan. Dilain sisi staf layanan public seringkali merasa terbebani dengan tanggungjawab memenuhi target program. Kapasitas merancang dan mengelola kontrak kemitraan dengan organisasi swasta juga belum dimiliki. Kolaborasi lemah sebab peningkatan kapasitas hanya terpaku disektor public. Penegakan aturan dalam notifikasi kasus TB, penggunaan rasional OAT serta pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) juga belum optimal.Pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan dibutuhkan untuk ekspansi PPM. Investasi ini tidak hanya untuk layanan publik tetapi juga untuk sektor swasta tetapi alokasi dana yang tersedia tidak mencukupi untuk upaya peningkatan PPM.Lesson learnTantangan dalam pelaksanaan PPM karena ada perbedaan ideologi, komitmen yang tidak merata, kelemahan kapasitas dalam berkolaborasi serta ketidakpastian pendanaan. Strategi dengan melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas memperkuat layanan TB disektor swasta. Peningkatan kapasitas pada semua penyedia layanan menjamin pemerataan kualitas layanan TB sehingga mampu meningkatkan deteksi kasus, mempercepat diagnosis dan pengobatan serta meminimalkan biaya perawatan akibat TB. Hubungan kemitraan perlu disertai kesepakatan kerjasama,  penegakan peraturan dan pedoman operasional PPM TB.Kata Kunci PPM TB, Sektor Swasta, Kemitraan, Kolaborasi
Upaya pemeliharaan kesehatan lansia melalui peningkatan kapasitas kader Posyandu lansia padukuhan Nglaban, desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta Agatha Astri Ratnasari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.793 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40364

Abstract

Latar belakang: Hipertensi merupakan kasus penyakit tertinggi kedua di Ngaglik. Berdasarkan data Posyandu Lansia Padukuhan Nglaban, kasus hipertensi pada lansia juga menjadi permasalahan utama. Posyandu Lansia di Nglaban dibentuk mulai 2016 dengan sistem tiga meja. Pelaksanaan posyandu lansia sudah berjalan rutin namun belum optimal karena belum ada pemanfaatan KMS lansia, oleh karena itu diperlukan peningkatan kapasitas kader dalam pengelolaan posyandu lansia.Tujuan: Meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan lansia melalui peningkatan kapasitas kader posyandu lansiaMetode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one-group pre-test post-test dan one shot case study dengan mixmethode. Bentuk peningkatan kapasitas kader melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan kader dalam pengisian KMS lansia. Penelitian dilakukan sejak bulan April-September 2018 dengan responden penelitian sebanyak 11 orang kader posyandu lansia Padukuhan Nglaban. Data kuantitatif didapatkan melalui kuesioner pre test dan post test, lembar ceklis observasi kader pada pengisian KMS lansia, serta tinjauan dokumen untuk melihat kelengkapan pengisian pencatatan posyandu lansia. Data kualitatif didapatkan melalui observasi untuk melihat respon dan keaktifan responden selama pelatihan, sedangkan wawancara tidak terstruktur untuk mengetahui tanggapan dan kebermanfaatan pelatihan terhadap kinerja kader posyandu lansia.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan kader yang signifikan setelah dilakukan pelatihan kader yaitu tentang PTM: 37% (p=0,0059) dan Posyandu lansia: 17,5% (p=0,015). Terdapat peningkatan keterampilan kader dalam pengisian KMS lansia yaitu  3 orang berketerampilan baik (33,3%), 4 orang cukup baik (44,4%), dan 2 orang kurang baik (22,2%). Terdapat peningkatan kunjungan posyandu lansia (April-September 2018).Kesimpulan: Program pelatihan kader dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kader; Pelatihan serta pendampingan teknis dalam pengisian KMS lansia dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pemanfaatan KMS lansia sehingga dapat berdampak pada peningkatan kunjungan lansia ke posyandu lansia.

Page 72 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue