cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Hibrida Paradigma Fondasionalisme Dan Hermeneutika Menuju Interpretasi Islam Multikultural Zakiyuddin Baidhawy
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.704 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v9i2.217

Abstract

Abstract: This article tries to explain the foundational entrapment of the logic of modernism, which imprisons interpreters in only one truth. It elucidates a clash between foundationalism and hermeneutics, and offers an alternative to overcome it. This study concludes that foundational textualism (bayani), intuisionism (`irfani), and empericism (burhani) in the history of Islamic thought, claim their own truth. Contemporary chal- lenges presented by post-modernism have shocked social and cultural conventions, systems of belief, statism and foundationalism of thinking, cultures and outlooks, which have been sacralized by Moslem society for long time. In order to look for a way out from this crisis of Islamic thinking, which eventually affects its social praxis, multicultural interpretation should become an alternative for Moslems in promoting Islam as a uni- versal grace for the whole creation. Keywords: Fondasionalisme (foundationalism), hermeneutika (hermeneu- tics), pemikiran Islam (Islamic thought), multikulturalisme (multicul- turalism), interpretasi (interpretation).
Sebuah Studi Tentang Dialog Interreligius Armada Riyanto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.961 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v9i2.218

Abstract

Abstract: “The truth is that interreligious contacts, together with ecu- menical dialogue, now seem to be obligatory paths, in order to ensure that the many painful wounds inflicted over the course of centuries will not be repeated, and indeed that any such wounds still remaining will soon be healed” (John Paul II, Rome, November 13, 1992). By “obliga- tory path” the late John Paul II means that interreligious dialogue is one of the urgent ways for Christians as well as people of other faiths to cultivate a theological sense of togetherness. I have recently published such a topic in Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah (Yogyakarta: Kanisius, 2010). The book depicts a lengthly attempt to study interreligious dialogue from several perspectives. I would call such per- spectives “history, thesis, discourse, and face.” This article is a sort of executive summary of the research that indicates the methodology and face of the pastoral activities of a particular Church, Indonesia. Study of interreligious dialogue should include or even start from the existential experience of the very protagonists, i. e. local Churches that live their daily life with people of other faiths. Keywords: Dialog interreligius (Inter-religous dialogue), perspektif (persepctive), Konsili Vatikan II (Second Vatican Council), historisitas (his- toricity), tesis (thesis), wajah dialogal (dialogical picture), pastoral (pastoral).
Paul F. Knitter, Jesus and the Other Names: Christian Mission and Global Responsibility, Maryknoll, New York: Orbis Books, 1996, xix + 193 hlm. Gavin D’Costa, The Meeting of Religions and the Trinity, Maryknoll, New York: Orbis Books, 2000, xi + 187 hlm. Franz Magnis-Suseno
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.28 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v9i2.219

Abstract

Debat tentang pluralisme tetap berlangsung di Indonesia, karena itu dua buku yang akan dibahas di sini sangat relevan. Paul F. Knitter, seorang teolog Katolik, merumuskan suatu pandangan pluralistik mirip dengan yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada 2005, sedangkan Gavin D’Costa dalam bukunya dengan tajam membongkar “pluralisme” itu. Dua-duanya berargumentasi secara teologis, atas dasar pengandaian-pengandaian Kristiani-Katolik. Dalam bab pertama Knitter menggariskan kembali perjalanan teolo- gisnya dari eksklusivisme, melalui inklusivisme, ke posisi yang dinama- kannya “pluralisme.“ Knitter tidak hanya menolak anggapan (yang oleh Gereja Katolik sudah ditolak sejak sebelum Konsili Vatikan II) bahwa ”di luar Gereja tidak ada keselamatan“ (”eksklusivisme“), melainkan juga posi- si-posisi ”inklusivistik“—seperti yang misalnya dikemukakan oleh Karl Rahner—yaitu bahwa, meskipun semua orang dapat diselamatkan, namun mereka diselamatkan karena Yesus Kristus, jadi bahwa kebenaran penuh hanya ada dalam iman kepada Yesus Sang Juru Selamat bagi semua. Plu- ralisme Knitter menyatakan bahwa tidak ada agama yang dapat meng- klaim keunggulannya terhadap agama lain. Kalau saya tidak salah tangkap, Knitter mengajukan tiga argumen. Yang pertama adalah kejujuran dialog antaragama. ”Bagaimana,” tanya Knitter, “orang dapat sungguh-sungguh ’menghormati’ kebenaran dalam pandangan orang lain ... apabila kita masuk ke dalam dialog dengan keyakinan bahwa kita yang mempunyai kebenaran definitif?” (hlm. 33). Argumen yang sama juga diajukan dalam bentuk sedikit lain: Menurut Knitter tidak mungkin seorang tokoh atau suatu ajaran religius tertentu memuat seluruh kekayaan realitas Ilahi. Yesus boleh diyakini sebagai “totus Deus” (seluruhnya Allah), tetapi bukan sebagai “totum Dei” (keseluruhan Allah). Yesus betul-betul penyelamat, tetapi selain Yesus ada banyak penyelamat lain. Argumentasi ini merangsang pertanyaan kembali apakah dialog dapat jujur kalau para peserta sebelumnya harus melepaskan keyakinan mereka yang paling inti? Knitter boleh saja menyangkal bahwa keseluruhan Ilahi ada dalam Yesus, tetapi atas dasar apa ia menuntut agar orang Kristiani menyangkalnya juga? Bukankah Knitter jatuh ke dalam dogmatisme sama dengan yang dituduhkannya? .................................................... D’Costa mengklaim bahwa pengertian keselamatan yang triniter itu menjamin apa yang justru tidak terjamin oleh “pluralisme” ala Knitter; yaitu, keterbukaan, toleransi dan kesamaan. Keterbukaan, karena Gereja dapat dan bahkan harus betul-betul belajar dari agama-agama lain. Tole- ransi, karena Gereja wajib menghormati kebebasan beragama; artinya, ada- lah hak setiap orang dan kelompok orang untuk mengakui dan mempraktikkan agama yang mereka yakini. Kesamaan, karena Gereja mengakui martabat setiap orang sebagai alamat cinta Ilahi. D’Costa mengakhiri bukunya dengan suatu pertimbangan bagus tentang makna dan tempat doa antaragama-agama yang berbeda. Buku D’Costa adalah salah satu bahasan paling jelas, mendalam, dan meyakinkan tentang bagaimana orang Katolik, dan seharusnya semua orang Kristiani, dapat bertemu dengan agama-agama lain tanpa kesombongan, tetapi juga tanpa mengkompromikan imannya. D’Costa membuka dogmatisme deistik-sekularistik (Allah tidak masuk kedalam sejarah umat manusia) dan posisi-posisi yang menamakan diri pluralistik. Adalah kekuatan buku D’Costa bahwa ia memperlihatkan bahwa justru iman pada Allah yang triniter, yang kita ketahui dari pewahyuan Diri Allah dalam Yesus, memungkinkan untuk bersikap hormat dan terbuka kepada agama-agama lain. Daripada menyanyikan lagu bahwa semua agama pada dasarnya sama saja, D’Costa memungkinkan kita untuk tanpa kompromi percaya pada apa yang diyakini Gereja sejak 2000 tahun: bahwa Yesuslah Sang Juru Selamat Ilahi, dan sekaligus menghormati mereka yang berbeda imannya. Itulah dasar mantap bagi dialog antarumat beragama. (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Paul Moses, The Saint and the Sultan: The Crusades, Islam, and Francis of Assisi’s Mission of Peace, New York: Doubleday, 2009, 302 hlm. : John Tolan, Saint Francis and the Sultan: The Curious History of a Christian-Muslim Encounter, Oxford: Oxford University Press, 2009, xvi + 382 hlm. Frank M. Rega, St. Francis of Assisi and the Conversion of the Muslims, Rockford: Ill.: Tan Books, 2007, 125 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.165 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v9i2.220

Abstract

Perjumpaan Fransiskus Assisi dengan Sultan al-Kamil di tengah ko- baran perang salib akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian dari pel- bagai macam peneliti (Hoeberichts 1997; Warren 2003, Tolan 2007, Moses 2009). Yang terakhir, Paul Moses—seorang Guru Besar Jurnalistik di Brooklyn College, New York— melakukan investigasinya sendiri dan menulis suatu buku yang sangat menarik dan aktual, seperti yang boleh diharapkan dari seorang pakar komunikasi. Landasan penting penelitian Moses adalah evaluasinya yang kritis terhadap sumber-sumber. Ia mengemukakan bahwa sumber-sumber tertua tentang peristiwa ini (Jacques de Vitry, dan sebuah kronik yang anonim, keduanya saksi mata perang salib kelima itu) memberi gambaran lebih damai tentang perjumpaan ini ketimbang riwayat-riwayat hidup Fransiskus yang kemudian (Celano, Bonaventura, dll.) yang menggambarkannya sebagai misi yang konfrontatif, berusaha mempertobatkan Sultan untuk mencari kemartiran. Adalah Konsili Lateran IV (1215) dan Paus Innocentius III (1198-1216) serta penggantinya, Paus Honorius III, yang pada masa itu membangkitkan semangat untuk perang salib kelima guna merebut kembali Yerusalem yang belasan tahun sebelumnya direbut dari tangan penguasa Kristen oleh Salah ad-Din (Saladin), paman Sultan Malik al- Kamil. Kendati keluarga Sultan sudah memberitahukan bahwa Sultan bersedia menyerahkan kembali Yerusalem demi persetujuan damai, pihak Paus dan raja-raja Barat tetap mengobarkan semangat perang dan mengumpulkan pasukan. Menurut Moses, Fransiskus, dan saudara- saudaranya diharapkan oleh Gereja ikut mewartakan perang suci, tetapi ia memilih membawakan Injil ke seluruh Eropa, tidak terkecuali juga ke wilayah-wilayah Muslim. Serangan pasukan salib ke Kesultanan Mesir dimulai dari kota pela- buhan Damietta di delta Sungai Nil. Tawaran damai Malik al-Kamil, Sultan Mesir yang dikenal bijaksana dan juga moderat terhadap umat Kristiani di Mesir, kembali ditolak oleh Kardinal Pelagius, utusan Paus dalam perang salib kelima ini. Fransiskus datang ke camp crusaders pada Agustus 1219 dan memberi peringatan kepada para crusaders bahwa serangan mereka akan gagal, tetapi ia ditertawakan. Lalu pada September 1219 ia memutuskan untuk mencari jalan lain dengan menyeberangi lini permusuhan dan mendatangi Sultan al-Malik, tidak sebagai utusan tetapi hanya dengan pengetahuan Kardinal Pelagius menggambarkan Sultan al-Kamil sebagai binatang buas. Sebagai anak zamannya, Fransiskus ingin menciptakan damai dengan mewartakan Injil kepada Sultan. Hal itu tampaknya dilakukannya dengan cara yang khas, sebab dalam sumber tertua dikatakan bahwa Sultan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan memperlakukan Fransiskus sebagai tamu terhormat selama beberapa hari. Menurut Moses, Sultan mungkin terharu bahwa ada orang Kristiani yang berbeda dengan para agresor rakus yang ia kenal dari perang salib. Al-Kamil yang dikenal terbuka untuk Sufisme mungkin juga suka mendengarkan Fransiskus, karena Fransiskus terkesan mirip dengan seorang Sufi. Di lain pihak, Fransiskus juga terkesan dengan apa yang ia lihat, misalnya cara pasukan Muslim menjawab panggilan untuk berdoa. .............................................................. Kenyataan asli menurut Tolan ialah bahwa Fransiskus ingin menjalankan hidup rasuli sampai dengan mahkotanya, kemartiran, yang dapat ia peroleh dengan pergi mewartakan Injil kepada Sultan. Ini memang gam- baran yang jelas ada dalam biografi-biografi Celano dan Bonaventura, te- tapi tidak muncul dalam kronik-kronik lebih tua dan konteks hidup Fran- siskus sendiri. Kelemahan karya Tolan ialah bahwa ia kurang kembali kepada tulisan-tulisan Fransiskus sendiri dan riwayat hidupnya, seperti yang dilakukan secara mengesankan oleh Moses yang berhasil memper- lihatkan dalam konteks hidup Fransiskus suatu penolakan terhadap pe- rang, pewartaan damai, penghargaan terhadap praktik doa Islam, dan cara misi baru; yang semuanya harus dijadikan patokan untuk interpretasi per- jumpaan Fransiskus dengan Sultan. Tolan gagal melihat tema damai dalam riwayat hidup dan tulisan-tulisan Fransiskus itu, dan dengan demikian juga tidak mengakui adanya sesuatu yang inspiratif dalam peristiwa perjumpaan itu untuk hubungan Muslim–Kristiani masa sekarang. Sebaliknya, ia agak keras menolak interpretasi sejumlah peneliti dan gerakan damai sejak akhir abad ke-20 yang melihat misi Fransiskus sebagai misi damai dan menemukan dalam Fransiskus suatu model untuk menolak kekerasan perang dan mencari pendekatan baru, khususnya dalam hal ketegangan antaragama. Kelemahan karya Tolan ini sangat tampak justru dalam perbandingan dengan karya Moses, yang tidak mendiskusikan Tolan sebab terlambat menerimanya. Buku ketiga, St. Francis and the Conversion of the Muslims, karya Frank M. Rega, amat berbeda dengan kedua studi ilmiah di atas. Dengan tidak kritis sedikit pun, Rega menggabungkan semua yang bagus-bagus dalam pelbagai versi—dari kronik-kronik paling awal sampai ke legenda- legenda yang sangat kemudian—tentang perjumpaan Fransiskus dengan Sultan itu. Tanpa membedakan pelbagai versi dan bertanya tentang latarbelakang dan tujuan masing-masing, seperti dilakukan Tolan, Rega menciptakan suatu versi gabungan yang agaknya akan disukai oleh pembaca Katolik yang saleh dan konservatif (yang memang dilayani oleh penerbit Tan Books), tetapi tidak bernilai bagi seorang peneliti yang ingin menyingkapkan maksud Fransiskus sendiri dan sumber-sumber masing-masing; dan sangat mengecewakan pembaca kritis sekarang yang mencari ilham dalam adegan ini bagi masalah-masalah dunia sekarang. Cerita legendaris Rega yang penuh triumfantalisme yang hampir-hampir yakin bahwa Sultan bertobat dan dibaptis menjelang kematiannya, tentu lebih mengganggu hubungan Kristen dan Muslim sekarang daripada membantu menemukan suatu pendekatan baru. (Martin Harun, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta)
Peter Walker, In the Steps of Jesus: Menapak Jejak Mesias, diterjemahkan oleh V. Indra Sanjaya, Yogyakarta: Kanisius, 2010, 215 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v9i2.221

Abstract

Dalam Alkitab Kristen tersimpan empat kisah Injil yang dengan cara- nya masing-masing menceritakan hidup dan karya Yesus dari Nazaret. Riwayat-riwayat itu dapat sangat bermakna bagi pembaca yang satu, tetapi juga sulit dipahami oleh pembaca yang lain. Hal ini disebabkan, antara lain, karena manusia masa kini kurang akrab dengan latar belakang, zaman dan tempat kisah Injil tersebut ditulis. Bagaimana mengatasi kesulitan itu? Peter Walker, seorang dosen Alkitab di Universitas Oxford, yang pernah meneliti situs-situs di Tanah Suci, dan berpengalaman sebagai pemandu rombongan peziarah, menemukan solusi yang menarik dan sangat berguna. Ia menyusun buku In the Steps of Jesus, untuk memperkenalkan kisah Injil terutama Injil Lukas sambil membawa pembaca buku ini ke tempat-tempat terjadinya adegan-adegan riwayat hidup dan karya Yesus. Tempat-tempat itu diperlihatkannya dengan foto dan gambar, disertai keterangan yang mampu membuka mata dan hati pembaca. ............................................... Tahun lalu kami sudah memperkenalkan kembaran buku ini: In the Steps of Saint Paul: Penabur Sabda Segala Bangsa, yang disusun oleh pengarang yang sama, Peter Walker, dan juga diterjemahkan oleh pener- jemah yang sama, pakar Alkitab V. Indra Sanjaya dan diterbitkan pula oleh Kanisius. Kedua buku ini bukan hanya enak dipandang dan dibaca, tetapi juga memberi informasi yang dapat diandalkan oleh pembaca dari kalangan mana pun yang ingin lebih mengenal sejarah awal agama Kristen dan warisannya di Palestina serta wilayah Laut Tengah. Buku In the Steps of Jesus ini merupakan suatu penziarahan tersendiri, semacam napak tilas perjalanan hidup Yesus. Selain dapat menjadi buku panduan bagi segelintir orang yang sempat berwisata ke Tanah Suci, buku ini juga membuka kesempatan “berziarah batin” bagi mereka yang tidak pernah akan dapat berangkat ke tanah itu; dan tentu tetap juga memberi banyak pencerahan bagi mereka yang telah pulang dari ziarah yang nyata. (Martin Harun, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
The Aesthetics of the Built Environment: A Post-Kantian Look at Bioregionalism and Ecomimicry Approach in Environmental Design Dimitry Ratulangie Ichwan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.399 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.238

Abstract

Kant regarded ecosphere as having the highest degree of beauty, as opposed to other aesthetical objects such as painting, sculpture, buildings, and we could infer, the built environment. His arguments hinges heavily on his transcendental philosophy, where he stressed that pure beauty could only be achieved through disinterested judgement, without concept, and others. Though his proposition for ecosphere is valid, it could not be used to justify other cases, such as determining the degree of beauty of the built environment. Thus, a modified version of Kant's aesthetics needs to be adopted, as it opens space for the built environment. This research uses Kant's overarching aesthetical arguments to justify the degree of beauty of the built environment. It is found that the built environment could have similar, if not same to, the degree of beauty of ecosphere by way of bioregionalism and ecomimicry, where the totality of the built environment encompases the natural law of local environment, making its degree of beauty as high as ecosphere. Abstrak Kant memandang tinggi atas lingkungan alam dan menobatkannya sebagai derajat keindahan tertinggi bila dibandingkan dengan objek estetis lainnya seperti lukisan, patung, gedung, dan kita dapat inferensikan, lingkungan buatan manusia. Argumen dia terjangkar kepada pemikiran transendentalnya, di mana keindahan murni hanya dapat didapatkan melalui penilaian tanpa ketertarikan, tanpa konsep, dan lain-lain. Walaupun proposisinya terhadap lingkungan alam valid, kita tidak dapat menggunakannya untuk menjustifikasi derajat keindahan lingkungan buatan manusia. Dengan itu, sebuah modifikasi dari pemikiran Kant diperlukan untuk dapat menilai lingkungan buatan manusia. Penelitian ini menggunakan teori estetika Kant untuk menjustifikasi derajat keindahan lingkungan buatan alam. Dipertahankan bahwa lingkungan buatan manusia memiliki derajat keindahan yang sangat mendekati, bahkan sama, dengan lingkungan buatan alam jika, dan hanya jika, lingkungan buatan tersebut mengadopsi konsep bioregionalisme dan ecomimicry, di mana totalitas dari lingkungan buatan manusia mencakupi hukum alam yang terdapat di daerah lokal, meningkatkan derajat keindahan lingkungan buatan tersebut.
Pemahaman Sabda Pengampunan Allah Dalam Sakramen Tobat Menurut Karl Rahner Martasudjita, E. Pranawa Dhatu
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1834.761 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v17i2.251

Abstract

Abstrak: Dari pengamatan, tidak banyak tulisan teologis tentang sakramen tobat atau sakramen rekonsiliasi di lingkungan bahasa Indonesia selama ini. Begitu pula, ada kesan bahwa pemahaman umat Katolik mengenai sakramen tobat cukup terbatas. Dari sinilah artikel ini ingin memberi sumbangan pemikiran teologis melalui kekayaan dan kedalaman pandangan teologis Karl Rahner mengenai sakramen tobat. Dari penelitian penulis, sabda pengampunan Allah menjadi inti pemikiran Rahner tentang sakramen tobat. Dengan metode teologi transendental sebagaimana dikembangkan oleh Karl Rahner, penulis mengupas secara kritis pemahaman sabda pengampunan Allah melalui alur pemikiran sakramental Rahner. Rahner berpendapat bahwa manusia memiliki pengalaman dasar akan dosa-kesalahan yang tak dapat dihapus oleh diri sendiri, dan justru karena itulah manusia senantiasa mendambakan sabda pengampunan Allah sebagai pemberian diri Allah (Selbstmitteilung Gottes) yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Kristus. Melalui Gereja, sabda pengampunan Allah itu dihadirkan melalui aneka macam bentuk, sedangkan yang khusus dan istimewa melalui sakramen tobat. Tulisan ini ditutup dengan penyampaian poin-poin relevansi pandangan Rahner tersebut bagi Gereja sekarang ini. Kata-kata kunci: Sabda pengampunan Allah, sakramen tobat, sakramen rekonsiliasi, teologi sakramental, teologi transendental, belas kasih Allah. Abstract: Theology of Sacrament of reconciliation has not been widely written and developed in Indonesia, and therefore the general understanding among the faithful. This article is to contribute, particularly by presenting Karl Rahner’s theology on the sacrament of reconciliation. Rahner focused on the forgiving word of God. Employing his transcendental method, this article is presenting a critical study on the understanding of Rahner’s forgiving word of God as well as his sacramental theology. Rahner showed that human beings themselves aware and know of their experience of sin or guilt and could not just get out of it, and because of that human beings themselves are longing for forgiveness and God’s forgiving word (Selbstmitteilung Gottes) revealed per exellentiam in the death and resurrection of Christ. Disciples of Christ gathered as people of God or church make present God’s forgiving word here and now in various forms, yet especially in the sacrament of reconciliation. The article shall conclude with points of relevance for the church today. Keywords: God’s forgiving word, sacrament of penance, sacrament of reconciliation, sacramental theology, transcendental theology, mercy of God.
Manusia Dalam Prahara Revolusi Digital Hardiman, F. Budi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.096 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v17i2.252

Abstract

Abstrak: Perkembangan yang sangat cepat dalam teknologi komunikasi digital telah mengubah pola-pola adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Sudah saatnya filsafat merenungkan ciri manusia di era digital ini bukan sebagai homo sapiens, melainkan sebagai homo digitalis. Homo digitalis, berbeda dari sosok manusia pra-digital, mengalami perubahan tidak hanya dalam cara berkomunikasi, melainkan juga dalam cara merespons dunia dan menangkap kebenaran. Penulis memberi paparan fenomenologis yang kritis tentang kerumitan baru yang timbul akibat digitalisasi masyarakat. Dia berpendirian bahwa dampak revolusi digital bersifat ambivalen, yakni: membuka kebebasan-kebebasan baru dalam komunikasi, tetapi sekaligus juga melepas kebebasan alamiah manusia dalam bentuk brutalitas dalam dunia digital. Sebuah rekomendasi dan kesimpulan diberikan di bagian akhir tulisan ini. Kata-kata kunci: Homo digitalis, kebenaran, digital state of nature, revolusi digital. Abstract: The fast development of digital communication technology has changed the pattern of human adaptation to their environment. Such shift has prompted philosophy to contemplate on the nature of humans in the time of digital era not as homo sapiens but as homo digitalis. Homo digitalis, being different from the figure of humans in the pre- digital world, has seen changes not only in the way of communication but also in the way of responding to the world and capturing the truth. The writer will discuss the new complexity arising from the digital society through the lens of critical phenomenology. He asserts that the impact of digital revolution is ambivalent in nature, i.e.: giving access to freedom in communication on one hand, but unleashing human natural freedom that has driven brutalities in the digital world on the other hand. A recommendation is offered and conclusion drawn at the end of this paper. Keywords: Homo digitalis, digital communication, truth, new freedom, digital revolution.
Phoebe: The Woman Deacon And Patron In Romans 16:1-2 Aryanto, Antonius Galih
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.478 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v17i2.256

Abstract

Abstract: The name “Phoebe” probably is not too familiar in the study of the New Testament before 90’s. However, in the recent study of the role of woman in the Bible in connection with the patronage system in the Greco-Roman society, Phoebe has an important role because she helps Paul in his preparation for the mission to Rome. Paul calls her as a sister, deacon, and patron. This research argues that Phoebe has a role as a benefactor and deacon within the patron-client system in the Roman society. Paul asks her to carry his letter to Rome in order that Christian community in Rome may help him for the future mission to bring the Gospel to Spain. Keywords: Phoebe, patronage, deacon, benefactor, and reciprocity. Abstrak: Nama “Febe” mungkin tidak begitu familiar dalam studi Perjanjian Baru sebelum tahun 90-an. Namun, dalam studi belakangan ini tentang peran perempuaan dalam Alkitab dalam kaitannya dengan sistem patronasi dalam masyarakat Yunani-Romawi, Febe memiliki peran penting karena dia membantu Paulus dalam persiapan misinya ke Roma. Paul menyebutnya sebagai saudari, diakon, dan pelindung. Penelitian ini hendak menunjukkan bahwa Phoebe memiliki peran sebagai donatur dan diakon dalam sistem patron-klien dalam masyarakat Romawi. Paulus memintanya untuk membawa suratnya ke Roma agar komunitas Kristen di Roma dapat menolongnya berkenaan dengan misi di masa depan yaitu mewartakan Injil ke Spanyol. Kata-kata kunci: Phoebe, patronage, deacon, donatur, dan timbal balik.
Yohanes Duns Scotus dan Martin Heidegger Tentang “Ada Itu Univok” Dei Rupa, Hieronimus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.472 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v17i2.257

Abstract

Abstrak: Tujuan dari artikel ini adalah menginterpretasi dan mengafirmasi bahwa Ada (das Sein) dalam “pertanyaan tentang Ada” (die Seinsfrage) dalam pemikiran Heidegger adalah univok sebagaimana konsep Ada itu univok dalam pemikiran Duns Scotus. Oleh karena itu, pertanyaan utama yang menuntun artikel ini adalah, bagaimana dapat ditunjukkan hubungan antara konsep Ada itu univok antara Dun Scotus dan Heidegger? Untuk memahami dengan baik tema ini, kita akan mengulasnya dalam empat bagian. Pertama, kita akan berkonsentrasi pada pengertian konsep ekuivok, analog, univok. Kedua, kita fokus pada konsep analogi dan univok dalam pemahaman Abad Pertengahan. Bagaimana Duns Scotus memahami Ada itu univok akan dijelaskan pada bagian ketiga. Kemudian, kita akan mengelaborasi sebuah penafsiran Ada itu univok dalam pemi- kiran Heidegger pada bagian keempat. Pada akhirnya, konsep Ada itu univok dalam pemikian Heidegger terletak pada konsepnya tentang waktu. Kata-kata kunci: Ekuivok, analog, univok, metafisika, Ada, Dasein, In- nerzeitigkeit, Zeitlichkeit, ekstasis, transendental. Abstract: The scope of this article is to interpret and affirm that Being (das Sein) in Heidegger’s “question of Being” (die Seinsfrage) is similarly univocal to Duns Scotus’ concept of the univocity of Being. Therefore, the central question which guides this article is, how can it point to the relationship between Duns Scotus and Heidegger in regards to the concept of the univocity of Being? To understand well this theme, we will explain it in four parts. First, we concentrate on the definitions of equivocity, analogy and univocity. Second, we focus on the concepts of analogy and univocity in the Middle Ages. How Duns Scotus understands the univocity of Being will be pointed out in third part. After that, we will elaborate an interpretation of the univocity of Being in Heidegger’s thought in fourth part. In the end, concept of the univocity of Being in Heidegger’s thought is put in his concept of time. Keywords: Equivocity, analogy and univocity, metaphysics, Being, Dasein, Innerzeitigkeit, Zeitlichkeit, ecstatic, transcendence.

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue