cover
Contact Name
Umi Nur Khalifah
Contact Email
tapsitera_uin@radenfatah.ac.id
Phone
+6281272219164
Journal Mail Official
tapsitera_uin@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. K. H. Zainal Abidin Fikri No.KM. 3, RW.5, Pahlawan, Kec. Kemuning, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30126
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Spiritual Healing: Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi
ISSN : 28293797     EISSN : 27754707     DOI : https://doi.org/10.19109/sh.v2i2.12674
Spiritual Healing: Journal Spiritual Healing is a scientific journal published by the Faculty of Tasawuf and Psychotherapy of State Islamic University (UIN) Raden Fatah Palembang. The papers to be published in Journal of Islamic Spiritual Healing is a kind of article of research (quantitative or qualitative research approach), literature study, or original ideas that are considered to contribute to the development of general Tasawuf and Islamic Psychoteraphy especially with the theme of integration of Psychology and Islamic either by an individual or by groups. It is published twice a year, in June and December. There is one version of publication; electronic (e) with e-ISSN: 2775-4707 p-ISSN: 2829-3797
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 63 Documents
Perkembangan Tasawuf di Indonesia: Kajian Literatur tentang Sejarah, Tokoh, dan Peran Sufi dari Masa Klasik hingga Modern Halimah Soewandi Putri; Dinda Putri Somantri; Achmad Junaedi Sitika
Jurnal Spiritual Healing Vol 7 No 1 (2026): Spiritual Healing
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/sh.v7i1.33775

Abstract

Islamization in the Nusantara since the thirteenth century, which occurred through trade, politics, education, and cultural acculturation. This study aims to analyze the role of religious scholars and Sufi figures in shaping the tradition of Sufism in Indonesia, as well as its relevance in responding to the challenges of modern society. The research employs a qualitative descriptive approach based on library research, examining relevant historical sources, books, and scholarly journals. The findings indicate that Sufism played a significant role in the success of Islamization, as Sufi figures adopted strategic, contextual, ethical, and culturally accommodative approaches to preach. This is reflected in the thought and practices of figures such as Hamzah Fansuri, Syamsuddin of Sumatra, Nuruddin ar-Raniri, Abdurrauf of Singkel, Shaykh Nawawi al-Bantani, and Hamka. Subsequently, Sufism in Indonesia developed as an adaptive and moderate spiritual tradition and remains relevant as a foundation for mental, character, moral, and spiritual formation within society, particularly in confronting material crises, capitalism, and modernity.
Komunikasi Trasendental dalam Ritus Khotaman Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya Maghrisul Akhiroh Syam; Saskia Afridah; Roqiyul Ma’arif Syam
Jurnal Spiritual Healing Vol 7 No 1 (2026): Spiritual Healing
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/sh.v7i1.34162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komunikasi transendental dalam ritus Khotaman Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya. Studi ini berfokus pada bagaimana komunikasi antara peserta (sālikin) dengan Tuhan terbentuk dan dialami selama ritual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi pustaka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi transendental dalam ritual ini difasilitasi melalui serangkaian latihan spiritual (riyādlah) yang terstruktur, termasuk penyucian diri, dzikir, dan kontemplasi di bawah bimbingan seorang guru spiritual (mursyid) atau wakil talqin. Proses ini memungkinkan para sālikin untuk melampaui batasan fisik dan psikologis mereka, yang mengarah pada pengalaman spiritual langsung dan intim (wushūl) dengan Sang Ilahi. Studi ini menyimpulkan bahwa ritus Khotaman berfungsi sebagai medium yang efektif untuk komunikasi transendental, di mana ruang sakral, bimbingan dari mursyid, dan energi spiritual kolektif memungkinkan para sālikin untuk merasakan kehadiran Ilahi dan menerima pencerahan spiritual. Khotaman berfungsi sebagai "service rutin" mingguan yang menyegarkan dan mengonsolidasikan kembali energi spiritual yang mungkin terkotori oleh aktivitas dunia. Sementara Suluk adalah "tune-up" besar dan akselerasi spiritual yang dilakukan secara periodik untuk mencapai lompatan kualitatif dalam perjalanan. Sinergi ini menggambarkan sebuah model komunikasi transendental yang berjenjang: dari yang personal (dzikir harian), diperkuat oleh yang kolektif (Khotaman), dan diintensifkan melalui yang transformatif (Suluk). Melalui rangkaian ritus yang terstruktur inilah TQN Suryalaya tidak hanya mengajarkan teori tentang Tuhan, tetapi membimbing para pengikutnya untuk mengalami komunikasi dan kedekatan dengan-Nya secara langsung, yang pada akhirnya bermuara pada tujuan tertinggi tasawuf: ma'rifatullah.
Khauf dan Rajā’ Perspektif Sufi Perempuan Abad ke-2 Hijriyah Saifullah; Saidul Amin; Kasmuri; Rina Rehayati; Khairiah; Putri Anggraini
Jurnal Spiritual Healing Vol 7 No 1 (2026): Spiritual Healing
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/sh.v7i1.34710

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep khauf (rasa takut kepada Allah) dan rajā' (harapan kepada rahmat Allah) dalam pandangan para sufi perempuan abad ke-2 Hijriah, serta menunjukkan kontribusi mereka terhadap perkembangan pemikiran tasawuf klasik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, menelusuri sumber-sumber klasik seperti Ṭabaqāt al-Ṣūfiyyah karya al-Sulamī, Ṣifat al-Ṣafwah karya Ibn al-Jauzī, dan A'lām al-Nisā' karya Kahḥālah. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap: merumuskan kembali data, mendeskripsikan pola spiritual, dan memperlihatkan kekuatan serta kelemahan pemikiran para sufi perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh-tokoh seperti Mu'ādzah al-'Adawiyyah (101 H), Hafsah binti Sirin (w.101 H), Rābi'ah al-'Adawiyyah (95-185), Sha'wānah (154-184), Sayyidah Nafīsah (145-208 H), dan Fāṭimah Naysābūriyyah (w. 223 H) memiliki pemahaman unik tentang keseimbangan khauf dan rajā'. Khauf menjaga hati dari kelalaian dan dosa, sedangkan rajā' mencegah keputusasaan dan memberikan energi spiritual. Keseimbangan ini mengantarkan mereka pada maqām yang lebih tinggi, bahkan mencapai mahabbah (cinta ilahi) sebagaimana dicontohkan Rābi'ah al-'Adawiyyah (95-185). Kesimpulannya, para sufi perempuan abad ke-2 Hijriah memberikan kontribusi signifikan dengan memperkaya khazanah tasawuf melalui dimensi emosional dan spiritual yang lembut namun tegas, membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjalanan menuju ma'rifatullah. ABSTRACT This study aims to analyze the concepts of khauf (fear of Allah) and rajā' (hope in Allah's mercy) from the perspective of female Sufis in the 2nd century Hijriah, and to demonstrate their contributions to the development of classical Sufi thought. The research method employed is library research with a qualitative approach, examining classical sources such as al-Sulamī's Ṭabaqāt al-Ṣūfiyyah, Ibn al-Jauzī's Ṣifat al-Ṣafwah, and Kahḥālah's A'lām al-Nisā'. Data analysis was conducted through three stages: reformulating data, describing spiritual patterns, and presenting the strengths and weaknesses of female Sufi thought. The findings reveal that figures such as Mu'ādzah al-'Adawiyyah (w. 101 H), Hafsah binti Sirin (w.101 H), Rābi'ah al-'Adawiyyah (95-185), Sha'wānah (154-184), Sayyidah Nafīsah (145-208), and Fāṭimah Naysābūriyyah (W.223 H) possessed unique understandings of the balance between khauf and rajā'. Khauf guards the heart from negligence and sin, while rajā' prevents despair and provides spiritual energy. This balance led them to higher spiritual stations (maqām), even reaching mahabbah (divine love) as exemplified by Rābi'ah al-'Adawiyyah. In conclusion, female Sufis of the 2nd century Hijriah made significant contributions by enriching Sufi tradition through gentle yet firm emotional and spiritual dimensions, proving that women played an essential role in the journey toward ma'rifatullah (knowledge of Allah).