cover
Contact Name
Syahrul Mubarak Subeitan
Contact Email
syahrulsubeitan@gmail.com
Phone
+6282291131498
Journal Mail Official
al-mujtahid@iain-manado.ac.id
Editorial Address
Jl. Dr. S.H. Sarundajang, Kawasan Ringroad I, Malendeng Manado Kode Pos 95128, Sulawesi Utara, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law
ISSN : 28092805     EISSN : 28090756     DOI : http://dx.doi.org/10.30984/ajifl
Core Subject : Social,
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law mainly focuses on Islamic Family Law and Islamic Law. with various approaches of normative, philosophy, history, sociology, anthropology, theology, psychology, and is intended to communicate the original researches and current issues on the subject. Detailed scopes of articles accepted for submission to Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law are: 1. Study of the Islamic Social Institution of Family Law 2. Basic Study of Islamic Family Law Science 3. Islamic Family Law Dispute Resolution 4. Contemporary Study of Islamic Family Law 5. Islamic Family Law in the World
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2023)" : 6 Documents clear
Perspektif Hukum Islam terhadap Adat Istiadat Mogama’ di Kelurahan Mogolaing: Perbedaan Nilai dengan Ajaran Islam Suleman, Frangky; Soleman, Moh. Rafiq; Ontowirjo, Nurul Izzah Assyifa
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.2731

Abstract

This research aims to analyze the Islamic perspective on implementing the Mogama’ customary practices in Mogolaing Village, West Kotamobagu. A qualitative method was employed, conducting field research in Mogolaing Village, gathering data through observation, interviews, and documentation, which were analyzed based on information from the village head, customary leaders, religious figures, and community leaders. The research findings reveal differences in values between the Islamic interpretation and the practice of Mogama’ and Islamic law. Islamic teachings, such as respect for women, friendship, cooperation, blessings through congregational prayers, good treatment of women, and the development of strong familial ties, are not aligned with the values in Mogama’s practices. Some scholars discuss 'urf related to customs and traditions, utilizing 'urf and customs/practices appropriate to their context for adaptation. However, the traditional marriage procession of Bolaang Mongondow is considered in line with Islamic teachings as "Urf Saḥīh" because it does not contradict them. The research concludes that there are differences in values between Islamic teachings and Mogama’ practices. At the same time, some scholars use 'urf and customs/practices in their appropriate contexts for adaptation, and the traditional Bolaang Mongondow marriage is considered in accordance with Islamic teachings as 'Urf Saḥīh. Keywords: Mogama’; Sanctions; Islamic Law. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif Islam terhadap penerapan adat istiadat Mogama’ di Kelurahan Mogolaing, Kotamobagu Barat. Metode kualitatif digunakan dengan penelitian lapangan di Kelurahan Mogolaing, mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis berdasarkan informasi dari kepala Kelurahan, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan nilai antara penafsiran Islam terhadap praktik Mogama’ dan hukum Islam. Prinsip-prinsip ajaran Islam, seperti penghormatan terhadap perempuan, persahabatan, gotong royong, keberkahan melalui shalat berjamaah, perlakuan baik terhadap perempuan, dan pembangunan tali kekeluargaan erat, tidak selaras dengan nilai-nilai dalam praktik Mogama’. Beberapa ulama membahas ‘urf yang terkait dengan adat istiadat dan kebiasaan, menggunakan ‘urf serta adat/kebiasaan yang sesuai dengan konteksnya untuk menyesuaikan diri. Meskipun demikian, prosesi pernikahan adat Bolaang Mongondow dianggap sesuai dengan ajaran Islam sebagai "Urf Saḥīh" karena tidak bertentangan. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai antara ajaran Islam dan praktik Mogama’, sementara beberapa ulama menggunakan ‘urf dan adat/kebiasaan sesuai konteksnya untuk menyesuaikan diri, sementara pernikahan adat Bolaang Mongondow dianggap sesuai dengan ajaran Islam sebagai ‘Urf Saḥīh. 
Tradisi Perjodohan pada Masyarakat Bugis di Kecamatan Ladongi: Deskripsi, Dampak, dan Perspektif Hukum Islam Rasak, Abdul
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.2579

Abstract

This research examines the tradition of arranged marriages in the Bugis community in the Ladongi Subdistrict, East Kolaka Regency, focusing on description, impact, and analysis from the perspective of Islamic law. The study employs an empirical legal or socio-legal research approach with a descriptive-qualitative method. Through direct observation and interviews on the practice of arranged marriages and the application of Islamic law, the research findings indicate that the tradition of arranged marriages still exists due to specific factors and motives. The matchmaking process involves procedural stages that consider parents' choices as the best for their children. Positive outcomes occur when the selected partners meet the criteria set by parents and are accepted willingly by the children. However, negative impacts arise when children are unwilling to accept the chosen partner, feel afraid to express their disagreement, or when parents force the marriage. From the perspective of Islamic law, arranged marriages are considered permissible (mubah), and parents do not have the right to force their children into marriage. The research suggests that the tradition of arranged marriages can be carried out with the willingness and sincerity of the children, avoiding coercion that contradicts Islamic principles.Keywords: Arranged Marriages Tradition; Bugis Tribe; Islamic Law.ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tradisi perjodohan pada masyarakat Bugis di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, dengan fokus pada deskripsi, dampak, dan analisis dari perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian hukum empiris atau socio-legal research dengan metode deskriptif-kualitatif. Melalui observasi langsung dan wawancara terhadap praktik tradisi perjodohan dan penerapan hukum Islam, hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi perjodohan masih eksis karena faktor dan motif tertentu. Proses perjodohan melibatkan tahapan prosedur yang mempertimbangkan pilihan orang tua sebagai yang terbaik bagi anak. Hasil positif terjadi saat pasangan yang dipilih memenuhi kriteria baik orang tua dan diterima tanpa paksaan oleh anak. Namun, dampak negatif muncul ketika anak enggan menerima pasangan yang dipilihkan, merasa takut untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya, atau saat orang tua memaksa pernikahan. Dari perspektif hukum Islam, perjodohan dianggap mubah dan orang tua tidak berhak memaksa anak untuk menikah. Hasil penelitian menyarankan bahwa tradisi perjodohan dapat dilakukan dengan kerelaan dan keikhlasan dari anak, menghindari paksaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.  
Upaya Kantor Urusan Agama dalam Mencegah Perkawinan Dini di Kecamatan Lolak, Bolaang Mongondow Amiri, Kartika Septiani; Paputungan, Rahmat
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.2830

Abstract

This research focuses on the role of the Office of Religious Affairs/Kantor Urusan Agama (KUA) in reducing early marriage rates and the variables influencing such events in the Lolak Subdistrict, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi. A qualitative descriptive method with a phenomenological approach is employed to understand participants' experiences regarding early marriage comprehensively. The research results indicate that the KUA plays a crucial role in lowering the incidence of early marriages in the Lolak Subdistrict. They refuse to approve marriages that violate the age limits set by Law Number 16 of 2019. In addition to withholding approval, the KUA also conducts educational programs to provide the community an understanding of these regulations. Islamic guidance is delivered directly in classroom settings to prevent early marriages. This research seeks to uncover the role of the KUA in addressing early marriages and the influencing variables in the Lolak Subdistrict. With an emphasis on education and the refusal to approve early marriages, the KUA is a crucial agent in combating early marriages in the region. Keywords: Office of Religious Affairs; Marriage, Early Age. ABSTRAKPenelitian ini berfokus pada peran Kantor Urusan Agama (KUA) dalam mengurangi angka pernikahan dini serta variabel yang mempengaruhi peristiwa tersebut di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan untuk mendapatkan gambaran komprehensif terhadap pengalaman partisipan penelitian seputar pernikahan dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUA memainkan peran yang penting dalam menurunkan angka pernikahan dini di Kelurahan Lolak. Mereka menolak memberikan persetujuan terhadap pernikahan yang melanggar batasan usia yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Selain menolak persetujuan, KUA juga menggelar program edukasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang peraturan tersebut. Bimbingan Islam disampaikan secara langsung dalam setting kelas untuk mencegah terjadinya pernikahan dini. Penelitian ini berusaha  mengungkap peran KUA dalam menangani pernikahan dini serta variabel-variabel yang mempengaruhinya di Kecamatan Lolak. Dengan penekanan pada edukasi dan penolakan persetujuan pernikahan dini yang ditentukan, KUA bertindak sebagai agen penting dalam memerangi pernikahan dini di wilayah tersebut. 
Pewarisan Tradisional dalam Masyarakat Muslim: Analisis Hukum Adat Suku Tengger dari Perspektif Islam Widiatmoko, Kukuh; Bilalu, Naskur; Lamaluta, Fani
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.1960

Abstract

 This study details the inheritance system prevalent in the Muslim community of the Tengger tribe while conducting a thorough analysis of customary law from the perspective of Islam. Using a qualitative descriptive design approach, this research summarizes a series of observations and interviews conducted directly by the researcher. The main findings assert that the inheritance process in the Tengger tribe does not adhere to Islamic law principles but is instead based on local customary legal rules. Within the framework of Tengger customary law, the role of parents is central in regulating the distribution of wealth, the amount of inheritance, and gifts to heirs. This indicates that traditional values substantially influence the regulation of inheritance in this community, demonstrating the complexity of social structures and the sustainability of traditions in the context of their adherence to Islam in general. This analysis opens up a deeper understanding of the dynamics between customary law and Islamic teachings in the specific context of the Tengger tribe, emphasizing their relevance in understanding inheritance and property rights within the community.Keywords: Customary Inheritance; Tengger Muslims; Islamic Law.  ABSTRAK Kajian ini merinci sistem pewarisan yang berlaku di masyarakat Muslim suku Tengger, sambil menjalankan analisis mendalam terhadap hukum adat yang terperinci dari perspektif Islam. Dengan menggunakan pendekatan desain deskriptif kualitatif, penelitian ini merangkum serangkaian observasi dan wawancara yang dilakukan secara langsung oleh peneliti. Temuan utama menegaskan bahwa proses pewarisan di suku Tengger tidak mengacu pada prinsip-prinsip hukum Islam, tetapi justru berdasarkan aturan hukum adat setempat yang kental. Dalam kerangka hukum adat Tengger, peran orang tua memegang peranan sentral dalam pengaturan pembagian harta, besaran bagian, dan pemberian kepada para ahli waris. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai tradisional secara substansial mempengaruhi regulasi pewarisan harta di lingkungan masyarakat ini, menunjukkan kompleksitas struktur sosial dan keberlanjutan tradisi dalam konteks agama Islam yang mereka anut secara umum. Analisis ini membuka ruang pemahaman yang lebih mendalam terkait dinamika hubungan antara hukum adat dan ajaran Islam dalam konteks spesifik suku Tengger, menggarisbawahi relevansinya dalam pemahaman tentang pewarisan harta dan hak-hak waris di dalam komunitas tersebut. 
Tradisi Piduduk dalam Perkawinan Masyarakat Banjar di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan: Perspektif Maqasid Syariah Rahmatillah, Nor Annisa; Subeitan, Syahrul Mubarak; Abubakar, Fatum
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.2747

Abstract

This study aims to describe the piduduk tradition in marriages in the Banjar community, Balangan District, South Kalimantan. This qualitative research collects data in the field through observation and interviews, then analyses using the Islamic maqashid approach. This research shows that the piduduk of the Banjar people is still strong in every wedding ceremony. The Banjar people believe that if this tradition is abandoned when holding a wedding ceremony, then the wedding ceremony will not run smoothly. This tradition is carried out by older people when one of their relatives has a wedding. As for the implementation of the piduduk carried out by the Banjar community, it can cover five objectives of maqasid sharia, namely: First, to protect religion (hifdz-ad-din) as obedience to parents; Second, maintaining reason/mind (hifdz al-aql) as a valuable tradition for society; Third, taking care of the soul (hifdz an-nafs) as giving food to the bride and groom in the form of brown sugar and coconut so that the bride and groom stay healthy and have stamina when they are side by side at the aisle; Fourth, guarding assets (hifdz al-mal) as gifts to event facilitators that are worth alms; and Fifth, protecting the offspring (hifdz an-nasb) as part of preserving the Piduduk tradition of the Banjar people.Keywords: Piduduk; Marriage; Maqasid Sharia. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi piduduk dalam perkawinan masyarakat Banjar di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data di lapangan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan maqashid Syariah. Penelitian ini menunjukan bahwa tradisi piduduk masyarakat Banjar masih kental pada setiap upacara perkawinan. Masyarakat Banjar percaya apabila tradisi ini ditinggalkan ketika melangsungkan acara perkawinan, maka acara perkawinan tersebut tidak akan berjalan dengan lancar. Tradisi ini dilakukan oleh orang yang lebih tua ketika salah satu kerabatnya akan melangsungkan acara perkawinan. Adapun pelaksanaan tradisi piduduk yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dapat melingkupi lima tujuan dari maqasid syariah, yaitu: Pertama, untuk menjaga agama (hifdz-ad-din) sebagai kepatuhan kepada orang tua; Kedua, menjaga akal/fikiran (hifdz al-aql) sebagai tradisi yang bernilai bagi masyarakat; Ketiga, menjaga jiwa (hifdz an-nafs) sebagai pemberian makanan kepada pengantin berupa gula merah dan kelapa agar pengantin tetap sehat dan berstamina ketika sedang bersanding di pelaminan; Keempat, menjaga harta (hifdz al-mal) sebagai pemberian kepada para fasilitator acara yang bernilai sedekah; dan Kelima, menjaga keturunan (hifdz an-nasb) sebagai bagian dalam melestarikan tradisi piduduk masyarakat Banjar.  
Kedudukan Hukum Sertifikat Hak Milik dalam Sengketa Pertanahan: Analisis Putusan Pengadilan Negeri Kota Gorontalo Nomor 2/Pdt.G/2020/PN Gto Mallo, Abdillah; B., Sumiyati; Insani, Nur
Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajifl.v3i2.2742

Abstract

Land is one of the valuable natural resources that is highly beneficial to humans, thus necessitating specific regulation by the government. It serves as the foundation for societal development and is considered an enduring asset for a community with rightful ownership of the land. However, disputes over land have arisen among communities. The existence of land can lead to conflicts over land rights, requiring parties involved to present evidence based on applicable regulations. The objective of this research is to examine and analyze the legal status of the land ownership certificate as evidence in the verdict of the District Court of Gorontalo City No. 2/Pdt.G/2020/PN Gto. This study employs a normative legal method with legislative and conceptual approaches. The research findings indicate that the legal strength, based on legal considerations in the District Court's decision, is related to the certificate of land ownership No. 00561/Desa Moutong. This certificate, held by the claimant, was deemed legally non-binding due to the unlawful possession of the disputed land without the consent and knowledge of the plaintiff and other heirs, as evidenced by a statement issued during a meeting in 1989, attended by local village authorities. Therefore, the defendant was proven to have acted against the law.Keywords: Legal Position; Certificate of Ownership; Land Dispute. ABSTRAKTanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat bermanfaat bagi manusia, maka perlu adanya pengaturan khusus terkait pertanahan oleh pemerintah. Tanah juga merupakan sebuah dasar bagi Pembangunan Masyarakat dalam kehidupan serta memiliki sifat kekal dengan suatu Masyarakat yang memiliki hak atas tanah tersebut. Namun tanah ini juga sudah dianggap sebagai salah satu sumber sengketa antar Masyarakat lainnya. Eksistensi tanah dapat menimbulkan terjadinya sengketa perebutan hak atas sebidang tanah. Sehingga dalam proses pembuktian, para pihak harus mampu menampilkan bukti berdasarkan ketentuan yang berlaku. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengkaji dan menganalisis kedudukan hukum sertifikat hak milik atas tanah sebagai alat bukti pada Putusan Pengadilan Negeri Kota Gorontalo No. 2/Pdt.G/2020/PN Gto. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan hukum berdasarkan pertimbangan hukum tersebut yakni Putusan Pengadilan Negeri Kota Gorontalo No. 2/Pdt.G/2020/PN Gto terhadap surat keterangan dalam hal ini surat pernyataan bagi harta pada Tahun 1989 yang dihasilkan dari hasil musyawarah telah ditandatangani dan bersesuaian dengan keterangan saksi hidup serta memenuhi asas pemerintahan yang baik, karena pada saat itu juga dihadiri oleh pemerintah desa setempat,  dan menyatakan bahwa sertifikat tanda bukti hak milik nomor 00561/Desa Moutong atas nama pemegang hak tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat karena penguasaan tanah objek sengketa tersebut tanpa seizin dan sepengetahuan pihak penggugat beserta ahli waris lainnya, sehingga tergugat terbukti melakukan perbuatan melawan hukum.

Page 1 of 1 | Total Record : 6