cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Menghasrati Sang Akhir, Mempersembahkan Diri Pada Dunia Paledung, Christanto Sema Rappan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.481 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v17i2.258

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas Teologi Hari Kedelapan sebagai sum- ber berteologi yang solid untuk mempercakapkan peran gereja dalam ruang publik. Teologi Hari Kedelapan menegaskan bahwa pada Hari Kedelapan yakni hari Kebangkitan Kristus adalah permulaan dunia baru. Dengan demikian, gagasan ini mencakup percakapan liturgis, es- katologis, eklesiologis, penciptaan, dan sebagainya. Percakapan dalam makalah ini juga melibatkan konsep person dan eros dari Christos Yan- naras. Yannaras menegaskan bahwa person merupakan konstitusi yang relasional. Sebab itu, kehadirannya hanya dapat diwujudkan dalam gerak yang erotik. Untuk menegaskan kehadiran gereja dalam ruang publik, saya berargumen bahwa dengan konsep person dan eros, Hari Kedelapan merupakan gerak erotik Allah kepada dunia. Kata-kata kunci: Hari Kedelapan, eskatologi, eklesiologi, person, eros, teologi publik. Abstract: This article discusses Theology of the Eighth Day as a sol- id theological source to promote the role of the church in the public sphere. The theology asserts that the Eighth Day as the day the Res- urrection of Christ is the beginning of a new world. Thus, this idea includes liturgy, eschatology, ecclesiology, creation, etc. Conversations in this paper also involve the concept of person and eros from Christos Yannaras. Yannaras emphasized thatperson is a relational constitution. Therefore, its presence can only realize in erotic movements. To underline the presence of the church in the public sphere, I argue that with the concepts of person and eros, The Eighth Day is God›s erotic motion to the world. Keywords: The Eighth Day, eschatology, ecclesiology, person, eros, public theology.
Filsafat Inteligen Magnis-Suseno, Franz
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.998 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.285

Abstract

AM Hendropriyono 2021, Filsafat Intelijen. Sebuah Esai ke Arah Landasan Berpikir, Strategi, serta Refleksi Kasus-kasus Aktual, Jakarta: PT Hedropriyono Strategic Consulting. Bagi seorang "filosof emeritus" ("filosof afkiran") seperti penulis buku Hendropriyono menarik karena menjadi kelihatan bagaimana seorang 0tokoh yang profesinya jauh dari filsafat dapat memanfaatkan pendekatan filosofis. Yang dimaksud Hendropriyono dengan "filsafat Intelijens" memang bukan filsafat seperti filsafat moral atau filsafat politik atau filsafat manusia. Melainkan filsafat sebagai cara seorang tokoh inteligens Indonesia menjalankan tugasnya, mengumpulkan pengetahuan tentang ancaman-ancaman tersembunyi yang dihadapi suatu negara, dalam kasus ini, Indonesia. Dalam definisi Hendropriyono: "Filsafat intelijen memahami keamanan sebagai suatu kebebasan dari bahaya yang mengancam personal, informasi, komunikasi, pernaskahan fisik dan non-fisik serta lingkungan hidup manusia" h. 103). Hendropriyono memperlihatkan bagaimana ketajaman filosofis dapat membantu melihat realitas dari pelbagai segi, menghindar misalnya dari tiga sikap keliru klasik yang sudah diangkat oleh para filosof Yunani, sofisme, paralogisme dan sikap echolalian (h. 56), sadar akan perangkap logical fallacies seperti argumentasi ad hominem, sikap latah (bandwagon), kesimpulan yang tergesa-gesa (hasty generalization), menganggap A disebabkan B hanya karena terjadi sesudah B (post hoc, bukan propter hoc), dikotomi keliru, circular reasoning dan membiarkan diri dibawa sesat karena mengikuti suatu red herring (h. 133 s.). Pendekatan filosofis akan membuat was-was terhadap "pemikrian konspirasi", informasi top-down dan hoaks. Dalam bukunya Hendropriyono membawa pendekatan filosofis itu pada kejadian-kejadian di dekade-dekade terakhir. Msalnya Arab spring dengan pergolakan-pergolakan luar biasa yang mengikutinya: Mesir dengan semangat demokrasi yang justru membawa Ikhwanul Muslimen ke puncak kekuasaan, hanya untuk kemudian digulingkan oleh Jendral Siwi dengan dukungan Al Azhar dan Gereja Koptik. Kekacauan luar biasa di Siria dan Irak di mana Amerika Serikat mendukung gerakan demokratis dengan harapan bisa menggulingkan diktator Bashar al-Assad, hanya untuk akhirnya malah menjadi pendukung ISIS - yang menyingkirkan gerakan demokratis - karena Assad didukung oleh Rusia dan Iran. Sebelumnya Amerika Serikat juga dengan logika kepentingannya membuat kacau Haiti: Sesudah Amerika mendukung Jean-Bertrand Aristide, presiden pertama Haiti yang dipilih secara demokratis, yang menggantikan diktator "Baby Doc" Duvalier, tetapi karena Aristide dianggap terlalu kiri, Amerika mendukung penggulingannya; sampai sekarang Haiti kacau. Dan ada contoh logical dan political fallacies lain yang dianalisa, misalnya perang proxy di Afganistan. Tentu Hendropriyono juga memakai pendekatan filsafat untuk melihat pekembangan di Indonesia. Amendemen UUD 1946 pasca reformasi, masalah Papua, gejala populisme, keberhasilan deradikalisasi seperti misalnya terwujud dalam Pondok Pesantren Al-Zaitun. Sama dengan alm. Romo Nikolaus Drijarkara Hendropriyono menunjukkan bahwa "Sila Pancasila yang Ke II, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, merupakan landasan bagi implementasi seluruh sila-sila dalam Pancasila" (142). Tentu ada juga beberapa kesalahan. Perang Napoleon tentu berlangsung di abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 (h. 29), Hitler berkuasa di Jerman tahun 1933 (h. 38), demonstrasi dua Desember (212) terjadi di tahun 2017, bukan 2016 (56), dan PD II bukannya diadakan untuk menjatuhkan Hitler, melainkan yang memulainya memang Hitler (146). Buku ini sekaligus membuat pembaca paham bagaimana Hendropriyono melihat realitas politik, baik di Indonesia maupuan situasi internasional. Ia bermaksud menunjukkan bagaimana "kacamata" filsafat membantu untuk memahami apa yang terjadi dalam dimensi politik, dimensi utama yang mau dilindungi dari kejahatan oleh aparat inteligence. Suatu buku yang cukup khas. Franz Magnis-Suseno
Problem Fisikalisme Nonreduktif dan Solusi Hilomorfisme Thomistik Sunur, Effendi Kusuma
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.901 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.291

Abstract

In philosophy of mind, Non-reductive Physicalism as a philosophical view has some problems because of its ontological commitment to physicalism. Thomistic Hylomorphism solves the problems by claiming that there are two metaphysical principles: prime matter and substantial form. The first shows the importance of matter for a material system or an organism, and the second denotes the importance of the existence of formal and final causes in addition to efficient cause. With its concept of substantial form, Thomistic Hylomorphism solvesthe problems of Non-reductive Physicalism. Abstrak Dalam filsafat pikiran, Fisikalisme Nonreduktif sebagai sebuah posisi filosofis mempunyai beberapa problem akibat komitmen ontologisnya terhadap fisikalisme. Hilomorfisme Thomistik memberikan jalan keluar dari problem yang muncul dari perspektif Fisikalisme Nonreduktif dengan mengacu pada dua prinsip metafisik yakni materi prima dan forma substansial. Yang pertama menunjukkan pentingnya materi bagi sebuah sistem material atau organisme, sedangkan yang kedua menunjukkan pentingnya eksistensi causa formal dan final selain causa efisien. Dengan konsep forma substansial, Hilomorfisme Thomistik memberikan solusi atas masalah-masalah dalam perspektif Fisikalisme Nonreduktif.
Demonisasi Topeng Egwugwu: Kajian Dinamika Internal dan Eksternal Agama Asli Afrika Menghadapi Kristenisasi Suharjanto, Lucianus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.166 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.295

Abstract

The encounters of cultures, among which is of religions, cultivate the internal and external dynamic of both individual and society in adapting their most edifying existence. The encounters fuel individual and social adaptation through various dimensions and types of interactions, one of which is demonization. Chinua Achebe’s Things Fall Apart (1959) presents this drama of encounters through its fearful yet succulently rich narration of collisions between egwugwu religion of Igbo in Nigeria and Christianity. This paper elucidates the philosophical consequence of such a powerful presentation of the cultural collision within Igbo society in Things Fall Apart in understanding the phenomena of religion in human person and in humanity. First, religion serves the metaphoric communication between the real and the surreal. Second, demonization in religion enhances a social change through the redescription of its own vocabularies and narrative. Finally, religion serves as the fictional vision for the recreated solidarity among human persons. Abstrak Pertemuan kebudayaan, salah satunya dalam bentuk masuknya agama baru ke suatu wilayah, memicu dinamika internal dan eksternal pada individu dan masyarakat untuk mencari cara bereksistensi yang paling mengembangkan. Salah satunya adalah adaptasi model interaksi individu dan masyarakat melalui demonisasi. Novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe (1959) memperlihatkan demonisasi dalam agama egwugwu dari suku Igbo di Nigeria melalui desakralisasi yang dinarasikan secara mengerikan tetapi kaya dan menarik sebagai penodaan topeng egwugwu. Melalui kajian atas demonisasi dalam Things Fall Apart ditemukan pemahaman mengenai agama sebagai relasi komunikasi metaforik di tingkat real dan surreal. Kajian juga memperlihatkan bahwa agama, melalui demonisasi yang memaksa dilahirkannya kosakata dan narasi baru, menjadi agen perubahan sosial. Meskipun demikian, demonisasi yang mengimplikasikan perubahan sosial tersebut tidak dengan sendirinya menjadi tanda berakhirnya agama, sebab agama juga berperan sebagai fiksi yang memberi arah bagi persaudaraan yang dibentuk oleh umat manusia.
Irupsi Generasi Beriman Digital Z dan Disrupsi Katekese Kebangsaan Andalas, Mutiara
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.593 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.296

Abstract

This paper discusses the irruption of the digital faithful generation of Z in the Indonesian Catholic church and its disruption to citizenship catechesis. The discussion of citizenship catechesis will fall short if we still fixate on the classic definitions of catechesis, the method of catechesis, and the profile of catechists in the apostolic exhortation Cateceshi Tradendae (1979). The predigital world conditions ideas about them. An in-depth discourse on citizenship catechesis needs to depart from the digital faithful generation of Z irrupting in the Indonesian Catholic Church. 'Irruption', according to the liberation theologian Gustavo Gutiérrez, refers to the presence of people who previously lived at the underside of history. Previously being absented, they transform into the subject of history. Irruption is also an ecclesial process. The generation of Z has emerged in the history of the Indonesian Catholic church as homo religiosus digitalis. They bring the disruptive spirit of the digital era to the body of the Catholic church. As digital integrators, they are open to incorporating faith in their lives. Based on their autobiography, homo religiosus digitalis Z lives a connective pedagogy with distinctive characteristics from predigital believers. Their irruption shakes the identity of the catechist and their vocation to "teach the lesson of the faith" to today's disciples of Christ. The irruption of Z's digital faithful generation encourages the further exploration of new methods for citizenship catechesis in the contemporary Indonesian context. Abstrak Tulisan ini mendiskusikan irupsi generasi beriman Z dalam Gereja Katolik Indonesia yang disruptif terhadap katekese kebangsaan. Diskusi tentang katekese kebangsaan tak akan beranjak jauh jika kita masih terpaku pada definisi klasik katekese, metode berkatekese, dan profill katekis dalam seruan apostolik Cateceshi Tradendae (1979). Seruan apostolik ini dikondisikan oleh dunia pradigital. Diskursus mendalam tentang katekese kebangsaan perlu berangkat dari irupsi generasi Z. Istilah "irupsi", menurut teolog pembebasan G. Gutiérrez, menunjuk pada penyeruakan orang-orang yang sebelumnya hidup di sisi bawah sejarah. Mereka bertransformasi dari yang semula diabsenkan keberadaannya, kini menjadi subjek sejarah. Irupsi juga merupakan proses eklesial. Generasi Z menyeruak dalam panggung sejarah gereja Katolik Indonesia sebagai homo religiosus digital. Mereka membawa roh disruptif era digital. Meminjam kosakata Mark McCrindle tentang generasi Z sebagai “digital integrator”, insan digital Z terbuka untuk menginkorporasikan iman dalam kehidupan mereka. Berdasarkan autobiografi mereka, homo religiosus digital Z menghidupi pedagogi konektif yang karakteristiknya berbeda dari insan beriman pradigital. Irupsi mereka menggegarkan identitas katekis serta panggilannya untuk “mengajarkan pelajaran iman” kepada murid-murid Kristus pada masa kini.Irupsi insan beriman digital Z mendorong eksplorasi metode-metode baru untuk katekese kebangsaan dalam konteks Indonesia zaman now.
The Ours of the Universe: Reflections on God, Science, and Human Journey. Atawolo, Andreas Bernardinus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.524 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.298

Abstract

Seperti beberapa buku Delio yang lain, The Ours of the Universe mengusung tema umum ‘dialog antara teologi dan sains’. Dalam dunia teologi, Delio tertarik pada teolog Abad Pertengahan, khususnya Bonaventura (1217-1274). Baginya paradigma teologi Bonaventura, tampil dalam pemikiran Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955), paleontolog, Jesuit, yang hidup di antara era pencerahan dan modernisme, namun tak membaca Teologi Fransiskan.
Laudato Si’ and the Environment: Pope Francis’ Green Encyclical Harun, Martin
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.167 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i1.299

Abstract

Pope Francis’ Encyclical Laudato Si’ invites scholars of all sciences to a dialogue on the ecological crisis in order to find better solutions before it is too late. Thus it is not surprising that in this collection of essays twelve scholars in religious and social sciences respond to his much appreciated encyclical. Editor Robert McKim, emeritus professor of Philosophy of Religion at the University of Illinois, opens the discussion with a proposal of inquiry into the challenges posed by the ecological crisis and how the world religions can and have responded to it in providing guidance and inspiration, and in what they have accomplished both as entire religious traditions and on a micro-level through particular religious communities, and also in giving birth to new environmentally constructive practices and rituals.
Pendidikan bagi Manusia sebagai Pengada Yang Nestapa: Education for Humans as Beings in Despair Harry Kristanto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.111 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i2.307

Abstract

In almost every aspect of life, human being always tries to seek happiness. At the same time, we tend to avoid situations which may lead to unhappiness. In fact, there are two undeniable phenomena that negate this tendency, namely, first, happiness has become a commodity that is packaged, advertised, and marketed. Second, despair and other forms of crisis often understood as the antithesis of happiness are actually the existential experiences of every human being. This obsession towards happiness has also infiltrated into education system so that education is understood as some kind of means providing solutions in order to overcome these forms of unhappiness and despair. In disagreement with it, based on Søren Kierkegaard's ideas, especially in Kierkegaard’s work entitled The Sickness unto Death, Peter Roberts argues that education should embrace despair because apart from being inevitable, despair does not always need to be understood as a problem that requires a solution. Education should not try to overcome it. On the contrary, education should work with it so that humans as despair beings are enabled to understand, identify, acknowledge, and discuss it. This idea is an invitation for every person to critically reflect on despair and to rethink the role of education in such crisis circumstances. For this reason, a revitalization of the pedagogical paradigm is necessary, for example by applying political pedagogy through critical discourse analysis methods that do not tend to remain muted in the face of existential despair, as well as injustice and any other social problems occurred structurally. Abstrak Hampir dalam setiap lini kehidupan, manusia senantiasa mencari kebahagiaan dan di saat yang sama menghindar dari situasi yang mengarah pada ketidakbahagiaan. Padahal, ada dua fenomena yang tak terbantahkan dan menegasi kecenderungan tersebut, yaitu pertama, kebahagiaan telah menjadi layaknya komoditas yang diperjualbelikan, dikemas, dan diiklankan. Kedua, kenestapaan dan bentuk-bentuk krisis lainnya yang sering kali dipahami sebagai antitesis dari kebahagiaan itu sebenarnya merupakan pengalaman eksistensial setiap manusia. Tendensi yang obsesif terhadap kebahagiaan itu juga telah merasuk ke dalam bidang pendidikan sehingga pendidikan dipahami sebagai sarana yang dapat memberi solusi agar dapat mengatasi bentuk-bentuk ketidakbahagiaan dan kenestapaan itu. Terhadap perkara di atas, dengan mendasarkan diri pada gagasan Søren Kierkegaard terutama yang dituangkan dalam The Sickness unto Death, Peter Roberts berargumentasi bahwa pendidikan justru seharusnya memeluk kenestapaan itu karena selain tak terelakkan, kenestapaan tidak perlu selalu dipahami sebagai masalah yang membutuhkan solusi. Pendidikan seharusnya tidak mencoba menghindari realitas kenestapaan, tetapi menanggapinya sehingga manusia sebagai pengada yang nestapa dimungkinkan untuk memahami, mengidentifikasi, mengakui, dan membahasakan keadaan krisis itu. Gagasan tersebut merupakan undangan bagi setiap manusia, bukan hanya bagi pelaku pendidikan, untuk secara kritis berefleksi mengenai kenestapaan dan untuk berpikir ulang mengenai kodrat serta peran pendidikan di tengah situasi krisis. Untuk itu, suatu revitalisasi terhadap paradigma pedagogis menjadi perlu, misalnya dengan menerapkan pedagogi politis melalui metode analisis wacana kritis yang tidak cenderung bungkam di hadapan kenestapaan yang eksistensial, maupun di hadapan ketidakadilan dan ketidakberesan sosial yang sering kali terjadi secara struktural.
Dekalog dan Perjanjian yang Baru (Ul 5:6-21; Kel 20:1-17; Yer 31:31-34): The Decalogue and the New Covenant (Dt. 5:6-21; Ex. 20:1-17; Jr. 31:31-34) Stanislaus, Surip
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.219 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i2.314

Abstract

The Decalogue is the ten commandments which are a covenant between God and His people. Written on two tablets of stone, this Decalogue is apodictive (unconditional command and prohibition). It expresses the love between God and His people and between members of the people. This article shows that in the Pentateuch there are two versions of the Decalogue (Ex. 20:1-17 and Deut. 5:6-21) with some differences between them. Deuteronomy 5:6-21 contains additions to Exodus 20:1-17. Ex. 20:1-17 was spoken by God himself to the Israelites at Mount Sinai; Deut. 5:6-21 by Moses in the plains of Moab when quoting Ex. 20:1-17. The commandment to keep the Sabbath day holy in Ex. 20:8-11 is motivated by God’s rest on the seventh day of creation; in Deut. 5:12-15 it is motivated by Israel’s liberation from slavery in the land of Egypt. Ex. 20:13-17 contains fi ve social commandments in no apparent order; Deut. 5:17-21 contains six social commandments inparallel arrangement. The Decalogue, as a law does not guarantee its implementation. And the Israelites repeatedly violated or disobeyed the law. Therefore, God Himself takes the initiative and intervenes toensure its implementation. After the destruction of the city of Jerusalem as an outward sign of the end of the Old Covenant, the prophet Jeremiah prophesied the New Covenant at the initiative of God to bewritten in the hearts, so that previously impossible loyalty would now become a reality (Jer. 31:31-34). Thus, the New Covenant is not different from the Sinai Covenant, but rather a renewal of YHWH’s faithfulnesswhich is rebuilt and deepened continuously so that it becomes a “covenant without end” (Lam. 3:22-23). Abstrak Dekalog adalah sepuluh fi rman yang merupakan pernjanjian antara Allah dengan umat-Nya, tertulis dalam dua loh batu. Dekalog yang bersifat apodiktif (perintah dan larangan tanpa syarat) mengungkapkankasih antara Allah dengan umat-Nya dan antarumat Allah. Artikel ini menunjukkan bahwa dalam Pentateukh terdapat dua versi Dekalog (Kel. 20:1-17 dan Ul. 5:6-21) dengan beberapa perbedaan. Ul. 5:6-21 memuat beberapa tambahan yang tidak terdapat dalam Kel. 20:1-17. Kel. 20:1-17 diucapkan sendiri oleh YHWH kepada bangsa Israel di gunung Sinai; Ul. 5:6-21 diucapkan oleh Musa di dataran Moab dengan mengutip isi Kel. 20:1-17. Perintah kuduskanlah hari Sabat dalam Kel. 20:8-11 bermotifkan istirahat Allah pada hari ketujuh saat penciptaan; dalam Ul. 5:12-15 bermotifkan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Kel. 20:13-17 memuat lima perintah sosial tanpa urutan yang jelas; Ul. 5:17-21 memuat enam perintah sosial yang disusun paralel. Dekalog sebagai undang-undang tidak menjamin pelaksanaannya. Berulangkali bangsa Israel telah melanggar atau tidak setia pada penjanjian tersebut. Maka, Allah sendiri yang berinisiatif dan campur tangan demi terjaminnya pelaksanaan perjanjian-Nya. Sesudah penghancuran kota Yerusalem sebagai tanda lahiriah berakhirnya Perjanjian Lama, Nabi Yeremia menubuatkan Perjanjian Yang Baru atas prakarsa Allah yang akan ditulis dalam hati manusia, sehingga kesetiaan yang tadinya mustahil akan menjadi kenyataan (Yer. 31:31-34). Dengan demikian Perjanjian Yang Baru itu tidak berbeda dengan Perjanjian Sinai, tetapi lebih berupa pembaruan kesetiaan YHWH yang dibangun kembali dan diperdalam terus-menerus sehingga menjadi “perjanjian yang tak berkesudahan” (Rat. 3:22-23).
Reflexivity, Relativism, and Self-Refutation: Refleksivitas, Relativisme, dan Penyanggahan-diri Clemens Dion Yusila Timur
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.394 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v18i2.316

Abstract

In this paper, I will examine whether the reflexivity thesis of David Bloor’s Strong Programme in the Sociology of Knowledge is self-refuting. I will argue that even though the relativism in the Strong Programme is self-refuting, I do not think Bloor’s reflexivity thesis implies relativism. By looking at the case of determinism, I intend to show that we can and should treat the reflexivity thesis independently of relativism. Therefore, the reflexivity thesis is not necessarily subject to self-refutation objection. Abstrak Dalam tulisan ini, saya akan membahas apakah tesis refleksivitas dalam Program Kuat Sosiologi Pengetahuan yang diusung oleh David Bloor mengimplikasikan penyanggahan diri. Saya hendak berargumen bahwa kendati relativisme yang diimplikasikan Program Kuat menyanggah dirinya sendiri, saya tidak melihat tesis refleksivitasyang diusung Bloor per se mengimplikasikan relativisme. Dengan merujuk pada contoh determinisme, saya ingin menunjukkan bahwa tesis refleksitivitas dapat dan semestinya diperlakukan secara terpisah dari relativisme. Dengan demikian, tesis refleksivitas tidak dapat serta-merta menjadi sasaran argumen yang menyoal penyanggahan diri.

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue