cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 189 Documents
Hubungan antara Politik dan Kebebasan menurut Hannah Arendt: The Relationship Between Politics and Freedom According to Hannah Arendt Dose, Fransiskus; Waton, Fidelis Regi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.793

Abstract

Abstract Employing the qualitative method of literature review of primary and secondary sources, this paper sets out to reconstruct Hannah Arendt’s thought on the relation between politics and freedom. Freedom, in Arendt’s view, is not an objective nor result of politics, but rather something inherent in it. Action, speaking, and the public sphere are the three aspects and prerequisites for politics to be regarded as harboring freedom. Action and speaking presuppose plurality. Both involve not only one person, but the multitude, that inhabit the world. When many people act and speak, they are always free and inhabit the realm of politics. The public sphere makes it possible for the people to act, speak, and interact in freedom, and thus also to do politics. Arendt endorses the interactions in the Ancient Greek Agora as a model of the public sphere. Research on Arendt’s thought can significantly contribute to understanding politics. Politics is a never-ending action and speaking; it is a process. It never has an ending as through action, communication, and interaction, people can produce something new. For action, speaking, and interaction to be possible, the public sphere is a necessary condition. Keywords: Arendt, politics, freedom, plurality, action, speaking, public sphere. Abstrak Melalui pendekatan kualitatif, yakni telaah literatur baik primer maupun sekunder, tulisan ini hendak merekonstruksi pemikiran Hannah Arendt tentang hubungan antara politik dan kebebasan. Kebebasan, menurut Hannah Arendt, bukanlah tujuan dan hasil dari politik, melainkan sesuatu yang inheren dalam politik. Tiga aspek sekaligus kondisi agar politik dapat disebut mengandung kebebasan adalah tindakan, berbicara, dan ruang publik. Tindakan dan berbicara mengandaikan adanya pluralitas. Keduanya melibatkan bukan hanya satu orang, melainkan banyak orang, yang menempati dunia. Ketika banyak orang bertindak dan berbicara, mereka selalu bebas dan berada dalam konteks politik. Ruang publik memungkinkan manusia untuk bertindak, berbicara, dan berinteraksi dalam kebebasan, dan dengan demikian juga berpolitik. Arendt menjadikan interaksi di Agora pada zaman Yunani kuno sebagai model dari ruang publik. Penelitian tentang gagasan Arendt memberikan kontribusi signifikan untuk memahami politik. Politik adalah tindakan dan pembicaraan yang kontinu; ia adalah sebuah proses. Ia tidak pernah mencapai hasil akhir karena melalui tindakan, komunikasi, dan interaksi, manusia memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Untuk bisa bertindak, berbicara, dan berinteraksi, ruang publik adalah sebuah keharusan. Kata-kata Kunci: Arendt, politik, kebebasan, pluralitas, tindakan, berbicara, ruang publik.
Perjalanan Batin Descartes dan Ignatius Loyola dalam Pencarian Kebenaran: Descartes' and Ignatius' Inner Journey in Search for Truth Jati, Antonius Siwi Dharma
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.800

Abstract

This article examines the interrelation between Descartes’ Méditations métaphysiques (Meditations on First Philosophy) and Ignatius of Loyola’s Spiritual Exercices, with an emphasis on the meditative dimension in the search for truth by the subject engaged in meditation or spiritual exercises. Through a simultaneous and comparative reading using the triplex via framework (via purgativa, via illuminativa, and via unitiva), it asserts that the search for truth is an inner journey, beginning with the purification of the self from disordered attachments, followed by illumination culminating in the discovery of God as the ultimate truth, and finally reaching the union of the self with God. Moreover, it demonstrates that Cartesian philosophy is not merely an intellectual activity but also a spiritual exercise leading to self-transformation and a shift in perspective. Abstrak Artikel ini mengkaji keterkaitan antara Méditations métaphysiques karya Descartes dan Latihan Rohani karya Ignatius Loyola, dengan penekanan khusus pada dimensi meditatif dalam pencarian kebenaran oleh subjek pelaku meditasi atau latihan. Melalui pembacaan simultan dan komparatif menggunakan kerangka triplex via (via purgativa, via illuminativa, dan via unitiva), artikel ini menegaskan bahwa pencarian kebenaran merupakan perjalanan batin yang dimulai dari pemurnian diri dari kelekatan tidak teratur, dilanjutkan dengan pencerahan yang berpuncak pada penemuan Tuhan sebagai kebenaran utama, hingga akhirnya mencapai penyatuan diri dengan Tuhan. Lebih dari itu, artikel ini juga menunjukkan bahwa filsafat Cartesian bukan saja aktivitas intelektual, melainkan sekaligus latihan rohani yang mengarah pada transformasi diri dan perubahan perspektif. Kata-kata kunci: Descartes, Ignatius, meditasi, kebenaran, Res cogitans, Res extensa
Hannah Arendt dan Amor Cosmi. Membaca Pendidikan 5.0 Bersama The Solitaire Mystery: Hannah Arendt and Amor Cosmi. Exploring Education 5.0 with The Solitaire Mystery Damayanti, Cicilia; Kurniawan, Markus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.851

Abstract

This study explores how Hannah Arendt’s concepts of natality, the banality of evil, and totalitarianism can be applied to address educational challenges in the Society 5.0 era. The central question is how these concepts can be reinterpreted to prepare younger generations for the crises of digital humanity arising from artificial intelligence, algorithmic governance, and complex information ecologies. The objective is to formulate an educational framework that preserves human novelty and responsibility. Employing a qualitative, philosophical approach, as well as conceptual analysis, the study integrates Arendtian theory with contemporary debates on AI ethics and uses Jostein Gaarder’s The Solitaire Mystery as a narrative illustration. The theoretical framework synthesizes Arendt’s Amor Mundi with an expanded notion of Amor Cosmi. The findings suggest that education should be viewed as a space of natality that fosters critical thinking, resists algorithmic banalization, and mitigates the risks of digital totalitarianism. The study concludes that Arendt’s educational philosophy must evolve to include planetary and cosmic imagination in order to humanize education effectively in Society 5.0. Abstrak Kajian ini menelusuri relevansi konsep-konsep Hannah Arendt tentang natalitas, banalitas kejahatan, dan totalitarianisme dalam menjawab tantangan pendidikan pada era Society 5.0. Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana ketiga gagasan tersebut dapat direinterpretasi untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi krisis kemanusiaan yang dibentuk oleh kecerdasan buatan, tata kelola algoritmik, dan ekologi informasi yang semakin kompleks. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan kerangka pendidikan yang mampu menjaga kebaruan, kebebasan, dan tanggung jawab manusia di tengah dominasi sistem digital. Dengan menggunakan metode kualitatif filosofis dan analisis konseptual, penelitian ini mengintegrasikan pemikiran Arendt dengan perdebatan etika kecerdasan buatan kontemporer serta ilustrasi naratif dari novel The Solitaire Mystery karya Jostein Gaarder. Kerangka teoretisnya menggabungkan gagasan Arendt tentang Amor Mundi dengan perluasan menuju Amor Cosmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan perlu dipahami sebagai ruang natalitas yang menolak banalitas algoritmik dan totalitarianisme digital, sekaligus menegaskan imajinasi planetar dan kosmik sebagai strategi memanusiakan pendidikan di era Society 5.0. Kata-kata Kunci: Arendt, natalitas, banalitas kejahatan, totalitarianisme digital, pendidikan humanis, society 5.0, amor mundi
The Banality of Necessity: A Materialist Correction to Hannah Arendt's Ethics of Thinking: Banalitas Keniscayaan: Suatu Koreksi Materialis atas Etika Berpikir Hannah Arendt Stefanus Galang Ardana
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.866

Abstract

This article problematizes Hannah Arendt’s concept of thinking in The Life of the Mind, especially the tension between the activity of thinking as an internal dialogue (two-in-one) and the material conditions necessary for it. Based on the phenomenon of “thoughtlessness” (tuna pikir), this work contends that the lack of thinking in the precarious subject is not a moral failure, but a structural outcome of the political economy of time. With a materialist framework using Marx’s alienation and Jameson’s political unconscious, this article stages a phenomenological critique of three literary works: Ahmad Tohari’s Orang-Orang Proyek, Kazuo Ishiguro’s The Remains of the Day, and Franz Kafka’s The Trial. The analysis uncovers that the total consumption of the body (Tohari), the commodification of the self (Ishiguro), and the colonization of time (Kafka) are, by their nature, the reasons why the “withdrawal” Arendt needs for judgment is not possible. This article ends with the idea of the Banality of Necessity—a state in which the survival imperative closes down critical reflection—which constitutes a materialist correction to Arendt’s ethics. Abstrak Artikel ini mempersoalkan konsep “berpikir” (thinking) dalam filsafat Hannah Arendt, khususnya ketegangan antara aktivitas berpikir sebagai dialog batin (two-in-one) dengan kondisi material yang memungkinkannya. Berangkat dari fenomena tuna pikir, penelitian ini mengajukan tesis bahwa absennya aktivitas berpikir pada subjek prekariat bukanlah kegagalan moral, melainkan konsekuensi struktural dari ekonomi politik waktu. Dengan menggunakan kerangka materialis yang mengacu pada konsep alienasi Marx dan nirsadar politik Jameson, artikel ini melakukan kritik fenomenologis atas tiga karya sastra: Orang-Orang Proyek (Ahmad Tohari), The Remains of the Day (Kazuo Ishiguro), dan The Trial (Franz Kafka). Analisis menunjukkan bahwa konsumsi total atas tubuh (Tohari), komodifikasi diri (Ishiguro), dan kolonisasi waktu (Kafka) secara struktural menghalangi “penarikan diri” (withdrawal) yang disyaratkan Arendt. Artikel ini menyimpulkan dengan mengajukan konsep “Banalitas Keniscayaan” (The Banality of Necessity)—sebuah kondisi di mana imperatif bertahan hidup mematikan refleksi kritis—sebagai koreksi materialis terhadap etika Arendt. Kata-kata Kunci: Hannah Arendt, materialisme, tuna pikir, prekaritas, sastra
Arendt, Artificial Intelligence and Attention in Education: Arendt, Kecerdasan Buatan dan Perhatian Siswa dalam Pendidikan Ruankool, Nopparat
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.867

Abstract

In today’s world, Artificial Intelligence (AI) has been increasingly developed, impacting various aspects of life, including education. In schools, AI (ChatGPT) enables students to obtain and select any relevant information and knowledge more easily and speedily. It is, therefore, questionable whether students’ learning by slowing down and paying attention to the subject matter remains pertinent in school today. This paper reflects on this issue by examining Arendt’s “The Crisis in Education”, particularly her idea of ‘school’ as a transitional realm between household and politics. This idea has been developed by Arendt-inspired education based on the Greek spirit of scholè, ‘a free time’ in which the school is temporarily suspended from external influences. This helps students become attentive and receptive to the meaning revealed by the subject matter. This paper also explores Arendt’s ideal of the teacher who presents the world to the child. This presentation requires the teacher’s capacity of ‘selection’, which, I argue, differs from AI’s selective process. Unlike AI, the teacher’s presentation and selection allow students to slow down and to be attentive to what lies between them (inter-esse). This results in students cultivating an attitude of caring for the world held in common. Abstrak Kecerdasan Buatan (AI) tengah berkembang pesat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Di sekolah, AI (ChatGPT) memungkinkan siswa memperoleh dan memilih informasi serta pengetahuan yang relevan dengan sangat mudah dan cepat. Oleh karena itu, patut dipertanyakan apakah pembelajaran siswa yang dilakukan dengan mengajak mereka untuk melambat (slow down) dan memusatkan perhatian pada materi pelajaran masih relevan di sekolah saat ini. Makalah ini merefleksikan isu ini dengan mengkaji karya Arendt “The Crisis in Education”, khususnya gagasannya tentang ‘sekolah’ sebagai ruang transisi antara ranah keluarga dan ranah politik. Arendt terinspirasi oleh konsep scholè (‘waktu luang’) dari zaman Yunani kuno, di mana untuk sementara siswa dibebaskan dari pengaruh eksternal agar fokus pada pelajaran. Hal ini membantu siswa menjadi lebih perhatian dan terbuka terhadap makna yang terungkap oleh materi pelajaran. Secara ideal tugas guru menurut Arendt adalah mempresentasikan dunia kepada anak. Presentasi tersebut tentu menuntut guru untuk melakukan ‘seleksi’, yang tidak sama dengan proses seleksi yang dilakukan oleh AI. Berbeda dengan AI, presentasi dan seleksi oleh guru memungkinkan siswa untuk melambat dan memperhatikan apa yang ada di antara mereka (inter-esse). Hal ini akan menghasilkan siswa yang menumbuhkan sikap peduli terhadap dunia-bersama. Kata-kata Kunci: AI, perhatian, scholè, seleksi, pengenalan, inter-esse
Hannah Arendt on Truth and Public Honor: Why Judgment and Forgiveness Require Civic Pedagogy: Hanah Arendt, Kebenaran dan Penghormatan Publik. Mengapa Pertimbangan dan Pengampunan Membutuhkan Pedagogi Sule, Fransiskus; Guazon, Hector
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.875

Abstract

This article addresses the question what becomes of a common world when the state bestows public honor amid unresolved authoritarian harm and contested facts, focusing on Indonesia’s 2025 designation of former President Soeharto as pahlawan nasional (national hero). Using an interpretive qualitative design grounded in document analysis of official statements, civic testimony, and public commentary, and informed by Hannah Arendt’s accounts of factual truth, judgment, punishment, and forgiveness, the article clarifies the political stakes of hero-making in a post-authoritarian public sphere. It argues, first, that factual truth is politically vulnerable and requires witnesses and institutions if it is to remain publicly binding; where those supports fail, honor can function as organized forgetting. Second, public honor is not an extension of private affection but a judgment that must remain communicable and contestable in plural public sphere, rather than enforced through “lovers versus haters” pressure. Third, forgiveness, in Arendt’s sense, interrupts retaliation but presupposes truth and responsibility; without accountability, “forgive and forget” becomes a technology of impunity. The article concludes by outlining a civic pedagogy of counter-memory and enlarged judgment after honor has been conferred. Keywords: Hannah Arendt, factual truth, public judgment, forgiveness, public honor, defactualization Abstrak Artikel ini menyoroti penetapan mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional pada 2025 dan mempertanyakan apa yang terjadi pada dunia-bersama ketika negara menganugerahkan kehormatan publik di tengah luka otoritarian yang belum terselesaikan dan fakta yang kebenarannya masih diperdebatkan. Menggunakan desain kualitatif interpretatif, yakni analisis dokumen atas pernyataan resmi, kesaksian warga, dan komentar publik, yang dibaca melalui uraian Hannah Arendt tentang kebenaran faktual, penilaian Kantian, dan pengampunan/hukuman, artikel ini mengklarifikasi pertaruhan politik dari pengangkatan pahlawan di ruang publik pasca-otoritarianisme. Pertama, kebenaran faktual rentan secara politis dan memerlukan saksi serta institusi agar tetap mengikat secara publik; tanpa itu, kehormatan dapat berfungsi sebagai “pelupaan yang terorganisir.” Kedua, kehormatan publik bukan perpanjangan dari kasih saying pribadi tetapi penilaian yang harus dapat dikomunikasikan dan diperdebatkan dalam kemajemukan, daripada ditegakkan lewat dikotomi “pencinta vs pembenci.” Ketiga, pengampunan Arendtian memutus rantai balas-dendam, tetapi mengandaikan kebenaran dan tanggung jawab; tanpa akuntabilitas, “maafkan dan lupakan” menjadi teknologi impunitas. Artikel diakhiri dengan menguraikan pedagogi kewarganegaraan berupa kontra-memori dan penilaian yang diperluas setelah kehormatan dianugerahkan. Kata-kata Kunci: Arendt, kebenaran faktual, penilaian publik, pengampunan, kehormatan publik, defaktualisasi
Memulihkan Demokrasi yang Rusak? Aktualisasi Konsep "Natalitas" Arendt di Era Digital: Restoring a Broken Democracy? The Relevance of Arendt's Concept of "Natality" in the Digital Age Hardiman, Fransisco Budi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.937

Abstract

Can democracy, which has been damaged in this digital age, still be restored? Hannah Arendt, who experienced democracy being destroyed by the German totalitarian regime, offers a powerful ray of hope for the restoration of democracy. Through phenomenological approach, she views humans as beings capable of making new beginnings, an ability she calls natality. Unlike the bleak picture in The Origins of Totalitarianism—in which Arendt analyzes the collapse of the republic through the destruction of public space—the concept of natality in The Human Condition opens up the possibility for the restoration and reinvigoration of the republic. However, the author argues that Arendt’s republican ideas face challenges in the digital communication era. Therefore, before suggesting ways to restore democracy according to Arendtian persopective, the author first explains the new difficulties facing democracy in the digital era and reinterpret natality in this new context as a practice of resistance to algorithmic determinism. In the digital age, humans do not lose their natality; they can always reopen the possibility of starting something new. Abstrak Apakah demokrasi yang rusak di era digital ini masih dapat dipulihkan? Hannah Arendt yang mengalami demokrasi yang dirusak oleh rezim totaliter Jerman memberi cahaya harapan yang sangat kuat untuk pemulihan demokrasi. Lewat pendekatan fenomenologis ia memandang manusia sebagai makhluk yang mampu membuat permulaan baru, kemampuan yang disebutnya natalitas. Berbeda dari gambaran kelabu dalam Ursprünge totaler Herrschaft (1955) —di mana Arendt menganalisis proses runtuhnya republik melalui penghancuran ruang publik—konsep natalitas dalam Vita activa (1960) membuka kemungkinan bagi pemulihan dan penguatan kembali republik. Namun penulis berpendapat bahwa gagasan republikan Arendt ini mendapat tantangannya di era komunikasi digital, sehingga sebelum menyarankan cara pemulihan demokrasi dalam perspektif Arendtian penulis lebih dahulu menjelaskan kesulitan-kesulitan baru bagi demokrasi di era digital. Penulis akan memaknai kembali natalitas dalam konteks baru ini sebagai praktik resistensi atas determinasi algoritmik. Di era digital manusia tidak kehilangan natalitas; ia selalu dapat membuka kembali kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru. Kata-kata kunci: demokrasi, gerakan legislasi publik, natalitas, pluralitas, republik, komunikasi digital
Pertimbangan dan Sensus Communis. Revolusi Kopernikan dalam Pemikiran Politik Arendt: Judgment and Sensus Communis. The Copernican Revolution in Arendt’s Political Thought Sitorus, Fitzerald Kennedy
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.942

Abstract

This article discusses Arendt’s political philosophy, which she developed by interpreting Kant’s aesthetics. Through a hermeneutic reconstruction of Arendt’s texts, the author shows how she interprets and uses two of Kant’s aesthetic concepts, i.e., judgment and sensus communis, as the basis for political philosophy. The result is a political anthropology grounded in sensus communis. For Arendt, politics is the manifestation of sensus communis. Humans become zoon politicon because they possess the a priori faculty of sensus communis, which is a condition for the possibility of politics. Arendt’s political philosophy is still relevant because it reveals and reminds us of something important: the decline of sensus communis—or the dimension of shared judgment among citizens—becomes the condition for the emergence of totalitarian regimes. In the age of digital media dominance, which is eroding our sensus communis and pushing people apart, Arendt’s warning is more important than ever. We must nurture and develop sensus communis through communication, dialogue, and the exchange of ideas. This is how we can understand each other and find common ground in our political lives. Abstrak Artikel ini membahas filsafat politik Arendt yang dibangun melalui interpretasi atas filsafat keindahan (estetika) Kant. Melalui metode rekonstruksi hermeneutis atas teks-teks Arendt, penulis memperlihatkan bagaimana Arendt menafsirkan dan menjadikan dua konsep pertimbangan estetis Kant, yakni pertimbangan (judgment) dan sensus communis, sebagai fondasi filsafat politik. Hasilnya adalah sebuah antropologi politik yang didasarkan atas sensus communis. Politik bagi Arendt adalah manifestasi sensus communis. Manusia menjadi zoon politikon karena dalam dirinya sudah terdapat fakultas apriori sensus communis sebagai syarat kemungkinan politik. Filsafat politik Arendt tetap aktual karena dapat memperlihatkan sekaligus mengingatkan kita: kemerosotan sensus communis atau dimensi pertimbangan bersama antar-warga negara menjadi kondisi bagi kemunculan rezim totaliter. Di tengah dominasi media digital dewasa ini, yang menggerus sensus communis kita dan membuat orang teralienasi satu sama lain, peringatan Arendt penting: kita harus tetap memelihara dan mengembangkan sensus communis melalui komunikasi, dialog dan pertukaran pikiran agar dapat saling memahami dan mencari orientasi bersama dalam kehidupan politik. Kata-kata Kunci: pertimbangan, sensus communis, politik, imajinasi, refleksi, totalitarianisme
Berpikir dalam Kehidupan Akal Budi. Membaca The Life of the Mind Karya Terakhir Hannah Arendt: Thinking in The Life of the Mind. Reading Hannah Arendt’s Final Work Supelli, Karlina
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.959

Abstract

This paper examines Hannah Arendt’s The Life of the Mind with a focus on the activity of thinking as a constituent of the life of the mind. Thinking is understood as an inner dialogue structured as a ‘two-in-one’, which examines and dissolves whatever is held as unquestioned certainty. The discussion highlights the tension inherent in thinking between withdrawal from the world of appearances and its relation to the common world, as well as the importance of distinguishing meaning from truth in order to understand thinking as an activity. Arendt’s reflections show that the absence of thinking makes possible the occurrence of evil acts without evil intent. Yet the ethical and political significance of thinking does not lie in the formation of moral norms or policies, since thinking yields neither. Rather, it gives rise to conscience as a by-product, enabling resistance in the face of evil and atrocity. Through the example of the 1945 atomic bomb project, the paper indicates that the capacity to know and to create—which endows human beings with a sense of power—has developed far beyond the ability to comprehend the meaning of one’s actions and to imagine their consequences for the common world. In this light, thinking may be understood as a mode of existence that unfolds as an ongoing engagement with the common world, seeking meaning amidst its painful disorder, while sustaining the clarity of conscience. Abstrak Tulisan ini mengkaji The Life of the Mind karya Hannah Arendt dengan memusatkan perhatian pada kegiatan berpikir sebagai salah satu pembentuk kehidupan akalbudi. Berpikir dipahami sebagai dialog batin menurut struktur “dua-dalam-satu” yang memeriksa dan meluruhkan apa pun yang diyakini kepastiannya tanpa dipertanyakan. Pembahasan menyoroti tegangan yang melekat dalam berpikir antara penarikan diri dari dunia penampakan dan keterkaitannya dengan dunia bersama, serta pentingnya pembedaan antara makna dan kebenaran untuk memahami berpikir sebagai suatu kegiatan. Refleksi Arendt menunjukkan bahwa ketiadaan berpikir memungkinkan terjadinya kejahatan tanpa motif jahat. Namun, signifikansi etis dan politis berpikir tidak terletak dalam pembentukan norma moral ataupun kebijakan, karena berpikir tidak menghasilkan keduanya. Berpikir membangkitkan suara hati sebagai efek samping, yang memungkinkan manusia menolak kejahatan serta kekejaman. Melalui contoh proyek bom atom tahun 1945, tulisan ini memperlihatkan bahwa kemampuan mengetahui dan mencipta yang memberi manusia rasa berdaya telah berkembang jauh melampaui kemampuannya untuk memahami makna tindakan, serta membayangkan konsekuensinya bagi dunia bersama. Dengan demikian, berpikir dapat dipahami sebagai suatu cara mengada dalam keterlibatan dengan dunia bersama dalam pencarian makna di tengah karut marutnya yang menyakitkan, seraya terus memelihara kejernihan nurani. Kata-kata kunci: berpikir, berkehendak, menilai, dunia penampakan, dunia bersama, metafora, makna, kebenaran

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue