cover
Contact Name
Dwi Nurwulan Pravitasari
Contact Email
saintika_medika@umm.ac.id
Phone
+628123086679
Journal Mail Official
saintika_medika@umm.ac.id
Editorial Address
Editorial Office: Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Malang Jl. Bendungan Sutami No 188A Malang, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga.
ISSN : 0216759X     EISSN : 2614476     DOI : https://doi.org/10.22219/
Core Subject : Health,
Journal of Saintika Medika is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011" : 11 Documents clear
PENATALAKSANAAN STROKE TROMBOTIK: PELUANG PENINGKATAN PROGNOSIS PASIEN Nurul Arofah, Annisa
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2913.158 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1088

Abstract

Stroke is a disease that needs multidisciplinary approach and the incident is still increasing. Primary precaution, secondary precaution and tertiary precaution are needed to reduce the incident of stroke and number of impairment. Many progress of the studies about treatments for ischemic thrombotic stroke are hold great promise for the better outcome. Thrombolytic therapy is has a main role in the acute phase treatment for the vascular target but the window therapy is narrow. There is important to overcome strategies to enhance the efficacy of thrombolytic therapy. Besides, neuroprotective agents are also important to decrease the number of disability because they are used to protect the ischemic neuron from the irreversible injury. In animal models of stroke neuroprotective agents are also hold great promise but investigators are still searching for a safe and effective agent that can limit ischemic damage in human stroke. Clinical trials are still needed to improve a better guideline of ischemic thrombotic stroke. Keyword: stroke, thrombotic, guideline.
DIET ROTASI MAKANAN DAN MANIFESTASI KLINIS PENYANDANG SPEKTRUM AUTISME Suswati, Irma; Safithri, Fathiyah
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2073.268 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1084

Abstract

  Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Autisme disertai alergi makanan sering mengalami gangguan sistem imun. Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autisme. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji implementasi diet rotasi makanan dan manifestaasi klinis yang timbul selama mengimplementasikan diet rotasi makanan pada penderita penyandang spektrum autisme dengan menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif, melalui kuesioner dan food diary. Berdasarkan jenis kelamin penyandang spektrum autisme laki-laki sejumlah 7 orang (64%) dan perempuan 4 orang (36%).           Hasil food diary yang dicatat oleh orangtua menunjukkan bahwa sebagian besar telah mengimplementasikan diet sehat dengan memperhatikan jenis-jenis makanan yang diberikan kepada anak dan menerapkan diet rotasi 5 harian .                 Manifestasi klinis berupa demam, kembung, konstipasi (kotoran keras, berak ngeden), nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), flatus, gatal di tungkai dan sela jari kaki dan lipatan kulit ketiak, berkeringat berlebih, pusing/memukul kepala, gangguan tidur, kejang, gangguan perilaku ; teriak, gangguan belajar; tidak bisa konsentrasi, sering melamun, allergic shiner (kulit di bawah mata tampak ke hitaman).                 Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang masuk kesaluran pencernaan merupakan reaksi simpang makanan yang dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan dan jenis makanan yang memicu reaksi simpang merupakan makanan yang banyak mengandung kasein, gluten, fenol, asam salisilat, bahan ragi, potassium, gas tinggi, penyedap rasa, protein dan trans-fat yang dapat menyebabkan pertumbuhan jamur di usus dan menimbulkan reaksi alergi yang mempengaruhi semua organ. Kata kunci Autis, diet, manifestasi klinis, alergi
TRAUMA KEPALA PADA KECELAKAAN SEPEDA MOTOR DI MALANG RAYA 2006 - 2007 ., TASMONO
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2787.687 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1089

Abstract

Trauma kepala dapat disebabkan oleh trauma benda tumpul maupun trauma benda tajam. Kebanyakan trauma kepala  disebabkan oleh trauma benda tumpul dan dari trauma ini yang paling banyak akibat kecelakaan lalu lintas.                 Dilakukan penelitian retrospektif untuk mengetahui frekuensi trauma kepala pada kecelakaan lalu lintas, insidensi korban laki-laki dan perempuan, usia korban serta, lokasi kejadiannya di Malang Raya.                 Selama tahun 2006-2007 didapatkan hasil korban laki-laki masih dominan yaitu tahun 2006 sebanyak 80% dan tahun 2007 sebanyak 76% dengan usia terbanyak 20-50 tahun dan lokasi kejadian tersering adalah Malang Kota. Kata kunci : Trauma kepala, trauma benda tumpul, kecalakaan lalu lintas.
THE ROLE OF BIOTECHNOLOGY IN DENGUE VIRAL INFECTION : EFFORT FOR THE DEVELOPMENT OF A DENGUE VACCINE Djunaedi, Djoni
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1080

Abstract

Introduction: Dengue fever and Dengue Haemorrhagic Fever (DF/DHF) are caused by dengue viruses (DENV). There are four antigenically related but distinct DENV serotypes (DENV-1 through DENV-4). Humans are the amplifying vertebrate host and Aedes mosquitos are the primarily mosquito vector as well as the reservoir of infection. DENV infection causes a spectrum of diseases, ranging from asymptomatic infections to infections complicated by haemorrhagic shock and death (Yoksan, 2008). Epidemiology: WHO (2008) estimates that about 2.5 billion people or 40% of the world?s population live in areas where there is a risk of dengue transmission. About 500,000 cases of dengue?s severest form (DHF/DSS) occur annually, resulting in about 24,000 deaths, mostly among children. Tropical and subtropical areas of South East Asia and Latin America are the hardest hit by dengue infection. Although dengue rarely occurs in the continental United States, it is endemic in Puerto Rico and Hawaii, a U.S. territory. Mosquitos capable of transmitting the virus have been found in the U.S. (in Florida, Georgia, Louisiana, Alabama, Mississippi, and Texas) over the last 10 years (Cano and Bannister, 2001; CDC, 2009; Science News, 2010). Facing this problem, vaccination is the answer. Vaccine Development: Dengue is an expanding public health problem, and an effective vaccine remains elusive. Significant influence of sequential infections with different dengue virus serotypes on the severity of disease can be viewed in terms of beneficial and detrimental effects of the heterologous immunity. A more complete understanding of these effects is likely to be critical for predicting optimal vaccine ? induced immune responses, with the aim of protecting the global population from emerging infectious disease threats (Rothman, 2004). In 1980, Mahidol University committed to develop a live-attenuated tetravalent DENV vaccine. They were subjected to general safety test and monkey neurovirulence tests in accordance with the U.S. FDA requirements. (Yoksan 2008) Results: All vaccine recipients developed either a mild or no adverse reaction to the vaccine, the immunogenicity data were discussed. The current strategy of creating tetravalent DENV vaccine formulation can lead to an unbalanced immune response. This is attributed to viral interference that apparently comes into play when three monovirulent vaccine viruses DENV-1, DENV-2, DENV-4 are mixed with DENV-3 to create a tetravalent formulation (Yoksan, 2008). Summary: More research is needed on a priority basis to work out the viral interference factor in order to make the production of a tetravalent vaccine out of the attenuated DENV-3 candidate vaccine strain a success. Key words: Dengue Haemorrhagic Fever, Shock and death, tetravalent dengue vaccine, viral interference factor.
PENERAPAN ERGONOMI DALAM KONSEP KESEHATAN Budi Setyawan, Febri Endra
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1085

Abstract

Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Tujuan penerapan ergonomi adalah (a) meningkatkan kesejahtetaan fisik dan mental; (b) meningkatkan kesejahteraan sosial; (c) keseimbangan rasional antara sistem manusia atau mesin-manusia dengan aspek teknis, ekonomi, antropologi, budaya. Manfaat penerapan Ergonomi antara lain pekerjaan lebih cepat selesai, risiko penyakit akibat kerja menjadi kecil, kelelahan berkurang, rasa sakit berkurang atau tidak ada.Penerapan konsep ergonomi dan K3 di perusahaan telah terbukti dapat meningkatkan derajat kesehatan, produktivitas kerja karyawan dan keselamatan, tetapi pada kenyataannya penerapan ergonomi dan K3 di perusahaan terutama menengah dan kecil jauh dari yang diharapkan. Program ergonomi dan K3 sering menempati prioritas rendah dan terakhir pada proses manajemen. Ergonomi partisipatif adalah salah satu jawaban untuk penerapan ergonomi, karena dengan pendekatan ini akan ada keterlibatan kontribusi pengguna dalam hal ini semua karyawan, sehingga diharapkan nantinya ada tanggung jawab intervensi atau pelaksanaan ergonomi. Kata Kunci : Ergonomi,
CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) Bahrudin, Mochamad
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1090

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah salah satu gangguan pada tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus dipergelangan tangan.                 National Health Interview Study (NIHS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri diantara populasi dewasa adalah sebesar 1.55% (2,6 juta). Kejadian CTS  pada populasi diperikrakan3% pada wanita dan 2% pada laki-laki dengan prevalensi tertinggi pada wanita tua usia > 55 tahun, biasanya antara 40 ? 60 tahun.                 Penyebab CTS diduga oleh karena trauma, infeksi, gangguan endokrin, dan lain-lain, tetapi sebagian tidak diketahui penyebabnya. Penggunaan tangan yang berlebihan dan repetitif diduga berhubungan dengan sindroma ini.                 CTS bisa mengenai usia pertengahan, wanita lebih sering dari pada  pria, biasanya pada tangan yang dominan dan prevalensi  meningkat pada kehamilan. Pada tahap awal hanya gangguan sensorik, berupa parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari dan setengah sisi radial jari, walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari. Bila penyakit berlanjut  rasa nyeri dapat bertambah berat dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan dapat menetap. Kadang-kadang nyeri dapat terasa sampai kelengan atas dan leher, sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan. Keluhan dirasakan terutama malam hari. Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari tangan dan pergalangan tangan terutama di pagi hari. Lebih lanjut lagi  penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang terampil misalnya saat memungut benda-benda kecil.                 Pada pemeriksaan fisik didapatkan  Phalen?s test dan Tinel?s sign  yang positif dan pada Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik, gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar.                 Penanganan faktor resiko akan memperbaiki gejala, penggunaan obat anti inflamasi  untuk artritis tangan, mengurangi penggunaaan tangan yang berulang, mengistirahatkan pergelangan tangan, Pemasangan bidai pada posisi netral pada pergelangan tangan akan memperbaiki gejala. Pemberian obat anti inflamasi non steroid dan injeksi steroid dengan lidocain dan long acting steroid pada terowongan karpal akan mengurangi keluhan. Bila terapi konservatif gagal dilakukan tidakan operasi sebagi pilihan terakhir.
KONSEP BARU DALAM PENANGANAN SEPSIS PADA PASIEN BEDAH: APLIKASI KLINIS BERDASARKAN ILMU PENGETAHUAN DASAR Aleq Sander, Mochamad
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2764.027 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1081

Abstract

Angka morbiditas dan mortalitas peritonitis umum sekunder yang merupakan sepsis intraabdominal masih tetap tinggi bila dilihat pada laporan-laporan baik dimancanegara ataupun di Indonesia sejak dua dekade terakhir ini. Angka kematian peritonitis yang disertai syok septik rata-rata di dunia sampai saat inipun lebih dari 60%, bila telah disertai dengan lebih dari empat gagal fungsi organ, angka kematiannya mendekati 100%. Tindakan pencegahan atau terapi suportif awal terhadap gagal fungsi organ, ternyata mampu menurunkan angka kematian. Upaya perbaikan keadaan umum dan pencegahan agar jangan terjadi septik syok dan terjadinya gagal multi-fungsi organ melalui tindakan resusitasi perioperatif yang optimal, merupakan faktor yang sangat menentukan dalam upaya memperbaiki prognosis. Kata kunci: sepsis, gagal multi-fungsi organ, resusitasi perioperatif.
RESPONS IMUN DAN PEMERIKSAAN SEROLOGI PADA TUBERKULOSIS Hermayanti, Diah
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3274.112 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1086

Abstract

Tuberculosis merupakan penyakit yang biasanya menyerang paru-paru. Inhalasi droplet yang mengandung sedikit bakteri Mycobacterium tuberculosis ditelan oleh makrofag alveolar. Makrofag merupakan sel target utama, namun kemudian setelah teraktifasi, akan membunuh bakteri ini dan berpartisipasi dalam respons protektif sel tipe-1 T helper  dan respons Th2 untuk bakteria target ekstraseluler yang disebut imunitas humoral.                 Pemeriksaan serologi diperlukan pada  kasus dimana pemeriksaan penunjang rutin sulit untuk menegakkan diagnose tuberculosis. Pemeriksaan tersebut antara lain menggunakan reagen dari antigen seperti antigen 5 (antigen 38 Kd), antigen kompleks 85, Early secreted antigen target (ESAT-6), antigen culture filtrate protein (CFP)-10, antigen Malate Synthase (MS) dan MPT-51. Namun demikian tidak ada pemeriksaan imunologi tunggal yang mempunyai sensisitivitas 100%, diperlukan kombinasi beberapa pemeriksaan untuk meningkatkan sensitivitasnya. Kata kunci : tuberkulosis, respons protektif, pemeriksaan serologi
PRE-DIABETES DAN PERAN HBA1C DALAM SKRINING DAN DIAGNOSIS AWAL DIABETES MELITUS Setiawan, Meddy
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1087

Abstract

Diabetes Mellitus (DM), khususnya DM tipe 2 (DMT2) kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilaporkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2008, menunjukkan prevalensi DM di Indonesia saat ini sebesar 5,7%. Menurut WHO pasien diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 dan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif prevalensi tersebut akan terus meningkat.             Glukosa darah merupakan rentang yang berkelanjutan (continuous spectrum). Batas kadar glukosa darah normal, prediabetes dan diabetes ditetapkan berdasar kesepakatan (arbitrary). Saat ini, diagnosis DM ditetapkan bila kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl atau 2 jam paska beban glukosa > 200 mg/dl. Prediabetes adalah kadar glukosa darah di atas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diabetes. Diagnosis prediabetes ditegakkan bila didapatkan kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl (Glukosa Puasa Terganggu = GPT),  atau 2 jam paska beban glukosa 140-199 mg/dl (Toleransi Glukosa Terganggu = TGT), atau keduanya (Homeostasis Glukosa Terganggu = HGT).             Mekanisme patofisiologi  TGT dan GPT berbeda, meskipun TGT dan GPT didasari oleh resistensi insulin, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan tempat dimana resistensi insulin terjadi. Resistensi insulin pada penderita GPT terutama  pada jaringan hati, sedangkan sensitifitas insulin pada jaringan otot masih tetap normal. Pada TGT, sensitifitas insulin di jaringan hati tetap normal atau sedikit menurun sedangkan pada jaringan otot telah terjadi resistensi insulin.             Prediabetes meningkatkan resiko absolut menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Berbagai keadaan tersebut lebih meyakinkan bahwa Tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi pasien prediabetes dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya.              Diabetes merupakan salah satu penyakit underdiagnosed. Saat diagnosis ditegakkan sekitar 25% sudah terjadi komplikasi mikrovaskular. Manfaat HbA1c selama ini lebih banyak dikenal dalam menilai kualitas pengendalian glikemik jangka panjang dan menilai efektivitas suatu terapi, namun beberapa studi terbaru mendukung manfaat HbA1c yang semakin luas,  bukan hanya untuk pemantauan, tetapi juga bermanfaat dalam mendiagnosis ataupun skrining Diabetes Mellitus tipe-2.             Pasien DM berpotensi menderita berbagai komplikasi, meliputi penyakit makrovaskular (penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi) dan penyakit mikrovaskular (retinopati, neuropati dan nefropati). Komplikasi DM sudah dimulai sejak dini sebelum diagnosis DM ditegakkan.   Kata kunci : prediabetes, HbA1c, DM tipe 2
GANGGUAN LAPANGAN PENGLIHATAN PADA STROKE ., Rahayu
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i1.1092

Abstract

Gangguan visus merupakan salah satu gejala stroke yang manifestasi klinisnya bisa merupakan gangguan tajam penglihatan atau defek lapangan penglihatan. Hal tersebut bisa disebabkan gangguan peredaran darah otak bagian anterior maupun posterior. Kami laporkan dua kasus gangguan lapangan penglihatan. Kasus pertama seorang wanita 42 tahun mengalami gangguan penglihatan mata kanan secara tiba-tiba disertai hemiparesis ringan kiri, pemeniksaan perimetri menunjukkan kwandranopia superior kanan, pada CT scan kepala daiam batas normal, hal ini disimpulkan sebagai iskemik stroke. Kasus kedua dilaporkan seorang laki-laki 54 tahun dengan keluhan hilangna lapangan penglihatan kanan secara tiba-tiba saat bangun tidur yang disertai sakit kepala bagian belakang, perimetri rnenunjukkan hemianopia homonin dekstra, CT scan menunjukkan perdarahan intra cerebral pada lobus occipital kiri. Kata Kunci: Strok, lapangan pandang, perimeter

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2024): December 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): June 2024 Vol. 19 No. 2 (2023): December 2023 Vol. 19 No. 1 (2023): June 2023 Vol. 18 No. 2 (2022): December 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): June 2022 Vol. 17 No. 2 (2021): December 2021 Vol. 17 No. 1 (2021): June 2021 Vol. 16 No. 2 (2020): December 2020 Vol 16, No 1 (2020): June 2020 (on progress) Vol 16, No 1 (2020): June 2020 Vol. 16 No. 1 (2020): June 2020 Vol. 15 No. 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 2 (2019): December 2019 Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019 Vol. 15 No. 1 (2019): JUNI 2019 Vol 14, No 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol. 14 No. 2 (2018): DESEMBER 2018 Vol. 14 No. 1 (2018): JUNI 2018 Vol 14, No 1 (2018): JUNI 2018 Vol 13, No 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol. 13 No. 2 (2017): DESEMBER 2017 Vol. 13 No. 1 (2017): JUNI 2017 Vol 13, No 1 (2017): JUNI 2017 Vol 12, No 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol. 12 No. 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol 12, No 1 (2016): JUNI 2016 Vol. 12 No. 1 (2016): JUNI 2016 Vol. 11 No. 2 (2015): Desember 2015 Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015 Vol. 11 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 10 No. 2 (2014): Desember 2014 Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 10 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013 Vol. 9 No. 2 (2013): Desember 2013 Vol. 9 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 8 No. 2 (2012): Desember 2012 Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 8 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol. 5 No. 2 (2009): Juli 2009 Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011 Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 7, No 1 (2011): Januari 2011 Vol. 7 No. 1 (2011): Januari 2011 Vol. 6 No. 2 (2010): Desember 2010 Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 6, No 1 (2010): Januari 2010 Vol. 6 No. 1 (2010): Januari 2010 Vol 5, No 2 (2009): Juli 2009 Vol. 5 No. 1 (2009): Januari 2009 Vol 5, No 1 (2009): Januari 2009 More Issue