cover
Contact Name
Akhmad Mahbubi
Contact Email
akhmad.mahbubi@uinjkt.ac.id
Phone
+628567081343
Journal Mail Official
shagribisnis.journal@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Jakarta, Jl. Lkr. Kampus UIN, Cemp. Putih, Kec. Ciputat Tim., Kota Tangerang Selatan, Banten 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Sharia Agribusiness Journal
ISSN : 27982300     EISSN : 27982068     DOI : 10.15408/saj
Sharia Agribusiness Journal is an academic journal published by Department of Agribusiness, Faculty of Science and Technology, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. This scientific periodical focused on agribusiness studies particularly with Islamic perspective published twice a year (May and November). Sharia Agribusiness Journal specializes on agricultural management, economic, technology, social including sharia perspective such as halal food and empowerment by Islamic institution (Masjid and Pesantren).
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2021)" : 5 Documents clear
Analisis Efisiensi Biaya Persediaan Dimsum Frozen Food di Toko Urban Request Food, Bekasi Mutiara Khoirunnisa; Syifa Nurriyah
Sharia Agribusiness Journal Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.936 KB) | DOI: 10.15408/saj.v1i2.20788

Abstract

Inventory control is an activity in managing inventory to fit the needs and remain stable. The goal of inventory control is to maintain inventory levels and optimum inventory turnover for business operations at maximum profit. The purpose of this study was to find out the management of frozen food dimsum inventory and analyze the inventory of frozen food dimsum in Urban Request Food Store. This research was conducted on Friday, December 4, 2019. This research is a quantitative descriptive analysis research. Based on the result research is Economic Order Quantity method that should be done by the company is 1.084 pcs, with 31 times frequency in year of ordering raw material, safety stock is 1.494 pcs, and the reorder point for company is 1.595 pcs. The results showed that the total cost of inventory in the Economic Order Quantity method of Rp. 506.861. While the total actual inventory cost of Urban Request Food Store amounted to Rp283,574. Urban Request Food Store Policy in the management of dimsum inventory has been efficient. This is shown by the company's inventory cost is smaller than the results of the analysis using the EOQ method. Therefore, Urban Request Food Stores need to maintain the efficiency management of frozen food dimsum product inventory.Keywords: Inventory, EOQ, dimsum frozen foodAbstrakPengendalian persediaan merupakan kegiatan dalam mengelola persediaan agar sesuai dengan kebutuhan dan tetap stabil. Sasaran dari pengendalian persediaan menjaga adanya tingkat persediaan dan perputaran persediaan yang optimum untuk operasi usaha pada laba maksimum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan persediaan dimsum frozen food serta menganalisis efisiensi biaya persediaan dimsum frozen food di Toko Urban Request Food. Penelitian ini dilakukan pada hari Jumat, 04 Desember 2019. Penelitian ini merupakan penelitian analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari metode Economic Order Quantity yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah 1.084 pcs, dengan frekuensi 31 kali pemesanan bahan baku selama setahun, persediaan pengaman sebesar 1.494 pcs, dan titik pemesanan kembali yang tepat untuk perusahaan adalah 1.595 pcs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya persediaan dalam metode EOQ sebesar Rp506.861. Sedangkan total biaya persediaan aktual Toko Urban Request Food sebesar Rp283.574. Kebijakan Toko Urban Request Food dalam pengelolaan persediaan dimsum sudah efisien. Hal ini ditunjukkan dengan biaya persediaan perusahaan lebih kecil dibanding hasil analisis menggunakan metode EOQ. Oleh karena itu, Toko Urban Request Food perlu mempertahankan pengelolaan efisiensi persediaan produk dimsum frozen food.Kata kunci: Persediaan, EOQ, dimsum frozen food
Persepsi Petani Terhadap Kinerja Gapoktan Danau Dendam di Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu Tika Mardiyanti; Basuki Sigit Priyono; Reswita Reswita
Sharia Agribusiness Journal Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.624 KB) | DOI: 10.15408/saj.v1i2.23091

Abstract

Gapoktan as one part of government services needs to be evaluated for the effectiveness of its functions, one of which is by measuring the performance of Gapoktan in terms of Human Resources (HR) and customers (members). The purpose of this evaluation is to assist Gapoktan in carrying out the function of Gapoktan as the government's flagship to reach farmers directly and as an institution that makes it easier for farmers to access information (Sihotang and Arsyad 2019). Performance evaluation is very important because it is to determine the level of achievement possessed by the Gapoktan. Assessment of Gapoktan performance results can be done through measuring the perceptions of Gapoktan members themselves. Perception is an individual's assessment or view of an object around them which is influenced by positive or negative thoughts about the object. The aim of this research was 1) To analyzed farmers’ perceptions of the performance of Gapoktan Danau Dendam, 2) To analyzed factors related to farmers’ perceptions of the performance of Gapoktan Danau Dendam. The determination of the location in this study was in the Dusun Besar Village, Singaran Pati District, Bengkulu City which was done deliberately. The method of determining respondents using the Slovin formula, with the number of respondents as many as 60 samples. The research was conducted from November to December 2020.The results of this study indicate that farmers’ have a deficient perception of the performance of Gapoktan Danau Dendam. This is evidenced by the acquisition of a score of 142,21 from the perception assessment or the farmers who stated that the Gapoktan Danau Dendam had not carried out its function properly. Meanwhile, the factors that were significantly related to farmers’ perceptions of the performance of Gapoktan Danau Dendam were formal education and access to information. While the factors of age, experience, land area, family income, and number of family dependents were not significantly related with farmers’ perceptions of the performance of Gapoktan Danau Dendam.Keywords: Perception, Performance of Gapoktan, Farmers, Gapoktan Danau DendamAbstrakGapoktan sebagai salah satu bagian dari pelayanan pemerintah perlu dievaluasi efektifitas  fungsinya, salah satunya yaitu dengan melalukan pengukuran kinerja Gapoktan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelanggan (anggota). Tujuan evaluasi ini untuk membantu Gapoktan dalam menjalankan fungsi Gapoktan sebagai unggulan pemerintah untuk meraih petani secara langsung dan sebagai lembaga yang memudahkan petani mengakses informasi (Sihotang and Arsyad 2019). Evaluasi kinerja sangat penting karena untuk mengetahui tingkatan prestasi yang dimiliki oleh Gapoktan tersebut. Penilaian terhadap hasil  kinerja Gapoktan dapat dilakukan melalui pengukuran persepsi anggota Gapoktan itu sendiri. Persepsi meerupakan penilaian atau pandang individu terhadap suatu obyek yang ada di sekitar mereka yang dipengaruhi oleh pikiran positif atau negatif terhadap obyek tersebut. Di  Kelurahan Dusun Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu, saat ini memiliki enam kelompok dengan petani tercatat aktif  yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani Danau Dendam. Komoditas utama petani di Gapoktan ini adalah padi.  Pergesaran pola hidup diperkotaan karena kesibukan masing-masing anggota Gapoktan dan pengurus Gapoktan karena perbedaan rutinitas lain sebagai petani menyebabkan aktivitas Gapoktan sudah mulai berkurang seperti pertemuan-pertemuan rutin untuk membahas rencana kegiatan dan program kerja Gapoktan sehingga fungsi dari Gapoktan sebagai penyedia sarana produksi, sebagai  wahana belajar, unit kerjasama, dan unit produksi, unit pemasaran tidak lagi tidak lagi berjalan, dan Gapoktan hanya sekedar papan nama yang terpampang tanpa aktivitas. Tujuan dari penelitan ini adalah: 1) Menganalisis persepsi petani terhadap kinerja Gapoktan Danau Dendam, 2) Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap kinerja Gapoktan Danau Dendam. Penentuan lokasi dalam penelitian ini adalah di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu yang dilakukan secara sengaja. Metode penentuan responden menggunakan rumus Slovin, dengan jumlah responden sebanyak 60 sampel Penelitian dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2020.Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa petani memiliki persepsi kurang baik terhadap kinerja Gapoktan Danau Dendam. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil rata-rata skor sebesar 142,21 dari penilaian persepsi petaninya yang menyatakan bahwa Gapoktan Danau Dendam belum melaksanakan fungsinya dengan baik. Sementara faktor-faktor yang berhubungan nyata dengan persepsi petani terhadap kinerja Gapoktan Danau Dendam adalah pendidikan formal, pendapatan keluarga, dan akses terhadap informasi. Sedangkan faktor-faktor umur, pengalaman, luas lahan, dan jumlah tanggungan keluarga tidak berhubungan nyata dengan persepsi petani terhadap kinerja Gapoktan Danau Dendam.Kata Kunci: Persepsi, Kinerja Gapoktan, Petani, Gapoktan Danau Dendam 
Dampak Realokasi Subsidi Pupuk Menjadi Subsidi Harga Pembelian Pemerintah (Hpp) Gabah Terhadap Pendapatan Petani Akhmad Riyadi Wastra; Ahmad Dalhar
Sharia Agribusiness Journal Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.786 KB) | DOI: 10.15408/saj.v1i2.22724

Abstract

Nowadays, the fertilizer subsidy program is less effective indicated by the scarcity of supply and the soaring price of fertilizer at the farmer level.  In this condition, the government, DPR, and the public are relatively dissatisfied with the current subsidy policy, so that it becomes a discourse to change the fertilizer subsidy mode that is direct to producers into subsidies that are directly applied to farmers. It must be realized that subsidies applied to producers as well as direct subsidies to farmers will have advantages and disadvantages based on the factors that influence them. Therefore, in order to respond to the discourse, it is necessary to conduct research to calculate the impact of the reallocation of the fertilizer subsidy on farmers' income. The purpose of this study is to compare the impact of fertilizer subsidies and HPP rice subsidies on farmers' income. The data used in this study are primary data and secondary data. Primary data in the form of interviews or FGD with rice farmers. Secondary data can be from various related literature. The data sources for this research are farmers or farmer groups, the Central Bureau of Statistics, the Department of Agriculture, and the Ministry of Agriculture. Data analysis using PAM (Policy Analysis Matrix) method. The result of this research is that the government purchase price subsidy has a more significant impact on farmers' income than the fertilizer subsidy.Keywords: Fertilizer subsidies, HPP grain, policy analysis matrix, incomeAbstrakImplementasi program pupuk bersubsidi saat ini kurang efektif ditandai terjadinya kelangkaan pasokan dan melonjaknya harga pupuk ditingkat petani. Kondisi ini membuat pemerintah, DPR dan masyarakat relatif belum puas terhadap kebijakan subsidi pupuk saat ini sehingga menjadi wacana untuk mengganti modus subsidi pupuk yang dibayarkan langsung ke produsen menjadi subsidi langsung yang dibayarkan ke petani. Bagaimanapun harus disadari bahwa subsidi yang dibayarkan langsung kepada produsen maupun subsidi yang dibayarkan langsung ke petani akan memiliki kelebihan dan kekurangan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu dalam rangka merespon wacana tersebut perlu dilakukan penelitian untuk menghitung dampak realokasi subsidi pupuk tersebut pada pendapatan petani. Tujuan penelitian ini, mengetahui perbandingan dampak subsidi pupuk dan subsidi HPP gabah terhadap pendapatan petani. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara atau FGD dengan petani padi. Data sekunder di dapat dari berbagai literature yang terkait. Sumber data penelitian ini adalah petani atau kelompok tani, Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian dan Kementerian Pertanian.  Analisis data menggunakan metode PAM (Policy Analysis Matrix. Hasil penelitian ini adalah subsidi harga pembelian pemerintah lebih berdampak signifikan terhadap pendapatan petani daripada subsidi pupuk.Kata Kunci: Subsidi pupuk, HPP gabah, Policy Analysis Matrix, pendapatan
Daya Saing Teh Hitam Ekspor Indonesia di Perdagangan Internasional Elpawati Elpawati; Bahagio Utama
Sharia Agribusiness Journal Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.768 KB) | DOI: 10.15408/saj.v1i2.22283

Abstract

Black tea is one of the preparations of the tea plant that comes from the fermentation of tea leaves and is one of the leading commodities in the Indonesian plantation sub-sector, however Indonesian black tea has experienced a decline in export value in the last 10 years. The purpose of this research is to analyze the structure of the world black tea market, the comparative and competitive advantages of Indonesian black tea in the world market and the position of Indonesia's trade in black tea commodities in the world in the 2010-2019 period. The analytical tools used are the Herfindahl Hirschman Index (HHI), Concentration Ratio (CR), Revealed Comparative Advantage (RCA), Trade Specialization Index (TSI) and Export Dynamic Product (EPD). The comparison countries are Kenya, Sri Lanka, India and China, while the export destinations for black tea are Malaysia, Russia, Pakistan, Germany and the United States. The results of this study are (1) The structure of the world black tea market is a moderate oligopoly (2) Indonesia has the comparative advantage of black tea in the export destination country. (3) Indonesia’s black tea does not have a competitive advantage in the export destination country. (4) Indonesia's trade position in black tea commodity as an exporting country.Keywords: Black Tea, Market Structure, Comparative Advantage, Competitive Advantage, Trading Position.AbstrakTeh hitam merupakan salah satu olahan dari tanaman teh yang berasal dari fermentasi daun teh serta menjadi salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan Indonesia, tetapi teh hitam Indonesia mengalami penurunan nilai ekspor dalam 10 tahun terakhir. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis struktur pasar teh hitam dunia, keunggulan komparatif dan kompetitif teh hitam Indonesia di pasar dunia dan posisi perdagangan Indonesia pada komoditas teh hitam di dunia dalam periode 2010-2019. Alat analisis yang digunakan adalah Herfindahl Hirschman Index (HHI), Concentration Ratio (CR), Revealed Comparative Advantadge (RCA), Trade Specialization Index (TSI) dan Export Dynamic Product (EPD). Negara pembandingnya adalah Kenya, Sri Lanka, India dan Cina, sedangkan negara tujuan ekspor teh hitam adalah Malaysia, Rusia, Pakistan, Jerman dan Amerika Serikat. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Struktur pasar teh hitam dunia adalah oligopoli moderat. (2) Indonesia memiliki keunggulan komparatif teh hitam di negara tujuan ekspor. (3) Teh hitam Indonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif di negara tujuan ekspor. (4) Posisi Perdagangan Indonesia pada komoditas teh hitam sebagai negara eksportir.Kata Kunci: Teh Hitam, Struktur Pasar, Keunggulan Komparatif, Keunggulan Kompetitif, Posisi Perdagangan.
Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi Organik dan Padi Anorganik di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi Dhimas Rozil Gufron; Titik Inayah; Junaidi Junaidi
Sharia Agribusiness Journal Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.849 KB) | DOI: 10.15408/saj.v1i2.22282

Abstract

This study aims to determine (1) the comparison of the cost structure of organic paddy farming (Sumber Urip Farmer Group) and inorganic paddy farming (Harta Jaya Farmer Group) in Watukebo Village, Blimbingsari District, Banyuwangi Regency, East Java.  (2) the comparison of organic paddy farming (Sumber Urip Farmer Group) and Inorganic rice farming (Harta Jaya Farmer Group). The analysis tools used are cost analysis, income analysis, R / C ratio and two-sample t test differences. The results showed; (1) the total cost of organic paddy farming is IDR 11,042,735 / ha / one planting season, lower than the total cost of inorganic paddy which is IDR 11,154,570 / ha / one planting season. (2a) the average total income of organic paddy farming is IDR 27,048,320 / ha / one planting season and the average total income of inorganic paddy farming is IDR 26,681,500 / ha / one planting season. (2b) the average organic paddy farming revenue is IDR 16,005,585 / ha / one planting season. while inorganic paddy farming is IDR 15,526,930 / ha / one planting season. The average R / C ratio of organic and inorganic paddy farming, respectively, is 2.4 and 1.7, which means that organic paddy farming is more profitable and efficient than inorganic paddy farming in one planting season. (3) The results of the different test results of organic  paddy farming and inorganic paddy farming have a significant difference. This is because the income of organic paddy farmers is greater than inorganic paddy. Keywords: Revenue, Farming, Organic, Inorganic AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbandingan struktur biaya usahatani padi organik (Kelompok Tani Sumber Urip) dan usahatani padi Anorganik (Kelompok Tani Harta Jaya) di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (2) perbandingan pendapatan usahatani padi organik (Kelompok Tani Sumber Urip) dan usahatani padi Anorganik (Kelompok Tani Harta Jaya). Alat analisis yang digunakan analisis biaya, analisis pendapatan, R/C rasio dan Uji Beda dua sample t test. Hasil penelitian menunjukkan; (1) total biaya usahatani padi organik sebesar Rp 11,042,735/ha/satu musim tanam lebih rendah dibandingkan total biaya padi anorganik sebesar Rp 11,154,570/ha/ satu musim tanam. (2a) rata- rata total penerimaan usahatani padi organik sebesar Rp 27,048,320/ha/satu musim tanam dan rata-rata total penerimaan usahatani padi anorganik sebesar Rp 26,681,500/ha/satu musim tanam. (2b) Rata-rata pendapatan usahatani padi organik sebesar Rp 16,005,585 /ha/satu musim tanam. sedangkan usahatani padi anorganik yakni Rp 15,526,930/ha/satu musim tanam. Rata-rata R/C rasio usahatani padi organik dan padi anorganik secara urut yaitu 2,4 dan 1,7 yang berarti usahatani padi organik lebih menguntungkan dan efisien dibandingkan usahatani padi anorganik dalam satu musim tanam. (3) Hasil uji beda pendapatan usahatani padi organik dan padi anorganik terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini dikarenakan penerimaan petani padi organik lebih besar dibandingkan padi anorganik.Kata Kunci: Pendapatan, Usahatani, Organik, Anorganik This study aims to determine (1) the comparison of the cost structure of organic paddy farming (Sumber Urip Farmer Group) and inorganic paddy farming (Harta Jaya Farmer Group) in Watukebo Village, Blimbingsari District, Banyuwangi Regency, East Java.  (2) the comparison of organic paddy farming (Sumber Urip Farmer Group) and Inorganic rice farming (Harta Jaya Farmer Group). The analysis tools used are cost analysis, income analysis, R / C ratio and two-sample t test differences. The results showed; (1) the total cost of organic paddy farming is IDR 11,042,735 / ha / one planting season, lower than the total cost of inorganic paddy which is IDR 11,154,570 / ha / one planting season. (2a) the average total income of organic paddy farming is IDR 27,048,320 / ha / one planting season and the average total income of inorganic paddy farming is IDR 26,681,500 / ha / one planting season. (2b) the average organic paddy farming revenue is IDR 16,005,585 / ha / one planting season. while inorganic paddy farming is IDR 15,526,930 / ha / one planting season. The average R / C ratio of organic and inorganic paddy farming, respectively, is 2.4 and 1.7, which means that organic paddy farming is more profitable and efficient than inorganic paddy farming in one planting season. (3) The results of the different test results of organic  paddy farming and inorganic paddy farming have a significant difference. This is because the income of organic paddy farmers is greater than inorganic paddy. Keywords: Revenue, Farming, Organic, Inorganic 

Page 1 of 1 | Total Record : 5