cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Tantangan Sistem Surveilans Pencegahan Kejadian Luar Biasa Pasca Bencana Di Puskesmas Batusuya Kecamatan Sindue Tombusabora Kabupaten Donggala Tahun 2018 Rido Illahi Ayef Eka Putra; Vira Faisal
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2656.492 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40470

Abstract

Tujuan: Bencana alam yang terjadi di Propinsi Sulawesi Tenggah pada tanggal 28 September 2018 yang lalu menimbulkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan melumpuhkan sistem pemerintahan.  Salah satu daerah yang terkena dampak bencana adalah kecamatan Sindue Tombusabora di Kabupaten Donggala. fasilitas kesehatan yang tersedia di kecamatan Sindue Tombusabora adalah Puskesmas Batusuya. Puskesmas Batusuya merupakan satu-satunya Puskesmas tempat pelayanan kesehatan yang memiliki wilayah kerja meliputi desa Batusuya go, desa Batusuya, desa Kaliburu, desa Kaliburu Kata dan desa Tibo. Sebagai fasilitas kesehatan yang utama di tingkat kecamatan puskesmas Batusuya memiliki peranan yang sangat penting untuk pengobatan dan perawatan pasca bencana. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan tantangan dan kendala pengoperasian kembali (pengaktifan kembali)  dan pembuatan sistem surveilan penyakit pasca bencana. Konten: Gempa Bumi yang terjadi tanggal 28 September 2018 melumpuhkan sistem surveilans dan pelayanan kesehatan Puskesmas Batusuya. Selama 2 minggu semenjak kejadian gempa bumi puskesmas Batusuya tidak beroperasi sebagaimana mestinya, karena tidak adanya petugas kesehatan dan ruangan rawat inap yang tidak memenuhi kriteria yang aman.. Dari hasil kunjungan lapangan ke petugas kesehatan puskesmas ditemukan bahwa petugas kesehatan trauma untuk pergi bertugas ke puskesmas karena dikhawatirkan akan ada gempa susulan dan letak geografis puskesmas Batusuya yang berada 200 meter dari bibir pantai. Selain kekhawatiran tenaga kesehatan terhadap gempa susulan, juga dipenggaruhi oleh ketidakhadiran  kepala Puskesmas sebagai pimpinan puskesmas Batusuya dalam mengelola dan mengarahkan bawahannya untuk bertindak. Untuk bisa menghidupkan sistem surveilans Puskesmas, langkah awal yang dilakukan adalah menghidupkan pelayanan kesehatan di puskesmas terlebih dahulu. Untuk itu dilakukan advokasi kepada kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan (perawat, bidan) agar dapat melakukan kembali tugasnya di puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan.  Setelah pelayanan kesehatan di puskesmas berjalan diambil laporan surveilan puskesmas dari registrasi pengobatan dan laporan registrasi di bidan desa dari setiap desa di wilayah kerja puskesmas Batusuya.
Smoke free policy in vocational engineering department of Gadjah Mada University: an implementation research Ribia Tutstsintaiyn; Atiq harkati; Meia Audinah; Zainab Zainab
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.413 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40471

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) di Sekolah Vokasi Departemen Teknik Mesin UGM dengan melihat proses, penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program. Method: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara terhadap informan yang meliputi stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa. Results: Proses penyusunan peraturan dalam program advokasi peraturan Kawasan Tanpa Rokok dapat dikatakan berjalan cukup baik dengan melihat aspek penilaian seperti tanggapan positif dari stakeholder, dosen, karyawan dan mahasiswa selama proses sosialisasi awal dan penyusunan peraturan. Hal tersebut yang memudahkan terbentuknya peraturan KTR dan pemberlakuan peraturan setelahnya. Kemudian setelah peraturan diterapkan, terjadi perubahan pada perilaku merokok mahasiswa yakni bahwa mahasiswa mengurangi perilaku merokok di kampus pada jam aktif meskipun beberapa masi terlihat merokok di pojok kantin tetapi di luar jam aktif kampus yaitu mulai pukul 16.00 WIB keatas. Hasil penelitian ini juga menunjukkan penerimaan dan dukungan yang positif dan  terhadap keberadaan peraturan KTR. Sebagai bentuk tindak lanjut, stakeholder selaku pengelola akan memasang tanda KTR dilingkungan kampus dan inisiatif untuk menegur apabila ditemui mahasiswa yang merokok dilingkungan kampus pada jam perkuliahan. Kemudian hambatan yang mungkin muncul dalam pemberlakuan peraturan penerapan KTR yang baru adalah lekatnya budaya merokok sebagai perilaku yang sudah ada dan menjadi hal yang biasa, serta keberadaan dosen-dosen perokok yang menjadi alasan mahasiswa untuk tetap dapat merokok di kampus.  Disamping itu, dengan adanya dukungan dan penerimaan positif terhadap peraturan Kawasan Tanpa Asap Rokok yang diberikan oleh stakeholder diharapkan dapat menjadi modal sosial yang penting terhadap adanya peningkatan sikap positif terhadap perilaku merokok dan keberlanjutan peraturan KTR di waktu mendatang. Conclusion: Tercapainya penerimaan (acceptable) dan adopsi (adoption) terhadap program advokasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dengan diterbitkannya Peraturan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok secara khusus di Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM.
Determinan Sosial dan Dampak Kesehatan Pernikahan Dini di Lombok Timur Rina Tri Agustini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1180.838 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40472

Abstract

Tujuan: Penelitian ini menganalisis determinan sosial dan dampak yang berkaitan dengan kesehatan dari kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka dari jurnal terkait dan wawancara mendalam kepada dua orang informan berdasarkan purposive sampling. Analisis data menggunakan Social Cognitive Theory untuk mengidentifikasi determinan sosial terkait pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Selain itu, peneliti juga melakukan analisis dampak kesehatan berdasarkan aspek fisik, mental, dan sosial. Hasil: Determinan sosial kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) faktor personal meliputi pendidikan rendah dan faktor agama; (2) perilaku yaitu kehamilan di luar pernikahan, dan (3) pengaruh lingkungan meliputi lingkungan keluarga, budaya lokal, dan pola pikir masyarakat setempat. Sedangkan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari pernikahan dini berdasarkan penelitian ini antara lain: (1) aspek fisik meliputi infeksi menular seksual, komplikasi dalam melahirkan, dan gangguan kesehatan anak yang dilahirkan; (2) aspek mental yaitu beban pikiran; dan (3) aspek sosial meliputi gunjingan di tengah masyarakat, permakluman terhadap hal negatif yang tidak diinginkan, dan memicu tindakan kriminal. Simpulan: Sehubungan dengan perencanaan intervensi dalam menanggulangi permasalahan pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur, pihak yang terlibat harus memperhatikan prinsip relativisme budaya setempat. Oleh karena itu, beberapa upaya yang dapat dilakukan berkaitan dengan masalah ini yaitu: (1) memahami budaya lokal pernikahan dini secara komprehensif; (2) melakukan komunikasi lintas sektor; (3) melibatkan partisipasi masyarakat setempat; dan (4) menyusun program dengan memperhatikan budaya lokal masyarakat.
Program Gentongisasi melalui Pengelolaan Sampah Mandiri oleh Aktivis Lingkungan di wilayah Urban Area Munsyi Mutasawif Wafa
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.485 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40474

Abstract

Tujuan: Mengidentifikasi efektifitas program gentongisasi di Kelurahan Purwokinanti, Kota Yogyakarta sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat. Gentongisasi menjadi program upaya kesehatan masyarakat yang dicanangkan oleh GKBRAA Paku Alam,dan bersinergi dengan Kecamatan, Kelurahan, Puskesmas, dan Forkompinca. Dalam program ini gentong, tanaman toga, dan ikan lele dalam konteks kesehatan atau kesejahteraan memang tidak berhubungan. Tapi, bagi Kelurahan Purwokinanti, ketiganya ternyata komplemen. Gentong hanya sebagai simbol masyarakat yang sehat dan lingkungan yang sehat. Kegiatan ini mulanya dilakukan bersamaan dengan program kelurahan siaga, akan tetapi akan lebih baik jika dilakukan secara tersendiri oleh komunitas masyarakat dalam lingkup kelurahan Purwokinanti. misalnya dengan melibatkan aktivis lingkungan sebagai aktor utama di lapangan, yang memang memiliki kepedulian lebih terhadap kesehatan lingkungan. kemudian program gentongisasi dapat lebih di spesifikan lebih ke arah pengelolaan sampah secara kelompok atau bank sampah. Lesson Learn: Pengelolaan sampah ini menyasar pada semua penduduk yang tinggal di kelurahan Purwokinanti. Setiap kepala keluarga tiap dua kali dalam seminggu akan menyetor sampah di tempat pengelolaan sampah sementara yang disediakan di tiap RT. sampah yang dikumpulkan memiliki kriteria yakni sampah plastik, sampah sisa makan, sampah kering dan dikelompokkan masing masing. Pengelolaan sampah ini dapat diawasi oleh penduduk setempat yang memang menjadi aktivis  lingkungan atau ditunjuk secara langsung oleh Lurah. Hal tersebut sebagai role model di masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah khususnya di daerah urban. Simpulan : Aktivis lingkungan menjadi salah satu solusi penggerak pengelola sampah mandiri dan kegiatan berbasis kesehatan lingkungan lain di  wilayah urban area kelurahan Purwokinanti kota Yogyakarta. Hal ini untuk mengatasi gap masalah sosial kultural pertisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah (bank sampah) di wilayah urban perkotaan khususnya Keluarahan Purwokinanti kota Yogyakarta.
Studi epidemiologi penyakit metabolik di kota Tomohon Mayang Januarti Permatasari; Ferry Fredy Karwur; Retno Triandhini; Rosiana Eva Rayanti; Rully Toar Tumanduk
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.311 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40475

Abstract

Latar belakang: Riskesdas 2007, 2013 dan 2018 menunjukkan Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara menduduki peringkat 10 besar di tingkat nasional. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan tingginya Penyakit Tidak Menular di Sulawesi Utara, maka diperlukan studi jangka panjang tentang prevalensi, dan komorbiditas penyakit metabolik dengan lebih rinci. Penelitian ini bertujuan untuk melihat prevalensi dan komorbiditas penyakit tidak menular di kota Tomohon. Metode: Kami menggunakan data dari Dinas Kesehatan kota Tomohon dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir untuk melihat pola perubahan penyakit selama periode tersebut. Kami juga mencari data dari dua Rumah Sakit di kota Tomohon dan salah satu Puskesmas di Tomohon untuk melihat apakah ada persamaan pola kejadian penyakit. Untuk membandingkan data sekunder, kami melakukan survei prevalensi penyakit tidak menular secara langsung ke 630 orang dengan rentang usia antara 17-91 tahun yang mewakili 25% populasi masyarakat tersebut. Hasil: Dari penelitian ini kami menemukan (1) Hipertensi, arthritis dan penyakit sendi, dan diabetes mellitus konsisten menjadi penyakit metabolik utama selama 9 tahun terakhir. (II) Pola yang sama juga terlihat pada laporan Rumah Sakit dengan tambahan penyakit yang berhubungan dengan jantung, stroke dan penyakit ginjal. (III) Data dari puskesmas juga menunjukkan hipertensi, diabetes mellitus dan arthritis menjadi penyakit metabolik utama dengan tambahan hiperurisemia. (IV) Survei secara langsung menunjukkan hiperurisemia, hipertensi, hiperkolesterolmia, gout arthritis dan diabetes mellitus merupakan 5 penyakit metabolik terbanyak pada populasi tersebut. Selain itu, kami juga menemukan komorbiditas penyakit metabolik dari data Puskesmas dan survei secara langsung. (I) Puskesmas menunjukkan hipertensi dan kormobiditasnya menempati posisi pertama komorbiditas penyakit metabolik. (II) Data survei secara langsung juga menunjukkan pola yang sama dengan data Puskesmas. Simpulan: Menurut data keempat sumber data yang kami kumpulkan, tiga penyakit metabolik utama kota Tomohon adalah hipertensi, diabetes mellitus dan penyakit persendian.
“SALAM Sehat”: Upaya Health Promoting University melalui Media Komunikasi Kesehatan berbasis Organisasi Mahasiswa di FKKMK UGM Aulia Zahro Novitasari; Dwi Rahmawaty; Nurhijrianti Akib; Rina Tri Agustini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.201 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40479

Abstract

Objective: “SALAM Sehat” merupakan kampanye kesehatan SAntap buah dan sayur setiap hari, LAkukan aktivitas fisik secara rutin dan Menjaga kesehatan mental yang dilakukan sejak bulan Juni hingga Oktober 2018 di FKKMK UGM. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengembangan media komunikasi kesehatan “SALAM Sehat” yang berbasis organisasi mahasiswa di FKKMK UGM. Method: Pengembangan media beserta konten media dilakukan dengan pemberdayaan mahasiswa melalui organisasi mahasiswa FKKMK UGM. Media yang telah dikembangkan berupa poster online dan video filler melalui akun dan grup organisasi mahasiswa. Metode evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan desain studi kasus melalui Focus Group Discussion dengan anggota Organisasi Mahasiswa FKKMK UGM. Result: Program pengembangan media “SALAM Sehat” dinilai telah mendukung Health Promoting University dan sesuai untuk promosi hidup sehat. Media kesehatan yang telah dibuat mudah dipahami dan informatif, namun dalam prosesnya memiliki hambatan pada pengembangan media seperti kebingungan dalam mendesain konsep poster, dan menyesuaikan jadwal anggota tim. Pengembangan media ini didukung oleh adanya proses pembagian tugas di tim, terdapat SOP yang disepakati, dan adanya kerjasama antar organisasi. Pengembangan media diharapkan terus berlanjut dengan adanya regenerasi tim untuk keberlanjutan program. Conclusion: Pengembangan media komunikasi kesehatan membutuhkan pengembangan media yang konsisten, terintegrasi dengan kebijakan, didukung dengan pengadaan fasilitas yang memadai, serta perlu kerjasama yang lebih luas agar media komunikasi dapat menjangkau seluruh civitas akademika FKKMK UGM.
Penderita TB Paru di Kota Kediri: Analisa Mixed Method Keteraturan Berobat dan Kecepatan Konversi BTA Pengobatan Tahap Intensif Akhmadi Abbas
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.084 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40483

Abstract

Latar belakang: Penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global. Konversi BTA merupakan prediktor awal keberhasilan pengobatan TB. Semakin cepat waktu konversi maka akan semakin rendah penularan penyakit TB Paru. Tujuan: Penelitian ini menganalisis keteraturan berobat dan kecepatan konversi BTA pada penderita TB Paru. Metode: Penelitian ini menggunakan mixed methods designs dengan melakukan survey dan wawancara mendalam terhadap informan utama (2 orang penderita TB paru yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi) dan informan kunci (PMO, petugas P2TB dan wakil supervisor TB masing-masing 1 orang). Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dan disajikan dengan metode triangulasi sumber. Hasil: Pertama, BTA penderita sudah mengalami konversi setelah 2 minggu mengkonsumsi OAT. Kedua, penderita teratur mengkonsumsi OAT selama menjalani pengobatan tahap intensif. Ketiga, penderita tidak pernah lupa mengkonsumsi obatnya. Obat yang diberikan oleh petugas selalu habis tepat waktu. Kesimpulan: Penderita yang teratur mengkonsumsi OAT dapat mengalami konversi BTA dalam waktu 2 minggu pengobatan. Semakin cepat waktu konversi BTA, maka akan mempercepat proses penyembuhan penyakit dan meminimalkan risiko penularan. Perlunya penggunaan alarm dan peran aktif keluarga untuk menjaga keteraturan berobat penderita TB paru.Kata kunci: Konversi BTA, Keteraturan berobat, OAT, Fase Intensif, TB Paru
Test and Treat HIV di puskesmas Sitti Sudrani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.519 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40487

Abstract

Latar belakang: Prevalensi HIV di Sulawesi Tenggara terus meningkat. Sementara pasien HIV yang tetap menjalani terapi antiretroviral tidak sebanding dengan laju epidemi HIV. Hingga akhir 2017 pasien HIV positif baru ditemukan berjumlah 998 orang, sementara yang sedang menjalani terapi antiretroviral hanya 306 orang (30,7%). Perluasan layanan tes HIV di puskesmas berdampak pada meningkatnya pasien HIV baru yang ditemukan. Merujuk setiap pasien untuk menjalani terapi antiretroviral di rumah sakit sering menimbulkan masalah, terutama terkait pembiayaan, jarak yang jauh dan risiko pasien lost to follow-up. Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan layanan test and treat HIV di puskesmas. Hasil: Sasaran layanan adalah populasi berisiko HIV yang mendapatkan tes HIV dengan pendekatan VCT (voluntary counseling test) atau PITC (provider initiative test and counseling) di puskesmas atau mobile klinik pada 2 wilayah kerja puskesmas (Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari dan Puskesmas Wajo Kota Baubau). Kegiatan layanan meliputi: konseling HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes, terapi antiretroviral, konseling kepatuhan terapi, rujukan ke kelompok dukungan sebaya, konseling pasangan, rujukan pemeriksaan CD4 ke rumah sakit, dan penjangkauan pasien HIV yang lost to follow-up. Pelaksana layanan adalah tim yang terdiri dari konselor, dokter, perawat, bidan, laboran, apoteker dan petugas admin. Simpulan: Layanan test and treat HIV di puskesmas dapat meningkatkan jumlah orang yang dites HIV, menemukan pasien HIV dalam stadium awal, menyediakan layanan terapi antiretroviral bagi pasien HIV tanpa komplikasi, dan mempertahankan kepatuhan terapi antiretroviral.  
Perlukah Sekolah Memiliki lulusan SKM Sebagai Manajer Kesehatan Di Sekolah? Eka Putri Rahayu; Riana Dian Anggraini
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.502 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40489

Abstract

Latar belakang: Mempromosikan kesehatan anak-anak dan remaja melalui kebijakan di lingkungan sekolah adalah tanggung jawab yang sering dibagi oleh sektor kesehatan dan pendidikan. Sekolah adalah institusi fundamental dalam membangun kesejahteraan dan kesehatan negara, dan pendidikan telah terbukti menjadi faktor kunci dalam mempersempit perbedaan antara kaya dan miskin. Proses pengembangan karakteristik siswa sekolah adalah kursus instruksional manajemen oleh sekolah. Platform dari kata "kesehatan di sekolah", yaitu 1) siswa sehat, 2) sekolah sehat, 3) lingkungan sehat, dan 4) Komunitas sosial yang sehat. Selain mendapatkan tentang ajaran pendidikan, sekolah dapat dijadikan sebagai basis promosi kesehatan pada usia dini. Dimanakah peran kesehatan dapat berperan? Apakah perlu memasukkan kurikulum kesehatan sekolah sebagai basis pengajaran?. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode penelusuran pustaka (literature review). Bahan pustaka yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan disintesis untuk membangun suatu alternatif solusi dalam  meningkatkan keamanan pangan jajanan anak sekolah. Hasil: Seorang koordinator kesehatan sekolah, dalam hal ini manajer kesehatan, juga bisa  menjadi sumber yang berharga karena dia dapat memikul tanggung jawab dalam hal promosi kesehatan sekolah. Sarjana SKM diperlukan untuk menjadi manajer kesehatan di sekolah yang akan mengemban tanggung jawab di bidang promosi kesehatan sekolah. Simpulan: Upaya kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan untuk mendukung promosi kesehatan sekolah dapat ditingkatkan melalui peningkatan pemangku kepentingan. Keterlibatan pemangku kepentingan tampaknya menjadi penting di seluruh proses kebijakan, mulai dari identifikasi kebutuhan akan kebijakan, hingga menganalisis opsi dan mengembangkan kebijakan, hingga adopsi kebijakan, implementasi dan evaluasi dan dukungan. Disinilah pentingnya ada sarjana lulusan Kesehatan, khususnya sarjana SKM sebagai manajer kesehatan. Sehingga, status kesehatan siswa terpantau dan promosi kesehatan sekolah dapat berjalan dengan baik. Pendidikan dan kesehatan dapat berkolaborasi untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat dan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang tinggi pada siswa.
“Go Baby Go” Model Kelas Pengasuhan untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak usia 0-3 Tahun ST Khumaidah; Besral Besral
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.175 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40490

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 diketahui bahwa tingket perkembangan anak usia 36-59 bulan secara literasi perkembangannya mencapai 64,6%, tingkat perkembangan fisik sebanyak 97,8% dan tingkat perkembangan sosial emosional sebanyak 69,9%. Hal tersebut menunjukkan ketidakseimbangan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Idealnya, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dicapai anak dengan optimal dan seimbang antara perkembangan fisik, sosial emosional dan literasi (kognitif). Oleh karena itu, pemantauan dan stimulasi tumbuh kembang anak yang dilakukan oleh pengasuh diperlukan untuk optimalisasi tumbuh kembang anak dan menemukenali  masalah tumbuh kembang pada anak usia 0-3 tahun. Tujuan: Tujuan dari Kelas Pengasuhan Go Baby Go adalah untuk mengintegrasikan berbagai pendekatan untuk optimalisasi perkembangan anak usia dini. Metode: Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Kelas Pengasuhan ini adalah dengan model kelas pendampingan yang difasilitasi oleh kader posyandu terlatih. Untuk mengukur hasil yang dicapai penulis membandingkan antara hasil baseline dan endline survey. Hasil: Hasil dari pelaksanaan Kelas Pengasuhan Go Baby Go di Kecamatan Cilincing menunjukkan adanya perubahan pola pengasuhan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak berusia 0-3 tahun. Dari hasil membandingkan antara baseline dan endline yang dilakukan pada 81 peserta ditemukan bahwa, adanya perubahan pengasuh dalam melakukan stimulasi secara dini kepada anak, dari sebelumnya hanya 72,03% menjadi  90,56%. Pola interaksi pengasuh dengan ank juga mengalami perubahan dari 18,56% menjadi 32,29%. Kebiasaan mencuci tangan pada waktu yang direkomendasikan mengalami peningkatan dari 53,25% menjadi 79,02%. Simpulan: Model kelas pengasuhan Go Baby Go dapat direplikasi sebagai inovasi program untuk mengoptimalkan perkembangan anak usia 0-3 tahun. Hal ini dapat diketahui dengan melihat efektifitas pelaksanaan kelas pengasuhan yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ststus gizi berdasarkan TB/U yang berubah dari 69,01% menjadi 72,4%. Selain itu, hasil stimulasi SDIDTK menunjukkan bahwa adanya penurunan jumlah anak yang mengalami keterlambatan perkembangan dari yang sebelumnya 2,70% menjadi 0%. Saran: Kolaborasi dan kerjasama lintas sektor perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan fasilitasi kelas dan memastikan keberlanjutan program.

Page 74 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue